FF – Goodbye ~ Hello | Chapter 5 | PG16


Title : Goodbye – Hello

Subtitle : (Chapter 5 – Honeymoon) ….and Disaster Come

Author : beedragon

Cast:

Hwang Yongbi (OC)

L Infinite as Kim Myungsoo / L

Other Cast:

Naeun A-Pink as Son Naeun

Sunggyu Infinite as Kim Sunggyu

Minho Shinee as Minho

Krystal F(x) as Jung SooJung

and other original cast that i borrowed their name

Genre : Romance

Length : Series (Read first Chapter 1, 2, 3, 4)

Rating / pairing : pg16 / Straight

Summary : Pernikahan bukanlah hal yang bisa dipermainkan begitu saja. Pernikahan itu mengikat sepasang manusia dalam cinta. Apa jadinya sebuah pernikahan jika orang-orang yang menjalaninya mengalami masalah mengenai percintaan.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Epik High – Pieces of You

Honeymoon (…and Disaster Come)


.

.

.

Malam ini L kembali menyelinap ke kamar Yongbi. Bukan, bukan untuk mencari-cari kesempatan untuk menyentuh istrinya tersebut (sebenarnya ini adalah alasan utama), melainkan rutinitas malam yang biasa ia lakukan sejak menikahi Yongbi yaitu menenangkan Yongbi dari mimpi buruknya. Biasanya L hanya akan duduk di kursi malas yang ada di kamar Yongbi sambil membaca naskah film terbarunya dan sesekali melirik ke arah Yongbi. Terkadang L malah tertidur di kursi malas tersebut dan terbangun begitu mendengar teriakan Yongbi. Tapi kali ini L memberanikan diri untuk duduk di sebelah Yongbi –diatas kasurnya.

L mengamati Yongbi yang tertidur di sampingnya. Wajah gadis itu tampak begitu tenang dan damai. Melihat Yongbi yang begini tenang pun membuat L jadi tersenyum tipis dibuatnya. Sejak menikahi Yongbi, entah sudah berapa banyak senyum yang ia buat di wajahnya. Walau Yongbi selalu memancing emosinya, tapi L tetap tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum melihat semua tingkah Yongbi –entah kenapa. L pun melayangkan tangannya untuk mengusap kepala Yongbi.

L tak tahu sejak kapan awal mulanya ia suka untuk menyentuh Yongbi. Ia merasakan ada sensasi yang aneh di dirinya seperti misalnya secara otomatis sudut-sudut bibirnya akan tertarik keatas membentuk senyuman, suhu tubuhnya jadi menghangat seketika, dan jantungnya… jantungnya jadi memacu lebih lebih lebih cepat dari biasanya ketika ia menyentuh Yongbi. Dan L menyukai perasaan itu.

Ehh, menyukai? L menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak. L bukannya menyukai Yongbi. Tapi L menyukai perasaan yang hadir ketika L menyentuh Yongbi. Itu dua hal yang berbeda bukan? Dan tolong dicatat, ini bukan berarti L itu pervert! Karena tidak ada larangan untuk menyentuh istri sendiri bukan?!

L merasakan Yongbi mulai bergerak dalam tidurnya. Ia melihat wajah Yongbi yang mulai mengkerut, terlihat tidak nyaman. Yongbi berbalik ke kiri dan ke kanan. Ok, sepertinya Yongbi mimpi buruk lagi.

“Appa~” lirih Yongbi.

L memfokuskan pendengarannya. Yongbi bilang Appa bukannya Oppa? Yongbi kembali mengigau dan mulai menangis, memanggil ayah dan ibunya. L menduga kalau gadis ini tengah rindu akan orangtuanya. L lalu meraih Yongbi dan memeluknya. Yongbi pun tampak tenang setelah L mendekapnya. L memposisikan kepala Yongbi di dadanya, agar gadis itu bisa mendengar detak jantung L dalam tidurnya.

“Shh, semuanya baik-baik saja, Yongbi-ya. Kamu merindukan orangtuamu? Besok sebelum berangkat ke Jeju kita akan mengunjungi makam mereka. Jadi tidurlah dengan tenang,” bisik L sambil mengusap-usap punggung Yongbi.

L mengeratkan pelukannya terhadap Yongbi hingga gadis itu kembali tertidur tenang. Ketika L baru saja akan menutup matanya untuk tidur ia mendengar Yongbi kembali mengigau. Dan membuat L cukup kaget mendengar apa yang digumamkan gadis itu.

“Myung… oppa..~”

.

.

.

“Katamu kita mau honeymoon, kalau tahu aku akan berakhir dengan menemanimu syuting pasti aku tidak akan pernah mengiyakan tawaranmu kemarin malam,” keluh Yongbi.

Yongbi kecewa. Kemarin malam L bilang pada orangtua serta kakeknya kalau dirinya dan Yongbi akan pergi honeymoon, tapi pada kenyataannya L memanfaatkan Yongbi untuk menemaninya syuting. Bukannya Yongbi tidak senang bertemu dengan rekan-rekan kerja L, tapi Yongbi sudah terlanjur mengharapkan sebuah liburan sungguhan –bukannya menemani L kerja.

Ia meletakkan kopernya sembarangan di lobby hotel dan membiarkan Sunggyu yang memungutnya. Sambil bersungut-sungut, Yongbi memperhatikan konstruksi hotel seolah mencari kebahagiaan di setiap detail lobby hotel tersebut.

