FF – The Last 94 Generation Princess | Chapter 4 | NC17 |


Title : The Last 94 Generation Princess

Subtitle : The Broken Heart

Author : beedragon

Cast:

Hyeri Girls Day as Putri Hyeri / Lee Hyeri

Naeun A-Pink as Putri Naeun / Son Naeun

L Infinite as Guardian L / Kim Myungsoo

Chunji Teen Top as Lee Chunji

Other Cast

other 94line idol

Genre : Fantasy, Romance, Adventure, Angst, Friendship

Length : Series (on writing)

Rating / pairing : NC17 / Straight

Summary : Sebagai putri dari penguasa Skyland Kingdom, membuat Hyeri menjadi incaran bagi para Demon. Karenanya Dewi Soom mengurung Hyeri di istana. Kesepian, Hyeri akhirnya memutuskan untuk kabur dari istana dan mengikuti Naeun – teman sekaligus kakaknya- untuk pergi ke bumi. Hyeri pergi ke bumi dengan tanpa sengaja membawa serta kelima Putri yang lain. Hyeri tak tahu, kalau bukan hanya kesenangan seperti yang dibayangkannya yang menanti dirinya di bumi, tapi juga ada kekuatan jahat yang mengincarnya dan para Putri.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Chapter 4!!

read the teaser chapter 1 chapter2 and chapter 3 first

Tinggal di rumah Naeun, membuat Chunji merasa tidak nyaman. Apalagi pemuda yang bernama Myungsoo –atau biasa dipanggil L oleh Hyeri– selalu menatapnya sinis, seolah Chunji adalah musuh besarnya. Belum lagi fakta yang kemarin didengarnya kalau Hyeri adalah tunangan Myungsoo, semakin membuat Chunji serba salah tinggal disana. Sore ini Chunji memutuskan untuk meninggalkan rumah Naeun, tentu sebelumnya meminta izin dari si empunya rumah terlebih dahulu.

“kalau aku boleh tau apa yang membuatmu menyukai Hyeri, Chunji-ssi?” tanya Naeun sebelum Chunji sempat berpamitan dengannya.

“ahh itu…” Chunji tampak menggaruk-garuk kepalanya salah tingkah. “aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa menyukainya. Sepertinya dia mempunya kharisma untuk membuat siapapun menyukainya.”

“padahal kamu belum tahu asal-usul dan identitasnya, tapi kamu begitu baik mau membantu Hyeri?” tanya Naeun lagi.

Chunji menghela napas sejenak sebelum menjawab pertanyaan Naeun. “awalnya aku kasihan. Tapi lama-kelamaan rasa kasihan itu menghilang dan berganti rasa suka. Ahh entahlah aku juga tidak mengerti akan hal ini. Tapi….” Chunji menggantung ucapannya. “apa aku boleh punya perasaan seperti ini terhadap Hyeri?”

“tidak ada yang melarangmu untuk menyukainya. Karena aku bahagia kalau kau juga menyukai…” ucapan Naeun terputus oleh L yang tiba-tiba menyela mereka.

“Naeun, kita harus pergi. Mereka sudah bergerak,” bisik L, agar Chunji tidak mendengar pembicaraan mereka.

Naeun mengangguk sekilas kemudian melemparkan senyum termanisnya pada Chunji. “Aku pergi dulu, Chunji-ssi. Kita lanjutkan pembicaraan kita nanti.”

Naeun dan L pun bergegas menuju pintu keluar. Sebelum pergi, Myungsoo sempat-sempatnya melemparkan death glarenya pada Chunji. Sementara Chunji yang belum sempat menyampaikan niatannya langsung buru-buru mengejar Naeun. Ia harus pamitan secepat mungkin agar bisa segera pergi dari kediaman Naeun. Chunji pun berhasil mengejar Naeun dan Myungsoo yang sudah mulai menghilang di pintu utama.

“Naeun-ssi!” seru Chunji berusaha menahan Naeun.

