FF – Into Your World, Angel | Luhan Story | PG15


Title : Into Your World, Angel

Subtitle : (Spring / ) Why You Do This To Me?!

Author : beedragon

Cast:

Luhan EXO as Luhan (Sang Penjemput Neraka)

Han Bom (OC)

Other Cast:

Sehun EXO as Sehun (Sang Penjemput Surga)

Kris EXO as Huizhang Yi Fan

Genre : Fantasy, Life

Length : Oneshoot (Series Short Story)

Rating / pairing : pg15 / Straight

Summary : Sang Penjemput. Adalah malaikat yang bertugas menjemput jiwa manusia dan membawanya ke tempat dimana mereka akan melanjutkan kehidupannya sesudah mati, entah itu di surga atau neraka.Ini adalah kisah dari Sang Penjemput dalam menjalankan tugasnya.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : EXO – Into Your World (Angel)

Why YOU Do This To Me?

*

*

*

Gadis itu berjalan tergesa-gesa. Sesekali ia melirik ke belakang dengan melihat dari ujung matanya – tanpa menolehkan kepalanya. Kembali ia mempercepat langkahnya. Ada sedikit perasaan was-was di dirinya, apalagi begitu menyadari kalau sejak keluar dari gedung sekolah dirinya sedang dibuntuti.

Gadis itu kemudian memutuskan untuk berbelok kearah yang berlawanan dari jalan yang biasa ia tempuh menuju rumahnya. Dan ternyata orang itu mengikutinya. Gadis itu kemudian berbelok lagi menuju tempat yang sepi pemukimannya, dan orang itu masih ada beberapa meter dibelakangnya. Gadis itu kemudian berlari dengan kecepatan penuh dan langsung berbelok di persimpangan jalan berharap orang yang membuntutinya kehilangan jejaknya. Kemudian ia bersembunyi di balik tiang listrik besar dan mengintip apa orang itu masih mengikutinya.

Dan orang itu memang benar mengikutinya. Terbukti ia terlihat celingukan ke kiri – ke kanan seperti mencari seseorang.

“Ada apa dengan Han Bom itu?” gumam orang tersebut.

Han Bom, gadis yang tengah bersembunyi itu tentu saja terkejut karena orang itu mengetahui namanya. Segera dia lompat keluar dari persembunyiannya untuk menantang orang tersebut.

“YAH!! Kuperhatikan daritadi kau mengikutiku terus!! Apa maumu hah?!!” sentak Bom.

Orang itu tampak terkejut dengan teriakan Bom. Dengan memasang wajah bingung yang menggemaskan, ia menunjuk dirinya sendiri. “Kamu… kamu bisa lihat aku??”

“Tentu saja aku bisa lihat, aku kan punya mata!” seru Bom.

“Ini aneh. Kenapa kamu bisa lihat?” orang itu bergumam, berbicara pada dirinya sendiri.

Bom menatap orang itu dari atas sampai bawah. Menilik dari penampilannya, harus Bom akui, dia terlihat sangat lucu meskipun aneh. Pakaiannya yang serba putih tampak kebesaran di tubuh orang itu. Matanya berkilat-kilat dan lagi Bom masih ragu, orang itu lelaki atau perempuan? Karena wajahnya terlalu imut, mengalahkan dirinya.

Neo nuguya? wae nal ttalaongeoya? Neo hoksi stalkeriya?” cecar Bom.

Stalker? Bukan bukan,” elak orang itu sambil mengibaskan kedua tangannya. “Aku Luhan, sang penjempu.. ahh bukan aku Luhan, Malaikat Luhan.”

Rasanya ada yang salah dengan pendengaran Bom. Orang itu tadi menyebut dirinya apa? Malaikat? Malaikat, seperti malaikat yang ada di buku-buku itu? Apa-apaan ini? Apa dia gila?

“Mwoya?! Kalau kamu adalah malaikat maka aku adalah iblis,” ketus Bom. “Pergi dari hadapanku dan berhenti mengikutiku atau aku akan mengadukanmu ke polisi,” ancamnya.

Bom kemudian kembali berlari kearah rumahnya. Sedikit bangga akan dirinya karena sudah berhasil menakuti orang yang mengaku malaikat tadi. Aneh, bahkan malaikat punya nama. Siapa namanya tadi? Roohan? Cara bicara orang itu juga aneh. Mungkin dia itu orang tak waras yang terobsesi menjadi malaikat sehingga…

“Lama sekali kamu baru sampai di rumahmu, Han Bom,” tegur suara yang tak asing.