“Kamu mengharapkan sebuah honeymoon sungguhan?!” desis L, tak percaya mendengar semua keluhan Yongbi.

“Aku bukannya mengharapkan kita akan honeymoon. Kupikir kita akan liburan dan melepaskan diri dari semua pekerjaan. Tapi ternyata tidak.” Yongbi memasang wajah tanpa ekspresinya pada L kemudian meninggalkan pemuda itu begitu saja.

“Anak cengeng itu, apa dia tidak ingat apa yang sudah terjadi belakangan ini karena ketidakhati-hatiannya? Dan sekarang dia malah ingin liburan?! Benar-benar tak bisa dipercaya,” gerutu L.

L memandangi Yongbi dengan takjubnya. Ia mengamati gadis itu menjelajahi seisi lobby hotel dengan riangnya. Padahal kalau mengingat seperti apa ekspresinya kemarin-kemarin, L pikir membawa Yongbi ke Jeju pun tidak akan memberi pengaruh apa-apa pada Yongbi. Well, sepertinya keputusannya untuk membawa gadis itu ke Jeju tidak salah. Tanpa sadar L kembali menarik sudut-sudut mulutnya melihat Yongbi yang kini sedang bercengkrama dengan seorang anak kecil.

“Sepertinya kalian benar-benar tak terpisahkan. Atau istrimu memaksa ikut kesini khawatir dengan scene yang akan kita lakukan nanti?” tegur Naeun yang sudah menghampiri L.

L pun tersadar dari lamunannya. Ia melihat Naeun –yang sudah menyilangkan tangannya di dada- tersenyum sinis padanya. L hanya bisa menarik salah satu sudut bibirnya.

Aku yang tak ingin jauh darinya. Lagipula bukannya kemarin ada yang bilang kalau aku tak kunjung membawa istriku ke tempat kerja? Jadi aku bawa dia untuk membaur dengan kalian semua. Agar kalian bisa saling kenal. Apa kamu tidak penasaran akan pesona Yongbi sampai aku mau menikahinya?” sahut L acuh.

Naeun menatap L sengit. Ia tak tahu kalau L akan mengujinya sampai seperti ini. “Kamu salah membawa gadis itu ke hadapanku. Apa kamu tidak takut akan apa yang mungkin saja terjadi padanya nanti? Dia mungkin akan lebih aman jika kamu tinggalkan dia di rumah orangtuamu. Dan lagipula kamu pikir aku akan cemburu melihatmu bersamanya? Jangan harap!” geram Naeun.

Dan Naeun harus berhenti disana. Karena kini sutradara sudah menghampiri mereka beserta dengan penulis naskah dan produser. Mereka tampaknya begitu penasaran untuk melihat langsung istri L yang dipuji-puji oleh banyak staf itu.

“Jadi L, kerja sambil honeymoon huh?” ledek produser. “Bisa sekali kmu mengambil keuntungan disaat seperti ini.”

Semuanya hanya tertawa mendengar gurauan sang produser, kecuali Naeun.

“Jadi mana malaikat yang berhasil merubah always-bad-mood-L menjadi L-yang-selalu-tersenyum ini?” tegur si penulis naskah.

L kini sungguh merasa kalau menikahi Yongbi adalah hal yang benar. Hanya dalam sekejap saja orang-orang yang tidak pernah akur dengan L ini, kini mau menghampirinya bahkan bercanda dengannya. Ini semua karena Yongbi selalu memaksa L untuk senyum dan ramah pada mereka. Yongbi bahkan sampai memberikan satu stel baju rancangannya untuk produser, sutradara dan penulis naskah agar mereka mau bersabar menghadapi L. Padahal tadinya drama Infinite love ini akan dihentikan di tengah jalan ketika L memutuskan untuk menolak berakting selama berhari-hari. Tapi karena Yongbi terus membujuk sutradara, produser serta penulis naskah, jadinya drama itu tetap berjalan sampai sekarang. Ya, walaupun dramanya selalu meraih rating tinggi, tapi semua akan percuma kalau artisnya menolak berakting bukan?

Menjawab pertanyaan si penulis naskah, L hanya mengarahkan tangannya ke sisi kirinya – dimana ia terakhir melihat Yongbi sedang mengobrol dengan anak kecil. Tapi Yongbi tak ada disana. Begitu juga dengan anak kecil tadi. L pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling lobby hotel. Dan Yongbi tetap tak ada disana, sama sekali tak ada tanda-tanda kehadiran Yongbi di lobby ini.

“Hyung! Yongbi mana?!” seru L pada Sunggyu yang menjaga barang-barang Yongbi.

“Ahh, tadi dia izin mau main ke pantai. Setidaknya dia sekarang sudah tersenyum begitu kubilang kalau hotel ini dekat pan…”

Belum selesai Sunggyu menjelaskan, L langsung berlari keluar lewat pintu timur hotel yang langsung menghadap pantai, meninggalkan orang-orang di lobby yang sudah memandangnya bingung. Dan benar saja, ia melihat Yongbi sudah menendang-nendangkan kakinya pada ombak yang menyapu pantai.

“Micheoseo!” geram L yang lalu mengejar Yongbi.

Jauhkan Yong dari pantai, Yong selalu berhasrat untuk menenggelamkan dirinya jika melihat laut.

Kata-kata Key kembali terngiang. Tidak boleh. Ini tidak boleh terjadi. Tidak dihadapan sutradara dan kru drama. Tidak dihadapan Naeun. Mereka bisa menangkap ada yang aneh dengan penikahan L jika Yongbi sampai berbuat gegabah.

