FF – Into Your World, Angel | Kai Story | PG15


Title : Into Your World, Angel

Subtitle : (Winter/겨울) On Winter Day We Met, On Winter Day We Separated

Author : beedragon

Cast:

Kai EXO as Kai (Sang Penjemput Surga) / Kim JongIn

Im GyoEul (OC)

Other Cast:

Tao EXO as Tao (Sang Penjemput Neraka)

Suho EXO as Leader Suho

Genre : Fantasy, Life

Length : Oneshoot (Series Short Story)

Rating / pairing : pg15 / Straight

Summary : Sang Penjemput. Adalah malaikat yang bertugas menjemput jiwa manusia dan membawanya ke tempat dimana mereka akan melanjutkan kehidupannya sesudah mati, entah itu di surga atau neraka. Ini adalah kisah dari Sang Penjemput dalam menjalankan tugasnya.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : EXO – Into Your World (Angel)

On winter day we met, On winter day we separated

*

*

*

Ada banyak kisah tentang masa lalu Sang Penjemput. Sebagian besar dari mereka adalah manusia yang jiwanya diangkat menjadi malaikat. Meskipun beberapa dari mereka menciptakan kontroversi besar di kalangan para malaikat dengan masa lalunya ketika masih menjadi manusia.

Kai salah satunya. Seluruh malaikat tahu kehidupan Kai di ketika menjadi manusia itu seperti apa. Dia lebih banyak melakukan kenakalan daripada kebaikan, walaupun tidak separah Tao yang notabene adalah mantan assassin. Terlebih lagi ketika sudah menjadi malaikat, Kai lebih banyak membolos dari pekerjaannya dan malah keluyuran disamping manusia bernama Im GyoEul.

Tapi tidak mungkin Eden salah memilih penghuninya.

*

*

*

Di sebuah taman bermain anak-anak, tampak seorang anak kecil berumur tiga tahun tengah bermain pasir. Dengan sekop kecilnya ia membuat istana pasir. Gadis kecil itu tidak mempedulikan suhu dingin yang mulai menembus kulitnya. Ia terus berkonsentrasi mengaduk-aduk pasir sambil sesekali mengelap hidungnya yang mulai mencair.

Beberapa ibu-ibu mulai memanggil anak-anaknya yang masih bermain di taman tersebut untuk segera pulang. Taman pun beranjak sepi karena sebagian besar anak-anak mulai meninggalkan taman bermain. Tapi tidak dengan gadis kecil itu, ia tidak bergeming dari tempatnya. Lagipula tidak ada satupun dari ibu-ibu itu yang memanggil namanya untuk mengajaknya pulang.

“Im GyoEul, masih main disini?” tegur salah seorang ibu pada gadis kecil itu.

GyoEul, gadis kecil itu menatap si ibu-ibu sejenak kemudian kembali sibuk dengan istana pasirnya.

“Memangnya dimana ibumu? Kenapa dia membiarkanmu bermain sendirian disini?”

Mendengar ucapan ibu tersebut, GyoEul hanya bisa menundukkan kepalanya. Seolah ada awan hitam diatas kepalanya, GyoEul langsung murung dan sedih.

“Ck, ibu macam apa dia itu, tega sekali meninggalkan anaknya seperti ini,” gerutu ibu-ibu tadi sambil lalu dan meninggalkan GyoEul sendirian di taman bermain.

GyoEul menatap istana pasirnya dengan hampa. Airmatanya perlahan jatuh. GyoEul menangis dalam diam. Sejak kecil ia tak pernah bertemu dengan ibunya. Ia sering mendengar gossip para ibu yang menyebutkan kalau ibunya meninggalkannya dengan ayahnya. GyoEul bahkan tidak tahu apakah ia harus sedih, kesal, atau marah jika ada orang yang menyinggung masalah ibunya.

“Yah! Kenapa menangis?!” sentakan itu mengagetkan GyoEul.

GyoEul mengangkat wajahnya dan mendapati ada anak lelaki sudah berdiri dihadapannya sambil bertolak pinggang. GyoEul memandangi anak itu dengan bingung. Seruan anak itu membuat GyoEul kaget sekaligus takut. Sekarang bahkan ia sudah hampir menangis lagi, kalau saja anak itu tidak…

“Jangan menangis,” ujar anak lelaki itu dengan sangat lembut. Ia kemudian berjongkok di depan GyoEul dan menghapus airmatanya. “Kalau ada yang mengganggumu bilang saja padaku. Aku ini jagoan disini, semua anak-anak itu takut padaku. Kamu sebut saja nama KIM JONGIN, pasti mereka langsung kabur,” anak lelaki itu menunjukkan senyum seringaiannya.

