FF – Twins Love Story | chapter 2 Kwangmin First Date | by beedragon


Title : Twins Love Story

Subtitle : [chapter 2] Kwangmin First Date

Author : beedragon

Cast:

Youngmin Boyfriend as Jo Youngmin

Kwangmin Boyfriend as Jo Kwangmin

Jang Haebyul (Ulzzang) as Jang Haebyul / Miss Jang

Other Cast

Minwoo Boyfriend as Noh Minwoo

Kim Shinyeong (Ulzzang) as Kim Shinyeong

Kim Seulmi (Ulzzang) asn Kim Seulmi

Genre : Romance, friendship, family, school life.

Length : Series

Rating / pairing : PG15 / Straight (tolong diingat ini straight!)

Summary : Kwangmin meninggalkan saudara kembarnya, Youngmin, hanya untuk mengejar cinta-pada-pandangan-pertamanya. Merasa dikhianati Youngmin pun pergi menyusul Kwangmin ke Seoul demi untuk membawanya pulang kembali. Segala cara ia lakukan agar bisa membawa Kwangmin kembali ke Tokyo, termasuk dengan cara menyamar  menjadi perempuan.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader

KWANGMIN FIRST DATE

PART 1

Tim basket Starship tampak tengah berlatih dengan serius. Begitu juga dengan Kwangmin. Walaupun matanya sekali-kali mencuri-curi pandang kearah tim cheers yang ada di pinggir lapangan, tapi ia tetap fokus dalam latihannya. Setelah selesai latih tanding, Minwoo, selaku wakil kapten tim mengumpulkan anak buahnya sejenak untuk memberikan pengumuman kecil.

“Perhatian semuanya. Berhubung manajer lama kita sedang persiapan untuk olimpiadenya, karenanya kuputuskan untuk mengangkat manajer baru untuk mengurus keperluan tim kita nantinya. Perkenalkan manajer baru kita, Jo Youngmin.” Ujar Minwoo sambil menarik Youngmin ke kumpulan anak-anak basket.

“uhuk.. uhuk..” Kwangmin yang sedang minum sampai tersedak begitu mendengar pengumuman dari Minwoo.

“Yah, kenapa anak ini yang jadi manajernya?!” protes Kwangmin.

“Aku juga gak tau. Tiba-tiba aja dia jadi manajer kita.” Sahut Minwoo cuek sambil membubarkan pasukan.

Kwangmin langsung menghujani Youngmin dengan tatapan membunuh. Ia tahu persis Youngmin tidak sungguh-sungguh ingin menjadi manajer tim basket laki-laki ini. karena Kwangmin tahu kalau Youngmin pasti ingin memata-matainya disini. Kwangmin langsung punya perasaan tak enak karena sepertinya Youngmin akan membawakan keburukan padanya di masa depan.

“disaat seperti ini kamu harus hati-hati Kwangmin. Lihat saja apa yang bisa aku lakukan terhadap Noona itu.” Youngmin mengendikkan kepalanya pada Shinyeong yang tengah mengajari gerakan baru pada tim cheerleader.

“eergghh, awas saja kalau kamu berani macam-macam.” Geram Kwangmin.

***

Kwangmin bergegas keluar gedung sambil terus memperhatikan sekitarnya untuk memastikan kalau Youngmin tidak mengikutinya. Tentu saja ia ingin menghindari Youngmin hari ini, karena setiap kali ia latihan Youngmin pasti selalu berusaha untuk menjauhkannya dari Shinyeong. Setelah merasa aman, ia pun segera menghampiri Shinyeong yang sudah berjalan jauh di depannya.

“Noona! Tunggu aku,” seru Kwangmin.

“Noona mau kemana kamu minggu ini?” tanya Kwangmin setelah ia berhasil mensejajarkan langkah mereka.

“minggu ini? aku gak kemana-mana. Ada apa memangnya?” sahut Shinyeong.

