FF – The Last 94 Generation Princess | Chapter 2 | NC17 |


Title : The Last 94 Generation Princess

Subtitle : Find the Princesses

Author : beedragon

Cast:

Hyeri Girls Day as Putri Hyeri / Lee Hyeri

Naeun A-Pink as Putri Naeun / Son Naeun

L Infinite as Guardian L / Kim Myungsoo

Chunji Teen Top as Lee Chunji

Other Cast

other 94line idol

Genre : Fantasy, Romance, Adventure, Angst, Fluff, Friendship

Length : Series (on writing)

Rating / pairing : NC17 / Straight

Summary : Sebagai putri dari penguasa Skyland Kingdom, membuat Hyeri menjadi incaran bagi para Demon. Karenanya Dewi Soom mengurung Hyeri di istana. Kesepian, Hyeri akhirnya memutuskan untuk kabur dari istana dan mengikuti Naeun – teman sekaligus kakaknya- untuk pergi ke bumi. Hyeri pergi ke bumi dengan tanpa sengaja membawa serta kelima Putri yang lain. Hyeri tak tahu, kalau bukan hanya kesenangan seperti yang dibayangkannya yang menanti dirinya di bumi, tapi juga ada kekuatan jahat yang mengincarnya dan para Putri.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Chapter 2!!

read the teaser and chapter 1 first

Sejak menemukan Sohyun, NaEun menjadi sangat sensitive akan segala hal yang berhubungan dengan para putri. Ia begitu berhasrat untuk menemukan Demon yang sudah merebut separuh jiwa Sohyun. Setiap hari, setiap habis pulang sekolah, ia dan L pasti menjelajah seluruh kota Seoul untuk mencari para putri dan juga Demon.
Dan kali ini pencarian NaEun membuahkan hasil. Ia bertemu dengan seseorang yang mirip dengan Suzy tengah berkeliaran di daerah Hongdae. Segera saja NaEun menghampirinya dan menepuk pundak gadis tersebut. Si gadis menoleh, ia langsung sumringah melihat NaEun.

“NaEun?!”serunya.

“Suzy? Kamu benar Suzy kan?” seru NaEun.

Bukannya menjawab, gadis yang mirip Suzy itu malah langsung memeluk NaEun. “Kamu bisa menemukankku. Syukurlah. Aku sudah kehilangan harapan karena tak tahu apa yang harus aku lakukan disini.”

Gadis yang adalah Suzy tersebut sudah menangis bahagia melihat NaEun. Ia kemudian menunjuk kearah sebuah kerumunan masa. “Disana, aku tadi seperti melihat Jiyoung disana. Baru saja aku akan menghampirinya. Ayo kita kesana,” ajak Suzy.

Tapi L langsung menahan lengan Suzy. “Apa dia sendiri? Apa kamu liat ada orang bersamanya?”

“Hmm, sepertinya iya. Seorang perempuan. Tapi tidak jelas, karena disana terlalu ramai,” sahut Suzy.

L menimbang-nimbang sejenak. Kemudian, “NaEun, kamu kembalilah ke kediaman bersama Suzy. Jangan lepaskan tangan Suzy. Dengan begitu Demon itu tidak akan bisa melacak dimana keberadaan kalian. Demon sudah mengincar Suzy. Cepat kembali lewat jalan yang tadi, aku sudah membuat beberapa pengaman disana.Aku akan mencari Jiyoung.”

Meski bingung, tapi NaEun menurut apa yag dikatakan L. Ia kemudian membawa Suzy pergi kembali ke kediamannya sementara L sudah melesat kearah kerumunan manusia yang memenuhi pasar Hongdae.

**beedragon**

“Hyeri, selamat datang di Hongdae!” seru Chunji riang sambil merentangkan tangannya.

Sejak tadi pagi Chunji memang menjanjikannya untuk melihat yang namanya keindahan dunia, tapi Hyeri tak tahu kalau keindahan dunia itu ternyata adalah tempat yang dipenuhi oleh manusia.Hyeri sudah terkagum-kagum melihat betapa banyaknya manusia yang berlalu lalang di daerah Hongdae ini.

“banyak sekali manusianya, Oppa,” takjub Hyeri.

