FF – THIS IS NOT A LOVE STORY | Chapter 1 | PG15


Title : This is Not a Love Story

Subtitle : (Chapter 1) First Time I Meet You

Author : beedragon

Cast:

Naeun A-Pink as Son Naeun

L Infinite as Kim Myungsoo

Other Cast:

Eunji A-Pink as Jung Eunji

Woohyun Infinite as Nam Woohyun

Genre : Romance, Sad, Friendship

Length : Series (on going)

Rating / pairing : pg15 / Straight

Summary : Naeun tak pernah membayangkan jika hidupnya yang selama ini datar-datar saja akan berubah menjadi begitu berwarna hanya karena seorang pria. Pertemuannya dengan Kim Myungsoo membuat hari-harinya yang begitu kelabu menjadi berwarna. Myungsoo memberinya banyak rasa, mulai dari kagum, suka, cinta, hingga duka.

 

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Backsound Song : Taylor Swift – Haunted (accoustic vers) *lagu ini menginspirasi auhor dalam membuat FF ini*

The First Time I Meet You

Beeeep beeeep beeeep beeeep

Bunyi nyaring suara alarm itu membangunkan Naeun dari tidurnya. Tapi gadis itu tidak bergeming dan masih tetap bergelung dengan selimut hangat yang memeluk erat tubuhnya. Masih dengan mata setengah terpejam ia berusaha bangun untuk menghilangkan bunyi bising tersebut. Setelah hening kembali merayapi telinganya, Naeun pun beranjak meninggalkan tempat tidurnya. Tidak banyak membuang waktunya, Naeun langsung melangkah menuju kamar mandi. Seusai membersihan dirinya, ia segera mengenakan seragam sekolahnya. Ya, ini adalah hari kesekian Naeun menjalani kehidupannya sebagai siswi SMA. Sudah dua bulan sejak ia pertama kali di terima sebagai salah satu siswi di sekolah swasta yang cukup terkenal di Seoul itu. Setelah mematut dirinya di depan cermin, Naeun pun bergegas turun ke ruang makan untuk menikmati sarapan paginya.

Beginilah ia mengawali kehidupannya. Dengan jadwal membosankan, rutinitas membosankan. Tidak ada yang istimewa. Biasanya setiap pagi ia hanya sarapan di temani oleh pengasuhnya, bibi Im atau yang biasa di panggil Immo oleh Naeun. Orang tuanya? Jangan ditanya. Karena sebelum Naeun membuka mata, kedua orang tuanya sudah berangkat bekerja, dan sampai ia menutup mata untuk tidur, orang tuanya belum juga pulang. Kesepian? Naeun tidak pernah merasakan itu. Kesepian adalah sahabat baiknya bersama dengan sunyi dan membosankan.

Tidak ada yang menarik dari kehidupan Naeun. Selain fakta kalau ayahnya adalah seorang Diplomat yang sering mondar-mandir di dalam dan luar negeri. Sementara ibunya adalah seorang jaksa yang terkenal tegas dalam menjalankan tugasnya. Sebagai putri satu-satunya di keluarga Son, Naeun dituntut untuk menjadi putri yang baik, pintar dan berkelas. Sampai ia melupakan apa tujuannya hidup di dunia ini.

Seusai menikmati sarapan –yang menurutnya sangat tidak istimewa– Naeun pun berangkat menuju sekolahnya. Dengan supir yang senantiasa menemani nona mudanya ini, Naeun diantar sampai ke pelataran sekolah.

Begitu sampai di parkiran sekolah, Naeun langsung melangkah menuju kelasnya. Tanpa menoleh ke kiri-kanan, tanpa menegur orang-orang yang dilewatinya, Naeun terus berjalan dengan kepala tertunduk. Mungkin semua orang mengira kalau Naeun adalah gadis sombong, tapi sesungguhnya ia tidak seperti itu. ia hanya tidak suka – lebih tepatnya tidak bisa– bergaul. Apalagi ibunya selalu mewanti-wanti dia untuk tidak berteman dengan sembarang orang, membuat Naeun takut untuk bersosialisasi.

“Naeun-ah!!!!” sapa seorang gadis berponi yang tampak selalu riang.

