FF – Goodbye ~ Hello | Chapter 3 | PG16


Title : Goodbye – Hello

Subtitle : (Chapter 3 – The Wedding) You Make My Day

Author : beedragon

Cast:

Hwang Yongbi (OC)

L Infinite as Kim Myungsoo / L

Other Cast:

Naeun A-Pink as Son Naeun

Key Shinee as Key

Sunggyu Infinite as Kim Sunggyu

and other original cast that i borrowed their name

Genre : Romance

Length : Series (Read first Chapter 1, 2 )

Rating / pairing : pg16 / Straight

Summary : Pernikahan bukanlah hal yang bisa dipermainkan begitu saja. Pernikahan itu mengikat sepasang manusia dalam cinta. Apa jadinya sebuah pernikahan jika orang-orang yang menjalaninya mengalami masalah mengenai percintaan.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Epik High – Pieces of You

The Wedding (You Make My Day)


.

.

.

.

Menikah. Pernikahan. Kata-kata itu terus menghantui pikiran Yongbi. Ia tidak tahu mengapa jalan hidupnya harus seperti ini. Awalnya semua berjalan biasa saja. Sampai ketika keputusan Minho menjungkir-balikkan dunianya.

Minho yang tiba-tiba meninggalkannya, membuat Yongbi jadi kehilangan arah. Bahkan Yongbi menerima begitu saja ide gila L –orang yang dijodohkan dengannya– tentang  menikah-dan-membalas-mereka-yang-mencampakkan-kita. Yongbi tak habis pikir, mantra apa yang dilakukan L padanya sampai Yongbi mau-maunya menyetujui pernikahan yang sudah diatur sejak dirinya masih kecil itu.

Dan kini Yongbi memasuki dunia baru bersama L. Dunia pernikahan. Sebuah dunia yang tidak bisa dianggap sepele.

.

Pesta pernikahan L dan Yongbi berlangsung cukup meriah. Ternyata keluarga Kim memang sudah mempersiapkan pernikahan ini dari jauh-jauh hari. Bahkan ketika L mengatakan kalau pernikahannya akan diadakan seminggu setelah konferensi pers, keluarga Kim tidak mengalami kesulitan sedikitpun untuk mengurus segala sesuatunya.

Dan sekarang sedang terjadi sesuatu yang menghebohkan di pesta pernikahan L dan Yongbi. Bukan, bukan karena serangan fans L sebab itu tidak mungkin terjadi mengingat ketatnya pengamanan pesta pernikahan ini. Bukan juga karena riuhnya wartawan yang demo meminta agar mereka bisa meliput langsung pesta pernikahan L. Tapi karena penayangan sebuah video dari jaman kedua pengantin itu masih kecil, yang membuat tamu di pesta pernikahan L dan Yongbi jadi berdecak kagum sekaligus terharu.

Video itu diambil ketika L berusia lima tahun sedangkan Yongbi berusia tiga tahun. Settingan video itu adalah kediaman keluarga Kim, sepertinya video ini diambil ketika keluarga Kim dan keluarga Hwang memutuskan untuk menjodohkan putra-putri mereka. Dan video tersebut diawali dengan menampilkan wajah ibu Yongbi yang melakukan selca terhadap video recorder.

“Omo, Yeobo? Kameranya sudah menyala?” kaget ibu Yongbi. Sayup-sayup terdengar suara ayahnya Yongbi menyahut.

Melihat wajah ibunya di layar  membuat Yongbi mendadak sedih. Tentu saja, karena kedua orangtuanya yang sudah tiada dan tidak bisa menyaksikan pernikahannya, sukses membuat airmata Yongbi merebak begitu saja.

“Ahh, baiklah. Myungsoo! Mana Myungsoo? Myungsoo dimana kamu?” panggil ibu Yongbi yang sudah berkeliling rumah dan membuat gambar videonya jadi tidak fokus. Tak lama muncullah L kecil yang sedang mengemut lolipop berlari kearah ibu Yongbi.

“Ne Ahjumma!” sahut L kecil sigap.

“Myungsoo kalau sudah besar mau jadi apa?” tanya ibu Yongbi.

“Myungsoo kalau sudah besar mau jadi suaminya Yongbi!! Myungsoo mau menikahi Yongbi, Ahjumma!” sahut L kecil mantap. Dan seluruh tamu dipernikahan Yongbi ini terkikik mendengar jawaban L tersebut.

Kemudian tampak ibu Myungsoo, Saera Ahjumma muncul di dalam video. “Omo omo Myungsoo-ya, memangnya kamu tahu menikah itu seperti apa?” tanya Saera Ahjumma.

“Tentu! Myungsoo akan membuat Yongbi bahagia, seperti Appa dan Eomma juga seperti Ahjumma dan Ahjussi. Myungsoo akan menikahi Yongbi. Lihat Myungsoo sudah punya cincinnya!” L kecil memamerkan cincin yang melingkar di jemarinya.

Sontak saja gelak tawa langsung membahana, baik di dalam video maupun di acara pernikahan Yongbi ini. Tentu saja semuanya pasti merasa L kecil itu sangatlah lucu. Apalagi dengan ekspresi yang dibuatnya ketika menunjukkan kesungguhannya ingin menikahi Yongbi.

Kemudian kamera ibu Yongbi beralih dan kini menampilkan wajah Yongbi yang masih balita itu. “Bi, memangnya Bi mau menikah sama Myungsoo Oppa?” tanya ibu Yongbi pada Yongbi kecil.

