FF – The Last 94 Generation Princess | Chapter 1 | pg15 |


Title : The Last 94 Generation Princess

Subtitle : Live a Life In Earth

Author : beedragon

Cast:

Hyeri Girls Day as Putri Hyeri / Lee Hyeri

Naeun A-Pink as Putri Naeun / Son Naeun

L Infinite as Guardian L / Kim Myungsoo

Chunji Teen Top as Lee Chunji

Other Cast

other 94line idol

Genre : Fantasy, Romance, Adventure, Angst, Fluff, Friendship

Length : Series (on writing)

Rating / pairing : PG15 / Straight

Summary : Sebagai putri dari penguasa Skyland Kingdom, membuat Hyeri menjadi incaran bagi para Demon. Karenanya Dewi Soom mengurung Hyeri di istana. Kesepian, Hyeri akhirnya memutuskan untuk kabur dari istana dan mengikuti Naeun – teman sekaligus kakaknya- untuk pergi ke bumi. Hyeri pergi ke bumi dengan tanpa sengaja membawa serta kelima Putri yang lain. Hyeri tak tahu, kalau bukan hanya kesenangan seperti yang dibayangkannya yang menanti dirinya di bumi, tapi juga ada kekuatan jahat yang mengincarnya dan para Putri.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Chapter 1!!

read the teaser first

Naeun menjalani hidupnya sebagai siswi di Seoul Art High School. Walaupun sudah seminggu berlalu tapi Naeun tidak mempunyai satu teman manusiapun. Bukannya tak ingin bergaul, tapi Naeun tidak memiliki kesempatan. Karena setiap ada manusia yang mencoba mendekati Naeun, pasti L langsung menyela. L tidak pernah meninggalkan sisi Naeun sedetikpun, mereka hanya berpisah ketika L harus kembali ke kelasnya – karena L dan Naeun tidak sekelas. Karena hal itu jadi beredar gossip tentang mereka di sekolah.

“Kenapa kamu senyum-senyum seperti itu dari tadi, Myungsoo?” Tanya Naeun.

“Hmm, gak ada apa-apa,” sahut L masih dengan senyuman menghiasi wajahnya. “Putri apa kamu tahu apa yang dipikirkan manusia tentang kita?”

“Entahlah, mungkin mereka iri padaku karena kamu terlalu protektif padaku,”

“Itu pujian atau sindiran?” gurau L.

“Bukannya aku tidak suka. Hanya saja kasihan teman-teman yang mau bicara denganku. Mereka tidak berani mendekat karena kamu selalu mengusir mereka. Dan hebatnya lagi begitu bel istirahat berbunyi, kamu ternyata sudah ada disampingku. Kamu tidak boleh terlalu mencolok seperti itu,” gerutu Naeun.

“Maafkan saya Putri, kalau sikap saya membuatmu susah,” L meminta maaf sambil menepuk-nepuk pundak Naeun, mencoba mengurangi rasa kesal sang putri.

“Jadi apa yang mereka pikirkan tentang kita?” Naeun balik bertanya, karena sesungguhnya ia penasaran akan apa yang manusia pikirkan tentang mereka.

L kembali mengembangkan senyumannya. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Naeun dan kemudian berbisik, “mereka pikir kita adalah sepasang kekasih.”

Mata Naeun membulat sempurna. Ia bahkan tak ingat untuk menutup mulutnya karena kaget akan ucapan L barusan.
“ahh ini semua karena kamu. Mulai sekarang jaga jarak dariku. Aku tak mau mereka salah paham.” Gusar Naeun. “dan jangan panggil aku seperti itu. Panggilanmu itulah yang membuat mereka salah paham seperti ini.”

Ada sedikit kekecewaan tampak di mata L. ia lalu mengangguk pelan menyanggupi permintaan Naeun.

“Maaf Putri, ahh maksudku Naeun. Saya begitu penasaran akan sesuatu. Sebenarnya apa alasanmu memilih bumi untuk melatih kekuatanmu?” ujar L memecah keheningan.