“ahh, begini aku bermaksud ingin mengajakmu jalan minggu ini. itu juga kalau Noona mau. Hanya untuk menyegarkan pikiran kita setelah berhari-hari latihan. Bagaimana?” ajak Kwangmin.

“hmm. Boleh. Nanti aku akan mengajak beberapa anak cheerleader. Kamu juga akan mengajak timmu kan?” tanya Shinyeong.

“eh?” kwangmin merasa ada yang salah. Ia hanya bermaksud mengajak Shinyeong seorang untuk pergi hari minggu nanti. Tapi sepertinya Shinyeong salah mengira kalau kalau acara itu adalah semacam acara kumpul-kumpul sesama tim saja. Kwangmin akhirnya menghela napas berat. Ia kemudian memaksakan senyumnya. “ne, aku akan mengajak anak-anak dari tim basket.”

***

Minggu siang ini menjadi Minggu yang spesial bagi Kwangmin. Ia sudah berdandan serapih mungkin untuk menikmati first date-nya dengan Shinyeong. Walaupun harus dengan interupsi dari tim basket dan tim cheers meskipun ini tidak bisa dihitung sebagai kencan.

Kwangmin, Shinyeong dan yang lainnya sudah tiba di tempat pertemuan mereka, yaitu taman ria. Mereka masih menunggu Seulmi, yang juga merupakan anggota tim cheerleader.

Tak lama yang mereka tunggu datang juga. Kim Seulmi datang tidak sendirian. Ia membawa serta seorang perempuan dengan rambut pirang panjang. Melihat perempuan yang dibawa Seulmi, Kwangmin langsung merasa jiwanya menghilang entah kemana. Karena khayalannya untuk bisa jalan dengan nyaman bersama Shinyeong sepertinya tidak akan terjadi.

“Annyeong. Aigoo mianhae aku telat,” sapa Seulmi.

“kenapa kamu bawa anak ini Seulmi?” tanya Kwangmin setengah berbisik.

“Molla, kemarin dia mendengar pembicaraanku dengan Shinyeong Eonni. Jadinya dia ikutan aku deh hari ini. mianhae,” sahut Seulmi sambil ikutan berbisik.

“Hari ini kita mau main apa? Ahh daripada bingung lebih baik kita pisah aja. Nanti kita ketemu di café Banana. Ottae?” Youngmin yang datang bersama Seulmi langsung memberikan saran.

Semua anak langsung setuju dengan saran Youngmin dan akhirnya mereka mulai berkelompok dan memisahkan diri. Kwangmin pun melakukan hal yang sama, ia langsung menarik lengan Shinyeong menjauh dari Youngmin. Tapi Youngmin yang sudah menyadari hal itu langsung memisahkan mereka.

“Kwangmin, kita naik rollercoaster! Kajja!” sahut Youngmin sambil menarik Kwangmin pergi.

Seulmi hanya bisa menatap Kwangmin dengan penuh rasa bersalah. Karena kesalahannya lah, Kwangmin jadi gagal jalan dengan Shinyeong.

Youngmin benar-benar membajak Kwangmin seharian ini. ia tak memberi Kwangmin celah sama sekali untuk mendekati Shinyeong. Bahkan terakhir Kwangmin melihat Shinyeong adalah ketika berpisah dengannya di pintu masuk taman ria. Kwangmin hanya bisa pasrah menerima semua perlakuan Youngmin.

“ahh, capeknya. Aku beli minum dulu ya. Kamu tunggu disini. Awas kalau kamu pergi, maka kamu akan mati,” ancam Youngmin pada Kwangmin.

Kwangmin yang sedang istirahat di bangku kayu hanya bisa menatap Youngmin malas. “Arrayo.”

“aku ikut ya, Youngmin,” sahut Seulmi yang kebetulan ikutan tim Youngmin-Kwangmin.

Mereka berdua pun meninggalkan Kwangmin menuju toko minuman. Di perjalanan Seulmi mencoba untuk membayar rasa bersalahnya terhadap Kwangmin dengan cara mengkonfrontasi Youngmin.

