FF – Goodbye ~ Hello | Chapter 6 | PG17


Title : Goodbye – Hello

Subtitle : (Chapter 6 – Disaster part I) Open Heart

Author : beedragon

Cast:

Hwang Yongbi (OC)

L Infinite as Kim Myungsoo / L

Other Cast:

Naeun A-Pink as Son Naeun

Sunggyu Infinite as Kim Sunggyu

Minho Shinee as Minho

Krystal F(x) as Jung SooJung

and other original cast that i borrowed their name

Genre : Romance

Length : Series (Read first Chapter 1, 2, 3, 4, 5 )

Rating / pairing : pg16 / Straight

Summary : Pernikahan bukanlah hal yang bisa dipermainkan begitu saja. Pernikahan itu mengikat sepasang manusia dalam cinta. Apa jadinya sebuah pernikahan jika orang-orang yang menjalaninya mengalami masalah mengenai percintaan.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Epik High – Pieces of You

Disaster Part I (Open Heart)


.

.

.

.

“Apa yang kau lakukan disini Yongbi? Apa benar kau…”

“Aku sedang honeymoon disini,” sela Yongbi datar. Ia tak ingin mendengar suara Minho, karena takut suara itu akan menggiringnya lagi ke lubang kepedihan. Melihat sosok Minho disini saja sudah cukup membuat luka hati Yongbi kembali terasa perih ditambah dengan fakta baru ini. “Lalu aku melihat dirimu, kupikir aku akan mengucapkan salam padamu…”

Yongbi ingat akan ucapan L  mengenai membalas mereka yang sudah mencampakkan kita. Jadi Yongbi memutuskan untuk mengumbar fakta kalau dirinya sudah menikah, sebelum Minho menjelaskan kenapa ia akan menikahi Soojung. Walau sebenarnya Yongbi tak ingin membalas Minho, tapi melihat pengkhianatan yang dilakukan pemuda dihadapannya ini membuat Yongbi tak bisa bermurah hati.

“Jadi kamu benar-benar sudah menikah,” sahut Minho. “Baguslah. Dengan begitu aku tak perlu merasa bersalah lagi padamu.”

Yongbi mendengus pelan mendengar ucapan Minho. “Ya, dia adalah pria yang tepat untukku. L sangat perhatian padaku. Dia sangat melindungiku. Dia selalu membuatku tersenyum. Dia mampu menghapus rasa trauma di diriku akibat semua tingkahmu. Dia berhasil meyakinkanku kalau aku bisa hidup tanpamu.” Entah kenapa membicarakan L membuat Yongbi jadi lebih sensitive. “Dan dia… dia.. dia mencintaiku.”

Keduanya kembali terdiam.

“Kenapa.. Kenapa harus Soojung?” tanya Yongbi. Sesungguhnya Yongbi tak ingin menanyakan hal ini, tapi pikirannya sedang tak bisa bekerja dengan baik. Ia sungguh ingin tahu kenapa Minho memilih Soojung. “Sudah berapa… lama kalian…?”

“Untuk apa kamu ingin tahu? Untuk membuatku terlihat sangat kejam dimatamu?” tanya Minho balik.

Yongbi memutar bola matanya mendengar jawaban Minho. “Kamu menyuruhku untuk membencimu. Aku harus memiliki alasan yang tepat untuk membencimu,” sahut Yongbi datar.

Kembali keheningan menyerang mereka. Dan kini bau tanah yang basah terasa begitu menyengat, hujan turun membasahi tanah Jeju. Seketika Yongbi merasa tubuhnya dingin. Ia pun memeluk dirinya sendiri berusaha mengurangi rasa dingin yang makin menjadi. Hujan… Yongbi punya ingatan yang buruk mengenai hujan.

“Aku… aku mencintainya. Sejak aku bertemu dengannya. Semakin hari semakin mencintainya dan aku memutuskan untuk menikahinya,”ujar Minho datar.

Yongbi memejamkan matanya mendengar penjelasan Minho. Ini sungguh tak masuk akal, pikir Yongbi. Minho lebih dulu melamar Yongbi sebelum Soojung mengundurkan diri dari kerjasamanya dengan Yongbi. Dan lalu dua bulan kemudian Minho memutuskan untuk meninggalkannya begitu saja tanpa alasan yang jelas. Kini Minho bilang kalau dia mencintai Soojung sejak pertama kali mereka bertemu dan memilih Soojung daripada Yongbi. Lalu untuk apa dia melamar Yongbi?! Bahkan Minho sampai bersumpah pada langit dan bumi kalau ia akan membuat Yongbi bahagia, tapi kenapa?

Cerita Minho sukses membuat hati Yongbi mencelos. Yongbi pikir Minho akan minta maaf padanya karena sudah membuatnya menderita setelah ia mencampakkannya. Tapi sepertinya airmatanya sudah ia buang sia-sia untuk pemuda yang bahkan tak pernah memikirkannya.

“Aku akan menikahinya besok. Aku tidak mengharapkanmu untuk datang ke prosesi pernikahan kami besok. Tapi aku akan sangat berterima kasih kalau kamu mau memberiku ucapan selamat,” ujar Minho.

Tubuh Yongbi mulai gemetar karena rasa dingin yang menyerangnya. Kalau saja ia tak gemetar seperti ini, pasti Yongbi sudah memukul Minho –menamparnya karena sudah berbicara tanpa perasaan seperti itu pada Yongbi.