Naeun melirik guardiannya. Mengamati bentuk lain dari sang guardian dari atas sampai bawah. Sorot matanya yang tajam memancarkan keteduhan, serta senyuman tipis yang dibuatnya membuat siapapun yang menatapnya mau tak mau ikut tersenyum bersamanya. Naeun pun menarik sudut-sudut bibirnya menanggapi pertanyaan L.

“Kalau begitu apa aku boleh tanya sesuatu juga. Sepengetahuanku yang namanya Guardian Beast itu dulunya adalah seorang Dewa, tapi karena satu hal ia dihukum oleh Mahadewa menjadi monster. Kalau boleh tahu, apa kesalahan yang kau buat, Myungsoo?” Naeun balik bertanya.

“Rupanya kamu ingin mengetahui kelemahanku lebih dulu. Aku dihukum karena melanggar peraturan istana. Apa jawaban itu sudah cukup untukku mendapatkan jawaban dari pertanyaanku? Kenapa kamu memilih bumi yang notabene dekat dengan Helland negeri para Demon?” sahut L.

Naeun kembali tersenyum. “aku ingin melindungi bumiku. Dulu aku pernah tinggal disini. Aku tahu betapa indahnya bumi ini. Karenanya aku tak akan biarkan siapapun menghancurkan bumi ini.” Ujar Naeun menjawab pertanyaan L.

“maksudmu Demon? Kamu masih berstatuskan seorang Putri, belum menjadi seorang Dewi, tapi ingin melawan Demon?!” Tanya L lagi, sedikit merendahkan suaranya agar tak terdengar oleh para siswa yang sedang menonton kedekatan mereka.

“Bukan Demon, tapi yang lain. Aku pernah mendengar perbincangan Dewi Soom. Dia bilang kalau salah satu putri dari generasi ke 94 akan menghancurkan bumi. aku tak tahu siapa itu. Tapi siapapun itu, mau itu demon, mau itu putri, aku tak akan membiarkan bumi ini musnah. Jadi aku akan memasang perlindungan yang aku bisa disini. Agar ketika mereka menggunakan kekuatannya, bumi ini dan aku sudah siap menghadapinya.” Sahut Naeun.

“Seorang putri dari generasi ke 94?? Menghancurkan bumi? generasi ke 94 tidak banyak, hanya tujuh orang termasuk kamu. Memangnya ada yang punya kekuatan sebesar itu?” gumam L.

“entahlah, tapi satu yang kuyakin, putri yang dimaksud pasti bukan Hyeri,” ujar Naeun. “Hyeri begitu lemah. Dia bahkan tidak punya kekuatan, karenanya Dewi memasang perlindungan penuh di istananya. Dan karena itu pula Hyeri harus dikurung di istana seumur hidupnya. Ahh aku merindukan dirinya.”

Naeun memandang langit yang tampak mendung siang ini. Membayangkan adik kecilnya sendirian di istana mampu membuat mata Naeun berkaca-kaca. Tiba-tiba saja Naeun merasakan sebuah aura yang begitu besar datang disekitar mereka. Naeun sampai menggenggam tangan L karena takut kalau itu adalah Demon yang mendekat.

“ada kekuatan magis yang mendekat!” bisik Naeun panik. “Apa itu Demon? Apa akhirnya aku akan melawan Demon?”

“Bukan Demon,” ucap L. Matanya yang tajam itu terus menatap kesekeliling, berharap dapat melihat sesuatu.

“ini…” Naeun mencoba untuk mencari tahu pemilik aura ini. “ini aura penduduk Skyland. Bukan Cuma satu,” Naeun kembali berkonsentrasi.

“tiga.. empat.. lima.. enam.. ahh lima! Ada lima penghuni Skyland yang turun ke bumi. Siapa menurutmu Naeun?” Tanya L.

“entahlah. Bukannya aku orang terakhir yang turun ke bumi?! bukannya pintu langit sudah ditutup?? Lalu…??” Naeun menatap L bingung.

