FF – THIS IS NOT A LOVE STORY | Chapter 4 | PG15


Title : This is Not a Love Story

Subtitle : (Chapter 4) Believe in You

Author : beedragon

Cast:

Naeun A-Pink as Son Naeun

L Infinite as Kim Myungsoo

Other Cast:

Son EunSeo as Son Eunseo

Genre : Romance, Sad, Friendship

Length : Series (on going) [ Chapter I, II, III ]

Rating / pairing : pg15 / Straight

Summary : Naeun tak pernah membayangkan jika hidupnya yang selama ini datar-datar saja akan berubah menjadi begitu berwarna hanya karena seorang pria. Pertemuannya dengan Kim Myungsoo membuat hari-harinya yang begitu kelabu menjadi berwarna. Myungsoo memberinya banyak rasa, mulai dari kagum, suka, cinta, hingga duka.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : DBSK – I Believe

Believe in You

.

.

I believe in you… as I look at you

I will send all my feelings for you

I want to keep the feelings I have for you hidden

Even my fears that you might leave me one day

You

If I could stay by your side like this

If you didn’t know the truth until the end

About how much I love you

= DBSK – I BELIEVE =

.

.

.

“Pergi kau dari rumahku!!” bentak ibu Naeun.

Naeun dan Myungsoo terpaku mendengar seruan ibu Naeun. Bahkan Myungsoo belum mengucapkan salam padanya, tapi ibu Naeun sudah mengusirnya.

Eomma...” pinta Naeun.

Tapi Myungsoo tidak patah arang. Ia berusaha mengembangkan senyumnya dan membungkuk hormat pada ibu Naeun. “Annyeong haseyo Ahjummeonim. Joneun Kim Myungsoo imnida. Joneun Naeun-i namjachingu-ieyo. Sebelumnya maaf atas kelancanganku, tapi saya mencintai putri anda.”

Kepala Naeun langsung berkunang-kunang mendengar ucapan Myungsoo. Myungsoo benar-benar mengibarkan bendera perang ke hadapan ibunya.

“Kim Myungsoo-ssi. Putri saya tidak mempunyai pacar dan tidak akan mempunyai pacar. Putri saya masih terlalu muda untuk berpacaran. Lagipula, sekolahnya lebih penting dibandingkan perasaanmu terhadapnya,” tegas ibu Naeun.

“Dan kamu Naeun, masuk ke dalam. Bukankah tadi kamu bilang kamu pergi dengan Eunji? Kenapa kamu pulang dengan namja ini?!” seru ibu Naeun sambil menarik putrinya tersebut.

“Maafkan kelancangan saya Ahjummeonim. Tapi saya sungguh mencintai putri anda, begitu juga dengan putri anda. Saya sadar kejadian kemarin membuat anda tidak simpati terhadap saya, tapi saya akan menjaga dan melindungi Naeun dengan lebih baik lagi. Saya tidak akan menyerah sampai mendapatkan restu dari anda,” Ujar Myungsoo sambil memasang senyum termanisnya.

Rasanya Naeun ingin pingsan saat itu juga. Melihat mata elang Myungsoo yang kini sudah berkilat tajam. Naeun tahu pandangan itu adalah pandangan ketika Myungsoo sudah bertekad kuat. Tapi ibunya lebih tidak bisa dikalahkan.

“Putriku tidak membutuhkanmu, anak muda. Jadi jangan ganggu putri saya lagi. Kamu beruntung tidak dikeluarkan dari sekolah. Jika saya mengetahui kalau kamu menemui putri saya lagi, saya tidak akan segan-segan menuntutmu, anak muda.” Ancam ibu Naeun yang lalu membanting pintu rumahnya.

“Eomma!” Naeun mencoba menahan tenaga ibunya yang menariknya masuk ke kamarnya.

“Eomma bilang jauhi mereka para namja! Kenapa kamu membangkang?! Kamu masih terlalu muda untuk berhubungan seperti itu! inikah yang kamu pelajari di sekolah?! Flirting everywhere?!” seru ibu Naeun ketika mereka masuk ke kamar Naeun.

“Aku menyayanginya Eomma,” lirih Naeun.

“SON NAEUN!! Kamu mau melawan Eomma?! Eomma tidak akan membiarkan anak itu mengganggumu. Mulai besok sekretaris Seo akan mengawalmu di sekolah!”

“Eomma, jebal….” pinta Naeun. Ia berlutut di hadapan ibunya. Jika harus menyembah maka itu akan dilakukannya. Jika harus memohon dan meminta, itu juga akan dilakukannya. Ia akan melakukan apa saja agar ibunya bisa luluh hatinya. Tapi sepertinya percuma.

.

.

.

Ibunya Naeun benar-benar serius dengan ucapannya. Ia benar-benar berhasil membuat Naeun dan Myungsoo susah bertemu. Dan ketika liburan sekolah datang, ibu Naeun membawa Naeun pergi keluar kota – hal yang jarang dilakukan ibunya. Ibunya membawa Naeun pergi ke pulau Jeju untuk berlibur, sekaligus menemani ayahnya yang sedang dinas disana. Naeun sendiri tidak tahu kalau liburan kali ini dia akan dibawa ke Jeju.