Chunji pun bergegas ke pintu utama, tapi begitu ia sampai di pintu ia sama sekali tidak melihat sosok Naeun ataupun Myungsoo di depan rumah. Padahal hanya beda sekitar dua detik saja tapi Naeun dan Myungsoo sudah menghilang tanpa jejak. Chunji melihat ke kiri-kanan halaman tapi nihil. Akhirnya ia memutuskan untuk menunggu sampai Naeun dan Myungsoo pulang.

**beedragon**

Sudah hampir dua jam lamanya, tapi Naeun dan Myungsoo tidak kunjung pulang. Chunji semakin merasa tidak nyaman berada di rumah Naeun. Ia jadi merasa canggung di hadapan Hyeri. Akhirnya Chunji memutuskan untuk pergi tanpa pamitan dengan Naeun. Ya, karena semakin lama dia berada di rumah ini akan semakin enggan dirinya untuk berpisah dengan Hyeri.

“Hyeri, Oppa… sepertinya Oppa harus pergi.” Ujar Chunji saat dirinya sedang berdua dengan Hyeri di halaman rumah.

“mau kemana? Hyeri ikut,” sahut Hyeri sambil memainkan lengan jaket Chunji.

“Oppa harus pulang. Kamu kan sudah bertemu dengan Naeun. Berarti sudah tidak ada alasan lagi untukku berada disini. Lagipula Oppa sudah janji pada Eomma untuk pulang kerumah jika sudah mempertemukanmu dengan Naeun.”

“Andwae!” seru Hyeri. “kalau Oppa mau pulang, Hyeri ikut. Hyeri gak mau pisah darimu.”

Kalimat Hyeri membuat Chunji jadi serba salah. Di satu sisi akal sehatnya melarang dirinya untuk menyahuti permintaan Hyeri. Tapi di sisi lain keegoisannya menginginkan dirinya untuk membawa Hyeri pergi bersamanya.

“Oppa tidak akan membawamu. Kamu tinggallah dengan keluargamu. Disini adalah tempatmu bukan tempatku,” tolak Chunji sambil mengelus puncak kepala Hyeri. “Oppa pergi dulu. Sampaikan salam pada Naeun, maaf karena tidak berpamitan secara langsung.”

Chunji mulai meninggalkan Hyeri dan pergi keluar dari kediaman Naeun. Hyeri yang masih mengira kalau Chunji hanya bercanda, masih tetap berdiri di tempatnya berharap Chunji kembali dan mengatakan kalau ini semua hanya leluconnya saja. Tapi Chunji terus melangkah pergi membuat Hyeri sadar kalau Chunji tidak sedang main-main.

“Andwae yo, Oppa!!” seru Hyeri yang langsung mengejar Chunji keluar.

**beedragon**

Dua orang dewi dari kerajaan langit tampak turun ke bumi. Mereka mendatangi sebuah rumah sederhana dan dengan sopannya mengetuk pintu rumah tersebut. Padahal mereka adalah Dewi, bisa saja mereka langsung masuk kedalam tanpa perlu bersusah payah menunggu di luar. Tapi mereka merendahkan diri mereka untuk seseorang yang kini sedang membukakan pintunya untuk mereka.

“kalian?!” bingung si pemilik rumah yang adalah seorang wanita cantik paruh baya. “ada urusan apa dua orang dewi dari istana langit mendatangi makhluk rendah sepertiku,” tanya wanita tersebut sarkastik.

“Lama tak bertemu, aku dan Dewi Soom…”

“Tak perlu basa-basi, Gaseum. Beliau tampak tidak senang jika kita berlama-lama disini,” sela dewi Soom pada dewi Gaseum yang mendampinginya. “Aku langsung saja. Aku ingin bertanya padamu. Bukankah kamu yang membuat Kolam Takdir. Aku ingin tahu kenapa belakangan ini jika aku menyebutkan satu nama di kolam itu, yang tampak hanyalah kegelapan. Apa yang terjadi?”