“Youngmin, sebenarnya kenapa kamu bersikap seperti itu terhadap Kwangmin? Kamu sadar gak sikap kamu ke Kwangmin tadi seperti apa? Seperti anak ayam yang takut kehilangan induknya, yang akan mematuk apa aja yang mendekati induknya. Kamu itu protektif sekali sama dia. Kasihan dia tau,” Seulmi membuka pembicaraan.

“wae? Sebagai saudaranya aku harus mengingatkan dia kalau dia berbuat salah. Aku hanya mau mengembalikan dia ke jalan yang benar kok.” Sahut Youngmin.

“maksudku, kamu kan udah tahu kalau Kwangmin itu suka sama Shinyeong Eonni. Semua anak basket dan cheerleader juga tahu akan hal itu. tapi kenapa kamu terlihat sekali kalau kamu gak suka akan hal itu. memangnya kenapa?” tanya Seulmi.

“Aku hanya gak suka kalau perhatian Kwangmin terbagi. Dan lagipula itu salah. Menyukai yeoja yang lebih tua itu gak benar Seulmi.”

“kamu terlalu posesif Youngmin. Walaupun kalian kembar, tapi kamu gak selamanya akan terus bersama kan. Kalian juga akan mengalami masa dimana kalian akan menyukai orang lain. Karena itu bisarkan saja saudaramu itu merasakan perasaan tersebut, kamu sebagai saudaranya bukannya seharusnya mendukungnya ya? Rasa cintamu terhadap kembaranmu itu sudah berubah jadi rasa egois, Youngmin.” Seulmi mencoba memberi nasihat pada Youngmin.

Youngmin terdiam mendengar ucapan Seulmi. Memang belakang ini sejak mereka tumbuh besar, Kwangmin lebih sering bermain sendiri dan meninggalkan Youngmin. Kwangmin terlihat punya lebih banyak teman daripada Youngmin. Kwangmin juga mengikuti kegiatan-kegiatan yang tidak bisa diikuti oleh Youngmin. Youngmin merasa Kwangmin memang sudah sangat jauh darinya. Dan ia tak ingin Kwangmin lebih jauh lagi darinya.

“Eh, kemana Kwangmin? Bukannya dia tadi duduk disini ya?”

***

Kwangmin melangkahkan kakinya memasuki toko yang menjual berbagai macam hiasan tangan. Ia tertarik pada sebuah cincin pasangan yang tampak sangat mempesona. Kwangmin lalu mengambil cincin tersebut dan membaca tulisan yang ada di kotaknya.

“Katanya cincin itu bisa mengikat kita dengan pasangan kita selamanya.” Ujar seseorang di sebelah Kwangmin. “tapi sebenarnya itu hanya trik penjual saja.”

Kwangmin pun menoleh dan mendapati Shinyeong telah berdiri di sampingnya. Melihat Shinyeong membuat Kwangmin langsung mengembangkan senyumnya.

“Noona, kok sendirian? Yang lain mana?” sapa Kwangmin.

“mereka naik wahana yang menyeramkan jadi aku gak ikutan. Kamu mau beli itu?” tanya Shinyeong sambil melirik kearah sekotak cincin yang ada di tangan Kwangmin.

“Ahh ne, sepertinya aku akan membelinya.”

Shinyeong pun ikutan mengambil sekotak cincin pasangan tersebut. “aku juga mau beli ini ah.”

Kwangmin bingung melihat hal tersebut. Ia punya firasat tidak baik tentang hal ini. dan lagi tadi Shinyeong sendiri bilang kalau cincin itu khusus untuk pasangan. Lalu untuk siapa cincin yang akan dibeli Shinyeong ini.

“Wah, ternyata kalian mau beli cincin ya?? Cincin apa ini? kenapa sekotak isinya ada dua? Apa kita harus beli dua?” Youngmin yang tiba-tiba muncul langsung menyela di antara Shinyeong dan Kwangmin.

