FF – THIS IS NOT A LOVE STORY | Chapter 3 | PG15


Title : This is Not a Love Story

Subtitle : (Chapter 3) I Will Protect You

Author : beedragon

Cast:

Naeun A-Pink as Son Naeun

L Infinite as Kim Myungsoo

Other Cast:

Eunji A-Pink as Jung Eunji

Woohyun Infinite as Nam Woohyun

Genre : Romance, Sad, Friendship

Length : Series (on going) [ Chapter I, II ]

Rating / pairing : pg15 / Straight

Summary : Naeun tak pernah membayangkan jika hidupnya yang selama ini datar-datar saja akan berubah menjadi begitu berwarna hanya karena seorang pria. Pertemuannya dengan Kim Myungsoo membuat hari-harinya yang begitu kelabu menjadi berwarna. Myungsoo memberinya banyak rasa, mulai dari kagum, suka, cinta, hingga duka.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. All of the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Eric Benet – Still With You

I Will Protect You

.

.

Heaven knows what you’ve been through

So much pain

Even though you can’t see

I’m not far away

We always say if one of us

Somehow went away

We’d light a candle and say a prayer

Know that love still remains

= Eric Benet – Still With You =

.

.

.

Naeun menatap langit ruang rawat inapnya dengan hampa.Dirawat dirumah sakit seperti ini keadaannya justru bukan makin membaik, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Sejak ibunya mengetahui kenyataan kalau Naeun dibully  di sekolah dan itu semua ada hubunganya dengan Myungsoo, ibunya tak henti-hentinya menginterogasi Naeun mengenai siapa itu Myungsoo. Selain itu ibunya juga menyita ponsel Naeun, sehingga Naeun tidak bisa melepas rindu pada Myungsoo.

Mworago? Ibumu tahu masalah kamu di bully karena Myungsoo Oppa? Lalu apa yang akan kamu lakukan, Naeun? Tinggal tunggu waktu sampai ibumu itu menemukan Myungsoo Oppa,” cerocos Eunji ketika ia menjenguk Naeun di rumah sakit.

Molla. Myungsoo Oppa gak nanya macam-macam kan? Kamu gak bilang apa-apa kan?” tanya Naeun khawatir.

“Hhhh. Saat seperti ini kamu masih aja mikirin Myungsoo Oppa,” keluh Eunji. “kamu tahu aku dikejar-kejar terus olehnya!” protes Eunji. Ia bercerita dengan begitu semangatnya sambil mengupasi buah apel untuk Naeun.

Geureom, neol mworago haesseo? (lalu apa yang kau katakan)”

“aku bilang kamu lagi vacation sama keluargamu.”

Geu saram midgo?(orang itu percaya)”

Ani,” sahut Eunji sambil menyodorkan sepiring buah-buahan mulai dari apel, pisang sampai stroberry ke hadapan Naeun. “Dia tahu kamu itu murid teladan, jadi sangat tidak mungkin pergi liburan menjelang ujian seperti ini. Dia khawatir kamu sakit, karena kamu makin hari makin terlihat kurus dimatanya. Well melihat sikapnya tadi aku jadi sedikit simpatik sama dia. Setidaknya dia sungguh mengkhawatirkanmu.”

Naeun tersenyum mendengar ucapan Eunji. Sejak ibunya menyita alat komunikasi Naeun, ia hanya bisa mencari tahu tentang keadaan Myungsoo lewat Eunji yang menjenguknya.

“Lalu Ahjumma bilang apa? Dia nanya-nanya soal Myung Oppa? Aiishh pasti sebentar lagi ibumu akan menginterogasiku!” keluh Eunji.

Tak lama terdengar pintu kamar inap Naeun terbuka. Ternyata ibu Naeun sudah datang bersama Immo, pengasuh Naeun. Dan begitu melihat ibu Naeun, Eunji hanya bisa menghela napas panjang.

“Ahh Eunji. Kamu datang menjenguk Naeun?” sapa Ibu Naeun.

Ne, Ahjumma, annyeong haseyo,” Eunji membungkukkan badannya melihat ibu Naeunn.

“Apa kabarmu Eunji? Kudengar kamu ikut kompetisi menyanyi tingkat nasional? Bagaimana hasilnya?”