“Annyeonghaseyo Eunji,” sahut Naeun dengan suara yang nyaris tak terdengar.

Eunji, satu-satunya perempuan yang mau mendekati Naeun. Hampir sebagian besar teman sekelasnya tidak ada yang mempedulikan kehadiran Naeun. Hanya Eunji. Hanya Eunji yang mau berteman dengannya. Menurut Naeun, Eunji itu memiliki semacam kelebihan untuk membuat semua orang disekitarnya merasa bahagia. Tentu saja, dengan senyum yang tak pernah lepas menghiasi wajahnya, membuat siapapun pasti akan ikut tersenyum bersamanya.

“istirahat nanti temani aku ke kantin ya. Hari ini aku lupa bawa bekal untuk Woohyun oppa,” pinta Eunji.

Entah Naeun harus kagum atau tidak, tapi Eunji hanya dalam waktu dua bulan sudah bisa mendapatkan Sunbae mereka yaitu Nam Woohyun sebagai kekasihnya. Nam Woohyun adalah ketua tim paduan suara di sekolah, dimana Eunji juga ikutan bergabung. Dan karena itu mereka sekarang menjalin hubungan yang disebut dengan pacaran, sebuah hal yang tidak pernah terjangkau oleh pikiran Naeun.

“Tapi aku mau ke perpustakaan. Lagipula untuk apa aku ikut dengamu? Kalau nanti kamu malah berdua-duaan dengan Nam Woohyun Sunbaenim.” Tolak Naeun.

“Ahhh, masa kamu tega membiarkanku sendirian ke kantin? Lagipula apa kamu gak bosan bergaul dengan buku-buku itu? kamu harus sering-sering ketemu banyak orang biar gak jadi introvert seperti ini,” Eunji malah menceramahi Naeun.

Naeun hanya bisa menghela napas mendengar celotehannya. Bukannya ia tak mau bertemu dengan orang banyak. Ia hanya tidak suka berada di depan banyak orang, membuatnya merasa tidak nyaman.

.

.

Naeun dengan terpaksa menemani Eunji ke kantin. Mereka berdua menyusuri koridor sekolah untuk mencapai kantin yang terletak di gedung timur. Kantin posisinya bersebelahan dengan gedung perpustakaan. Karenanya begitu melewati perpustakaan, Naeun memutuskan untuk memisahkan diri dari Eunji – dan dilepas dengan celotehan Eunji yang kesal karena dirinya harus ke kantin sendirian.

Perpustakaan terletak di bagian selatan sekolah, satu gedung dengan ruang laboratorium dan ruangan-ruangan sepi lainnya. Ketika Naeun hendak memasuki gedung selatan, dirinya tertarik untuk melihat ke bagian belakang gedung. Mungkin akan lebih sepi kalau ia membaca buku di belakang gedung ini, pikirnya. Naeun pun melangkahkan kakinya memutari gedung tersebut. Begitu sampai di belakang gedung, matanya langsung dimanjakan oleh tumbuhan sayuran yang ditanam oleh murid-murid dari kelas tata boga. Di antara barisan sayur mayur itu, terdapat satu pohon besar dengan sebuah bangku kayu di bawahnya. Dan Naeun pun menemukan tempat yang tepat untuk menyendiri.

Segera ia duduk di bangku tersebut, menarik napas dalam-dalam menikmati segarnya udara disana. Kemudian ia mulai membuka bukunya dan menelusuri halaman perhalaman. Naeun begitu serius dengan bukunya sampai ia tidak menyadari kalau ada seseorang yang menghampirinya.

“Permisi?” tegur orang tersebut.

Naeun pun mengangkat kepalanya untuk melihat siapa orang yang kini berdiri di hadapannya. Wajahnya tidak terlihat karena posisi orang itu berdiri persis membelakangi silaunya sinar matahari. Tapi yang Naeun tahu pasti, orang itu adalah lelaki.

“nu.. nuguseyo?” gugup Naeun. Ia langsung salah tingkah di bangkunya.

“maaf mengganggu acaramu Nona. Tapi bukankah kamu seharusnya izin dulu dengan pemilik bangku ini jika ingin duduk disini?” tanya pemuda itu.