Dan disanalah L, menarik pinggang Yongbi dan menyeretnya menjauhi pantai. Yongbi yang kaget bahkan tak sempat berontak karena lututnya lemas seketika begitu melihat wajah L yang penuh emosi.

“Myung…soo,” rapal Yongbi.

L hanya diam. Ia terus menatap Yongbi tajam. “Kumohon Yongbi, untuk sekali ini. Jangan berbuat bodoh,” bisik L yang kini sudah memeluk Yongbi.

Yongbi bisa merasakan wajahnya mendadak menghangat karena sentuhan L. Melihat L yang menatapnya dengan perasaan marah, takut, khawatir, entah perasaan apapun itu membuat Yongbi jadi kembali luluh.

“Aku.. Aku sungguh bukan ingin menenggelamkan diriku Kim Myungsoo. Aku hanya…”

L kini menangkup wajah Yongbi dengan kedua tangannya. Ia menyingkirkan helaian-helaian rambut yang menutupi wajah Yongbi. L menatap Yongbi dalam, seolah ingin menerobos masuk langsung ke hatinya.

“Cobalah untuk berakting dengan baik. Bertingkahlah kalau kau bahagia menikah denganku. Bersikaplah seolah hanya aku yang ada dimatamu maka aku akan melindungimu. Kumohon lupakan sejenak masa lalumu yang menyakitkan itu,” bisik L tulus.

Tak ada yang bisa Yongbi lakukan selain mengangguk perlahan.

Ada tiga hal yang L tak ketahui tentang Yongbi. Satu, Yongbi sudah bahagia menikah dengan L. Dua, Yongbi sudah menyerahkan dirinya untuk L, yang artinya Yongbi percaya kalau L bisa melindunginya untuk segala hal. Tiga, Yongbi sudah lama melupakan kegagalannya dengan Minho, dan itu semua berkat L.

.

.

Disinilah Yongbi, duduk di kursi istirahat L yang terletak di sebelah sutradara. Mengamati semua orang yang sedang merapikan set untuk adegan drama Infinite Love yang dibintangi L. Belum ada sepuluh menit berada di lokasi syuting ini, Yongbi sudah dilanda rasa bosan. Yongbi tak habis pikir bagaimana bisa L melakukan pekerjaan yang begini membosankan.

“Eonni, apa kau baik-baik saja?” tegur Naeun yang kini sudah menghampiri Yongbi.

Yongbi memandangi Naeun seksama. Gadis itu tersenyum manis pada Yongbi. Yongbi teringat akan pesan L untuk menjauhi Naeun, karena katanya dekat-dekat dengan gadis ini bisa membuatmu terseret dalam arus gosip tak masuk akal seperti kemarin. Walau Yongbi ingin mematuhi ucapan L, tapi bagaimana mungkin ia menjauhi Naeun disaat gadis itu kini sudah berdiri dihadapannya.

“Ah, ne. Aku baik-baik saja,” sahut Yongbi mencoba terdengar seramah mungkin.

Naeun kemudian duduk di sebelah Yongbi. Terlihat jelas kalu Naeun sedang berusaha mendekatkan diri pada Yongbi, ia bahkan terus bertanya pada Yongbi apakah dia baik-baik saja, atau butuh sesuatu, atau apapun sampai-sampai membuat Yongbi risih dengan sikapnya. Memang sejak menjadi istrinya L memang banyak sekali orang-orang yang mencoba mendekatinya dan bersikap baik padanya, karena itu Yongbi sudah tidak terlalu kaget melihat sikap Naeun.

Dan ketika Yongbi sudah mulai tidak nyaman dengan sikap Naeun, L pun datang menghampiri. Great, pikir Yongbi. Kali ini apa lagi yang akan dilakukan oleh L.

“Bi?” panggil L.

Yongbi kini benar-benar dibuat takjub oleh L. Kalau Yongbi tidak ingat akan perintah L mengenai berakting dengan baik mungkin sekarang Yongbi sudah mencibir L. Karena biasanya juga L selalu memanggil Yongbi dengan sebutan yah! atau yeoja barbar, atau yeoja cengeng.

“Kalian sedang mengobrol?” tegur L.

“Ne, aku merasa tidak enak pada eonni karena berita-berita kemarin itu, jadi aku kesini untuk minta maaf secara lansung padanya,” sahut Naeun. Naeun kemudian meraih tangan Yongbi. “Mianhae, eonni-ya. Karena aku, kamu jadi terseret-seret berita seperti itu,” ujar Naeun sambil tersenyum –yang terlihat seperti senyum yang dipaksakan bagi Yongbi.

Yongbi hanya mengangguk-angguk mengiyakan ucapan Naeun.

“Kalau begitu mulai sekarang kita bisa jadi teman kan?” sahut Naeun dengan nada riang yang berlebihan. Kembali Yongbi hanya mengangguk. Dan Naeun pun langsung memeluk Yongbi senang.

Yongbi melirik L meminta pertolongan agar bisa terlepas dari Naeun.

“Ok, selesai sudah kenalannya,” L lalu menarik Yongbi dan duduk di sebelahnya.

Yongbi memandangi L dan Naeun bergantian. Walau ia tak tahu ada apa diantara kedua orang itu tapi Yongbi bisa merasakan kalau suasana diantara mereka terasa dingin dan kaku.