Yongbi kecil itu mengangguk malu sambil mengemut permen lolipop yang tadi dimakan L kecil. Dan kini satu ruangan di acara pernikahan Yongbi ber-‘oohhh’ ria dengan begitu terharunya. Dan karena hal itu pula Yongbi tidak jadi menangis, sebab ia sudah mengutuk dirinya kenapa bisa dengan polosnya menjawab pertanyaan ibunya.

Dan kini layar putih yang memutarkan video masa lalu itu menampilkan wajah ibu Yongbi serta Saera Ahjumma. Mereka berdua tersenyum puas pada kamera –mungkin efek dari jawaban polos putra-putri mereka.

“Myungsoo-ya, Ahjumma titip Yongbi sama kamu yaa. Kamu sudah janji untuk membahagiakan Yongbi kalau sudah besar nanti. Harap jangan lupakan janjimu pada Ahjumma ya. Ahjumma percayakan Yongbi padamu,” pesan ibu Yongbi.

“Myungsoo-ya, Eomma harap besar nanti kamu bisa jadi pemuda yang bertanggung jawab dan menepati semua janji-janjimu. Eomma selalu mengharapkan yang terbaik untuk kalian berdua,” begitu pesan Saera Ahjumma.

Dan pesan singkat kedua wanita itu berhasil membuat Yongbi menangis. Kini ia merasakan kerinduan yang amat sangat terhadap orangtuanya, terutama pada ibunya. L yang melihat Yongbi menangis langsung menyikut lengan Yongbi seraya berbisik untuk menyuruh Yongbi berhenti menangis. Tapi Yongbi tidak mempedulikannya. Ia sibuk dengan airmatanya yang terus mengalir deras membanjiri pipinya.

Pemutaran video pun selesai. Setelah acara kembali normal, Saera Ahjumma menghampiri L di pelaminan.

Agak sedikit berbisik Saera Ahjumma mengancam putra tunggalnya itu. “Myungsoo-ya, kamu lihat sendiri kan video tadi. Kamu sudah berjanji pada almarhum ibunya Yongbi untuk menikahi dan membahagiakan Yongbi. Jadi jangan sampai kamu menyakiti Yongbi seujung rambut pun. Kalau kamu menyakiti Yongbi itu sama saja kamu menyakiti Eomma, Appa, Harabeoji serta almarhum orangtua Yongbi dan almarhum Hwang Harabeoji, arraseo?!”

“Ahh dan satu lagi,” lanjut Saera Ahjumma. “Kalau kamu berani menyakiti Yongbi, maka kamu akan Eomma pecat sebagai anak. Jangan harap Harabeoji akan memberikan hak warisnya padamu kalau kamu berani menyakiti Yongbi. Bagi Eomma dan Harabeoji, Yongbi adalah yang utama, mengerti kamu?!”

L hanya bisa melongo mendengar ancaman ibunya. Ibunya sungguh tidak main-main. Kemarin saja dia mengancam L agar jangan sampai pernikahannya ini hanyalah sebuah sandiwara untuk menyenangkan kakeknya. Bahkan ibunya mengancam L kalau L sungguhan akan jadi gelandangan mendadak jika berani melakukan hal tersebut.

Bingung harus bereaksi apa terhadap ancaman ibunya, akhirnya L mengintimidasi Yongbi yang masih berusaha menghentikan tangisannya.

“Yah!” desis L, sedikit berbisik agar para tamu tidak mendengar emosinya. “Berhenti menangis! Kamu sudah mendapatkan seluruh keluargaku jadi jangan menangis lagi! Astaga apa istimewanya anak cengeng ini sih sampai semua keluargaku begitu membelamu?!” geram L.

Mau tak mau Yongbi jadi berhenti menangis mendengar omelan L. Ia hanya bisa memandang L bingung. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena Yeoshin, sahabat Yongbi, sudah menghampiri kedua pengantin baru ini.

“L-ssi, bisa bicara sebentar?” bisik Yeoshin pada L. Yeoshin kemudian menggiring L ke tempat yang agak sepi dari orang-orang. Setelah memastikan tidak akan ada yang menguping pembicaraannya, Yeoshin berkata, “Aku mau pesan sesuatu untuk malam pertama kalian.”

“Ne?! ma.. malam.. malam pertama?!” kaget L. “Ah Yeoshin-ssi, mungkin kami tidak akan secepat itu…” L terdengar panik akan ucapan Yeoshin.

Bagaimana L tidak panik. Tiba-tiba saja sahabat Yongbi itu berbicara mengenai malam pertama. Walaupun L menikah dengan Yongbi, tapi pernikahan ini bukanlah pernikahan yang nyata baginya. Jadi bagaimana mungkin L dan Yongbi akan melakukan hal-hal seperti pengantin baru pada umumnya.

“Ah baiklah, mungkin kalian tidak akan langsung melakukannya. Tapi kalian pasti akan tidur bersama kan? Karenanya aku mau memberitahu masalah Yongbi padamu. Mengenai kebiasaan baru Yongbi agar jangan sampai kamu kaget nantinya.” Yeoshin menjelaskan.

L tampak memutar bola matanya. Sejak ia menyambut para tamu di pesta pernikahannya ini, hampir semua yang mendekatinya selalu berbicara mengenai malam pertama. Lagipula L tidak mungkin akan menyerang Yongbi. Ia menikahi Yongbi juga karena ingin terbebas dari skandal serta ancaman orangtuanya.

“Memangnya dia punya kebiasaan apa? Mendengkur? Berjalan dalam tidur?” L mencoba peduli akan ucapan Yeoshin.

