FF – Hello Cupid!! | Nara Story | chapter 2 (end of Nara Story)


Title : Hello Cupid

Subtitle : (Chapter 2 – end) Nara Story

Author : beedragon

Cast:

Lee Chihoon (Ulzzang)

Nara Hello Venus as Nara / Kwon Nara

Other Cast:

Alice Hello Venus as Alice

Genre : Romance, Fantasy

Length : Twoshoot, multi chaptered (read first chapter 1)

Rating / pairing : pg15 / Straight

Summary : Ketika Transit Venus terjadi, ada semacam sebuah jalan yang menghubungkan Venus dengan Bumi. Ketika Transit Venus, penduduk Venus atau biasa disebut Cupid datang ke Bumi untuk menyebarkan cinta serta mencari cinta. Ini adalah kisah perjuangan Cupid dalam mendapatkan cinta.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Hello Venus – Like a Wave

When You Come Into My World


.

.

.

Chihoon melangkahkan kakinya memasuki rumahnya. Ia memandangi kediamannya yang terasa sepi ini. Kemudian Chihoon menghela napas panjang.

“Akhirnya keheningan datang juga padaku,” ujarnya lega. Chihoon lalu beranjak duduk di sofanya yang biasa dijajah oleh Nara. “Sejak anak itu datang rasanya hari-hariku tidak bisa tenang. Akhirnya bisa juga tidur.” Chihoon lalu merebahkan dirinya di sofa dan tertidur.

Tiga jam kemudian Chihoon terbangun. Ia melihat keluar jendela, ternyata hujan deras. Padahal ini awal musim semi, tapi hujan turun begitu derasnya.

“Kenapa bisa hujan?” bingung Chihoon sambil menutup gorden jendelanya.

“Kalau Nara sedih, maka langit akan ikutan bersedih.”

Chihoon teringat ucapan Nara beberapa hari yang lalu.

“Memangnya kamu semacam gumiho yang akan menurunkan hujan kalau menangis?”

“Nara bukan gumiho. Tapi memang langit akan menangis jika hati seorang gadis terluka. Jadi kalau hari yang tadinya cerah lalu tiba-tiba turun hujan, pasti ada seorang wanita yang sedang bersedih.”

“Nara-ya,” Chihoon menggumamkan nama Nara. “Kenapa perasaan ini aneh? Apa yang sudah kamu lakukan padaku Nara?” gumam Chihoon sambil memegangi dadanya.

Akhirnya Chihoon pun mengambil jas hujan dan payung. Lalu Chihoon bergegas keluar rumah, tujuannya hanya satu yaitu taman kota, tempat dimana ia meninggalkan Nara sendirian.

.

.

Alice, Chihoon sepertinya meninggalkanku. Apa dia tidak suka padaku? Bagaimana ini? Aku sudah gagal. Aku gagal sebagai Cupid. Aku bahkan tidak bisa membuatnya mencintaiku. Maafkan aku, Alice. Tapi bisakah kau memberi aku waktu lagi.

.

.

Chihoon berlari-lari kecil menyusuri taman kota. Walau ia merasa tidak yakin kalau Nara masih menunggunya, tapi Chihoon tetap masih berharap bisa bertemu Nara.

Chihoon akhirnya tiba di tempat dimana ia meninggalkan Nara. Ternyata gadis itu masih menunggu disana. Hujan sudah mengguyur tubuh Nara hingga gadis itu basah kuyup. Dan Chihoon tidak bisa menebak apa yang sedang Nara rasakan karena gadis itu menundukkan kepalanya begitu dalam.

“Nara,” tegur Chihoon begitu tiba di hadapan Nara. Chihoon lalu memayungi Nara agar tubuh Nara tidak diterpa air hujan lagi.

Nara memandangi Chihoon dengan sayu. Matanya tampak merah dan membengkak seolah habis menangis. “Orabeoni..” suara Nara terdengar serak.

Seketika Chihoon merasa bersalah melihat kondisi Nara ini. Ia kemudian memberikan jas hujannya pada Nara.

“Kenapa kamu masih menunggu disini? Kenapa gak mencari tempat berteduh? Mianhae, tukang eskrimnya pindah, jadi aku harus mencari eskrimnya sampai selama ini. Aku malah membuatmu jadi basah kuyup begini,” ujar Chihoon sambil membentang jas hujannya agar bisa segera dipakai Nara.