Masih sambil memeluk erat dirinya, Yongbi berkata, “Chuk.. ch..” Yongbi berusaha keras untuk mengucapkan selamat pada Minho –seperti apa yang pemuda itu inginkan. Tapi ia tak bisa berkata apa-apa. Ia tak ingin menyelamati Minho. Ia sungguh tak bisa merelakan pemuda itu menikah dengan perempuan lain. Minho bahkan tidak tampak kehilangan begitu mengetahui kalau Yongbi sudah menikah. Apa ini sungguh karena Minho memang sudah tidak mencintai Yongbi?

Minho kemudian beranjak dari tempatnya. Ia tampaknya tak ingin berlama-lama bersama Yongbi. Dan ketika mereka sudah berdiri sejajar –bersebelahan- Minho meletakkan tangannya di pundak Yongbi dan menepuknya pelan sebagai ungkapan perpisahan mereka. Ia kemudian berjalan meninggalkan Yongbi yang masih berusaha mengeluarkan sepatah kata untuk Minho. Tanpa berkata apa-apa Minho kemudian pergi dari capel itu menerobos hujan dan meninggalkan Yongbi yang kini sudah menangis.

Kajima..” lirih Yongbi. “Jebal kajimayo.”

Yongbi berbalik menatap punggung Minho yang makin menjauh ditelan hujan. Dan rasa perih itu kembali menjalari hati Yongbi. Kejadian yang sama kembali terulang, Minho meninggalkannya ditengah hujan. Perlahan Yongbi melangkahkan kakinya keluar dari capel untuk menyusul Minho. Tapi ia merasa langkahnya sangat berat dan hujan kini mulai membasahi tubuhnya.

Kenapa? Kenapa semuanya harus terjadi seperti ini? Yang Yongbi inginkan hanyalah hidup bahagia bersama dengan orang yang dicintainya. Tapi kenapa sepertinya tak ada satupun yang mau mencintainya. Tuhan bahkan sudah mengambil dua orang yang sangat dicintainya, yaitu orangtuanya. Minho pun mencampakknya untuk perempuan yang lebih cantik darinya. Sementara L memanfaatkannya untuk menyakiti hati perempuan lain. Yang bisa Yongbi lakukan saat ini hanyalah menangis dan membiarkan tetesan hujan menyamarkan airmatanya.

“Oppa.. Kajima.. Oppa..”

.

.

L terus berlari menerobos hujan. Tujuannya hanya satu, capel yang ada di timur hotel ini. Pandangannya kabur karena derasnya air hujan yang turun. Ia sampai tak memperhatikan jalanan dihadapannya, hingga akhirnya ia menabrak sesorang yang berlari dari arah yang berlawanan.

L berhenti sejenak untuk meminta maaf pada orang tersebut. Tapi sepertinya orang itu sudah tak punya waktu lagi karena ia terus berlari tanpa menoleh ke belakang. L hanya memperhatikan pemuda tadi yang sudah kembali berlari. L mengingat sosok itu, sosok pemuda yang lebih tinggi darinya yang ia lihat di restoran Jepang ketika bersama dengan Yongbi dulu.

Awalnya L ingin mengejar pemuda itu, meninjunya hingga babak belur karena sudah memberanikan diri untuk menemui Yongbi, disini. Tapi ada yang lebih penting saat ini dibandingkan rasa tak sukanya terhadap pemuda itu. Kalau pemuda itu sekarang sudah meninggalkan capel, berarti Yongbi…

Segera saja L berlari kearah capel. Minho sudah meninggalkan capel, lalu bagaimana dengan Yongbi? Panik L.

Dirinya belum pernah berlari sampai sejauh ini. Rasanya paru-parunya sudah mau meledak karena membutuhkan asupan oksigen. Tapi L tak berhenti. Ia harus tiba di capel itu sebelum Yongbi melakukan hal yang bodoh.

L akhirnya tiba di capel yang dimaksud. Ia langsung menerobos pintu masuknya dan ia tak menemukan siapa-siapa disana. L pun keluar capel untuk memutari bangunan tersebut. Dan ketika ia sampai di bagian muka capel yang menghadap laut, L menemukan sosok yang ia cari.

Yongbi sudah duduk di bibir pantai menghadap laut. Segera saja L berlari ke arahnya.

Biasanya L akan langsung memeluk Yongbi dan menarik gadis itu menjauhi jangkauan ombak. Tapi kali ini tidak. L hanya berdiri disamping Yongbi yang masih duduk menghadap laut dengan pandangan kosong.

“Yongbi…”panggil L pelan. Saking pelannya L bahkan tak yakin jika Yongbi mendengar suaranya ditengah gemuruh deburan ombak dan derasnya air hujan yang turun.

Tapi Yongbi menoleh ke arah L. Yongbi menunjukkan wajah tersedihnya yang pernah dilihat L. Yongbi tampak sangat terluka. L bersumpah kalau ia akan membunuh Minho jika saja Yongbi sampai kenapa-kenapa.

“Apa yang kau lakukan disini?” Suara Yongbi terdengar parau. “Kamu juga mau mempermainkan hatiku?”

L pun berjongkok di sebelah Yongbi. “Yongbi, apa kamu tadi bertemu dengan…” L tak berani melanjutkan kalimatnya, takut kalau Yongbi akan pecah berkeping-keping jika ia menyebut nama Minho.

L akhirnya mendekati Yongbi. Ia berlutut di hadapan Yongbi untuk meraih tangan gadis itu. Ketika hendak menarik tangan Yongbi untuk membantunya berdiri, Yongbi malah menepis tangan L.

“Jangan sentuh aku!” katanya.