“tapi tadi seperti ada enam. Kenapa tiba-tiba auranya hilang ya….” gumam L. “Naeun, ada Demon mendekat. Ahh aura mereka begitu kuat. Mereka dalam bahaya, aku merasakan Demon mulai bergerak mendekati mereka. Kurasa kita harus menolong mereka. Dan sepertinya orang-orang yang datang ini adalah para putri, karena aura mereka yang seperti lilin, sebentar kuat sebentar lemah.” Gusar L.

Naeun menatap L horror. Lima putri turun ke bumi, demon yang mulai bergerak dan L mengajaknya untuk menyelamatkan mereka dari serangan Demon. Ini bahkan terlalu cepat dari apa yang di bayangkan Naeun.

“kurasa kita harus menolong mereka terlebih dahulu. Kemana Demon itu bergerak L?!”

**beedragon**

“Ahh, sejak kapan Wishy forest jadi terang benderang begini? Dan kemana pula Suzy dan yang lainnya? Apa mereka benar-benar meninggalkanku sendirian disini? Sabar Hyeri, sabar. Memang kamu gak bisa mempercayai siapapun selain Naeun,” gumam Hyeri.

Ia menatap kesekelilingnya. Wishy Forest yang kelam dan suram kini sudah cerah dan ceria. Pohon-pohon besar dengan akar yang saling berlomba memenuhi tanah digantikan dengan pohon pinus yang tersusun rapi. Hanya ada dirinya disana, tidak ada Suzy, Sulli dan yang lainnya. Hal ini membuat Hyeri merasa di khianati.

“Ahh menyebalkan. Ini dimana? Tak tampak seperti Wishy Forest,” gerutu Hyeri.

Ia kemudian mulai melangkah meninggalkan hutan tersebut. Hyeri menyusuri jalan setapak yang ada. Ia terus berjalan tanpa memperdulikan ranting-ranting pohon yang menarik gaunnya dan membuat beberapa goresan di lengannya. Hyeri terus berjalan sampai akhirnya ia menemukan jalan beraspal yang memisahkan barisan pohon pinus tersebut.

“AWAAAAAASSS!!!” teriak seseorang dari sisi kiri Hyeri.

Hyeri pun menoleh, dilihatnya ada seorang pemuda bersepeda tengah melaju kencang kearahnya. pemuda itu mengerem laju sepedanya namun tampaknya sepeda tersebut sudah dipastikan akan menabrak Hyeri.

“Kyaaa!” Hyeri merunduk ketakutan.

Braaaakk!!

Hyeri membuka matanya, menoleh ke sisi kirinya, sepeda tersebut sudah tidak ada. Ketika ia berdiri, dilihatnya si pemilik sepeda dan sepedanya sudah tersungkur di sisi jalan. Pemuda itu meringis kesakitan sambil mendirikan sepedanya.

“Yah kamu kenapa tiba-tiba nyebrang jalan seperti itu. Harusnya kamu lihat kiri-kanan dulu baru nyebrang! Untung aku gak nabrak kamu!” bentak pemuda itu. “Ehh, kamu keluar darimana tadi? Dari dalam hutan ini?”

Hyeri mengangguk ketakutan menjawab pertanyaan si pemuda. Tapi sekarang malah gantian sang pemuda yang menatap Hyeri horror. Pemuda tersebut kemudian menjaga jarak dari Hyeri.

“Kamu hantu! Kamu gumiho kan?! Dari sekian banyak manusia di bumi ini yang lewat sini kenapa harus aku yang sial seperti ini!!” jerit si pemuda.

Hyeri bingung dengan reaksi pemuda tersebut. Bumi? manusia? Berarti dirinya sedang ada di bumi, dan makhluk didepannya ini adalah manusia, hanya memikirkan itu saja membuat Hyeri senang. “Kamu ini apa tidak bisa tidak teriak-teriak seperti itu. Seperti Jiyoung saja, hobinya marah-marah.” gerutu Hyeri. “Aku bukan hantu, aku …… manusia.”

Pemuda tersebut menatap Hyeri takut-takut. Bagaimanapun juga Hyeri terlalu cantik untuk jadi hantu. Ia melihat ada banyak luka goresan di badan Hyeri, belum lagi gaun dan kaki Hyeri yang sudah belepotan tanah. Mau tak mau pemuda itu iba melihatnya.