Bom terlonjak kaget melihat Luhan atau Roohan, orang yang tadi membuntutinya dan mengaku adalah malaikat, kini sudah berdiri di seberang rumahnya.

Neo! Eottoke..??” tunjuk Bom.

“Kan sudah kubilang, aku adalah malaikat. Ada yang harus aku tanyakan padamu, apa kamu pernah melakukan kejahatan….”

Belum sempat Luhan menyelesaikan kalimatnya, Bom sudah berlari sambil berteriak ketakutan masuk ke rumahnya.

Bom langsung naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya. Begitu merebahkan dirinya di kasur, Bom berpikir tentang kejadian aneh yang ia alami hari ini. Ada apa dengan orang tadi. Kenapa mengikutinya dan menanyakan apa Bom pernah melakukan kejahatan. Apa mungkin Bom pernah melakukan kesalahan pada orang itu. Tapi Bom merasa tak pernah secuilpun menyakiti orang. Memukul nyamuk pun ia tak tega, bagaimana mungkin ia bisa menyakiti orang.

“Kenapa kamu meninggalkanku, Han Bom? Aku bertanya padamu apa kamu pernah melakukan kejahatan, kejahatan sekecil apapun? Karena sepertinya catatan kehidupanmu ada yang salah.” lagi-lagi suara itu terdengar, dengan sangat jelas.

Bom beranjak dari tidurnya dan melihat ke sumber suara. Luhan kini sudah duduk di meja riasnya. Entah bagaimana caranya masuk. Padahal jendela kamar Bom terkunci.

“KYAAAAAAAAAAA!!!!” jerit Bom.

Terdengar suara gaduh di tangga. Tak lama, munculah ibunya dengan kakak perempuannya yang berebutan untuk melihat apa penyebab dari teriakan si bungsu dari keluarga Han itu.

“Bomi, wae geurae? Ada pencuri kah?” panik ibunya.

“Bomi kenapa kamu berteriak seperti itu?” tanya kakaknya.

Bom tidak menjawab. Ia hanya menunjuk kearah meja riasnya dimana Luhan sudah duduk manis disana sambil mengorek kupingnya yang sepertinya pengang akibat teriakan Bom.

“Ada apa disana?” Tanya ibunya bingung.

“Eomma gak lihat? Ada orang disana. Daritadi dia mengikutiku terus Eomma. Panggil polisi sekarang dan usir dia dari sini,” pinta Bom.

Ibu dan kakaknya hanya saling berpandangan dan kemudian melihat lagi kearah meja rias yang ditunjuk Bom. Dan jawaban mereka sama. “Tidak ada siapa-siapa disana.”

“Sudah kubilang kalau aku adalah malaikat. Aku mana bisa dilihat oleh mata manusia. Kecuali kamu.” Ujar Luhan.

“Lihat! Dia berbicara! Eomma cepat panggil polisi. Jebal…” rengek Bom.

Sekarang ibunya menatap Bom khawatir, sementara kakaknya sudah keluar kamar begitu menyadari tidak ada yang spesial dari jeritan Bom tadi.

“Bomi. Kalau kamu mau minta sesuatu, bilang saja. Tak perlu bersikap seperti ini. Eomma tahu besok adalah hari ulang tahunmu, tapi kamu tak perlu bersikap seperti ini untuk mencari perhatian.” Ibunya menasihati Bom kemudian meninggalkan Bom sendirian dikamarnya.

Bom terpaku menatap pintu kamarnya. Ia kemudian menoleh kearah Luhan yang masih duduk di meja riasnya.

Neo, jinjja.. cheonsa??” Luhan mengangguk menjawab pertanyaan Bom.

Geurom, kenapa kamu bisa ada disini?”

*

*

*

“LUHAN!” suara berat itu menggema ke penjuru ruangan.

Yang dipanggil pun maju ke altar. Ia tampak menunduk hormat pada sang pemimpin yang duduk di singgasananya. Sang pemimpin kemudian memberikan Luhan secarik kertas berwarna kelabu.

“Kamu akan menjemput Han Bom. Malam ini, dua menit sebelum ia bertambah umurnya yang ke tujuh belas.”

Luhan tampak mencermati kertas tugasnya. “Tapi Huizhang Yi Fan. Kenapa anak ini aku yang jemput jiwanya? Jika dilihat dari riwayat hidupnya dia hampir tidak pernah melakukan dosa. Kenapa dia harus dibawa ke neraka?” tanya Luhan.

“Tugasmu adalah menjemput jiwanya dan membawanya ke neraka. Itulah tugas dari Sang Penjemput dari Neraka. Jalankan saja tugasmu dan jemput manusia itu.”