Si empunya rumah hanya diam mendengar pertanyaan dari dewi Soom. Ia kemudian melemparkan pandangan sinis pada dua orang makhluk langit tersebut. “kalian mau repot-repot turun ke bumi hanya untuk menanyakan hal itu?!”

“ini penting. Kami sedang mencari semua putri kami yang menghilang. Tapi kami tidak menemukannya dimanapun juga. Mencari lewat Kolam Takdir pun percuma, karena kolamnya hanya memantulkan kegelapan. Kami mohon bantu kami, Dewi Yeoshin. Ini menyangkut keberadaan bumi juga.” Dewi Gaseum tampak memohon pada wanita tersebut.

“kalian kehilangan putri kalian?! Bagaimana kalian bisa seceroboh itu?! dan jangan panggil aku Dewi, aku ini sudah bukan lagi seorang dewi!” sentak si empunya rumah yang adalah Dewi Yeoshin, dewi yang memutuskan untuk hidup sebagai manusia agar bisa bersama dengan orang yang dicintainya. “Itu sudah jelas sekali jawabannya. Kolamku tidak bisa melihat takdir seseorang yang sudah tiada atau seseorang yang berada di bawah pengaruh kekuatan magis yang besar.”

Tampak Dewi Soom melemah mendengar ucapan dari wanita dihadapannya itu. “berarti Hyeri… kalau bukan karena dibawah kekuatan magis yang besar… Hyeri.. tiada??”

Dewi Gaseum tampak berusaha menenangkan Dewi Soom. “tenanglah, Dewi. Yakinlah kalau Hyeri baik-baik saja.”
“siapa kalian bilang tadi? Hyeri? Ahh ternyata anak itu adalah putrimu?! Pantas saja kelakuannya sama sepertimu,” sela Yeoshin.

Baik Dewi Soom maupun Dewi Gaseum sama-sama melihat Yeoshin penuh tanda tanya. “kamu pernah melihat Hyeri?”

“Putrimu datang kerumahku dan menggoda putraku. Sekarang ia membawa kabur Chunji ku bersamanya. Aku bersumpah, jika Chunji sampai terluka seujung jaripun karena putrimu, maka dia tidak akan kumaafkan!” seru Yeoshin. “kalau kalian tidak bisa menemukan dimana putri itu berada, coba saja cari dimana Chunjiku berada. Pasti kalian akan menemukan putri itu.”

**beedragon**

Naeun dan L tiba di sebuah gang sempit yang diapit oleh dua gedung tinggi. Mereka menemukan dimana Sulli berada, walau dalam kondisi yang tidak diharapkaan.

“Sulli….” isak Naeun.

Ia memandangi jasad Sulli yang sudah terbujur kaku, terbaring di gang ini. Naeun berlutut meraih Sulli ke pelukannya dan menangis sejadi-jadinya mengetahui kalau mereka terlambat menyelamatkan Sulli. Setelah puas menangis Naeun langsung menyuruh L untuk mengangkat tubuh Sulli. Tapi L hanya diam dan menolak untuk bergerak.

“Aku tidak akan melakukan apapun sampai kamu mau bicara denganku.” Tegas L.

“Aku sudah bicara denganmu,” sahut Naeun dingin.

“Tapi kamu masih belum mau menatapku.” L kemudian berlutut di hadapan Naeun menarik dagunya agar mau bertatapan dengannya. “kumohon maafkan aku. Aku tak berdaya jika kamu terus menyimpan amarah padaku,” bisik L.

Naeun hanya diam, kembali ia membuang pandangannya kearah lain. Tapi L segera menangkup wajahnya agar Naeun kembali menatap L. Naeun sendiri tidak tahu persis apa alasannya untuk marah pada L. Apakah karena L ternyata hampir dijodohkan dengan Hyeri? Atau karena L kenal dengan Subin yang adalah Demon itu dan tampak memiliki hubungan khusus? Atau karena L tidak berkata jujur mengenai dirinya? Naeun sendiri tidak yakin apakah ia benar-benar marah atau sedang takut, takut merasakan kehilangan lagi.

