FF – Goodbye ~ Hello | Chapter1 | PG15


Title : Goodbye – Hello

Subtitle : (Chapter 1 – In the Rain) When the Word ‘Sorry’ Felt Like a Storm in Your Heart

Author : beedragon

Cast:

Hwang Yongbi (OC)

L Infinite as Kim Myungsoo / L

Naeun A-Pink as Son Naeun

Minho Shinee as Choi Minho

Genre : Romance

Length : Series

Rating / pairing : pg15 / Straight

Summary : Pernikahan bukanlah hal yang bisa dipermainkan begitu saja. Pernikahan itu mengikat sepasang manusia dalam cinta. Apa jadinya sebuah pernikahan jika orang-orang yang menjalaninya mengalami masalah mengenai percintaan.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Epik High – Pieces of You

In the Rain.. (when the word ‘Sorry’ felt like a storm in your heart)


.

.

“Bi-ya,” pria berpostur tinggi tegap itu melepas pelukannya terhadap gadis manis berambut ikal kecoklatan dihadapannya.

Gadis manis itu mendongakkan kepalanya agar bisa menatap wajah pria tampan itu. Si pria lalu menarik si gadis untuk duduk di hamparan pasir pantai sambil memandang langit yang mulai kemerahan karena sang matahari hendak kembali ke peraduannya.

“Sebelum hari ini berakhir aku ingin mengutarakan sesuatu,” ujar pria itu lagi. Pria itu kemudian berpindah duduk ke hadapan si gadis. Pria itu meraih tangan sang gadis dan menggenggamnya erat. “Menikahlah denganku.”

Si gadis membulatkan matanya, kaget akan ucapan pria dihadapannya ini.

“Oppa….”

“Aku ingin menjadikanmu milikku seutuhnya.” Pemuda itu kemudian berdiri dan meletakkan tangan kanannya di dada kirinya lalu berseru, “Aku berjanji pada langit dan bumi dan pada matahari yang akan tenggelam sebentar lagi bahwa aku, Choi Minho, akan menikahi gadis di hadapanku ini, Hwang Yongbi. Aku bersumpah akan membuat hidupnya bahagia dan memberikannya banyak cinta.”

Hwang Yongbi, gadis manis berambut ikal kecoklatan itu sudah menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia terharu mendengar sumpah yang diucapkan Choi Minho, lelaki yang sudah mengisi hidupnya selama empat tahun belakangan ini. Yongbi kemudian menyambut uluran tangan Minho yang membantunya untuk berdiri.

“Bi-ya, narang gyeolhon haejullae (maukah kau menikah denganku)??”

Hwang Yongbi menatap Minho tak percaya. Ia yang hanyalah seorang gadis yatim piatu yang bekerja sebagai designer mandiri. Lima tahun lalu merupakan titik balik kehidupannya dimana orangtuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat. Dan setelah setahun mengalami kesendirian, Minho datang membawakan cinta untuknya. Jadi bagaimana mungkin ia menolak pinangan pria yang sudah menemani hari-harinya selama 4 tahun belakangan ini. Ketika kebahagiaan ada di depan mata, siapapun pasti tidak ingin menolaknya bukan?

Yongbi hanya bisa mengangguk pelan menjawab lamaran Minho.

.

.

Yongbi merasa sangat asing dengan situasi ini. Tadi siang ketika Yongbi sedang menjahit gaun untuk pernikahannya dengan Minho, tiba-tiba saja datang dua orang pria bersafari yang menjemputnya. Walaupun tidak mengenali dua orang itu tapi Yongbi tetap mengikuti mereka. Yongbi bukan gadis bodoh yang mau begitu saja mengikuti dua orang asing itu kalau saja mereka tidak menyebutkan nama yang sangat ia kenal. Kedua orang itu bilang kalau mereka akan membawa Yongbi ke rumah Kim Daehwan, seorang kakek yang sangat Yongbi kenal.

Dan disinilah Yongbi sekarang. Di kediaman keluarga Kim dengan tanpa mengetahui apa yang akan terjadi. Ia hanya duduk di ruang tamu yang besar ini sambil menunggu keluarga Kim untuk menemuinya.

“Aigoo, Yongbi. Kamu sudah sampai? Maaf kami tiba-tiba menjemputmu seperti ini. Pasti kamu bingung sekali ya?” tegur seorang wanita paruh baya yang tampak masih cantik.

Yongbi hanya tersenyum kaku menyambut wanita itu. ia sungguh tidak bisa berpikir apa-apa sekarang.

“Kamu masih ingat Ahjumma? Saera Ahjumma? Astaga kamu mirip sekali dengan Miyoung,” ujar wanita itu lagi.

“Yeobo, itu kan sudah lama sekali. Yongbi pasti tidak ingat. Apa kamu tidak lihat dia terlihat kebingungan sekarang?” Kali ini datang pria paruh baya yang menyela ucapan wanita tadi. Pria paruh baya itu kemudian duduk di hadapan Yongbi bersama dengan wanita yang menyebut dirinya sebagai Saera Ahjumma. “Yongbi, kami baru bisa menemuimu. Kamu pasti bertanya-tanya apa yang sedang terjadi kan? Sebelumnya apa kamu mengingat kami?”

Yongbi mencoba tersenyum setulus mungkin untuk menghargai keluarga Kim ini. Kemudian ia berkata, “Aku tahu. Ini rumah Daehwan Harabeoji kan? Dan Ahjussi adalah Hyunsoo Ahjussi serta Ahjumma adalah Saera Ahjumma.”

“Aigoo dia mengingatku. Aigoo neomu yeppeo,” riang Saera Ahjumma.

Lagi-lagi Yongbi tersenyum menjawab ucapan keluarga Kim ini.