“hahaha, inilah keindahan dunia. Disini kita bisa dapat barang-barang yang kita inginkan dengan harga murah, selain itu makanan disini enak-enak. Kamu tunjuk aja apa yang kamu mau. Oppa akan berusaha membelikannya untukmu. Ahh, kamu sudah pernah makan ddeokpokgi?? Itu adalah makanan wajib kalau kita ke Hongdae. Kajja,” ajak Chunji sambil menarik tangan Hyeri.

Hyeri tak berhenti berdecak kagum melihat berbagai toko yang berjajar di kiri kanan jalan. Bahkan ia melihat ada satu toko yang dipenuhi orang. Hyeri pun menggenggam erat tangan Chunji. Tentu saja ia takut kalau ia terpisah dan tersesat, darimana ia akan menemukan manusia sebaik Chunji yang mau menemaninya mencari Naeun, membolehkan Hyeri untuk tinggal di rumahnya serta memberi Hyeri makan.

“ehh, itu seperti NaEun,” ujar Hyeri. Ia merasa melihat sosok yang mirip NaEun di ujung jalan. Segera saja ia menarik tangan Chunji untuk mengejar sosok NaEun. “Oppa, itu NaEun!! Ayo!!”

Hyeri berlari mengejar sosok yang mirip NaEun tersebut. Sampai ia tak sadar kalau ia sudah melepaskan tangan Chunji. Ia terus berlari menerobos kerumunan orang, karena sosok yang mirip Naeun tersebut justru berjalan menjauhinya.

“Hyeri, tunggu sebentar,” seru Chunji yang tertinggal beberapa meter di belakang Hyeri. Chunji hanya terfokus pada Hyeri sampai tidak melihat kalau ada pria yang berlari cepat kearahnya. Dan tabrakkan pun tak terhindari.

“auuww,” ringis Chunji. Ia dan pria yang menabraknya sama-sama jatuh, tapi si penabrak segera berdiri dan kembali berlari. “Yahh!! Setidaknya kamu minta maaf dan membantuku berdiri!” seru Chunji.

Hyeri yang mendengar teriakan Chunji dibelakangnya itu pun menoleh. Akhirnya Hyeri memutuskan untuk berhenti berlari begitu dilihatnya Chunji sudah bersimpuh di jalanan. Segera saja Hyeri melupakan target sebelumnya dan kembali pada Chunji.

“Oppa, Gwenchana? Waeyo? Kenapa Oppa malah duduk di jalan?” panik Hyeri.

Chunji segera berdiri sambil membersihkan lutut dan bokongnya yang kotor. “Oppa Gwenchana. Tadi ada yangmenubruk Oppa. Ohya, kemana larinya orang yang mirip NaEun itu?”

Hyeri langsung tertunduk lesu. “Aku kehilangan dia. Dia perginya terlalu cepat. Tapi aku yakin itu Naeun.”

Chunji pun merasa bersalah. Ia berpikir kalau karena dirinyalah Hyeri jadi kehilangan orang yang mirip NaEun itu. “Mianhaeyo. Seandainya saja Oppa bisa berhati-hati dan lebih cepat tadi, mungkin kamu tidak akan kehilangan dia.”

Hyeri malah makin menundukkan kepalanya. “Aniyo, ini semua karena orang yang menabrak Oppa. Makanya Oppa jadi gak bisa mengejar NaEun, hiks.” Dan Hyeri pun mulai menangis.

Hyeri menangis karena ia gagal menemukan NaEun. Hyeri menangis karena khawatir akan Chunji. Dan ketika tangisan Hyeri semakin kencang, tiba-tiba saja Hongdae yang cerah ceria pun dirundung hujan lebat tanpa aba-aba.

“Hujan? Hyeri kita harus berteduh,” panik Chunji sambil menarik Hyeri kedalam box telepon umum.

“lihat, karena kamu menangis, langitpun ikut sedih. Jadi jangan nangis lagi ya. Kita bisa kembali lagi kesini. Setidaknya sekarang kita tahu, kalau NaEn itu ada di sekitar Hongdae. Uljima,” hibur Chunji sambil menghapus jejak airmata Hyeri.

Hyeri pun berusaha mengehentikan tangisannya.

“Bagus begitu, kalau kamu menangis wajahmu jadi tidak cantik lagi. Uljima Hyeri-a,” ujar Chunji sambil mengelus puncak kepala Hyeri. “kenapa kamu malah menangis, membuatku bingung saja.”

“habisnya aku takut Oppa kenapa-napa. Aku pikir Oppa terluka. Kalau kamu terluka nanti siapa yang akan membuatkanku telur dadar lagi,” ujar Hyeri yang masih berusaha menghentikan tangisannya.