“Tapi Huizhang, takutnya laporan ini salah. Alangkah kasihannya manusia ini jika dia harus masuk ke neraka sementara dia hanya melakukan kebaikan di dunia. Kurasa ini milik Sang Penjemput dari Surga….”

Brakkk.

Huizhang Yi Fan tampak menatap Luhan tajam. Walau ia tak menunjukkannya, tapi Luhan tahu kalau pemimpinnya itu sedang marah. Karena baru saja meja berisi berkas-berkas yang ada di sebelah Luhan terbelah menjadi dua.

“Ada banyak yang harus diurus disini Luhan. Dan Tugasmu tidak salah. Jemput manusia bernama Han Bom itu sebelum ia menginjak tujuh belas tahun.” Tegas Huizhang Yi Fan.

*

*

*

Sejak pulang sekolah siang tadi hingga malam hari, Luhan terus mengikuti kemana Bom pergi. Berkali-kali ia melihat jam antik yang dikalungkan dilehernya. Setiap detiknya terus bertambah mendekati waktu kematian Bom. Tapi Luhan sama sekali belum menemukan alasan kenapa Bom harus dijemput ke neraka.

Malam ini saja ketika Luhan mengikuti Bom berbelanja dengan beberapa temannya, Luhan kembali menemukan kebaikan hati Bom. Terbukti ketika ia melihat Bom membantu seorang ibu yang membawa belanjaan banyak. Belum lagi teman-teman Bom selalu memuji tentang betapa baik dirinya itu.

Dan hanya tersisa satu jam sebelum jam dua belas malam. Yang artinya hanya tinggal 58 menit lagi kehidupan Bom akan berjalan. Ia terus-terusan menyuruh Bom untuk pulang ke rumahnya. Luhan pun tak henti-hentinya menasihati Bom untuk tidak berbuat dosa.

Tapi untuk apa dia melakukan itu? Sementara dirinya adalah Sang Penjemput. Dan takdir Bom adalah dijemput oleh Luhan. Yang artinya Luhan akan membawa jiwa Bom ke neraka. Tapi kenapa Luhan harus menasihatinya untuk tidak berbuat dosa dan malah  menggiringnya untuk menghindari kematiannya?

Karena menurut Luhan, terlalu sayang. Akan sangat disayangkan jika hanya karena satu kesalahan semua kebaikan yang sudah dijalin oleh Bom jadi sia-sia. Tapi, walaupun Luhan menyayangkan akan hal itu, dirinya tetap tidak bisa berbuat apa-apa bukan?

Beginilah resiko menjadi Sang Penjemput. Meski sisa hati mereka sudah tidak ada, bukan berarti mereka tidak punya perasaan. Terkadang, Sang Penjemput juga mengalami dilemanya sendiri ketika ia harus menjemput jiwa manusia. Dan kini Luhan mengalami hal itu.

“Oh, Luhan! Kamu ada disini?” tegur seseorang.

Tampak seorang berjubah putih dengan mata yang terlihat selalu mengantuk. Ia tersenyum manis pada Luhan kemudian menjabat kedua tangan Luhan. “Lama tak bertemu. Apa kamu sedang bertugas disini?”

“Sehun. Aku akan menjemput seseorang malam ini. Kamu juga akan menjemput orang?”

Sehun, Sang Penjemput Surga itu mengangguk riang menjawab pertanyaan Luhan. Ia kemudian menunjuk ke ujung jalan, disana ada seorang gadis yang tengah bergandengan tangan dengan seorang pemuda.

“Gadis itu kena penyakit leukimia. Hidupnya sebatang kara dan yang ia punya hanya pemuda itu. tapi syukurlah penderitaannya akan segera berakhir. Besok sore aku akan menjemputnya ke Surga.” Sehun kemudian memeluk Luhan. “Aku pergi dulu ya. Selamat menjalankan tugasmu, Luhan.”

Luhan menatap Sehun yang menghampiri gadis yang ditunjuknya tadi. Ia kemudian melihat wajah pemuda yang bersama gadis itu. Wajah yang tak asing, seolah Luhan pernah melihat sebelumnya.

“Hei Roohan!” seru Bom membuyarkan pikiran Luhan.

“Pulanglah. Anak gadis tak baik keluar rumah malam hari seperti ini. Bukankah besok adalah hari ulang tahunmu. Apa kamu mau teman-temanmu mengejekmu karena kantung hitam di matamu akibat tidur terlambat. Dan namaku adalah Luhan bukannya Roohan” Luhan kembali menasihati Bom.