“Ahh, hasilnya belum keluar Ahjumma. Masih seminggu lagi.” Eunji terdengar begitu segan dan takut pada ibu Naeun.

“Tapi melihat kemampuanmu, kamu pasti bisa menang,” ibu Naeun mencoba menyemangati Eunji. “Ahh iya Eunji, apa kamu kenal dengan seseorang yang bernama Myungsoo?”

Mulut Eunji seolah terkunci rapat mendengar pertanyaan ibu Naeun. Jelas sekali wajahnya langsung memucat. Ia melirik kearah Naeun yang menatap dirinya khawatir. Tentu saja Eunji lebih mengkhawatirkan dirinya saat ini, ia takut ibu Naeun akan menuntutnya karena menutupi sebuah fakta.

“Hmm, Myungsoo yang mana ya, Ahjumma? Di sekolah ada banyak sekali yang namanya Myungsoo. Myungsoo…” Eunji berusaha berpura-pura kalau ia sedang menghitung-hitung berapa banyak Myungsoo di sekolahnya.

Ibu Naeun tampak tersenyum samar mendengar ucapan Eunji. “Geurae, anggap saja kamu tidak kenal siapa Myungsoo itu,” nada bicara ibu Naeun terdengar mengintimidasi, kemudian ibu Naeun berpaling ke putrinya. “tapi Eomma akan mencari tahu siapa Myungsoo itu. tak ada seorang pun yang bisa menyakiti putri Eomma seperti ini.”

Naeun memandangi ibunya pasrah. Ia sudah begitu lelah dengan semua pertanyaan dan ancaman ibunya. Tapi ia tidak bisa berbuat apapun selain pasrah dan berdoa. Karena ia tahu persis, ibunya tidak akan berhenti sampai ia menemukan kebenaran.

Eomma, jebal yo. Kalau ada yang perlu disalahkan itu bukanlah dia, tapi orang yang meneleponku itu. Jebal Eomma,” pinta Naeun.

“Dilihat dari sisi manapun, pemuda yang namanya Myungsoo itulah yang salah Naeun. Karena dia mendekatimu, kamu jadi diganggu orang begini. Eomma pasti akan menemukan siapa Myungsoo itu.”

Kemudian ibu Naeun pergi meninggalkan kamar inap Naeun. Baik Naeun, Eunji maupun Immo langsung menghela napas panjang seolah mereka baru saja menahan napas mereka selama ada ibu Naeun.

“Lihat itu Naeun. Habislah kau. Ibumu sudah turun tangan. Aku bahkan tidak berani membayangkan apa yang akan dilakukan ibumu terhadap kalian nanti.” Ujar Eunji.

.

.

.

Hari ini Naeun sudah mulai sekolah. Dan saat istirahat siang seperti ini Naeun dan Eunji memutuskan untuk makan dikelas. Karena Naeun masih trauma pergi jauh-jauh dari penglihatan Eunji. Setidaknya ketika bersama Eunji, anak-anak pengganggu itu tak akan berani mengusik Naeun.

Saat mereka hendak menyantap menu makan siang mereka terdengar ribut-ribut di koridor kelas Naeun. Ternyata suara itu berasal dari kehebohan para murid yang bingung melihat ada senior dari kelas tiga mendatangi kelas mereka.

Ternyata yang datang adalah Myungsoo. Myungsoo langsung berdiri dihadapan Naeun dan menatap Naeun dengan tatapan yang sulit diartikan. Begitu melihat Myungsoo, Naeun hanya bisa menundukkan kepalanya dan menyibukkan diri dengan makanannya.

“Kamu kemana aja seminggu ini? Kudengar kamu sakit. Apa benar begitu?” Tanya Myungsoo.

Ani…” gumam Naeun.

Tiba-tiba saja Myungsoo menjulurkan tangannya untuk menyingirkan anak rambut di kening Naeun. Lalu ia mendekatkan wajahnya ke wajah Naeun dan menempelkan keningnya dengan kening Naeun. Nafas Naeun berhenti seketika melihat wajah Myungsoo yang seolah tanpa jarak itu. Dan mata Myungsoo yang persis ada di depan matanya menatap Naeun tajam seolah hendak menggali semua yang disembunyikan Naeun.