Malam ini Naeun harus menemani orangtuanya untuk menghadiri sebuah pesta dari rekanan ayahnya. Sepertinya orangtuanya lupa kalau Naeun phobia dengan keramaian. Dan sekarang Naeun harus menyingkir dan memilih mojok di lobby utama hotel Paradise – tempat dimana Naeun dan keluarganya menginap, sekaligus tempat dimana pesta tersebut diadakan.

Naeun memandangi lobby hotel Paradise ini. Bangunannya yang klasik membuat pengunjungnya seolah berada di negeri dongeng. Dan hotel ini benar-benar terasa romantis, terlihat dari beberapa pasangan berbahagia yang mondar-mandir keluar masuk hotel. Hotel ini memang cocok sekali bagi mereka yang sedang kasmaran. Dan sekarang Naeun malah semakin merindukan Myungsoo.

“Myungsoo Oppa, bogoshippo…” Lirih Naeun.

Ketika Naeun mengedarkan pandangannya ke sekeliling lobby hotel, matanya menangkap sosok yang sangat dirindukannya. Ia melihat ada seorang pemuda yang sangat mirip dengan Myungsoo. Sangat mirip, bahkan terlalu mirip. Matanya, bibirnya, rambutnya, ekspresi wajahnya, bahkan gaya berjalannya sangat mirip dengan Myungsoo. Hanya saja yang berbeda adalah, pemuda itu tampak begitu rapi sedangkan Myungsoo tidak mungkin mau berdandan rapi begitu.

Naeun berkali-kali mengerjapkan matanya untuk memastikan kalau ia tidak sedang berhalusinasi. Lagipula tidak mungkin Myungsoo bisa ada disini, di Jeju, dengan memakai setelan jas yang sama sekali bukan tipenya.

Dan perhatian Naeun kini teralih oleh beberapa pegawai hotel yang sedang bergosip di dekatnya. Bukan karena gosipnya yang membuat Naeun tertarik untuk ikut menyimak, tapi karena nama yang mereka sebutkan.

“Tuan Muda Myungsoo datang! Akhirnya dia pulang.”

“Akhirnya. Oh iya, jangan sampai ia bertemu dengan Manajer Eunseo.”

“Iya, betul. Karena manajar Eunseo lah Tuan Muda Myungsoo pergi dari Jeju”

Myungsoo? Myungsoo yang dimaksud disini bukan Myungsoo-nya  kan? Mendengar nama Myungsoo –entah siapapun Myungsoo yang dimaksud– membuat Naeun sebal dengan staf hotel tersebut. Tidak boleh ada yang menyebut-nyebut nama Myungsoo apalagi membicarakan yang tidak-tidak tentangnya di hadapan Naeun. Tidak disaat Naeun sedang begitu merindukan Myungsoo.

Kedua staf yang sedang bergunjing itu melirik kearah Naeun. Mereka tampak terkejut dan langsung berhenti bergosip. Keduanya bahkan menundukkan kepalanya dalam-dalam seolah sedang meminta maaf pada Naeun. Naeun yang bingung hanya bisa mengernyitkan dahinya. Ia memutuskan untuk tak mempedulikan kedua staf hotel itu dan memilih untuk melihat lagi pemuda yang mirip Myungsoo tadi.

Dan pemuda itu kini sudah berdiri di hadapannya. Naeun hanya menatap wajah pemuda itu. Wajahnya terlalu mirip dengan Myungsoo. Naeun kembali mengerjapkan matanya untuk menghapus bayangan yang tampak nyata itu. Tapi pemuda itu tidak menghilang seperti harapan Naeun. Malah dia sudah tersenyum sumringah pada Naeun.

“Naeun?! Ini benar Naeun-ku kan?!”

Belum sempat Naeun menjawab pertanyaan orang itu, bahkan Naeun belum tersadar dari keterkejutannya tiba-tiba orang itu sudah memeluk Naeun erat.

“Bogoshipo Naeun-ah! Akhirnya aku bisa memelukmu lagi.”

Naeun melepaskan diri dari pelukan orang tersebut. Semua perasaan kini bercampur aduk di otaknya. Naeun hanya bisa menatap orang itu bingung sekaligus tak percaya.

“Ini benar Myungsoo, Oppa? Kenapa… Oppa bisa ada disini? Darimana kamu tahu kalau… aku disini?”

Myungsoo. Seperti biasa dia hanya menarik sudut kiri bibirnya untuk tersenyum. “Mana aku tahu kalau ibumu menculikmu kesini. Aku  kesini tadinya ingin mengunjungi seseorang, tapi ternyata bertemu kamu disini.”

Naeun melihat Myungsoo tampak menatap kearah belakang dirinya. Naeun pun ikut menoleh, melihat apa yang mencuri perhatian Myungsoo. Ternyata Myungsoo melihat dua staf hotel yang sedang bergosip tadi. Kedua staf hotel itu tampak menunduk takut melihat Myungsoo dan mereka akhirnya menyingkir dari lobby hotel.

Myungsoo memalingkan wajah Naeun untuk kembali melihat dirinya. “Kamu tahu ini artinya apa, Naeun?”

“Apa??”

“Itu artinya kita jodoh. Dimana ibumu, dia harus lihat kenyataan ini. Seberapa keras dia berusaha memisahkan kita, kita pasti akan bersatu lagi.”

.

.

.