Shinyeong tersenyum melihat kedatangan Youngmin. “cincin ini harus dibeli sepasang. Karena katanya cincin ini bisa mengikat kita dengan pasangan kita. Kamu mau beli? Ini bukan hanya untuk pasangan saja, tapi bisa untuk saudara dan juga teman.”

“kalau Noo, eh maksudku eonni, kamu mau beli cincin ini untuk siapa?” tanya Youngmin sambil melirik Kwangmin tajam. “namjachingu?”

Shinyeong terlihat malu mendengar ucapan Youngmin. Dengan salah tingkah ia mulai mengalihkan perhatian Youngmin dengan menunjukkan beberapa gelang yang terpajang di rak. Sepertinya ia tak ingin masalah percintaannya dikupas lebih jauh lagi. Kwangmin hanya bisa tertunduk lesu melihat reaksi dari Shinyeong tersebut. Sementara Youngmin, ia tersenyum penuh kemenangan.

“Ahh, jadi Eonni udah punya namchin? Nugu? Teman satu unversitaskah? Cincin itu eonni beli untuk namchin eonni kan?” tanya Youngmin kembali.

Kwangmin sudah menarik-narik lengan baju Youngmin agar Youngmin berhenti mengorek-ngorek lebih lanjut mengenai hubungan Shinyeong dengan namjachingunya. Tentu saja Kwangmin tak ingin mendengar mengenai kisah saingannya itu.

“ne, seseorang di universitas. Kamu sendiri sudah punya namjachingu belum?” Shinyeong balik bertanya pada Youngmin.

“Ajikdo. Tapi Kwangmin sudah punya. Ada di Jepang sana. Namanya Yura. Tapi Kwangmin malah meninggalkannya dan pergi ke Seoul. Kasihan Yura, dia sampai memintaku untuk menjemput Kwangmin untuk pulang ke Tokyo.” Cerocos Youngmin.

Kwangmin sudah gerah akan sikap Youngmin ditambah mendengar Youngmin menyebutkan nama Yura. Kwangmin benar-benar geram pada Youngmin. Bahkan sebelum Shinyeong bertanya padanya, Kwangmin sudah pergi meninggalkan mereka berdua keluar dari toko tersebut.

“Eonni, chakkaman,” kata Youngmin pada Shinyeong. Kemudian Youngmin berlari keluar mengejar Kwangmin.

Youngmin mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman ria. Tapi ia tak menemukan Kwangmin sama sekali. ia akhirnya berpindah tempat sampai ke dekat air mancur, dan ternyata Kwangmin ada disana sedang mencuci mukanya di salah satu keran air minum.

“Kwangmin, wae geurae? Kenapa kamu tadi menabrakku seperti itu sih?” ujar Youngmin yang protes akan perlakuan Kwangmin sebelum meninggalkan toko tadi. Kwangmin tadi pergi keluar toko setelah menabrak bahu Youngmin dengan kasarnya.

Kwangmin masih tampak memunggunginya. Bahunya naik turun dengan cepat. Ketika ia berbalik, aura kemarahan terpancar jelas di wajahnya.

“Neo jeongmal wa geurae?! Kenapa kamu selalu menggangguku seperti itu?! apa tidak cukup bagimu hanya dengan menghancurkan acaraku?! Dan sekarang kamu menyebut-nyebut nama Yura di depan Shinyeong Noona!!” bentak Kwangmin.

“Naega wae?!!” protes Youngmin. “harusnya kamu sadar. Noona itu udah punya namjachingu, tapi kenapa kamu masih saja mengharapkannya. Kamu gak lihat sikapnya tadi?! Kamu udah kalah Kwangmin!”balas Youngmin.

“aku sudah tahu akan hal itu! tak bisakah kamu membiarkanku?! Kenapa kamu jahat begini sih?!” seru Kwangmin.

“Aku jahat gimana sih?!” Youngmin tak kalah emosi.