“Hmm, badanmu tidak panas,” gumam Naeun. Ia kemudian kembali berdiri tegak dan menangkup wajah Naeun dengan kedua tangannya. “Lihatlah dirimu. Kamu jadi kurus begini. Kalau kamu seperti ini semua orang akan mengira kalau aku yang membuatmu jadi seperti ini. Salah satunya anak satu ini,” ujar Myungsoo sambil menunjuk kearah Eunji.

Mwo?! Tapi itu memang benar! Memang kamu gak bisa menjaga Naeun.”

Myungsoo hanya memelototi Eunji sehingga Eunji memutuskan untuk berhenti berargumentasi. Ia kemudian beralih lagi ke Naeun. “eotteokke dwengeoya(apa yang terjadi)? Kenapa gak bisa dihubungi? Kenapa kamu juga gak mengabari aku? Kamu kenapa? Kamu sakit?”

“Aku.. pergi liburan dengan Appa.. dan ponselku.. rusak.. jadi gak bisa menghubungimu. Mian,” ujar Naeun sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Angkat wajahmu. Nareul bwa (tatap aku). Aku tahu kamu sedang berbohong. Eunji bilang ponselmu tertinggal, kalau kalian mau membohongiku sebaiknya janjian dulu.” Tegas Myungsoo.

“Itu benar! Karena ponselnya rusak makanya ditinggal,” Eunji menimpali tapi ia langsung kembali duduk manis karena Myungsoo kembali memelototinya.

Myungsoo menatap Naeun dalam-dalam. Naeun bahkan sampai tidak sanggup untuk membalas tatapan Myungsoo.  Ia takut. Ia bukan takut Myungsoo akan memarahinya. Tapi ia takut, Myungsoo akan melakukan sesuatu pada orang-orang yang menyakitinya.

Naeun ingat betul apa yang terjadi ada orang-orang yang pernah –tidak sengaja– mengganggunya. Ia ingat ketika ada murid kelas dua yang tidak sengaja menabraknya hingga terjatuh, Myungsoo langsung membanting anak itu. dan ada lagi ketika ada seseorang yang tak sengaja melempar botol kosong dan mengenai kepala Naeun, Myungsoo langsung meninju orang tersebut. Karenanya Naeun tidak mau mengatakan yang sebenarnya terjadi. Ia takut Myungsoo akan menyiksa perempuan yang menyakitinya itu.

Mianhae. Kamu.. marah karena aku gak mengabarimu?”

Aniya Naeun. Aku khawatir. Aku pikir kamu kenapa-kenapa,” Myungsoo kemudian menggenggam jemari Naeun. “Bilang padaku. Apa yang ter….”

“Permisi Son Naeun-ssi!” ucapan Myungsoo terputus karena ada seorang siswa yang berdiri di pintu kelas dan mencari Naeun.

“Ne,” Naeun menyahut sambil memalingkan wajah Myungsoo dari siswa tersebut karena Myungsoo sudah memelototi siswa itu seolah berkata beraninya-kamu-menyela-pembicaraanku.

Semula siswa tersebut bergeming melihat Myungsoo, tapi akhirnya ia memberanikan diri melanjutkan tugasnya mencari Naeun. “Kepala sekolah mencarimu.”

Naeun dan Eunji sudah saling pandang mendengar hal tersebut. Sementara Myungsoo dia sudah memaki siswa itu. “Untuk apa kakek tua itu mencari Naeun. Bilang padanya Naeun sedang makan. Jadi nanti saja!”

Naeun meremas lengan Myungsoo untuk menahan emosi kekasihnya tersebut. Ia pikir ini adalah saatnya melarikan diri dari semua interogasi yang dilancarkan Myungsoo. “Oppa, aku pergi menemui kepala sekolah dulu ya. Kamu tunggu disini.”

Tanpa menunggu izin dari Myungsoo, Naeun langsung berlari keluar menuju ruang kepala sekolah. Ia punya feeling tidak enak mengenai alasan kepala sekolah mencarinya. Tapi ia segera menebak alasan itu. Karena ketika ia melewati parkiran, ia melihat ada Nona Seo, sekretaris ibunya, yang baru saja keluar gedung menuju parkiran. Sesampainya di depan ruangan kepala sekolah, Naeun langsung masuk dan menghadap pimpinan tertinggi di sekolah tersebut.