Myungsoo serius akan ucapannya. Ia membawa Naeun menuju ballroom hotel ini. Padahal Naeun sudah menahannya agar jangan sampai ibunya dan Myungsoo melakukan perang di pesta orang ini. Kaki Naeun terasa berat mengikuti langkah Myungsoo.

“Oppa, nanti saja kita ketemu Eomma. Kalau acaranya sudah selesai. Aku..” bujuk Naeun saat mereka sudah sampai di depan pintu ballroom hotel.

“Waeyo?” Myungsoo tampak kecewa dengan ucapan Naeun. Tapi begitu melihat wajah Naeun yang sudah memucat, Myungsoo langsung terlihat khawatir. “Kamu kenapa? Sakit? Apa aku menarik tanganmu terlalu keras? Ahh mianhae,” panik Myungsoo.

“Bukannya begitu. Tapi didalam pasti banyak orang. Aku… takut,” ujar Naeun.

Myungsoo langsung tersadar kalau Naeun punya phobia terhadap keramaian. Ia lalu memegang bahu Naeun. “Apa yang kamu takutkan? Kan ada aku disini. Selama ada aku tak akan ada yang bisa menyakitimu.”

Naeun menundukkan kepalanya. Tapi Myungsoo segera menarik dagu Naeun agar Naeun mengangkat kepalanya dan menatap dirinya.

“Lihat aku. Kamu hanya perlu melihatku dan tidak usah pedulikan keadaan sekitar. Aku akan menjagamu. Ok?”

Seolah terbius dengan pandangan Myungsoo, Naeun pun mengangguk. Dan kini Myungsoo kembali menggiring Naeun masuk ke dalam ballroom hotel. Walau mendengar betapa riuhnya tempat pesta ini, tapi Naeun sama sekali tak terganggu. Ia hanya memfokuskan penglihatannya pada Myungsoo dan tidak melihat ke kiri dan kanan, dan dia berhasil mengatasi rasa takutnya.

Seandainya ibunya bisa melihat betapa Myungsoo sangat menjaga Naeun, seandainya ibunya bisa melihat betapa Myungsoo sangat melindungi Naeun, seandainya ibunya bisa melihat betapa Myungsoo tampak begitu menyayangi Naeun, mungkin ibunya tidak akan begitu keras menentang hubungan mereka. Naeun tak habis pikir, apa yang membuat ibunya begitu melarang Naeun untuk berpacaran.

“Naeun, biar kutebak,” ujar Myungsoo tiba-tiba. Ia kemudian menunjuk kearah di depannya dan berkata, “Ahjussi dengan setelan abu-abu itu pasti Appa-mu.”

Naeun pun mengikuti arah telunjuk Myungsoo. Disana ada dua orang lelaki paruh baya tengah asik berbincang-bincang. Dan benar saja lelaki  yang memakai setelan abu-abu itu adalah ayahnya Naeun. Tapi bagaimana Myungsoo bisa menebaknya?

Myungsoo pun menggiring Naeun menghampiri dua lelaki paruh baya tersebut. Begitu sampai di depan mereka, Myungsoo langsung mengucapkan salam. Baik ayah Naeun maupun lelaki yang tengah mengobrol dengannya terkejut melihat Myungsoo dan Naeun.

“Naeun? Bagaimana kamu bisa…”

“Myungsoo? Kamu datang…”

Kedua lelaki itu menyapa Myungsoo dan Naeun bersamaan kemudian keduanya saling pandang, bingung.

“Ini Myungsoo putra bungsumu itu, Sungsoo?” tanya ayah Naeun.

“Dan apa gadis cantik ini putrimu? Naeun yang dulu pernah kamu bawa kesini itu? Astaga dia sudah besar sekarang,” Sahut pria yang dikenali Naeun sebagai Tuan Kim.

“Kalian saling kenal?” tanya ayah Naeun.

Myungsoo mengangguk. “Kita satu sekolahan. Naeun itu hoobae-ku di sekolah.”

“Loh? Kamu sekolah di Seoul? Sungsoo, kenapa kamu tidak bilang kalau putramu ada di Seoul? Kalau aku tahu, aku akan mengajaknya untuk mempir ke rumahku,” gurau ayah Naeun pada Tuan Kim.

Naeun merasa seperti orang asing disini. Ayahnya, Tuan Kim dan Myungsoo tampak begitu akrab, Ada yang aneh dengan situasi ini. Melihat dari percakapan ayahnya, sepertinya Myungsoo adalah putranya Tuan Kim. Tapi Naeun tak pernah tahu akan hal itu. Naeun jadi merasa telah gagal menjadi pasangan Myungsoo, karena dirinya benar-benar tak tahu apa-apa tentang Myungsoo.

Dan sekarang yang jadi pikiran Naeun adalah apa yang akan ibunya katakan nanti jika ia tahu kalau Myungsoo adalah putra seorang konglomerat sekelas Tuan Kim.

Dan benar saja, ibu Naeun sudah menghampiri mereka. Tampak jelas kalau ibunya kaget melihat Myungsoo ada disini, disamping Naeun, dengan setelan jas yang rapi. Tapi ibunya berusaha mengontrol ekspresi wajahnya.

“Oh, Yeobo,” sapa ayah Naeun. “Coba lihat, Naeun ternyata satu sekolahan dengan putranya Sungsoo.”