“Baiklah, kalau kamu mengingat kami. Aku akan langsung ke pokok pembicaraan saja ya,” sela Hyunsoo Ahjussi.

Tapi belum sempat Hyunsoo Ahjussi bicara, tiba-tiba datang seorang kakek tua yang tampak lemah diatas kursi rodanya. Yongbi menduga kalau kakek tua ini adalah Daehwan Harabeoji, sahabat dari kakeknya Yongbi semasa masih muda dulu.

Yongbi mengenal keluarga Kim sudah cukup lama. Dulu, semasa kakeknya masih hidup, Yongbi suka diajak berkunjung ke kediaman keluarga Kim ini. Tapi itu terjadi belasan tahun yang lalu, karena orangtua Yongbi pindah tugas ke Daegu, sementara Hyunsoo Ahjussi membawa keluarganya pindah ke luar negeri. Jadi bisa dibilang sudah hampir 17 tahun lamanya Yongbi tidak berhubungan lagi dengan keluarga Kim. Terlebih lagi sejak orangtua Yongbi meninggal, Yongbi benar-benar putus kontak dengan orang-orang terdekat orangtuanya.

“Yongbi..?” tegur kakek tua itu.

“Ne Harabeoji,” sahut Yongbi yang sudah beranjak mendekati Daehwan Harabeoji dan berlutut di hadapannya. “Harabeoji apa kabar? Apa Harabeoji merindukanku sampai meminta orang untuk menjemputku kesini? Harabeoji kan bisa meneleponku dan aku akan datang sendiri kesini,” ujar Yongbi ramah.

Yongbi sejak masih kecil dulu selalu diwanti-wanti orangtuanya untuk berbaik-baik dengan keluarga Kim. Karenanya Yongbi bisa bersikap ramah pada keluarga Kim walaupun sudah belasan tahun tidak bertemu.

“Mianhae, Harabeoji tidak menjagamu dengan baik,” ujar Daehwan Harabeoji sambil mengelus puncak kepala Yongbi. “Kamu pasti sudah mengalami hari yang berat harus hidup sendirian selama lima tahun belakangan ini.”

Yongbi menggeleng pelan. “Aniyo Harabeoji. Aku baik-baik saja. Sungguh. Aku yang harusnya minta maaf karena tidak pernah mengunjungi Harabeoji.”

“Karenanya, mulai sekarang aku yang akan mengurusmu. Sesuai dengan janjiku terhadap Jaebum. Aku sudah berjanji untuk menjaga keturunannya. Aku juga sudah berjanji untuk menikahkan keturunanku dengan keturunannya. Jadi mulai sekarang kamu tidak akan sendirian lagi, cucuku,” ujar Daehwan Harabeoji terbata.

“Ne?” Yongbi tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh kakek tua dihadapannya ini.

“Ne, karena aku akan menikahkanmu dengan Myungsoo, cucuku. Aku ingin memenuhi janjiku pada Jaebum.”

“Ehh?!!”

.

“Sebenarnya kamu dan Myungsoo sudah dijodohkan sejak kecil. Cincin yang kamu pakai adalah cincin pertunanganmu dengan Myungsoo. Ahh ternyata cincin itu muat dipakai olehmu,” ujar Saera Ahjumma.

Yongbi tampak seperti orang linglung sekarang. Karena tiba-tiba saja keluarga Kim bilang kalau mereka akan menikahkan putranya dengan dirinya. Ia menatap sepasang orangtua dihadapannya ini bingung, Yongbi bingung harus bereaksi seperti apa.

“Yongbi, Harabeoji sudah begitu terpukul begitu mengetahui kalau Sungjoo dan Miyoung kecelakaan pesawat. Sejak itu dia jadi sakit-sakitan. Dan sekarang setelah sudah agak sehat hal pertama yang dikatakan adalah untuk mencarimu dan menikahkanmu dengan Myungsoo, putra kami. Sesungguhnya Yongbi, ayahmu dan aku sudah sepakat untuk menikahkan kalian, karenanya kami membuat pertunangan sejak kalian masih  kecil,” kali ini ucapan Hyunsoo Ahjussi makin membuat Yongbi blank.

“Harabeoji selalu merasa bersalah karena sudah membiarkanmu hidup sendirian, Yongbi. Karenanya dia jadi sakit-sakitan seperti ini. Harabeoji ingin sekali segera melihat pernikahanmu dengan Myungsoo,” sahut Saera Ahjumma.

Ani, Ahjussi Ahjumma. Aku sungguh baik-baik saja. Aku tidak perlu dinikahkan dengan putramu, aku bahkan sudah bisa hidup mandiri selama lima tahun belakangan ini. Apa Ahjussi tahu kalau aku bahkan sudah punya butik sendiri? Aku sungguh baik-baik saja, jadi Harabeoji tidak perlu merasa bersalah begini,” sela Yongbi setelah berhasil mengembalikan kinerja otaknya.

“Ini bukan hanya keinginan Harabeoji. Tapi juga keinginan kakekmu dan orangtuamu Yongbi. Kami sudah membicarakan mengenai pernikahan ini bahkan sejak sebelum Sungjoo dan Miyoung meninggal.”

Bagai habis tersambar petir di siang bolong, otak Yongbi makin blank begitu mendengar fakta ini. Keluarga Kim yang adalah sahabat dari ayahnya, yang bahkan sudah menjalin hubungan sejak jaman kakek Yongbi masih hidup kini tiba-tiba datang dan ingin menikahkan Yongbi dengan keturunan mereka. Yongbi merasa dunianya berputar-putar. Bagaimana bisa ia akan menuruti permintaan mereka sementara Yongbi sendiri sudah memiliki kekasih dan akan menikah sebentar lagi?!