Naeun langsung saja bangkit dari duduknya. Ia tidak tahu kalau bangku ini ada yang punya. Naeun langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Mianhamnida. Aku tidak tahu kalau bangku ini ada yang punya. Maaf sudah menduduki bangkumu tanpa izin,” Naeun membungkuk memohon maaf pada pemuda itu. Tapi pemuda itu malah menyunggingkan senyumnya dan detik berikutnya dia sudah tertawa.

“kata siapa bangku ini milikku? Kalau mau minta izin, mintalah pada murid-murid dari kelas tata boga. Ahahaha, kamu ini lucu sekali,” ujar pemuda itu dalam tawanya. “bukannya mau mengganggumu, tapi aku biasa tidur di sana kalau istirahat seperti ini. Aku hanya terkejut, ternyata ada juga yang memakai tempat ini selain aku.”

Hati Naeun mencelos. Pemuda ini ternyata mengerjainya. Naeun akhirnya membungkukkan badannya dan berbalik untuk meninggalkan tempat itu. Tapi pemuda itu sudah menahan lengannya.

“Kalau mau duduk disini, duduklah. Aku bisa pakai sisi yang satunya lagi. Aku jadi merasa tidak enak kalau kamu pergi. Kesannya seperti aku mengusirmu,” ujar pemuda itu lagi.

Pemuda itu kemudian menarik Naeun untuk duduk kembali. Sementara pemuda tersebut sudah ambil posisi di sebelah Naeun, kemudian merebahkan tubuhnya di samping Naeun. Kalau Naeun tidak bergeser, mungkin kepala pemuda itu sudah mendarat di pahanya.

Naeun menatap wajah pemuda yang kini terbaring di sebelahnya. Kedua matanya sudah tertutup, satu tangannya dipakai untuk mengganjal kepalanya, sementara tangan yang lain diletakkan diatas perutnya. Pemuda yang aneh, pikir Naeun. Bagaimana bisa dia sudah tertidur disamping Naeun.

Naeun terus memperhatikan wajah pemuda itu. Harus Naeun akui, pemuda itu tampan bahkan dalam keadaan tidur seperti ini. Hidungnya begitu mancung, bahkan lebih mancung dari hidungnya sendiri. Alis matanya yang saling bertautan itu juga tampak menarik. Tapi begitu melihat seragamnya, kekaguman Naeun langsung runtuh. Pemuda ini tidak memakai seragamnya dengan benar.

“Apa kamu punya kaca?” sela pemuda itu dengan mata tertutup. Naeun sempat tersentak kaget karena ternyata pemuda itu tidak tidur.

“eopso? Wae?” jawab Naeun takut-takut.

“Ani. Sepertinya ada sesuatu diwajahku sampai-sampai kamu bukannya membaca bukumu malah terus memperhatikanku.”

Deg!

Ucapan pemuda itu bagai petir di siang bolong. Pemuda itu tahu kalau Naeun memperhatikannya. Sontak wajah Naeun langsung merah padam. Tak bisa berlama-lama dan mempermalukan dirinya disini, Naeun pun beranjak dan meninggalkan pemuda itu. Pria yang aneh, rutuknya dalam hati.

.

.

“Yah, Son Naeun. Kamu mendengarkanku tidak?” sentak Eunji.

Naeun yang tersadar dari lamunannya langsung menoleh ke arah Eunji. Jelas ia tidak bisa berkonsentrasi siang ini. Ini semua karena pemuda yang bertemu dengannya di belakang perpustakaan sekolah. Pemuda yang aneh.

“Bel sudah berbunyi dari tadi. Apa kamu gak mau pulang?” ujar Eunji.

Naeun pun langsung terkesiap mendengar ucapan Eunji. Bel pulang sudah berbunyi? Tapi kenapa ia tidak mendengarnya? Ahh ini pasti karena pemuda tadi. Sepanjang pelajaran tadi Naeun terus terusik dengan bayangannya.

“Mikirin apa sih?? Aigoo Naeun. Aku udah cukup kasian mendengar chingudeul menjuluki kamu dengan sebutan alien. Tapi kali ini kamu benar-benar seperti alien. Ayo kita pulang,” Eunji langsung menggamit lengan Naeun dan menggiringnya keluar kelas.