L kaget mendengar bentakan Yongbi tersebut. Tapi L tetap saja berusaha untuk meraih tangan Yongbi. Dan yang terjadi berikutnya adalah Yongbi berteriak histeris dan memukul-mukul tangan L.

“Jangan sentuh aku! Jangan sentuh aku!!! Aku benci kamu!! Jangan sentuh aku!!!” pekik Yongbi.

L hanya bisa terdiam melihat teriakan Yongbi. Apa ini yang dimaksud Key dengan jangan membiarkan Yongbi berbaur dengan hujan? Atau ini adalah efek karena gadis itu baru saja bertemu dengan Minho? Entah apa yang sudah dilakukan Minho pada istrinya itu. L berpikir mungkin Yongbi mengira kalau L itu adalah Minho, makanya ia sampai berteriak histeris seperti itu.

“Bi, ini aku.”

“Kenapa kalian semua lelaki harus seperti itu?! Apa menyenangkan bagi kalian menyakiti perempuan yang mencintai kalian?! Kamu dan Minho sama saja…” tuding Yongbi.

Tak bisa berlama-lama disana akhirnya L memilih untuk menggendong Yongbi. Gadis itu bisa sakit jika terus-terusan berada dibawah siraman air hujan. Tapi Yongbi berontak begitu L meraihnya.

“Aku bilang jangan sentuh aku!! Jangan dekati aku!! Atau aku akan benar-benar menenggelamkan diriku di lautan ini!!” ancam yongbi. “Apa kau tahu betapa aku ingin mati saat ini??! Jadi jangan coba-coba untuk menyentuhku!”

L pun kembali terdiam. Tak berani bergerak lebih jauh lagi. Jadi ia hanya membiarkan Yongbi tetap berada di posisinya, duduk sambil menghadap laut.

“Kenapa… Kenapa kau harus sekejam itu Myungsoo?? Kenapa kau harus menyakitinya seperti itu??” lirih Yongbi.

L bingung akan ucapan Yongbi. Ia tak tahu apa yang dimaksud Yongbi. Rasa-rasanya ia tak pernah menyakiti Yongbi. Apa mungkin Yongbi sekarang sedang melampiaskan kesedihannya terhadap Minho pada L?

“Apa maksudmu? Jangan kau lampiaskan kekesalanmu terhadap Minho padaku.”

“Son Naeun.” Sela Yongbi. “Kenapa kamu harus menyakitinya seperti itu?? Kalau kamu mencintainya kenapa kamu harus menyakitinya seperti itu?? Aku.. Aku bisa merasakan perihnya hati Naeun saat ini. Aku…”

Tubuh L mendadak kaku mendengar ucapan Yongbi. Yongbi sudah tahu semuanya, pikir L. Awalnya L pikir kalau Yongbi tidak akan pernah tahu mengenai L dan Naeun, mengingat Yongbi itu tidak peka terhadap lingkungan sekitar. Tapi ternyata Yongbi mengetahui semuanya secepat ini, ah mungkin belum semua, mungkin Yongbi baru hanya menebak sesuatu yang mencurigakan antara L dan Naeun.

“Aku.. Yongbi dengarkan aku du..”

“Aku tak bisa membayangkan seperti apa sakitnya ketika harus melepas orang yang kau cintai untuk menikah dengan orang lain. Aku tak bisa membayangkannya sampai akhirnya aku mengalaminya sendiri. Minho… dia akan menikah dengan Soojung! Dia akan menikah dengan gadis yang pernah aku asuh! Dan itu terasa menyakitkan disini.” Yongbi meracau sambil memukul-mukul dada kirinya.

“Rasanya sakit sekali melihat orang yang kamu cintai berciuman dengan orang lain di depan matamu. Aku merasakannya. Aku merasakan sakit hati yang Naeun alami ketika kamu dengan sengaja menciumku dihadapannya. Rasanya seperti hatimu disayat-sayat oleh sembilu,” Yongbi terus meracau.

“Dan rasanya sangat menyesakkan ketika kamu harus mengucapkan selamat menikah kepada orang yang kamu cintai. Aku tak bisa membayangkan bagaimana Naeun bisa mengatur hatinya untuk memberiku ucapan selamat itu, karena aku sendiri tadi tidak mampu melakukannya di hadapan Minho. Aku tak mampu mengucapkannya seperti yang Naeun lakukan padaku. Gadis itu, entah sudah berapa duka yang kuberikan padanya secara tidak langsung,”

“Aku benci padamu Kim Myungsoo. Kenapa kamu harus membuatku menjadi gadis jahat seperti Soojung. Kau membuatku jadi orang ketiga yang menghancurkan hati gadis yang tak bersalah. Aku benci padamu,”

“Kau bilang akan membantuku untuk melupakan Minho, kau sudah, ahni, kau nyaris berhasil. Dan sebagai imbalannya kau secara tidak langsung memaksaku untuk menyakiti Naeun. Dan untuk hal ini kau berhasil melakukannya,”

“Kalau kau masih mencintainya kenapa harus menyakitinya?! Pergilah! Kembalilah padanya. Dan biarkan aku hidup dengan tenang.”

Yongbi akhirnya terdiam. Ia sudah melampiaskan semua kepedihannya terhadap Minho dan L. Rasanya tidak ada lagi yang bisa melukainya lebih dalam lagi, karena semua hal yang sudah terjadi hari ini benar-benar sudah menyakitinya hingga ke dasar hatinya.

“Sudah selesai bicaranya,” L akhirnya buka suara. “Kalau sudah selesai ayo kita kembali ke hotel. Semua orang mengkhawatirkanmu.”