Tiba-tiba saja Nara memeluk Chihoon. Nara memeluk Chihoon dan menangis. Sikap Nara ini membuat payung yang dipegang Chihoon jadi terjatuh.

“Nara pikir Orabeoni marah pada Nara. Nara pikir Orabeoni benci Nara. Nara pikir Orabeoni gak menginginkan Nara. Mianhamnida Orabeoni, Nara gak akan buat Orabeoni kesal lagi. Jadi tolong maafkan Nara,” isak Nara seraya memeluk Chihoon erat.

Keegoisan Chihoon runtuh melihat tangisan Nara. Selayaknya anak kecil yang habis dihukum oleh ibunya, Nara menangis memohon ampun pada Chihoon. Chihoon merasa keputusannya untuk meninggalkan Nara adalah salah besar. Padahal ia mengutuk orang-orang yang (menurutnya) sudah membuang Nara, tapi dirinya sendiri malah bersikap tidak jauh beda dengan orang-orang itu.

“Maafkan Nara, Orabeoni. Dan tolong jangan benci Nara.”

.

.

Orabeoni datang. Orabeoni kembali. Chihoona sepertinya tidak membenciku, Alice. Aku masih punya harapan. Hari ini hari terakhir, kumohon jangan datang terlalu cepat. Aku masih ingin berjuang mendapatkan cinta Chihoona.

.

.

Nara masih sesenggukan duduk di sofa Chihoon. Tangannya masih menggenggam erat segelas susu hangat yang dibuat Chihoon. Nara terlihat sangat sedih, membuat Chihoon makin merasa bersalah.

“Nara-ya, bagaimana kalau besok kamu ikut aku bekerja? Dengan begitu kamu gak kesepian dirumah. Nanti akan kukenalkan kamu dengan rekan kerjaku, siapa tahu kamu bisa ikutan kerja ditempatku,” ujar Chihoon.

Nara hanya diam. Ia lalu meletakkan gelasnya dan memeluk lengan Chihoon. Biasanya Chihoon akan langsung menghindar dan membentak Nara jika Nara melakukan hal itu. Tapi tidak kali ini. Chihoon masih ingin membayar rasa bersalahnya karena sudah membuat gadis itu menangis ditengah hujan.

Terdengar bunyi pesan masuk di ponsel Chihoon. Chihoon langsung mengecek siapa kiranya yang mengirim pesan padanya.

From : Lee Nara

Oppa, apa kabar? Aku ingin bertemu denganmu. Kutunggu kau di taman dekat kampus. Nara.

Chihoon terkejut membaca isi pesan singkat tersebut. Pesan singkat dari Lee Nara, mantan kekasihnya. Rasanya Chihoon sudah melupakan rasa sedih akibat ditinggal oleh Lee Nara. Chihoon bahkan sudah lupa kapan terakhir kali ia memikirkan Lee Nara. Rasanya terakhir memikirkan Lee Nara itu ketika dirinya bertemu dengan Nara yang polos ini.

Ada angin apa tiba-tiba gadis yang sudah memutuskannya itu meminta Chihoon untuk bertemu lagi? Chihoon terus bertanya-tanya dalam hati apa kiranya penyebab Lee Nara menghubunginya lagi.

“Nara-ya, aku pergi dulu ya,” pamit Chihoon.

Nara yang sempat melihat isi pesan singkat di ponsel Chihoon itu langsung menahan lengan Chihoon. Ia tampak memohon pada Chihoon agar Chihoon tidak pergi.

“Nara-ya, ini kan rumahku, jadi aku pasti akan pulang kesini. Kamu biasanya juga gak apa-apa ditinggal dirumah. Aku ada urusan sebentar,” bujuk Chihoon.

“Orabeoni, tak bisakah kau tidak pergi. Kumohon,” pinta Nara.

Chihoon lalu melepaskan tangan Nara.

“Aku harus pergi Nara-ya.”

Chihoon lalu pergi keluar rumah meninggalkan Nara sendirian.

“Tapi kalau kau pergi, hatimu akan goyah, Orabeoni,” lirih Nara.

.

.

Waktuku sudah habis. Dan tampaknya aku sudah gagal menjadi Cupid. Aku gagal memberikan kehidupan baru di Venus. Aku gagal mendapatkan sebuah cinta. Inikah akhirnya?

.

.

Ragu-ragu Chihoon menghampiri seorang gadis yang tengah duduk di ayunan yang ada di taman bermain ini. Tapi akhirnya Chihoon menguatkan hatinya untuk mendekati gadis tersebut.