GyoEul merasa pipinya menghangat ketika disentuh anak lelaki itu. Ia merasa anak lelaki itu bukanlah anak yang nakal. GyoEul pun menyodorkan sekopnya pada anak lelaki itu, mengajaknya bermain istana pasir.

“Siapa namamu, anak kecil?” tanya anak lelaki itu yang lebih terdengar seperti sebuah titah bagi GyoEul.

GyoEul yang sejak tadi terus memperhatikan anak lelaki itu langsung menundukkan kepalanya. “Im GyoEul imnida.”

“GyoEul? Musim dingin? Wah namamu bagus sekali,” seru anak lelaki itu. “Im GyoEul, aku Kim JongIn. Kamu harus ingat namaku.”

“Kamu tahu? Hari ini adalah hari pertama musim dingin. Dan hari ini aku bertemu denganmu, gadis musim dingin. Apa kamu mau jadi temanku. Berteman denganku itu asik loh, kamu pasti gak akan kesepian,” ujar JongIn. Ia kemudian mengulurkan tangannya pada GyoEul dan menjabatnya. “Mulai sekarang, aku akan menemanimu. Dan kamu gak boleh nangis ketika sedang bersamaku, arraseo?”

*

*

*

Beberapa belas tahun kemudian.

GyoEul menyusuri gang  untuk menuju rumahnya. Ia tak henti-hentinya tersenyum memandangi kantung plastik di genggamannya. GyoEul habis dari studio keramik membuat sepasang cangkir untuk dirinya dan JongIn, kekasihnya.

JongIn. Hanya menyebut namanya saja sudah mampu membuat GyoEul tersenyum sendirian. Masuknya JongIn ke kehidupan GyoEul belasan tahun yang lalu, sukses membawa perubahan besar pada diri GyoEul. JongIn selalu ada disamping GyoEul. Selalu menemaninya, menghiburnya ketika ia sedang sedih serta memberikan GyoEul banyak cinta. Dan GyoEul sangat mencintainya, melebihi apapun yang ada di dunia ini.

“YAH KIM JONGIN BERHENTI KAU!!” seruan-seruan membuat GyoEul tersadar dari khayalannya.

GyoEul melihat JongIn tengah berlari kearahnya. Tentu saja ia tak melihat kalau ada empat orang berbadan besar tengah mengejar JongIn saat ini. GyoEul sudah terlalu bersemangat melihat JongIn. Dan begitu JongIn sudah hampir mendekati dirinya, GyoEul langsung menyapanya.

“JongIn Oppa,” tegur GyoeEul.

JongIn yang hampir melewati GyoEul pun berhenti. Ia tampak panik mendengar GyoEul menegurnya. “Aishh, kenapa kamu malah menegurku?!” serunya panik.

Ia kemudian menoleh ke belakang –kearah empat lelaki yang mengejarnya. Lalu JongIn kembali berlari. Tapi baru berapa langkah, ia langsung kembali lagi ke hadapan GyoEul. Menatap GyoEul kesal kemudian menarik tangannya.

“Jangan protes kalau nanti kau capek,” ujar JongIn. Lalu ia menarik GyoEul untuk ikut berlari bersamanya, menghindari kejaran empat lelaki berbadan besar itu.

*

*

“Hhahh… hhahh.. hhahh..” GyoEul berusaha mengatur napasnya yang sudah setengah-setengah itu.

Karena menghindari kejaran empat orang preman yang bermasalah dengan JongIn tadi, kini GyoEul dan JongIn bersembunyi di sebuah bukit yang adalah sebuah pemakaman umum.

“Ini salahmu, Gyo. Kenapa kamu tadi malah menegurku. Kamu jadi harus ikutan lari kan. Hhah.. hhah,” keluh JongIn.

JongIn kemudian merebahkan dirinya di rerumputan, sementara GyoEul masih masih berdiri sambil memeluk kantung plastik yang dibawanya.

