FF – Twins Love Story | chapter 4 Haebyul Case : Solved!! | by beedragon


Title : Twins Love Story

Subtitle : [chapter 4] HAEBYUL CASE : SOLVED!!

Author : beedragon

Cast:

Youngmin Boyfriend as Jo Youngmin

Kwangmin Boyfriend as Jo Kwangmin

Jang Haebyul (Ulzzang) as Jang Haebyul / Miss Jang

Other Cast

Minwoo Boyfriend as Noh Minwoo

Kim Shinyeong (Ulzzang) as Kim Shinyeong

Kim Seulmi (Ulzzang) asn Kim Seulmi

Genre : Romance, friendship, family, school life.

Length : Series

Rating / pairing : PG15 / Straight (tolong diingat ini straight!)

Summary : Kwangmin meninggalkan saudara kembarnya, Youngmin, hanya untuk mengejar cinta-pada-pandangan-pertamanya. Merasa dikhianati Youngmin pun pergi menyusul Kwangmin ke Seoul demi untuk membawanya pulang kembali. Segala cara ia lakukan agar bisa membawa Kwangmin kembali ke Tokyo, termasuk dengan cara menyamar menjadi perempuan.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

Haebyul Case :Solved!!

PART 1 PART 2 PART 3

“jadi kamu maafin aku?” Tanya Youngmin pada Minwoo yang berdiri di sampingnya.

Suasana yang tercipta antara mereka benar-benar sangat kaku. Keduanya saling memandang lurus ke tengah lapangan basket. Walaupun mereka berdiri berdampingan seperti itu, tetap saja seperti ada tembok besar yang menghalangi mereka.

“ne, lagian kamu juga gak salah kok. Akunya saja yang babo, gak bisa bedain mana yeoja dan mana namja.” Sahut Minwoo.

Youngmin akhirnya  memberanikan diri berdiri di hadapan Minwoo. Ia mencoba menangkap kesungguhan di mata Minwoo. “Jeongmal?? Jeongmal?? Jeongmalyo??”

“ne,” sahut Minwoo malas sambil mengerutkan keningnya.

“gyaahh!!” youngmin berteriak kegirangan dan memeluk Minwo. “gomawo, chingu-ya.”

“Yah,” seru Minwoo sambil melepaskan Youngmin. “dengan satu syarat, kamu gak boleh nempel-nempel denganku seperti tadi. Atau aku akan benar-benar membencimu.”

“arraseo,” sahut Youngmin mantap sambil mengacungkan kedua jempolnya. “Yagsog(janji).”

Sementara itu dipinggir lapangan, ada Kwangmin dan Seulmi tengah memperhatikan Youngmin-Minwoo. Kwangmin tampak menahan senyumnya menyaksikan tingkah kembarannya tersebut.

“mereka sepertinya udah baikan,” ujar Seulmi. “dasar pasangan yang aneh. Waktu mereka bertengkar, satu sekolah ikutan heboh. Sekarang melihat mereka udah kembali lagi seperti sedia kala semuanya pun ikutan merasa tenang.”

“begitu ya?” sahut Kwangmin. “neo gwenchana? Apa kamu juga ikut merasa tenang?”

“kenapa bertanya seperti itu? kamu sendiri apa kabar? Kembaranmu udah dapet pacar, kapan kamu mau nyusul?” celetuk Seulmi.

Kwangmin beralih menatap Shinyeong yang ada di sisi lain lapangan. Sejak ditolak oleh Shinyeong di taman ria dulu, Kwangmin sudah tidak lagi merasakan getaran-getaran yang istimewa terhadap Shinyeong. Ia juga tidak lagi gencar mendekati Shinyeong.

“Entahlah, kurasa aku memang harus mencari yang baru. Aku sudah menyerah terhadap Noona.”

“Ehh?? Waeyeo? Bukannya kamu datang kesini buat mengejar Shinyeong Eonni ya? Kalo kamu menyerah sekarang semuanya jadi sia-sia dong?”

