FF – THIS IS NOT A LOVE STORY | Chapter 2 | PG15


Title : This is Not a Love Story

Subtitle : (Chapter 2) When My Heart Is Beating

Author : beedragon

Cast:

Naeun A-Pink as Son Naeun

L Infinite as Kim Myungsoo

Other Cast:

Eunji A-Pink as Jung Eunji

Woohyun Infinite as Nam Woohyun

Genre : Romance, Sad, Friendship

Length : Series (on going) [ Chapter I ]

Rating / pairing : pg15 / Straight

Summary : Naeun tak pernah membayangkan jika hidupnya yang selama ini datar-datar saja akan berubah menjadi begitu berwarna hanya karena seorang pria. Pertemuannya dengan Kim Myungsoo membuat hari-harinya yang begitu kelabu menjadi berwarna. Myungsoo memberinya banyak rasa, mulai dari kagum, suka, cinta, hingga duka.

Disclaimer :  This is only fiction. This is only Bee imagination. All of  the character aren’t mine. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : L (Infinite) ft Yerim (Two Month) – Love U Like U

When My Heart Is Beating

I like you, I like you
Like a great big tree
Always comfortingly positioned next to me
You, who protect me

Sometimes, without me realizing
I feel like my heart will be revealed
So I just smile awkwardly
Like a fool, I just smile

You, who shine me brightly in the morning
You are always like the sunshine, to me, you are

L (Infinite) ft Yerim (Two Month) – Love U Like U

.

.

.

Sejak hari Naeun berkenalan secara resmi dengan Myungsoo, ia jadi semakin dekat dengannya. Selain suka bertemu di sekolah, Myungsoo juga rajin mengirimi pesan singkat ke handphone Naeun. Sejak pertemuannya dengan Myungsoo, Naeun tak pernah lagi merasa kesepian. Myungsoo benar-benar mengisi semua kekosongan di hidup Naeun. Mereka sering bertemu di kebun belakang perpustakaan, sekedar bertukar pikiran atau mendengar lelucon yang keluar dari mulut Myungsoo. Dan Naeun merasa Myungsoo adalah orang yang menyenangkan.

Tidak ada yang tahu mengenai pertemanan Naeun dengan Myungsoo. Baik Eunji maupun Woohyun bahkan orang tua Naeun sekalipun tidak tahu kalau Naeun sekarang sudah punya teman pria yang adalah Myungsoo. Tentu Naeun merahasiakan ini dari orangtuanya – tidak dengan Eunji, hanya Naeun belum bercerita dengannya. Karena kalau sampai orangtuanya, terutama ibunya, tahu akan hal ini maka Naeun pasti akan langsung dilarang berteman dengan Myungsoo. Itu karena ibunya tak pernah suka Naeun bergaul dengan orang-orang yang tidak memenuhi standar-nya.

Naeun tidak pernah begitu dekat dengan orangtuanya. Apalagi pada saat sedang makan malam seperti sekarang ini, walau sedang duduk berdua dengan ibunya, tak ada obrolan berarti antara mereka.

“Bagaimana sekolahmu? Kamu belajar dengan baik? Jangan terlalu banyak main. Tugasmu adalah belajar dan menjadi yang terbaik di sekolah. Appa dan Eomma menyekolahkanmu bukan untuk bermain-main, arraseo?” Seperti inilah percakapan yang terjadi antara ibu dan anak tersebut. Naeun bahkan tak perlu menjawab pertanyaan ibunya tersebut. Karena ibunya seperti tidak membutuhkan jawaban Naeun. Naeun hanya melanjutkan makan malamnya dalam diam.

“Kamu tidak sedang berhubungan dengan namja, kan?”

Deg!

Naeun menghentikan makannya begitu mendengar pertanyaan ibunya. Inilah yang paling ditakutkannya. Ia takut ibunya tahu akan pertemanannya dengan Myungsoo. Apa mungkin Immo bercerita tentang Myungsoo? Karena hanya Immo seoranglah yang tahu akan hal itu. Naeun selalu bercerita pada pengasuhnya itu tentang Myungsoo. Tapi sangat tidak mungkin Immo menceritakan hal tersebut pada ibunya.

“Maksud Eomma? Eomma tahu temanku hanya Eunji seorang,” Naeun mencoba berkilah.

“Benarkah? Baiklah, Eomma percaya padamu,” ibunya mengakhiri percakapan yang terasa seperti interogasi ini. “Pak Choi! Apa koperku sudah ditaruh dibagasi?! Kalau sudah kita berangkat sekarang!” seru ibu Naeun pada supir rumah mereka.

Hari ini ibunya akan pergi keluar kota untuk urusan dinas selama seminggu. Setelah selesai dengan makan malamnya, ibu Naeun langsung pergi dengan diantar oleh supir mereka ke bandara. Berpamitan dengan Naeun berupa ancaman kalau Naeun tidak boleh menghabiskan waktunya untuk bermain-main. Padahal Naeun mengharapkan ibunya akan memeluknya atau sekedar tersenyum dan berkata kalau dirinya akan pulang cepat. Naeun merasa tidak asing dengan hal ini. Ia bahkan tidak meminta ibunya untuk pulang lebih cepat, karena percuma.