Myungsoo tersenyum penuh kemenangan melihat ibu Naeun. Ia kemudian membungkukkan badannya tanda hormat pada ibu Naeun.

“Oh, aku tahu,” sahut ibu Naeun. “Dia suka mengantarkan Naeun pulang ke rumah.”

“Myungsoo suka main ke rumah kalian?” kaget Tuan Kim. “Anak ini. Tidak pernah menghubungi rumah, tapi begitu pulang membawa cerita seperti ini, hahaha.”

Semuanya tertawa mendengar gurauan Tuan Kim, kecuali Naeun dan ibunya. Naeun terus mengawasi ekspresi yang dibuat ibunya. Sementara ibunya hanya tersenyum kecut mengikuti percakapan ini.

Myungsoo kemudian merangkul Naeun, sedikit membungkuk ia menatap Naeun. “Kenapa dengan ekspresimu? Kamu sudah mulai pusing? Mau diluar saja?” tegur Myungsoo.

Naeun mengangguk pelan. Kemudian Myungsoo dan Naeun berpamitan pada orangtua mereka dan pergi keluar ballroom. Sebelum Naeun pergi, ia masih bisa mendengar apa yang orangtuanya bicarakan.

“Sepertinya hubungan mereka bukan hanya sekedar Sunbae-hoobae saja.”

.

.

.

“Oppa, kenapa kamu tak pernah bilang kalau kamu adalah putranyaTuan Kim,” tuntut Naeun begitu mereka berada diluar  ballroom.

“Untuk apa?”

“Ya setidaknya kalau Eomma tahu Oppa adalah putranya Tuan Kim, orang terkaya di korea itu pasti Eomma tidak akan bersikap seperti itu padamu. Lagipula kalau tahu Oppa adalah anaknya sahabat Appa, pasti kita tidak akan menderita seperti kemarin,” keluh Naeun.

“Mana aku tahu kalau Abeoji bersahabat dengan ayahmu. Lagipula yang kaya itu adalah Ayahku, jadi untuk apa aku menggembar-gemborkan hal tersebut. Bukankah kamu lebih bangga dengan Myungsoo yang bisa membayar sewa apartemennya sendiri daripada Myungsoo putranya Kim Sungsoo?” ujar Myungsoo.

Naeun hanya menundukkan kepalanya. Myungsoo benar, walaupun Myungsoo berandalan sekalipun, Naeun tetap menyukainya. Dan sekarang mengetahui latar belakang Myungsoo yang seperti ini, Naeun merasa ada harapan akan hubungannya dengan Myungso ke depannya nanti.

“Kim Myungsoo?” tegur ibu Naeun yang ternyata mengikuti Naeun keluar ruangan.

Myungsoo seperti biasa dengan segala hormat langsung membungkukkan badannya terhadap ibu Naeun.

“Jangan kamu pikir karena kamu adalah putra Kim Sungsoo, lantas saya akan mengijinkanmu berpacaran dengan Naeun. Hal itu sama sekali tidak merubah keputusanku kalau Naeun tidak boleh berpacaran,” ujar ibu Naeun.

Naeun dan Myungsoo saling berpandangan. Ternyata ibu Naeun masih tidak menyukai Myungsoo. Baik Myungsoo maupun Naeun langsung menundukkan kepala mereka.

“Saya hanya mengijinkan kamu untuk menjadi temannya Naeun, bukan kekasihnya. Jadi jangan sekali-kali kamu bilang ke semua orang kalau kamu adalah pacarnya Naeun. Karena Naeun masih dibawah umur, belum boleh pacaran,” tegas ibu Naeun.

Myungsoo mengangkat wajahnya, begitu juga Naeun. Naeun melirik sekilas kearah Myungsoo dan mendapati wajah Myungsoo yang sedikit sumringah.

“Aku tidak akan mempedulikan hubungan macam apa yang kalian buat, tapi kalau sampai kamu melewati batas, walaupun kamu adalah putra presiden sekalipun tidak akan saya maafkan. Dan kamu tidak boleh menyentuh Naeun lebih dari itu.” Ibu Naeun menunjuk kearah tangan Myungsoo dan Naeun yang saling bertautan.

Myungsoo langsung melepaskan tangannya dari Naeun. “Ne,” sahutnya sigap.

“Berterima kasihlah pada ayahmu. Karena setidaknya sekarang kamu bisa berteman dengan Naeun,” ujar ibu Naeun sambil lalu.

Setelah ibunya pergi, Naeun langsung meraih tangan Myungsoo lagi. “Apa itu artinya Eomma mengijinkan kita bersama?”

“Sepertinya begitu,” sahut Myungsoo yang tampak belum kembali dari alam bawah sadarnya.

“Apa itu artinya kita bisa bertemu seperti dulu? Apa ini artinya aku tidak lagi harus dipisahkan darimu??” tanya Naeun lagi.

“Ya, sepertinya begitu,” kali ini Myungsoo kembali menatap Naeun. “Ibumu mengijinkanku untuk mendekatimu, Naeun!” seru Myungsoo girang.

Detik berikutnya Myungsoo sudah memeluk Naeun dan mengangkat tubuhnya berputar-putar di tempat. Setelah melepas pelukannya pada Naeun, Myungsoo langsung meraih kedua tangan Naeun dan menggenggamnya erat.

