FF – THIS IS NOT A LOVE STORY | Chapter 5 | PG15


Title : This is Not a Love Story

Subtitle : (Chapter 5) There is a Secret About Us

Author : beedragon

Cast:

Naeun A-Pink as Son Naeun

L Infinite as Kim Myungsoo

Other Cast:

Son EunSeo as Son Eunseo

Eunji A-Pink as Jung Eunji

Genre : Romance, Sad, Friendship

Length : Series (on going) [ Chapter I, II, III, IV ]

Rating / pairing : pg15 / Straight

Summary : Naeun tak pernah membayangkan jika hidupnya yang selama ini datar-datar saja akan berubah menjadi begitu berwarna hanya karena seorang pria. Pertemuannya dengan Kim Myungsoo membuat hari-harinya yang begitu kelabu menjadi berwarna. Myungsoo memberinya banyak rasa, mulai dari kagum, suka, cinta, hingga duka.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Super Junior – Believe

There Is a Secret About Us

.

.

I promise, I swear under the heavens.

I’ll pray beneath the moon to never make you cry.

This night is a blessing, the day that we met

The moon is out in the sky and the stars are smiling

I wish that your smile won’t be erased as I pray

for these happy days to continue

= SUPER JUNIOR – BELIEVE =

.

.

.

Berhubung ibu Naeun sedang ada dinas di luar kota –dengan membawa serta Sekretaris Seo bersamanya– Naeun jadi memiliki waktu bebas bersama Myungsoo. Dan hari ini  Naeun memutuskan untuk bermain ke apartemen Myungsoo –karena bosan menghabiskan waktu di rumahnya.

Begitu sampai di apartemen Myungsoo, sambil setengah berlari Naeun langsung menuju ke kamar yang ditunjuk oleh penjaga gedung.

“Nomor 205, dua kosong lim…” langkah Naeun berhenti di depan pintu bernomor 204. Kakinya terpaku melihat beberapa meter di depannya, persisnya di kamar 205 –kamar Myungsoo– sudah ada seorang perempuan yang baru saja keluar dari sana.

“Eunseo-ssi,” gumam Naeun.

Ia cukup kaget melihat Eunseo ada disini. Dan hei, Eunseo baru saja keluar dari apartemennya Myungsoo! Mengingat ini adalah jam sembilan pagi, membuat Naeun bertanya-tanya apa yang dilakukan Eunseo di apartemen Myungsoo sepagi ini.

Kalau Naeun adalah Eunji mungkin ia sudah menegur Eunseo dan bertanya apa yang sedang dia lakukan di apartemen Myungsoo. Tapi sayangnya Naeun adalah Naeun, dimana ia akan menyimpan rapat-rapat semua pikirannya. Dan bodohnya Naeun masih saja berdiri diam sambil memandangi Eunseo yang sudah berjalan kearahnya.

“Naeun-ssi?” tegur Eunseo. Ia tampak senang melihat Naeun disana. “Kamu tinggal disini?”

Setelah jeda beberapa saat Naeun baru bisa membuka mulutnya untuk menyahut sapaan Eunseo. “Annyeonghaseyo, Eunseo-ssi. Kamu ada di Seoul,” sahut Naeun canggung.

“Ahahaha, aku mengunjungi..” Eunseo menoleh ke pintu kamar Myungsoo. “…adikku. Ahh apa kau ada waktu? Aku belum mentraktirmu waktu di Jeju. Sebagai ucapan terima kasih karena sudah menemukan dompetku,” Eunseo mengajak Naeun.

“Aku.. ehm.. tapi..” ingin Naeun menolak tapi sulit rasanya. Disatu sisi ia ingin segera bertemu Myungsoo tapi disisi lain ia juga ingin mencari tahu siapa sebenarnya Eunseo ini.

“Oh, ayolah. Aku memaksa. Jarang-jarang aku mau berbagi cerita tentang Myungsoo,” ujar Eunseo sambil tersenyum.

Naeun terhenyak. Ia cukup kaget mendengar Eunseo mengucapkan nama Myungsoo di hadapannya.

“Kaget? Bingung darimana aku tahu? Nanti juga kalau kamu masuk ke apartemennya Myungsoo, kamu akan tahu,” ujar Eunseo lagi masih dengan senyum manisnya. “Jadi bagaimana kalau kita ke café di seberang.”

.

.

.

“Sebelumnya aku mau meminta maaf padamu. Kata-kataku waktu itu pasti membuat hatimu gundah,” Eunseo membuka pembicaraan diantara dirinya dan Naeun.

“Kalimat yang mana?” bingung Naeun.

Maaf karena tidak bisa datang. Tapi kamu tahu aku masih mencintaimu,” Eunseo mengulang kalimat yang ia ucapkan di telepon dulu. “Aku tahu yang mengangkat telepon itu bukan Myungsoo. karena ia tidak pernah memutus sambungan teleponku.”

Naeun terdiam. Ia jadi tidak enak terhadap Eunseo. “Ahh mian. Aku yang lancang.”

Aniyo. Kamu pasti kaget waktu itu.” Eunseo kemudian diam sesaat. “Hmm, sudah berapa lama kamu kenal Myungsoo?”

Naeun merasa dirinya seperti sedang di interogasi sekarang. Padahal tadinya ia menyetujui tawaran Eunseo untuk menginterogasi perempuan ini, tapi ternyata Eunseo yang menyerangnya duluan.