“Lee Nara,” sapa Chihoon.

Gadis yang bernama Lee Nara itu mengangkat kepalanya. Seulas senyuman langsung terukir di wajahnya. “Oppa kau datang? Kupikir kau tidak akan datang.”

Chihoon lalu duduk di ayunan yang ada di sebelah Lee Nara. Awalnya keduanya hanya saling diam. Tak tahan, hanya terus berdiam diri, akhirnya Chihoon membuka pembicaraan.

“Ada apa? Apa ada sesuatu yang penting? Aku.. aku sedang ada urusan jadi tidak bisa lama-lama,” ujar Chihoon.

Lee Nara mendengus pelan. “Masih saja seperti ini,” keluhnya. “Baiklah, aku akan mengatakan langsung padamu. Aku ingin kembali padamu,” ujar Lee Nara sambil menatap Chihoon bersungguh-sungguh.

Chihoon langsung menghindari tatapan Lee Nara. Ada yang aneh ketika gadis itu menatapnya. Tidak ada getaran-getaran seperti yang dulu pernah ia rasakan terhadap mantan kekasihnya ini. Apa ini artinya dia sudah tidak ada perasaan lagi terhadap Lee Nara?

“Kenapa?” tanya Chihoon yang tampak terkejut.

Lee Nara tersenyum melihat reaksi Chihoon. Melihat pemuda itu menghindari tatapannya, Lee Nara menduga kalau Chihoon masih sakit hati terhadapnya.

“Aku tahu, kamu pasti mengira kalau aku sedang mempermainkanmu. Tapi aku sungguh-sungguh Oppa. Aku ingin kembali padamu. Aku ingin kita menjalin kisah cinta kita lagi. Aku baru menyadari kalau aku tidak bisa jauh darimu. Aku membutuhkanmu Oppa. Aku mencintaimu,” ujar Lee Nara.

Chihoon merasa kalau ia berada di situasi yang salah. Seharusnya ia merasa senang karena Lee Nara gadis yang pernah dicintainya ingin kembali lagi padanya. Tapi ia tidak merasakan perasaan senang itu. Entah kenapa ia merasa kalau Lee Nara adalah orang asing yang tiba-tiba datang padanya.

“Aku.. aku tidak bisa memberi jawaban sekarang. Aku.. aku akan memikirkannya,” sahut Chihoon sedikit terbata. Chihoon kemudian berdiri. “Aku pergi dulu.”

Chihoon lalu melangkah meninggalkan Lee Nara. Ia merasa seperti sedang mengkhianati seseorang kalau ia terus berada disana.

.

.

Tunggu sebentar lagi, Alice. Chihoona belum pulang. Setidaknya aku ingin berpamitan dengannya. Kumohon jangan datang dulu. Aku juga belum menyampaikan perasaanku padanya.

.

.

“Aku pulang,” ujar Chihoon.

Chihoon melangkahkan kakinya gontai memasuki rumahnya. Begitu mendapati Nara masih duduk manis di sofanya tanpa sadar Chihoon mengembangkan senyum di wajahnya.

“Nara-ya, coba lihat aku bawa apa? Es krim vanilla!” ujar Chihoon riang berusaha menaikkan semangat Nara yang tampak masih sedih itu.

Chihoon lalu duduk di samping Nara. Diliriknya wajah Nara yang tampak murung itu. Refleks, Chihoon mengangkat tangannya untuk membelai kepala Nara.

“Kenapa masih murung. Aku kan sudah pulang. Aku juga sudah membawa es krim untukmu, ayo senyumlah. Kalau kamu masih murung begitu, maka aku akan merasa bersalah,” bujuk Chihoon. “Oia, aku mau tanya sesuatu, menurutmu…”

Ting tong!!

Bel rumah Chihoon berbunyi nyaring. Padahal Chihoon baru saja hendak menanyakan pendapat Nara mengenai mantan kekasih Chihoon yang meminta balikan. Sebelum beranjak menuju pintu depan Chihoon kembali melirik Nara yang kini menundukkan kepalanya semakin dalam. Nara tampak begitu murung, seolah ada awan hitam diatas kepalanya.

Akhirnya Chihoon membuka pintu rumahnya untuk melihat siapa tamu tersebut. Ternyata seorang gadis cantik berambut pirang yang tampak seperti mannequin kini tengah berdiri di teras rumah Chihoon.

“Ne? nugu….?”tanya Chihoon bingung.