Chunji mau tak mau tertawa mendengar jawaban Hyeri. Ia belum pernah bertemu dengan perempuan –seumuran Hyeri– yang kepolosannya seperti anak umur lima tahun. Membuat Chunji jadi semakin ingin melindungi Hyeri.

“Oppa, gak akan kenapa-napa. Justru Oppa akan sedih kalau kamu menangis. Sekarang gimana kalau kita lanjutkan jalan-jalannya. Siapa tahu nanti kita bertemu dengan NaEun lagi?”

**beedragon**

Suzy tengah menatap tubuh kaku Sohyun. Tanpa ia sadari, tubuhnya sudah gemetar melihat kondisi Sohyun. Karena bisa saja dirinya yang terbujur kaku seperti itu, kalau NaEun tidak menemukannya terlebih dulu.

“Jadi kalau tadi kamu tidak segera menemukanku maka aku akan bernasib sama seperi Sohyun?” suara Suzy terdengar bergetar.

“kita hampir saja terlambat menyelamatkannya. Walaupun ini termasukterlambat, tapi setidaknya jiwanya masih ada. Kamu mampu mengobatinya kan? Setidaknya buat dia untuk tetap hidup sampai kita mendapatkan kembali jiwanya.” Pinta NaEun.

Suzy mengangguk. Ia kemudian menggerakkan tangannya diatas dada Sohyun. Seberkas cahaya tampak muncul disana membuat suasana di kediaman NaEun menjadi menghangat. Cahaya tersebut juga membuat wajah Sohyun sedikit bercahaya, tidak lagi pucat.

“Jadi ceritakan padaku, kenapa kalian bisa ada di bumi?” Tanya NaEun.

Suzy menghela napas dengan begitu beratnya. Ia menatap NaEun dengan penuh rasa bersalah. “Ini semua karena aku. Kalau saja aku bisa mencegah Hyeri pasti kita semua tidak akan berada disini. dan pasti Sohyun masih bisa tersenyum ceria sekarang.” Lirih Suzy.

“Hyeri? Apa hubungannya dengan Hyeri?” Tanya NaEun bingung.

“Karena permintaan polos Hyeri, kami semua jadi terdampar ke bumi. di hari kepergianmu ke bumi, Hyeri kabur dari istananya untuk melihat kepergianmu. Setelah itu dia mencari cara agar bisa menyusulmu ke bumi. dia pergi ke Wishy Forest dan membuat permintaan disana. Tapi dia tidak mau pergi sendiri, dia membawa serta kami semua untuk ikut dengannya. Jadi kami berenam terdampar di bumi tanpa tahu bagaimana keadaan yang lainnya.”

“Jadi Hyeri… Hyeri… Hyeri ada di bumi? enam orang Putri yang turun ke bumi termasuk Hyeri katamu?!” seru NaEun panik. “Tapi aku tak merasakan kekuatannya?!”

“Hyeri memang tidak punya kekuatan, NaEun, karenanya kita gak bisa tahu dimana dia. Ehh tapi tadi aku juga tidak mengetahui keberadaanmu, aku saja merasakan keberadaan Jiyoung ketika di jalan tadi, tapi kamu tidak. Kenapa ya? Apa kekuatanku sudah melemah?” bingung Suzy.

“Itu karena aku memakai ini,” jawab NaEun sambil menunjukkan bandul kalungnya yang berbentuk lingkaran dengan sayap di kedua sisinya. “karena ini membuat aku tidak bisa dilihat oleh makhluk-makhluk yang akan berlaku jahat terhadapku.”

“Ohh, Hyeri juga memakai itu. Jadi apa itu bisa melindunginya? Apa kita tidak bisa tahu dimana dia sekarang?” Tanya Suzy.

“Pantas saja. Ketika kami merasakan kedatangan kalian di bumi ini, L merasa kalau ada enam orang yang ada di bumi. tapi ada satu yang auranya segera menghilang. Rupanya itu adalah Hyeri,” gumam NaEun. “tapi walaupun Hyeri dilindungi oleh semua kekuatan langit, kita tetap harus menemukannya. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku kalau Hyeri sampai kenapa-kenapa.”