“Ahjussi.. aku.. aku..” gagap Yongbi. Mendadak otaknya tidak bisa diajak bekerja sama. Ia bahkan tidak tahu bagaimana caranya menolak.

“Kamu tidak perlu khawatir Yongbi. Mulai sekarang kami yang akan mengurusmu. Sebelum kecelakaan itu terjadi, kami dan orangtuamu sudah membahas masalah ini. Semuanya sudah disiapkan, bahkan rumah untuk kalian berdua sudah kami bangun,” ujar Saera Ahjumma.

Yongbi hanya membelalakkan matanya, bahkan ia lupa untuk menutup mulutnya –saking shocknya.

“Kamu tenang saja Yongbi, Myungsoo adalah anak yang tampan kok dan aku akan mendapat menantu yang begini cantik, Aigoo,” ujar Saera Ahjumma lagi sambil membelai kepala Yongbi.

.

.

“Ada angin apa tiba-tiba putra kebanggaan Eomma pulang ke rumah? Apa kamu sedang butuh uang atau apa?” tegur Saera Ahjumma pada seorang pemuda yang baru saja memasukki kediaman keluarga Kim.

Pemuda yang disapa Saera Ahjumma itu hanya mendengus menyahuti sapaan wanita tersebut. Ia langsung melengos meninggalkan Saera Ahjumma menuju ke kamar kakeknya.

“Harabeoji, kau sudah sehat?” tegurnya begitu mendapati kakeknya sedang duduk di kasurnya sambil menatap beberapa pigura.

“Ohh, Myungsoo-ya, kau sudah datang? Sini sebentar,” panggil sang kakek sambil menepuk-nepuk ruang kosong disebelahnya.

Myungsoo menuruti permintaan sang kakek dan duduk disamping kakeknya.

“Coba lihat ini Myungsoo, apa kamu ingat ini?” tanya kakek sambil menyodorkan satu pigura pada Myungsoo. “Ini diambil saat pesta pertunanganmu dengan putrinya keluarga Hwang. Lihatlah kalian saat itu…”

“Tunggu dulu,” potong Myungsoo. “Pertunangan?!” bingungnya.

Si kakek hanya tersenyum melihat reaksi Myungsoo. “Iya pertunangan. Kamu dan Yongbi sudah dijodohkan bahkan sejak kalian lahir. Dan sekarang kamu kan sudah besar, jadi Harabeoji ingin melihat kamu menikah dengan Yongbi.”

“Mwo?!!” Seru Myungsoo. “Apa-apaan ini?! Jadi aku disuruh pulang hanya untuk ini?! Harabeoji bagaimana mungkin Harabeoji tiba-tiba memintaku untuk menikahi gadis yang tidak kukenal?! Lagipula bagaimana dengan karirku?! Harabeoji jangan seenaknya mengatur-atur hidupku!”

“Myungsoo!!” bentak Saera Ahjumma yang sudah masuk kamar Daehwan Harabeoji.

Daehwan Harabeoji kini tampak sangat kesakitan. Sepertinya seruan-seruan Myungsoo membuat kinerja jantungnya jadi meningkat.

“Abeoji!!” panik Saera Ahjumma. Saera Ahjumma langsung menghampiri Daehwan Harabeoji seraya berteriak memanggil pelayan.

“Myungsoo apa yang sudah kamu lakukan?! Kamu mau membunuh kakekmu, hah?!”

.

Myungsoo duduk sambil menyilangkan lengannya di dada dan menatap malas sepasang orang tua dihadapannya.

“Bagaimana bisa kalian melakukan ini padaku?! Dijodohkan?! Kalian pikir aku ini apa?! Kenapa tidak mendiskusikan dulu denganku? Kenapa kalian seenaknya mengatur-atur hidupku!” ketus Myungsoo.

“Kenapa kamu berteriak-teriak seperti itu pada orangtuamu, Kim Myungsoo! tentu saja kami berhak mengatur hidupmu, kamu adalah anak kami,” sahut Saera Ahjumma.

“Lagipula kenapa kamu jadi panik begini? Menikah dengan Yongbi adalah keinginanmu sejak kecil. Sekarang kami sudah mengabulkan keinginanmu dan kamu malah marah-marah pada orangtuamu?!” sela Hyunsoo Ahjussi, ayah Myungsoo.

“Aku? Ingin menikah dengan anak itu? Appa, bagaimana mungkin aku punya keinginan seperti itu?! Lagipula bagaimana mungkin Appa menyahuti keinginan seorang anak berusia lima tahun dulu?! Ashh,” sahut Myungsoo frustasi.

“Ada apa denganmu Myungsoo? Kamu tidak sedang berhubungan dengan seseorang kan Myungsoo?” selidik ibunya. “Eomma benar-benar akan mengasingkanmu kalau kamu diam-diam sudah punya pacar. Kamu harus menikahi Yongbi, ini adalah janji Eomma pada Eommanya Yongbi.”

“Mana ada yang mau dengan Myungsoo, Yeobo. Anak ini bahkan terlalu acuh untuk lingkungan sekitarnya. Gadis manapun tidak akan ada yang betah,” ujar ayah Myungsoo.

Myungsoo hanya mendengus mendengar sindiran orangtuanya. Memang tidak ada yang memahami perilakunya sebaik orangtuanya ini. Tapi tetap saja ia tidak terima walaupun apa yang diucapkan orangtuanya itu benar adanya. Dan lagi yang membuat Myungsoo makin kesal adalah betapa kedua orangtuanya begitu memaksa dirinya untuk menikahi gadis yang dirinya tidak kenal.