“Ah iya, aku juga sekalian mau minta izin eonni. Untuk scene hari ini, kuharap eonni tidak marah dan cemburu padaku.” Naeun memecah keheningan diantara mereka bertiga.

Yongbi memandangi Naeun bingung, tidak tahu apa yang dimaksud gadis itu. Ia lalu berpaling melihat L yang sekarang tampak panik mendengar ucapan Naeun.

“Oppa, jangan bilang kalau kamu tidak memberitahu eonni tentang scene hari ini? Tentang kiss scene kita,” gurau Naeun.

Kiss scene?!

“Kiss Scene?!” seru Yongbi pada L.

L hanya meraih tangan Yongbi dan menggenggamnya erat. “Ini hanya akting, Bi. Aku sudah meminta penulis untuk menghapus adegan itu, tapi tak bisa. Jadi aku tak bisa berbuat apa-apa. Kamu gak apa-apa kan?”

Ini acting Yongbi! Jangan tergoda oleh sikapnya! Yongbi terus berteriak dalam hati. Ia harus berusaha meredakan detak jantungnya yang berpacu cepat setiap kali L menyentuhnya. Dan bak gayung bersambut, Yongbi pun menyahuti tantangan L. Yongbi tahu kalau L pasti ingin menunjukkan rumah tangga yang bahagia pada orang-orang di sekitarnya.

“Gwenchana, itu hanya akting kan? Selama dirimu masih menjadi milikku, aku tak keberatan. Yang penting aku tahu kalau bibirmu, hatimu dan semua yang ada di dirimu itu adalah milikku,” ujar Yongbi sambil menangkup wajah L.

Yongbi kemudian menoleh ke arah Naeun hendak berkata pada gadis itu kalau dia bisa berakting seprofesional mungkin dengan L. Tapi belum sempat Yongbi mengeluarkan suaranya, L sudah lebih dulu mengalihkan perhatiannya.

“Tenang saja, akan kubuktikan kalau semuanya adalah milikmu, Bi.”

Yongbi kembali menoleh ke arah L. Tepat sebelum Yongbi menyahuti ucapan L, pemuda itu sudah lebih dulu membungkam mulutnya. L mencium Yongbi. Sebuah ciuman yang singkat yang cukup membuat Yongbi terkejut sampai tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Yongbi masih mematung menatap L yang kini tersenyum padanya.

“Sekarang kamu percaya kalau aku adalah milikmu kan? Jadi jangan cemburu ya. Aku akan berakting dengan baik,” ujar L.

Yongbi masih menatap L, tapi pemuda itu sudah tak melihat dirinya lagi. L menatap seseorang di belakang Yongbi. Yongbi pun berbalik untuk melihat siapa yang dilihat L, karena sepertinya ucapan L tadi bukan ditujukan padanya tapi pada orang dibelakang Yongbi.

Ternyata yang dilihat L adalah Naeun. Dan Naeun juga sedang menatap L dan terlihat sangat… terluka?

Jangan-jangan…

Yongbi pun kembali berpaling melihat L. Mata L, matanya juga menyiratkan kesedihan yang sama? Entahlah? Ada apa dengan mereka? Pikir Yongbi.

Aku ingin menunjukkan padanya kalau menikahi L bukanlah sebuah bencana… Aku ingin dia menyesali keputusannya memperlakukanku seperti ini.

Seolah mendapatkan potongan puzzle yang hilang, akhirnya Yongbi bisa menebak siapa wanita yang sudah membuat L memaksa Yongbi untuk menikahinya. Jadi Naeun dan L…? Mereka benar-benar pernah menjalin cinta?! –Key pasti senang mendengar berita ini.

Tiba-tiba saja Yongbi merasakan sesak di dadanya. Ciuman tadi sepertinya hanya untuk memanas-manasi Naeun saja. Kini Yongbi merasakan ada sesuatu yang kosong dipikirannya.

“Yah, L. Kita sedang syuting disini, kamu jangan ikutan buat film sendiri disana,” ujar sutradara yang baru kembali ke bangkunya.

L hanya tersenyum-senyum pada sutradara dan lalu kembali ke set setelah mengacak-acak rambut Yongbi.

“Beruntungnya dirimu eonni. Aku yang dunia drama pun tidak bisa mendapatkan hatinya, tapi kamu dengan waktu yang sangat singkat bisa mencuri hatinya. Bahkan Marry tidak bisa mendapatkan cinta Harang baik di drama maupun di dunia nyata,” ujar Naeun sambil tersenyum.

Yongbi merasa kalau senyum Naeun kali ini sangatlah tidak cantik. Senyuman yang seolah penuh emosi. Naeun lalu menyusul L ke set drama.

Dan rasa sesak itu masih mengganjal di hati Yongbi. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan lokasi syuting.

.

.

Yongbi berjalan-jalan ke sekitar daerah hotel tempatnya menginap. Dan ia akhirnya memilih untuk mampir ke sebuah mini market. Awalnya ia hanya ingin membeli coklat untuk menjernihkan pikirannya, tapi begitu melihat promosi minuman berenergi Yongbi pun tertarik untuk membelinya –untuk  para kru drama tentunya.

Yongbi sempat berkenalan dengan salah satu pegawai mini market yang merupakan fans dari L. Pegawai tersebut bahkan sampai menawarkan diri untuk membantu Yongbi membawa minuman-minuman yang dibelinya sampai ke lokasi syuting. Setelah membayar 4 krat minuman energi tersebut, Yongbi pun keluar dari mini market tersebut. Belum ada beberapa meter meninggalkan mini market, Yongbi mendapat ‘serangan tak terduga’.