Perlahan L meraih tangan Yongbi. Gadis itu sudah tidak lagi menepis tangan L, karena ia memang sudah tidak punya tenaga lagi untuk berargumen lebih jauh dengan L. Tapi Yongbi memilih untuk bergeser menjauhi L.

“Dan jangan menyuruhku untuk tidak menyentuhmu. Karena aku adalah suamimu,” tegas L.

Akhirnya Yongbi berhenti merangkak dan membiarkan L menggendongnya. Sebelum menggendong Yongbi, L memakaikan topinya di kepala Yongbi untuk mengurangi tampiasan hujan yang menghantam wajah Yongbi. L merasa Yongbi sudah gemetaran dipelukannya, entah sudah berapa lama gadis itu berada di bawah hujan.

“Kamu boleh tidak menyukaiku, Bi. Tapi kumohon jangan benci aku.”

Yongbi menyandarkan kepalanya di dada L. Ia mendengarkan detak jantung L dan entah kenapa ia menjadi tenang. Rasa sedih, marah, takut dan segala rasa yang berkecamuk di batin Yongbi perlahan menghilang setelah Yongbi mendengar irama detak jantung milik L. Dan perlahan kesadaran Yongbi mulai memudar.

“Kenapa hidup ini sangat tidak adil. Orang-orang yang kusayangi perlahan-lahan meninggalkanku. Aku kesepian. Aku tak ingin sendirian. Aku menyayangi kalian semua tapi kenapa kalian menyakitiku..” racau Yongbi.

Rasanya hati L ikut terluka mendengar semua kesedihan yang keluar dari mulut Yongbi. Ia pernah berjanji pada gadis itu kalau ia akan membantunya. Ia pernah berjanji pada gadis itu kalau ia akan melindunginya. Tapi kini ia malah menyakiti perasaan Yongbi. Rasanya menyesakkan ketika melihat Yongbi menolak sentuhannya. Rasanya menyesakkan ketika Yongbi berkata kalau ia membenci L.

L pun bersumpah untuk tidak akan pernah membiarkan airmata itu mengalir dari mata indah Yongbi lagi.

.

.

L memandangi wajah Yongbi yang kini tengah tertidur. Sesekali ia memegang kening Yongbi, memeriksa temperatur tubuh gadis itu. Sekitar empat jam yang lalu ketika L tiba di hotel setelah menyelamatkan Yongbi dari derasnya hujan yang turun, tubuh Yongbi terasa sangat dingin. Dan setelah Yongbi selesai di keringkan tubuhnya oleh make-up artisnya, L merasa kalau suhu tubuh Yongbi langsung meningkat. Yongbi demam. Mengetahui kalau Yongbi demam, L terus menunggui istrinya tersebut sambil sesekali mengompres kening gadis itu untuk menurunkan suhu tubuhnya.

Panas tubuh Yongbi sudah menurun. L menghela napas lega. Setidaknya ia bisa tenang sekarang. L langsung mengeluarkan ponselnya, hendak menelepon sutradara untuk mengabarkan kalau Yongbi baik-baik saja, mengingat beberapa jam yang lalu koridor kamarnya penuh oleh kru-kru yang mengkhawatirkan kondisi Yongbi. Tapi begitu dilihatnya kalau ini sudah tengah malam, L pun mengurungkan niatnya. Semua orang pasti sudah tidur, pikirnya.

L memejamkan matanya. Rasanya tubuhnya begitu lemas dan tak ada tenaga. Syuting selama berjam-jam, kemudian berlari menyusuri pantai untuk mencari Yongbi dan kehujanan sudah cukup untuk membuatnya lelah. L kembali memikirkan kata-kata Yongbi di pantai tadi.

Kau secara tidak langsung memaksaku untuk menyakiti Naeun. Kalau kau masih mencintainya kenapa harus menyakitinya?! Pergilah! Kembalilah padanya. Dan biarkan aku hidup dengan tenang.

L tak menyangka kalau Yongbi punya pemikiran seprti itu. Menyuruhnya untuk kembali pada Naeun? Harus ditaruh dimana mukanya? Naeun pasti akan sangat bangga karena kembali berhasil menundukkan dirinya. L sudah bersumpah untuk tidak akan pernah membiarkan dirinya kembali merendah di hadapan Naeun.

“Nghhh…” Terdengar erangan pelan dari mulut Yongbi. L pun kembali membuka matanya dan mendapati Yongbi sedang tampak gusar dalam tidurnya. Kedua alisnya saling bertautan seolah takut akan sesuatu. “Eomma,” rintihnya.

L pun menempelkan jarinya di ujung-ujung alis Yongbi, menarik kedua ujungnya agar mereka tidak saling bertautan. Tak lama kemudian Yongbi pun membuka matanya. Yongbi langsung menepis tangan L dari wajahnya. Walau cukup terluka dengan penolakan Yongbi, tapi L tetap tak mengurangi perhatiannya terhadap Yongbi.

“Kamu sudah bangun? Apa ada yang sakit? Beritahu aku jika ada yang sakit. Kamu mau minum? Atau kamu mau makan? Kamu belum makan malam, Yongbi. Aku akan memesankanmu makanan ya,” tanya L.

Yongbi hanya memalingkan mukanya dari L. Ia memperhatikan seisi ruangan ini. Tadinya ia mengira kalau dirinya ada di rumah sakit, ternyata dirinya ada di kamar hotel. Yongbi pun bangun dari tidurnya dan ia langsung merasakan ruangan itu berputar. Yongbi limbung, tapi L segera menahan tubuhnya.