Sepeninggal ibunya, Naeun langsung mengeluarkan ponselnya. Kini ia punya hiburan baru ketika ia sedang merasa sedih seperti saat ini, yaitu bertukar pesan singkat dengan Myungsoo.

TO : Kim Myungsoo Sunbaenim

Sunbae, sedang apa dirimu? Maaf mengganggumu, tiba-tiba saja aku merasa bosan malam ini.

Sambil mengaduk-aduk sisa makan malamnya, Naeun menunggu balasan dari Myungsoo. Tak lama yang ditunggu pun tiba.

FROM : Kim Myungsoo Sunbaenim

Aku sedang dalam perjalanan mengirimkan kebahagiaan. Apa ada yang mengganggumu? Cobalah untuk melihat keluar. Langit sedang cerah malam ini ^^

Naeun tersenyum melihat balasan Myungsoo. Ia bergegas mengambil hoodie-nya dan pergi keluar rumah. Bukankah kata Myungsoo langit malam ini sedang cerah? Benar saja, begitu keluar rumah matanya langsung dimanjakan oleh ratusan bintang yang bertebaran di langit. Naeun memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar.

Ia berjalan sampai akhirnya tiba di taman dekat rumahnya. Kemudian ia berhenti sejenak untuk duduk di bangku yang ada di taman tersebut. Disana ia memikirkan ucapan ibunya. Ia sungguh penasaran bagaimana bisa ibunya menebak kalau dirinya sedang berhubungan dengan lelaki.

“Wah ada perempuan disini? Hai nona apa yang sedang kau lakukan disini? Butuh teman?” tegur suara berat yang ada di depan Naeun.

Naeun menurunkan kepalanya yang sedari tadi terus menatap langit. Kagetlah dia ternyata sudah ada tiga orang pria tak dikenal yang menghampirinya. Perasaan takut langsung menyergap dirinya. Panik, Naeun langsung meraba kantung hoodie-nya mencari ponselnya, tapi terlambat. Sebelum Naeun sempat mengeluarkan ponselnya, salah satu dari tiga lelaki itu sudah menarik tangannya.

“Biar kami menemanimu Nona. Atau kamu mau menemani kami?” goda pria itu.

Kaki Naeun langsung lemas. Ia berusaha memohon pertolongan dengan suaranya yang terdengar seperti bisikan angin itu. Ia pikir inilah akhir dari dirinya. Kepalanya sudah berkunang-kunang memikirkan apa yang akan dilakukan orang-orang jahat ini terhadapnya. Ketiga lelaki itu sudah menarik dirinya untuk meninggalkan taman tersebut.

“Naeun?!!” seruan itu terdengar seperti suara malaikat penolong bagi Naeun. Naeun melihat siapa yang berteriak memanggil namanya itu. Orang yang sangat tidak asing baginya, tapi apa yang sedang dilakukan orang itu disini?

Sunbaenim….” lirih Naeun.

“Yah apa yang mau kalian lakukan padanya?!” seru Myungsoo. Myungsoo segera menarik Naeun ke pelukannya. Tapi tiga pemuda itu ternyata malah melawan.

Satu dari mereka duluan menyerang Myungsoo. Dan akhirnya mereka berkelahi, lebih tepatnya mereka mulai memukuli Myungsoo. Ini adalah pemandangan mengerikan bagi Naeun. Melihat Myungsoo dipukuli oleh orang-orang jahat itu membuat Naeun bingung dan panik. Meskipun Myungsoo melakukan perlawanan, tapi tetap saja jumlah mereka tidak imbang, tiga lawan satu.

Naeun tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Ia hanya bisa memandangi Myungsoo nanar dan berharap tiga orang itu tidak membunuhnya. Perkelahian sepihak itu akhirnya berhenti. Salah satu dari tiga pria itu memutuskan untuk menyudahi pergumulan mereka dan pergi meninggalkan Myungsoo yang melemah.

Setelah memastikan tiga orang itu benar-benar pergi, Naeun langsung menghampiri Myungsoo yang tergolek lemah. Kondisinya benar-benar mengerikan. Tubuhnya penuh luka lebam, dan darah bercucuran dari wajah tampannya. Naeun segera membantu Myungsoo untuk bangun.

Sunbaenim, gwenchana? Ohh apa yang harus aku lakukan?” panik Naeun.

“Apa yang kamu lakukan malam-malam begini disini?”seru Myungsoo dengan suara yang begitu lemah. “Apa kamu tidak apa-apa? Kamu tidak terluka?”

Naeun menggeleng. Ia menangis melihat Myungsoo. Suara Myungsoo terdengar lemah, tapi pria itu masih bisa mengomelinya. Ingin Naeun membalas ocehannya seperti biasa tapi tidak dilakukannya.