Gadis itu tersenyum melihat Chihoon. “Permisi, saya Alice. Saya sedang mencari Nara, saya dengar katanya ada yang melihat Nara disini. Apa kamu mengenal Nara? Apa mungkin Nara ada disini?”

Chihoon kaget bukan main mendengar perkataan tamunya. Apa ini si Alice yang suka diceritakan Nara? Tapi Alice ini tidak terlihat seperti nenek-nenek tua seperti yang dikira oleh Chihoon. Bahkan sepertinya Alice ini umurnya tak jauh beda dengan Nara.

Tunggu dulu. Berarti dia mau menjemput Nara? Tapi kenapa tiba-tiba? Semua pertanyaan berkecamuk di benak Chihoon. Padahal baru saja Chihoon ingin berbaikan pada Nara, tapi kini gadis itu sudah harus pergi dari rumahnya.

“Maaf, memangnya ada apa dengan Nara sampai kamu harus mencampakkannnya? Kenapa tidak dari kemarin-kemarin kamu datang mencarinya?” tuding Chihoon.

Alice kembali tersenyum. “Nara itu tidak pernah keluar rumah. Begitu dia keluar rumah sepertinya dia tersesat. Karena ketika aku mencari di sekitar rumah aku tidak bisa menemukannya. Ternyata dia kesasar sampai sejauh ini.”

Chihoon lalu berpaling melihat Nara yang kini berdiri tak jauh darinya. Tidak ada keceriaan di wajahnya, tak seperti Nara yang biasanya. Chihoon lalu menghampiri Nara dan meninggalkan Alice di pintu masuk tanpa menyuruh gadis itu untuk masuk.

“Nara-ya, apa itu benar Alice yang kau kenal?” tanya Chihoon.

Nara mengangguk pelan. “Nara belum mau pulang Orabeoni. Bilang sama Alice kalau Nara boleh menginap disini beberapa hari lagi, kumohon,” pinta Nara.

“Waktumu sudah habis Nara. Sekarang sudah saatnya pulang,” sahut Alice dari pintu masuk.

Chihoon pun menoleh ke arah Alice yang masih menunggu Nara dengan senyuman tak lepas dari wajahnya. Nara kemudian menggamit lengan Chihoon membuat pemuda itu kembali menatapnya. Terlihat jelas kalau Nara benar-benar memohon pada Chihoon agar ia bisa tinggal disana lagi.

“Pulanglah,” sahut Chihoon.

Nara tertegun mendengar jawaban Chihoon. Ia masih menggenggam tangan Chihoon berharap pemuda itu menahannya.

“Pulanglah Nara, keluargamu sudah menjemputmu,” tegas Chihoon.

Chihoon memalingkan wajahnya dari Nara. Ia tak sanggup jika harus melihat kesedihan gadis itu lagi. Chihoon lalu menarik lengan Nara dan menggiringnya ke pintu masuk, dimana Alice masih menunggunya. Setelah menyerahkan Nara pada Alice, Chihoon berusaha untuk terlihat tegar dihadapan Nara. Sementara Nara tampak sangat terluka.

“Terima kasih sudah merawat Nara. Jasamu tak akan pernah kulupakan Chihoon-ssi,” ujar Alice yang lalu menarik Nara untuk pergi.

“Tunggu sebentar,” tahan Nara. Ia masih belum melangkahkan kakinya mengikuti Alice. “Orabeoni, ani, Chihoona. Nara menyukaimu. Sebelum pergi Nara ingin mengatakan ini padamu. Nara sungguh menyukaimu,” ujar Nara.

Alice kembali menarik  Nara untuk pergi dengannya. Akhirnya Nara menurut dan pergi bersama Alice. Walau matanya tak lepas terus memandangi Chihoon. Nara terus menatap Chihoon hingga pemuda itu menutup pintu rumahnya.

.

.

.

Sepeninggal Nara, Chihoon merasa ada yang janggal dengan dirinya. Berbeda dengan ketika ia meninggalkan Nara di taman tadi. Kali ini ada sesuatu yang hilang.

“Ahh molla. Mungkin ini jawabannya. Nara pergi dan Nara kembali datang padaku. Mungkin ini artinya aku harus menerima Lee Nara lagi,” ujar Chihoon.

Ia lalu memasukki kamarnya, kamar yang sudah dua minggu ini dikuasai Nara. Kagetlah Chihoon begitu melihat kondisi kamarnya yang jarang ia singgahi selama dua minggu ini.