“habisnya usaha seperti apapun aku tetap tidak akan bisa masuk ke hatinya. Makanya Seulmi, kelak kalo ada namja yang mengutarakan perasaannya padamu janganlah kamu langsung menolak mereka. Rasanya ditolak dua kali itu tidak enak tau.” Ujar Kwangmin.

“Hee?? Eonni menolakmu dua kali?! Malang sekali kamu.”

“aniya, sebelum dia sudah pernah ada yang menolakku,” gumam Kwangmin.

Percakapan mereka terhenti karena Shinyeong memanggil Seulmi untuk ikutan latihan membentuk piramid.  Akhirnya Kwangmin pun ikutan membubarkan diri menuju ke kumpulan anak basket yang sedang berlatih di tengah lapangan. Ketika ia melewati pintu keluar, Kwangmin melihat sosok Haebyul tengah mondar-mandir di luar sana. Kwangmin pun memutuskan untuk menghampirinya.

“Miss jang, ada apa kemari? Mencari Youngmin?” tegur Kwangmin.

Haebyul menoleh dan terlihat sedikit senang mendapati Kwangmin yang menegurnya. “aku mencari kamu,” sahut Haebyul sambil menundukkan kepalanya.

Haebyul kemudian menyodorkan sebuah kotak transparan dengan hiasan pita warna-warni. Kwangmin dapat melihat isi kotak tersebut apa, cokelat dengan berbagai bentuk hati. Kwangmin tersenyum sambil mengambil kotak tersebut.

“untukku?” Tanya Kwangmin.

“ne, sebagai ungkapan rasa terima kasihku karena kemarin kamu sudah menolongku,”  sahut Haebyul.

“aku tidak melakukan apa-apa tapi kamu memberikan coklat secantik ini. Benar untukku?” kwangmin mencoba memastikan kembali.

Haebyul menganggukkan kepalanya pelan. “sebenarnya itu cokelat untuk namjachinguku. Kemarin itu persis satu tahun kami jadian, tapi dia malah memutuskanku sebelum aku sempat memberikan cokelat ini untuknya. Tapi ini masih enak untuk dimakan kok.”

“gomawo,” ujar Kwangmin sambil menebarkan senyumnya.

Haebyul pun ikut tersenyum melihat reaksi Kwangmin.

“ngomong-ngomong apa kamu baik-baik saja? Mengenai gossip itu maksudku.” Tanya Kwangmin.

“hmm, dibilang baik-baik saja pun aku sama sekali tidak baik. Siapa yang suka di gosipkan seperti itu. Dan sekarang semua orang sudah menganggapku serendah itu.” lirih Haebyul.

“apa gak mau dicari darimana asal mula gossip ini berasal. Aku bisa bantu kamu. Lagipula aku gak percaya kalau kamu benar melakukan hal tersebut.” Ujar Kwangmin.

“Gomawo. padahal kita belum berkenalan secara resmi, tapi kamu baik sekali padaku.”

“oh iya ya, kita belum kenalan ya.” Kwangmin menggaruk-garuk kepalanya salah tingkah.

Haebyul lalu menjulurkan tangannya ke Kwangmin. Kwangmin pun menyambut tangannya. “Annyeong haseyo Jang Haebyul imnida. Choegoui ulzzang legend(ulzzang legenda terhebat), Miss Jang imnida.”

Haebyul mengenalkan dirinya seolah dirinya itu adalah top star. Hal ini membuat Kwangmin berusaha keras untuk menahan tawanya. Ia merasa Haebyul benar-benar mempunyai kepercayaan diri yang sangat tinggi. Ia jadi teringat akan penyanyi yang selalu menyebut dirinya itu ‘gugmin yeoshin’.

“geurae. Annyeong haseyo Jo Kwangmin imnida. Salah satu penyerang terbaik serta penyumbang skor terbanyak di tim basket Starship, Jo Kwangmin imnida.”