**beedragon**

NaEun memutar-mutar jemarinya, membuat rerumputan dihadapannya berterbangan. Ketika ia mengatupkan tangannya, rerumputan tersebut menjadi kaku dan kemudian NaEun menghentakkan tangannya membuat rerumputan yang kaku berterbangan menghujam batang pohon yang ada di halaman rumahnya ini.

Terdengar suara tepukan tangan dari teras rumah, membuat NaEun menghentikan latihannya. Ia menatap L yang sudah berjalan menghampirinya.

“Perkembangan kekuatanmu semakin baik, NaEun,” puji L.

“Gomawo, Myungsoo.”

“Kita sedang ada dirumah. Tak perlu memanggilku seperti itu. Saranku untuk kekuatanmu…”

“Berhenti basa-basinya, Myungsoo,” potong NaEun. “Mana Jiyoung?”

“aku kehilangan dia. Tadi ada yang menabrakku, jadi aku kehilangan dia. Dan lagi, Jiyoung tidak sendirian. Dia sudah berada dibawah pengaruh Demon. Tadi aku merasakan hawa Demon disekitar Jiyoung. Demon pasti memanfaatkan kekuatannya.” Jelas L.

“Dan kamu masih bisa menemuiku dengan wajah tak berdosa seperti itu? Aku sungguh tak mengerti dirimu. Pertama ketemu Jiyoung kamu bilang dia bukan Jiyoung. Padahal ternyata itu adalah benar Jiyoung. Dan sekarang kita bertemu Sohyun dalam keadaan seperti ini dan Jiyoung berada dibawah pengaruh Demon! Sudah tahu keadaan seperti ini tapi kamu masih belum juga mau bergerak. Kita harus mencari putri yang lain, Myungsoo!”

Seiring dengan tatapan tajam NaEun yang pada L, perlahan tapi pasti tumbuh tanamanan rambat di sekitar L dan segera melilit tubuhnya. Meskipun tahu kalau ini adalah efek dari emosi NaEun terhadap dirinya, tapi L tidak mencoba untuk melepaskan diri dari jeratan tumbuhan tersebut.

“Karena Hyeri ingin mengikutiku, dia membuat permintaan di Wishy forest untuk pergi ke bumi. Dan sekarang Hyeri ada disini. Padahal pintu langit sudah ditutup ketika kita turun. Bagaimana bisa mereka tiba-tiba berada disini?! dan bagaimana bisa langit tidak melakukan apapun padahal enam putri mereka tidak ada ditempat?! Kenapa tidak ada tanda-tanda dari langit yang mencari para putri?! Padahal Hyeri ada disini, bagaimana bisa Dewi Soom tidak segera bertindak untuk mencari Hyeri!!” seru Naeun. Ia melampiaskan kesedihannya pada L. NaEun membuat tanaman merambat itu memenuhi tubuh L.

L hanya terdiam melihat emosi NaEun. Naeun yang biasanya tenang dan diam sekarang menjadi gampang emosian sejak ia menemukan Sohyun. L tahu NaEun pasti shock melihat Sohyun yang bisa dibilang hampir mati. Tapi ia sendiri tidak bisa berbuat banyak untuk mencegah ini semua terjadi.

NaEun mengepalkan tangannya dan meninju udara di sisi kanannya, membuat pohon besar di ujung halaman tumbang.Perlahan airmatanya pun menetes. NaEun menangis dan membuat tumbuhan disekitarnya menjadi layu.

“Aku tak bisa membayangkan, Hyeri juga ikut turun ke bumi. Aku akan menjadi makhluk tak berguna kalau sampai membuat Hyeri terluka.Kalau Hyeri sampai berada di posisi Sohyun, aku…” isak NaEun.

L akhirnya membebaskan diri dari jeratan tumbuhan yang memenuhi tubuhnya. Setelah berhasil melepaskan diri, L segera menghampiri NaEun dan memeluknya.

“Itu tidak akan terjadi. Tenanglah Naeun, jangan menangis. Kita akan mencari cara untuk menemukan mereka satu persatu dan merebut jiwa Sohyun. Aku yakin, Hyeri baik-baik saja. Hyeri memiliki seluruh perlindungan dari langit, jadi kamu tak perlu khawatir. Kita pasti akan menemukan Hyeri. Aku janji.” Ujar L.

**beedragon**

“kita keduluan Jiyoung!” bentak Subin. “ini semua karena kamu tidak menjalankan perintahku dengan baik. APA KAMU MAU MATI SEKARANG HAH?!!!” seru Subin.