“Baiklah Malaikat Luhan,” ledek Bom sambil menjulurkan lidahnya kearah Luhan. “Aku akan pulang setelah mengantarkan gaun ini untuk sahabatku. Ohh itu dia disana!” seru Bom dan berlari kearah gadis yang menjadi target Sehun itu.

Tib-tiba Luhan ingat sesuatu. Pemuda yang bersama temannya Bom itu adalah pemuda yang sama dengan yang ada di foto-foto yang tersebar di kamar Bom, yang diakui Bom sebagai kekasihnya.

“Berarti dosa yang dibuat Bom adalah…” gumam Luhan. “..ini tidak boleh terjadi..”

Luhan langsung menghampiri Bom dan mencegah agar Bom tidak menghampiri sahabatnya itu. Tapi terlambat. Bom terlanjur menyaksikan kejadian yang seharusnya tidak ia lihat, kekasihnya mencium sahabatnya sendiri.

“Kalian….” sela Bom dengan suara bergetar. “Apa yang baru saja kalian lakukan?”

Kedua orang yang dipergokki Bom hanya bisa terkaget-kaget melihat kehadiran Bom disana. Kotak berisi gaun yang dibawa Bom jatuh dan menumpahkan isinya ke jalanan. Pandangan Bom mulai kabur karena airmata yang mulai memenuhi manik matanya.

Jagiya, kenapa kamu lakukan ini padaku? Dia itu sahabatku. Wae?” tanya Bom terbata.

“Dan kamu. Kamu itu sahabatku kan? Kenapa kamu merebut kekasihku? Apa salahku padamu? Aku bahkan membelikanmu gaun untuk pestaku besok. Aku bahkan sudah meminta Appa untuk menjemputmu besok. Apa ini balasanmu? Kamu menikamku dari belakang.”

“Bomi dengarkan dulu.” Pinta sahabat Bom.

Luhan dan Sehun tampak saling lirik dan hanya bisa diam menyaksikan tragedi tiga anak manusia itu. Sehun terlihat mengangkat bahunya, tak tahu menahu apa yang terjadi. Sementara Luhan, ia hanya bisa menatap Bom miris.

Dwaesseo. Kamu tak perlu menjelaskan apapun. Mulai sekarang kita tak punya hubungan apa-apa! Dan kamu! Kita bukan sahabat lagi!” bentak Bom. Bom kemudian berlari meninggalkan mereka.

Bom berlari dan berhenti di persimpangan jalan. Ia bersimpuh di trotoar dan menangis disana. Luhan pun ikutan berjongkok dihadapannya, berusaha sedikit menghibur manusia yang akan dia ambil nyawanya itu.

“Bukankah tadi aku sudah bilang untuk pulang. Kalau kamu menurutiku pasti tidak perlu seperti ini,” Luhan mencoba untuk menghibur Bom.

“Kenapa mereka melakukan ini kepadaku? Aku sungguh tak habis  pikir bagaimana mereka bisa mengkhianatiku seperti ini. Apa kamu sudah tahu ini akan terjadi?” isak Bom.

Luhan hanya menggeleng pelan. Luhan kembali melihat arlojinya. Waktu sudah menunjukkan jam 23.53. Hanya dalam hitungan menit mau tak mau Luhan harus menarik nyawa Bom.

Bom pun bangkit berdiri. Ia menghapus sisa-sisa airmatanya sambil melangkah menuju jalanan raya yang sepi kendaraan.

“Kenapa Tuhan jahat padaku. Kenapa Tuhan harus memberikanku hadiah seperti ini di malam pergantian umurku. Tuhan sungguh jahat. Dia tidak adil. Dia menyakitiku begitu keji, padahal aku tak pernah sekalipun meragukannya. KENAPA KAU MELAKUKAN INI PADAKU, TUHAN!!!” jerit Bom.

Luhan terkejut akan ucapan Bom. Akhirnya, ia menemukan alasan kenapa dirinya yang harus menjemput Bom ke neraka.

“Tidak seharusnya kamu mengatakan itu, Han Bom. Tidak seharusnya kamu mencela DIA. Itu adalah kesalahan fatal.” Sela Luhan.

Bom menatap Luhan emosi. “Kamu adalah malaikat. Jadi kamu gak tahu sakitnya hatiku. Tuhan sudah mempermainkanku. Dan apa gunanya Dia mengirimmu padaku. Hanya membuatku terluka saja.”