“Oppa, kamu masih saja suka mencari masalah. Kali ini mereka mengejarmu karena apa, hah?! Kapan kamu mau berhenti melakukan hal seperti itu sih?”protes GyoEul.

“Itu salah mereka, kenapa membuatku kesal. Jadinya aku tinju saja salah satu temannya, dan ternyata itu adalah bos mereka,” ujar JongIn.

“Astaga, Oppa. Berhentilah membuat keributan,” protes GyoEul.

“Aissh berisik sekali anak ini. Berhenti mengomel atau aku akan menghukummu.” JongIn menarik tangan GyoEul sehingga GyoEul jatuh menimpa dirinya. “Diam sebentar seperti ini atau aku akan benar-benar menghukummu.”

GyoEul terdiam di pelukan JongIn. Detak jantung JongIn yang berpacu cepat terdengar jelas di telinganya. Dada JongIn masih naik turun dengan cepat akibat kelelahan sehabis berlari. Ketika JongIn mengeratkan pelukannya, GyoEul merasa seolah semua rasa capek itu menghilang begitu saja.

“Kalau hukumannya seperti kemarin maka aku lebih baik terus berbicara,” gurau GyoEul.

JongIn langsung melepaskan pelukannya dan menatap GyoEul tajam, berpura-pura kesal. “Kamu salah bicara seperti itu, Gyo,” ujar JongIn.

JongIn kemudian merebahkan tubuh GyoEul di sebelahnya sementara dirinya bangkit dari tidurnya dan menatap mata GyoEul dalam-dalam. Kemudian JongIn mendekatkan wajahnya ke wajah GyoEul. Mengira JongIn akan mencium dirinya, GyoEul pun langsung menutup matanya.

“Yah, apa yang kamu pikirkan, Byeontae-ya,” tegur JongIn. Ia mencubit pipi GyoEul gemas.

GyoEul langsung membuka matanya dan mendapati JongIn sudah tertawa puas sampai berguling-guling di rerumputan. Dan tanpa diminta wajah GyoEul memerah sempurna.

“Ahahahaha, kamu kira aku akan melakukan apa, ahahaha. Gyo-ya neomu gwieopta.” Gelak tawa JongIn menggema ke seluruh bukit.

Kesal, GyoEul pun berdiri sambil memanyunkan bibirnya. “Oppa miwo,” kemudian GyoEul berlari meninggalkan JongIn yang masih tertawa bahagia.

*

*

JongIn yang masih berbaring di rerumputan terus memandangi langit yang tampak kelabu. Sesekali ia tersenyum melihat reaksi lucu dari GyoEul tadi. Tumbuh belasan tahun bersama GyoEul, membuat JongIn merasa GyoEul adalah segalanya. Ia tak peduli jika ia harus berkelahi dengan preman-preman, atau harus keluar masuk penjara karena membela GyoEul. Tapi selama itu semua bisa membuat GyoEul tersenyum, apapun akan ia lakukan.

Dan ketika sedang sibuk memikirkan tingkah GyoEul tadi, JongIn dikejutkan oleh seseorang tak dikenal yang kini berdiri di hadapannya. Orang tersebut cukup tinggi dan terlihat sedikit menyeramkan, apalagi pakaiannya cukup aneh. JongIn langsung memasang posisi siaga sambil mengangkat kedua tinjunya ke hadapan orang itu.

“Nu.. nuguseyo?!” seru JongIn.

“Ohh, kau bisa melihatku?” tanya orang tersebut datar.

“Tentu saja bisa!” bentak JongIn. Menyadari ada yang aneh dengan pertanyaan orang tersebut, JongIn mendadak menciut. “Memangnya kau.. hantu?” tanya JongIn setengah takut.

“Baguslah kalau kau bisa melihatku. Aku akan memperkenalkan diriku. Aku adalah Tao, Sang Penjemput. Malaikat yang akan menjemput jiwamu dan membawanya ke tempat yang seharusnya.” Orang tersebut memperkenalkan dirinya.

Sang apa tadi dia bilang? Malaikat apa? Bingung JongIn. “Apa maksudmu?”

“Jika sang penjemput berada di dekat manusia itu artinya manusia tersebut akan segera mati,” ujar Tao. Wajahnya terlihat begitu datar ketika mengucapkan hal tersebut, tapi JongIn begitu ketakutan mendengarnya.