Subin mulai melelayangkan pukulannya pada Jiyoung. Dipukul telak diperutnya, membuat Jiyoung terpental dan meringkuk kesakitan. Jiyoung terbatuk-batuk dan mengeluarkan bercak darah dari mulutnya.

“uhuk.. uhuk.. ampuni aku Subin. Aku tidak tahu kalau NaEun juga kesana. Aku tidak bisa merasakannya datang. Kumohon.. uhuk.. ampuni aku. Aku belum mau mati,” Jiyoung memohon pengampunan Subin.

Subin kemudian mencengkeram leher Jiyoung, memaksanya untuk berdiri. “Lakukan seperti kataku. Temukan para putri maka jiwamu akan selamat,” geram Subin.

Jiyoung yang sudah hampir habis napasnya berusaha menggapai-gapai Subin agar menurunkan dirinya. Ketika Jiyoung merasa sudah tidak bisa menarik napas lagi, Subin pun akhirnya melepaskannya.

“Aaakh hhh hhahhh hahh.” Jiyoung berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dan merangsek menjauhi Subin, setidaknya jauh dari jangkauan Subin. Jiyoung memegangi lehernya yang terasa perih.

“Itu hukuman karena kau tidak melaksanakan perintahku dengan baik,” desis Subin. “sekarang cepat bergegaslah. Kita harus menemukan tiga putri yang lainnya. Kemana dulu kita harus mencari?”

“Hyeri.. hhh.. kita ke tempat Hyeri terlebih dahulu,” sahut Jiyoung yang masih tersengal-sengal. “aku rela jika kau mau menyiksaku seperti ini, asalkan kau membunuh Hyeri terlebih dahulu. Karena dialah aku bisa berada disini, bertemu dengan semua kekacauan ini.”

“Apa dia kuat? Apa kekuatanya?”

“Dia tak punya kekuatan.” Jawaban Jiyoung tersebut sukses membuat dirinya kembali terpental karena Subin kembali melancarkan pukulannya.

“Kau mau bercanda denganku?! Sudah pasti putri itu akan kulewatkan! Untuk apa merebut jiwanya kalau dia tak berguna?!! Jangan cari masalah denganku saat ini Jiyoung!!” seru Subin.

“Tidak. Uhukk .. kumohon dengarkan dulu. Mungkin ia memang tak punya kekuatan, tapi dia adalah keturunan penguasa langit, kamu pasti ingin memilikinya. Kalaupun tidak mau, aku akan senang hati membantumu jika kamu bisa membunuhnya.” Rintih Jiyoung. “tapi aku tidak bisa merasakan auranya. Hanya dia yang tidak bisa kurasakan. Karena putri yang tidak punya kekuatan tidak dapat dirasakan auranya.”

Mendengar kata ‘keturunan penguasa langit’ membuat Subin tersenyum licik. Ia kemudian menarik Jiyoung untuk berdiri. “Mungkin dia juga dalam perlindungan atau dia sedang berada dalam lingkungan manusia. Kamu tidak bisa merasakannya karena dia membaur dengan manusia. Baiklah kali ini kamu kumaafkan. Lebih baik kita bergerak mencari putri yang lain, baru setelah itu kita mencari dimana Hyeri itu berada.”

**beedragon**

Hyeri berdiri di pintu kamar Chunji. Ia menatap punggung chunji yang tengah sibuk bekerja di depan TV. Sejak kejadian di Hongdae beberapa hari yang lalu, Chunji tidak pernah lagi mengajak Hyeri untuk keluar rumah mencari Naeun. Sudah beberapa hari ini Chunji tampak sibuk dengan pekerjaannya – entah apa itu.

“Oppa,” panggil Hyeri ragu-ragu.

Chunji hanya berdeham menyahuti Hyeri, bahkan tidak menoleh sama sekali. Merasa diacuhkan, Hyeri pun sedih. Ia hanya bisa memeluk boneka panda pemberian Chunji ketika mereka pergi ke Hongdae.

“hiks, Oppa…” isak Hyeri.

Chunji begitu mendengar suara tangisan langsung menoleh ke sumber suara. Dilihatnya Hyeri sudah berjongkok di depan pintu kamarnya menangis sambil memeluk boneka pandanya. Panik, Chunji pun bergegas menghampiri Hyeri.

“Hyeri-ah, wae geurae? Wae uleoyo?” Tanya Chunji yang sudah berjongkok di hadapan Hyeri.