Dahaengida (Syukurlah)….” setelah mengucapkan hal itu Myungsoo jatuh menimpa Naeun. Pingsan.

.

.

“Aigoo Agasshi!! Ada apa ini? Siapa dia? Kenapa dia terluka? Agasshi baik-baik saja kan? Kenapa kalian penuh darah seperti ini?” Immo, pengasuh Naeun, tampak panik mendapati nona mudanya itu pulang dalam keadaan sangat berantakan dan membawa serta seorang pemuda yang penuh luka.

“Tolong Immo. Tolong dia, kumohon,” isak Naeun. Kemudian Immo membantu Naeun memapah Myungsoo ke kamar Naeun.

Setelah membaringkan Myungsoo di kasurnya, Naeun langsung membersihkan bekas darah di wajah Myungsoo, setelah itu ia mengoleskan antiseptik di semua luka itu dibantu juga oleh pengasuhnya. Naeun tidak bisa menghentikan tangisannya. Ia merasa begitu bersalah pada Myungsoo. Ini sudah kali kedua Myungsoo membantunya, menolongnya. Dan parahnya kali ini demi melindungi dirinya, Myungsoo sampai terluka.

Tampak Myungsoo mulai membuka matanya. Naeun langsung beranjak mendekati Myungsoo.

Sunbaenim? Gwenchanayo? Manhi apo? Mau kuantar kamu ke rumah sakit untuk mengobati lukamu?” ujar Naeun.

Myungsoo tampak menggeleng lemah. “Aku benci.. rumah sakit.. biarkan aku.. berbaring sejenak.. nanti juga sembuh.. kamu gak terluka kan?”

“Aku baik-baik saja, Sunbae,” isak Naeun.

Myungsoo mengulurkan tangannya untuk menghapus airmata Naeun. “Uljima. Kamu jadi tidak cantik kalau menangis. Jadi jangan menangis.”

“Sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan disini, Sunbae? Rumahmu kan jauh dari sini?”

Myungsoo tersenyum mendengar pertanyaan Naeun. “Kan tadi aku sudah bilang.. aku sedang dalam perjalanan.. mengirimkan kebahagiaan. Apa kamu belum juga menerimanya?”

Naeun menggeleng pelan. Ia sungguh tidak mengerti jalan pikiran Myungsoo. Terlalu banyak teka-teki di diri pemuda itu yang tak bisa Naeun pecahkan.

“Ini dimana?”

“Ini di kamarku, Sunbae. Aku tidak tahu harus membawamu kemana jadi aku membawamu ke rumahku.”

Myungsoo terlihat tersenyum menatap ke sekeliling ruangan. “Wah beruntung sekali diriku. Kemarin dulu mengantarmu pulang aku bisa dapat nomor handphonemu. Dan sekarang menolongmu dari orang jahat, aku bisa tidur di kamarmu,” gurau Myungsoo.

Mau tak mau Naeun tersenyum mendengar ucapan Myungsoo. Inilah yang membuat Naeun tak pernah merasa canggung berdekatan dengan Myungsoo. Myungsoo selalu bisa membuatnya tersenyum walaupun disaat dimana dia paling tidak ingin tersenyum sekalipun.

“Nahh, kalau kamu tersenyum begitu kan terlihat cantik,” ujar Myungsoo.

Mianhae Sunbaenim, lagi-lagi aku menyusahkanmu.”

.

.

Naeun mengerjap-ngerjapkan matanya, menyesuaikan sinar matahari yang menerobos masuk penglihatannya. Semalam ia mimpi buruk, sangat buruk. Ia mimpi diserang tiga orang tak dikenal dan tiba-tiba Myungsoo datang menyelamatkannya. Naeun mengusap wajahnya. Mimpi itu terasa begitu nyata. Naeun kemudian menatap kasurnya. Terdapat noda darah di bantal dan gulingnya. Juga ada baskom kecil berisi air yang memerah serta handuk basah di rak yang ada di samping kasurnya.

Ini bukan mimpi. Kejadian semalam benar-benar terjadi. Tapi dimana Myungsoo? Kenapa Naeun berada di kasurnya? Bukannya semalam ia memutuskan untuk tidur di bangku malas yang ada di sudut kamarnya ini. Siapa yang memindahkannya?Karena tak menemukan jawaban atas pertanyaannya, Naeun pun memutuskan untuk bertanya pada pengasuhnya. Segera saja ia pergi ke dapur mencari pengasuhnya tersebut.

“Immo, apa kamu lihat Myungsoo Sunbaenim? Apa kalian membawanya pergi ke rumah sakit?” tanya Naeun panik.

“Entahlah Agasshi. Tadi pagi waktu saya ke kamar untuk mengecek keadaannya, namja itu sudah gak ada dan Agasshi sudah  berbaring di kasur,” cerita Immo. “Ahh iya, tadi pagi saya menemukan ini di kotak surat.” Immo menyodorkan setangkai bunga lili putih pada Naeun.