“aku menyukai Shinyeong Noona. Dan aku akan terus berusaha sampai aku benar-benar ditolak olehnya. Tapi kamu… kamu membuat dia sudah antipasti sama aku gara-gara kamu menyebut-nyebut nama Yura. Apa harus kamu menghancurkanku seperti ini! jangan pernah sebut nama Yura di depanku, kamu sudah tahu akan hal itu!”

“tapi aku… Kwangmin jangan bilang kalau kamu datang kesini karena menghindari Yu…”

“Jangan sebut namanya!!” Kwangmin memotong ucapan Youngmin. “aku gak punya saudara kembar sepertimu, kamu bukan saudaraku, Menjauh dari hadapanku. Aku gak mau kenal kamu!” seru Kwangmin sambil mendorong Youngmin dengan kasarnya.

Youngmin tersungkur karena tindakan kasar Kwangmin barusan. Ia bahkan belum bisa percaya kalau Kwangmin baru saja mendorongnya hingga jatuh. Kejadian di toko tadi saja sudah membuat Youngmin bingung ditambah sekarang. Masih terpaku, kalimat Kwangmin terus berputar-putar di otak Youngmin.

“kamu sudah berubah banyak Kwangmin. Kamu yang sekarang tidak seperti saudara kembar yang kupunya,” lirih Youngmin.

***

“Kwangmin,” panggil Shinyeong yang sudah menunggu Kwangmin di depan toko aksesoris tadi. “Youngmin mana? Tadi dia menyusulmu, apa kamu sudah ketemu dia?”

“Mianhae Noona, karena Youngmin acara kita hari ini jadi berantakan. Dia selalu saja menggangguku,” ujar Kwangmin sambil menundukkan kepalanya.

“Aniyo. Adikmu itu lucu ya,”

“dia itu hyu eh noona-ku, dia lebuh tua 6 menit dariku,” sahut Kwangmin lesu.

“ohh,” Shinyeong mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda mengerti. “ah iya, ini untukmu.”

Shinyeong menyodorkan bungkusan plastik kecil. Kwangmin pun segera membuka isi plastik tersebut. Ternyata isinya adalah cincin pasangan yang mereka lihat tadi.

“sepertinya kamu menginginkan cincin ini. anggap saja ini hadiah dariku.” Ujar Shinyeong.

Kwangmin menatap sekotak cincin itu dengan terharu. “Gomawoyo Noona.”

“ne, cheonmaneyo. Aku juga membelinya. Semoga kita awet dengan pasangan kita ya,” ujar Shinyeong riang.

Kwangmin langsung merasa lemas mendengar ucapan Shinyeong. Berat hati ia menggenggam cincin tersebut. Akhirnya ia membulatkan niatnya, ya ia harus mengatakan perasaannya saat ini juga. Peduli apa tentang Shinyeong yang sudah punya kekasih, setidaknya ia ingin agar Shinyeong tahu kalau ia mencintainya.

“Aku belum punya pasangan Noona. Jangan diambil hati omongan Youngmin tadi.” ujar Kwangmin yang sudah tertunduk lesu. “Noona, ada yang ingin aku katakan. Tapi berjanjilah padaku kalau Noona tidak akan marah padaku setelah mendengar ucapanku ini.” ucap Kwangmin.

Shinyeong tampak diam menunggu Kwangmin melanjutkan kalimatnya.

“Aku menyukaimmu Noona. Karena itu aku pindah ke Seoul. Sejak melihatmu di Tokyo waktu turnamen dulu, aku sudah suka padamu.” Kwangmin menundukkan kepalanya semakin dalam. “Ahh, Noona pasti berpikir kalau aku inisedang main-main. Tapi aku sungguh-sungguh Noona. aku mengatakan ini bukannya karena aku ingin Noona memutuskan namjachingu Noona dan menerimaku. Tapi aku hanya ingin agar Noona tahu kalau aku menyukaimu. Noona kamu gak marah padaku kan?”