Kali ini Haebyul yang tidak bisa menyembunyikan tawanya. Ia tertawa karena cara Kwangmin mengenalkan dirinya. Kwangmin sampai merasa malu karena ditertawakan seperti itu oleh Haebyul.

“kenapa reaksimu seperti itu? Isanghae(aneh)? Aku hanya mengikutimu.” Tanya Kwangmin bingung.

“Haha jeosonghamnida. Kalau aku memang terbiasa mengenalkan diri seperti itu. tapi kamu, kamu itu terkenal sebagai namja yang cuek dan tidak banyak bicara. Tapi mendengar gaya bicaramu tadi aku jadi… ahahaha.” Haebyul tak bisa menahan tawanya.

Karena gemas melihat Haebyul, Kwangmin akhirnya mengacak-acak rambut Haebyul. Haebyul pun ahirnya membalas Kwangmin dengan mencubiti lengan Kwangmin.

“Ah sudah, ini jadi tidak seru lagi,” keluh Haebyul sambil merapikan rambutnya yang berantakan. Merasa bersalah Kwangmin pun ikut merapikan rambut Haebyul.

“sudah dulu ya. Kamu berlatih lagi sana, bukannya sebentar lagi kamu mau turnamen ya?”

“ne, nanti kamu datang ya pas turnamen dimulai.” Ajak Kwangmin.

“of course. Geureom, Annyeongi gyeseyo,” Haebyul pun membungkukkan badannya dan kemudian berbalik pergi meninggalkan Kwangmin.

Setelah memastikan kalau Haebyul sudah benar-benar pergi, barulah Kwangmin berbalik untuk kembali masuk ke gedung olahraga. Tapi sosok Youngmin sudah berdiri di belakangnya sambil memasang wajah curiga. Melihat kehadiran Youngmin tersebut membuat Kwangmin hampir terlompat karena kaget.

“astaga, kamu mengagetkanku saja Young,” ujar Kwangmin sambil memegangi dadanya.

Youngmin memicingkan matanya menatap Kwangmin. “itu tadi Haebyul kan? Ngapain dia kesini? Kalian ngobrolin apa aja tadi? Kenapa kalian ketawa-ketawa seperti tadi? Kenapa kamu tadi pegang-pegang kepalanya? Dan itu apa? Itu bukannya cokelat yang dia buat untuk namjachingunya? Kenapa ada di kamu? Emang kamu itu namjachingunya?  Kenapa…”

“Yah!” potong Kwangmin sebelum Youngmin terus mengajukan pertanyaan yang membutuhkan waktu tujuh-hari tujuh malam untuk menjawabnya. “kalo nanya itu satu-satu. Aku hanya punya satu mulut saja untuk menjawab pertanyaanmu.”

Youngmin terus saja memicingkan matanya menatap Kwangmin. Kwangmin akhirnya menghela napas berat melihat tingkah Youngmin ini. Tiba-tiba terlintas ide cemerlang di otaknya.

“dia datang untuk memberikanku coklat ini. Katanya sebagai ucapan terima kasih karena sudah menolongnya kemarin. Oh iya aku punya kabar gembira untukmu. Aku akan berhenti mengejar Shinyoung Noona sekarang. Apa kamu senang mendengarnya?” ujar Kwangmin.

“Hee? Jinjja? Yeaaayy!” seru Youngmin kegirangan. “kalau gitu kita bisa pulang ke Jepang sekarang??”

Kwangmin menggelengkan kepalanya. “aku sudah memutuskan untuk tidak membuang waktu mengejar orang yang tidak mencintaiku. Lebih baik mencintai orang yang mencintaiku kan?”

Youngmin bingung dengan arah pembicaraan Kwangmin. Ia masih menunggu Kwangmin untuk melanjutkan kalimatnya.