“Sudah delapan bulan. Hampir sembilan bulan,” jawab Naeun.

“Wah, lama juga rupanya. Sudah cukup lama Myungsoo tidak pernah mau bercerita lagi padaku. Makanya aku kaget waktu menjenguknya tadi dan mengetahui kenyataan kalau kamu adalah kekasihnya. Dia juga bilang katanya kamu cemburu padaku? Hahaha,” ujar Eunseo sambil tertawa. “Kamu membuang waktumu untuk cemburu padaku, Naeun. Aku dan Myungsoo tidaklah seperti yang orang pikirkan.”

Naeun hanya menundukkan kepalanya mendengar ucapan Eunseo. Myungsoo benar-benar mengira dirinya cemburu terhadap Eunseo. Naeun jadi menyesal sempat menyinggung soal Eunseo pada Myungsoo.

“Hubungan kami hanya seperti ini. Hanya sebatas kakak adik. Kalau dulu mungkin kami adalah sahabat. Tapi sekarang aku adalah kakak iparnya. Jadi kamu tak perlu khawatir.”

Eunseo tampak menyesap Americano-nya. Naeun pun ikutan meminum ice tea-nya. Ia harus membunuh rasa canggung yang tercipta antara mereka.

Naeun pun teringat akan percakapannya dengan Sekretaris Seo beberapa waktu lalu ketika Sekretaris Seo melaporkan semua informasi yang Naeun minta mengenai Son Eunseo.

“Son Eunseo adalah menantu keluarga Kim. Sejak kecil sudah berteman dekat dengan Myungsoo. Dan karena kakaknya Myungsoo sudah termasuk telat untuk menikah, jadi Eunseo dijodohkan dengan kakaknya Myungsoo.”

“Dengar Naeun. Wajar jika Eunseo bersikap begitu dekat dengan Myungsoo. Mereka tumbuh besar bersama. Karena beda umur Myungsoo dengan kakaknya begitu jauh, tujuhbelas tahun, jadi Myungsoo lebih dekat dengan Eunseo yang usianya tak jauh dari dirinya.”

“Dan perlu kamu ketahui, Naeun. Kim Jaejoong, suaminya Eunseo, kakaknya Myungsoo, meninggal lima hari setelah mereka menikah.”

Naeun termenung mengingat jawaban Sekretaris Seo. Meninggal tak lama setelah mereka menikah? Itu artinya Eunseo menjadi janda diumurnya yang masih semuda itu. Ia ingat ketika dirinya di Jeju kemarin dulu, Myungsoo juga pernah mengatakan hal ini, kalau kakaknya meninggal karena kecelakaan.

“Apa lagi yang mau kamu ketahui Naeun? Kamu kan sekarang sudah tau aku putranya Kim Sungsoo. Lalu apa lagi yang kurang?” keluh Myungsoo.

“Tapi aku kan gak tahu seperti apa Oppa jaman dulu. Ayolah ceritakan padaku tentang dirimu,” rengek Naeun.

“Baik, setelah kamu ceritakan tentang masa kecilmu,” ujar Myungsoo.

“Masa kecilku tidak menarik. Aku bahkan tidak ingat aku kecil seperti apa. Kata Immo, waktu aku kecil aku pernah kena demam tinggi dan sejak itu aku phobia dengan keramaian, takut akan suara bising dan hal-hal semacam itu,” cerita Naeun.

“Aku…” Myungsoo akhirnya buka suara. “…bungsu dari dua bersaudara. Tapi itu dulu. Sekarang aku jadi anak tunggal.”

“Memangnya kemana Hyung-mu, Oppa?” tanya Naeun.

“Meninggal.”

Naeun ingat persis seperti apa air muka Myungsoo ketika ia bercerita mengenai kakaknya. Seolah menyimpan duka yang begitu dalam. Kembali kalimat Sekretaris Seo terngiang-ngiang di kepala Naeun.

“Sekarang coba kamu pikirkan jika kamu menjadi Eunseo. Kamu adalah anak sebatang kara yang bersahabat dengan Myungsoo. Lalu tiba-tiba ayahnya Myungsoo memintamu jadi istri dari kakaknya Myungsoo. Kamu menyetujuinya, karena kamu juga menyukai kakaknya Myungsoo. Tapi lima hari setelah pernikahan kalian, suamimu meninggal tenggelam di laut ketika kalian sedang bulan madu. Maka kamu akan lari kemana untuk melampiaskan kesedihanmu?”

Naeun dengan enggan menjawab gambaran yang dibuat Sekretaris Seo. “Myungsoo Oppa…”

“Myungsoo itu membenciku.” Eunseo memecah keheningan antara dirinya dan Naeun.

Naeun pun tersadar dari lamunannya. Myungsoo membenci Eunseo? Karena apa? Karena Eunseo meninggalkan dia dan memilih menikah dengan kakaknya kah? Atau mungkin karena ia tidak ingin Eunseo menjadi kakak iparnya? Oke, itu adalah pertanyaan yang sama. Lantas untuk alasan apa?