“Ahh Son Naeun. Apa kabarmu? Kudengar kamu tidak masuk selama seminggu kemarin?” sapa kepala sekolah begitu Naeun duduk di hadapannya.

“Saya kemarin sakit.” Singkat Naeun.

“Kurasa aku tak perlu berbasa-basi Naeun. Jadi langsung saja. Tadi ibumu datang kesini. Dia bilang kalau kamu di bully disini. Dan itu semua karena seorang yang bernama Myungsoo. Myungsoo yang dibicarakan disini itu Myungsoo yang mana? Karena ibumu secara langsung meminta saya untuk menghukum anak itu.”

Naeun bahkan tidak kaget mendengar ucapan kepala sekolah. Ia sudah menduga, kalau ibunya pasti akan mengendalikan dirinya lewat kepala sekolah. Tapi tentu saja Naeun tidak akan kalah. Ia sudah mempersiapkan semuanya untuk melawan ibunya.

“Memang benar saya di perlakukan seperti itu. Tapi itu semua bukan karena Myungsoo Oppa…”

Oppa hmm..” sela kepala sekolah. “Berarti Myungsoo yang dimaksud disini adalah Kim Myungsoo dari kelas tiga, benar bukan?”

Naeun mengangguk mendengar tebakan kepala sekolah.

“Hmm ini sulit.” Gusar kepala sekolah. “Ibumu berpesan padaku untuk mengeluarkan anak yang bernama Myungsoo itu atau ibumu akan bertindak terhadap sekolah ini. Tapi saya tidak mungkin mengeluarkan anak didik saya. Terlebih lagi Myungsoo. Walaupun dia seperti itu, tapi orangtuanya sudah sangat berjasa terhadap sekolah ini. Kamu tahu gedung timur? Perpustakaan dan laboratorium beserta semua isinya adalah sumbangan dari orangtua Myungsoo. Karenanya saya tidak mungkin mengeluarkan Myungsoo dari sekolah ini.”

“Menurutmu bagaimana baiknya Naeun? Kamu tentu bisa memikirkan hal yang baik bukan? Lagipula, Myungsoo, kamu terlalu baik untuknya. Bukannya saya bilang dia tidak baik. Dia tadinya adalah anak baik, tapi sejak kejadian mengenai Hyung-nya, dia memutuskan untuk berhenti menjadi anak baik. Sejak Hyung-nya men… ahh seharusnya aku tidak menceritakan hal ini.” Kepala sekolah mendadak tergagap seolah ia baru saja menceritakan sebuah rahasia besar. “Pokoknya saran saya untuk kalian berdua, berhentilah untuk saling menemui. Kamu bisa mencari pemuda yang sepadan denganmu. dan pemuda itu bukanlah Myungsoo.”

Naeun cukup bingung sekaligus penasaran. Myungsoo memang pernah menyinggung masalah kakak lelakinya itu. ia ingat ketika pertama jadian Myungsoo pernah berkata ‘walaupun hyung-ku sendiri aku akan membencinya sampai mati’. Tapi kemudian Myungsoo bilang kalau dirinya itu adalah anak tunggal.

Tapi hal itu bukanlah yang terpenting sekarang. Bahkan sekarang kepala sekolah menyuruhnya untuk berpisah dengan Myungsoo. Sama saja dengan menyuruhnya untuk memilih antara hidup dengan mati. Itu adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan.

Geundae kepala sekolah. Kalau anda ingin menarik simpati ibuku agar tidak menuntut sekolah ini, sebaiknya anda menghukum orang-orang yang sudah mem-bullyku. Dia adalah seseorang dari kelas dua bernama Yoon Bomi. Dia yang menyebabkan aku masuk rumah sakit. Anda tidak perlu menghukum Myungsoo Oppa, karena dia sama sekali tidak salah. Kalau begitu saya permisi dulu.”

Naeun kemudian meninggalkan ruangan kepala sekolah. Kagetlah ia ketika keluar ruangan, ternyata Myungsoo sudah menunggunya disana. Wajah Myungsoo terlihat aneh. Kedua tangannya mengepal erat dan ekspresinya terlihat keras dan kaku, seolah sedang menahan emosinya.