“Aku bukan malaikat seperti yang kau bayangkan Han Bom.” Suara Luhan yang semula lembut berubah. Pakaian putih yang ia kenakan juga berubah menjadi hitam. Dan muncul sepasang sayap hitam besar dari punggungnya. Sosok Luhan sekarang tidak lagi terlihat lucu menggemaskan melainkan menakutkan, apalagi dengan aura kelam yang dipancarkannya.

“Sebelumnya izinkan aku memperkenalkan diri. Aku adalah Luhan. Sang Penjemput dari Neraka. Dan malam ini aku akan menjemput jiwamu dan membawanya ke neraka.”

“Eh…?” bingung Bom. Jujur saja ia sudah cukup takut melihat sosok Luhan. Ditambah dengan ucapan kalau dirinya diutus untuk menjemput Bom ke neraka. “Kenapa..kenapa aku masuk neraka..?”

“Mencela, menghina dan meragukanNya itu adalah dosa besar. Dan hukumannya adalah neraka, Han Bom.”

Bom mundur perlahan menjauhi Luhan. “Apa ini artinya aku akan mati?”

Luhan kembali melihat arlojinya. “Ya. Lima detik dari sekarang. Lima.. empat.. tiga.. dua.. satu..”

TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNNNNNNN!!!!!

Bom menoleh ke sisi kirinya. Sebuah truk besar melaju kencang kearahnya. Ingin Bom menghindar tapi kakinya terlalu kaku untuk digerakkan. Ditambah Luhan kini sudah berada di hadapannya dan tersenyum sendu.

*

*

*

Luhan menatap jasad Han Bom yang berlumuran darah. Ia kemudian berlutut di samping tubuh Han Bom dan menempelkan tangannya ke puncak kepala Hanbom.

“Heartless mindless no one who care about me.”

Setelah mengucapkan kalimat itu Luhan tampak menarik jiwa Hanbom keluar dari tubuhnya. Luhan menatap bayangan bening Han Bom yang begitu kelam.

“Malang sekali nasibmu Han Bom. Seribu kebaikanmu kalah oleh satu kesalahan.”

Luhan lalu mengepakkan sayapnya dan terbang sambil menarik jiwa Han Bom bersamanya.

*

*

*

End of Luhan Story

old poster

Annyeong!!
Bee kambek ke fantasi lagi nihh.. Ottae??
Gaje?? Itu udah biasa.
Aneh?? Itu juga biasa.
Ga nyambung?? FF bee mana sih yang nyambung. Semuanya ga nyambung.
Jauh dari harapan kalian? Kalo ini mudah2an sih gak yaa.

Efek dengerin MAMA sama Into Your World (Angel) berulang-ulang jadinya begini nih. Maksud dari judulnya mah *Into Your World, Angel* itu adalah malaikat yang masuk ke kehidupan manusia. Tema bee disini adalah malaikat. Kemarin dewa-dewaan udah, peri-perian juga udah, putri-putrian juga udah, monster juga udah. Jadinya terpikirlah Angel gara2 lagunya exo itu.

Udahan ah bacotnya.. betewe ini bersambung lohh. Jadi ini adalah series yang oneshoot *mudeng ga?
Maksudnya ini adalah oneshoot-oneshoot yang bisa jadi satu cerita utuh. Episod berikutnya mungkin Sehun story ato Kris Story.. entahlah … nunggu wejangan dateng aja.. kekeke

Anyway.. terima kasih buat yang udah nyempetin baca.. love you my sweet reader *tebar aegyeo Luhan*

Advertisements
FF – Into Your World, Angel | Luhan Story | PG15

42 thoughts on “FF – Into Your World, Angel | Luhan Story | PG15

  1. elsasndra says:

    Ahhh aku baru baca ff ini >< suka-suka. Ff-ff unni emang the best, btw aku tunggu kelanjutan ff tangled fate sama part 1 yg hallo.win dong un. Penasaran kkk ^^ keep writing unni, fighting!

  2. juliahwang says:

    Ini agak serem, takut banget wkt baca detik” kematian Bom :O
    tp siapa coba yg gasuka klo malaikat’a secakep Luhan :* aku suka!

  3. Annyeong, new reader here^^
    Eumh, ff ini bagus chingu… Menyimpan pesan tersirat menurutku hehe
    Entah kenapa aku jadi khilaf nyalahin tuhan, makasih hidayahnya(?)
    🙂

  4. NadChaCha says:

    Pas baru baca FF nya lgsng kepikiran DraKor 49Days~ kkk
    Luhan nya disini entah kenapa jd menyeramkan, nusuk bgt ni FF…
    Mantra nyaaa, jd keinget lagu MAMA 😀
    Disini tetep yah ada HunHan 😀
    Nice 🙂

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s