“Serius deh Naeun. Kamu itu harus cari pacar. Biar kamu gak aneh seperti ini. Kamu benar-benar sudah membuang waktumu untuk hal-hal yang tidak menyenangkan. Apa perlu aku kenalkan dengan temannya Woohyun Oppa.” Ujar Eunji.

Naeun langsung menggeleng keras. Pacar, adalah hal yang tidak pernah dipikirkannya. Apalagi dengan yang namanya cinta. Apa pula cinta itu? baginya hal-hal seperti itu tidak ada artinya.

.

.

Hari ini Naeun kembali lagi ke belakang gedung perpustakaan. Semua perlengkapan untuk menemaninya menghabiskan istirahat siang ini sudah ada di genggamannya. Dengan sedikit mengendap-endap Naeun mengintip kondisi kebun sayuran tersebut untuk mencari tahu apakah pemuda kemarin ada disana atau tidak.

Ternyata yang dicari tidak ada. Naeun langsung menghela napas lega. Semoga pemuda itu tidak datang hari ini, dengan begitu Naeun bisa menghabiskan waktunya dengan tenang disana.

Seseorang menepuk pundak Naeun. Begitu menoleh Naeun langsung terlonjak sehingga menyebabkan semua bekalnya jatuh ke tanah.

“Apa yang kamu lakukan? Kamu mengendap-endap begitu seperti sedang melakukan kejahatan?” tegur pemuda tersebut, pemuda yang sama dengan yang ditemuinya kemarin.

Pemuda itu kemudian memunguti bungkusan roti dan susu kotak milik Naeun. “Mau makan siang disini? Kenapa pakai mengendap-endap seperti itu?”

Naeun langsung salah tingkah. Tidak mungkin ia bilang kalau dia sedang mencari tahu apa pemuda di hadapannya ini ada di kebun atau tidak, bisa-bisa pemuda itu ge-er karena mengira Naeun mencarinya.

“Aku pikir aku bisa memakai bangku itu hari ini untuk membaca buku,” ujar Naeun dengan suara yang begitu pelan.

“Kalau hanya mau mencari tempat untuk membaca, kenapa kamu tidak pergi ke perpustakaan saja?” tanya pemuda itu.

“Di perpustakaan tidak boleh membawa makanan….” gumam Naeun sambil menatap bungkusan bekal makan siangnya yang ada di genggeman pemuda itu.

Pemuda itu mengangkat tangannya yang sedari tadi memegang bungkusan makanan Naeun. Ia kemudian mengembalikan bungkusan itu ke Naeun.

“Tampaknya kamu lebih membutuhkan bangku itu daripada aku. Yasudah. Pakai saja bangku itu, aku bisa cari tempat lain untuk tidur siang,” ujar pemuda itu.

Pemuda itu kemudian meninggalkan Naeun dan sejuta pertanyaan di benaknya. Tentu saja Naeun heran, bagaimana bisa pemuda itu tiba-tiba muncul dihadapannya. Apakah pemuda itu mengikutinya? Apa mungkin pemuda itu semacam stalker yang mengikuti kemana Naeun pergi? Tapi untuk apa? Selain itu, Naeun tidak merasa pernah melihatnya –mungkin mereka sering berpapasan tapi Naeun tidak memperhatikannya.

Harus Naeun akui, kalau ia cukup takjub dengan pemuda itu. Karena pemuda itu adalah lelaki pertama yang mau berbicara padanya. Lelaki pertama yang mau berdekatan dengannya. Lelaki pertama yang mengusik perhatiannya.

.

.

“Kamu gak dijemput hari ini?” tanya Eunji.

Naeun hanya menggeleng pelan. Hari ini supir pribadinya sedang sakit jadi Naeun mau tak mau harus pulang sekolah naik angkutan umum –hal yang tak pernah dilakukannya.

“Kamu mau pulang naik apa? Memangnya kamu tahu jalan pulang?” tanya Eunji lagi.

“Aku mungkin akan pulang naik taksi,” gumam Naeun.

“Heeeh!!!! Taksi?!! Taksi kan mahal Naeun. Dari sini kerumahmu naik taksi ongkosnya setara dengan naik bus kota selama sebulan pulang pergi,” sergah Eunji. “Lebih baik kita naik bus saja, eoh?”