“Lalu kenapa kamu keluar dari sana,” sahut pemuda itu sambil menunjuk kearah hutan.

Hyeri mengangkat bahunya. “Yang kutahu tadi aku sedang main bersama teman-temanku ke hutan, lalu aku terperosok ke dalam lubang dan begitu sadar aku sudah sendirian di sana,” cerita Hyeri sambil ikut menunjuk kedalam hutan. “mereka meninggalkanku di hutan ini, dan aku tak tahu bagaimana caranya untuk pulang.”

Pemuda itu kemudian mendekati Hyeri dan menyentuh pipi Hyeri. “ha, ternyata kamu bukan hantu. Aigoo, lihat dirimu berantakan seperti ini. Jahat sekali temanmu yang sudah meninggalkanmu disini. Dimana rumahmu biar aku bantu kamu untuk pulang. Ngomong-ngomong siapa namamu?”

Hyeri memegangi pipinya. Ia merasa pipinya hangat karena sentuhan pemuda tersebut. “Namaku Hyeri.”

“ohh namaku Chunji, Lee Chunji. Apa nama keluargamu, biar aku mudah membantu mencari rumahmu.”

“Keluarga? Hmm, lee…” gumam Hyeri.

“ohh jadi nama lengkapmu Lee Hyeri.” Potong Chunji. “Baiklah Hyeri, Oppa akan membantumu untuk pulang. Sekarang sebaiknya kamu ikut Oppa dulu. Kita akan mengobati luka-luka itu serta membersihkan dirimu.”

Pemuda bernama Chunji itu kemudian menyuruh Hyeri untuk duduk di batang sepedanya. Dan mereka mulai meninggalkan hutan tersebut.

**beedragon**

“Kamu bisa merasakannya, L?” tegur Naeun dari punggung L.

Saat ini mereka sedang mengejar yang-katanya-putri-dari-skyland yang juga menjadi target dari Demon. L berusaha mempercepat langkahnya agar jangan sampai ia keduluan oleh Demon. Ketika sudah akan dekat dengan target, L menurunkan Naeun dari punggungnya. Dan mereka mulai berlari mendekati aura yang-katanya-putri-dari-skyland itu.

“Hilang!” seru L. Naeun langsung panik mendengar kalimat yang keluar dari mulut L tersebut. Yang dimaksud L sudah pasti adalah aura magis terbut hilang.

“Mereka hilang, aura lilin itu dan juga hawa Demon. Keduanya hilang,” L memperjelas kalimatnya.

“Maksudmu kita keduluan?” gusar Naeun.

L menggelengkan kepalanya. Ia terus memperhatikan sekelilingnya, walaupun nihil karena ia tak mendapatkan apa yang ia cari.

“Aku merasa ada seseorang disana,” ujar Naeun dan mulai melangkah meninggalkan L.

“Naeun, jangan kesana sendirian,” cegah L.

“Ahh!! Jiyoung!! L itu Jiyoung!” seru Naeun, begitu ia melihat seorang gadis tengah berjalan kearah mereka.

Naeun sudah berlari mendekati gadis yang mirip Jiyoung itu, disusul oleh L dibelakangnya. Begitu Naeun tiba dihadapan gadis itu, ia langsung memeluknya.

“Jiyoung! Apa yang kamu lakukan disini?” Tanya Naeun terdengar sedikit khawatir.

Gadis itu melepaskan pelukan Naeun dan menatap kedua orang dihadapannya dengan sinis. “Kamu siapa? Kenapa tiba-tiba memeluk orang sembarangan?”

Naeun bingung dengan reaksi yang diberikan gadis mirip Jiyoung itu. “Maaf, tapi kamu Jiyoung kan? Kamu Jiyoung temanku?”

“Aku bukan Jiyoung. Aku bukanlah orang yang kamu cari. Aku bahkan gak kenal kamu. Kalau sudah jelas maka minggirlah dan biarkan aku lewat,” ketus gadis tersebut.