“Apa kubilang? Percayakan padaku, maka semuanya akan baik-baik saja. Mari kita rayakan bersatunya kembali hubungan kita.”

.

.

.

“Jadi Myungsoo dan Naeun itu berpacaran?”

Naeun menguping pembicaraan orangtuanya di kamar hotel. Seusai pesta selesai kedua orangtua Naeun mengadakan pembicaraan yang serius. Naeun yang tidak sengaja lewat di depan kamar orangtuanya pun jadi tergoda untuk ikut menyimak. Apalagi keduanya membawa-bawa namanya dan Myungsoo.

“Begitulah. Aku dibuat pusing oleh mereka. Naeun itu masih terlalu kecil untuk yang namanya pacaran. Masih banyak yang lebih penting daripada hubungannya dengan anak itu.”

“Tidak apa-apa kan? Lagipula, kurasa perasaan mereka hanya sebatas itu. tidak akan terjadi hal yang menakutkan. Naeun itu anak yang pintar, Yeobo.”

“Aku tidak akan pernah menyetujuinya. Apalagi anak itu adalah putranya Sungsoo.”

Naeun  merasa dirinya tidak bisa mendengar lebih jauh lagi percakapan kedua orangtuanya. Naeun kemudian memutuskan untuk keluar dari kamar hotelnya. Ya, dia butuh udara segar.

Naeun menyusuri bangunan hotel Paradise. Tak terasa dirinya sudah sampai di tepi pantai. Naeun pun memutuskan untuk berjalan menyusuri bibir pantai sambil sesekali menendang-nendang pasir dengan kaki polosnya. Ia berjalan sambil mengayun-ayunkan sepatu yang ia jinjing. Pikirannya melayang entah dimana. Memikirkan hubungannya dengan Myungsoo, memikirikan ibunya yang justru makin tidak menyukai Myungsoo, dan segala hal tentang Myungsoo. Naeun merasa sangat sesak saat ini.

Ketika sibuk berkutat dengan semua pikirannya, perhatian Naeun teralihkan oleh sesosok perempuan yang sedang berdiri di bibir pantai. Dengan gaun hitam selutut dan sebuket bunga mawar ditangannya, perempuan itu menatap laut dengan pandangan kosong. Naeun memperhatikan perempuan itu dengan seksama. Awalnya ia berpikir kalau dirinya sedang melihat hantu, tapi setelah diperhatikan perempuan itu masih menginjak bumi. Merasa diperhatikan, perempuan itu pun menoleh kearah Naeun. Ia tersenyum dan Naeun pun membalasnya dengan canggung.

“Oh, kamu bukannya gadis yang phobia keramaian tadi? Putrinya Tuan Son?” tegur perempuan tersebut.

Naeun hanya mengangguk dan mendekati perempuan itu. Naeun ingat kalau sebelum pergi ke pesta orangtuanya menitipkan dirinya pada perempuan ini. Naeun mengenalinya sebagai manajer Son, manajer di hotel Paradise.

“Apa yang kau lakukan malam-malam begini disini? Ngomong-ngomong siapa namamu?” tegur manajer Son.

“Ah, Son Naeun imnida,” sahut Naeun sambil mengulurkan tangannya.

“Oh, nama kita hampir sama. Son Eunseo imnida. Panggil saja aku Eunseo,” sahut manajer Son.

“Aku hanya sedang tidak bisa tidur, jadi kuputuskan untuk jalan-jalan sebentar. Kamu sendiri kenapa berada disini dengan pakaian seperti itu. Aku tadi sempat mengira kalau kamu adalah hantu, Eunseo-ssi.”

“Ahh, aku? Aku hanya sedang menyapa suamiku disini. Laut adalah tempat yang tepat ketika kau sedang merindukan seseorang, Naeun-ssi,” ujar Eunseo, tersenyum menatap laut.

Naeun pun ikut menatap laut. Benar apa kata Eunseo, laut adalah tempat tepat ketika sedang merindukan seseorang. Laut pula menjadi tempat tepat ketika dirimu sedang banyak pikiran.

Naeun melirik Eunseo sekilas. Eunseo tidak tampak seperti seorang yang sudah menikah. Dia masih sangat muda. Naeun bahkan yakin kalau Eunseo bahkan belum melewati usia dua puluh lima tahun.

“Ah, sepertinya aku harus kembali. Kamu juga kembali lah ke kamarmu, Naeun-ssi. Nanti kamu bisa masuk angin. Angin malam tidak baik untuk tubuhmu,” Eunseo memecah keheningan diantara mereka.

Naeun mengangguk menyahuti ucapan Eunseo. Kemudian Eunseo pun meninggalkan Naeun sendirian di tepi pantai. Dan ketika Naeun manatap kakinya yang penuh pasir, ia melihat sebuah dompet berwarna hitam di sebelah kakinya. Naeun pun memungut dompet tersebut.

“Dompet siapa ini? Punya Eunseo-ssi kah?”

Dan untuk mencari tahu siapa pemilik dompet tersebut, Naeun pun membuka dompet itu. Begitu dompetnya terbuka yang terlihat jelas adalah foto wajah si pemilik dompet, yaitu Eunseo. Tapi bukan itu yang membuat Naeun nyaris berhenti bernapas begitu mengetahui identitas si pemilik dompet. Di foto itu, Eunseo tidak sendirian. Ia tampak merangkul seorang pemuda yang sangat Naeun kenal. Berbanding terbalik dengan Eunseo yang tersenyum sumringah dibalut gaun pengantin yang indah, pemuda disamping Eunseo hanya menunjukkan senyum kecutnya, senyum khas Myungsoo.