“aku memutuskan untuk mengejar Haebyul. Sepertinya dia menyukaiku. Lihat saja, dia memberikanku coklat buatan tangan seperti ini. Kemarin kamu menentangku karena aku menyukai seorang Noona kan? Nah sekarang aku menyukai Haebyul, kamu tentu tidak akan menentangku kan?”Tanya Kwangmin.

Bagaikan tersambar petir, Youngmin langsung kaku mendengar ucapan Kwangmin. Sementara Kwangmin sudah menahan senyumnya melihat ekspresi yang dibuat Youngmin. Akhirnya Kwangmin meninggalkan kembarannya yang masih mematung di tempat.

***

“kamu serius sama Haebyul? Kamu benar suka sama Haebyul? Cepat sekali kamu beralih hati,” sindir Youngmin.

Kwangmin hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Youngmin. Sesungguhnya Kwangmin tidak benar-benar menyukai Haebyul. Ia hanya ingin menggoda Youngmin karena Youngmin begitu peduli dengan Haebyul. Kwangmin hanya ingin memastikan apa yang Youngmin rasakan terhadap Haebyul. Lagipula Haebyul sama sekali jauh dari tipe ideal Kwangmin.

“kwang, Haebyul ga andwae. Dia gak cocok buatmu. Dia itu sama sekali bukan tipemu. Aku tahu persis itu. jadi jangan sama Haebyul yah.” Bujuk Youngmin.

“wae? Memangnya kenapa kalo dia itu bukan tipeku. Siapa tahu aja kita cocok. Lagian dia pasti juga punya aegyo, tapi memang belum ada aja yang liat.” Sahut Kwangmin.

“Geundae, Haebyul itu benar-benar gak cocok buatmu. Sama siapa aja boleh, aku ijinin, asal jangan sama Haebyul.” Pinta Youngmin dengan nada memelas.

“lalu dia cocoknya sama siapa? Sama kamu? Kamu kan yeoja, mana boleh suka sama yeoja.” Ledek Kwangmin sambil menahan senyumannya.

Youngmin menutup mulutnya rapat. Betapa ia tak suka dengan jawaban dari Kwangmin barusan. Ia bahkan tak berani lagi menggubris Kwangmin yang mulai melangkah menuju asrama lelaki.

“Haebyul!” seruan Kwangmin tersebut membuat Youngmin mengangkat kepalanya. Dan ia mendapati Haebyul datang menghampiri Kwangmin. Youngmin pun ikutan menghampiri Kwangmin.

“Habis darimana kamu? Turnamen sudah dimulai, dan tadi adalah babak penyisihannya. Dan kau tahu apa, kita lolos babak semifinal. Aku keren kan?” ujar Kwangmin.

Haebyul tidak merespon ucapan Kwangmin. Ia sibuk menatapi Youngmin dengan pandangan yang –entahlah, tidak ada yang bisa mengartikan apa yang sedang ia rasakan sekarang.

“Hae? Kamu kenapa? Oia kenapa kamu datang dari ruang guru? Minta surat ijin lagi kah?” tanya Kwangmin lagi.

“Mianhae,” sahut Haebyul setelah diam sekian lama. “padahal aku janji mau datang menonton pertandinganmu, tapi ternyata aku ada urusan mendadak,” ujar Haebyul lagi sambil terus menatap Youngmin tajam.

Youngmin merasa tidak enak dipandangi seperti itu oleh Haebyul. Ia akhirnya menyikut Kwangmin untuk menyadarkan Haebyul.

“Hae, wae geurae? Tatapanmu itu seperti mau membunuh orang saja,” tegur Kwangmin setelah ia sadar kalau sedari tadi Haebyul benar-benar tidak melihatnya barang sedetikpun.

“Mianhae,” sahut Haebyul. “Aku ingin melakukan ini pada kembaranmu. Jeongmal mianhae.”

Plaakkk.