Ada yang menimpuk Yongbi dengan telur busuk, bukan hanya satu tapi dua.

“Yah!! Siapa itu?!” seru pegawai mini market yang menemani Yongbi. pegawai tersebut langsung meletakkan 3 krat minuman yang dibawanya ke jalan dan lalu berusaha mengejar dua orang tersangka serangan itu.

Sementara Yongbi masih berdiri mematung berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Dia baru saja mendapatkan serangan telak di kepala dan badannya. Tapi apa alasan mereka menyerang, itu yang dipertanyakan Yongbi.

Dan tiba-tiba saja semua mendadak gelap. Sudah ada orang yang menutupi wajah Yongbi dengan sebuah jaket.

“Yongbi-ssi, aku kan sudah bilang agar kamu jangan kemana-mana. Sekarang lihat apa yang terjadi pada dirimu. Aigoo, L bisa membunuhku nanti,” tegur suara yang sangat Yongbi kenal, Sunggyu.

“Su..Sunggyu Oppa?” Yongbi berusaha mengintip dari celah jaket yang menutupi kepalanya.

“Pantas saja L menyuruhku menjagamu. Dia pasti sudah menduga kalau ini akan terjadi. Kamu baik-baik saja Yongbi-ssi? Ayo kita ke hotel. Kita harus membersihkan dirimu sebelum L melihatmu seperti ini.” Sunggyu lalu menggiring Yongbi untuk kembali ke hotel.

Yongbi pun sadar, L tak boleh melihatnya seperti ini. Bisa-bisa L memutuskan untuk langsung pulang ke Seoul sebelum syuting ini selesai. Akhirnya Yongbi menolak untuk ikut dengan Sunggyu.

“Aku akan kembali ke hotel sendiri. Oppa, kumohon jangan bilang apa-apa pada Myungsoo. Dia bisa menolak berakting kalau tahu akan hal ini. Aku tak ingin menyusahkan para kru yang sudah bekerja keras,” pinta Yongbi. Yongbi lalu melepaskan diri dari Sunggyu. Ia kemudian menyerahkan satu krat minuman yang dibawanya kepada Sunggyu. “Bawa ini semua ke lokasi syuting, ini untuk para kru drama. Dan kalau ada yang tanya dimana aku, bilang saja kalau aku istirahat di hotel.”

Sunggyu tak sependapat dengan keinginan Yongbi. Bagaimanapun juga ia diberi tanggung jawab oleh L untuk menjaga Yongbi. Tapi gadis itu bersikukuh pada pendiriannya.

Tak lama pegawai mini market yang pergi mengejar pelaku penyerangan tadi kembali dengan tangan kosong. Sepertinya ia tak berhasil menangkap orang-orang tak betanggung jawab itu. Kemudian Yongbi menitahkan pegawai tersebut untuk menemani Sunggyu ke lokasi syuting. Sementara dirinya memutuskan untuk kembali ke hotel.

.

.

“Hyung, Yongbi mana?” tanya L begitu dilihatnya Sunggyu sedang membagi-bagikan minuman pada para kru drama.

“Hah? Oh.. Eung.. Itu.. Yongbi-ssi katanya mau istirahat di kamar. Dia bosan menunggu disini katanya,” gagap Sunggyu.

“Kenapa kau biarkan dia. Apa kau tidak bisa menemaninya sebentar saja? Dan ini semua apa? Dari siapa?” cecar L.

“Oh ini dari Yongbi. Dia membelikan minuman ini karena katanya kasihan sama para kru yang harus menahan sabar bekerja sama denganmu,” ujar Sunggyu sambil sedikit tertawa, berusaha mencairkan suasana. Dan gurauan Sunggyu berhasil membuat L mengendurkan air mukanya.

L memandangi minuman-minuman yang dibagikan Sunggyu. Ia tak prnah menyangka kalau Yongbi begitu perhatian pada lingkungan sekitarnya. Dulu saja waktu Yongbi membuatkan sup tulang kaki sapi, Yongbi menyuruh L untuk membagikan sup buatannya pada para kru. Karena katanya kasihan para kru yang harus menuruti dirinya yang super-moody itu. Akhirnya L merebut satu krat minuman yang belum terjamah untuk ia bagikan sendiri. Lalu L meninggalkan Sunggyu.

Ketika Sunggyu sedang merapikan botol-botol minuman yang masih tersisa, Naeun datang menghampiri.

“Oppa, apa ini? kau ulang tahun hari ini?” tegur Naeun. Ia lalu mengambil satu botol minuman yang dipegang Sunggyu.

“Ahh ini? Ini dari Yongbi untuk semua staf disini,” sahut Sunggyu.

Naeun terkejut. Ia kembali kalah dari Yongbi yang selangkah lebih maju. Ia lalu meletakkan kembali botol minuman itu kepada Sunggyu. “Oh, terima kasih. Tapi minuman ini bukan seleraku,” ketus Naeun.

“Aku juga tak berniat memberikannya padamu. Aku kan sudah bilang kalau ini untuk staf, memangnya kamu adalah staf? Yang kutahu kamu itu adalah artisnya,” acuh Sunggyu.