“Kamu masih belum sembuh benar. Tidur sajalah dulu. Atau kamu ingin sesuatu? Kamu mau ke toilet?” tanya L sambil memegangi bahu Yongbi.

Yongbi hanya menggeleng lemah.

“Kenapa kamu disini?” tanya Yongbi, pertanyaan yang bodoh memang. Tapi Yongbi penasaran, kenapa L masih ada disini, bersamanya?

“Sunggyu Hyung memesankan kamar ini untuk kita berdua. Kalau aku tidak disini lalu aku harus tidur dimana? Aku disini menjagamu.”

Bukan itu jawaban yang Yongbi cari, tapi, “maksudku, kenapa kamu masih ada disini? Bukankah tadi sudah kubilang untuk pergi….”

“Jangan menyuruhku untuk kembali pada Naeun,” sela L.

Mungkin ini saatnya untuk menjawab semua ketakutan Yongbi. Mungkin ini saatnya untuk memberitahu Yongbi fakta mengenai dirinya. Ia tak ingin Yongbi salah paham terhadap dirinya.

“Dengarkan aku Yongbi, aku menikahimu bukan untuk menyakiti Naeun. Bukankah pernah kubilang padamu sebelumnya, kalau kita menikah untuk menunjukkan pada mereka kalau menikahi L itu bukanlah sebuah bencana. Itu bukan berarti aku sengaja menikahimu untuk memanas-manasi Naeun. Aku hanya ingin menunjukkan padanya kalau kita bahagia. Aku tak pernah ada niatan untuk kembali padanya, tak pernah terlintas sama sekali dibenakku. Jadi jangan pernah lagi berkata seperti itu padaku.”

Tentu saja kalau L tidak akan kembali pada Naeun lagi. Setelah mendengar apa yang diucapkan gadis itu terhadapnya, bagaimana mungkin L akan kembali padanya. Ia sudah lelah mengalah terhadap Naeun. Ia selalu mengalah tapi Naeun tidak pernah mau mengalah untuknya.

“Lupakan soal Naeun. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Bukankah aku sudah janji dihadapan semua orang kalau aku akan membahagiakanmu? Jadi kalau aku pergi dan kembali pada Naeun itu sama saja dengan aku membenarkan ucapannya kalau wanita yang ada di dekatku pasti akan sengsara dan tidak bahagia. Apa aku semengerikan itu?”

Yongbi terdiam. Ia melihat kesungguhan dimata L. Ia tak pernah melihat L yang seperti ini. Ahh ia selalu melihat L yang seperti ini ketika L sedang mengkhawatirkan dirinya. Ia selalu memiliki ekspresi yang sama ketika sesuatu terjadi pada Yongbi. Dan setiap melihat ekspresi L yang seperti ini jantung Yongbi pasti akan berdetak 2-3 kali lebih cepat dari biasanya.

“Atau kamu menyuruhku kembali pada Naeun agar kamu bisa kembali bersama dengan Minho lagi?” tuding L.

Yongbi terbelalak dibuatnya. Kembali pada Minho? Tapi Minho akan menikah besok? Walau Yongbi masih ragu akan perasaannya terhadap Minho tapi ia tak ingin kembali pada pria yang sudah mengkhianatinya. Yongbi sudah terlanjur sakit hati dibuatnya.

Yongbi kembali menggeleng pelan. “Aku menikahimu untuk melupakannya. Tak ada niatan untuk kembali lagi padanya,” ujar Yongbi pelan. “Aku lelah.”

Mendengar jawaban Yongbi, L merasa seolah ada popcorn yang meletup-letup di perutnya. Senang, sudah pasti. Tanpa ia sadari L sudah menarik Yongbi ke dalam pelukannya.

“Benarkah? Syukurlah. Berjanjilah padaku. Jangan pernah kamu pergi menemui Minho lagi. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu jika kamu berjanji akan hal itu,” bisik L.

Yongbi mengangguk pelan. Di pelukan L, Yongbi kembali mendengar detak jantung L. Suara detak jantung L terasa menghanyutkan dan menenangkan. Yongbi merasa suara detak jantung L seolah meyakinkannya kalau semua baik-baik saja.

L melepas pelukannya. Dan Yongbi merasa ada yang hilang. Lagu tidurnya tiba-tiba hilang. L kini sudah merebahkan tubuh Yongbi di kasur dan mengusap-usap kepala Yongbi pelan.

“Tidurlah. Aku akan ada disini kalau kamu membutuhkanku.” Lalu L beranjak ke sofa yang ada di seberang kasur.

Yongbi melirik ke arah L yang kini sudah rebahan di sofa. Yongbi mencoba memejamkan matanya untuk tidur, tapi gagal. Ia tak bisa tidur. Ia sudah berbaik ke kiri dan ke kanan, tapi hasilnya nihil.  Yongbi pun kembali melirik kearah L. Ya, ia butuh sesuatu yang bisa membawanya ke alam mimpi.

“Myungsoo,” panggil Yongbi pelan.

L berdehem menyahuti panggilan Yongbi.

“Aku pikir apa kamu mau…apa kamu…mau..tidur disini, di kasur bersamaku?” gumam Yongbi.

L langsung membuka matanya dan menoleh ke arah Yongbi, kaget akan tawaran gadis itu. “Kenapa? Apa ada sesuatu? Apa ada yang sakit?”

Yongbi menggeleng pelan. Untungnya wajahnya membelakangi cahaya, kalau tidak mungkin L sudah bisa melihat betapa merahnya wajah Yongbi saat ini. “Kamu akan sakit kalau tidur seprti itu. Naiklah ke sini. Aku tidak mau kamu menolak syuting besok karena sakit pinggang.”