Tamparan yang sangat keras mendarat dipipi Youngmin. Youngmin kaget akan apa yang baru saja Haebyul lakukan padanya. Kwangmin apalagi, ia bahkan sampai menahan kedua lengan Haebyul, karena sepertinya saat ini Haebyul bisa membunuh Youngmin dengan emosinya yang meluap-luap itu.

“Hae, wae geurae? Kenapa kamu menampar Youngmin? Dia salah apa?” tanya Kwangmin bingung.

“Gomapta Youngmin-ssi. Berkat kamu aku akan dikeluarkan dari sekolah!” sinis Haebyul.

Kedua anak kembar itu makin bingung dengan jawaban Haebyul. Mereka tentu bingung apa yang dilakukan Youngmin sampai Haebyul akan dikeluarkan dari sekolah.

“seperti katamu kemarin, aku mencari darimana asal mula gossip ini berasal. Dan dari semua teman-temanku mereka bilang kalau mereka tahu mengenai hal ini dari sebuah postingan di forum ulzzang terbesar di Korea. Dan aku meminta bantuan untuk mencari tahu siapa yang membuat postingan tersebut. Dan kamu tahu apa?! IP address postingan itu berasal dari laptopku sendiri. Aku tak pernah meminjamkan laptopku pada siapapun kecuali pada orang ini!!” cerita Haebyul dengan penuh emosi.

“dan kamu tahu Kwang, kepala sekolah tau akan berita ini. dia bilang akan mengeluarkan aku dari sekolah kalau aku tak bisa membuktikan kalau aku tidak salah. Aku harus melakukan apa kalau aku sampai dikeluarkan? Apa yang harus aku katakan pada orangtuaku?!!” pekik Haebyul. Ia terus mengeluarkan emosinya sambil menahan airmatanya yang mulai menggenang.

Kwangmin termangu mendengar cerita Haebyul. Ia tak percaya kalau Youngmin yang menyebarkan berita tersebut. Karenanya ia menuding Youngmin untuk menjelaskan semuanya.

Youngmin sendiri tak bisa melakukan apa-apa. Ia begitu bingung akan cerita Haebyul. Menurut Seulmi, semua orang sudah tahu akan kasak-kusuk mengenai Haebyul, tapi kenapa semuanya berkata kalau mereka tahu mengenai gossip ini dari tulisan yang dibuat olehnya di dunia maya.

“tapi menurut Seulmi…” ujar Youngmin setelah terdiam.

“Seulmi yang membantuku mencari identitas user laknat itu. kau tahu, dia itu pintar kalau urusan yang seperti itu.” potong Haebyul.

“Apa salahku padamu hah?! Karena aku tidak pernah bisa bicara baik denganmu atau apa?! Kenapa kamu melakukan ini padaku?!” pekik Haebyul dan akhirnya ia tak lagi sanggup menahan airmatanya. “aku harus bilang apa pada Eomma dan Appa di Busan. Mereka susah payah menyekolahkanku tapi kamu…”

***

Perang dingin terjadi antara Haebyul dan Youngmin. Mereka yang tinggal sekamar tapi sama sekali tak mau saling tegur sapa apalagi saling melihat. Haebyul selalu masuk kamar tepat ketika Youngmin sudah menutup matanya untuk tidur dan bangun pagi-pagi sekali sebelum Youngmin bangun. Haebyul benar-benar menghindari Youngmin.

Sementara Youngmin karena tidak bisa bertemu dengan Haebyul ia jadi tak bisa menjelaskan apa yang terjadi. Dalam hati ia terus merutuki dirinya, bagaimana bisa ia membuat postingan seperti itu. ia akhirnya meminta bantuan Minwoo untuk menolongnya.

“tapi kenapa harus aku Youngmin? Kamu pikir aku ga ada kerjaan lain apa? Semifinal udah dekat, lebih baik aku berlatih sekarang daripada nemenin kamu jalan-jalan gak karuan seperti ini,” keluh Minwoo ketika dirinya diseret secara paksa ke Hongdae untuk menemani Youngmin mencari Haebyul.