Sejujurnya Sunggyu sudah tak simpatik lagi pada Naeun sejak L memutuskan untuk keluar dari apartemen mereka dan memberikan apartemen itu pada Naeun. Walau ia tak tahu apa yang terjadi antara L dan Naeun, tapi ia yakin kalau Naeun pasti sudah melakukan sesuatu yang menyinggung L hingga akhirnya pemuda itu tak mau lagi berurusan dengan Naeun.

Dan sikap Sunggyu barusan membuat Naeun mematung sejenak. Ia tak menyangka, orang yang paling membelanya kini berkata kasar seperti itu padanya. Padahal Sunggyu lah yang selalu membantunya menyelesaikan masalah gossip-gossip yang menyeret-nyeret namanya. Tapi  melihat Sunggyu yang sekarang membuat Naeun jadi makin tidak menyukai Yongbi –karena Sunggyu terlihat lebih suka mengurusi paket-paket Yongbi daripada bercengkerama dengan Naeun.

“Lalu mana Cinderella-nya? Masa ia membiarkanmu sendirian membagikan semua ini? Lihatlah semua orang kini sudah terhipnotis rayuannya. Apa dia tidak mau menikmati keberhasilannya memikat semua staf?” cibir Naeun.

Sunggyu pun menghentikan aktifitasnya. Ia menatap Naeun tak percaya, tak percaya kalau gadis itu mengeluarkan kata-kata keji seperti tadi. “Yongbi lelah, jadi ia beristirahat di kamar hotel,” singkat Sunggyu.

Sunggyu lalu memilih untuk menyingkir dari hadapan Naeun. Sebelum ia melihat lebih jauh lagi tanduk yang keluar dari kepala Naeun.

“Benarkah? Baguslah. Lebih baik ia bersembunyi di kamar. Daripada ia berjalan-jalan diluar dan malah di serang oleh antifans seperti misalnya ditimpuki pakai telur busuk mungkin?” ujar Naeun.

Sunggyu pun berbalik menghadap Naeun. Tapi gadis itu sudah melengos meninggalkan Sunggyu. Ia tak habis pikir. Naeunkah? Apakah Naeun yang ada dibalik penyerangan terhadap Yongbi tadi? Sunggyu pun memutuskan untuk akan terus mengawasi Naeun.

.

.

Yongbi kini sedang menikmati teh hijau khas pulau Jeju di lobby hotel. Seusai membersihkan dirinya dari bau telur busuk –dengan mandi air bunga selama sejam– Yongbi  memilih untuk menghabiskan waktunya di lobby hotel. Ini karena pihak hotel tidak mengizinkannya untuk keluar hotel –sesuai permintaan Sunggyu. Minum teh mungkin bisa membunuh rasa bosannya.

Dan ketika Yongbi sedang memikirkan apa alasan orang-orang tadi menyerangnya, tiba-tiba ia melihat sosok yang sangat dikenalnya melewati lobby hotel. Sesosok pria tinggi atletis yang kini tengah menggandeng seorang gadis cantik berambut panjang dan mereka keluar dari hotel mengikuti seorang pegawai hotel. Yongbi kenal orang itu, sosok yang sudah lama hilang dari hidupnya.

Yongbi pun langsung menyusulnya. Yongbi sendiri tak tahu kenapa ia harus menyusul orang itu. Yongbi sendiri tidak tahu kenapa ia harus mengejar orang itu. Padahal Yongbi sudah nyaris melupakannya, melupakan semua yang pernah dilakukan orang itu padanya. Tapi Yongbi tak bisa menghentikan langkahnya untuk mengikuti orang tersebut. Orang itu… masih berhutang satu jawaban pada Yongbi.

“Hwang Yongbi-ssi, anda mau kemana?” cegah seorang pegawai hotel.

Yongbi bahkan tak menghentikan langkahnya dan terus saja berusaha mengejar pemuda tadi. Tapi pegawai hotel itu kini sudah menahan tangannya, mencegahnya untuk keluar dari hotel.

“Maaf, Yongbi-ssi. Anda harus berada disini. Ini agar anda tidak mendapat ‘hadiah tak terduga’ lagi seperti tadi. Sunggyu-ssi sudah berpesan pada kami untuk menjaga anda. Jadi tolong anda jangan kemana-mana dulu paling tidak sampai Sunggyu-ssi atau L-ssi kembali kesini,” bujuk pegawa hotel itu.

Akhirnya Yongbi mengalihkan pandangannya ke pegawai tersebut. Yongbi mengarahkan tangannya ke arah mana pemuda tadi pergi dan berkata, “Orang itu. Aku mengenal orang itu. Dia temanku. Aku sudah lama tak bertemu dengannya, jadi aku ingin menegurnya. Kumohon, aku mengenalnya,” Yongbi tampak memohon pada pegawai hotel tersebut.

Pegawai hotel tersebut kemudian menoleh ke arah yang ditunjuk Yongbi dan melihat punggung pemuda yang dikejar Yongbi tadi. Ia lalu membentuk huruf o dengan mulutnya.

“Oh, Choi Minho? Dia teman anda, Yongbi-ssi. Kebetulan sekali. Apakah honeymoon anda hari ini sekaligus untuk menghadiri pernikahannya? Dia akan menikah besok di Capel kami.”

Dan Yongbi bisa mendengar ada petir besar menyambar, bukan petir di dalam kepalanya tapi petir sungguhan. Langit pun tampak ikut berduka mendengar berita ini.

Jadi seperti ini kah? Jadi Minho akan menikah? Jadi alasan dia membatalkan pernikahannya dengan Yongbi karena ingin menikahi perempuan itu? Yongbi merasa dadanya kembali sesak. Rasa kehilangan itu kembali datang merayapi hati Yongbi.