“Karena aku, dia jadi meninggalkan Jeju. Aku sudah merebut orang yang paling disayanginya. Myungsoo mencintai suamiku lebih dari apapun. Bahkan ia pernah bilang padaku kalau Jae Oppa adalah kakak, ayah, teman, sahabat sekaligus musuhnya,” cerita Eunseo sambil tertawa getir. Dan kini cairan bening mulai memenuhi mata indahnya. “Ahh, mianhae. Aku agak sedikit sensitive kalau membicarakan Jae Oppa.”

Naeun jadi merasa prihatin terhadap Eunseo. Walau tadinya sempat merasa sebal akan sikap manja Eunseo terhadap Myungsoo, tapi Naeun kini mengerti mengapa Eunseo seperti itu. Eunseo pasti kesepian. Setelah ditinggal mati oleh suaminya, ia juga harus ditinggal pergi oleh Myungsoo –sahabatnya.

“Aku senang dia sudah bisa membuka hatinya untuk orang lain. Aku sempat khawatir, aku pikir aku sudah menghancurkan hidupnya. Mengingat dua tahun lalu dia berubah menjadi tak teratur seperti itu. Terima kasih, Naeun-ssi,” kata Eunseo tulus. Eunseo kemudian meraih tangan Naeun. “Kamu mau memberikan kebahagian untuk Myungsoo. aku sangat berterima kasih akan hal itu. Aku titip Myungsoo padamu.”

Naeun pikir kalau Eunseo adalah orang yang baik. Kecemburuannya terhadap Eunseo sungguh adalah hal yang kekanak-kanakkan. Eunseo sudah begitu baik mengurus Myungsoo jadi wajar saja kalau mereka tampak begitu tak terpisahkan. Naeun pun menyesali pemikiran bodohnya.

.

.

.

Naeun terus memperhatikan Myungsoo yang tengah serius menonton TV. Ia belum bilang pada Myungsoo kalau dirinya habis bertemu dengan Eunseo tadi. Jadi ia hanya duduk diam disamping Myungsoo sambil sesekali mencuri-curi pandang untuk melihat ekspresi apa yang dibuat Myungsoo.

Naeun pun memutuskan untuk ke dapur mengambil minum –sekaligus menjelajah isi apartemen Myungsoo. Untuk ukuran tempat tinggal seorang anak lelaki, apartemen Myungsoo termasuk rapi. Bahkan sangat rapi. Naeun jadi heran sendiri, Myungsoo punya apartemen yang begini tertata tapi kenapa dia tidak bisa menata dirinya sendiri.

“Eunseo menginap disini semalam, bergadang untuk membersihkan apartemen ini. Jadi jangan heran kenapa apartemenku terlihat rapi,” celetuk Myungsoo dari ruang tamu.

Seolah mampu mengetahui isi pikiran Naeun, Myungsoo lagi-lagi menjawab apa yang menjadi pertanyaan hati Naeun. Tunggu dulu, apa tadi katanya? Menginap?!

“Kamu gak cemburu pada Eunseo kan?”celetuk Myungsoo lagi.

Segera saja Naeun kembali ke ruang tamu untuk protes pada Myungsoo. “Oppa, sekali lagi kamu bilang kalau aku cemburu, lebih baik aku pulang saja.”

“Ahh, andwae,” cegah Myungsoo. “Mianhae, mianhae. Aku gak akan bercanda seperti itu lagi,” ucap Myungsoo sambil menarik Naeun ke pangkuannya.

“Ngomong-ngomong, berani sekali kamu hari ini. Datang sendirian ke apartemen laki-laki. Kalau Ahjumma tau, bisa-bisa kamu langsung dikurung ke asrama khusus perempuan, Naeun.”

“Kalau begitu lepaskanlah tanganmu ini Oppa. Kalau Eomma tahu kamu melewati batas, bisa-bisa kamu dipenjara,” ujar Naeun sambil melepaskan diri dari Myungsoo.

Myungsoo hanya memanyunkan mulutnya melihat Naeun yang kini duduk disampingnya. Ia lalu menyandarkan kepalanya di pundak Naeun sambil memainkan ujung rambut panjang Naeun.

“Apa aku hari ini sudah bilang kalau aku mencintaimu?” tanya Myungsoo.

Naeun mengangguk. “Hmm, Baru saja.”

“Apa aku juga sudah bilang kalau hari ini pun kamu tetap terlihat cantik?”

Lagi-lagi Naeun mengangguk.

“Kalau begitu kamu tak perlu khawatir lagi. Aku hanya mencintaimu, dan bagiku kamulah perempuan paling cantik di dunia ini. Jadi jangan buang waktumu untuk cemburu pada gadis lain.”

Naeun tersenyum mendengar ucapan Myungsoo. Myungsoo selalu mampu melambungkan hati Naeun setinggi langit. Benar apa kata Myungsoo, kalau Naeun tak perlu membuang waktu untuk cemburu. Karena Myungsoo sendiri benci pada orang yang tak setia, jadi sudah pasti dirinya tidak akan pernah mencoba untuk tidak setia pada Naeun, kan?

“Aku tidak pernah cemburu, Oppa. Aku percaya padamu.”

.

.

.

Karena hari ini cerah, Naeun memilih untuk mengajak Myungsoo keluar rumah. Lagipula tidak baik jika mereka terus berada di dalam apartemen Myungsoo, bisa-bisa terjadi sesuatu. Dan kini mereka memilih untuk piknik di sungai Han.