Dinding kamarnya penuh dengan foto-foto Nara. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Nara menghias lemari pakaiannya dengan foto-foto mereka berdua.

“Orabeoni, kenapa wajahmu ada begitu banyak di kamarmu? Bagaimana caranya membuat wajahmu jadi sebanyak itu di dinding? Ajari Nara,” rengek Nara pada suatu hari.

“Kamu mau difoto? Baiklah aku akan mengajarimu.”

Chihoon lalu mengambil kameranya. Setelah ia merapikan penampilan Nara, Chihoon pun menyuruh Nara untuk berpose. Nara berpose mengikuti semua pose Chihoon yang ada di foto-foto. Chihoon sampai geli sendiri melihat ekspresi Nara yang tampak cute ketika mencoba ekspresi dingin Chihoon.

“Hahaha, Nara-ya, kamu berbakat jadi fotomodel. Kapan-kapan aku akan mengajakmu ke studio foto. Orang-orang disana pasti akan senang melihatmu,” ujar Chihoon.

“Sungguh? Yaksokhae,” sahut Nara sambil mengacungkan kelingkingnya pada Chihoon.

Chihoon pun mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Nara sebagai bentuk janjinya.

“Orabeoni, ayo kita foto berdua. Lalu fotonya dibuat seperti yang ada di dinding itu. Ditempel disana, agar Orabeoni ingat sama Nara,” pinta Nara.

Nara lalu memeluk Chihoon dan mulai berpose seperti yang pernah ia lihat di majalah yang ada di rumah Chihoon.

“Nara gak akan melupakan hari ini. Hari dimana Nara bisa berfoto bersama Orabeoni. Orabeoni, kalau Nara pergi, harap jangan pernah lupakan Nara. Nara sayang Orabeoni.”

Chihoon memandangi wajah bahagia Nara dengan nelangsa. Sepertinya ia baru menyadari apa yang ia rasakan terhadap Nara.

“Babo! Apa yang sudah aku lakukan?! Nara-ya…”

.

.

.

“Alice, aku sudah gagal menjadi cupid. Kalau sudah begini bagaimana nasibku nanti. Semua cupid pasti akan mengolok-olokku di Venus nanti. Alice tak bisakah kau memberikan aku waktu lagi,” pinta Nara pada Alice.

Alice tampak menghela napas panjang mendengar permintaan Nara. “Nara, pemuda itu tidak mencintaimu. Kamu sepertinya memilih manusia yang salah. Tak apa kamu gagal disini, kita bisa mencoba di planet lain,” bujuk Alice.

“Tapi aku maunya di bumi,” ujar Nara sambil mengerucutkan bibirnya.

Alice akhirnya berhenti melangkah. “Dengar Nara, kamu pikir kalau pemuda itu juga mencintaimu, tapi sebenarnya tidak. Apa kamu tahu apa yang terjadi ketika dia keluar rumah? Dia bertemu dengan gadis yang dicintainya. Dan tepat sebelum aku datang, dia ingin mengatakan padamu kalau dia ingin kembali dengan gadisnya. Untung aku mencegahnya sebelum dia mengatakannya. Jadi lupakanlah pemuda itu. Kalau kamu masih mau mencoba di bumi, kita bisa menunggu 105 tahun lagi,” sahut Alice.

Alice kemudian kembali melangkah. Sementara Nara masih terpaku di tempatnya. Perkataan Alice dirasa terlalu kejam. Nara masih shock mengetahui kalau Chihoon tak pernah punya perasaan apapun padanya.

Tiba-tiba saja Nara merasakan sakit yang amat sangat dipunggungnya. Begitu sakit sampai Nara berteriak begitu kencang.

“Alice!!!!” pekik Nara.

Alice yang sudah berjalan beberapa meter di depannya langsung buru-buru kembali mendekati Nara. Ia tampak panik melihat Nara yang sudah menunduk dan tampak kesakitan itu.

“Nara, kamu kenapa?”

“Sakit… gatal… perih Alice…” rintih Nara.

Alice langsung menempelkan telapak tangannya di punggung Nara. Alice berusaha menyalurkan energinya agar rasa sakit yang didera Nara berkurang. Tapi sepertinya percuma.

“Kamu kenapa Nara?” bingung Alice.

Samar-samar keduanya mendengar ada suara seseorang memanggil nama Nara.

“Nara-ya!!”

Ternyata Chihoon menyusul keduanya. Dengan terengah-engah Chihoon berusaha menahan kepergian Nara. Ia mengatur napasnya yang setengah-setengah itu sebelum bicara pada Nara.