“Sesuatu yang mengagetkan. Nanti juga kamu tahu. Dia jadi seperti itu karena Minho. Kamu mungkin sudah pernah mendengar soal Minho bukan?”

L mengangguk menjawab pertanyaan Yeoshin.

“Minho sudah membuat Yongbi jadi terluka seperti ini. Aku yang melihat langsung penderitaan Yongbi selama beberapa minggu belakangan ini sungguh tidak bisa memaafkan Minho itu. Karenanya aku mohon padamu, nanti malam, jika terjadi sesuatu terhadap Yongbi, tolong tenangkan dia. Aku sungguh berharap kamu bisa menyembuhkan luka hati Yongbi, L-ssi.”

.

.

Seusai acara resepsi pernikahan, L dan Yongbi langsung pindah dan tinggal di rumah baru mereka. Mereka tinggal di sebuah rumah 2 lantai berwarna putih bersih yang ada di tepi pantai.

“Woahh, aku tak tahu kalau Appa punya tanah di tepi pantai.. wuaaaahhh pantai!!” riang Yongbi yang sudah berlari ke pantai.

L yang tidak peduli akan keriangan Yongbi, memilih langsung masuk ke dalam rumah. “Cih, apanya yang menderita. Anak itu terlihat baik-baik saja, sama sekali tidak ada tanda-tanda depresi,” cibir L sambil melepas jasnya.

L mengamati bentuk rumah barunya. Desain modern minimalis, yang sangat sesuai dengan seleranya. Dan L baru saja hendak merebahkan dirinya di ruang tengah yang langsung menghadap ke laut ketika dilihatnya Yongbi sudah menenggelamkan setengah badannya di lautan. Segera saja L mempertajam penglihatannya untuk memastikan kalau Yongbi tidak sedang berjalan ke tengah laut dengan gaun pengantin yang masih dipakainya. Tanpa berpikir panjang L langsung berlari ke laut untuk menahan Yongbi.

“Yah!! Hwang Yongbi!!” seru L yang sudah menyusul Yongbi, mencoba mengalihkan perhatiannya. Tapi Yongbi tetap berjalan ke tengah laut tanpa menoleh ke belakang. L menerjang ombak yang datang dan terus mengejar Yongbi sampai akhirnya ia berhasil meraih tangan Yongbi dan menariknya ke tepi pantai.

“YAH! NEO MICHEOSSEO!! APA YANG KAMU LAKUKAN HAH?!!” bentak L begitu berhasil menarik Yongbi menjauh dari laut.

Yongbi hanya menatap laut dengan tatapan kosong. Melihat Yongbi yang tampak mengacuhkannya, membuat emosi L memuncak.

“Kalau mau bunuh diri, bukan begini caranya! Jangan bunuh diri di hadapanku! Apa yang akan dikatakan media nanti! Istri L bunuh diri di hari pertama menikah!! Kamu mau membuat lelucon apa padaku hah?!” bentak L lagi. “Aku sungguh sudah mencoba untuk peduli akan masalahmu, jadi cobalah untuk peduli dengan masalahku!”

Yongbi mendongakkan kepalanya menatap L yang terlihat frustasi.

“Siapa yang ingin bunuh diri. Tadi lautnya memanggilku,” ujar Yongbi datar.

Akhirnya Yongbi berdiri, sambil menyeret-nyeret gaunnya yang basah, Yongbi pun meninggalkan L di pantai.

.

.

Hari sudah malam dan L masih belum bisa tertidur. Ia masih memandangi layar laptopnya yang menampilkan wajah Naeun.

“Apa kabarmu gadis egois? Apa kamu bisa tidur? Apa kamu mulai merindukanku?” ujar L pada layar laptopnya.

Kemudian ia berpaling melihat lautan yang tampak begitu gelap dari balik jendela kamarnya. Lalu ia meraih ponselnya dan mengutak-atik layar sentuh ponselnya, mengetikkan beberapa huruf kemudian menghapusnya lagi, begitu seterusnya. Ia ingin menelepon Naeun, ingin tahu kabar Naeun karena gadis itu tidak datang ke pesta pernikahannya tadi. Ia begitu penasaran akan apa yang dipikirkan gadis itu.

Suasana malam ini terasa begitu tenang ketika L tengah sibuk dengan ponselnya sampai akhirnya…

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHH!!!!!”

L langsung melompat kaget begitu mendengar jeritan dari kamar Yongbi. Segera saja L menerobos pintu kamar Yongbi tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Begitu masuk kamar Yongbi, L melihat gadis itu tengah bergelung dengan selimutnya. Yongbi terlihat sangat kesakitan.

“OPPAAAAAA!!!!!” Yongbi kembali menjerit.

Akhirnya L menghampiri Yongbi mencoba membangunkannya. L menepuk-nepuk pundak Yongbi, tapi Yongbi tidak bangun juga. Yongbi masih meringkuk di kasurnya. Badan Yongbi yang sudah basah oleh airmata dan keringat membuat L makin panik melihatnya.

“Yah, ireona!!” seru L yang akhirnya menarik badan Yongbi hingga gadis itu terduduk.

L mengguncang-guncangkan badan Yongbi hingga akhirnya gadis itu membuka matanya. Yongbi menatap L nanar. Ia tampak begitu ketakutan. Badannya pun gemetar begitu kuat.

Neo! Wae….” Kalimat L putus karena Yongbi sudah memeluknya, erat.

“Jangan tinggalkan aku kumohon…hiks,” isak Yongbi. “Jangan tinggalkan aku…”

Badan L mendadak kaku ketika Yongbi kembali menangis di dadanya. Akhirnya ia membiarkan saja gadis itu memeluknya  sambil menangis hingga gadis itu kembali terlelap.