“Itu artinya.. aku.. akan mati?”

*

*

*

“Oppa tumben sekali kau mengajakku jalan-jalan malam hari begini. Apa kau sekarang menyesal karena sudah mengerjaiku tadi siang?” ujar GyoEul.

JongIn tidak menjawab pertanyaan GyoEul. Ada terlalu banyak hal yang berkecamuk di otaknya. Perkataan Tao, malaikat kematian yang sejak tadi siang mengikutinya itu, terus berkumandang di telinganya.

Kau akan segera mati.

Bukannya JongIn takut mati. Tapi kalau dia mati, itu artinya ia akan berpisah dari GyoEul. Hanya memikirkannya saja bisa membuat hatinya sesak. Berpisah dari GyoEul adalah sebuah hal yang tak pernah terjangkau oleh pikirannya. Tidak bisa melihat GyoEul sehari saja bisa membuat otaknya sakit, dan kini ia harus berpisah selamanya?!

“Oppa..?” tegur GyoEul.

JongIn pun tersadar dari lamunannya. Ia menatap wajah GyoEul, wajah dari orang yang sangat disayanginya.

“Oppa apa kau tahu? Malam ini adalah malam pertama musim dingin datang. Aku jadi ingat pertemuan pertama kita,” ujar GyoEul. “Waktu itu Oppa sombong sekali, ‘Siapa namamu anak kecil?’ sungguh waktu itu aku takjub sekaligus bingung melihatmu, Oppa.”

“Berarti sudah 14 tahun kita bersama? Ternyata sudah selama itu ya,” Sedih JongIn.

GyoEul mengangguk riang. “Oppa dulu pernah berjanji padaku akan selalu menemaniku dan tidak akan membiarkanku sendirian. Aku sungguh bersyukur bisa bertemu denganmu, Oppa. “

Dada JongIn semakin sesak mendengar perkataan GyoEul. JongIn terdiam. Ia melirik kearah Tao yang membuntut di belakangnya. Sekarang JongIn benar-benar yakin kalau Tao itu malaikat. Buktinya saja GyoEul tidak bisa melihat wujudnya.

“Gyo-ya, apa yang akan kamu lakukan kalau aku tidak ada?” lirih JongIn.

GyoEul pun menghentikan langkahnya. Ia menatap JongIn khawatir. Ada yang aneh dengan JongIn. Sejak berpisah di bukit tadi siang, sikap JongIn jadi berubah. Sampai-sampai GyoEul berpikir kalau JongIn sedang kerasukan roh penunggu makam di bukit.

“Ada apa Oppa? Kenapa kamu bicaranya aneh sekali? Kamu mau pergi kemana memangnya? Jangan berbicara seperti itu. Kau membuatku takut.” Ujar GyoEul.

“Ahh tidak ada apa-apa,” ujar JongIn sambil tersenyum. “Aku hanya tiba-tiba saja kepikiran akan hal itu. Maaf membuatmu khawatir.”

Ketika JongIn dan GyoEul sedang asik berbincang-bincang, tiba-tiba saja Tao menyela obrolan mereka. Ia membentangkan sayapnya di hadapan JongIn sehingga membuat JongIn terlonjak kaget sekaligus takut melihat penampilan Tao sekarang.

“Maaf, tapi waktunya sudah hampir tiba. Sebaiknya kau usir perempuan ini sebelum dia menyaksikan aku menjemput nyawamu,” ujar Tao dingin.

Keringat dingin langsung membanjiri pelipis JongIn. Ia tidak menyangka akan secepat ini kematian datang padanya. Terlebih lagi saat ini ia sedang bersama GyoEul. Ia tak ingin GyoEul melihat dirinya….

“Gyo-ya, aku haus. Belikan aku minum,” pinta JongIn dengan suara bergetar.

“Wajahmu pucat Oppa. Kalau gitu aku pergi beli minum dulu sekalian beli obat untukmu. Kamu tunggu disini.” Setelah mengatakan itu GyoEul pun pergi meninggalkan JongIn.

JongIn menatap Tao takut-takut. Apakah sakit? Apakah prosesnya lama? Ia memikirkan hal tersebut. dan ketika Tao mulai mendekatinya, JongIn malah melangkah mundur menjauhi Tao.