Setelah Myungsoo membentang alas untuk mereka duduk, Naeun langsung membongkar tas pikniknya. Dan mereka pun menikmati makan siang mereka sambil memandangi orang-orang yang turut memenuhi pinggiran sungai Han ini.

“Ah, harusnya kita lebih sering seperti ini. Menghirup udara segar, bukannya terkurung di rumahmu setiap minggu,” keluh Myungsoo.

Naeun hanya tertawa mendengar keluhan Myungsoo. Karena ibunya Naeun tidak pernah mengijinkan Naeun untuk keluar rumah, jadi setiap Myungsoo ingin menghabiskan waktu dengan Naeun harus dilakukan dirumah Naeun. Dan sepertinya baru kali ini ia merasakan kencan seperti pasangan pada umumnya.

Myungsoo kini sudah merebahkan dirinya dengan menopangkan kepalanya dipangkuan Naeun. Ia memejamkan matanya sejenak kemudian memandang lurus ke langit.

“Aku… sangat dekat dengan Hyung-ku. Bahkan lebih dekat dibandingkan dengan orangtuaku. Dulu kalau musim gugur seperti ini, dia pasti akan mengajakku ke gunung untuk kemping. Dia itu adalah orang tua yang menyebalkan.”

Tiba-tiba saja Myungsoo bercerita mengenai dirinya. Naeun terdiam membiarkan Myungsoo bercerita. Mungkin sekarang Myungsoo sudah mau membuka hatinya untuk membagi kisahnya dengan Naeun.

“Dan ketika ia memutuskan untuk menikah, aku merasa seperti… yah.. dikhianati. Jadinya aku kabur ke Seoul.”

Myungsoo kemudian bangun dan duduk disamping Naeun. Ia tampak mengepalkan tinjunya. “Tapi orang bodoh itu malah membawa kakak ipar bulan madu di tengah laut. Sudah tahu gak bisa berenang tapi memilih laut sebagai tempat bulan madu. Kapal mereka karam karena badai, dan hanya kakak ipar yang selamat. Dia meninggalkanku, meninggalkan kakak ipar, meninggalkan Eomma. Dia meninggalkan kami semua tanpa mengucapkan selamat tinggal. Dia meninggalkan semua tugas dan tanggung jawabnya padaku.”

Naeun pun berusaha menenangkan Myungsoo dengan cara mengusap-usap punggung Myungsoo. Naeun kembali teringat akan cerita Eunseo tadi pagi.

“Karena ingin mengunjungi Myungsoo yang kabur ke Seoul, Jae Oppa yang seumur hidupnya tak pernah meninggalkan Jeju pun memutuskan untuk pergi ke Seoul. Jae Oppa, dia itu tidak bisa naik pesawat selain itu dia juga tidak bisa berenang. Jadi ketika kapal kami dihantam badai, hanya Jae Oppa yang tidak selamat. Kalau Myungsoo tahu, Jae Oppa meninggal karena ingin menjemputnya, mungkin Myungsoo akan menyalahkan dirinya seumur hidupnya. Karenanya kami, aku dan ayah mertua, memutuskan untuk mengarang cerita seperti itu. Biarkan dia menyimpan dendam padaku asal dia tidak menyalahkan dirinya sendiri.”

“Apalagi yang ingin kamu tahu, Naeun?” tanya Myungsoo yang sudah berpindah posisi jadi duduk di hadapan Naeun.

Naeun hanya menggelengkan kepalanya. Ya, itu saja sudah cukup. Ia tak ingin membuka lebih dalam lagi luka yang disimpan Myungsoo itu. Naeun juga harus menghargai setiap rahasia yang ingin dipendam Myungsoo.

“Ahh, iya. Kamu kemarin ingin tahu masa kecilku seperti apa, kan ya?” ujar Myungsoo sambil menggenggam tangan Naeun. “Kalau begitu akan kuceritakan soal cinta pertamaku. Siapkan hatimu ya.”

Cinta pertama? Kenapa Myungsoo tiba-tiba ingin bercerita soal cinta pertama? Mau membuat Naeun cemburukah? Naeun berperang dengan batinnya antara ingin mendengarkan dan tidak ingin mendengarkan. Ia takut hatinya akan gelisah jika mendengar cerita Myungsoo.

“Ini cerita ketika aku berumur sekitar enam tahunan. Aku juga baru dengar ini dari Eunseo semalam. Kupikir dia mengarang cerita tapi ternyata itu adalah kenyataan. Eunseo bilang beberapa waktu yang lalu cinta pertamaku datang ke Jeju bersama orangtuanya. Eunseo bilang gadis itu sudah berubah menjadi gadis yang sangat cantik. Dia bahkan bilang, kalau aku bertemu dengan gadis itu lagi mungkin aku akan jatuh cinta lagi padanya.”

Mendengar cerita Myungsoo, Naeun sedikit merasa lega. Berarti bukan Eunseo cinta pertama Myungsoo. Tapi di sisi lain ia juga merasa cemas. Karena sekarang ia –mungkin –punya saingan baru.

“Dulu, gadis kecil itu datang ke jeju untuk berlibur bersama orangtuanya. Ia menginap di hotelku dan disanalah aku berkenalan dengannya. Waktu itu umurnya sekitar tiga atau empat tahun. Ia sangat lucu. Rambutnya panjang, pipinya chubby, senyumnya manis,” Myungsoo tertawa kecil mengingat sosok-cinta-pertamanya.