“Minho yang sudah membuat Yongbi jadi seperti ini…” kalimat Yeoshin tadi siang kembali terngiang di telinganya.

“Sebenarnya apa yang sudah orang itu lakukan padamu sampai kamu seperti ini hah?” bisik L. “Apa Naeun juga akan menderita seperti ini? Apa Naeun akan kehilangan aku seperti kamu kehilangan lelaki itu?”

.

.

Yongbi merasakan kehangatan menyelimuti tubuhnya. Bukan dari selimutnya, bukan juga karena pemanas di rumahnya, tapi sesuatu yang lain, sesuatu yang bahkan lebih hangat dari selimutnya. Yongbi membuka matanya perlahan. Yang pertama dilihatnya adalah sebuah lengan yang melingkar ditubuhnya. Ia pun menyusuri lengan itu sampai akhirnya menemukan sebuah dada bidang yang hanya dibalut kaus oblong tanpa lengan. Dan Yongbi pun mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah dari pemilik badan yang tengah memeluknya ini. Ternyata seorang L tengah tertidur di hadapannya sambil memeluk dirinya.

“KYAAA!!!” Kaget, refleks Yongbi langsung menendang L hingga lelaki itu terjungkal dari kasurnya.

L yang masih berada di alam mimpi terpaksa harus terbangun karena terjatuh dari tempat tidur akibat tendangan Yongbi. Masih setengah sadar L langsung duduk seraya mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi dan kenapa ia bisa tiba-tiba jatuh dari kasur. Sedikit meringis ia berusaha bangun untuk memaki Yongbi.

“Yah!!” seru L setelah berhasil mengumpulkan nyawanya. “Kenapa menendangku?!”

Neo mwohaneun geoya!?! Apa yang sudah kamu lakukan padaku?! Kamu.. Kamu sudah mencuri kesempatan untuk menjamahku?!! Benar saja yang namanya pria pasti seperti ini. Bisa-bisanya kamu menyerangku ketika aku sedang tidur!!” tuding Yongbi yang sudah menutup tubuhnya rapat dengan selimut.

Teriakan Yongbi membuat L sadar sepenuhnya. Ia menatap Yongbi sengit. “Setelah apa yang sudah aku alami semalam dan sekarang kamu menendangku juga memakiku?!! Apa kamu tahu kalau aku semalam tak bisa tidur karena semua teriakanmu! Dan lagi jangan salahkan aku kalau aku harus tidur disini, ini gara-gara kamu terus memelukku dan tak mau melepasku semalam!”

Yongbi menatap L bengis. Sungguh ia benci sekali dengan lelaki di hadapannya ini. “Memangnya kamu pikir aku ini apa? Untuk apa aku memelukmu!! Itu bisa-bisanya kamu aja! Yang aku tahu adalah kamu sudah ada di hadapanku dengan pakaian seperti itu dan memelukku. Omona! Dosa apa aku dimasa lalu. Kenapa aku harus mengalami hal ini?! Neo jeongmal byeontae ya (kamu benar-benar mesum), Kim Myungsoo,” sindir Yongbi.

Mwo byeontae?! Yah!! Neo!!” bentak L. Ia kini sudah berdiri sambil berkacak pinggang. “Yah harusnya kamu berterima kasih padaku. Yah!!! Kamu mau kemana aku belum selesai bicara!!”

Yongbi tidak mempedulikan L. Yongbi pun langsung melengos meninggalkan L yang masih terpuruk di tempatnya. Dia memilih turun dari ranjangnya dan beranjak ke kamar mandi. Tentu saja Yongbi harus membersihkan dirinya, karena entah apa saja yang sudah L lakukan padanya semalam.

“Astaga anak itu. Kenapa aku harus menikahi yeoja sinting seperti dia. Sebentar menangis, sebentar berteriak ketakutan sebentar marah. Kata siapa dia anak baik ramah dan ceria, kerjaannya hanya berteriak menyusahkanku saja. Asshh!! Menyesal aku bersandiwara dengan anak itu!!” gerutu L yang sudah duduk di kasur Yongbi.

L mengelus bokongnya yang sakit akibat benturan dengan lantai tadi. Ketika sedang menikmati nyeri di bokongnya, terdengar ponsel Yongbi berbunyi. Awalnya L mendiamkan telepon tersebut, tapi begitu melihat id callernya L memutuskan untuk menjawab telepon tersebut.

“Yoboseyo?” Sahut L.

Omo! Yoboseyo. Ini.. L-ssi?” sahut si penelepon.

“Ne, kamu mau bicara dengan Yongbi? Tapi Yongbi-nya baru saja mandi, ada apa Yeoshin-ssi?”

Ahh, mian. Aku tidak tahu. Maaf mengganggu tidurmu. Aku hanya mau mengecek keadaan Yongbi.

“Ahh gwenchana aku juga baru bangun.” L lalu diam sejenak. Ia berpikir hendak menanyakan mengenai tingkah Yongbi semalam. “Ah iya Yeoshin-ssi, kemarin di pesta pernikahanku kamu sempat berpesan soal kebiasaan tidur Yongbi. Sepertinya aku baru saja mengalaminya semalam. Apa dia memang suka berteriak ketika tidur? Atau semalam ia hanya mimpi buruk?” tanya L penasaran.

Aa, semalam Yongbi berteriak lagi? Ahh, itu dia yang ingin aku bicarakan kemarin. Yongbi jadi seperti itu sejak ia putus dengan Minho.