“aku hanya takut…” lirih Naeun. “Aku takut merasakan sakit hati lagi. Aku takut jika aku, yang sudah terlanjur membuka hatiku padamu ini akan kembali merasakan sakitnya patah hati. Karena itu aku marah,” jujur Naeun.

L terdiam mencerna ucapan Naeun. Tak lama senyuman lega mengembang diwajahnya yang dingin itu. “percayalah, sejak dulu, sejak sebelum aku seperti ini, hingga sekarang hanya ada dirimu di hatiku. Aku bersyukur Dewa Yong mempertemukanku dengan Hyeri, karena berkatnyalah aku bisa menemukanmu. Aku dengan segala cara berupaya agar dirimu bisa tertarik padaku. Tapi ternyata…”

L meraih Naeun ke pelukannya. Berusaha menyalurkan kesungguhan hatinya pada Naeun. Ia berharap Naeun tidak menolak hatinya. Ia sudah menunggu terlalu lama agar bisa membuat Naeun melihatnya, dan sepertinya kesempatan itu datang sekarang.

“Aku masih penasaran akan satu hal L. Ada hubungan apa antara dirimu dan Demon bernama Subin itu?” tanya Naeun dalam pelukan L.

L pun menceritakan semuanya. Tentang pertemuannya dengan Subin. Tentang bagaimana Subin bisa meyakinkannya kalau dirinya tahu dimana tempat bunga-bunga mawar putih terbaik di dunia itu berada. Tentang bagaimana Subin memperdayanya sampai akhirnya L mau membukakan pintu langit untuk Subin. Tentang bagaimana akhirnya Subin mengacak-acak kerajaan langit dan menghabisi semua putri dari generasi ke sembilan puluh tiga. Sampai akhirnya L dihukum oleh mahadewa karena kelalaiannya yang mengakibatkan habisnya generasi para putri sebelum Naeun.

“Aku masih diberi keringanan. Dewa Yong hanya menarik status dewaku, dan mengubahku menjadi guardian. Dan tak lama kemudian Dewi Soom berkata padaku untuk menjadi guardian seorang putri yang memasuki usia remajanya. Dan ternyata aku harus menjadi guardianmu. Apa kamu tahu betapa bahagianya saat itu.” cerita L.

Naeun melepas pelukan L. “Aku tahu itu. karenanya kamu tak pernah mau meninggalkanku barang sedetikpun. Aku tahu itu.” Naeun tersenyum tulus pada L . “sekarang apa kamu mau membantuku membawa Sulli pulang? Bukankah kamu berjanji akan mengejar Demon itu dan mengembalikan semua seperti sedia kala? Kita harus segera merebut kembali jiwa Sulli dan Sohyun.”

L pun menurut dan segera mengangkat tubuh Sulli agar naik ke punggungnya. Dan mereka pun pergi dari tempat itu.

**beedragon**

“Ngomong-ngomong, kamu dulu pernah bilang padaku kalau kamu ingin melindungi bumi ini dari putri yang akan menghancurkan bumi. Kurasa aku tahu siapa itu,” ujar L ketika mereka sedang dalam perjalanan pulang.

“Siapa? Jiyoung kah? Karena sepertinya dia berkonsiliasi dengan Demon itu.” terka Naeun.

“bukan Jiyoung. Ada satu putri yang sangat dekat denganmu. putri dari keturunan yang sangat kuat. kurasa dialah yang memiliki kekuatan besar itu.” sahut L.

Sambil terus berlari, Naeun terus mencari diotaknya, siapa putri yang dimaksud L. Putri yang sangat dekat dengannya tidak banyak, bahkan sepertinya hanya ada satu. Ya, satu-satunya teman bermain Naeun. Hanya dia satu-satunya putri yang begitu dekat dengannya.