Sementara Naeun sudah mulai merasa tidak nyaman mendengarkan kisah Myungsoo ini. Ia menundukkan kepalanya. Berusaha berpikir positif kalau itu hanya masa lalu Myungsoo. Hanya kisah Myungsoo waktu kecil ketika ia mengalami yang namanya cinta-cintaan. Tapi Naeun tetap merasa tidak tenang.

Myungsoo kemudian melepaskan tangan Naeun. Ia tampak merogoh-rogoh kantong celananya dan kemudian mengeluarkan dompetnya. “Eunseo kemarin membawakan fotonya dan menunjukkannya padaku. Coba kamu lihat. Dia itu sangat lucu.”

Myungsoo kemudian menyodorkan selembar foto jaman dulu pada Naeun. Dengan enggan Naeun menerimanya. Ia melihat foto tersebut. Adalah foto sepasang anak kecil yang lucu disana. Seorang anak lelaki dengan plester di keningnya dan tampak mengemut permen lolipopnya serta seorang anak perempuan yang menundukkan kepalanya sambil menatap lolipop di genggamannya.

“i…ini bukannya… aku?”

Myungsoo tersenyum mendengar kebingungan Naeun. Tentu saja Naeun merasa absurd dengan apa yang sedang terjadi. Myungsoo bilang ingin menunjukkan fotonya dengan cinta pertamanya, tapi kenapa bisa ia menunjukkan foto Naeun masih kecil yang sedang berfoto dengan Myungsoo kecil?

“Dan aku punya panggilan khusus untuknya. Aku memanggilnya Naneun,” ujar Myungsoo. “Namanya Son Naeun, putri dari Son Daejoon. Dulu pernah berkunjung ke Jeju dan tinggal disana selama kurang lebih seminggu.”

Naeun terperanjat mendengar cerita Myungsoo. Berarti mereka sudah kenal sejak kecil? Tapi Naeun tak ingat. Bagaimana bisa ada kebetulan seperti ini?

“Hahaha, ekspresimu sama seperti yang dibuat Eunseo semalam. Eunseo juga memasang wajah seperti itu ketika melihat foto-fotomu di kamarku. Dia langsung teriak ‘bagaimana bisa ada kebetulan seperti ini?!’ katanya,” gurau Myungsoo.

“Oppa, bagaimana bisa.. jadi aku dan kamu sudah kenal sejak dulu?” bingung Naeun.

“Ne. Dan lucunya dari dulu sampai sekarang aku tetap mencintaimu. Hahaha. Ini yang namanya jodoh. Bahkan kita sudah dipertemukan sejak kecil. Walaupun kita terpisah dan tidak saling ingat satu sama lain tapi kita tetap kembali memiliki perasaan yang sama, saling mencintai.”

Naeun pun menangis. Entah kenapa tapi airmatanya terus mengalir membasahi pipinya. Myungsoo pun kelimpungan melihat Naeun yang tiba-tiba menangis.

“Ahh, waeyo?” panik Myungsoo sambil menghapus airmata Naeun. “Aku menceritakan ini bukan untuk membuatmu menangis.”

“Aku terharu, Oppa. Aku… hiks.”

Myungsoo langsung menarik Naeun kedalam pelukannya dan berusaha menenangkan tangisan gadisnya tersebut. Karena walaupun kelihatannya takdir mereka sudah diatur sedemikian rupa, tapi mereka masih belum bisa merasakan indahnya semua rasa bahagia itu.

Uljima, aku berjanji atas langit dan bumi tidak akan pernah membuatmu menangis. Jadi, berhentilah menangis. Aku akan membahagiakanmu dan membawa senyuman untukmu.” Setelah Naeun sedikit mereda, Myungsoo melepaskan pelukannya. Ia kemudian berdiri dan memakai sepatunya. “Kamu tunggu sebentar disini Naeun. Jangan kemana-mana. Aku pergi sebentar mau beli sesuatu,” ujar Myungsoo.

Ia kemudian meninggalkan Naeun yang masih berusaha menenangkan perasaannya. Tak sampai sepuluh menit Myungsoo sudah muncul di hadapan Naeun dengan membawa dua buah eskrim cone ditangannya.

“Cha. Makan eskrim pasti akan membuat perasaanmu membaik,” ujar Myungsoo sambil menyodorkan satu eskrimnya pada Naeun.

Dan karena eskrimnya mulai mencair Naeun pun langsung memakan eskrim tersebut. Mungkin karena terlalu bersemangat ingin menghabiskan es tersebut atau karena memang Naeun tidak rapi memakan eskrimnya, membuat bibir atas Naeun dipenuhi oleh eskrim vanilanya.

Aigoo aigoo, coba lihat caramu makan eskrim itu,” cibir Myungsoo. “Apa kamu mau melakukannya seperti di drama-drama itu hah?”

Naeun bingung dengan perkataan Myungsoo. Jadi ia hanya menatap Myungsoo polos sambil terus menjilati eskrimnya.

“Oke, aku tahu yeoja pasti seperti ini. Sukanya melakukan hal-hal yang romantis seperti yang ada di tivi. Tapi Naeun, bisakah kamu makan eskrimmu dengan benar. Kalau kamu memang mau meminta itu dariku kamu tinggal bilang. Tak perlu menggodaku seperti itu,” gerutu Myungsoo.