L mengangguk pelan menjawab pertanyaan Yeoshin. Tapi begitu menyadari kalau Yeoshin tidak melihatnya mengangguk akhirnya L mengiyakan pertanyaan Yeoshin tadi.

Yongbi jadi begitu depresi sejak dicampakkan Minho. Sudah beberapa malam ini aku menemaninya tidur, dan hampir setiap malam Yongbi pasti menangis dan menjerit-jerit seperti orang kesakitan. Itu semua karena namja tak bertanggung jawab itu. Jadi aku mohon pengertianmu L-ssi.” cerita Yeoshin.

Karenanya aku mohon padamu L-ssi. Tolong jaga Yongbi. Sembuhkan luka hatinya. Aku yakin kamu bisa mengembalikan keceriaan Yongbi. Aku sungguh berharap banyak padamu L-ssi.

Yeoshin pun menyudahi percakapan mereka. Setelah selesai berbicara dengan Yeoshin, L jadi penasaran dengan kisah Yongbi-Minho. Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka sampai Yongbi terlihat begitu menderita.

“Yah! Kenapa kamu masih disini!!” bentak Yongbi.

L menoleh ke arah kamar mandi yang ada di kamar Yongbi, ternyata Yongbi sudah berdiri di depan pintu kamar mandi dengan hanya memakai pakaian mandi beserta handuk yang melilit rambutnya. Terlintas pikiran jahil di otak L. Tentu saja L hendak membalas kelakuan Yongbi yang sudah menendangnya tadi.

“Kenapa memangnya? Apa aku tak boleh berada di kamar istriku sendiri?” Ujar L sambil tersenyum simpul.

Mwo?! Apa yang kamu pikirkan?! Bukannya kita sudah sepakat kalau ini semua hanya pura-pura! Kenapa denganmu?! Jangan menatapku seperti itu!” seru Yongbi panik sambil menyilangkan tangannya di dada.

L lalu mendekati Yongbi, menatap Yongbi seseduktif mungkin dan langsung mengunci tubuh Yongbi sebelum gadis itu sempat melarikan diri.

“Mau kemana… Yeobo?” Bisik L tepat ditelinga Yongbi. “Yang semalam belum selesai.”

Yongbi pun panik dan ketakutan. Sementara L sudah memeluk pinggang Yongbi dan merapatkan tubuhnya dengan tubuh Yongbi. Sikap L benar-benar membuat gadis itu ketakutan.

Neo..! Ja.. jangan berani…” gagap Yongbi.

L sudah memainkan rambut Yongbi dan hal itu membuat Yongbi bergidik ngeri. Panik, akhirnya Yongbi menendang tulang kering L. Setelah L melepaskan pelukannya, Yongbi langsung berlari masuk ke kamar mandi. Sementara L sudah meringis kesakitan akibat tendangan Yongbi di kakinya.

“Yah!! Yeoja barbar!! Bagaimana bisa kamu menendangku lagi!!” maki L sambil memegangi kaki kirinya yang sakit. Ia kemudian menggedor-gedor pintu kamar mandi agar Yongbi keluar dari kamar mandi.

“Keluar kamu dari kamarku!! Atau aku adukan kamu ke Harabeoji!!” ancam Yongbi. “Aku akan bilang kalau kamu KDRT padaku!! Cepat keluar namja mesum!!”

Mwo!! Kamu yang menendangku 2 kali bagaimana bisa kamu bilang aku KDRT!! Dan kamu bilang apa tadi?! MESUM?!!”

Nagaseo!!” jerit Yongbi.

Untungnya kediaman mereka terletak di tepi pantai dan jauh dari pemukiman penduduk. Kalau tidak, mungkin orang-orang sekampung sudah kumpul di depan rumah mereka untuk mencari tahu apa penyebab teriakan-teriakan dari kediaman L-Yongbi ini.
.

.

.

Masih sedikit terpincang-pincang, L tiba di lokasi syuting. Walau pihak Production House sudah memberikan cuti pada L, tapi lelaki itu memilih tetap datang ke lokasi syuting.

“Waahh coba lihat. Ada pengantin baru sudah datang!” goda beberapa staf yang melihat L.

L hanya tersenyum hambar dan langsung duduk di dekat sutradara.

“Kenapa kamu datang kesini? Bukankah kamu sudah dapat libur? Lagipula tidak ada scene untukmu hari ini,” tegur sutradara.

“Yongbi juga langsung bekerja hari ini, jadi aku datang kesini. Daripada aku di rumah lebih baik aku menghabiskan waktu disini,” ujar L.

Beberapa staf kembali menggoda L ketika mereka menyadari kalau L berjalan sedikit timpang.

“Wahh sepertinya yang habis malam pertama seru sekali. Sepertinya ada yang habis bermain semalam.  Habis berapa ronde, L? Hahaha.”

“L-ya, aku kan sudah bilang padamu, harus hati-hati ketika malam pertama. Salah-salah kamu bisa melukai dirimu. Lihat kan sekarang. Kamu main berapa jam memangnya semalam?”

L hanya memandangi para staf dengan bingung. Ia sungguh tak mengerti arah pembicaraan mereka. Malam pertama apa, karena semalam yang dialami L justru bukannya ketenangan malah kesusahan.

“Nee, Yongbi cukup mengejutkan semalam,” L menyahuti ucapan-ucapan para staf. Dan semua staf langsung bersorak heboh mendengar jawaban L.

Keriuhan yang terjadi ini membuat seorang gadis yang sedari tadi duduk di sebelah sutradara langsung membanting naskahnya dan berjalan meninggalkan kerumunan staf yang masih asyik menggoda L.