“Aku yakin Haebyul akan kesini hari ini. Tadi aku lihat di kalender kalo dia ada jadwal di daerah Hongdae ini. Aku harus minta maaf padanya,” sahut Youngmin sambil menyelinap di balik dinding sebuah toko pakaian.

“kalau Haebyul tahu kamu membuntutinya seperti ini, dia bisa ngamuk. Kemarin aja dia berani nampar kamu di depan Kwangmin, aku jamin hari ini dia akan jadi seperti singa yang merobek-robek setiap senti kulitmu,”  ujar Minwoo.

“yah! Kamu pikir Haebyul itu segalak apa hah?!” protes Youngmin. “ahh ahjussi itu!! Itu Ahjussi yang waktu itu aku lihat bersama Haebyul. Ah ternyata Haebyul kesini untuk menemui ahjussi itu,” bisik Youngmin sambil menunjuk kearah seorang lelaki paruh baya yang mendekati Haebyul yang sedang duduk di sebuah café.

Minwoo pun langsung berebut spot untuk melihat seperti apa ‘ahjussi’ yang sering diomongkan oleh banyak orang itu. dan kagetlah Minwoo akan siapa yang sudah dilihatnya.

“samchun?!” pekik Minwoo tertahan. Lelaki paruh baya yang tengah duduk bersama Haebyul adalah pamannya sendiri. “Youngmin, ahjussi itu samchunku!!”

Minwoo sudah berlari menghambur kearah Haebyul dan pria yang diyakini adalah pamannya.Youngmin pun ikutan membuntut dibelakangnya, ia sesungguhnya takut Haebyul akan menamparnya lagi kalau melihat wajahnya.

“Samchun!!” seru Minwoo begitu sampai di depan Haebyul.

Baik Haebyul maupun pria yang katanya adalah paman Minwoo itupun langsung terlonjak kaget mendengar seruan Minwoo. Haebyul bingung melihat Minwoo tiba-tiba muncul didepannya, dan langsung berubah menjadi geram begitu melihat Youngmin.

“Neo!” desis Haebyul sambil melirik tajam ke Youngmin.

“Samchun! Apa yang Samchun lakukan disini? Kenapa bersama Haebyul? Kalian sering bertemu diluar seperti ini? Kalian punya hubungan seperti apa??” Tanya MInwoo pada pamannya.

“Minwoo, bisa samchun jelaskan. Tapi tak disini,” bujuk paman Minwoo.

“Wae?!” Minwoo sepertinya menolak mengulur waktu.

Akhirnya pamannya menarik tangan Minwoo dan juga Haebyul pergi dari café tersebut dan meninggalkan Youngmin yang masih bingung melihat situasi yang tak lazim tersebut.

***

menurut cerita Minwoo, ternyata pria paruh baya yang sering ditemui Haebyul, yang juga adalah pamannya Minwoo itu adalah ayah kandung dari Haebyul. Sejak kecil Haebyul sudah hidup terpisah dari ayahnya sedangkan ibunya meninggal ketika melahirkannya, karenanya sejak lahir Haebyul tinggal di panti asuhan sampai akhirnya dia diangkat menjadi anak oleh keluarga Jang.

Mendengar ceritu itu Youngmin pun makin merasa bersalah. Karenanya ia langsung mendatangi Kepala Sekolah dan menjelaskan perihal isu tak sedap tersebut. Youngmin, yang juga dibantu Kwangmin menghapus jejak postingannya di situs ulzzang tersebut serta membuat surat permintaan maaf secara umum di situs tersebut. Selain itu Youngmin juga membuat permohonan maaf masal di sekolah sekaligus meminta pada seluruh murid untuk tidak merendahkan Haebyul lagi. Kasus Haebyul pun terpecahkan dan semua kembali seperti sedia kala.