“Nara-ya, hhh tunggu sebentar,” sela Chihoon.

Alice langsung memapah Nara agar gadis itu bisa berdiri tegak. Nara sendiri tampak tidak fokus melihat Chihoon.

“Nara-ya, beritahu aku dimana rumahmu. Agar kita bisa bertemu lagi. Nanti aku bisa menjemputmu di rumahmu dan kita bisa bermain bersama lagi,” ujar Chihoon.

“Aku… aku juga menyukaimu Nara. Karenanya aku ingin bertemu denganmu lagi. Beritahu aku dimana kamu tinggal, atau kalau aku bisa tahu nomor telepon rumahmu..” sambung Chihoon yang sudah menundukkan kepalanya karena malu.

Chihoon tidak melihat kalau Nara sudah tampak sangat kesakitan dan pucat. Dan teriakan Nara berikutnya membuat Chihoon mengangkat kepalanya.

“Aaaaaakh!!” pekik Nara.

Alice langsung melepas pegangannya terhadap Nara. Karena kini sepasang sayap putih sudah tumbuh di punggung Nara. Nara kini sudah menjadi Cupid sempurna.

“Nara kamu berhasil!” puji Alice. Alice langsung memeluk Nara erat. Sementara Nara sudah menangis bahagia mengetahui kalau statusnya kini sudah naik menjadi cupid sempurna.

“Na.. Nara-ya, kamu punya sayap?” kaget Chihoon.

Baik Nara maupun Alice langsung menoleh ke arah Chihoon. Chihoon tampak begitu shock dengan apa yang terjadi pada Nara.

“Begini Chihoon-ssi. Kami bukanlah makhluk bumi. Dengan kata lain kami bukanlah manusia. Kami berasal dari Venus. Tujuan kami datang ke bumi adalah untuk mencari cinta seorang lelaki yang tulus agar kami bisa meneruskan kehidupan kami di Venus,” Alice menjelaskan.

“Ka.. Kalian alien?!” Chihoon benar-benar tidak bisa mencerna ucapan Alice.

“Bukan Orabeoni. Nara bukan alien, tapi Nara adalah cupid, cupid yang sempurna,” sela Nara.

“Dan karena Nara sudah berhasil menjadi cupid yang sempurna dengan mendapatkan cinta darimu, maka kami akan kembali ke Venus untuk melanjutkan kehidupan kami,” ujar Alice lagi.

“Tunggu sebentar,” cegah Chihoon. Ia tampak menarik napas panjang lalu bergumam, “Aku pasti sudah gila.”

“Lalu kamu mau kembali ke planetmu begitu? Kamu mau pergi meninggalkanku Nara? Setelah kamu mendapatkan cintaku, kamu akan pergi begitu saja? Kamu akan meninggalkanku sendirian lagi, Nara? Aku.. aku sudah terlanjur terbiasa dengan kehadiranmu… aku…” cecar Chihoon.

Nara kemudian mendekati Chihoon. Ia menempelkan telapak tangannya di dada Chihoon.

“Nara pergi dulu. Tapi Nara titipkan hati ini padamu, Orabeoni. Tolong jaga baik-baik hati ini sampai Nara kembali. Nara mencintaimu, Orabeoni,” ujar Nara. Nara lalu mengecup singkat bibir Chihoon.

Setelah berbicara sebentar dengan Chihoon, Nara kembali pada Alice. Kemudian keduanya terbang ke langit meninggalkan Chihoon yang mulai menangis.

.

.

.

“Tumben sekali aku melihat seorang Chihoon tersenyum hari ini,” tegur stylist di tempat Chihoon bekerja. “Biasanya aku akan mendapati seorang model yang kerjaannya cemberut sambil menatap cermin dengan pandangan kosong. Ada apa denganmu hari ini, Chihoon? Apa kamu baru mendapat tawaran iklan atau apa?”

“Tidak ada apa-apa. Memangnya aku tidak boleh tersenyum?” gerutu Chihoon.

Si stylist tertawa mendengar ucapan Chihoon. Ia lalu merapikan semua peralatannya kemudian duduk di samping Chihoon.

“Bukannya begitu, tapi aku senang melihatnya. Kamu terlihat begitu hidup belakangan ini,” ujar Stylist tersebut. “Oh iya, ada model yang titip salam lagi padamu. Kudengar kamu sedang jomblo sekarang, jadi apa mau kukenalkan dengan model itu?”