Naeun langsung berpikir, apa mungkin tadi Myungsoo mendengar pembicaraannya? Tapi ruang kepala sekolah itu kedap suara. Lalu apa yang membuatnya terlihat begitu emosi? Akhirnya Naeun meraih lengan Myungsoo dan menggenggam tinjunya yang mengepal keras itu.

“Kalau tanganmu seperti ini bagaimana aku bisa menggenggam tangan denganmu?” tegur Naeun.

Ekspresi Myungsoo seketika melunak. Ia menarik sudut kiri bibirnya dan menggenggam jemari Naeun. “Kalian di dalam lama sekali? Membuatku gusar saja.”

“Memangnya Oppa pikir di dalam kami melakukan apa? Kepala sekolah menawariku untuk ikut olimpiade tapi kutolak. Aku sedang tidak bisa belajar berat sekarang. Ayo kita kembali ke kelas. Aku harus melanjutkan makan siangku.”

.

.

.

Naeun dan Eunji sedang berada di sebuah cafe sekarang. Naeun menjadikan pergi-bersama-Eunji sebagai alasan untuk menemui Myungsoo. Karena ibunya tidak mengijinkan Naeun pergi keluar rumah. Ini saja ia harus memohon-mohon terlebih dahulu agar bisa pergi bersama Eunji.

“Aku pesen makanannya dulu ya sekalian mau ke toilet. Kalau nanti uri Namstar udah datang kalian ngobrolah dulu,” pamit Eunji.

Sepeninggal Eunji, Naeun memilih untuk memandangi jalanan Hongdae yang ada dibawahnya. Dari lantai dua cafe tersebut, Naeun melihat aktivitas semua orang yang lalu lalang. Kemudian tatapan terpaku pada sebuah gedung karaoke. Bukan karena gedung itu tampak paling bersinar dengan semua warna yang saling bertabrakan di dindingnya. Melainkan karena rombongan gadis yang baru saja keluar dari gedung tersebut.

Walau dari kejauhan, Naeun tetap merasa terintimidasi ketika melihat mereka. Yoon Bomi dan rombongannya. Bahkan tubuh Naeun gemetaran melihat mereka. Apakah mereka mengikutinya? Karena sejak bertemu dengan kepala sekolah beberapa hari yang lalu, Yoon Bomi diskors dari sekolah. Naeun takut Bomi akan membalas dendam padanya.

Kemudian seseorang dengan tergesa-gesa menghampiri Bomi. Seorang pemuda yang sangat Naeun kenal. Myungsoo. Tapi untuk apa Myungsoo menemui Bomi?

Naeun terus memperhatikan Myungsoo dan Bomi yang masih berada di depan gedung karaoke itu. Bomi terlihat begitu sumringah bahkan sampai mau memeluk Myungsoo. Tapi Myungsoo langsung mendorongnya. Naeun tidak tahu apa yang sedang terjadi di bawah sana. Myungsoo terlihat sedang menunjuk-nunjuk Bomi, entah karena apa, karena wajah Myungsoo tidak terlihat. Sementara Bomi, reaksinya sangat berlebihan. Bomi terlihat seolah sedang menantang Myungsoo dengan sikapnya yang angkuh tersebut. Dan kejadian berikutnya benar-benar membuat Naeun terlonjak dari bangkunya.

Myungsoo menampar Bomi.

Myungsoo menampar pipi Yoon Bomi. Setelah itu dia menunjuk-nunjuk Bomi lagi kemudian pergi meninggalkan Bomi yang menjerit-jerit menjadi tontonan orang-orang.

Apa yang terjadi dibawah sana? Kenapa Myungsoo menampar Bomi? Naeun terus berkutat dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

“Naeun?” suara Eunji mengagetkannya.

“Astaga, apa yang kamu pikirkan sampai begitu serius? Ini saladmu. Myungsoo Oppa pesan padaku untuk menaikkan berat badanmu. Jadi habiskan salad ini.” Eunji menyodorkan semangkuk penuh salad sayuran dan buah.

“Eum, gomawo.”

“Ah iya, aku mau buat pengakuan padamu.”ujar Eunji. Wajahnya terlihat begitu serius dan tingkahnya juga terlihat aneh. “Kemarin aku menceritakan semuanya pada Myungsoo Oppa.”