Sementara L yang baru tahu kalau Naeun sedari tadi duduk di sebelah sutradara itu pergi, akhirnya memilih untuk mengejar gadis tersebut.

“Naeun!” panggil L.

Naeun menghentikan langkahnya. Ia masih memunggungi L. Naeun tidak berani menatap L, karena bisa saja dirinya tiba-tiba menangis melihat pemuda yang sudah jadi milik wanita lain itu. Naeun berusaha mengatur napasnya.

L yang melihat Naeun masih memunggunginya memilih untuk tetap berdiri di belakang Naeun, menunggu sampai gadis itu melihatnya.

“Kenapa kemarin tidak datang?” tegur L. “Padahal aku menunggumu.”

Naeun mendengus pelan mendengar pertanyaan L. Ia merasa kalau pria itu sangat kejam. Karena L masih bisa bertanya dengan tanpa dosa padahal sudah pasti dirinya tahu apa penyebab Naeun tidak datang ke pesta pernikahannya. Bagaimana bisa Naeun datang dan memberi selamat menempuh hidup baru pada orang yang sudah mengisi hidupnya selama setahun belakangan ini.

“Memangnya kehadiranku begitu penting? Kamu sudah memilih gadis itu, jadi untuk apa aku datang? Aku bahkan tidak berniat untuk memberikan selamat padamu, L-ssi,” ketus Naeun.

“L-ssi?” L cukup kaget mendengar Naeun memanggilnya dengan begitu formal. “Jadi mau seperti ini. Baiklah Naeun-ssi. Tak apa kalau kamu tak mau memberikanku selamat. Aku hanya mau bilang, semoga kamu bahagia dengan karirmu itu. Dan aku akan mencoba bahagia dengan rumah tanggaku.”

L kemudian meninggalkan Naeun. Ia memilih meninggalkan lokasi syuting, daripada ia tetap berada disana dan mendapatkan situasi yang canggung dengan Naeun, lebih baik ia menyingkir. Tapi L tidak menyadari, kalau Naeun sudah menangis mendengar semua kata-kata L.

Nappeun! Oppa jeongmal nappeuniya,” lirih Naeun.

.

.

Agak tergesa-gesa Yongbi sedikit berlari dari ruang kerjanya menuju pintu tamu butiknya. Hal ini karena dia mendengar ada suara ribut-ribut di pintu masuk. Khawatir itu adalah kumpulan fans L yang datang, akhirnya Yongbi memutuskan untuk melihat apa yang sedang terjadi.

Ternyata Key sedang mencak-mencak marah pada seorang pengunjung wanita. Segera saja Yongbi menghampiri mereka. Yang sedang dimaki oleh Key adalah seorang yang sangat tidak asing wajahnya, tapi Yongbi tak tahu siapa nama gadis itu.

“Untuk apa kamu kesini?! Butik kami tidak menerima siapapun wanita yang mencoba mengganggu hubungan Harang dengan Yura. Dan kamu Marry sebaiknya keluar dari butik ini. kami tidak akan melayani wanita penggoda seperti kamu,” usir Key.

Yongbi shock setengah mati mendengar ucapan Key. Sejak kapan Key jadi sekasar itu. Biasanya Key bisa jadi berapi-api begini kalau sedang menonton drama. Eh, tunggu dulu, siapa tadi yang disebut-sebut Key? Harang, Yura dan Marry? Itu bukannya tokoh-tokoh yang ada di dramanya L yang berjudul Infinite Love?

“Iya Naeun. Itu loh yang jadi Marry di drama Infinite Love. Dia itu jahat sama Yura, selalu saja menggoda Harang.”

Yongbi teringat akan umpatan Key terhadap tokoh Marry yang ada di dramanya L. Kini Yongbi tahu siapa tamu yang baru saja datang ini, sudah pasti dia adalah Naeun, teman satu drama L. Langsung saja Yongbi melerai Key dan tamunya.

“Key!” sela Yongbi. “Kamu ini ada tamu bukannya dilayani dengan baik malah diomeli,” omel Yongbi.

Key membelalakkan matanya mendengar omelan Yongbi. “Hwangyong, kamu tak tahu anak ini siapa! Dia Naeun! Dia itu yang suka gangguin suami kamu di drama Infi..”

“Itu cuma drama Key. Berhentilah menonton drama. Lama-lama kamu tak bisa bedakan mana dunia nyata dan mana drama,” sela Yongbi. Yongbi kemudian tersenyum pada tamunya dan mempersilakan gadis itu masuk.

“Maafkan tingkah temanku ya. Dia begitu suka dengan drama Infinite Love itu, sampai benar-benar membenci tokoh yang kamu perankan,” ujar Yongbi sambil menggiring Naeun masuk ke butiknya.

“Ne, tak apa-apa. Itu artinya aktingku sukses sampai bisa membuat pemuda tadi begitu tidak suka padaku,” sahut Naeun.

“Ada perlu apa kamu kemari? Ingin pesan baju atau..” tanya Yongbi seramah mungkin.

“Ahh aku mau memberi selamat padamu. Kemarin ketika pesta pernikahanmu aku tidak bisa hadir karena ada schedule lain. Karena itu aku menyempatkan datang kemari.” Naeun menyodorkan tangan kanannya guna memberi selamat pada Yongbi. “Gyeorhon chukka hamnida.”

Yongbi menyambut uluran tangan Naeun dan menjabatnya. “Kamsahamnida.”

Keduanya lalu mengobrol sejenak dan sekitar lima belas menit kemudian Naeun pergi meninggalkan butik Yongbi. Tak lupa dia memberikan hadiah pernikahan untuk Yongbi.