“Tunggu sebentar, Tao,” sela sebuah suara.

Baik Tao maupun JongIn sama-sama menoleh ke sumber suara. Ternyata ada orang aneh lagi –yang diduga JongIn adalah malaikat, karena sayap di punggungnya– berdiri tak jauh dari mereka. Malaikat bersayap putih itu memamerkan senyumnya yang tampak meneduhkan.

“Maaf mengganggu, Tao. Tapi bukan kamu yang akan menjemput Kim JongIn. Akulah yang akan menjemputnya.”

JongIn menatap malaikat bersayap putih itu bingung, begitu juga dengan Tao. JongIn berpikir memangnya ada berapa nyawanya sampai harus ada dua malaikat yang ingin mengambil nyawanya.

“Tapi Leader Suho, saya yang mendapatkan tugas untuk menjemputnya. Jangan mencoba untuk menghalangi saya. Walaupun kamu adalah pemimpin di surga tapi saya tidak akan segan,” sahut Tao.

“Tapi anak ini tidak akan ikut denganmu.” Sahut malaikat putih masih sambil tersenyum. Ia kemudian menyodorkan selembar kertas putih kepada Tao. “Tugasmu sudah tak berlaku lagi. Keluarkan kertas tugasmu, aku yakin namanya sudah tak ada disana.”

Tao meraih kertas dari tangan Leader Suho, kemudian ia mengeluarkan keras kelabu dari kantung pakaiannya. Setelah membaca isi kertas tersebut, Tao langsung mundur teratur dan memberikan wewenang sepenuhnya atas JongIn kepada Leader Suho. Leader Suho pun langsung menghampiri JongIn.

Walaupun bingung dengan apa yang terjadi, tapi JongIn merasa jika dirinya lebih baik dicabut nyawanya oleh Leader Suho daripada oleh Tao. Karena JongIn berpikir kalau Leader Suho itu adalah malaikat yang baik.

Sambil tersenyum Leader Suho berkata, “Eden sudah menemukan penghuni barunya. Aku akan membawamu dan membimbingmu untuk menjemput manusia-manusia menuju kebahagiaan.”

“Tu..Tunggu sebentar..” sela JongIn. “Sebelum aku mati, bolehkah kau mengabulkan permintaan terakhirku. Bisakah kita menunggu GyoEul? Aku ingin melihatnya untuk yang terakhir kalinya.”

“Maaf, tapi aku tidak bisa,” sahut Leader Suho dengan senyum yang tak lepas menghiasi wajahnya. “Tersenyumlah, walaupun kamu meninggalkan bumi ini, tapi kamu akan pergi ke tempat yang lebih indah daripada kehidupanmu disini.”

“Tidak ada tempat yang lebih indah bagiku selain berada di sisi Gyo.. akh!” JongIn merasakan nyeri di punggungnya.

“Inilah hukumannya untuk anak yang kurang ajar, JongIn!” desis seseorang di belakang JongIn.

JongIn meraba punggungnya, ada sebilah pisau menancap disana. Sekilas ia bisa melihat siapa yang baru saja menusuknya, salah saeorang dari rombongan preman yang tadi bermasalah dengannya. JongIn pun tersungkur di tanah, sementara orang yang menusuknya langsung pergi begitu saja.

Leader Suho berjongkok di samping JongIn dan meletakkan tangannya diatas kepala JongIn. “Maaf, tapi setelah ini kamu tidak akan merasakan sakit lagi. Jadi bersabarlah sebentar.”

“JongIn Oppa!!!” jerit GyoEul yang baru saja kembali. Dengan panik ia langsung berlari menghampiri tubuh JongIn yang sudah penuh darah. Dan GyoEul pun menangis. “Oppa, apa yang terjadi? Kenapa… kenapa… Oppa bertahanlah kumohon.”

Dengan sisa tenaga yang ada JongIn meraih wajah GyoEul dan menghapus airmatanya. JongIn memaksakan dirinya untuk tersenyum di hadapan GyoEul. “Uljima. Kamu gak boleh menangis ketika sedang bersamaku. Apa kamu lupa akan hal itu?” lirih JongIn.

Leader Suho yang menyaksikan peristiwa ini tampak ikut sedih. Ia bahkan memalingkan wajahnya dan menatap Tao yang masih memasang ekspresi dingin yang tak bersahabat. Leader Suho kemudian melihat arlojinya dan waktunya sudah menunjukkan kalau dia sudah harus menarik jiwa JongIn.