“I.. ini.. bukannya Myungsoo.. oppa..?”

Naeun tidak mungkin salah mengenali wajah Myungsoo. walau di foto itu rambut Myungsoo hampir menutupi separuh wajahnya tapi Naeun tahu itu ADALAH Myungsoo. Dan difoto ini Myungsoo memakai tuxedo. Ini bukan berarti Eunseo adalah istri Myungsoo kan? Lagipula Myungsoo kan masih sekolah? Tapi tunggu, Naeun teringat akan percakapan staf hotel tadi, sesaat sebelum pertemuan dramatisnya dengan Myungsoo di lobby hotel.

“Jangan sampai Manajer Eunseo melihat Tuan muda Myungsoo. kamu tahu kan mereka dulu sangat dekat.”

Rasanya tubuh Naeun melemas seketika. Ditutupnya dompet tersebut dan dimasukkan kedalam saku hoodie-nya. Pikirannya dirasanya semakin penuh. Apa hubungan Myungsoo dengan Eunseo? Bagaimana mereka bisa kenal? Naeun benar-benar merasa Myungsoo adalah sebuah misteri besar yang tak bisa ia pecahkan sendirian. Terlalu banyak teka-teki mengenai Myungsoo yang tidak Naeun ketahui.

Seketika rasa hangat mendadak menyelimuti Naeun. Sudah ada sebuah jaket yang membalut tubuhnya. Kaget karena ada orang yang secara tiba-tiba memakaikan jaket ke tubuhnya, Naeun pun langsung melompat menjauh sampai nyaris jatuh ke sapuan ombak.

“Astaga Naeun. Kamu sedang apa disini sendirian hah?!” bentak orang yang kini sudah menahan tubuh Naeun agar tidak jatuh ke air.

“Op.. Oppa? Kenapa masih disini? Bukannya Oppa..”

“Harusnya aku sudah dikamar dan memimpikanmu. Tapi ibumu tiba-tiba telepon mengira aku menculikmu karena kamu gak ada di kamarmu. Jadi aku langsung meluncur kesini, karena kuyakin kamu pasti ada disini,” sahut Myungsoo yang lalu menarik Naeun untuk naik ke punggungnya. “Pegangan yang benar. Kamu bisa sakit nanti. Angin malam tidak baik untuk tubuhmu.”

Deg! Ucapan Myungsoo sama persis seperti ucapan Eunseo. Naeun merasa kalau Myungsoo dan Eunseo pasti punya hubungan khusus. Rasa khawatir langsung memenuhi hatinya.

Akhirnya Naeun pun mengeratkan pelukannya pada Myungsoo, ketika Myungsoo mulai menggendongnya meninggalkan pantai.

“Bagaimana Oppa bisa tahu aku ada disini?”

“Aku yang mengenalkan tempat ini padamu tadi, ingat?” sahut Myungsoo. “Ahh Naeun, sepertinya kamu sudah berhasil menaikkan berat badanmu ya. Kemarin dulu ketika kamu duduk di pangkuanku aku hampir tidak bisa merasakan beratmu. Dan sekarang hhh… baru jalan sebentar saja.. hhh… aku sudah.. hhh..” ujar Myungsoo dengan suara terengah-engah yang dipaksakan.

“Ahh, Oppa. Jangan menyinggung masalah berat badan,” protes Naeun.

“Ahahaha arraseo arraseo. Uri Naeun tidak berat sama sekali,” ujar Myungsoo sambil tertawa.

Naeun hanya menyembunyikan wajahnya dipunggung Myungsoo.

“Apa yang sedang kau pikirkan, hah? Bukankah sudah kubilang, untuk berbagi segalanya padaku? Apa lagi kali ini? Ibumu?” tegur Myungsoo seolah mampu membaca pikiran Naeun.

Naeun hanya menggelengkan kepalanya dipunggung Myungsoo. Ia bingung, ingin menanyakan mengenai Eunseo, tapi juga tak ingin terlihat konyol karena prasangkanya. Myungsoo pasti akan menertawainya karena dirinya memikirkan hal seperi itu.

Dan kini Myungsoo sudah menurunkan Naeun dari punggungnya. Mendudukkan Naeun di lobby hotel (entah sejak kapan mereka sudah sampai di lobby hotel) dengan sebaskom air bunga di dekat kaki Naeun. Naeun sendiri tidak tahu sejak kapan ada baskom air itu disana.

“Astaga mana ada perempuan kakinya kotor begini,” ujar Myungsoo sambil menarik kaki Naeun dan menenggelamkannya ke dalam baskom. Myungsoo kemudian mencuci kaki Naeun hingga bersih setelah itu mengeringkan kaki Naeun dengan handuk yang dibawa staff hotel.

Dan hei, Naeun mengenali staf hotel itu. Itu adalah staf yang tadi bergosip di dekatnya sebelum ia bertemu dengan Myungsoo. Staf itu tampak menundukkan kepalanya dalam-dalam, mungkin Myungsoo habis menceramahinya habis-habisan.