.

.

Yongbi tidak tahu kenapa ia terus mengikuti sosok Minho menuju capel yang tak jauh dari hotel tempatnya menginap. Ia terus memandangi punggung Minho sampai akhirnya pemuda itu –dan calon istrinya– masuk ke dalam capel. Ia terus melangkahkan kakinya perlahan, tanpa nyawa, tanpa tenaga, layaknya zombie yang berjalan tak tentu arah. Dan ia kini tiba di depan pintu capel yang terbuka.

“… Semuanya sudah selesai. Anda besok tinggal datang dangan hati riang dan melaksanakan prosesi pernikahan dengan tenang. Saya turut berbahagia untuk anda berdua. Saya akan tinggalkan kalian disini untuk menikmati detik-detik terakhir sebelum kalian menjadi pasangan suami istri.” Sayup-sayup terdengar suara pegawai hotel yang tadi menggiring Minho dan pasangannya ke capel ini. Pegawai hotel itu kemudian meninggalkan mereka berdua yang kini berdiri di altar.

“Apakah kamu, Choi Minho, bersedia menikahi Jung Soojung dan akan selalu bersamanya dalam susah maupun senang, sakit maupun sehat, selamanya sampai maut  memisahkan?” ujar si perempuan sambil meraih tangan Minho.

Minho diam. Ia tak menjawab pertanyaan calon istrinya yang diduga Yongbi bernama Soojung itu.

Tunggu dulu! Jung Soojung?? Rasanya Yongbi mengenal nama itu.

1 tahun yang lalu

“Key! Aku sudah memutuskan untuk memakai model sungguhan untuk produk kita. Tidak mungkin aku terus-terusan mengandalkan mannequin itu. Dan untuk model prianya bagaimana kalau Minho Oppa? Dia memiliki postur tubuh yang sempurna dan wajahnya pun tampan.”

“Aigoo aigoo, kamu benar-benar tak mau terpisahkan dari Minho, eoh? Sampai-sampai bekerjapun harus bersamanya. Lalu model wanitanya siapa? Kamu?”

“Bukan, tapi aku punya kenalan. Dia temannya Chaerin. Dia junior kita di kampus. Dan dia kuliah di jurusan modeling. Cocok bukan?”

“Temannya Chaerin? Siapa? Siapa tahu aku mengenalnya.”

“Seseorang bernama Jung Soojung. Dari namanya saja sudah terdengar cantik bukan?”

Kini Yongbi merasa ada godam yang memukul kepalanya. Jung Soojung ini, apakah dia Soojung yang pernah menjadi model pakaian-pakaian yang dirancang Yongbi? Yongbi sendiri bukanlah orang yang bisa mengingat orang-orang disekitarnya dengan baik, tapi rasanya sosok dan suara itu sangat familiar bagi Yongbi.

“..dan setelah aku menolongmu, kamu mengkhianatiku..?” ujar Yongbi. Walaupun pelan tapi suara Yongbi menggema ke seluruh penjuru capel.

Baik Soojung maupun Minho sama-sama menoleh ke arah pintu masuk. Keduanya sama-sama kaget melihat sosok Yongbi yang kini sudah berdiri di hadapan mereka. Minho langsung melepaskan tangan Soojung yang menggenggam tangannya.

“Bi-ya,” lirih Minho.

Yongbi hanya berdiri mematung di pintu masuk. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan di situasi seperti ini. Ia belum pernah merasakan pengkhianatan yang begitu keji seperti ini.

Jung Soojung, yang merupakan temannya Chaerin, meminta Chaerin untuk mencarikannya pekerjaan karena katanya tak ada satupun manajemen yang mau menarik dirinya sebagai model. Dan Chaerin berbaik hati mengenalkannya pada Yongbi yang kebetulan sedang mencari model. Dan mereka bekerja sama selama hampir enam bulan terakhir dan Soojung berhenti tepat ketika Minho melamar Yongbi. Dan lalu dua bulan yang lalu Minho membatalkan rencana pernikahannya dengan Yongbi tanpa alasan. Dan kini alasan itu hadir di depan mata Yongbi. Dan Yongbi masih tidak tahu harus melakukan apa terhadap mereka.

“Kalian… akan menikah?” Suara Yongbi nyaris tak terdengar ketika mengucapkan kalimat itu.

Soojung tampak bergerak maju hendak menghampiri Yongbi, tapi Minho menahannya. Minho lalu memberi isyarat agar Soojung meninggalkan mereka berdua. Awalnya Soojung tak mau pergi dari sana dan ngotot ingin bicara langsung dengan Yongbi.

“Kumohon, ini akan jadi yang terakhir kalinya. Biarkan aku bicara padanya. Setelah ini kau akan memiliki aku seutuhnya, Soojung,” ujar Minho yang menatap mata Soojung.

Akhirnya Soojung pun menurut. Ia dan Minho sama-sama mendekati Yongbi yang masih mematung di pintu masuk. Sesampainya di hadapan Yongbi, Soojung tampak dengan sengaja mengecup pipi Minho.

“Aku tinggalkan kamu dengannya. Jangan mencoba untuk berpaling kembali padanya. Kau akan menikahi aku besok,” bisik Soojung yang bergelayut manja di lengan Minho. Ia lalu berpaling menatap Yongbi. “Aku tak percaya kau mengikuti kami sampai ke Jeju. Kau, sangat menyedihkan.”