Seusai mengantar Naeun keluar butik, Key langsung mencecar Yongbi. “Kenapa kamu malah baik-baikin dia?! Dia itu kan yang sudah menggoda suamimu?! Ugghh aku sungguh tidak suka padanya. Apa kamu tidak lihat kalau tatapannya licik begitu?!”

Yongbi hanya menatap Key malas. Ia sudah biasa mendengar Key mengomel untuk alasan yang tidak penting. Tapi kali ini sungguh Key lebih berisik dari biasanya. Dia terlihat lebih menggebu-gebu dibandingkan ketika mendengar berita tentang skandal L.

“Buang hadiah darinya. Percaya padaku Hwangyong, anak itu tidak baik. Kamu tahu kan kalau prediksiku tak pernah salah. Dia pasti akan menikammu dari belakang nantinya. Kamu lupa kalau dia pernah kena skandal dengan L, dan itu bukan hanya sekali tapi berkali-kali. Mereka sering terlihat keluar apartemen bersamaan. Mereka juga sering terlihat jalan berdua. Aku yakin gadis itu pasti akan menggoda suamimu nanti,” cerocos Key.

Kali ini Yongbi menatap Key takjub. Bagaimana bisa dia mengucapkan kalimat yang begitu banya hanya dengan satu tarikan napas saja? Sungguh temannya ini adalah orang yang sangat unik.

“Aku dan L akan baik-baik saja. Lagipula aku tidak peduli kalau misalnya itu terjadi. Tidak ada urusannya denganku,” acuh Yongbi yang lalu melengos meninggalkan Key.

“Hwangyong! Kalau anak itu tahu kamu dijodohkan dengan L, bisa-bisa dia benar-benar akan merebut suamimu itu. Yah! Hwangyong!”

.

.

“Aku sedang ingin makan samgyetang (sup ayam gingseng) atau seolleongtang (sup kaki sapi). Karena jadwalku belakangan ini sangat padat jadi aku jarang makan makanan yang sehat. Rasanya akan sangat menyenangkan kalau bisa minum sup….”

Biiip.

Yongbi langsung mematikan televisi yang tadi menyiarkan berita tentang L. Ia lalu melempar remote televisinya sembarangan dan memilih kembali ke ruang kerjanya.

“Yah kenapa dimatikan?! Aku kan mau menonton beritanya,” seru Key yang lalu meraih remote TV dan menyalakannya kembali.

“Bukannya kamu antifans L? Kenapa mengikuti berita tentangnya?”cibir Yongbi.

Key hanya memfokuskan matanya ke TV. “Yah Hwangyong! Suamimu minta dibuatkan sup tuh. Ya ampun dia salah besar memintamu memasak. Kamu kan tak pernah menyentuh dapur selain untuk minum. Megang pisau aja tak pernah, malah diminta untuk membuat sup yang susah begitu. Kasian sekali orang itu,” ledek Key.

Yongbi yang mendengar ejekan Key tentang dirinya langsung kembali ke depan TV dan berkacak pinggang di hadapan Key. “Aku kan pernah bilang padamu kalau aku hanya perlu menjadi wanita karir yang hebat agar aku tidak perlu ke dapur. Dan lagipula Aku juga bisa masak tau!”

“Yang namanya wanita itu kodratnya adalah dapur sementara pria yang mencari nafkah. Dan sehebat apapun karirmu, pasti kamu akan tetap berhubungan dengan dapur. Apalagi kalau suamimu meminta makan. Kan tak mungkin kamu sodorin menu pesan antar, Yong. Chaerin saja sekarang ikutan les memasak, belajarlah sama Chaerin sana,” Key menasehati Yongbi.

Yongbi terdiam mendengar ocehan Key. Ia ingat kalau dulu Minho juga pernah mengatakan hal ini pada Yongbi. Dan kini Yongbi sedikit kesal karena orang itu kembali masuk ke pikirannya.

Akhirnya Yongbi pun memutuskan untuk pergi ke rumah keluarga Kim.

.

.

“Yah! Aku sudah membuat makan malam, kamu pulang jam berapa nanti?” tanya Yongbi ketika menelepon L.

“Aku pulang cepat hari ini, memangnya kamu masak apa?” sahut L antusias.

“Sesuatu. Pokoknya kamu harus pulang cepat hari ini,” sahut Yongbi dengan nada mengancam.

“Iya, aku akan pulang cepat hari ini.”

Kemudian L menyudahi pembicaraannya dengan Yongbi. Ia tidak menyadari kalau ada yang menguping pembicaraannya. Setelah selesai menelepon Yongbi, L langsung mencari sutradara. Niatnya hendak minta izin agar tidak ada shoot tambahan hari ini, agar dirinya bisa pulang cepat. Belum sempat L bertemu dengan sutradara, Naeun sudah lebih dulu menghalangi langkahnya.

“L-ssi, kamu ikut kan nanti?” tanya Naeun.

“Kemana?” Sahut L datar.

“Aku mentraktir semua staff. Karena rating drama kita bagus belakangan ini, jadi aku ingin merayakannya bersama para staff. Sekaligus merayakan pernikahanmu,” ujar Naeun.

“Eh? Tapi aku hari ini..”

“Ohh ayolah. Aku memaksa. Apa jadinya perayaan ini kalau kamu tak ada.” Naeun bersikukuh.

L pun mengalah. Dia memang tak pernah bisa menolak keinginan Naeun. Walau sedikit merasa bersalah pada Yongbi, tapi L akhirnya memutuskan untuk ikut Naeun. Lagipula katanya ini adalah untuk merayakan pernikahan L, bukan? Dan baru kali ini sejak setelah L menikah, Naeun mau berbicara lagi padanya.