Naeun menerima bunga tersebut dan membaca kartu ucapan yang menempel di tangkainya.

TO : Naeun

Morning, semoga bunga ini sampai padamu. Semoga harimu seindah bunga ini. Jangan lupa untuk tersenyum.

MS

“Dari siapa ini Immo?” tanya Naeun. Berhubung hanya ada inisial yang tertulis di kartu tersebut jadi Naeun tidak mau menebak-nebak siapa yang sudah mengiriminya bunga.

“Entahlah. Tapi menurut Pak Choi, ini bukan bunga pertama. Katanya sudah seminggu ada bunga lili putih dikirim untuk Agasshi. Tapi Nyonya tahu dan langsung membuang semuanya. Pak Choi juga tak berani memberikannya pada Agasshi. Berhubung Nyonya sedang pergi, jadi saya berikan ini pada Nona.Pak Choi tahu kok siapa yang kirim bunga itu.”

Naeun kaget mengetahui kenyataan kalau Ibunya tahu ada yang suka mengirimi Naeun bunga. Pantas saja ibunya mencurigai dia semalam. Mendengar penjelasan dari pengasuhnya tersebut, Naeun langsung mencari Pak Choi, supir pribadi keluarga mereka. Begitu menemukannya di garasi rumah, Naeun langsung memborbardir supirnya itu dengan pertanyaan.

“Choi Ahjussi, kamu tahu siapa yang kirim bunga ini? Katanya ini bukan bunga pertama untukku. Kenapa kamu gak memberikannya padaku?”

Supirnya hanya bisa menundukkan kepalanya mendengar sang Nona melancarkan protesnya. “Bunga itu dari teman Agasshi yang suka mengantar Agasshi ke parkiran sekolah. Dia datang tiap malam untuk memberikan bunga itu. Tapi Nyonya membuang semua bunga yang dikirim dan menyuruh saya untuk merahasiakannya dari Agasshi. Jeongmal jeossonghamnida, Agasshi.”

Teman yang suka mengantar Naeun ke parkiran sekolah hanya ada satu. Myungsoo. Naeun terbelalak begitu menebak hal itu. Kemudian ia melihat kartu yang tertempel di bunga. MS apa itu berarti Myungsoo? Berarti yang dimaksud Myungsoo dengan mereka adalah bunga-bunga ini. Seketika itu juga Naeun merasa terharu. Segera saja Naeun mencari ponselnya. Ia tentu harus mengabari Myungsoo kalau dirinya sudah menerima kebahagiaan yang dikirim olehnya itu.

Tapi teleponnya tidak diangkat. Handphone Myungsoo tidak aktif. Naeun juga mengiriminya pesan singkat, tapi tidak langsung dibalas, tidak seperti biasanya. Perasaan bersalah langsung menyergapi Naeun. Myungsoo mengiriminya bunga tiap hari, tapi Naeun tidak tahu. Setiap hari Myungsoo selalu bertanya apa Naeun sudah menerima bunga tersebut, tapi Naeun bersikap seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa.

Tiba-tiba saja ada rasa aneh yang menyelimuti hatinya. Entah itu rasa bersalah, rasa sedih, rasa bahagia, rasa khawatir. Myungsoo sukses membuat hati Naeun berdesir dengan semua tingkahnya.

.

.

Sudah hampir seminggu Naeun tidak melihat Myungsoo di sekolah. Naeun benar-benar khawatir sekarang. Tentu saja, karena Myungsoo meninggalkan rumah Naeun dalam keadaan babak belur. Naeun benar-benar takut sesuatu terjadi pada Myungsoo. Selain itu ponsel Myungsoo juga tidak bisa dihubungi. Naeun sudah hampir gila karena khawatir.

“Apa kamu menyukainya?” terka Eunji. Eunji tentu sudah tidak tahan melihat semua tingkah Naeun yang mengkhawatirkan Myungsoo dengan begitu berlebihan.

Aniyo. Aku hanya mengkhawatirkannya. Kalau kamu lihat seperti apa keadaannya pada waktu itu, kamu juga pasti akan khawatir sepertiku,” Naeun mengelak.

“Tapi apa yang kamu tunjukkan saat ini adalah perasaan kalau kamu menyukainya. Bilang saja kalau kamu menyukainya,” tembak Eunji lagi.

Ketika Naeun hendak membantah lagi, Eunji langsung menyodorkan ponselnya ke hadapan Naeun. Naeun pun membaca isi pesan singkat yang dikirim Woohyun untuk Eunji itu.

FROM : ❤ Uri Namstar ❤

Jagiya, bilang sama Naeun kalau Myungsoo masuk hari ini. Ya ampun jagiya sepertinya Myung habis berantem. Wajahnya penuh luka lebam.

Begitu membaca isi pesan singkat itu Naeun langsung berlari keluar kelas meninggalkan Eunji yang mulai mengomel lagi. Tujuannya saat ini adalah kebun belakang sekolah. Saat ini Myungsoo pasti sedang istirahat disana.