Shinyeong tersenyum mendengar ucapan Kwangmin. “angkat kepalamu Kwangmin. Mana ada namja yang menembak yeoja dengan cara seperti itu.”
“gomawo,” ucap Shinyeong setelah Kwangmin mengangkat wajahnya dan menatap Shinyeong. “untuk keberanianmu. Tapi aku harus bagaimana sekarang. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih atas perasaanmu yang tulus itu. selebihnya aku tak bisa.”

“Gwenchana.” Kwangmin memaksakan senyumannya. “Noona sudah mau mendengarkanku dan tidak marah padaku saja itu sudah cukup.”

“mianhae, Kwangmin-ah.”

***

Youngmin terlihat berjalan sendirian di Hongdae. Sehabis bertengkar dengan Kwangmin, Youngmin memutuskan untuk pulang sendirian. Bahkan sms dari Seulmi yang mengajaknya untuk pulang bersama pun tak dijawabnya. Ia masih memikirkan ucapan Kwangmin tadi di taman ria.

“aku gak punya saudara kembar sepertimu, kamu bukan saudaraku. Menjauh dari hadapanku. Aku gak mau kenal kamu!”
Menyakitkan rasanya ketika saudaranya sendiri yang pernah berbagi rahim dengannya tiba-tiba mengatakan hal sekejam itu. tidak mau menganggapnya sebagai saudaranya lagi.

“Aishhh!! Emangnya aku salah apa sih sampai dia harus mengatakan hal seperti itu.” gerutu Youngmin.

“aku gak pernah melihat Kwangmin semarah itu. Dia marah karena aku menyebut nama Yura atau karena aku mengganggu acaranya dengan Noona itu? ada apa dengan dia dan Yura sebenarnya? kenapa sekarang Kwangmin jadi semakin menjauh saja dariku sih.”

Youngmin terus berkomat-kamit di sepanjang jalannya. Ketika ia melewati pertigaan lampu merah, ia melihat teman sekamarnya, Jang Haebyul, tengah berdiri di depan sebuah café yang ada di seberang jalan. Baru saja Youngmin hendak menyapanya, tapi Haebyul sudah terlanjur melambaikan tangannya kearah yang berbeda. Youngmin pun mengikuti arah pandang Haebyul. Ia penasaran siapa yang ditemui Haebyul setiap akhir pekan seperti ini. Belum lagi Haebyul menunjukkan senyumannya, baru kali ini Youngmin melihat teman sekamarnya itu tersenyum seceria itu.

Seseorang pria paruh baya sudah menghampiri Haebyul dan merangkul Haebyul. Sementara Haebyul sudah tersenyum malu-malu menatap pria tersebut. Dari perawakannya saja Youngmin sudah bisa menduga kalau pria tersebut pasti sudah beristri. Apakah dia ayahnya Haebyul?

“banyak gossip tak enak tentang Miss Jang. Katanya dia itu ‘jualan’. Kamu mengerti kan maksudku? Jualan? Main dengan ahjussi-ahjussi dan mendapatkan uang dengan berkencan dengan mereka. aku sih gak percaya. Tapi banyak anak yang melihat kalau akhir pekan Miss Jang itu kencan dengan seorang ahjussi.”

Begitulah kalimat yang pernah diucapkan Seulmi dulu. Walaupun Youngmin sudah tidak percaya lagi dengan kata-katanya, tapi begitu melihat dengan mata kepalanya sendiri ia jadi sedikit terpengaruh.

“Ahh aniya, itu pasti Appa-nya. Ne, walaupun dia judes dan galak, tapi Haebyul pasti tidak akan semurah itu sampai menjual dirinya seerti itu.” Gumam Youngmin.