Naeun berkeras tidak mau menyingkir. Dirinya yakin kalau gadis dihadapannya ini adalah Jiyoung. Kemudian ia menatap L, memohon bantuan. Tapi L hanya menggelengkan kepalanya dan menarik Naeun untuk memberikan jalan pada gadis tersebut.

“Dia itu Jiyoung L,” protes Naeun begitu gadis yang mirip Jiyoung itu pergi.

“Dia bukan warga Skyland apalagi Putri. Aku tak merasakan aura lilin yang tadi. Lagipula kalau memang benar dia Putri Jiyoung, untuk apa dia berbohong padamu. Sudahlah, sebaiknya kita kembali ke rumah dan mulai bergerak mencari yang lain esok hari.” L mencoba memberi pengertian pada Naeun.

Walau berat hati tapi Naeun menuruti perkataan L. Mereka pun akhirnya meninggalkan tempat tersebut.

Sementara itu….

“Bagus Jiyoung. Kamu melakukannya dengan baik. Kamu benar untuk berbohong tentang identitasmu” bisik seorang perempuan yang sudah berada disamping gadis-yang-mirip-Putri-Jiyoung – yang memang benar adalah Putri Jiyoung.

“Tapi tadi adalah Naeun. Kenapa aku harus menghindarinya. Siapa tahu dia bisa membantuku kembali ke langit,” ujar Jiyoung.

“Dia sudah bukan Putri Naeun. Apa kamu tidak melihat pria disampingnya tadi. Dia adalah Demon yang sudah memperalat Naeun. Dan tentu kamu tahu apa kesukaan Demon itu, mengumpulkan jiwa para putri. Tapi tenang saja karena kamu bersamaku maka jiwamu akan aman.” Bisikan perempuan itu terdengar begitu meyakinkan. Ia menyeringai pada Jiyoung, membuat Jiyoung bergidik melihatnya.

“Tapi aku tak pernah melihatmu di langit, Subin. Kamu tinggal dilangit tingkat berapa?” Tanya Jiyoung pada perempuan yang sedang merangkulnya itu.

“Aku…. tidak tinggal di langit. Tapi aku bisa mengembalikanmu ke langit. Dengan syarat kamu harus membantuku mencari yang lainnya,” sahut perempuan yang bernama Subin tersebut. “Kita harus menyelamatkan jiwa putri yang lainnya. Kamu bilang tadi ada lima orang yang turun bersamamu? Bagaimana kalau kita cari yang paling kuat dulu.”

Jiyoung menatap Subin dengan sedikit khawatir. Ia merasa keputusannya sudah salah untuk menuruti Subin dan meninggalkan Naeun. Karena senyuman Subin membuatnya merasa terintimidasi. Tapi karena Subin sudah berjanji akan membawanya kembali ke langit, mau tak mau Jiyoung menurutinya.

“Baiklah mari kita mengumpulkan jiwa para Putri, ahh maksudku menyelamatkan mereka,” ujar Subin.

**beedragon**

Hyeri sudah membersihkan dirinya. Kini ia memakai pakaian yang diberikan oleh Chunji, dan pakaian itu membuatnya terlihat lebih manusiawi. Kini Hyeri sudah berada di ruang makan duduk manis disana menunggu Chunji yang sedang membuatkannya makanan.

“Cha, telur dadar ala chef Chunji. Silakan dimakan,” ujar Chunji riang sambil menghidangkan menu utama mereka di tengah meja.

Hyeri menatap satu-satunya menu yang terhidang dihadapannya. Biasanya di istana ia akan mendapat makanan lengkap, tapi ia selalu merasa ada yang kurang. Tapi sekarang, walau hanya ada telur dadar di hadapannya, ia merasa terharu. Karena kali ini Hyeri memiliki teman yang duduk bersamanya dan menemaninya makan.

“Maaf, aku hanya punya telur. Karena Eomma sedang pergi, jadi gak ada makanan yang wajar disini,” gurau Chunji.