“tidak mungkin…” lirih Naeun yang sudah berhenti berlari. “darimana kamu bisa menebak hal itu? tidak mungkin…”

“ketika pertama bertemu juga aku sudah menebak, kalau dia bukan putri biasa. Sangat tidak mungkin keturunan terbaik dari mahadewa tidak memiliki kekuatan bahkan yang paling sederhana sekalipun.”

Naeun menatap L bingung. Ia masih belum bisa yakin akan tebakannya. Tapi Naeun takut untuk mendengar semua pemikiran L.

“memangnya menurutmu kenapa Hyeri harus menjalani pelatihan emosi? Kenapa Dewi terus memaksanya untuk menekan emosinya? Padahal mereka tahu pelatihan pengendalian emosi bagi para putri akan mengurung kekuatannya bahkan menghilangkan kekuatannya. Tapi kenapa para dewi melakukan itu pada Hyeri yang katanya tidak memiliki kekuatan itu,” L kembali menjelaskan tebakannya.

“belum lagi Dewi Soom memasang perlindungan dari semua dewa-dewi langit di istana Hyeri. Coba kamu pikir, untuk apa mereka memasang perlindungan di istananya, tapi bukan di diri Hyeri. Itu agar ketika Hyeri meledak langit tidak akan mengalami kerusakan.”

“Jangan mengarang cerita,” elak Naeun. Ia tak ingin mendengar lebih jauh lagi semua pemikiran L.

“ketika Hyeri lahir, dia mendapatkan doa serta keagungan dari semua dewa-dewi di langit. Jadi sudah bisa dipastikan jika Hyeri memiliki kekuatan yang besar. Kamu pikir kenapa Hyeri harus dikurung dan dilarang bertemu dengan orang-orang. Agar emosinya tetap stabil dan tidak terganggu.” L menurunkan tubuh Sulli dari punggungnya dan menghampiri Naeun. “tapi ada satu hal yang para dewi lupakan. Selama ini, Hyeri selalu mendapatkan pelatihan pengendalian emosi, tapi mereka tidak memikirkan hal apa yang akan terjadi jika emosi dan hati Hyeri mulai bekerja.”

“Apa maksudmu mengatakan ini semua? Kenapa kamu bisa menebak kalau Hyeri-lah yang akan menghancurkan bumi? Apa kamu pernah melihat kekuatannya?” Naeun menatap L nanar.

“kita pernah merasakannya. Sesaat sebelum menemukan Hyeri di menara Namsan bukankah ada gempa bumi? Gempa itu berpusat dari tempat dimana aku menemukan Hyeri. Dan kemarin ketika aku mencoba untuk memancing perasaannya. Tebak apa yang kudapat?” L menunjukkan lengan kirinya yang terdapat luka bakar yang begitu parah. “ada petir besar menyambarku seiring dengan jeritannya terhadapku. Dan ketika dia menangis….”

Hujan deras turun secara tiba-tiba membasahi bumi. Naeun langsung membuat sebuah daun besar untuk melindungi kepalanya dan L serta untuk melindungi tubuh Sulli. Sementara L malah menjulurkan tangannya yang lain untuk menangkap tetesan air hujan tersebut. Lalu L menyodorkan kumpulan air hujan tersebut ke hadapan Naeun.

“…hujan akan turun. Apa kamu tidak mau merasakannya. Air hujan ini rasanya asin.” Ujar L. Lalu L kembali meraih tubuh Sulli dan menggendongnya.

“Hyeri tidak tahu kalau dirinya memiliki kekuatan seperti itu, karenanya dia juga belum bisa mengendalikan kekuatannya. Sekarang hatinya sudah mulai bekerja. Sepertinya sejak ia kabur dari istana dan bertemu dengan manusia yang bernama Chunji itu membuka semua ikatan yang dibuat para dewi di hatinya. Karena itulah aku tidak suka padanya, karena Chunji lah yang mampu mengendalikan emosi Hyeri…” Sambil memberi isyarat pada Naeun agar bergerak, L pun mulai berlari.