***

Sudah jam 09.20 malam dan Haebyul belum pulang juga. Youngmin sudah menunggu dengan cemas di kamar sambil sesekali melirik ke jendela. Pikirannya bercabang antara ucapan Kwangmin dengan pemandangan Haebyul tadi sore. Kali ini ia mengesampingkan urusan Kwangmin dan memutuskan untuk bertanya pada Haebyul tentang apa yang terjadi. Karena Youngmin merasa ini salah dan tidak bisa dibiarkan. Dan lagipula ia belum tenang kalau belum dapat kepastian langsung dari Haebyul.

Terdengar suara jendela kamar dibuka. Dan benar saja Haebyul masuk dari jendela. Ia langsung meletakkan tasnya sembarangan dan mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi.

“aigoo, anak itu bahkan tak menyapaku sama sekali,” gumam Youngmin sambil terus memperhatikan gerakan Haebyul.

“Oh, Youngmin. Kamu belum tidur?” tanya Haebyul yang sudah selesai berganti pakaian. Sejak kejadian-mata-suci-Youngmin-yang-ternoda, Youngmin meminta pada Haebyul untuk berganti pakaian di kamar mandi dengan alasan ia punya trauma kalau melihat orang tidak bepakaian. Dan ini juga demi melindungi matanya agar tidak melihat yang tidak boleh dilihat.

“belum. Kamu habis darimana?” Youngmin balik bertanya. “dari pagi ketika aku bangun kamu udah gak ada dan kamu baru pulang jam segini?”

“nada bicaramu seperti kamu itu namjachinguku saja. Namchinku saja tidak begitu.” Sahut Haebyul.

“aku hanya ingin tahu kemana saja kamu sampai pergi seharian.”

“Aku ada pemotretan di daerah Shinsadong. Ada apa memangnya?”

“kamu seharian di Shinsadong?” lalu yang aku lihat di Hongdae tadi siapa? Anak ini mencoba berbohong dariku. Batin Youngmin.

“ne, memangnya kenapa? Kamu ini kenapa bertingkah seperti pengawas begitu sih.” Ujar Haebyul dengan kening yang berkerut. Terlihat sekali kalau ia tidak suka ditanyai seperti itu.

“Aku tadi melihatmu di Hongdae. Tapi..” Youngmin memperhatikan raut wajah Haebyul.

Haebyul tampak kaget begitu mendengar kalimat Youngmin. “tapi apa…?”

“tapi kamu keburu hilang duluan. Padahal aku mau ajak kamu pulang bareng.” Youngmin akhirnya menahan keingintahuannya.

“oh, itu aku kebetulan lewat sana. Geureom, aku tidur duluan ya. Annyeonghi jumuseyo,” sahut Haebyul dan langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

Ahh tampaknya aku harus cari tahu sendiri masalah ini. rasanya tidak enak menanyakan langsung pada Haebyul mengenai peristiwa-sore-hari-di-Hongdae. Kwangmin bisa menunggu. Aku harus mengembalikan Haebyul ke jalan yang benar, batin Youngmin.

***

Youngmin melangkahkan kakinya menuju gedung olahraga Starship. Ketika ia sudah sampai di depan gedung, ia menghentikan langkahnya. Ia ingin masuk tapi ia masih takut akan Kwangmin. Mengingat Kwangmin kemarin begitu marah padanya bahkan sampai tak mau melihat wajahnya. Youngmin juga tidak mau disemprot untuk yang kedua kalinya. Selain itu ia masih merasa bersalah pada Kwangmin.

“mau berdiri disitu sampai kapan?” tegur seseorang di belakang Youngmin.

Ternyata Kwangmin sudah berdiri di belakang Youngmin sambil menenteng bola basket.dengan angkuhnya ia menatap Youngmin, membuat Youngmin langsung memalingkan wajahnya.

“aku hanya ingat kemarin ada yang bilang padaku untuk jangan pernah muncul di hadapannya. Aku jadi bingung bagaimana mau mengurusi tim basket kalau salah satu pemainnya ada yang benci padaku,” sahut Youngmin sambil memanyunkan bibirnya.