“Oppa mengacuhkanku… hiks,” isak Hyeri.

“Aigoo, mianhae. Uljima,” bujuk Chunji sambil menghapus jejak airmata di pipi Hyeri. “kamu mau tidur? Ayo Oppa temani tidur. Uljimayo. Oppa janji besok kita akan pergi lagi ke Hongdae untuk mencari Naeun, hmm?”

Chunji akhirnya menggiring Hyeri masuk ke kamar. Setelah membaringkan Hyeri, Chunji keluar kamar dan masuk lagi dengan membawa semua pekerjaannya. Lalu ia duduk disamping tempat tidur. Hyeri melihat sepertinya Chunji begitu lelah belakangan ini, bahkan Chunji sekarang sudah memiliki mata yang sama seperti bonekanya.

“Oppa, sepertinya kamu sibuk sekali belakangan ini. Mianhae, sepertinya aku hanya merepotkanmu saja,” sesal Hyeri.

“Aniyo, kamu gak merepotkan. Justru Oppa yang minta maaf karena tidak bisa banyak membantumu untuk mencari Naeun,” sahut Chunji yang sudah kembali sibuk merakit sebuah mobil mainan.

“Oppa, kamu gak kesepian tinggal dirumah ini sendirian? Kalau aku sudah bosan setengah mati, makanya aku kabur dari rumah.”

Chunji meletakkan rangka mobil mainan yang dikerjakannya. “Oppa tidak pernah tinggal sendirian Hyeri. Ini adalah pertama kalinya Eomma meninggalkan Oppa pergi keluar kota. Apa kamu tahu, dihari ketika Eomma pergi, Oppa memohon pada langit agar Oppa diberikan teman. Agar Oppa tidak sendirian sampai Eomma pulang. Dan di hari itu pula doa Oppa terkabul, hari dimana Oppa menemukanmu tersesat di hutan,” cerita Chunji sambil tersenyum.

“wuahh,” takjub Hyeri. “Apa Oppa tahu, aku juga memohon seperti itu sebelum akhirnya aku bertemu dengan Oppa. Hari itu aku meminta agar aku bisa bertemu dengan orang yang bisa menyayangiku tulus tanpa peduli seperti apa statusku. Wuaahh, sepertinya takdir mempertemukan kita!” seru Hyeri riang.

“Ohya?! Ya sudah. Tidurlah sana. Oppa akan menemanimu disini sampai kamu tertidur,” ujar Chunji sambil mengusap-usap kepala Hyeri.

“Arraseo, tapi jangan coba untuk meninggalkan aku ya. Oppa kan tau kalau aku paling gak bisa tidur sendirian. Aku bisa tau kalau Oppa pergi,” sela Hyeri.

“Arraseo arraseo. Sekarang tidurlah, besok Oppa akan membawamu pergi mencari Naeun lagi.”

**beedragon**

“Morning, princess,” sapa Chunji begitu melihat Hyeri yang sudah terbangun berjalan terhuyung-huyung ke ruang makan.

Hyeri yang masih setengah sadar langsung duduk di hadapan Chunji. Sementara Chunji sudah tersenyum-senyum melihat Hyeri yang begitu berantakan tapi mulai menarik setangkup roti yang dibuat Chunji.

“Eiitt, makannya nanti dulu. Kamu belum cuci muka dan sikat gigi. Ayo sana mandi dulu.” Chunji pun menggiring Hyeri masuk ke dalam kamar mandi.

Setelah memastikan kalau Hyeri sudah masuk ke kamar mandi, Chunji pun kembali ke meja makan melanjutkan membuat sarapan untuk Hyeri.

“ckckck, anak itu. Benar-benar tidak punya self-defense. Pantas saja orang tuanya mengurung dia. Bagaimana kalau dia tidak bertemu denganku di hutan itu, akan jadi apa dia?” Gumam Chunji sambil mengoleskan selai ke rotinya.

Ding dong ding dong.

Bel rumah Chunji berbunyi. Chunji pun bergegas membukakan pintu. Kagetlah ia begitu melihat siapa yang datang pagi-pagi seperti ini.

“Eom.. Eomma?!” kaget Chunji.

“ne, kenapa kamu seperti habis melihat hantu begitu? Tumben kamu udah bangun jam segini Chunji?” sahut wanita yang tampak seperti Noona-nya Chunji itu.