“Ini adalah permintaan kakekmu. Kamu akan kami nikahkan dengan cucu Hwang Jaebum Harabeoji. Kamu tahu kan betapa Hwang Jaebum Harabeoji sudah berjasa besar pada keluarga kita. Lagipula kamu memang sudah dijodohkan dengan gadis ini sejak kalian masih kecil. Dan kamu tahu akibatnya kalau kamu menolak semua ini, itu sama saja kamu membunuh kakekmu sendiri. Gara-gara kamu Harabeoji jadi sakit lagi. Karenanya kamu harus datang minggu ini, itu juga kalau kamu masih menganggap kami sebagai orangtuamu.”

.

.

“Mianhae Oppa, aku tidak bisa. Oppa tahu kan kalau kita berbahaya. Setiap gerakan kita bisa membuat papparazi bahagia. Oppa tidak ingin menghancurkan karir yang baru aku bangun kan? Kalau Oppa sudah mengerti, aku sudahi pembicaraan ini. Annyeong.”

Pemuda itu masih saja menempelkan ponselnya di telinga. Padahal orang yang diteleponnya barusan sudah memutus sambungan telepon mereka. Akhirnya pemuda itu memandangi ponselnya dengan hampa. Gadis yang barusan berbicara di telepon dengannya sukses membuat hatinya bergejolak.

“Aku selalu memikirkanmu, tapi apa pernah kamu mencoba memikirkanku? Kamu egois, Naeun,” lirihnya.

“L-ya, bersiap. Set sudah  rapi. Kali ini adegan ke 108. Kamu sudah hapal naskahnya bukan? Kali ini adegan Harang ditinggal Yura,” tegur pria bermata sipit yang tengah sibuk dengan computer tablet ditangannya.

“Aku tidak mau berakting, Hyung” sahut pemuda tersebut.

Pemuda itu tampak meremas sebuah tabloid dengan geramnya. Berita yang dibawa orangtuanya kemarin saja sudah cukup membuat buruk moodnya hari ini, ditambah headline berita yang terpampang di halaman utama tabloid yang dipegangnya. Berita yang menyebutkan kalau dirinya tengah terlibat skandal dengan rekan sesama artis.

“Apa lagi ini?!” Pria-berkomputer-tablet itu langsung melancarkan death-glarenya melihat artis dihadapannya ini. “Astaga, kenapa aku harus mengurusi artis yang moody-an sepertimu. Dosa apa aku di masa lalu sampai harus mendapatkan seorang L sebagai artisku! L, dari kemarin kamu menolak berakting. Jangan sampai aku menggunakan kekerasan padamu.”

L hanya menutup satu kupingnya dengan malas. Ia lalu berdecak kesal pada manjernya. “Aku malas. Aku sedang tidak mood. Kamu bilang saja kalau aku sakit.” L pun berlalu dari hadapan manajernya.

“L!! Yah!! Eoddiga!! YAH KIM MYUNGSOO!!” seru manajernya.

“Namaku L!! Jangan panggil aku Kim Myungsoo!!” seru L pada manajernya sebelum ia masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Sang manajer hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah L. Ia sudah mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. “Ashhh aku harus bilang apa pada sutradara. Anak itu benar-benar membuatku gila. Hanya karena satu wanita dia jadi seperti itu. Ash!!”

.

.

Yongbi menatap kolam air mancur di hadapannya dengan hampa. Pandangannya kosong. Begitu juga dengan pikirannya. Ia sedang mencari cara untuk menolak permintaan keluarga Kim. Mengingat betapa bahagianya keluarga Kim ketika mengutarakan keinginannya. Selain itu, perjodohan ini juga merupakan keinginan orangtuanya Yongbi. Dan Yongbi baru tahu kalau kecelakaan orangtuanya terjadi ketika mereka hendak mengunjungi keluarga Kim untuk membahas masalah kelanjutan perjodohan dirinya.

Karenanya Yongbi memutuskan untuk menceritakan masalah ini pada Minho. Yongbi ingin agar Minho mau menemaninya untuk menemui keluarga Kim dan menolak permintaan mereka. Dan kini rasanya kepala Yongbi mau pecah karena bingung memikirkan cara untuk menceritakan masalah ini pada Minho.

“Bi-ya,” tegur Minho yang baru saja sampai di taman dekat tempat kerja Yongbi.

“Oh, Oppa, wasseo?” sahut Yongbi dengan kaku.

Minho terlihat ragu untuk menghampiri Yongbi. Ia lalu memilih untuk duduk di sebelah Yongbi agak sedikit menjaga jarak darinya. Tapi Yongbi tidak menyadari hal itu. Pikirannya disibukkan oleh semua hal berbau perjodohan itu.

“Aku..” ujar mereka bersamaan.

“Kamu saja duluan, Bi,” sahut Minho.

“Aku lupa, Oppa saja duluan,” sahut Yongbi.

Yongbi lalu menundukkan kepalanya. Ia kembali merangkai kata yang baik agar Minho tidak salah paham padanya nanti.

Mianhae,” ucapan Minho itu membuat Yongbi langsung menoleh kearahnya.

Tentu saja Yongbi bingung, kenapa tiba-tiba Minho meminta maaf padanya.

Uri geumanhaja. (Kita berpisah saja)”

Yongbi merasa kalau dirinya habis dicabut sebagian jiwanya. Yongbi langsung lemas seketika. Ia menatap Minho tak percaya. Ia bingung akan maksud dari ucapan Minho.

Ne?” bingung Yongbi.

“Hubungan kita selesai sampai disini. Maaf tapi aku melanggar sumpahku. Kamu boleh mengutuk sikapku ini.”