“Nah, tuan putri. Kakimu sudah bersih. Bagaimana rasanya? Sudah bisa pakai sepatu Cinderella-mu, kan?” ujar Myungsoo.

Naeun hanya mengangguk.

“Nah, sebelum kamu kembali ke kamarmu, ceritakan padaku apa yang mengganggu pikiranmu,” tanya Myungsoo lagi.

Naeun hanya menundukkan kepalanya, bingung ingin cerita atau tidak. Tapi akhirnya ia melirik staf hotel yang ada di belakang Myungsoo. “Aku secara tidak sengaja.. hmm.. tahu tentang.. hmm.. perempuan yang pernah dekat dengan Oppa.”

Myungsoo langsung melirik sekilas kearah kedua staf di belakangnya. Seolah memberikan peringatan kepada mereka. Lalu menatap Naeun sambil menggenggam tangan Naeun.

“Nugu? Eunseo-kah? Dia memang orang yang sangat dekat denganku. Dia Noona-ku. Tadi aku sudah cerita kalau Hyung-ku meninggalkan kakak ipar yang sangat cantik disini kan? Dialah Son Eunseo. Besok akan kukenalkan kau padanya,” cerita Myungsoo.

“Jadi ini yang membuat Cinderella-ku kabur dari kamarnya. Kamu sungguh menggemaskan ketika sedang cemburu, Naeun,” ujar Myungsoo sambil mengacak-acak rambut Naeun.

“Ehh? Siapa yang cemburu? Aku? Kapan?” Naeun mengelak.

“Mengaku saja kalau kau cemburu,” goda Myungsoo lagi.

Animida,” tolak Naeun.

“Tidak apa kalau kamu cemburu. Itu artinya kamu sudah mencintaiku.”

Naeun merasa wajahnya memerah sempurna sekarang.

“Ayo cepat naik lagi. Kakimu sudah bersih jadi tidak boleh dikotori lagi,” ujar Myungsoo sambil memunggungi Naeun. Naeun pun langsung melompat ke punggung Myungsoo.

Well, setidaknya perasaan Naeun sudah lebih baik. Son Eunseo hanya kakak iparnya Myungsoo. Tentu saja hubungan mereka pasti sedekat itu. Tidak peduli apapun hubungan yang pernah Myungsoo buat dengan perempuan-perempuan sebelum Naeun, tapi bukankah yang terpenting saat ini adalah Myungsoo mencintai Naeun. Ya itu sudah cukup.

.

.

.

Sejak liburan di pulau Jeju, hubungan Naeun dan Myungsoo seolah jadi tanpa hambatan. Karena ibunya Naeun sudah tidak lagi melarang Myungsoo menemui Naeun. Hanya saja pertemuan Naeun dan Myungsoo tetap dibatasi. Myungsoo hanya boleh membawa Naeun pergi keluar rumah sampai jam 7 malam, karena Naeun sudah harus ada di rumah begitu jam 7 – Naeun sampai mendapat julukan Cinderella-jam-tujuh oleh Myungsoo. Dan kalau weekend tiba, Myungsoo tidak boleh membawa Naeun main keluar. Selain itu jika ingin menghabiskan waktu melewati jam 7 malam, maka itu harus dilakukan di rumah Naeun –dibawah pengawasan ibunya.

Dan setelah melalui ujian yang sangat berat dan juga dengan mengadu keberuntungannya, Myungsoo berhasil meminta ijin pada ibunya Naeun agar Naeun bisa menonton pertunjukkan perdana dirinya pada sabtu malam. Walaupun harus membawa serta Sekretaris Seo sebagai pengawas mereka.

Dan kini Naeun tengah berada di backstage bersama Myungsoo dan teman-teman se-bandnya. Myungsoo tampak begitu berbeda hari ini. Ia terlihat lebih berkharisma dan errr… sexy? Dengan kaus yang dibalut jaket kulit dan juga celana jeans yang robek disana-sini membuat Naeun tak berhenti mengagumi charisma Myungsoo.

“Oppa, apa kau baik-baik saja?” tegur Naeun pada Myungsoo yang sedang berdiri sambil memejamkan kedua matanya.

Myungsoo menarik napas dalam-dalam dan berkata, “Aku gugup Naeun. Ini adalah panggung pertamaku. Bagaimana kalau tidak bisa bernyanyi dengan baik? Bagaimana kalau nanti ada kesalahan? Bagaimana kalau nanti penonton tidak suka dengan penampilanku…”

“Oppa tenang,” sela Naeun. “Semua pasti akan menyukai panggungmu. Jangan pikirkan itu semua, yang penting kamu harus menampilkan yang terbaik.”

“Spirit Soul sepuluh menit lagi!!” seru koordinator acara yang baru masuk ke ruang tunggu Spirit Soul – bandnya Myungsoo.

Beberapa teman se-band Myungsoo sudah langsung bersiap-siap menyusul sang koordinator. Sementara Myungsoo seolah enggan melangkahkan kakinya keluar ruangan. Ia masih saja berada di depan Naeun sambil menggenggam tangan Naeun.

“Oppa, kamu harus bersiap-siap.”

“Aku butuh vitamin, Naeun. Aku terlalu gugup, bahkan lebih gugup dari waktu menyatakan perasaanku padamu. Aku butuh vitamin,” sahut Myungsoo.