Kwangmin tersenyum samar melihat tingkah kembarannya ini. Rupanya Youngmin masih mengingat kejadian kemarin di taman ria. Ia lalu menyampirkan tas yang dibawanya ke pundak Youngmin.

“bawakan tasku, manajer Jo. Kalau kamu merasa bersalah dengan apa yang kamu lakukan kemarin, sebaiknya kamu jangan pernah lagi untuk mencoba mengganggu Shinyeong Noona. Dan berhubung kemarin aku dapat hadiah dari Noona, jadi kamu aku maafkan.”

Youngmin melongo melihat perubahan sikap Kwangmin. Walaupun Kwangmin memang tak pernah lama marah padanya, tapi kejadian kemarin membuat Youngmin berpikir kalau Kwangmin memang benci dia. Melihat sekarang Kwangmin memaafkannya dengan mudah hanya karena Shinyeong, Youngmin pun jadi kembali merasa cemburu.

“jadi karena Shinyeong Noona memintamu baru kamu maafkan aku?”

“Ne. dan kamu tahu? Shinyeong Noona memberikanku ini.” Kwangmin menunjukkan kotak kecil dengan sepasang cincin di dalamnya. “dia menyuruhku untuk memberikannya padamu satu, tapi aku tidak akan memberikan ini padamu kalau kamu masih menggangguku. Berjanjilah.”

“cih, simpan saja cincin murahan itu. Aku gak butuh.” Angkuh Youngmin. Ia langsung meninggalkan Kwangmin masuk ke dalam gedung olahraga.

“aishh, anak itu susah sekali dirayunya. Bikin pusing aja.” Gumam Kwangmin.

“ahh iya. Ada yang ingin aku tanyakan padamu.” Sahut Youngmin tiba-tiba. Ia kembali berbalik dan menghampiri Kwangmin. “kamu tau Miss Jang kan? Menurutmu dia itu gimana?”

“Miss Jang?? Oh Jang Haebyul maksudmu? Aku gak terlalu kenal dengannya dan lagipula kelas kita kan berbeda jadi gak ngurusin. Ada apa dengan dia?”

“kamu gak tau atau gak mau tau? Kamu pasti tau soal gossip-gosip itu kan?” selidik Youngmin.

“gossip apa? Ahh kalo dia pacaran sama idol itu? Itu Cuma gossip, itu kan karena mereka satu acara aja. Ngomong-ngomong sejak kapan kamu jadi suka gossip?”

“Yah. Bukannya begitu! Aku dengar gossip kalau Miss Jang itu suka ‘jalan’ sama ahjussi. Dan kemarin aku liat dia sama seorang ahjussi. Selama aku sekamar sama dia, dia gak pernah senyum padaku. Tapi kemarin dia senyum bahagia sekali pada Ahjussi itu. Aku jadi penasaran.” Cerita Youngmin.

“urusi saja dirimu, Young. Gak usah pedulikan gossip itu. Bisa saja yang kamu lihat itu adalah Appanya. Jangan curigaan seperti itu.” Kwangmin menasihati Youngmin.

“tapi, dia kan teman sekamarku. Dan aku patut menegurnya kalau ia melakukan kesalahan kan.”

“Aigoo, jiwa pahlawanmu muncul lagi. Ne, tapi kamu gak boleh ikut campur dalam urusan pribadi orang. Karena kamu gak tau Haebyul itu seperti apa. Sudah ayo masuk ke dalam.”

Kedua saudara itu pun akhirnya masuk ke gedung olahraga dengan berbagai pertanyaan masih berkecamuk di otak Youngmin. Bukannya ingin ikut campur atau apa, tapi Youngmin tidak suka melihat temannya menyimpang begitu. Ia membulatkan tekatnya untuk mencari tahu tentang Haebyul.

=TBC=

Advertisements
FF – Twins Love Story | chapter 2 Kwangmin First Date | by beedragon

13 thoughts on “FF – Twins Love Story | chapter 2 Kwangmin First Date | by beedragon

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s