Tapi satu yang belum terselesaikan, hubungan Youngmin dan Haebyul belum membaik. Walaupun Haebyul sudah memaafkannya, tapi ia tetap belum mau bertatap muka apalagi berbicara dengan Youngmin. Youngmin hanya bisa pasrah menerima sikap dingin Haebyul. Tapi ia terus berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka tersebut.

Malam ini Youngmin sedang menatapi punggung haebyul yang tengah mengedit foto-fotonya. Haebyul tampak begitu serius sampai-sampai panggilan youngmin pun tak didengarnya – atau memang sengaja mengacuhkannya. Akhirnya Youngmin kembali menyerah dan mulai menarik selimutnya untuk tidur.

Namun tiba-tiba….

Jgeeeeerrrr!!!!

Suara petir terdengar menggelegar menembus dinding-dinding kamar diiringi suara jeritan pelan perempuan. Youngmin langsung bangkit dari tidurnya. Dilihatnya dibawah sana, Haebyul sudah tak berada di meja belajarnya, melainkan meringkuk di lantai.

“Haebyul, wae geurae?” tegur Youngmin sambil turun dari kasur susunnya.

Tapi Haebyul tak beranjak dari posisinya hanya  menunjuk kearah jendela dengan tangan yang gemetaran. Youngmin hanya bisa bingung melihat Haebyul. Tapi ketika mendengar suara petir lagi diiringi kilatan cahaya yang begitu jelas dari jendela kamar, barulah Youngmin tahu maksud dari reaksi Haebyul.

“kamu takut petir?” Tanya youngmin pada Haebyul yang sudah sembunyi di bawah meja belajar. Akhirnya Youngmin menutup jendela rapat-rapat dan memastikan tidak ada celah bagi cahaya kilat untuk masuk.

Tapi masalahnya tidak selesai sampai disitu. Haebyul masih sembunyi di bawah meja sambil berusaha menyembunyikan kepalanya. Youngmin lalu mengambil iphone-nya beserta headphone dr.DRE – milik Kwangmin – kemudian menarik Haebyul keluar dari persembunyiannya.

“kamu takut pada suara petir? Walau kamu sembunyi dimanapun kamu akan tetap mendengar suaranya. Pakai ini,” youngmin memakaikan headphone besar tersebut ke kepala Haebyul lalu ia mulai memainkan playlist lagu yang ada di iphone-nya. “sekarang suara petirnya gak terdengar lagi kan?”

Haebyul lalu mengangkat wajahnya. Didapatnya wajah Youngmin yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya, dan Haebyul langsung memalingkan wajahnya.

“Mianhae…” lirih Youngmin sambil mengatur volume music di iphone-nya. “aku sudah membuatmu mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan. Bahkan rasanya aku tak pantas untuk meminta maaf darimu. Tapi kuharap kamu mau memaafkan semua kesalahanku.”

“Kalau kau berani menceritakan kejadian tadi kesemua orang maka tamatlah riwayatmu,” ancam Haebyul yang masih belum mau melihat wajah Youngmin.

Youngmin tersenyum melihat reaksi Haebyul. Reflek ia mengangkat tangannya dan mengelus puncak kepala Haebyul. “semua orang punya rasa takut yang wajar. Seperti aku yang takut kalau kamu tidak bias memaafkanku.”

“Aku sudah memaafkanmu. Aku bukan orang yang pendendam tau,” ujar Haebyul. Ia lalu memaksimalkan volume musiknya.

Mereka berdua lalu duduk berdampingan dengan bersandar pada kasur. Sesekali Youngmin melirik Haebyul disebelahnya yang tampak sedang menikmati alunan lagu.

“aku…” Haebyul membuka suara. “sejak kecil tinggal di panti asuhan. Aku kesepian karena aku adalah penghuni paling kecil disana. Aku yang hanya seorang anak kecil harus menghadapi suara-suara petir yang menggelegar itu sendirian, karena itu aku takut akan petir. Untungnya kesepian itu segera berakhir ketika aku diangkat menjadi anak oleh keluarga Jang. Mereka sangat menyayangiku seperti anak sendiri.”