L langsung melompat dari sofanya. Senang, sudah pasti. Jarang-jarang Yongbi menawarkan tempat tidurnya. Biasanya L yang harus menyelinap tiap malam ke kamar Yongbi dan keluar sebelum subuh agar gadis itu tidak memaki-maki dirinya jika tertangkap basah tidur di kasur Yongbi.

L sudah menempelkan tangannya di kasur tapi masih enggan untuk naik. Ia masih ragu. “Tapi…tapi kamu gak akan menendangku besok pagi kan?”

Yongbi yang wajahnya sudah semerah tomat itu hanya bisa menggeleng pelan.

Setelah mendapat persetujuan dari Yongbi, L pun merebahkan dirinya di kasur menghadap Yongbi. Ia memperhatikan wajah Yongbi yang tampak sangat dekat itu dan ia menyadari warna merah yang memenuhi wajah Yongbi.

“Wajahmu merah sekali! Kamu demam lagi?!” panik L.

L terdiam. L diam karena kini Yongbi sudah menempelkan tangannya di dada L. Kaget akan sikap yongbi, L hanya bisa mematung.

“Biasanya ketika aku tidak bisa tidur, Eomma akan menyanyikan sebuah lagu sambil memelukku. Biasanya ketika aku terbangun dari mimpi burukku, Yeoshin Eonni akan memelukku dan mengusap-usap punggungku sampai aku tertidur lagi. Biasanya…”

Kata-kata Yongbi terputus. L sudah meraih Yongbi ke dalam pelukannya. Tanpa perlu menunggu gadis itu menyelesaikan ucapannya, L tahu kalau Yongbi saat ini pasti membutuhkan pelukan. Sambil bersenandung pelan, L mengusap-usap punggung Yongbi. L merasakan Yongbi sudah mendekatkan diri padanya dan menempelkan kepalanya di dada L.

Dan Yongbi pun tertidur di pelukan L.

.

.

Kenapa aku bisa ada disini? Sejak kapan aku sampai disini? Apa yang terjadi? Rasanya aku baru saja tertidur di kamar hotel bersama Myungsoo. Kenapa sekarang aku sudah ada disini?!

Yongbi menatap lurus ke depan. Ini sama sekali bukan kamar hotelnya, bukan pula koridor hotel atau lobby hotel. Ini adalah capel. Ia berada di capel yang ia datangi kemarin. Ia tak tahu kenapa ia bisa berada disana. Apakah ia berjalan dalam tidur?

Di hadapan Yongbi, beberapa meter di depan Yongbi, tepatnya di altar yang ada di ujung capel ini sudah ada sepasang pengantin yang akan menikah. Yongbi baru tersadar ketika ia mendengar sumpah yang diucapkan untuk mempelai pria. Dan kini semua orang yang ada di capel ini, termasuk tamu dan calon pengantin itu sudah menoleh ke arah Yongbi. Mereka memandangi Yongbi dengan tatapan aneh. Tentu saja karena penampilan Yongbi saat ini tidak tampak seperti orang yang akan menghadiri prosesi pernikahan. Dengan piyama serta sandal hotel, semua orang juga bisa menebak kalau Yongbi tampak seperti anak yang tersesat mencari kamar tidurnya.

Yongbi masih tidak tahu kenapa ia bisa berada disini. Ia masih berdiri tegak di pintu masuk dan mematung memandangi altar. Ia menyadari beberapa tamu sudah mengeluarkan kameranya dan mengarahkannya ke Yongbi, tapi ia masih tak bergerak dari sana ketika ia si mempelai pria sudah menahan kamera orang-orang tersebut agar tidak mengambil gambar Yongbi.

“Bukankah dia istrinya L?”

“Apa yang dilakukannya disini?”

“Kenapa dia bisa disini?”

Terdengar kasak-kusuk para tamu memenuhi capel. Dan Yongbi masih mematung untuk mencari alasan yang jelas untuk meredakan amarah sepasang pengantin itu. Karena si pengantin perempuan kini sudah menyilangkan tangannya di dada dan menatap Yongbi penuh kebencian. Sementara si pengantin pria sudah turun dari altar hendak menghampiri Yongbi. Dan kini malah sepasang pengantin itu tampak saling berdebat.

“Myungsoo tolong aku….” lirih Yongbi.

.

.

L terbangun dari tidurnya. Masih memejamkan matanya, L mengulas senyum diwajahnya. Ia mengingat kejadian semalam, ketika Yongbi mengajaknya untuk tidur disebelahnya. Ia masih ingat ketika Yongbi secara tidak langsung memintanya untuk memeluknya. Dan kini ia merasakan senyumnya semakin lebar nyaris sampai ke kupingnya –kalau itu bisa terjadi.

L pun berbalik untuk membangunkan Yongbi yang pasti masih berbaring di sebelahnya. Tapi Yongbi tidak ada disana. Sisi lain dari kasurnya kosong. L pun segera bangun untuk mencari ke seisi kamar. Bahkan L tidak menemukan Yongbi di toilet. L juga tidak menemukan piyama Yongbi, yang artinya gadis itu masih mengenakan piyamanya dan menghilang.

Tiba-tiba saja L merasa tidak enak. Kekhawatiran kembali melandanya. Jangan-jangan Yongbi saat ini…

.

.

Kenapa aku harus berada disini?