Benar saja, begitu sampai di kebun belakang, Naeun melihat Myungsoo tengah berbaring di bangku kayu tempat mereka biasa bercengkerama. Perlahan Naeun melangkah mendekati Myungsoo.

Entah karena efek habis berlari atau karena terlalu senang, tapi saat ini jantung Naeun berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Hanya tinggal beberapa langkah lagi ia sampai ke tempat Myungsoo, tapi tiba-tiba ia merasa ada perasaan aneh yang menyelimuti dirinya. Ia bingung harus berkata apa ketika bertemu Myungsoo. Haruskah ia membahas soal bunga lili itu atau membahas hal lain? Semua hal berkecamuk di otaknya.

“Ohh, Naeun,” tegur Myungsoo membuyarkan lamunan Naeun.

Tak perlu berpikir lebih lama lagi, Naeun memutuskan untuk menghampiri Myungsoo dan duduk disampingnya. “Sunbaenim, gwenchana? Kenapa pergi gak bilang-bilang? Aku khawatir…”

Myungsoo menarik sudut kiri bibirnya. “Mianhae,” ujar Myungsoo.

“Aku…” keduanya berbicara bersamaan. Mereka lalu saling tersenyum mengetahui kalau sepertinya pikiran mereka sama saat ini.

“Kamu dulu,” ujar Myungsoo.

Naeun sebenarnya ingin membahas masalah bunga itu, tapi ia tak tahu bagaimana mengutarakannya. “Aku tiba-tiba lupa. Sunbaenim duluan saja, “ sahut Naeun.

“Ohh, baiklah. Hmmm bagaimana aku harus mengucapkannya ya?” bingung Myungsoo. Ia tampak menggaruk-garuk kepalanya dengan canggung. “Aku tidak tahu apa kamu sudah melihatnya. Tapi kurasa aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Mungkin kamu akan kaget mendengarnya, geundae neol johahae, neol saranghae. (tapi aku menyukaimu, aku mencintaimu)”

Naeun kaget mendengar ucapan Myungsoo. Tadi Myungsoo bilang apa? Dia menyukai Naeun?!

“Aku.. aku sudah sejak lama menyukaimu. Sejak kita berpapasan di depan gedung ini sebulan yang lalu, sejak itu aku menyukaimu. Butuh waktu berminggu-minggu untukku bisa bicara denganmu, berkenalan denganmu dan mengetahui nomor handphone-mu. Sudah segala cara aku lakukan agar bisa menunjukkan isi hatiku padamu, tapi semua itu tak kunjung sampai padamu.”

Naeun benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Myungsoo menyukainya dan itu sudah sejak lama. Naeun merasa terharu sekaligus merasa bersalah pada Myungsoo, karena dirinya begitu lamban dalam mencerna semua sikap Myungsoo.

Tiba-tiba Myungsoo bangun dari duduknya. Ia kemudian berdiri dihadapan Naeun. Baru kali ini Naeun melihat Myungsoo yang begitu salah tingkah.

“Ahh, aku harusnya mengatakan ini dengan keren. Bukan dalam keadaan penuh luka begini. Tapi..” Myungsoo kemudian berlutut dihadapan Naeun, membuat Naeun jadi ikut salah tingkah. “nae yeojachingu ga dwaejullae? (maukah kau jadi kekasihku?)

Naeun tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menatap Myungsoo yang kini berlutut dihadapannya. Beragam rasa berkecamuk di dadanya. Ia merasa saat ini jantungnya berdetak sepuluh kali lipat dari biasanya. Ia merasa udara tiba-tiba memanas. Sungguh ia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Ini adalah pertama kalinya bagi Naeun. Ini adalah pernyataan cinta yang pertama bagi Naeun.

Myungsoo akhirnya berdiri kembali karena Naeun tak kunjung mengucapkan sepatah kata apapun. “Mmm, kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku tahu ini terlalu cepat untukmu. Kamu tentu perlu waktu untuk berpikir. Kalau begitu aku…” Myungsoo terlihat menundukkan kepalanya. Ia kemudian berbalik untuk meninggalkan Naeun.

Sadar kalau Myungsoo akan meninggalkannya, dengan segera Naeun mencekal lengan Myungsoo. “Sunbaenim, tunggu,” cegah Naeun.

Myungsoo lalu berbalik dan menatap tangannya yang dipegang Naeun. Seketika wajahnya kembali cerah. “Ada apa?”

“Aku… hmmm.. aku tidak tahu harus menjawab apa. Karena ini adalah yang pertama untukku. Aku juga tak tahu apakah aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu atau tidak. Tapi…” gumam Naeun. Myungsoo sampai kembali berlutut agar bisa mendengar dengan jelas ucapan Naeun tersebut.

“Tapi Eunji bilang.. Eunji bilang kalau aku menyukaimu. Dia bilang kalau aku selalu memikirkanmu, kalau jantungku berdetak cepat ketika berdekatan denganmu, kalau kepalaku langsung tidak bisa berfungsi dengan baik ketika sedang berbicara denganmu itu artinya aku… aku menyukaimu.. begitu kata Eunji.” Myungsoo tampak tersenyum mendengar ucapan Naeun tersebut.