Yongbi memejamkan matanya berkali-kali berharap ini adalah halusinasi. Yongbi juga menggelengkan kepalanya dan menolak kenyataan ini. Tapi apa yang diucapkan Minho selanjutnya menghancurkan semua harapannya.

“Aku tidak akan menikahimu. Aku harap kamu bisa hidup dengan baik, Bi. Dan lupakanlah aku.”

Minho kemudian berdiri dan memunggungi Yongbi. Segera saja Yongbi ikut berdiri untuk menahan Minho.

Dengan suara bergetar ia memohon pada Minho. “Lelucon apa ini, Oppa? Wae? Apa aku melakukan kesalahan lagi? Aku sudah berusaha mempertahankanmu seperti yang kamu minta dulu. Kenapa kamu seperti ini lagi?”

“Bencilah aku. Kamu harus membenciku, Bi.” Minho kembali memberikan alasan yang tidak irrasional.

Yongbi sungguh tidak mengerti akan apa yang sedang terjadi dengan Minho. “Aku.. aku akan mempertahankanmu. Aku akan mengingatkanmu lagi Oppa. Kamu bilang untuk mengingatkanmu jika kamu lupa bukan? Ingat Oppa, kamu sendiri yang bilang kalau kamu tidak bisa hidup tanpaku. Kenapa kamu melakukan ini padaku?!!” Yongbi mulai menangis.

Mianhae.” Minho berlalu dari hadapan Yongbi.

Yongbi langsung mengejarnya dan menahan lengannya. Masih terisak ia berusaha menahan agar Minho tidak pergi. “Jebal, aku tidak bisa hidup tanpamu, kamu tahu itu. Waeyo Oppa?”

Minho pun akhirnya berbalik menghadap Yongbi. Ia kemudian menarik lengan kanan Yongbi dan menarik cincin yang dipakai Yongbi. Ia juga melepas cincin pasangannya dari jari manisnya. Minho menggenggam dua cincin itu dan menunjukkannya pada Yongbi.

“Ini lupakan saja. Ini sudah tidak berguna lagi.” Minho kemudian melempar cincin itu ke semak-semak di seberang kolam air mancur. Lalu Minho menyentakkan tangan Yongbi agar melepas dirinya.

Yongbi segera saja berlari mencari cincinnya. Ia menerobos semak-semak mencari kearah mana Minho melempar cincin mereka.

“Hiks, Oppa. Jangan tinggalkan aku, kumohon,” isak Yongbi sambil bergumul dengan rerumputan.

Yongbi masih terus mencari sementara hujan mulai mengguyur bumi. Badan Yongbi mulai kuyup akibat air hujan. Setelah sekian lama mencari akhirnya Yongbi berhasil menemukan sepasang cincinnya.

“Oppa aku sudah menemukannya, jadi jangan…” seru Yongbi. “…tinggalkan aku.”

Minho sudah tidak ada disana. Minho sudah benar-benar meninggalkannya. Tangis Yongbi pun semakin kencang. Ia menjerit memanggil nama Minho, tapi yang dipanggil tak kunjung datang. Yongbi pun meratapi kehilangannya sambil menggenggam erat cincinnya. Membiarkan air hujan membasahi tubuhnya, menyamarkan air mata yang terus mengaliri pipinya.

Ia pernah mengalami hal ini sebelumnya, hal dimana Minho memutuskan untuk menjauhinya. Tapi kala itu Minho kembali untuk memeluknya. Dan sepertinya saat ini Minho benar-benar sudah tidak menginginkannya lagi.

.

Yongbi duduk terpaku menatap segelas coklat panas dihadapannya. Airmatanya masih terus mengalir. Ia masih terisak pelan. Sementara tangannya terus menggenggam erat kedua cincinnya.

“Ganti bajulah dulu Bi. Nanti kamu bisa sakit,” tegur Yeoshin, sahabat Yongbi sejak dari jaman sekolah dulu.

Yeoshin membungkus badan Yongbi yang sudah basah kuyup dengan handuk besarnya. Yeoshin juga mengeringkan rambut panjang Yongbi dengan handuk kecil. Ia terlihat pilu begitu mendapati Yongbi tiba di depan rumahnya dalam keadaan sangat berantakan. Ia juga belum tahu alasan mengapa Yongbi jadi seperti ini.

Dulu, lima tahun lalu, Yongbi juga pernah terlihat sangat kusut dan menyedihkan seperti saat ini. Itu adalah ketika orangtuanya dikabarkan meninggal akibat kecelakaan pesawat. Dan sekarang begitu melihat Yongbi yang terus menangis sambil menggenggam dua cincin ditangannya, sepertinya Yeoshin sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi.

“Dia meninggalkanku, Eonn. Dia mencampakkanku. Dia tidak akan menikahiku,” lirih Yongbi dengan suara parau.

Yeoshin langsung memeluk Yongbi. Ia mengusap-usap punggung Yongbi untuk memberi ketenangan. Tapi Yongbi malah menangis semakin kencang.

“Dia tidak akan menikahiku! Apa yang harus aku lakukan, Eonni?!” jerit Yongbi.

Ia terus menangis. Bahkan ketika airmatanya sudah tidak bisa keluar ia tetap menangis. Ia bahkan mencengkeram baju Yeoshin untuk menahan perih di dadanya.

“Aku tidak akan menikah. Apa yang harus kukatakan pada yang lain.  Aku harus bilang apa pada Key? Aku sudah memintanya untuk membuatkan jas untuk Minho. Apa yang harus aku lakukan?”

“Tenanglah Bi.” Yeoshin berusaha menenangkan sahabatnya ini. “Kamu akan menikah. Yakinlah itu. Jas yang dibuat Key akan dipakai oleh pengantin prianya. Jadi kamu tenanglah.”