Naeun menghentikan aktivitas makannya. Entah kenapa ia punya firasat tidak enak mengenai apa yang dikatakan Eunji pada Myungsoo. “Mwoseun mal (bilang apa)?”

“Aku cerita soal kamu dan Yoon Bomi Sunbae. Aku cerita kalau kamu di bully sama dia. Aku cerita kalau kamu masuk rumah sakit karena dia. Aku menceritakan itu semua padanya karena aku tak tahan dengan semua rengekannya. Dia terus saja bertanya dan lagipula menurutku dia perlu tahu tentang itu semua.”

Naeun langsung lemas seketika. Sekarang ia menemukan alasan kenapa Myungsoo menemui Bomi dan menamparnya. Myungsoo, saat ini Myungsoo pasti sedang sangat kesal.

“Kenapa kamu mengatakan itu padanya, Eunji? Pantas saja dia tadi…” Dengan panik Naeun langsung menelepon Myungsoo.

“Yah aku mengatakannya untuk kebaikanmu juga.” Protes Eunji.

Yoboseyo, Oppa? Sedang apa?” tanya Naeun setelah menunggu lama teleponnya untuk dijawab Myungsoo. “Aku sedang bersama Eunji, nanti kita ketemu dimana? ….. kamu tidak jadi ke cafe? ….. oh baiklah, aku akan menemuimu disana… eumm, annyeong.”

Naeun menatap layar ponselnya khawatir. Ia kemudian berpaling ke Eunji dan menatapnya kesal. “Kenapa kamu memberitahunya? Kamu tahu kan alasan aku tak mau memberitahunya. Aku gak mau membuat dia menyakiti siapapun lagi.”

“Yah, aku melakukan itu juga demi kebaikanmu. Dan aku juga mengatakannya setelah Bomi Sunbae di skors, dengan begitu Myungsoo Oppa gak akan menyakitinya seperti khayalanmu itu. Lagipula apa kamu gak memikirkan perasaannya. Jangan bertindak bodoh Naeun. Walaupun kamu terluka sekecil apapun kamu harus memberitahu pasanganmu. Setidaknya dengan sedikit kata ajaib darinya semua lukamu akan sembuh. Tapi kamu memilih menikmati rasa sakit sendirian dan membuat Myungsoo Oppa jadi merasa bersalah,” kesal Eunji.

“Yang bodoh sebenarnya aku atau kamu sih?? Apa kamu lupa, apa yang dibilang Woohyun Sunbae tentang Myungsoo Oppa? Sejak bertemu denganku Oppa berubah menjadi anak baik. Sejak bertemu denganku Oppa tidak lagi menggunakan kekerasan untuk berbicara. Dan aku gak mau dia kembali lagi seperti dulu.” Sahut Naeun tak mau kalah.

Babo,” sinis Eunji. “Kamu bersikap seolah kamu sedang melindunginya tapi sesungguhnya kamu menyakitinya. Kamu lupa satu hal. Namja adalah makhluk paling sombong di bumi ini. Mereka memiliki harga diri yang tinggi. Mereka akan sakit hati dan terluka ketika mengetahui kenyataan kalau kekasihnya tersakiti di belakang mereka. Dan sikapmu ini sudah melukai harga dirinya sebagai namja.”

.

.

.

Naeun sedikit berlari menuju sebuah taman bermain yang ada di daerah Hongdae ini. Karena perdebatannya dengan Eunji yang berujung pada rasa kesal satu sama lain, Naeun memutuskan untuk meninggalkan Eunji. Naeun kesal karena ia menyadari kalau kata-kata Eunji ada benarnya.

Naeun tiba di taman bermain anak-anak tempatnya janjian bertemu dengan Myungsoo. Disana ia melihat Myungsoo sedang duduk di sebuah ayunan sambil berayun pelan. Wajahnya tertunduk dan suasana disekitarnya terasa suram.

“Ahh kamu sudah sampai Naeun?” sapa Myungsoo ketika menyadari kalau Naeun sudah menghampirinya. “Duduklah. Aku tadi sampai harus bertarung dengan kurcaci-kurcaci penguasa daerah ini untuk merebut tempat ini.”