“Eomma pulang cepat. Bukannya dua minggu?” Tanya Chunji panik.

“Ini sudah dua minggu lebih malah. Kamu ini seperti tidak senang melihat eomma pulang. Ada apa? Apa kamu habis berbuat kekacauan? Apalagi kali ini?” tuding ibu Chunji.

“A.. aniyo eomma, aku senang Eomma sudah pulang,” sahut Chunji sambil memeluk ibunya untuk menghilangkan kecurigaan ibunya.

“Oppa, Hyeri udah selesai mandinya! Sekarang aku udah boleh makan kan?” seru Hyeri dari dalam rumah.

Chunji dan ibunya sama-sama menoleh ke dalam rumah. Dan mereka berdua melihat Hyeri yang sudah rapi memakai kaos Chunji yang kebesaran dengan celana pendek serta rambut yang masih terbungkus handuk. Baik Chunji maupun ibunya sama-sama terkejut melihat Hyeri. Chunji terkejut karena Hyeri keluar disaat yang tidak tepat, sementara ibunya sudah menunjukkan aura emosinya terhadap Chunji.

“Chunji! Eomma, pergi keluar kota selama dua minggu ini dan kamu malah membawa masuk anak gadis orang?!” geram ibu Chunji.

“A.. ani.. aniyeyo Eomma. Eomma salah paham. Ini gak seperti yang Eomma bayangkan,” Chunji sudah berlutut memohon ampun pada ibunya tersebut.

Hyeri yang mendengar ribut-ribut diruang tamu tersebut akhirnya menyusul dan melihat Chunji sedang di jewer telinganya oleh perempuan yang tidak dikenalnya. Hyeri segera saja membantu Chunji dan menarik ke sisinya.

“Nuguseyo?! Kenapa tiba-tiba menyiksa Oppa seperti ini?!” seru Hyeri.

“Hyeri, aniya. Ini eomma ya,” bisik Chunji.

Hyeri hanya bisa terpaku melihat ibu Chunji. Seseorang yang tampak seperti masih sangat muda, bahkan Hyeri mungkin akan lebih percaya jika Chunji bilang wanita tersebut adalah kakaknya.

“Eomma, tenang dulu kumohon. biar Chunji jelaskan semuanya.” Chunji mencoba menengahi segala kesalahpahaman ini.

Akhirnya mereka bertiga sama-sama duduk di ruang tamu. Ibu Chunji mendengarkan cerita Chunji dan Hyeri satu persatu. Dan akhirnya ibu Chunji mau mengerti akan keadaan Hyeri. Hyeri pun diperbolehkan tinggal di rumah mereka sampai Hyeri bisa menemukan NaEun.

Setelah menjelaskan semua keributan ini, Chunji pun meninggalkan kedua wanita tersebut di ruang tamu. Ibu Chunji terus memandangi Hyeri seolah sedang menyelidiki sesuatu.

“kamu tinggal dimana?” Tanya ibu Chunji menginterogasi Hyeri.

“Aku.. ngg.. hmm..,” Hyeri bingung menjawab pertanyaan ibu Chunji. Ia tak mungkin bilang kalau dirinya tinggal dilangit kan? “aku tidak tahu. Kan aku selalu di kurung jadi aku tak tahu lingkunganku,” bohong Hyeri.

“Siapa orang tuamu? Kenapa mereka membesarkanmu dengan mengurungmu di rumah? Memangnya ada apa denganmu? Apa kamu punya penyakit keras sampai kamu gak boleh keluar rumah?” cecar ibu Chunji lagi.

Hyeri makin bingung mendengar pertanyaan ibu Chunji. Ia sama sekali tak tahu harus menjawab apa.ia hanya bisa menatap ibu Chunji dengan ‘puppy eyes’nya. Karena merasa terdesak, Hyeri jadi menarik bandul kalungnya dan menggenggamnya erat untuk menenangkan hatinya.

“Ahh kalung itu..!” seru ibu Chunji tertahan. Ia kemudian mendekati Hyeri dan menarik bandul kalung yang dipakai Hyeri. “darimana kalung ini? Kenapa kamu punya kalung seperti ini? Siapa sebenarnya kamu?” selidik ibu Chunji.