Hyeri tersenyum melihat Chunji. Padahal ketika pertama bertemu Chunji berteriak ketakutan melihatnya, tapi kini Chunji sudah menunjukkan senyum termanisnya dihadapan Hyeri. Hyeri merasakan kehangatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Hyeri pun mulai menyendokkan nasi ke mulutnya.

“Jadi kamu kabur dari rumah, karena bosan dikurung terus di rumah, begitu? Dan ternyata begitu kabur bersama teman-temanmu, kamu malah ditinggal di hutan itu sendirian, begitu?” tanya Chunji yang juga ikutan makan bersama Hyeri.

Hyeri mengangguk pelan sambil terus menikmati makanannya.

“Kenapa kabur dari rumah? Walaupun kamu kesal dengan keluargamu kamu gak boleh kabur dari rumah. Aigoo,” protes Chunji.

Hyeri pun menghentikan aktivitas makannya. Ia menatap Chunji tepat di manik matanya, membuat Chunji salah tingkah dibuatnya. “Kamu tahu arti ‘dikurung’ kan? Dikurung, artinya aku gak boleh keluar rumah, gak boleh bertemu dengan siapapun. Aku harus berada di kamar seumur hidupku dan itu membosankan. Walaupun banyak makanan enak terhidang di hadapanku, tapi semua terasa hambar. Walau banyak hiburan di kamarku, tapi aku sama sekali tak merasa terhibur.” Curhat Hyeri.

Chunji mengangguk mengerti mendengar cerita Hyeri. Ia sungguh merasa iba dengan kisah Hyeri. Ia jadi merasa bersalah karena sempat menuduh Hyeri sebagai hantu. Chunji ingin sekali membantu Hyeri untuk kembali ke rumahnya, tapi ia kasihan jika Hyeri harus kembali dikurung oleh keluarganya.

“Aku gak mau pulang ke rumah. Daripada membawaku kembali ke kurungan itu lebih baik kamu bantu aku mencari dimana tempat kakakku berada.” Pinta Hyeri.

Seharusnya yang namanya seorang putri itu bisa merasakan kekuatan atau aura magis dari putri yang lain. Tapi karena Hyeri belum memiliki kekuatan, maka Hyeri tidak bisa tahu dimana Naeun berada. Karena itu pula Hyeri tidak tahu kalau bukan hanya dirinya saja yang turun ke bumi, melainkan semua teman-temannya yang ikut ke Wishy Forest juga turut terlempar ke bumi.

“ohh kamu punya kakak? Bukannya kamu bilang kamu anak tunggal?”

“Dia semacam tanteku, tapi umurnya sama denganku. Aku sangat dekat dengannya. Karena hanya dia satu-satunya orang yang sering menemaniku di rumah. Tapi ia harus pergi dari rumah untuk belajar. Karena itu aku kabur dari rumah, untuk menyusulnya,” ujar Hyeri lagi. “Bantu aku cari dimana Naeun berada. Aku akan sangat berterima kasih kalau kamu bisa membantuku menemukannya.”

**beedragon**

“Jadi dimana kamu merasakan aura putri yang lain?” Tanya Subin.

Saat ini Jiyoung dan Subin sedang dalam perjalanan mereka mencari para putri yang juga secara tak sengaja nyasar ke bumi. Jiyoung mengandalkan instingnya untuk menemukan aura teman-temannya. Sedangkan Subin membantunya mencari ketika aura para putri menguat.

“Sepertinya kita sudah dekat. Kurasa ini adalah Sohyun,” sahut Jiyoung.

Mereka kemudian berjalan ke sebuah sekolah menengah, dimana muri-muridnya sudah membubarkan diri menuju rumah masing-masing. Di sebuah tikungan yang cukup sepi, mereka menemukan sepasang anak sedang berjalan membelakangi mereka. Jiyoung mengenali salah satunya.

“Sohyun!” panggil Jiyoung sedikit ragu.

Yang dipanggil menoleh bersamaan dengan pemuda yang juga berjalan bersamanya. Benar saja, itu adalah Sohyun, teman Jiyoung sesama putri di kerajaan langit.