Naeun langsung menatap Eunji horor. Naik bus kota? Berarti dia harus bertemu banyak orang? Berdesak-desakkan? Memikirkannya saja sudah mampu membuat kepala Naeun menjadi berkunang-kunang.

“Jangan menatapku seperti itu,” ujar Eunji. “Kita kan searah, jadi aku akan menemanimu pulang naik bus kota. Tenang saja, ada Woohyun Oppa yang akan menjaga kita. Kamu gak perlu takut Naeun. Sekali-kali hidup merakyat, ne?”

Eunji lalu menggamit lengan Naeun dan menggiringnya keluar kelas. Keduanya berjalan beriringan di koridor yang dipenuhi dengan siswa-siswi yang juga mempunya tujuan yang sama, yaitu pintu gerbang sekolah. Naeun biasanya tidak pernah keluar sekolah lewat gerbang depan. Biasanya dia dan supirnya keluar lewat pintu timur yang cukup sepi. Jadi Naeun tak pernah tahu seperti apa kondisi gerbang sekolah ketika jam pulang seperti ini.

“Omo!” suara Naeun tercekat melihat betapa banyaknya anak manusia yang berlalu lalang di hadapannya.

Mereka kini sudah sampai di gerbang dalam sekolah. Dihadapannya –lebih tepatnya di lapangan sekolah– sudah dipenuhi dengan oleh murid-murid. Ada yang sendiri, ada yang berkelompok, ada yang asik berbincang-bincang, ada juga yang berjalan sambil mendengarkan musik dari headphonenya. Naeun merasa tidak yakin apakah dirinya bisa ikut Eunji pulang naik bus kota atau tidak.

“Waeyo?” protes Eunji. “kamu gak pernah keluar lewat sini kan? Makanya sekali-kali kamu membaur biar gak kuper, Naeun. Sekarang kita tunggu Woohyun Oppa disini.”

Naeun terus saja memperhatikan sekelilingnya dengan takjub. Sepertinya rombongan manusia berseragam itu tidak pernah ada habisnya. Bagaimana bisa ia tidak pernah tahu kalau halaman sekolahnya akan seramai ini ketika bubaran sekolah. Tampaknya Naeun sudah terlalu lama terkunci dalam dunianya sendiri.

“Ahh! Itu Woohyun Oppa,” riang Eunji. Eunji sudah melambaikan tangan pada pria yang sedang menghampiri mereka.

“Kalian lama menunggu? Mianhae, tadi Oppa ada urusan sebentar,” sapa Woohyun yang langsung memeluk Eunji. “Hei, Naeun. Kamu berani pulang naik bis kota hari ini, eoh?” godanya.

Naeun hanya menundukkan kepalanya mendengar celotehan Sunbaenya itu. Kepalanya sudah sakit memikirkan apa yang akan dialaminya nanti. Naik bis kota, bertiga dengan sepasang kekasih yang sedang kasmaran, memikirkannya saja sudah membuat Naeun pusing.

“Ohh, Oppa kamu ajak Myungsoo Oppa juga? Baguslah jadi Naeun gak sendirian,” ujar Eunji.

Myungsoo Oppa? Siapa itu? Naeun pun mengangkat wajahnya. Ternyata Woohyun tidak datang sendirian. Dia datang bersama temannya, yang wajahnya sangat tidak asing bagi Naeun.

Tentu saja Naeun merasa tidak asing dengan wajahnya, karena sudah beberapa hari ini orang itu sudah mengusik istirahat siangnya. Orang yang meminjamkan tempat istirahatnya untuk Naeun sekarang berdiri dihadapan Naeun. Naeun selalu penasaran akan identitas orang tersebut. Karena Naeun selalu berpikir kalau orang itu hanya halusinasinya saja. Tapi ternyata tidak. Orang itu kini berdiri di hadapannya.

“Ahh, iya aku lupa. Naeun kenalkan ini teman Oppa. Namanya Myungsoo. Kim Myungsoo,” Woohyun mengenalkan sosok misterius itu pada Naeun.

Ternyata pemuda itu punya nama. Dan namanya adalah Kim Myungsoo. Pemuda itu mengulurkan tangannya pada Naeun, tapi tampaknya Naeun terlalu terkejut untuk membalas uluran tangannya. Ia terus menatap Myungsoo yang tersenyum padanya. Senyum yang sama seperti yang ditunjukkannya kemarin.