Naeun langsung bingung sekaligus panik. Ia tak tahu menahu soal vitamin yang biasa diminum Myungsoo. Naeun juga tidak membawa vitaminnya saat ini. Karenanya Naeun panik.

“Bagaimana ini?! Aku gak bawa vitamin? Kenapa Oppa gak bilang kalau butuh vitamin, kan tadi bisa aku beli di apotek. Kalau begitu aku ke apotek dulu.”

Dan ketika Naeun hendak keluar ruangan, Myungsoo malah menarik dirinya.

“Bukan vitamin itu, Naeun. Tapi ini…” bisik Myungsoo yang lalu mengecup singkat bibir Naeun.

Myungsoo menarik sudut kiri bibirnya begitu melepas ciumannya. “Ups, aku melewati batas. Tapi sepertinya sekretaris Seo tidak melihatnya. Jadikan ini rahasia ya,” ujar Myungsoo sambil mengerling nakal pada Naeun.

Myungsoo kemudian meninggalkan Naeun yang masih mematung ditempat. Perlahan Naeun menyentuh bibirnya. Pikirannya kosong saat ini. Apa yang baru saja terjadi, pikirnya. Myungsoo menciumnya dan itu adalah ciuman pertamanya. Kemarin dulu waktu di Jeju, ketika mereka merayakan bersatunya kembali hubungan mereka, Myungsoo juga hampir menciumnya, tapi gagal karena ada sekretaris Seo yang tiba-tiba datang. Dan kali ini Myungsoo benar-benar melakukannya.

Bzzz.. Bzzz..

Terdengar suara handphone bergetar. Naeun pun mencari-cari handphone mana yang berbunyi. Ternyata handphone milik Myungsoo yang bersuara pertanda telepon masuk. Naeun memperhatikan layar handphone Myungsoo, disana tertera seseorang yang bernama Noona sedang menelepon Myungsoo, noona yang Naeun kenal yaitu Eunseo (jika dilihat dari foto caller id yang terpampang disana).  Naeun pun memutuskan untuk menjawab telepon tersebut.

“Yoboseyo? Myung? Mianhae, aku gak bisa datang. Tapi tenang saja, aku masih tetap mencintaimu, kok. Aku sudah mengirimkan bunga untukmu. Semangat untuk…”

Tuutt.

Naeun langsung memutuskan sambungan telepon itu. Tadinya ia tak mau ambil pusing akan seseorang bernama Eunseo. Tapi kalimat yang diucapkan Eunseo tadi membuat Naeun benar-benar tidak bisa untuk tidak peduli. Sesungguhnya apa hubungan Myungsoo dan Eunseo?

“Naeun?” tegur Sekretaris Seo yang sudah masuk ruangan.

Sontak Naeun langsung tersadar dari alam bawah sadarnya. Jantungnya hampir saja copot begitu mendengar suara sekretaris ibunya tersebut. “Ne?”

“Apa kamu mau terus di dalam? Bukannya ingin menonton penampilan Myungsoo-ssi?”

“Ahh ne,” sahut Naeun sambil mengembalikan handphone Myungsoo ke tempatnya.

“Ah, Sekretaris Seo, boleh aku minta tolong padamu. Kamu kan sudah lama bekerja dengan Eomma. Bisa tolong cari tahu apakah Eomma pernah ada masalah dengan Tuan Kim, pemilik hotel Paradise itu?” tanya Naeun. “Dan satu lagi, bisa tolong carikan informasi mengenai seseorang bernama Son Eunseo?”

.

.

.

kupercayakan semuanya padamu

tapi apa kau juga mempercayakan semuanya padaku

aku tidak tahu siapa kamu

aku tidak tahu darimana asalmu

aku juga tidak tahu seperti apa kehidupanmu

tapi aku mempercayaimu

lantas….

kenapa kamu masih saja bersembunyi dibalik cangkangmu

jangan biarkan aku sendirian menebak-nebak siapa dirimu…

= Naeun’s Mind =

L

ngahahahaha.. *numpang ketawa bentar*
akhirnya lanjut juga nih cerita…
masih ada yang nungguin ga ya?? *reader: gak!! udah basi lagian!*
hiks

maaf kalo ceritanya jadi gaje,,
abisannya file aslinya ilang,, sementara udah lupa2 inget apa2 aja yang udah dimasukkin ke part4.

tapi walopun lama,, ini cerita tetep lanjut kan..
makanya percaya sama bee,, bee ga pernah bikin cerita yang ga selesai..
itu prinsip bee… yeah..

buat yang udah setia nungguin FF ini makasihh..
buat yang masih mau baca ff ini juga makasihh..
buat yang terus mensupport bee untuk lanjutin ff ini juga makasihh..
saya ucapkan terima kasih buat semua reader setia beedragon zone ini…
*hug n kiss reader satu persatu*

gomawo… annyeong!!

Advertisements
FF – THIS IS NOT A LOVE STORY | Chapter 4 | PG15

34 thoughts on “FF – THIS IS NOT A LOVE STORY | Chapter 4 | PG15

  1. SoheeKW says:

    Woaaaah mulai tambah seru disini, aaa~ Naeun unyyuuuu pas cemberu, feelnya dapet banget apalagi pas bagian roman MyungEun, Daebak chingu plok…plok…plok…

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s