Yongbi masih menangis.  Kisah cintanya yang sudah terjalin selama empat tahun kali ini benar-benar berakhir tanpa sebab. Minho bahkan tidak memberitahu kenapa ia melakukan hal ini pada Yongbi. Minho mencampakkannya begitu saja, bahkan ketika pernikahan mereka sudah di depan mata.

.

.

“Yah HwangYong! Kenapa dengan wajahmu?” tegur Key begitu Yongbi tiba di tempat mereka bekerja.

Yongbi hanya merapikan kacamatanya agar Key tidak memperhatikan matanya yang membengkak. Yongbi pun menghindari bertatapan langsung dengan Key, karena temannya yang satu ini sangat cepat dalam membaca situasi. Yongbi tidak ingin teman-temannya tahu kalau ia sudah dicampakkan Minho.

“Ah iya Hwangyong, itu sudah ada yang menunggumu,” ujar Key lagi.

“Siapa?” tanya Yongbi tanpa menoleh kearah Key.

“Artis. Itu lohh, pemain drama Infinite Love, yang jadi Harang, tokoh utamanya. Dia yang berusaha mendapatkan cinta Yura. Ternyata dilihat secara langsung orangnya lebih tampan dari di televisi. Ahh iya apa kamu tahu si Harang sekarang sudah berhasil…”

“Key,” potong Yongbi. “Kamu kan tahu aku gak pernah nonton tv. Kalaupun aku nonton aku tak pernah melihat drama. Jadi percuma saja kamu cerita panjang lebar, aku tidak akan tahu.”

“Ya ya, aku tahu kamu kalau nonton tivi hanya menonton acara olahraga dimana Minho ada kan,” cibir Key. “Orangnya menunggu di ruangan VIP,” sahut Key sambil menunjuk ke lantai dua.

Yongbi terdiam. Ia masih belum terbiasa dengan hal ini. Hal dimana ketika orang lain menyebut nama Minho. Hal dimana Yongbi tidak bisa merasa bahagia tapi malah ingin menangis. Akhirnya Yongbi langsung beranjak ke ruangannya dan mengambil beberapa sketsa untuk tamu agungnya.

Ketika sampai di ruang VIP di lantai 2 kantornya, Yongbi langsung bertemu dengan dua orang pemuda yang sudah menunggunya. Yongbi bisa menebak diantara kedua manusia ini, mana yang adalah artis yang tadi diceritakan Key. Karena ia melihat seorang pemuda yang sedang duduk bersandar sambil menyilangkan kakinya dengan kacamata hitam tak lepas dari matanya. Yongbi merasa pemuda itu sangat arogan bahkan dalam posisi seperti itu. Sedangkan pemuda yang sedang menghampiri Yongbi kini sudah pasti adalah manajernya. Terlihat dari mata sipitnya yang hampir menghilang menandakan ia harus kerja keras untuk mengikuti artisnya.

“Desainer Hwang?” tegur pria bermata sipit itu. “Saya Lee Sunggyu, manajernya L. Saya mendapat rekomendasi dari salah satu teman, katanya rancangan Nona Hwang bagus. Jadi saya mau memesan sebuah setelan untuk premier film terbaru L.”

Bahkan Yongbi belum mempersilakan si manajer itu untuk duduk, tapi manajer yang bernama Lee Sunggyu itu sudah berbicara panjang lebar pada Yongbi. Setelah mempersilakan Lee Sunggyu untuk duduk, Yongbi langsung mengeluarkan sketsa rancangannya.

“L-ya, dilihat dulu kamu mau pakai apa?” tegur Sunggyu pada pemuda di sebelahnya. Tapi pemuda itu tetap pada posisinya, tak bergerak sedikitpun.

“Sepertinya dia tidur,” terka Yongbi.

Dan benar saja, artis bernama L itu benar-benar tertidur. Setelah dibangunkan, ia langsung menatap malas semua sketsa yang diberikan Yongbi. Bahkan ketika Yongbi menjelaskan beberapa model yang sedang trend saat ini, pemuda bernama L itu masih saja memasang muka datar.

“Tidak ada yang menarik,” ketus L sambil meletakkan semua sketsa Yongbi secara sembarangan di meja.

Yongbi langsung menghela napas mendengar reaksi L. Ia mencoba bersabar pada pelanggan pertamanya di hari yang buruk ini. Sambil tersenyum Yongbi berkata, “Atau mau saya buatkan sketsa baru?”

“Iya, silakan kalian diskusi mengenai pakaiannya, saya mau permisi dulu, mau menelepon sutradara,” sela Sunggyu.

Setelah Sunggyu pergi, L langsung membenarkan posisi duduknya. L menatap Yongbi lekat. Menyadari kalau L sedang memperhatikannya, Yongbi langsung menundukkan wajahnya dan menyibukkan diri dengan membuat sktesa baru untuk L.

“Kamu habis menangis Nona Hwang?” tegur L.

Deg!

Sepertinya make-up tebal Yongbi hari ini tidak berhasil menyembunyikan kesedihannya. Ia akhirnya berhenti menggambar dan balas menatap L.

“Ada apa memangnya, L-ssi? Apa aku terlihat seperti habis menangis? Memang seperti inilah wajahku. Selalu terlihat sembab,” bohong Yongbi.

“Aku juga tidak peduli kau habis menangis atau tidak. Tapi bisakah kau membuatkan sebuah gaun untukku?” sahut L acuh.

Yongbi langsung mengernyitkan alisnya. Gaun? Seorang pemuda meminta dibuatkan gaun? Apa dia memiliki kelainan atau apa? Bukankah gaun itu untuk perempuan?

“Ahh ini tak seperti yang kamu pikirkan. Aku mau memberikan gaun untuk seseorang. Jadi buatkan aku gaun,” ujar L.