Lima..

GyoEul memeluk JongIn dan ketika tangannya melingkar di punggung JongIn, GyoEul merasakan ada gagang pisau menancap disana. GyoEul langsung menunjukkan wajah paniknya.

“Oppa siapa yang menusukmu?! Oppa bertahanlah,” isak GyoEul.

Empat..

JongIn masih memegang pipi GyoEul. “Mianhae, Gyo-ya.”

Tiga..”

“jangan tinggalkan aku, Oppa,” tangis GyoEul makin kencang.

Dua..

“Aku akan selalu ada disisimu, Gyo. Aku gak akan kemana-mana… Saranghhh,” bisik JongIn.

Satu.. Heartless Mindless No one who care about me.” Leader Suho pun menarik jiwa JongIn keluar dari tubuhnya.

Tubuh JongIn melemas di pelukan GyoEul. Tangannya yang tadi menyentuh pipi GyoEul, jatuh begitu saja seolah tak punya tulang. Dan JongIn pun menutup matanya dan tidur dalam kedamaian.

“Oppaaaaaaaaaa!!!!! Andwae!!!!!” jerit GyoEul. Ia menangis sejadi-jadinya sambil memeluk tubuh JongIn erat.

*

*

“Kim JongIn, mulai sekarang namamu adalah Kai. Kamu adalah sang Penjemput dari Surga. Eden mengangkat jiwamu karena semua kebaikan yang telah kau lakukan di bumi,” ujar Leader Suho.

Kai menatap tubuhnya yang sudah tak bernyawa itu. Ia menatap haru GyoEul yang sedang memeluk dirinya sambil menangis. “Rasanya aku tidak pernah melakukan kebaikan. Bukannya Tao itu malaikat dari neraka, berarti seharusnya aku masuk neraka bukan?”

“Seumur hidupmu, kamu selalu melakukan kebaikan. Kamu selalu memberikan senyuman pada Im GyoEul. Itu adalah kebaikan.” Leader Suho kemudian meraih tangan Kai. “Mari kita pergi. Akan kuantar kau ke tempat dimana kau seharusnya berada.”

Semantara Kai masih terus melihat GyoEul. Ia ingin mennyentuhnya, tapi tidak bisa. Menyerah, Kai hanya bisa tersenyum getir pada GyoEul.

“Maafkan aku karena melanggar janjiku. Mungkin sekarang aku meninggalkanmu sendirian. Tapi aku akan selalu menemanimu, selalu,” ujar Kai pada GyoEul yang masih menangis.

Dan Leader Suho kemudian menggiring Kai pergi meninggalkan bumi.

*

*

*

End of Kai Story

ngahahaha,, saya bahagia bisa siksa kai disini,, maaf ya kai,, abis saya sebel sama kamu,, kamu merebut semua jatah maknae kesayanganku, Sehun. mulai dari line nyanyi, dance, ampe soloshoot pas perform,, kamu selalu menutupi uri Sehun. padahal uri Sehun itu visual tapi lebih banyak dilupakan gara2 kamu -_____-

oia sebenernya spelling winter yg bener itu kan GyeoUl yah.. tapi kayanya lebih enak GyoEul, jadi saya ganti disini,, anggap aja GyoEul itu artinya winter.. toh mirip2 dikit spell-nya.

disini ngerti kan maskudnya serie short story, jadi walopun kamu baca ini duluan atopun Xiumin story duluan,, kamu tetep ngerti ceritanya.. dan saya mati ide nyari nama2 buat member yg lain.. sutralah,, sapa tau nanti dapat ide buat nama yg bagus..

sampai jumpa di Into Your World, Angel series selanjutnya!!! Kamsahamnida!! Annyeong!! *big hug buat penghuni istana beedragon*

Advertisements
FF – Into Your World, Angel | Kai Story | PG15

26 thoughts on “FF – Into Your World, Angel | Kai Story | PG15

  1. EONNI WHY WHY KENAPA BUKAN AKU CAST YEOJA-NYA??? #salahfokus hahaha tp aku belom baca, baru baca cast nya trus langsung scroll kebawah buat comment.. Ntar aku baca dulu deh..

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s