Naeun tersenyum mendengar ocehan Myungsoo. Setidaknya Myungsoo masih seperti biasanya yang suka bercanda. Walau ekspresinya yang datar itu membuat leluconnya sama sekali tidak lucu, tapi Naeun tetap senang melihatnya. Naeun kemudian melangkah menuju ayunan di sebelah Myungsoo.

“Kamu mau duduk dimana? Duduklah disini,” titah Myungsoo sambil menepuk pahanya.

Tentu saja Naeun kaget dengan permintaan Myungsoo tersebut. Myungsoo menyuruh Naeun untuk duduk di pangkuannya. “Ahh aku… disini…”

“Jangan membantah. Moodku sedang buruk hari ini.” Myungsoo kemudian menarik Naeun kemudian mendudukkan Naeun di pangkuannya.

Sungguh Naeun sangat canggung dengan situasi ini. Biasanya mereka tidak pernah duduk dalam posisi seperti ini. Naeun hanya bisa memegang rantai ayunan untuk menjaga keseimbangan tubuhnya karena Myungsoo mulai mengayunkan ayunannya.

Untungnya hal itu berlangsung sebentar, karena sekarang Myungsoo sudah menghentikan ayunannya. Tapi Myungsoo kembali melakukan hal yang membuat napas Naeun berhenti. Myungsoo sudah melingkarkan tangannya di perut Naeun, ahh bukan lebih tepatnya merabanya.

Manhi appo? Mereka menendangmu disini? Appaseo?” lirih Myungsoo. Suaranya terdengar begitu terluka.

Rasanya seolah semua luka yang diterimanya kemarin itu menghilang mendengar ucapan Myungsoo. Benar apa yang dikatakan Eunji, bahwa perhatian pasangan bisa menjadi obat manjur untuk menghilangkan semua luka. Dan tanpa Naeun sadari air matanya mulai merebak memenuhi manik matanya.

“Eum. Neomu apa.”

Myungsoo kemudian menyurukkan kepalanya di punggung Naeun. Tangannya mencengkeram baju hangat Naeun. Naeun tahu, Myungsoo sedang menahan emosinya saat ini. Setidaknya Naeun bersyukur mereka berada di posisi seperti ini, karena kalau tidak, bisa saja sekarang Myungsoo berlari dan mengejar orang-orang yang melukai Naeun.

Wae? Wae mal anhae (kenapa tidak bilang)? Kenapa kamu menutupinya dariku? Kamu mau membuatku menjadi orang yang tak berguna? Kamu senang melihatku terlihat bodoh di hadapan orang-orang. Sementara semua orang berusaha melindungimu tapi aku tak tahu apa-apa mengenai kondisimu.”

Mendengar ucapan Myungsoo yang terdengar lelah itu membuat Naeun diliputi rasa bersalah. Apa yang Eunji katakan semuanya benar. Dan kini Myungsoo terluka karenanya.

Mianhae Oppa. Aku.. aku hanya tidak mau membuatmu khawatir. Terakhir aku membuatmu khawatir, kamu terluka parah. Aku hanya takut itu terjadi dan…” Naeun sudah menangis. “Mianhae. Jeongmal mianhaeyo…

“Sudah kewajibanku sebagai namjachingu untuk melindungimu, Naeun. Pelajaran paling penting dalam berpacaran bukan hanya saling melindungi. Tapi juga saling jujur. Pacaran bukan hanya berbagi suka, tapi juga duka. Karenanya, sekecil apapun rasa sakit yang mengganggumu biarkan aku mengetahuinya. Aku akan melindungimu,” bisik Myungsoo.

Myungsoo sudah memeluk Naeun erat. Ia kini menopangkan kepalanya dibahu Naeun. “Jangan lakukan ini lagi ya. Jangan bertindak sendirian dan sakit sendirian seperti ini lagi. Anggap saja aku adalah malaikat pelindung yang dikirim Tuhan untukmu. Dan kamu harus memanfaatkan dengan baik malaikat pelindung ini. Aku akan melindungimu dari semua orang yang akan menyakitimu.”

Naeun melirik wajah Myungsoo yang persis ada disamping wajahnya. Sikap Myungsoo hari ini benar-benar membuat Naeun sulit bernapas. Selain itu Naeun sudah tidak bisa mendengar detak jantungnya lagi, saking jantungnya berdebar dengan kecepatan yang tak terhingga. Naeun bahkan sudah tidak merasakan tubuhnya lagi karena sentuhan Myungsoo membuatnya….