“Jiyoung!” seru Sohyun. Ia lalu berlari mendekati Jiyoung dan langsung memeluknya. “Syukurlah kita bertemu. Aku sempat takut karena aku sendirian disini. bagaimana kamu bisa menemukanku?”

“insting,” sahut Jiyoung. “itu siapa?” tanyanya sambil mengendikkan kepalanya kearah pemuda yang menunggu Sohyun diujung jalan.

“hmm, pacar? Hehehe,” sahut Sohyun dengan wajah yang memerah seperti tomat. “Aku juga gak tahu, begitu aku membuka mata, dia sudah ada disampingku. Dia bilang, aku pingsan ketika dia sedang mengutarakan perasaannya padaku. Dan akhirnya aku jadi pacarnya,” cerita Sohyun.

“Aku gak mau dengar cerita itu, So. Aku kesini mau ajak kamu pulang. Bilang sama pacarmu itu, kalau kamu akan kembali ke identitasmu sesungguhnya.” Tegas Jiyoung. “Kita sudah dibuang disini sama Hyeri dan kamu masih bisa main-main seperti ini,” ketus Jiyoung.

Sohyun menunduk. “tapi setidaknya aku merasa berterimakasih atas apa yang sudah Hyeri lakukan. Dia membuatku menjalani kehidupan di bumi. walaupun baru sebentar, tapi aku merasakan yang namanya kasih sayang yang tulus, perhatian, dan semua kebaikan disini. dan sejujurnya aku belum mau kembali ke langit. Kecuali Hyeri yang mengajakku kembali.” Gumam Sohyun.
Jiyoung menahan emosinya mendengar perkataan Sohyun. Ia sangat benci pada Hyeri tapi Sohyun malah begitu memujanya. Padahal karena Hyeri-lah mereka jadi terdampar di bumi.

“Kenapa lama sekali Jiyoung?” tegur seseorang dibelakang Sohyun.

Sohyun pun berbalik. Dilihatnya seorang perempuan tengah menyeringai terhadapnya. Perempuan itu kemudian mencekal tangan Sohyun dan dengan tangan satunya ia mencengkram kedua pipi Sohyun.

“Siapa kamu?” seru Sohyun tertahan.

“Diam sebentar Putri kecil. Aku akan membuat ini tidak terasa menyakitkan,” desis perempuan tersebut.

“Apa yang mau kamu lakukan Subin?!” Seru Jiyoung. Ia kemudian berusaha menarik Sohyun dari cengkraman Subin.

Subin lalu melepaskan cengkraman tangannya. Kemudian ia menunjuk Jiyoung dan hal tersebut membuat tubuh Jiyoung terpental menabrak dinding jalan. “Kamu diam saja dulu. Setidaknya kamu tidak akan mati cepat seperti temanmu ini.”

Subin kemudian kembali mengunci tubuh Sohyun. Ia menengadahkan kepala Sohyun agar menghadap wajahnya. Lalu ia membuka mulut Sohyun dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Sohyun. Tak lama tampak gumpalan gas berwarna putih keluar dari mulut Sohyun. Dan kesadaran Sohyun semakin lama semakin hilang seiring dengan semakin banyaknya jiwanya yang ditarik Subin.

“Kamu… kamu bukan warga Skyland?!” rintih Jiyoung. “kamu Demon!”

Jiyoung berusaha berdiri dengan segenak kekuatannya yang ada. Tapi Subin kembali membantingnya dengan kekuatan magisnya.

“Aku tidak pernah bilang aku adalah sejenismu. Kamu saja yang bodoh, bisa-bisanya tertipu olehku. Tenang saja. Aku tidak akan mengambil jiwamu secepat ini. Asal kamu berlaku baik maka aku akan membebaskanmu.” Desis Subin.

Subin terus mengeluarkan jiwa Sohyun. Gumpalan asap berwarna putih yang tampak seperti gumpalan awan tersebut berkumpul semakin besar di depan mulut Sohyun. Tapi ketika Subin hampir selesai melakukan pekerjaannya, ia merasakan ada kekuatan asing yang mendekati mereka.