Orang bodoh mana yang datang ke pernikahan mantannya yang sudah mengkhianati cintanya? Orang bodoh mana yang mendatangi pesta pernikahan dalam kondisi seperti ini, baru bangun tidur dan dengan piyama masih melekat dibadannya. Dan orang bodoh mana yang masih berdiri mematung di hadapan pasangan calon pengantin yang kini sudah adu mulut. Ya orang bodoh itu adalah dirinya sendiri, Hwang Yongbi.

Panik dan bingung, rasanya Yongbi ingin menangis saat ini. Ia ingin berbalik dan pergi dari capel ini, tapi badannya menolak untuk mematuhinya. Lagipula jika ia bergerak ia merasa kalau dunianya berputar. Dan kini semuanya gelap.

Seseorang membalikkan badan Yongbi dengan paksa. Lalu semua kembali terang. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah panik L yang sudah kehabisan napas. L yang menutup mata Yongbi dan mengalihkan perhatiannya dari segala hal yang ada di capel ini.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya L pelan.

Yongbi hanya bisa menggeleng dan menangis. Melihat wajah L rasa takut, panik, dan bingung itu perlahan memudar. Ia kini tenang karena L ada disana untuk menolongnya. Yongbi kini sudah memeluk L, menenggelamkan wajahnya di dada L. Sementara L mengusap-usap punggung Yongbi untuk menenangkan gadis tersebut.

L menatap ke arah altar. Masih sambil memeluk yongbi, L membungkukkan badannya sedikit sebagai ungkapan permintaan maafnya menyela pernikahan yang akan terjadi.

“Maafkan aku. Istriku sangat ingin kami merayakan pernikahan kami disini. Karena itu dia datang kesini. Mohon maklumi dia. Maaf sudah mengganggu acara kalian.”

L lalu menggendong Yongbi keluar dari capel tersebut. Ia tak tahu bagaimana Yongbi bisa berada di capel itu. Dalam pelukannya Yongbi tak henti-hentinya terus meminta maaf pada L. Yongbi tentu merasa bersalah karena sudah melanggar janji yang sudah mereka buat semalam.

“Aku tak bermaksud menemuinya. Aku tiba-tiba saja ada disana. Aku tak tahu kenapa aku bisa ada disana. Maafkan aku. Kumohon jangan tinggalkan aku,” isak Yongbi.

L mengeratkan pelukannya dan menatap Yongbi dalam gendongannya. Ia berusaha meyakinkan Yongbi kalau semua baik-baik saja. L tak habis pikir terhadap Minho. Karena pria itu tetap berada di altar dan tidak menggubris kehadiran Yongbi sama sekali. Rasanya ingin sekali L meninju pria itu karena sudah mengacaukan ‘honeymoon‘nya.

Ketika sudah melewati halaman capel, L merasa ada yang menahan tangannya. L pun berhenti dan berbalik. Ia mendapati Minho ternyata sudah menyusulnya. Great, disaat L ingin meninjunya ternyata pemuda ini dengan sukarela menunjukkan batang hidungnya.

“Tunggu sebentar,” sela Minho. “Apa Yongbi baik-baik saja? Kenapa ia bisa…”

“Bukankah tadi aku sudah bilang kalau Yongbi ingin menikah disini?!” ketus L. “Dia mengira kalau kami akan menikah lagi disini. Jadi tolong lepaskan tanganmu sekarang agar aku bisa membawa pulang istriku.”

L lalu kembali berjalan. Tapi Minho kembali menahan lengan L.

“Aku hanya ingin melihatnya. Dia kelihatan..tidak sehat,” sela Minho lagi.

Kesal, L akhirnya menurunkan Yongbi dari gendongannya. Ia berpesan pada Yongbi untuk menutup matanya sejenak kemudian kembali berpaling menatap Minho.

“Kurasa dia jadi tidak sehat karena kemarin ada yang meninggalkannya sendirian disini, ditengah hujan!” geram L. Ia sudah mengeratkan tinjunya, tapi masih menahan dirinya untuk tidak lepas kendali.

Minho terdiam. Ia kemudian mengulurkan tangannya hendak menyentuh Yongbi yang bersembunyi di belakang L. Minho memanggil pelan nama Yongbi.

“Jangan sentuh istriku.” L memberi peringatan sambil menahan tangan Minho.

“Aku hanya ingin memastikan keadaannya.” Minho bersikukuh. Ia kini sudah berhasil menyentuh tangan Yongbi.

Baiklah, ini sudah tak bisa dibiarkan lagi. L lalu menarik kerah kemeja Minho. “Kubilang jangan sentuh istriku! Dia jadi seperti ini karena kamu!!” Dan tinju L sudah mendarat di pipi Minho.

Minho sudah tersungkur di rerumputan. Yongbi pun membuka matanya untuk melihat apa yang terjadi. Betapa kagetnya dia begitu melihat L sudah duduk di atas Minho, mencengkeram kerah kemejanya dan melayangkan tinjunya ke arah Minho seraya mengeluarkan segala sumpah serapah dari mulutnya.

“Myungsoo!” cegah Yongbi yang kemudian menahan tinju L.

Soojung, calon istri Minho, sudah berlari ke arah Minho dan berusaha menyelamatkan calon suaminya itu dari amukan L. Dan Yongbi pun berusaha menarik L agar menjauh dari Minho begitu juga Soojung yang menarik Minho menjauh.

“Kuperingatkan kau! Jangan pernah lagi muncul di hadapan Yongbi!!” seru L yang sudah menunjuk-nunjuk Minho.

Minho berusaha bangun dengan dibantu oleh Soojung. Ia mengusap ujung bibirnya yang sudah berdarah.