Sementara Naeun masih terpaku di tempatnya. Ia masih belum bisa mencerna perkataan L. Lebih tepatnya ia menolak untuk menerima kenyataan yang diucapkan L. Ia sama sekali tak pernah mengira –tak pernah terlintas sedikitpun dibenaknya jika putri yang memiliki kekuatan untuk menghancurkan bumi itu adalah Hyeri. Berarti ketika Hyeri mengalami ledakan emosi, kekuatannya bisa menghancurkan bumi. Lalu apa yang harus dilakukannya.

“Naeun, kita harus bergerak cepat!! Demon ada di sekitar rumah kita sekarang!!”

**beedragon**

“Oppa!!” Hyeri berusaha menahan kepergian Chunji. “Oppa kajimayo. Jebal!”

Chunji menghentikan langkahnya. Dia kemudian berbalik dan menghadap Hyeri yang tampak sedang mengatur napasnya. Sungguh Chunji juga tak ingin melakukan ini. Tapi ia tak punya pilihan lain.

“Jangan mengejarku Hyeri. Tempatmu bukan denganku. Jangan membuatku merasa bersalah seperti ini.”

“Kenapa kamu lari dariku, oppa? Hyeri salah apa?! Hyeri minta maaf kalau ada yang salah, tapi kumohon jangan tinggalkan aku. Bukankah Oppa menyayangiku? Tapi kenapa kamu mau meninggalkanku?” Hyeri bersimpuh di jalan membuat Chunji bergegas menghampirinya.

“Aku juga ingin membawamu pergi bersamaku. Tapi kamu bukan milikku, Hyeri. Kamu sudah ada yang punya. Bukankah kamu sudah tunangan. Karena itu aku tidak bisa bersamamu.”

“Apa itu tunangan? Apa itu sejenis makanan?” bingung Hyeri.

“Bukankah kamu dijodohkan dengan Myungsoo?” sahut Chunji.

Hyeri langsung merengut mendengar kalau Chunji ternyata juga mengetahui hal tersebut. Ia hanya mengerucutkan bibirnya. Ia paling tidak suka jika ada yang menyinggung masalah dirinya dengan L. Dan darimana pula Chunji tahu akan hal itu.

“Aku hampir dijodohkan, tapi tidak jadi karena L, ehh maksudku Myungsoo menyukai Naeun. Lagipula darimana Oppa tahu akan hal ini. Ini hanyalah masalalu. Buktinya sekarang Myungsoo tinggal bersama Naeun. Aku tidak dijodohkan dengan siapapun.”

Chunji terdiam menatap Hyeri tepat di manik matanya, mencari kesungguhan disana. Dan terlihat Hyeri tidak berbohong. Dibelainya rambut Hyeri, sambil menyingkirkan anak rambut yang menghalangi kecantikannya.

“Aku menyayangimu Hyeri. Tapi aku tak punya kepercayaan diri setelah mengetahui latar belakangmu. belum lagi fakta mengenai Myungsoo. Itu semua benar-benar membuatku resah dan takut.”

“Hyeri juga menyayangimu, Oppa. Jangan takut karena Hyeri menyayangimu. Jadi kumohon jangan tinggalkan aku.” Hyeri langsung menghambur ke pelukan Chunji, memeluknya seolah takut untuk melepasnya.

“Astaga! Sementara aku harus tersiksa bertemu dengan Demon tapi dirimu malah bermesraan dengan manusia disini!!” sentak seseorang memecah keharuan Hyeri.

Hyeri dan Chunji sama-sama menoleh ke sumber suara. Kagetlah Hyeri akan siapa yang kini berdiri tak jauh darinya. Jiyoung, teman bertengkar(?) Hyeri kini ada dihadapannya. Hyeri langsung ketakutan, masih terekam di otaknya tentang apa yang Jiyoung lakukan pada Krystal ketika di menara Namsan. Tentu saja Hyeri takut jika Jiyoung akan melakukan hal yang sama seperti yang pernah ia lakukan terhadap Krystal dulu. Hyeri menoleh ke kiri dan kanannya berusaha mencari teman Jiyoung yang nyaris membunuh Krystal itu. tapi tampaknya Jiyoung hanya datang sendirian.