Oppa, posisi kita seperti ini.. kita tidak boleh duduk seperti ini. Ini taman bermain anak-anak. Nanti kalau ada yang lihat..” ujar Naeun. Walau ingin terus seperti ini, tapi Naeun sadar kalau ia harus membuat organ tubuhnya berfungsi dengan baik. Dan mereka akan berfungsi dengan baik kalau Myungsoo berhenti bertingkah seperti ini.

“Hmm? Aku kan sudah bilang, kalau aku sudah mengusir semua anak-anak itu. Taman ini milik kita sore ini.” Bukannya melepas pelukannya, Myungsoo malah semakin mempererat pelukannya. “Aku merindukanmu, Naeun.”

Tapi Naeun tak kehabisan akal. “Ahh iya Oppa, ada satu hal yang menggangguku sekarang. Ada seorang yang begitu tidak suka dengan hubungan kita. Apa yang akan kamu lakukan padanya?”

Myungsoo pun melepas pelukannya dan Naeun langsung melompat bangun dari pangkuan Myungsoo.

Nugu? Ni Eomma?” terka Myungsoo.

Naeun terkejut karena Myungsoo bisa menebak siapa orang itu. “Eotteokke arra..?”

“Ahh ini semua karena kamu Naeun. Apa kamu tahu, susahnya merayu ibumu? Dan karena kamu tidak menceritakan padaku masalah bully-ing itu, sekarang ibumu jadi membenciku.” Keluh Myungsoo.

“Ehh merayu eomma?” bingung Naeun.

“Kamu jangan berdiri sejauh itu,” protes Myungsoo sambil menarik Naeun ke hadapannya dan kembali memeluk Naeun.

“Sehari sebelum kamu masuk sekolah, aku ke rumahmu. Sebenarnya setiap hari aku ke rumahmu, tapi tak pernah ada orang. Dan terakhir aku kesana aku bertemu dengan ibumu. Dia memakiku, katanya karena akulah kamu jadi sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Makanya aku terus bertanya pada Eunji apa yang terjadi padamu,” cerita Myungsoo. “Ini adalah kesalahan fatal, Naeun. Aku juga terus berpikir bagaimana caranya memperbaiki imej-ku di depan ibumu.”

Naeun membelai kepala Myungsoo yang terbenam di perutnya. Ia baru mengetahui kalau Myungsoo selalu memikirkan hal itu. Padahal Naeun sendiri selalu berusaha menyembunyikan hubungannya dengan Myungsoo dari ibunya. Tapi ternyata Myungsoo malah selalu berusah menarik simpati ibunya. Naeun pun merasa sangat bersalah.

Mianhae. Aku tidak berpikir sampai kesana.”

Myungsoo melepas pelukannya kemudian ia beranjak dari duduknya dan menggenggam tangan Naeun. “Kajja! Kita temui ibumu.”

“Ehh??!!” pekik Naeun ketika Myungsoo menariknya pergi meninggalkan taman bermain.

.

.

.

.

Kenapa semua orang ingin memisahkan kita?

Kenapa banyak yang tidak suka kita bersama?

Apa salah kita?

Padahal kita tidak merugikan mereka

Tapi…

Aku akan melindungimu

Melindungi kita

Melindungi cinta kita

Kamu… juga akan melakukan hal yang sama kan

= Naeun’s Mind =

.

.

.

kekeke,,, gaje banget dah nihh cerita…
kok keliatannya saya agak2 gimana gitu disini..
bikin adegan di taman bermain itu adalah hal yang paling susah #curhat
mimisan terus ngebayanginnya LOL
*coba adu tatap sama L-ku?? apa rasanya??*

saya ampe speechless bikin chapter ini..
udah ahh… happy reading..
jangan lupa pesan dan kesannya ya..

kritik dan saran ditunggu 🙂

kamsahamnida!!!!

Advertisements
FF – THIS IS NOT A LOVE STORY | Chapter 3 | PG15

28 thoughts on “FF – THIS IS NOT A LOVE STORY | Chapter 3 | PG15

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s