Hyeri panik. Tentunya tidak ada yang tahu mengenai lambang langit yang menjadi bandul kalung Hyeri tersebut. Hanya penguasa langit dan keturunannya lah yang bisa memiliki kalung tersebut. Bentuk lingkaran dengan sepasang sayap di kedua sisi lingkaran tersebut adalah identitas penguasa langit. Jadi tak mungkin manusia biasa bisa tidak asing melihat bentuk tersebut seperti ibu Chunji.

“Eommo..ni pernah lihat bentuk ini? i.. ini pemberian kakek. Bagaimana bisa Eommoni kenal dengan bentuk ini,” bingung Hyeri.

“tentu saja aku tahu,” ketus Ibu Chunji kemudian bangkit dari duduknya. “cepat keluar dari rumahku. Aku tak menerima siapapun dari ‘negeri itu’ disini! siapa yang mengutusmu? Untuk urusan apa kamu datang ke bumi, kesini, ke rumahku?” cecar ibu Chunji.

“Eommoni… kamu.. tahu..?” Hyeri sudah terlanjur shock karena ibu Chunji bisa mengetahui identitasnya.

“Cepat pergi dan jangan ganggu anakku! Menjauh dari Chunji!!” seru ibu Chunji.

Hyeri hanya bisa bingung sekaligus takut melihat emosi ibu Chunji. Mendengar ibunya sudah berteriak lagi, Chunji pun kembali ke ruang tamu. Ia bingung ketika melihat Hyeri sudah diseret keluar oleh ibunya.

“Eomma, wae geurae? Eomma bilang Hyeri boleh tinggal disini untuk sementara? Kenapa sekarang malah mengusirnya?” seru Chunji sambil menghalangi ibunya yang hendak mengusir Hyeri.

“Eomma tak ingin anak ini ada disini. apa kamu tak tahu siapa dia? Kamu bahkan tidak pantas untuk berteman dengannya, Chunji. Apa kamu tahu kalau dia anak penguasa….” Ibu Chunji tak bisa meneruskan kalimatnya.

“Anak penguasa? Anak raja maksudnya? Maksud Eomma dia putri mahkota?” Tanya Chunji bingung. Chunji menatap Hyeri meminta penjelasan, tapi Hyeri hanya menunjukkan ekspresi kalau ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

“Kamu putri mahkota?” Chunji menuntut jawaban dari Hyeri. Hyeri hanya menjawabnya dengan gelengan yang terlihat meragukan. “Kalau memang Hyeri itu putri mahkota kita gak seharusnya mengusir dia Eomma. Biar besok Chunji bawa dia ke istana. Biarkan Hyeri disini dulu untuk sementara waktu, eoh?”

“kamu masuk!” seru ibu Chunji sambil menarik Chunji masuk ke dalam rumah. “dan kamu pergi dari sini!” bentak ibu Chunji yang lalu menutup pintu rumahnya.

Hyeri terpaku menghadapi kejadian yang baru saja dialaminya. Ia masih bingung, bagaimana bisa ibu Chunji mengetahui identitasnya. Dan lagi ia juga tidak tahu harus berbuat apa. Dia sama sekali tidak tahu menahu soal kehidupan di bumi, jadi ia tidak mengerti harus kemana jika sudah seperti ini.

Dari jendela rumah Chunji, Hyeri bisa melihat kalau Chunji masih berusaha untuk membujuk ibunya. Hyeri hanya bisa bersimpuh di depan rumah Chunji. Masih berusaha untuk mencerna semuanya, tapi ia tak bisa menemukan jawaban apapun. Akhirnya Hyeri melangkah pergi dari rumah Chunji.

**beedragon**

TBC

chapter 2 is out,,
disini aku lebih menggambarkan kedekatan Chunji-Hyeri
biar berasa roman-nya dikit gitu.
oia sepertinya saya akan menaikkan ratingnya menjadi NC,,
karena apa…
karena akan ada beberapa adegan kekerasan disini

okelahh C U in next Chapter!!!

ppyeong

Advertisements
FF – The Last 94 Generation Princess | Chapter 2 | NC17 |

27 thoughts on “FF – The Last 94 Generation Princess | Chapter 2 | NC17 |

  1. andhitaazha says:

    keren abis, thor. love it! btw, aku baru pertama kali kesini. backsoundnya judulnya apa ya? enak didenger lagunya~~

    1. yg sekarang memenuhi planet bee itu adalah lagu2-nya exo dari album xoxo… kalo lagu yg pertama kali diputar itu judulnya 나비소녀 (don’t go)by EXO

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s