Naeun makin bingung dengan semua ucapan Myungsoo. Akhirnya ia pun menghentikan aktivitasnya. “Oppa, ada apa denganmu?”

“Lihat bibirmu! Bisakah kamu makan dengan benar?!” Myungsoo terlihat frustasi sekarang.

Naeun menautkan alisnya. Ia kemudian mengangkat tangannya hendak mengecek apa yang sedang terjadi dengan bibirnya. Tapi Myungsoo langsung menahan tangan Naeun.

Arraseo, kamu mau melakukannya seperti yang di drama-drama? Baiklah, Oppa akan membersihkan itu,” ujar Myungsoo.

Ia kemudian mendekatkan kepalanya ke wajah Naeun. Myungsoo lalu membersihkan sisa eskrim yang mengotori bibir atas Naeun dengan bibirnya. Kontan saja Naeun langsung shock. Ia langsung mendorong Myungsoo menjauhi dirinya.

“Oppa, waeyo?!!” bentak Naeun sambil memegangi bibirnya –menghapus jejak Myungsoo lebih tepatnya.

“Kamu menggodaku. Bertingkah polos dengan menempelkan eskrimmu disekitar bibirmu. Kamu mau melakukan foam kiss seperti yang ada di drama-drama kan?” ujar Myungsoo tanpa dosa.

“Ahh jinjja. Aku mana pernah nonton drama Oppa. Aku sungguh gak ngerti dengan pikiranmu. Oppa neo jeongmallo byeontae gatta (Oppa kau pervert),” cibir Naeun.

Mwo?! Byeontae?!

Ne, Byeontae. Bagaimana bisa Oppa selalu mencari-cari kesempatan….”

“Hyung, kenapa kau menjilati bibir Noona itu?” sela anak kecil yang ada di dekat mereka.

Naeun dan Myungsoo pun menoleh kearah dua anak kecil yang menatap mereka takjub. Kontan saja wajah Naeun langsung memerah karena dua anak kecil tak dosa itu pasti melihat kejadian tadi. Naeun langsung saja memukul bahu Myungsoo.

“Ne? Ahh, bibir Noona ini rasa vanilla, jadi Hyung mencicipinya,” jawab Myungsoo dengan-tanpa-dosa. Dan sekarang wajah Naeun sudah seperti (@__@).

.

.

.

“Yeobo, tolonglah. Pikirkan bagaimana caranya agar Naeun berhenti menemui putranya Sungsoo.”

Ketika Naeun melewati ruang kerja ayahnya, Naeun mendengar lagi percakapan kedua orangtuanya tersebut. Bukan maksud Naeun untuk menguping tapi suara ibunya yang cukup lantang itu terdengar dan lagipula pintu ruang kerja ayahnya juga tidak ditutup rapat jadi Naeun dapat mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan orangtuanya.

“Memangnya kenapa dengan Myungsoo? Aku tak melihat ada yang salah dengan anak itu?”

“Aku tidak ingin dia mengganggu Naeun. Aku tidak suka anak itu. Aku hanya khawatir dia akan mengganggu masa depan Naeun.”

Naeun hanya menggelengken kepala mendengar ucapan ibunya. Naeun pun memutuskan untuk menyimak percakapan orangtuanya tersebut. Mungkin saja Naeun bisa tahu alasan dibalik ketidak sukaan ibunya terhadap Myungsoo.

“Kamu tidak menyukai Myungsoo karena apa? Karena dia berhasil mencuri perhatian Naeun? Karena dia sudah membuat Naeun menjadi lebih ceria? Lebih hidup? Bukalah matamu Yeobo, beberapa bulan belakangan ini aku melihat perubahan positif pada Naeun. Dia jadi lebih terbuka, lebih banyak senyum dan aku menyukainya. Itu karena ia mulai merasakan cinta yang lain yang tak pernah ia rasakan di rumah dan lagi kita memang jarang memberikannya perhatian. Jadi biarkan saja dia merasakan cinta barunya.”

Naeun ikut mengangguk setuju dari balik pintu mendengar ceramah ayahnya terhadap ibunya tersebut.

“Aku hanya takut Naeun akan sakit hati nanti. Aku tidak mau dia merasakan hal itu, Yeobo.”

“Justru kalau kita memisahkan mereka itu akan membuat Naeun jadi sedih dan patah hati. Bukannya kamu dulu juga pernah merasakan hal itu? Dan sekarang kamu ingin Naeun merasakan rasa pedih itu? Dan lagi kamu ingat kata dokter mengenai Naeun untuk jangan membuat dia merasa tertekan dan depresi.”

“Yeobo.” Sela ibu Naeun.

“Sekarang jujur saja padaku. Kamu tidak suka Myungsoo karena mengkhawatirkan Naeun atau karena dia putranya Sungsoo?”

Ahh perkara Myungsoo sebagai putranya Kim Sungsoo kembali dibahas, pikir Naeun. Naeun pun mempertajam pendengarannya.

“Yeobo!” suara ibu Naeun terdengar tidak terima.