“jiyoung~?” lirih Hyeri.

“Kenapa ekspresimu seperti itu melihatku? Aku tahu kamu membenciku, tapi aku yang lebih membencimu, Hyeri!” seru Jiyoung sambil mengeluarkan percikan api dari tangannya.

Hyeri langsung bersiaga memegang tangan Chunji yang bingung melihat Jiyoung dan kekuatannya. Hyeri memberi aba-aba pada Chunji agar mereka bisa menghindar jika sewaktu-waktu Jiyoung melancarkan serangannya.

“Gara-gara kamu aku terdampar di bumi ini!”Jiyoung melemparkan bola api kearah Hyeri, yang untungnya Hyeri dan Chunji langsung menghindar. “Karenamu aku harus bertemu dengan Demon itu dan menjadi budaknya! Gara-gara kamu aku harus menyakiti semua putri! Tapi kamu disini malah bersenang-senang dan bahagia?! Lebih baik kamu mati!!!”

Kali ini Jiyoung melemparkan bola api yang lebih besar. Dan Chunji dengan sigapnya langsung menarik Hyeri untuk berlindung di balik pohon yang berbatang cukup besar.

“Apa ini Hyeri? Siapa yeoja itu? kenapa dia mau membunuhmu? Dan bagaimana bisa dia mengeluarkan api dari tangannya!??” tanya Chunji bertubi-tubi.

Baginya ini bukan pertama kalinya Chunji melihat orang-orang disekitar Hyeri mengeluarkan kemampuan-kemampuan yang diluar nalar. Pertama ia pernah melihat Suzy yang terjun dari lantai dua tanpa terluka serta pernah melihat Krystal membuat air yang disentuhnya berubah menjadi kristal. Tapi untuk yang satu ini, Chunji sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk menghentikan serangan-serangan ini.

“Kamu sepertinya belum bilang padanya siapa dirimu sebenarnya Hyeri?!!” seru Jiyoung. “Hai manusia, kamu mencintai anak ini tanpa tahu siapa dia sebenarnya?! Omong kosong apa ini!!” jiyoung kembali menyerang mereka dengan apinya.

“kami adalah para putri dari kerajaan langit. Putri dari para dewa dan dewi di langit. Dan Hyeri adalah anak Dewa tertinggi di kerajaan langit. Apa yang akan kau lakukan setelah mendengar ini manusia? Kuberitahu saja, keturunan dewa dan manusia tidak bisa hidup bersama.” Jiyoung melancarkan serangan lagi dan kali ini membuat pohon besar tempat berlindung Hyeri dan Chunji runtuh.

Hyeri dan Chunji kini terdesak. Jiyoung sudah berdiri dihadapan mereka dengan bola api besar di tangannya. Jiyoung kemudian mengayunkan tangannya di udara hendak menyerang mereka. Tapi ada sebuah tangan yang menahan serangan Jiyoung.

“Cukup main-mainnya Jiyoung. Bukannya kita sepakat kalau aku yang akan menghabisinya.” Geram perempuan yang kini memelintir lengan Jiyoung.

“su.. subin.. maafkan aku,” rintih Jiyoung.

“dan bukannya kita sepakat kalau kau bersedia mati asal aku membunuh putri kecil ini. Maka sekarang saatnya menepati janjimu,” bisik Subin licik. Ia kemudian mengunci kedua lengan Jiyoung dan langsung mengeluarkan segumpalan asap putih dari mulut Jiyoung.