Naeun tersentak kaget ketika dirasakannya Eunji mencubit lengannya, menyadarkannya dari lamunan bodohnya. Ragu-ragu Naeun membalas tangan Myungsoo.

“Son Naeun imnida,” ujar Naeun dengan suara yang begitu pelan.

.

.

Eunji ternyata tidak main-main. Dirinya benar-benar membawa Naeun pulang naik bis kota. Saat ini mereka sudah menaiki bis yang menuju rumah Naeun, bersama dengan Woohyun dan Myungsoo.

Eunji dan Woohyun yang sudah lebih dulu masuk sudah mendapatkan posisi berdiri di belakang bis. Sementara Naeun yang menyusul di belakang mereka harus rela terpisah antara tiga orang yang badannya lebih besar darinya. Sedangkan Myungsoo yang seharusnya berada di belakang Naeun, harus terganjal beberapa orang yang juga memenuhi bis tersebut.

Naeun mati gaya. Sambil berpegangan pada tiang bis, ia terus menundukkan kepalanya berharap agar tidak ada sesuatu yang buruk menimpa dirinya. Ia tidak pernah tahu kalau naik bis kota akan seperti ini rasanya. Apalagi sepertinya semua penumpang menghimpit dirinya.

Naeun merasa sangat risih. Karena dua orang dibelakangnya terus saja merapatkan diri kearahnya. Naeun sudah memejamkan matanya. Sesungguhnya Naeun takut akan hal-hal seperti ini. Tapi dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Sepertinya badannya sudah lemas dan pikirannya sudah gelap.

“Naeun gwenchana?”

Sapaan itu menelusup masuk di telinga Naeun. Suara yang menenangkan itu membuat Naeun membuka matanya. Ia melihat ke belakang, ke pemilik suara yang kini menatapnya dengan pandangan khawatir. Naeun menatap mata yang meneduhkan itu, seketika ia merasa aman.

“Ne, sunbaenim,” sahut Naeun.

Naeun baru menyadari, ternyata Myungsoo sudah berdiri di belakangnya dan meletakkan kedua tangannya di pundak Naeun, seperti sedang menyalurkan energinya. Ada perasaan yang tak pernah Naeun rasakan sebelumnya. Seolah ada kehangatan yang tiba-tiba datang padanya. Sentuhan Myungsoo mengingatkan Naeun akan ayahnya yang selalu memberinya perlindungan.

Untuk pertama kalinya Naeun merasa bahwa dia tak sendirian.

.

.

“Untung ada Myungsoo Oppa! Coba kalau gak ada, aku gak tau apa yang bakal di lakukan sama eommanya Naeun kalau sampai dia tahu anaknya di grepe-grepe di bis tadi. Bisa-bisa aku dituntut sama eommanya karena udah ajak putrinya pulang naik angkutan umum,” Eunji terdengar begitu berapi-api meluapkan emosinya.

Sejak mereka turun dari bis tadi, Eunji tak henti-hentinya mengomel –entah pada siapa. Dia kesal pada pemuda-pemuda yang mencoba berlaku mesum pada Naeun di bis tadi. Untungnya Myungsoo langsung menegur mereka, sehingga mereka tidak sempat melakukan hal tidak senonoh pada Naeun. Naeun sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada saat itu, karena memang otaknya sedang tidak bekerja dengan baik pada saat itu.

“Gomapseumnida, Myungsoo Sunbaenim.” Sementara Woohyun sibuk menenangkan Eunji dengan semua celotehannya, Naeun memberanikan diri untuk mengucapkan rasa terima kasihnya pada Myungsoo.

“Hmm, bukan apa-apa. Syukurlah kamu gak kenapa-kenapa. Justru aku mau minta maaf padamu karena membuat perjalanan pulangmu jadi seperti itu,” sahut Myungsoo.

Naeun menatap Myungsoo yang berjalan disampingnya. Ada begitu banyak yang ingin Naeun katakan pada pemuda itu, tapi tak satupun kalimat keluar dari bibir mungilnya. Ia merasa dirinya sudah begitu merepotkan Myungsoo. Padahal mereka baru beberapa kali bertemu tapi Myungsoo sudah begitu baik mau menemaninya pulang.