Chihoon tersenyum mendengar tawaran stylist-nya. “Tidak, terimakasih Hyung. Tapi aku sudah memiliki seseorang di hati ini. Dan aku tidak akan mengkhianatinya.”

“Baiklah, kalau itu maumu. Padahal hari ini dia menjadi pasanganmu untuk pemotretan kali ini. Berhubung bulan depan sudah valentine,  jadi banyak pesanan untuk baju-baju couple.”

Tak lama terdengar suara gadis yang mengucapkan salam di luar ruang rias Chihoon.

“Ah sepertinya dia sudah datang. Awas ya kalau kau nanti jatuh hati padanya, karena model ini….”

Arraseo arraseo…” sela Chihoon sambil mendorong stylist-nya keluar ruang rias untuk menyambut model baru tersebut.

Sesampainya di studio foto, Chihoon mendapati sesosok baru yang kini tengah membungkukkan badannya berkali-kali pada setiap orang yang ditemuinya. Seorang gadis dengan rambut ikal panjang kecoklatan itu kini sudah berdiri dihadapan Chihoon sambil mengembangkan senyumannya. Chihoon pun menyambut gadis itu dengan begitu sumringah. Belum pernah Chihoon tersenyum selebar ini ketika bertemu orang baru, sampai-sampai orang-orang di studio foto ini bingung sendiri melihat reaksi Chihoon.

Annyeong haseyo. Joneun Kwon Nara imnida. Yeolsimhi halgeseumnida. Cho butagderimnida,” ujar gadis itu memperkenalkan dirinya pada Chihoon sambil membungkukkan badannya.

“Annyeong, Nara-ya. Oraenmanhiyeyo,” sapa Chihoon masih sambil tersenyum bahagia.

“Annyeong, Orabeoni. Oraenmanhida.”

.

.

Yeah selesai nara story..
FYI bee kayanya agak males buat ngelanjutin Hello Cupid ini,, soalnya mau fokus sama Goodbye~Hello dan Into Your World, Angel..
pdhl bee udah buat Yoonjo story,, tapi bakal diusahain publish tuh yoonjo story..

makasii buat yang udah mau baca 😀

Advertisements
FF – Hello Cupid!! | Nara Story | chapter 2 (end of Nara Story)

22 thoughts on “FF – Hello Cupid!! | Nara Story | chapter 2 (end of Nara Story)

  1. deernoonar says:

    baru baca whoaa keren! ditunggu ya yg yoonjo nya hehe. tapi kyknya aku pernah liat bee bikin project yoonjo exo hehe ato aku salah liat ya wkwk kkaebsong. ya pokoknya daebak deh ini ff

  2. Woaaa suka banget sama karakternya nara di sini, polos imut gimana gitu, jadi gemes sendiri hahaha xD

    itu si nara mantannya chihoon apabangetlah sumpah, ngapain coba mutusin chihoon kalo dy trnyata msi suka, lagian chihoon jg ga salah apa2 gitu .-.

    Jadi makhluk2 venus itu dtg ke bumi cuma buat bikin manusia jatuh cinta, trus ditinggalin gitu aja eon? 😮
    aq awalnya kasihan sm si chihoon, dy udah ngungkapin prsaannya tp ditinggal gt aj sm nara 😦
    untunglah akhirnya nara bisa balik lagi. Itu ga makan wktu 105 taun kan ya? Hehe..

    Klo mslh mirip gumiho sih mnrtku nggak jg, cuma ada bbrp scene yg ngingetin sm drama itu, tp ga bgtu mirip kok =)
    Nice FF eon =D

    1. hahaha aku aja yang bikin karakternya gemes banget ama nara..
      yupp,, makhluk venus datang ke bumi cuma buat mencari cinta biar mereka bisa jadi cupid gitu..
      nara balik ke bumi ga makan waktu 105 tahun kok,, hehehe

      mirip2 gumihonya palingan di adegan ujan itu aja kayanya yahh,, haha
      makasi ya ruum 😀

  3. Akhirnya,huuffhhh…Nara menjadi cupid sempurna dan ChiHoon ga galau lagi tiap hari,‎​Нɑɑ˘°˘нɑɑ˘°˘нɑɑ

    Ehemm….di tunggu ff into your worldnya yah ^^

  4. aick says:

    ooh, gara” mslah hujan tu ya yg bkin eonni jga bayangin gumiho…
    hahaha, chihoon bayangin alice kyk nenek”??? pdhal cantik kyk gtu.hahaha
    tu gmna carax nara bsa balik eon?? trus chihoon dah tw klo nara balik??? mian cerewet,penasaraan ><