“Jadi benar karena dia putranya Sungsoo.” Ayah Naeun diam sejenak. “Yeobo, lupakanlah masa lalumu itu. Kalau kamu masih menjadikan Sungsoo sebagai hambatan masa depan kita, masa depan Naeun juga, maka bukan hanya Sungsoo yang menghancurkan kebahagiaanmu tapi kamu sendiri yang melakukannya.”

Naeun tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini. Ia juga tidak terlalu paham dengan omongan ayahnya tersebut. Naeun berusaha mencerna ucapan ayahnya sementara kedua orangtuanya terdiam di dalam ruang kerja ayahnya.

“Kalau kamu masih memikirkan dendammu terhadap Sungsoo itu artinya kamu masih belum bisa melupakan hubungan kalian. Lepaskanlah itu semua, Yeobo. Kamu sudah punya aku dan Naeun disini. Jadi lupakanlah perasaan itu.”

Apa maksudnya ini? Hubungan kalian? Perasaan itu? Apa ini artinya ibu Naeun pernah ada hubungan dengan ayahnya Myungsoo? Naeun merasa dunia kini berputar-putar di kepalanya. Ia harus mencari tahu kebenaran akan masalah ini.

.

.

.

“Lalu bagaimana dengan Eomma dan Tuan Kim?”

Naeun langsung menodong Sekretaris Seo begitu ia bertemu dengan sekretaris ibunya tersebut.

“Tidak ada. Ibumu tidak pernah bermasalah dengan Kim Sungsoo. Kim Sungsoo itu adalah sahabat ayahmu dan berkatnya ayahmu bisa bertemu dengan ibumu. Kalau bukan karena dia orangtuamu tidak akan menikah dan mempunyai putri cantik sepertimu,” jelas Sekretaris Seo.

“Lalu kenapa Eomma begitu melarangku berdekatan dengan Myungsoo Oppa? Padahal Appa dan Tuan Kim itu berteman. Kenapa Eomma begitu tidak suka melihatku dengan Myungsoo Oppa.”

“Dengarkan aku, Naeun. Wajar kalau ibumu takut kamu terjerumus dalam pergaulan bebas. Kamu adalah putrinya satu-satunya. Dan kamu kan tahu, butuh waktu sepuluh tahun bagi orang tuamu untuk bisa mendapatkanmu. Jadi wajar kalau mereka sangat protektif terhadapmu.”

Memang butuh waktu lama bagi keluarga Son untuk bisa mendapatkan tangisan bayi dirumah mereka. Sepuluh tahun setelah mereka menikah, Naeun baru hadir ditengah-tengah keluarga itu. Karenanya ibunya Naeun selalu melarang Naeun untuk bergaul dan keluar rumah. Itu semata-mata karena orang tuaanya takut Naeun kenapa-kenapa.

“Geundae. There’s must be something with them. Aku tahu. Ini semua bukan hanya karena aku adalah putri semata wayangnya, bukan juga karena imej bad-boy Myungsoo Oppa yang begitu kentara. Tapi ada sesuatu yang lain yang mengganjal kami. Dan itu ada hubungannya dengan Tuan Kim.”

“Kalau begitu kenapa tidak kamu coba tanya langsung saja ke Kim Sungsoo itu,” sergah Sekretaris Seo.

“Sekretaris Seo! Bagaimana mungkin aku bertemu dengannya sementara dia ada di Jeju. Kamu kan tahu sendiri aku tidak boleh keluar rumah jadi bagaimana bisa aku ketemu dengan Tuan Kim yang ada di Jeju sana?” protes Naeun.

“Baiklah akan kuceritakan satu fakta. Ibumu dan Kim Sungsoo adalah teman satu sekolah ketika di SMA. Lalu ibumu melanjutkan sekolah di luar negeri. Sedangkan ayahmu adalah teman kuliah Kim Sungsoo. Dan sepertinya karena hal itu ibumu dan ayahmu jadi bisa bertemu.”

Masih belum cukup. Naeun merasa informasi ini masih belum cukup. Ia harus mencari tahu ada hubungan apa antara Tuan Kim, ibunya dan ayahnya. Tidak mungkin bertanya langsung pada orang yang bersangkutan. Naeun hanya perlu mencari informasi dari orang-orang yang pernah dekat dengannya.

.

.

.

“Naeun, kalau kamu menyia-nyiakan waktuku hanya untuk mencari hal yang tak penting, maka habislah kamu,” ancam Eunji.

“Kamu bisa tidak untuk berhenti protes, Eunji. Aku heran bagaimana bisa Woohyun Sunbae betah mendengar ocehanmu?” keluh Naeun.

“Kamu protes padaku? Kan kamu yang tiba-tiba menculikku. Membuatku harus membatalkan janjiku dengan Woohyun Oppa. Jadi terima saja ocehanku,” protes Eunji.

Arra arra.”

Hari ini Naeun dan Eunji pergi ke daerah Paju untuk mengunjungi sebuah sekolah menengah atas yang ada disana. Tujuan mereka bukan hanya sekedar berkunjung, tapi juga mencari informasi. Karena di sana merupakan sekolah tempat ibunya Naeun belajar.

Naeun kemudian menarik Eunji masuk ke sebuah sekolah menengah atas yang ada di daerah Paju. Tujuan mereka langsung ke perpustakaannya, untuk melihat album kenangan angkatan ibunya Naeun dulu. Naeun langsung saja menjelajah semua album kenangan yang ada di perpustakaan tersebut.