.

Awalnya Naeun hanya membawa para staff untuk barberque-an. Tapi ternyata setelah barberque, Naeun malah mengajak para staff untuk minum-minum. Padahal ini sudah lewat tengah malam, tapi Naeun dan para staff yang mabuk masih saja menikmati pesta dadakan ini. Akhirnya L memutuskan untuk membawa Naeun pulang. L memapah Naeun yang sudah mabuk berat menuju mobilnya.

Setelah sampai di apartemen Naeun, L langsung memapah Naeun dan merebahkan gadis itu di tempat tidurnya. Sepertinya efek mabuk membuat Naeun tidak sadar dengan apa yang dia lakukan. Kini bahkan gadis itu sudah menarik L dan memeluknya.

“Kamu sungguh orang jahat, L-ssi!!” racau Naeun tak jelas. Ia kini memukul-mukul dada L. “Kenapa kamu meninggalkanku begini, hah?! Kamu pikir aku akan melepasmu begitu saja?!”

L berusaha melepas tangan Naeun yang mencengkeram bajunya. Ia juga berusaha untuk menyadarkan Naeun agar gadis itu berhenti memukulinya.

“Aku.. akan pastikan kamu.. kembali padaku, L-ssi. Gadis itu sungguh.. tidak.. dapat dibanding.. kan denganku. Aku akan mencari.. tahu alasannya, kenapa kamu menikahi.. gadis jelek itu. Silakan.. kamu nikmati pernikahan bodoh.. mu itu dan kalau kamu..sudah lelah kembalilah padaku..” Naeun lalu kembali jatuh ke kasurnya dan tak sadarkan diri.

L tertegun mendengar ucapan Naeun. Memang sejak ia menikah dengan Yongbi, Naeun selalu menghindarinya. Karenanya L selalu penasaran akan apa yang dipikirkan gadis ini. Dan kini ia tahu apa yang dirasakan Naeun terhadap pernikahan L.

“Kamu bilang ini adalah pernikahan bodoh?” tanya L pada Naeun yang sudah tak sadarkan diri. “Justru aku akan menjadi sangat bodoh kalau masih terus mengharapkanmu mencintaiku. Bahkan sudah setahun tinggal bersama pun tidak bisa membuatmu tulus membalas cintaku. Kita lihat saja apakah aku akan cepat lelah dengan pernikahan ini dan kembali padamu atau aku akan bertahan,” ujar L.

.

Sekitar pukul dua malam L sampai di kediamannya, rumah yang ia tinggali bersama Yongbi. Tapi ia mengurungkan niatnya yang ingin langsung naik ke kamarnya di lantai dua begitu dilihatnya kalau lampu ruang makan masih menyala. L pun akhirnya ke ruang makan untuk mengecek keadaan.

Kagetlah L begitu melihat Yongbi tengah tertidur di ruang makan dengan menelungkupkan kepalanya di meja makan. L lebih kaget lagi -dan terharu- melihat meja makan ini penuh dengan makanan. L akhirnya menghampiri Yongbi bermaksud hendak memindahkannya ke kamar.

L langsung merasa tidak enak hati melihat kondisi Yongbi. Ternyata gadis itu tengah menangis dalam tidurnya, seperti kebiasaannya setiap malam, hanya saja kali ini dia tidak menjerit-jerit.

Nappeun.. Nappeun neo..” isak Yongbi.

Dan L pun menggendong Yongbi untuk memindahkan gadis itu ke kamarnya. Setidaknya inilah yang bisa dia lakukan untuk mengurangi rasa bersalahnya terhadap Yongbi. L baru menyadari kalau jemari Yongbi penuh dengan plester antiseptik. Entah berapa banyak luka yang ia buat. L kembali teringat akan pesan singkat ibunya tadi siang, tak lama setelah Yongbi meneleponnya memintanya untuk pulang cepat.

Menantuku tadi habis belajar masak disini. Sepertinya dia benar-benar tidak pernah menyentuh dapur, melihat dari betapa canggungnya dia memegang pisau. Eomma terharu melihat menantuku, dia begitu serius ingin membuatkanmu makanan sampai tidak sadar kalau ia sudah mengiris jemarinya. Jadi jangan sampai kamu menyia-nyiakan makanan yang sudah dibuat oleh menantuku! Eomma sungguh tidak akan memaafkanmu kalau kamu tidak menikmati makanannya, Myungsoo!

Begitulah kira-kira SMS ancaman ibunya. Tapi kali ini L tidak bisa protes pada ibunya. Apalagi setelah melihat langsung kondisi Yongbi.

Mianhae, Yongbi-ya. Aku secara tak langsung menyakitimu juga,” bisik L yang sudah menggenggam jemari Yongbi.

 

.

.

TBC

Kekekekekekeke *bee numpang ketawa dulu*

ini intronya kaya avatar aang dehh awalnya semua berjalan biasa saja sampai keputusan Minho menjungkirbalikkan dunianya -____-‘

disini bee Cuma menggambarkan betapa tidak sepaham-nya Yongbi dengan L,, jadi kalo agak2 boring yaa mianhae .__.v
bee sadar kok kalo FF mimpi ini makin terasa gaje 😦
anyway terima kasih buat yang udah bersedia baca,,

Advertisements
FF – Goodbye ~ Hello | Chapter 3 | PG16

29 thoughts on “FF – Goodbye ~ Hello | Chapter 3 | PG16

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s