    1. iya jadi berasa kaya si gumiho gitu si naranya disini..
      alice dibayangan chihoon kaya nenek2 gegara si nara selalu blg kalo alice itu yg ngajarin dia soal kehidupan korea 100 thn yg lalu,,

      cara baliknya?? entahlah… makanya aku skip gimana si nara bisa balik lg ke bumi #authorgagal
      chihoon tau karena feeling mungkin,, aku jg gak yakin…
      ngahahahahah sumpah dodol banget saya -_______-”

      yang penting semua bahagia lahh,, ㅋㅋㅋㅋ

    2. iya jadi berasa kaya si gumiho gitu si naranya disini..
      alice dibayangan chihoon kaya nenek2 gegara si nara selalu blg kalo alice itu yg ngajarin dia soal kehidupan korea 100 thn yg lalu,,

      cara baliknya?? entahlah… makanya aku skip gimana si nara bisa balik lg ke bumi #authorgagal
      chihoon tau karena feeling mungkin,, aku jg gak yakin…
      ngahahahahah sumpah dodol banget saya -_______-”

      yang penting semua bahagia lahh,, ㅋㅋㅋㅋ

      1. aick says:

        hahhahaha XD
        biarkan tu smw menjadi misteri ya eon.wkwwkwk XD
        iyaa tak apalah eoon. yg penting hepi endiiiing ヽ(^。^)ノ
        haahaha XD

  5. HIYAAAA…..
    Happy End…
    Mirip Gumiho tapi mirip ama MV SME. males ah ngapalinnya. #ditendang eonni.

    Aduuuhhh…
    Walau aku yakin happy end, tetep aja aku ikut deg-degan… hahahaha
    Naranya polos banget eon….
    Karakternya kuat.
    Cuma bagian end, rada kurang feelna. si cowokna ntu. hahaha
    Kurang nampol…

    Good Job eonnie… ppyeong ^^

    1. iya kaan yg kubilang,, begitu baca chapter 2 pasti bakalan keingetan ama Gumiho,,
      mv sme yg yg cewe bersayap itu ya?? kekeke

      aku suka ama karakternya nara disini,, mungkin karena nara-nya terlalu menonjol jd si chihoon berasa biasa aja kali yaa?? hahaha

      makasii ya saeng,,

      1. He-eh…
        Polos gitu…
        Aku khan hanya menebak eon… ga taunya pas. kekekee

        He-eh. cowoknya biasa aja. kurang nampol. kekeke

        Iya eonnie….

  6. Jempolku cuma 4. yang 1 minjem tetangga :”

    Yoonjoo sama couple baru?? Wow..
    Song Chan Hoo gak baru, eonni. T_T
    coba search di mbahgoogle aja.. bejibun fotonya si chanhoo 😀
    Samasama ^^

    1. ohh kayanya aku kenal dehh,,, yg ikutan ulzzang shidae generasi 6 bukan #ngarangbebas
      iya si Yoonjo ama couple baru,, niatnya sih ama park hyungseok,, cuma………..
      yah kita liat aja nanti couple berikutnya jadinya siapa..
      soalnya aku lg males lanjutin Hello Cupid,, mo fokus ama Angel EXO sama Goodbye~hello

      1. itu dia masalahnya,,, angel EXOnya mandek di KRIS…
        aku bingung mau nyiksa dia gimana,, he is just too perfect!!
        jadi rusak mood ngayal gegara dia -____-

  7. Huwaaaa… /lap ingus/
    Mau-nya ngoceh, tapi jadi mewek.

    Eonni, keren lo fanfic nya. Sumpah, keren. Aku terharu baca-nya :’)
    5 jempol buat eonni *eh

    Yoonjo sama si Chihoon juga?? atau beda lagi couple-nya ??
    Sama Song Chan Ho dong, eonni /maksa/ *eh
    Ditunggu next-nya, eonni. Fighting ^^

    1. ahahaha,,,
      aku jg terharu baca komen kamu,, waduh jempol kamu ganjil jumlahnya??

      yoonjo sama couple baru lagi,,
      song chan ho?? ulzzang baru ya??
      aku gak kenal .____.v
      kenalnya sekelsa chihoon, jihoo dan kawan2,, kekeke
      makasiii

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s