Soojung akhirnya meninggalkan Minho dan Yongbi di capel. Setelah memastikan kalau Soojung sudah menjauh, Minho pun mendekati Yongbi.

“Apa yang kau lakukan disini Bi-ya? Apa benar kau…”

.

.

L keluar dari kamar hotelnya dengan sedikit tergesa-gesa. Hari ini syuting berakhir lebih cepat karena alam tidak mendukung untuk pengambilan gambar. L bergegas kembali ke hotel karena ia ingin mengajak Yongbi jalan-jalan –sebagai hadiah karena sudah membuat semua orang jadi memujinya. Tapi yang dicari tak ada di kamarnya. Tentu saja L panik mengetahui Yongbi tidak ada di hotel. Begitu sampai di lobby hotel, L langsung mencecar Sunggyu yang baru tiba di hotel.

“Hyung! Yongbi mana? Dia tidak ada di kamarnya. Apa benar kau tadi meninggalkannya di hotel? Hyung kau tahu kan apa yang akan terjadi padamu kalau Yongbi sampai kenapa-kenapa,” ancam L.

“Ne.. aku tadi benar mengantarnya ke hotel kok. Aku juga sudah pesan pada orang-orang hotel untuk tidak membiarkannya main ke pantai. Aku… sebentar aku akan menanyakannya pada resepsionis.” Sunggyu lalu bergegas menuju resepsionis dengan L membuntut di belakangnya.

Beberapa kru drama yang baru masuk hotel tampak bingung melihat L yang terlihat sangat panik itu. beberapa dari mereka pun ada yang ikutan membuntut di belakang L untuk mencari tahu apa penyebab kepanikan L tersebut.

“Ah, L-ssi. Kebetulan, ini ponsel Yongbi-ssi tertinggal di lobby tadi,” ujar resepsionis yang di konfrontasi oleh Sunggyu dan L.

“Lalu Yongbi mana? Kamu membiarkan dia keluar?” panik L.

“Yongbi-ssi tadi bertemu dengan temannya. Dan dia pergi untuk menemui temannya tersebut. Kami sudah mencoba untuk melarangnya, tapi karena mungkin tadi adalah kesempatan langka baginya untuk bertemu temannya itu jadi kami membiarkannya. Lagipula Yongbi-ssi juga tidak pergi jauh,” pegawai hotel itu mencoba menjelaskan pada L.

Mendengar penjelasan resepsionis tersebut L jadi makin panik. “Teman?! Teman yang mana?! Memangnya dia punya teman di Jeju?! Kemana mereka pergi?! Aku kan sudah bilang untuk jangan membiarkan dia keluar hotel. Kalau dia lari ke pantai dan tenggelam bagaimana?! Kalau dia diculik bagaimana?!”

Sang resepsionis tampak kaget dengan semua bentakan yang dilancarkan L. Sunggyu pun langsung memegang pundak L, menahan pemuda itu agar tak membentak si resepsionis lebih jauh lagi. beberapa kru yang ada di belakang L pun ikutan panik dan langsung berinisiatif mencari idola baru mereka itu.

“Ta.. tadi Yongbi-ssi bertemu dengan teman lamanya yang bernama Choi Minho. Dia atlit yang tahun lalu dapat medali emas di olimpiade cabang marathon. Ka.. karena  atlit itu hendak mengecek tempat prosesi pernikahannya jadi se..sepertinya mereka pergi ke capel yang ada di timur pantai ini.”

“APA?!”

Choi Minho?! Yongbi bertemu dengan Choi Minho?! Sudah jauh-jauh L membawa Yongbi hingga ke pulau Jeju dengan tujuan untuk menghindar dari Minho, tapi mereka malah bertemu di pulau ini?! Dan apa katanya tadi?! Choi Minho akan menikah disini?!

Tak perlu berpikir panjang lagi, L segera berlari keluar hotel untuk mencari Yongbi. L harus mencegah gadis itu agar tidak melakukan hal yang bodoh apalagi sampai… astaga kenapa capel itu harus dekat pantai?!!

“Yah L kamu mau kemana? Diluar sudah hujan!” seru sutradara yang ditabrak L di pintu masuk hotel.

Great!! Choi Minho, capel, pernikahan, pantai dan sekarang hujan. Hwang Yongbi, kumohon jangan sampai terjadi apa-apa pada dirimu.

.

.

tbc

yohoooo,, konflik konflik dan konflik.. konflik disini konflik disana konflik dimana-mana.. kekekeke
akhirnya batang idungnya minho yang mancung itu muncul juga di part ini…
udah berasa belum kalo si L udah ada something-something sama si Yongbi??
kalo belum berasa, next chap bakalan dibikin lebih frontal lg.. kkkk

dan terima kasih buat semua yang udah mengikuti FF gaje ini ampe chapter ini..
btw adakah yang mau bebaik hati bantuin bee bikinin adegan NC buat ff ini?
buat side story-nya biar berasa kalo ini adalah FF yang bertemakan dunia pernikahan.. lol
soal nya jujur aja bee ga ngerti @_____@
apa ga usah aja yaa???
ya sudah lahh lupakan soal NC itu..

sekali lagi makasiih readerku yang setia dan membaca FF dan note tolol ini..

annyeong!
ppyeong!
Advertisements
FF – Goodbye ~ Hello | Chapter 5 | PG16

25 thoughts on “FF – Goodbye ~ Hello | Chapter 5 | PG16

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s