Youngmin mendengarkan cerita Haebyul dengan seksama. Ia cukup mengerti kesepian yang dialami Haebyul. Karena ia juga mengenal satu orang yang memiliki kisah yang sama seperti Haebyul.

“aku bukan anak yang mudah bergaul. Karenanya Appa selalu membawaku ke studio fotonya untuk dijadikan model dan belajar mengenai dunia fotografi. Sejak itu aku suka fotografi dan mulai mendapatkan banyak teman dari hobi ini. Tapi Appa malah memasukkanku ke asrama ini. Memisahkanku dengan keluarga dan teman-temanku. Karenanya aku menjadi pendiam dan tertutup seperti ini. Sampai akhirnya aku tahu kalau aku dulu berasal dari panti asuhan di dekat sini.” Lanjut Haebyul.

“Lalu kamu mencari tahu siapa keluarga kandungmu? Karenanya kamu bisa bertemu dengan samchunnya Minwoo?” tebak Youngmin.

“dan aku baru tahu kalau aku masih punya ayah kandung,” Haebyul tampaknya tak mendengar ucapan Youngmin. “yah setidaknya aku masih keluarga di dekat sini. Jadi aku tidak benar-benar kesepian disini.”

Hening sejenak. Tampaknya Haebyul sudah selesai bercerita.

“kalau begitu biarkan aku menjadi temanmu. Dengan begitu kamu gak akan kesepian lagi,” lirih Youngmin memecah kesunyian.

Youngmin menoleh kesamping, dilihatnya Haebyul sudah terlelap dengan posisi sedikit miring menghadap Youngmin. Youngmin akhirnya menggeser badan Haebyul agar bersandar pada bahunya, dengan begitu Haebyul bisa mendapat posisi tidur yang nyaman. Haebyul tampak benar-benar sudah larut dalam tidurnya, bahkan ketika Youngmin menggenggam tangannya tidak ada reaksi apapun dari Haebyul.

“kamu sudah begitu banyak menderita. Izinkan aku berada didekatmu dan menemanimu. Aku akan membawa keceriaan padamu, aku janji. Karena aku sepertinya menyukaimu dan aku tak mau melihatmu menderita lagi.” Bisik Youngmin sambil menggenggam erat tangan Haebyul.

***

TBC

finally saya melanjutkan FF gaje ini… setelah berkutat dengan skripsi dan akhirnya saya comeback lagi… pasti udah pada lupa ma ceritanya ya?? ya dibaca lagi aja dehh.. ngerasa makin gaje?? ya maklum aja,,, yang abis di bantai di sidang skripsinya jadi otaknya masih agak2 ngehang gimana gitu jadi silakan tunggu kelanjutan FF ini,,, apakah makin gaje ato malah makin aneh.. hahaha

annyeong,, sampai ketemu!!!!

bee

next are the last chapter

bee akan memproteksi chapter akhir..
password hanya akan diberikan oleh mereka yang meninggalkan email serta judul fiksi yang ingin dibaca ke halaman proteksi.. *dimohonkan untuk membaca dengan jelas peraturan disana.. karena password bisa kalian dapatkan sendiri tanpa harus bertanya pada bee*
Passwordnya HANYA akan diberikan pada mereka yang sudah jadi penghuni planet ini.. karena itu DAFTARKAN diri kalian dengan buat perkenalan di halaman residence *jika kalian mampir kehalaman ini maka kalian akan bisa tahu passwordnya 😀 *
thanks for your attention!! annyeong!!

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – Twins Love Story | chapter 4 Haebyul Case : Solved!! | by beedragon

25 thoughts on “FF – Twins Love Story | chapter 4 Haebyul Case : Solved!! | by beedragon

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s