“Ah baiklah. Mau model seperti apa? Dia suka warna apa? Ukurannya bagaimana?”

L memandang Yongbi malas. “Mana aku tahu ukuran dan seleranya. Kamu buat saja sesukamu dan sesuai ukuranmu. Dia gak jauh beda denganmu kok badannya.”

L lalu beranjak meninggalkan Yongbi. Melihat tingkah aktor itu, Yongbi hanya bisa mengurut dada.

“Orang itu, dia bahkan sudah pergi duluan sebelum memilih baju mana yang akan dipakai untuk premiernya. Ckckck,” gerutu Yongbi.

Ketika L membelakanginya, Yongbi melihat ada scraf rancangannya yang tersangkut di syal yang dipakai L. Segera saja Yongbi berdiri dan menarik scrafnya tersebut. Tapi ternyata tindakannya tersebut berakhir fatal. Yang Yongbi tarik bukan hanya scrafnya melainkan juga syal yang melilit leher L. Segera saja L terjengkang ke belakang dan menimpa tubuh Yongbi.

Geram, L langsung berbalik menghadap Yongbi yang masih terlentang dibawahnya. “ Apa yang kamu lakukan?! Kamu mau membunuhku?! Apa kau antifansku?!” bentak L.

“A.. aniyeyo. Scrafku tersangkut jadi.. aku..” Yongbi terdiam. Ia merasakan nyeri di kepalanya. Sepertinya ia terjatuh cukup keras dan kepalanya terantuk sesuatu, ditambah L juga menimpa dirinya.

“Omoo!!” suara cempreng Key mengagetkan mereka.

L menoleh kearah Key yang sudah menutup wajahnya sambil menyisakan tempat untuk mengintip di sela-sela jarinya. L pun menyadari kalau posisinya saat ini bisa membuat orang salah paham. Segera saja L berdiri seraya merapikan pakaiannya. Sementara Key langsung menghampiri Yongbi dan membantunya berdiri.

“Maaf aku mengganggu kalian. Aku tidak tahu kalau..” ujar Key.

“Ini gak seperti yang kau pikirkan!” seru L. “Dan kau! Pokoknya buatkan pesananku, sebelum minggu harus sudah selesai! Arraseo!” tunjuk L pada Yongbi.

Yongbi hanya mengangguk lemah. Ia merasa pusing sekarang. Dan kini ia merasa ada sesuatu yang mengalir dari hidungnya.

“Omo, Hwangyong!! Kamu berdarah!!” panik Key begitu melihat darah segar mengalir dari hidung Yongbi.

Key langsung mengambil scraf dari tangan Yongbi untuk membersihkan hidung Yongbi. Tapi Yongbi langsung menolaknya, tentu saja karena itu adalah scraf rancangannya jadi tidak boleh ternoda sedikitpun. Tak lama kemudian Yongbi pun pingsan dan membuat panik Key dan L –yang sudah terlihat khawatir sejak melihat darah keluar dari hidung Yongbi.

.

.

.

.

L melajukan mobilnya menuju apartemennya. Sesampainya di apartemennya, L disambut oleh seorang gadis yang baru saja keluar dari kamar mandinya.

“Oppa..? Kau sudah pulang?” tegur gadis yang tengah memakai pakaian mandi dengan rambut yang dibungkus handuk.

Begitu masuk ke apartemen tersebut L langsung menaruh kotak besar yang tadi dibawanya ke meja terdekat. “Pakai itu,” titahnya.

Gadis itu sungguh bingung dengan sikap L. Ia akhirnya menuruti perkataan L dan mulai membuka kotak besar tersebut. Ternyata isi kotak tersebut adalah sebuah gaun cantik berwarna peach dengan aksen brukat yang membuat seolah pakaian itu tembus pandang.

“Apa ini?”

“Pakai itu, dan kita akan menemui orangtuaku malam ini. Aku akan melamarmu dihadapan mereka. Jadi menikahlah denganku, Naeun,” tegas L.

“Ne? menikah? Oppa kau tahu kan aku..”

L langsung berlutut di hadapan Naeun. Ia menatap Naeun penuh harap. “Kumohon, menikahlah denganku. Kita akan lawan gossip-gossip itu. Kamu mencintaiku kan? Apa kamu mau melihatku dinikahkan dengan orang lain??”

“Aku mencintaimu, Oppa. Tapi apa kamu pikir aku akan menikahimu? Itu tidak mungkin. Aku masih muda. Karirku juga sedang menanjak. Kalau aku menikah denganmu itu sama saja aku menghancurkan kerja kerasku,” sahut Naeun.

L terdiam mendengar ucapan Naeun. Hanya dia gadis yang mau dinikahkan denganmu, kalimat ayahnya kembali terngiang di telinganya. L tak percaya Naeun menolak lamarannya. Bagaimana bisa gadis yang setahunan belakangan ini sudah tinggal dengannya menolak ketika dilamar olehnya.

“Tapi kalau kita menikah, kita bisa menjadi pasangan yang paling serasi. Semua pasti akan mendukung kita,” kali ini suara L terdengar pasrah.

Mianhae. Tapi kamu tahu sendiri, bahkan ketika aku satu acara denganmu, semua fansmu langsung mencaci maki aku. Bagaimana bisa aku menikahimu sementara seluruh dunia membenciku. Lihat saja realitanya Oppa, wanita manapun yang dekat denganmu akan menjadi bulan-bulanan antifans. Apa kamu mau menyakitiku seperti itu?”

.

.

.