Naeun kemudian mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk. Ia menatap wajah Myungsoo yang persis ada dihadapannya. “Aku juga tidak tahu seperti apa pacaran itu… karenanya.. maukah kau mengajariku?”

“Ehh??” bingung Myungsoo. Ia berusaha mencerna maksud dari ucapan Naeun tersebut. “Apa itu artinya kamu mau jadi pacarku?” ucap Myungsoo lambat-lambat.

Naeun mengangguk pelan. Ia bahkan tidak bisa lagi menatap wajah Myungsoo karena sadar saat ini mukanya pasti memerah. Naeun menunggu reaksi Myungsoo dan…

Grep!!

Myungsoo sudah memeluknya erat, membuat nafas Naeun berhenti seketika.

Gomawo!!” seru Myungsoo.

Disana, didalam pelukan Myungsoo, Naeun juga bisa mendengar jantung Myungsoo berdebar kencang. Iramanya sama dengan detak jantungnya. Terdengar seperti nyanyian yang menenangkan hati.

“Ahh mianhae,” ujar Myungsoo yang sudah melepas pelukannya. “Aku terlalu bersemangat. Kita akan mulai dari hal yang paling sederhana dulu.”

Myungsoo kemudian mengulurkan tangannya pada Naeun. Naeun hanya memandangi tangan Myungsoo dengan bingung. Melihat Naeun tak kunjung meraih tangannya, Myungsoo pun menggenggam tangan Naeun.

“Pelajaran paling sederhana dalam berpacaran adalah pegangan tangan, Naeun,” ujar Myungsoo sambil tersenyum sumringah. “Kajja! (Ayo!)”

Naeun menggenggam tangan Myungsoo dengan kaku. Kemudian ia mengikuti Myungsoo berjalan meninggalkan kebun belakang. Sejak tadi ia berusaha untuk mengendalikan detak jantungnya tapi tak berhasil. Ia takut kalau Myungsoo bisa mendengar suara detak jantungnya yang berdebar kencang itu.

“Hmm Sunbaenim..” Naeun berusaha memecah kesunyian antara mereka. “Kenapa kamu menyukaiku?”

Myungsoo berhenti melangkah. Ia menengadah sejenak menatap langit seolah sedang memikirkan jawaban yang begitu sulit. Kemudian ia menatap Naeun dalam-dalam. “Entahlah. Rasa suka itu datang begitu saja. Awalnya aku pikir kamu adalah yeoja yang cocok untuk dijadikan pacarku. Karena menurutku kamu adalah yeoja yang setia. Mengingat kamu begitu takut untuk didekati namja-namja diluar sana.”

“Setia?” Memangnya kamu pernah dikhianati? Naeun ingin menanyakan itu. Tapi rasanya terlalu lancang dan lagi Naeun takut menyinggung perasaan Myungsoo. Ini adalah hari pertamanya menjadi kekasih Myungsoo, ia takut Myungsoo salah paham padanya.

“Aku paling tidak suka diselingkuhi. Dikhianati. Kesalahan apapun akan aku maafkan, tapi kalau selingkuh aku tak bisa memaafkannya. Walaupun dia adalah Hyung-ku sendiri, aku akan membencinya sampai mati,” ujar Myungsoo. Wajahnya terlihat begitu serius ketika mengucapkan hal tersebut. Naeun menebak kalau Myungsoo pernah merasakan sakitnya dikhianati, karena matanya yang selalu terlihat meneduhkan itu tampak begitu terluka.

“Tapi kamu gak akan melakukannya kan? Aku percaya kamu tidak akan mengkhianatiku,” ujar Myungsoo sambil tersenyum. Ia kemudian menepuk-nepuk puncak kepala Naeun dengan lembut.

Ne, Sunbaenim. Aku akan berusaha menjadi yeojachingumu yang baik.”

“Ahh satu lagi,” sela Myungsoo. “Berhenti memanggilku Sunbaenim. Kita ini Aein sekarang. Aku gak mau kamu memanggilku seperti kamu memanggil Woohyun. Panggil aku Oppa.”

.

.

Menjadi kekasih Myungsoo ternyata tidak mudah. Ada terlalu banyak cobaan yang harus dia lalui. Salah satunya adalah teror dari mantan kekasih Myungsoo.

Naeun memandangi ponselnya dengan hampa. Tadi ponselnya berbunyi tanda pesan masuk. Ia  pikir itu dari Myungsoo, tapi ternyata tidak. Bukan pesan singkat dari Myungsoo yang ia terima, tapi pesan ancaman dari mantan kekasih Myungsoo.

                Jauhi Myungsoo! Jika tidak maka kamu akan mengalami kesialan! Dasar wanita jalang!!