“Rumahmu dimana Naeun?” tanya Myungsoo membuyarkan lamunan Naeun.

“ikuti saja Eunji…” sahut Naeun yang akhirnya memalingkan wajahnya dari Myungsoo.

“Tapi mereka sudah berbelok di dua tikungan sebelumnya?” ujar Myungsoo lagi.

Naeun lalu melihat ke depan dan benar saja sudah tidak ada Eunji dan Woohyun disana. Ia memperhatikan sekelilingnya, memang sudah lewat dari gang rumah Eunji.

“Sejak kapan mereka pergi? Kenapa mereka gak pamitan?” bingung Naeun.

“Mereka sudah pamitan, tapi kamunya jalan terus,” Myungsoo menjelaskan pada Naeun.

Naeun mengangguk mengerti. Dalam hati ia merasa bersalah pada Eunji dan Woohyun, karena tidak sempat berpamitan dengan mereka. Ia kemudian melanjutkan perjalanannya, karena mereka sudah sampai di dekat rumah Naeun.

“Kita sudah sampai, Sunbaenim. Terima kasih sudah mengantarkanku pulang. Maaf aku merepotkanmu,” ujar Naeun sambil membungkukkan badannya.

“Ahh, aniyo. Jangan merasa sungkan seperti itu. aku senang kok,” sahut Myungsoo.

“Kalau begitu aku masuk dulu ya,” pamit Naeun. Dan ia pun mulai berbalik untuk masuk ke dalam rumahnya.

“Ahh, Naeun,” panggil Myungsoo dan Naeun pun langsung berbalik kembali menghadap Myungsoo. “ehhmm bolehkah.. bolehkah aku tahu nomor handphone-mu? Hmm, kurasa kita perlu mengatur jadwal untuk memakai bangku di kebun belakang.”

Naeun bingung dengan ucapan Myungsoo. Ia tahu itu hanya alasan Myungsoo saja, tapi Naeun merasa lucu dengan alasan yang digunakan Myungsoo. Akhirnya Naeun mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Myungsoo. Setelah Myungsoo menukar nomor handphone masing-masing, dikembalikannya handphone Naeun.

“Gomawo. Sampai ketemu besok di sekolah,” pamit Myungsoo.

“Hmm, gomawo Sunbaenim.”

.

.

Aku tidak tahu bagaimana awalnya.

Kamu datang dengan begitu tiba-tiba

Tanpa pemberitahuan tanpa aba-aba

Dirimu masuk dalam kehidupanku begitu saja

Aku tak pernah tahu sebelumnya

Jika dirimu akan memberikanku begitu banyak warna

Bukan hanya bahagia tapi duka

Tapi jikalau aku tahu sebelumnya

Aku tidak akan menghindarinya

-Naeun Mind-

yahh akhirnya saya comeback lagi…
lagi tergila gila sama si L jadinya pengen bikin FF dia
tapi entah kenapa tiap baca ulang ini FF kok gak ada feelnya yahh??
entah apa yang salah *mungkin karena L terlalu tampan jadinya saya terlalu terpesona, entahlah*
coba menurut kalian apa yang kurang disini..
ini saya udah nulis ampe 2 chapter tapi masih berasa kaya ada yang kurang gitu..
well kalo ada yang tahu apa itu sesuatu yang kurang dari FF ini tolong beritahu saya…

hhhh efek patah hati sama si Joker jadinya gak bisa nulis cerita romantis lagi..
betewe jangan mengharapkan cerita romantis yang manis disini
because this is not a love story

buat yang udah menyempatkan diri baca apalagi sampai memberi saya saran untuk kelangsungan FF ini saya ucapkan terima kasih

annyeong

Advertisements
FF – THIS IS NOT A LOVE STORY | Chapter 1 | PG15

39 thoughts on “FF – THIS IS NOT A LOVE STORY | Chapter 1 | PG15

  1. chibaUty_tsukino says:

    feelnya emang ga dpt.. tp seneng waktu bc paz naeun mampir kebelakang perpus n ktmu myungsoo.. mo lanjt dulu ach…^^

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s