Yongbi berdandan sangat cantik hari ini. Ia sudah memutuskan untuk bergerak maju dan melupakan masa lalunya yang menyakitkan. Ia berusaha melupakan Minho yang sudah mencampakkannya. Yongbi sudah mendoktrin dirinya kalau ia masih bisa hidup tanpa Minho. Meskipun hatinya sakit tapi ia tetap harus melanjutkan hidupnya bukan? Ia tak ingin larut dalam kesedihannya.

Lagipula sekeras apapun Yongbi mencoba mengejar Minho kembali, pemuda itu tidak akan kembali padanya lagi. Sudah beberapa hari ini Yongbi mencoba menghubunginya dan mengunjungi apartemennya, tapi Minho seolah menghilang ditelan bumi. Teman-temannya sesame atlet pun tidak ada yang tahu Minho pergi kemana. Yongbi benar-benar sudah kehilangan jejak Minho. Karenanya Yongbi memutuskan untuk melupakan Minho.

Hari ini Yongbi memutuskan untuk menghadiri undangan keluarga Kim. Ia ingin menolak tawaran keluarga Kim yang ingin menjodohkannya dengan anak mereka. Kalaupun tidak diperbolehkan, maka Yongbi ingin meminta agar perjodohan dan pernikahan itu diundur waktunya. Karena Yongbi tidak yakin bisa menerima pernikahan ini atau tidak. Sementara hatinya sendiri sudah tertutup dan Yongbi juga tidak ingin pernikahannya terjadi karena paksaan.

Yongbi tiba disebuah restoran Jepang tempat ia janjian dengan keluarga Kim. Segera saja pelayan restoran menggiringnya ke bilik tempat keluarga Kim menunggu. Begitu masuk ke salah satu bilik restoran, Yongbi langsung disambut hangat oleh keluarga Kim. Ini adalah sesuatu yang sangat Yongbi rindukan, kehangatan sebuah keluarga.

“Yongbi, sebentar lagi Myungsoo datang. Harap dimaklumi ya, dia itu kan aktor jadi jam kerjanya tidak tentu,” ujar Hyunsoo Ahjussi.

“Aktor?”

“Ne, kamu tahu drama terbarunya? Infinite Love? Drama itu meraih rating tertinggi disepanjang sejarah dunia pertelevisian. Dia juga banyak mendapatkan penghargaan-penghargaan serta iklan disana-sini. Sekarang mukanya bertebaran dimana-mana,” cerita Saera Ahjumma antusias.

“Infinite Love?” Yongbi merasa tidak asing dengan judul drama itu.

“Iya Infinite Love. Myungsoo yang menjadi Harang, tokoh utamanya. Kamu tahu kan?”

“Pemain drama Infinite Love, yang jadi Harang, tokoh utamanya…” Yongbi teringat akan ucapan Key beberapa hari yang lalu. Jangan-jangan Myungsoo yang dimaksud disini adalah…

“Annyeong haseyo, Eomma Appa maaf aku terlambat,” sapa seorang pemuda yang baru masuk bilik.

“Ah lihat siapa yang sudah datang. Myungsoo-ya ayo cepat duduk. Ini Yongbi, kalian suka bermain bersama jaman masih kecil dulu,” riang Saera Ahjumma.

Yongbi pun menoleh kebelakang untuk memastikan seperti apa orang yang akan dijodohkan dengannya, walaupun Yongbi sudah bisa menebak siapa orangnya. Dan benar saja dugaannya, pemuda arogan yang membuat kepalanya mengalami gegar otak ringan kemarin dulu kini sudah muncul dihadapannya.

“I.. ini yang namanya Yongbi?” bingung Myungsoo. “Bukannya namamu Hwangyong?”

“Jadi Kim Myungsoo itu adalah L, si Harang dari drama Infinite Love?!”

 

.

.

.

To Be Continued

Sebelumnya ff ini tercetus dari mimpi2 gaje bee yang hadir kaya drama.. ceritanya di mimpi bee mo nikah ama menong, awalnya bee nolak gitu tapi akhirnya pasrah dinikahin ama dia,, tp dimimpi berikutnya (mimpinya bersambung dong udah kaya drama .___.) bee dijodohin ama L.. aigoo… -___-

Agak gaje sih ceritanya,, namanya juga ngikutin mimpi.. disini pasti bakal dibuat pusing ama cerita-cerita gaje dari mimpi bee.. oia,, ini saingan dari FF Another Boy nya winhee,, awalnya dia yang menerjemahkan mimpi aku ini ke ff, dan sekarang aku buat saingannya, yah secara cuma aku yang tau apa aja yang terjadi di alam mimpi itu..

buat yang udah kasih saran untuk judul FF ini aku ucapin makasih.. buat arum sarannya sangat membantu makasiii *lempar key*

Terima kasih udah mau baca ff mimpi gaje ini..

Ahahaha ~ ANNYEONG!!

Advertisements
FF – Goodbye ~ Hello | Chapter1 | PG15

33 thoughts on “FF – Goodbye ~ Hello | Chapter1 | PG15

  1. Apa alasan minho tiba2 mutusin hubungan ma yongbi..
    el..lepasin naeun.. Segera nikah ma yongbi.. Naeun nya jg lbh mentingin karir.. Pengen yongbi-el cepet2 nikah..

  2. Baru nemu nih ff. Susah nyari ff l-oc yg chapteran. Bagus ceritanya. Nikah? Itu l nikah sama yoonbi buat manasin si naeun. Apa cuma kawin kontrak? Bikin penasaran dehh

  3. hai hai unn… mian baru muncul (semoga masih ingat aq)
    entah kenapa tiap baca cerita nie selalu teringat “turn back time” … apa karna castnya sama ato cuma perasaanq aja kalo ceritanya nyambung banget….
    paling suka type cerita ini… lanjut….

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s