“Naeun, aku menemukan album angkatan ibumu,” seru Eunji sambil menyodorkan sebuah album yang tampak sangat kuno itu pada Naeun.

Naeun membuka halaman album itu satu persatu. Dan ia menemukan nama ibunya. Naeun juga menemukan nama ayahnya Myungsoo. ternyata Kim Sungsoo beda kelas dengan ibunya Naeun. Dan Naeun menemukan sebuah fakta yang mengejutkan. Ia menemukan sebuah gambar dimana hanya ada ibunya serta Tuan Kim dalam satu foto.

“Apa kalian murid sini?” tegur penjaga perpustakaan.

Baik Naeun dan Eunji langsung terlonjak kaget dan salah tingkah. Tidak bisa berbohong akhirnya Naeun menjawab jujur kalau ia sedang mencari tahu tentang Tuan Kim.

“Kim Sungsoo? Dia adalah murid yang sangat pintar. Dan karena bakatnya itulah ia bisa membangun kembali hotel di Jeju itu sampai akhirnya jadi sebesar sekarang. Yoo Inna, kekasihnya juga sangat pintar, sayangnya hubungan mereka tidak sampai menikah,” cerita penjaga perpustakaan tersebut.

Yoo Inna? Itu adalah nama ibu Naeun. Ibunya dulu adalah kekasihnya Tuan Kim?!

“Kurasa hanya foto ini kenangan mereka. Aku cukup mengikuti perkembangan mereka, karena mereka adalah dua murid yang paling membanggakan. Semua murid bahkan para guru tahu kalau Sungsoo dan Inna berpacaran. Bahkan kisah mereka masih tertinggal di pohon yang ada di depan sekolah ini. Sayangnya Sungsoo dijodohkan dengan putri pemilik hotel Paradise itu ketika Inna bersekolah diluar negeri. Jadi aku cukup menyayangkan ternyata hubungan mereka harus berakhir begitu saja.”

Album foto yang sedang Naeun pegang kini meluncur begitu saja dari tangannya. Seolah tak punya tenaga, Naeun bahkan tidak menahan album tersebut ketika jatuh. Pandangannya begitu kosong sekarang. Eunji yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada Naeun hanya bisa menahan tubuh Naeun yang mulai limbung. Penjaga perpustakaan pun ikut bingung dengan reaksi yang dibuat Naeun.

Naeun memandangi album kenangan yang terbuka dibawah kakinya. Melihat ekspresi ibunya dengan Tuan Kim membuat dadanya tiba-tiba merasa sesak. Inikah yang dimaksud ayahnya semalam. Lupakan masa lalumu, lupakan perasaanmu, dan semua itu maksudnya adalah hubungan kasih antara ibunya dengan Tuan Kim di masa lalu?

.

.

.

Ada apa dengan kita?

Ada apa dengan mereka?

Apa kita pernah berbuat suatu kesalahan di masa lalu?

Apa kita memang tidak boleh bersama?

Apa kita memang tidak boleh saling mencintai?

= Naeun’s Mind =

Meuhuahahahahahaha…
Tambah ngaco… dan cerita ini tambah ngaco teman-teman!!
Astaga.. demi apa ini FF jadi makin ngalor-ngidul..
tapi tenang aja ini FF gak akan sepanjang GUARDIAN BEAST kok..
Mungkin satu ato dua chapter lagi berakhir *I wish*
Aku terlalu cinta ama couple ini jadi gak pengen mengakhiri kisah mereka,,
Gimana dong??

Yasudahlah,,
Buat kritik, saran dan segala macam pesan yang disampaikan untuk memperbaiki FF ini saya hanya bisa mengucapkan terima kasih..
Saya sangat menghargai semua apresiasi kalian terhadap FF ini.
Selalu saya berusaha untuk memenuhi semua hasrat(?) reader sekalian.
Kamsahamnida!!!! \(^0^)/

Annyeong *bow with Tao panda*

bee

next are the last chapter

bee akan memproteksi chapter akhir..
password hanya akan diberikan oleh mereka yang meninggalkan email serta judul fiksi yang ingin dibaca ke halaman proteksi.. *dimohonkan untuk membaca dengan jelas peraturan disana.. karena password bisa kalian dapatkan sendiri tanpa harus bertanya pada bee*
Passwordnya HANYA akan diberikan pada mereka yang sudah jadi penghuni planet ini.. karena itu DAFTARKAN diri kalian dengan buat perkenalan di halaman residence *jika kalian mampir kehalaman ini maka kalian akan bisa tahu passwordnya 😀 *
thanks for your attention!! annyeong!!

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – THIS IS NOT A LOVE STORY | Chapter 5 | PG15

66 thoughts on “FF – THIS IS NOT A LOVE STORY | Chapter 5 | PG15

  1. Authornim.. chapt6 juseyo~~ aku baca nih ff sampe berkali2. Suka banget sama alur ceritanyaaa.. aku udah nunggu chapter6 dari bulan juni loh thor.. tapi kok belom di lanjutin?:(
    ayolah thor lanjutin… kalo bisa lanjutin sampe 30 chapt hehehe

  2. Yeon-Ah says:

    Thooor O.O lanjutan ff nyaa manaah? Uda suka banget ama nih ep ep U.U pliis lanjutin ke part 6 yah e.e Jebaal
    #Ditunggu

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s