“Sial ada penganggu,” geram Subin. Ia kemudian memasukkan jiwa Sohyun kedalam sebuah botol kecil dan lalu pergi sambil tak lupa membawa Jiyoung yang tak sadarkan diri.

Sementara itu……

“Ada Demon yang bergerak, Naeun,” seru L.

L kemudian menarik tangan Naeun untuk bergegas mencari dimana Demon yang sedang mengeluarkan aura magisnya yang begitu besar tersebut. Karena kecepatan yang dimiliki L, mereka pun berhasil tiba di sebuah sekolah yang jaraknya ratusan kilometer dari rumah mereka. Keduanya menyusuri jalan setapak sampai akhirnya mereka bertemu dengan seorang pemuda yang tengah bersimpuh memeluk tubuh seorang gadis di pinggir jalan. Naeun dan L lalu mendekati sepasang manusia tersebut. Kagetlah Naeun setelah mengetahui siapa yang dipeluk oleh pemuda tersebut.

“Sohyun!!” pekik Naeun.

Si pemuda – yang sudah bersimbah airmata– tersebut menatap Naeun penuh tanya. Sementara Naeun langsung merebut tubuh Sohyun yang sudah tak berdaya dari pelukan pemuda itu.

“Kenapa dengan Sohyun? Kamu apakan dia?!” jerit Naeun sambil membelai wajah Sohyun yang sudah pucat.

“Aku tak tahu. Aku hanya… menunggunya di ujung sana, karena tadi…. ia bertemu dengan temannya. Tapi begitu aku berbalik melihatnya, dia sudah… sudah…” pemuda tersebut tak mampu meneruskan kalimatnya.

L mendekati tubuh Sohyun. Diletakkannya telapak tangannya di kening Sohyun. Setelah mengangguk sejenak ia kemudian mengangkat tubuh Sohyun dari pelukan Naeun kemudian menggendongnya.

“Yah! Apa yang mau kamu lakukan dengan Sohyunku?!” seru pemuda tersebut.

“Aku akan menyelamatkannya,” ujar L.

Kemudian L berbisik pada Naeun. “ini ulah Demon. Dia sudah menghisap jiwanya, Naeun. Tapi kita masih bisa menyelamatkannya. Jiwanya masih ada disini. Demon pasti masih menunggu untuk melanjutkan mengambil jiwanya. Jadi sebaiknya kita selamatkan Sohyun dan pergi dari sini.”

Naeun mengangguk mengerti. “Terima kasih sudah menjaga Sohyun. Aku adalah kakaknya, dan biarkan aku yang membawanya ke rumah sakit. Sekali lagi terima kasih.”

Naeun dan L kemudian bergegas pergi sambil membawa tubuh Sohyun.

“Sungguh. Dia akan baik-baik saja kan? Kabari aku kalau Sohyun sudah sembuh.” Seru pemuda tersebut pada Naeun dan L yang mulai menjauh.

……..

“Cih, rupanya mereka lagi.” Geram Subin di tempat persembunyiannya. Ia memapah tubuh Jiyoung yang lunglai akibat ulahnya. “tapi selama aku masih memiliki putri bodoh ini, maka tak susah bagiku mendapatkan jiwa yang lainnya. Dan akan kupastikan jiwa putri kecil itu kudapat seutuhnya. Setidaknya masih ada tiga putri yang tersisa, empat termasuk makhluk tak berguna ini.”

**beedragon**
TBC


yeahh part 1 out yoo!!
adakah yang tahu subin yang dimaksud disini itu idol yang mana?? itu lohh maknaenya Dal Shabet.
94line juga lohh,, kalo belum tahu ini mukanya
lucu kan.. tapi aku jadiin Demon disini.. gak cocok jadi jahat sihh tapi gapapa lahh
justru yang innocent itu yang tak terduga *apa dehh*
anyway,, kamsahamnida buat yang udah baca FF ini!!
sampai jumpa di chapter berikutnya!!
Annyeong *bow bareng L*
Advertisements
FF – The Last 94 Generation Princess | Chapter 1 | pg15 |

23 thoughts on “FF – The Last 94 Generation Princess | Chapter 1 | pg15 |

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s