Hyeri yang shock dengan gemetaran langsung menarik Chunji pergi menjauhi Jiyoung. Ia begitu ketakutan, karena dirinya kembali melihat kejadian mengerikan itu. Hyeri menarik Chunji untuk kembali ke kediaman Naeun, karena disanalah tempat paling aman.

“kamu keturunan dewa, Hyeri?!” tanya Chunji sambil terus berlari.

“perlukah aku menjelaskannya sekarang?!” suara Hyeri terdengar putus asa. “Aku memang putri dewa-dewi dari kerajaan langit. Bukan anak raja korea selatan seperti yang Oppa kira. Aku melarikan diri dari langit agar bisa bertemu dengan orang yang bisa menyayangiku dengan tulus tanpa memandang statusku sebagai putri dari kerajaan langit. Dan yeoja tadi adalah Demon, yang senang menghisap jiwa kami. Apa itu cukup?!” seru Hyeri.

“belum cukup bagiku!” sela Subin yang sudah menghalangi jalan mereka.

Hyeri dan Chunji langsung tersentak kaget dan mereka berbalik untuk berlari ke arah berlawanan. Tapi Subin kembali muncul di hadapan mereka. Chunji langsung menariknya lagi ke arah yang lain, tapi Subin kembali menghalangi mereka.

“jangan banyak bergerak Putri kecil. Aku hanya ingin meminta jiwamu saja.” Seringaian menghiasi wajah dingin Subin.

“Hyeri, larilah ke rumah. Oppa akan menahan makhluk ini,” seru Chunji sambil mendorong Hyeri ke semak di pinggir jalan.
Subin tampak mengeluarkan cahaya hijau dari tangannya. “kamu manusia jangan mengganggu!!”

“Hyeri lari!!”

“Oppa awas!!!!”

**beedragon**

**TBC**

chapter berikutnya adalah chapter terakhir..
semoga endingnya gak seburuk guardian beast… ahahahaha
bocoran buat chapter akhir nanti..
gak jauh beda sama cerita ‘avatar the legend of aang”
pasti ada yang udah pernah nonton itu kartun kan??
yah paling nggak pernah tau kaya apa tuh kartun..
nah di chapter berikutnya akan ada banyak adegan seperti di kartun avatar itu..

akhir kata saya ucapkan terima kasih buat yang udah menyempatkan diri untuk baca ff abal ini
bee pamit!! ppyeong

bee

next are the last chapter

bee akan memproteksi chapter akhir..
password hanya akan diberikan oleh mereka yang meninggalkan email serta judul fiksi yang ingin dibaca ke halaman proteksi.. *dimohonkan untuk membaca dengan jelas peraturan disana.. karena password bisa kalian dapatkan sendiri tanpa harus bertanya pada bee*
Passwordnya HANYA akan diberikan pada mereka yang sudah jadi penghuni planet ini.. karena itu DAFTARKAN diri kalian dengan buat perkenalan di halaman residence *jika kalian mampir kehalaman ini maka kalian akan bisa tahu passwordnya 😀 *
thanks for your attention!! annyeong!!

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – The Last 94 Generation Princess | Chapter 4 | NC17 |

50 thoughts on “FF – The Last 94 Generation Princess | Chapter 4 | NC17 |

  1. vinos says:

    baru nemu ff ini tpi mau baca yg end di protect..
    huwaaaa bagi aku passwordnya aku ga punya block ;_;
    min tolong aku kepo T,T

  2. Rizka AngelElf says:

    semoga endingnya gg nggantung u.u
    Eonni kalo buat ff fantasi chapternya yg banyak ne? #plakk soalnya kalo fantasi itu pasti lebih banyak konflik lbih banyak misteri yg harus diungkap, hihi 😀

  3. Myungie says:

    Uwaaaa mian baru komen T.T
    Soalnya aku terlalu terbirit birit membacanya dan terlalu penasaran ._.
    Ini ceritanya hyeri ama chunji kan?:3
    Ehehe eumm part 5nya diprotect ya?
    Bagi passwordnya dongg pleasee aku penasaran banget .__.v

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s