Naeun sudah terbiasa dengan semua ancaman dan teror itu. Ia hanya mendiamkan semua yang datang padanya. Tapi teror itu bukan hanya sekedar kata-kata. Si pengirim pesan itu benar-benar serius akan ucapannya. Tadi pagi saja ia mendapat bukti nyata, lokernya diacak-acak orang. Dan parahnya tadi ketika pelajaran olahraga, seragam olahraga Naeun sudah robek semua sehingga Naeun harus absen.

Tto?!” seru Eunji yang mengintip isi pesan yang diterima Naeun.

Eunji tampak emosi melihat terror yang terus menghampiri Naeun. Ia tahu persis apa saja yang dilakukan oleh si pengirim sms itu pada Naeun. Tapi Naeun selalu melarangnya untuk memberitahu Myungsoo mengenai terror ini.

“Aku kan sudah bilang, Myungsoo Oppa itu bukan orang yang baik untukmu. Kalian itu terlalu bertolak belakang. Kamu begitu baik, pintar, dan penurut. Sementara dia, kelebihan dia itu hanya wajahnya yang tampan, selebihnya gak ada. Dia playboy, suka berkelahi, prestasinya juga buruk. Kenapa kamu harus suka sama nappeun namja seperti itu?!” omel Eunji.

Naeun hanya bisa menundukkan kepalanya mendengar celotehan Eunji. Sejak ia memberitahu Eunji kalau dirinya sudah jadian dengan Myungsoo, Eunjilah yang paling pertama menentangnya. Karena menurutnya Myungsoo itu tidak cocok untuk Naeun. Dengan segala catatan buruk yang dimiliki Myungsoo, membuat Eunji begitu tidak simpatik pada kekasih Naeun itu.

“Sekarang lihat! Kamu diteror seperti ini oleh mantan-mantannya. Lihat dirimu Naeun! Kamu sampai kurus kering begini. Apa Myungsoo Oppa tidak khawatir melihat kamu yang jadi kurus begini? Aku gak bisa membiarkannya Naeun. Aku akan bilang pada Myungsoo Oppa!”

Andwae!” cegah Naeun. “Aku gak mau Myungsoo Oppa khawatir. Jebal Eunji-ya, jangan bilang apapun padanya. Aku.. Aku mencintainya Eunji.. Ini yang pertama untukku. Jadi kumohon…”

“Ahh jinjja!! Nan molla! Kalau mereka bertindak keterlaluan lagi, walaupun kamu melarangnya, aku tetap akan melaporkan semuanya pada Myungsoo Oppa!” gerutu Eunji yang akhirnya pergi meninggalkan Naeun.

Sepeninggal Eunji, Naeun kembali mengecek ponselnya. Kali ini ada pesan dari Myungsoo, yang isinya adalah kalau Myungsoo menunggu Naeun sepulang sekolah nanti di gerbang timur. Meski merasa ganjil akan pesan Myungsoo tersebut, tapi Naeun tidak merasa curiga sama sekali.

Seusai bel pulang sekolah, Naeun langsung berlari ke gerbang timur. Disana cukup sepi dan lagi mobil-mobil yang terparkir di sana juga sudah tidak ada. Naeun akhirnya memutuskan untuk menunggu Myungsoo di pintu gerbang.

“Jadi ini yeojachingu Myungsoo yang baru itu?!” terdengar seruan perempuan di belakang Naeun.

Naeun langsung menoleh kebelakang. Didapatinya empat orang perempuan dengan penampilan yang begitu urakan menghampirinya. Naeun tahu, satu dari empat perempuan itu adalah otak dibalik semua terror yang diterimanya.

“Sepertinya semua pesan kita tidak didengarnya.”

“Berani juga anak ini! Masih punya nyali juga rupanya untuk jalan dengan Myungsoo!”

“Enaknya kita apakan anak tak tahu diri ini?!”

“BERI DIA PELAJARAN AGAR DIA BERHENTI MENGGODA MYUNGSOO-KU!”

Naeun tahu, ini adalah saat yang berbahaya bahkan mungkin lebih berbahaya dari waktu ketika ia diganggu oleh preman-preman di taman dekat rumahnya dulu. Dan kini dua orang yang badannya lebih besar dari Naeun sudah mengunci tubuhnya. Salah satu perempuan yang menurut Naeun adalah pemimpin dari rombongan ini mendekati Naeun.

Plakk!!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Naeun. Kepala Naeun sampai terasa berdengung karenanya. Pipinya terasa panas dan perih. Tak hanya tamparan yang diterimanya, karena perempuan itu kini menendang perutnya hingga Naeun jatuh tersungkur.

“Uhhukk. Kenapa.. kau melakukan ini.. padaku?” rintih Naeun.

“KAMU BERTANYA KENAPA? JAUHI MYUNGSOO!! DIA ITU MILIKKU!!” seru perempuan itu sambil kembali menendang perut Naeun.

“YAH!! Apa yang kalian lakukan padanya!!” tampak Eunji berlari menghampiri Naeun yang meringkuk di jalan.