“Bukan Minho Oppa yang mencari-cari istrimu, tapi istrimu sendiri yang selalu muncul di hadapannya! Istrimulah yang tak tahu malu dan masih berusaha untuk menggoda Minho Oppa-ku!!” murka Soojung.

“Apa kamu bilang?!!” L sudah beranjak dari tempatnya, tidak peduli Soojung itu perempuan atau bukan tapi L sangat ingin menampar gadis itu.

Minho sudah berdiri di hadapan Soojung, melindungi gadis itu dari apapun yang akan dilakukan L. Tanpa aba-aba, Minho pun membalas pukulan L.

Kali ini L yang tersungkur di rerumputan. Yongbi tentu saja tidak tinggal diam melihat L dipukuli. Dan hei wajah L itu adalah asetnya! Bagaimana ia bisa melanjutkan syuting jika wajahnya lebam. Yongbi menghampiri L hendak melindungi dirinya agar Minho tidak menyerangnya lagi. Tapi terlambat karena kali ini Minho sudah lebih dulu menguasai L dan meninjunya lagi. Mereka pun kembali berkelahi.

Yongbi terpaku melihat perkelahian ini. Ia melihat Soojung sudah berteriak-teriak agar orang-orang yang memenuhi halaman capel –yang sebagian besar adalah tamunya (Yongbi masih mengingat beberapa wajah itu)– untuk menolong Minho. Tapi tak ada satupun yang bergerak. Lalu Yongbi juga mendengar ada ribut-ribut di belakangnya dan ketika Yongbi menoleh ternyata adalah beberapa kru drama yang sudah tiba di capel ini –katanya capel ini akan menjadi tempat syuting adegan terakhir drama Infinite Love.

Sempurna.

Rasanya bencana ini terasa begitu sempurna. Tidak bisa tinggal diam begitu saja Yongbi pun bergerak kearah Minho dan L yang sudah bergumul di tanah. Ketika ia melangkah, kembali Yongbi merasakan kalau dunianya berputar. Perlahan, Yongbi pun mendekati dua pria itu.

“Hentikan kumohon. Jangan pukuli Myungsoo lagi. Jangan pukuli suamiku,” pinta Yongbi dengan suara serak.

Yongbi lalu menahan tangan Minho. Tapi Minho menepis pegangan Yongbi –dan terlalu kuat– hingga akhirnya Yongbi malah terjatuh. Panik, L pun langsung mendorong Minho untuk menolong Yongbi. Sementara Minho begitu ia tahu kalau ia baru saja mendorong Yongbi hingga terjatuh langsung ikutan panik. L tentu saja tidak tinggal diam mengetahui kalau Minho akan mendekati Yongbi lagi, sebuah tinju siap ia layangkan kembali ke arah Minho.

Kini beberapa orang –lebih tepatnya kru-kru drama Infinite Love– sudah menahan L dan Minho agar tidak saling memukul satu sma lain. Sementara yang lain sudah membantu Yongbi untuk berdiri. L pun menghampiri Yongbi, memeriksa setiap inchi tubuhnya untuk memastikan kalau gadis itu tidak apa-apa.

Yongbi hanya tersenyum pelan. Wajah L tampak memudar di penglihatannya. Ketika ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah L, semuanya berubah menjadi gelap.

Yongbi pingsan.

“Yongbi! Yongbi!!” L mengguncang tubuh Yongbi berusaha menyadarkan gadis itu. Ketika L menyentuh kening Yongbi, ia merasakan kalau suhu tubuh Yongbi lebih panas dibandingkan semalam.

Sungguh L ingin membunuh Minho saat ini juga.

.

.

.

Ini angst lohh!! Hahaha.. Minho dan L berantem ngerebutin saya (Q╰_╯)==○☆(bee)

Part yang paling saya suka disini adalah adegan kasur (⊙͡_⊙͡)  ehehehe,, suka karena yongbi dan L udah saling membuka hati satu sama lain.

Okeh saya cukup stres buat mengembangkan adegan disini.. jadi kalo berasa ngebut ato kecepetan harap dimaklumi. Bee hanya author kacangan yang agak abal buat mengembangkan konflik .___.v

Dan kayanya FF ini bakal panjang dehh,, ini aja sepertinya baru sekitar 50% dari keseluruhan plot yang udah bee buat… tapi mudah-mudahan ga ngebosenin yaa..

Oia bee mau ingetin kamu wahai pengunjung planet ini untuk mendaftarkan diri kamu di recidence
karena bee mau tahu siapa aja pengunjung setia planet bee. Ini juga untuk memudahkan kalian dalam mendapatkan kode proteksi untuk fiksi-fiksi di planet ini.

Akhir kata bee ucapin terima kasih!! Sampai bertemu di chapter berikutnya.

*bocoran buat into your world, angel berikutnya adalah si malaikat High Note* ㅋㅋㅋㅋ

안녕!! 뿅!

Advertisements
FF – Goodbye ~ Hello | Chapter 6 | PG17

40 thoughts on “FF – Goodbye ~ Hello | Chapter 6 | PG17

  1. Imajinasiku terlalu ngefly kemana mana.alurnya kagak bisa ditebak. Jadi setiao chapter dan kelanjutannya itu membuatku penasaran. Ngenes dehh. Imajinasiku ngebayangin mereka thor.

  2. part ini bikin imajinasiku beterbangan membayangkan reka adegan yang terjadi….
    aq justru suka waktu Bi bilang ke Minho “Jangan pukuli suamiku”. akhirnya Bi udah mulai melupakan minho dan memilih L..

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s