“Isshh!! Akan aku adukan kalian pada kepala sekolah! Pergi kalian!” Eunji menghalau rombongan gadis-gadis itu dengan mengayun-ayunkan tasnya kearah mereka. Dan akhirnya gerombolan gadis itu pergi meninggalkan mereka.

“Naeun! Gwenchana?!  Aishh apa aku bilang! Lihat apa yang mereka lakukan!!” seru Eunji sambil memapah Naeun.

Gomawo. Geundae… jangan bilang.. pada Myung….” Naeun tidak sanggup melanjutkan kalimatnya karena pandangannya kini sudah gelap .

.

.

.

“Putri anda terkena Anoreksia dan depresi berat. Dia harus banyak istirahat dan makan makanan yang cukup gizinya. Dia akan dirawat inap disini sampai kondisinya memungkinkan untuk sekolah lagi,” pesan Dokter yang memeriksan Naeun pada ibunya.

Geurigo…” Dokter itu melirik kearah Naeun yang terbaring di ranjang rumah sakit.  Naeun tahu dokter itu pasti akan membahas mengenai luka lebam yang ada di perut Naeun. Naeun langsung menggeleng pelan, memberi isyarat pada sang dokter untuk tidak melaporkan pada ibunya mengenai luka tersebut.

“…Jangan paksa dirinya untuk berpikir berat,” ujar sang dokter. Dokter itu tersenyum prihatin pada Naeun. “Nanti temui saya diruangan saya untuk membicarakan masalah ini, Nyonya Son. Kalau begitu saya permisi dulu.” Dokter itu pun kemudian pergi meninggalkan Naeun dan ibunya.

Naeun menghindari tatapan ibunya. Ia tak ingin ibunya bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Karena Naeun belum siap memberitahu ibunya mengenai hubungannya dengan Myungsoo. Ia takut ibunya akan bertindak untuk memisahkannya dari Myungsoo.

“Kamu dengar apa kata dokter. Anoreksia. Walaupun kamu belajar dengan baik, kamu tetap harus makan Naeun,” ujar ibunya sambil menyodorkan sebuah apel pada Naeun. “Eomma akan ke ruangan Dokter Shim dulu. Kamu istirahatlah.”

Dan ketika ibunya hendak meninggalkan Naeun, ponsel Naeun berbunyi. Naeun tersentak kaget mendengar suara ponselnya. Ada dua kemungkinan saat ini. Adalah Myungsoo sedang meneleponnya atau terror itu kembali datang padanya. Baru saja Naeun hendak meraih ponselnya, tapi ibunya sudah terlebih dulu mengambilnya dan menjawab panggilan tersebut. Belum sempat ibunya mengucapkan salam, Naeun sudah bisa mendengar jeritan si penelepon.

           JAUHI MYUNGSOO!! KAMU TIDAK PANTAS DENGANNYA!! DASAR PEREMPUAN PENGGODA!!

Naeun menatap ibunya horror. Apa yang ia takutkan terjadi. Dan kini ibunya tengah memandangi ponsel Naeun bingung dan emosi. Terlihat ibunya menggenggam ponsel Naeun erat, marah.

“Apa maksudnya ini Naeun?! Apa mereka yang membuatmu seperti ini?! Siapa itu Myungsoo?!”

.

.

.

Aku sadar jalan kita tidak mudah

Aku tahu akan ada banyak rintangan menghadang

Aku tahu perbedaan diantara kita begitu besar

Tapi aku tak pernah bisa untuk menjauh darimu

Aku tak bisa lepas darimu

Aku…

Aku terlalu menyukaimu

-Naeun’s Mind


 

kekeke,,, gimana… gimana… gimana…
udah ada perkembangan belum disini??
betewe ini aku hanya menceritakan dari sisi Naeun aja lohh
jadi si berondong mata elangku gak begitu eksis disini -__-

hhmmm,,, masih kurang kelabu kah??
kalo masih kurang kelabu saya sarankan kalian baca FF ini dalam gelap(?)
kekekeke
atau kurang manis ceritanya??
kalo gitu baca FF ini sambil makan permen manisan dehh

saran dan kritiknya ditunggu untuk perkembangan FF ini
anyway gomawo udah sempetin baca 🙂

Advertisements
FF – THIS IS NOT A LOVE STORY | Chapter 2 | PG15

31 thoughts on “FF – THIS IS NOT A LOVE STORY | Chapter 2 | PG15

  1. chibaUty_tsukino says:

    ketauan dwech… reaksi eommanya naeun gmn ya..? lanjt bc lg..^^ nb: feelnya dah mulai dpt., tp gregetan ma naeun knp ga blng ma myungsoo….

  2. hmmmm udah ada sedikit perkembangan sih,
    nggak terlalu flat dibanding part pertama
    tapi kok L kesannya jadi kurang cool? nape dia pake peluk2 naeun coba? seneng banget ye jadian ama naeun *mendadak ga nyante* kekekkee

    aku masih memperhatikan kemana cerita ini akan dibawa, bee…. aku tunggu next part bee

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s