FF | Turn Back The Time | by beedragon


Title : Turn back the time

Author : beedragon

Genre : Romance(?)

Cast:

Hwang yongbi (OC)

Minho Shinee as Choi Minho

Length : Oneshoot

Rating / pairing : PG15 / Straight

Summary : Ketika keegoisan hampir saja membuat seseorang mengambil keputusan yang salah, waktulah yang membuatnya kembali ke jalan yang benar. Kita harus memikirkan kembali semuanya sebelum kita menyesali semua keputusan yang sudah dibuat. Karena kita tak bisa memutar kembali waktu.

Disclaimer : This is only fiction. This is only Bee imagination. I Do Own This Fiction so Do Not Copy Paste Without My Permission and Don’t Be Silent Reader.

==00==

Sepasang kekasih itu terlihat saling diam satu sama lain. Mereka terus menatap ke arah cangkir minuman yang sudah terhidang di hadapan mereka sejak setengah jam yang lalu. Café Da Vinchi yang cukup popular di kalangan para couple ini menjadi saksi kebisuan mereka.

“jadi….”si perempuan membuka suara. “mau sampai kapan kita diam-diaman seperti ini?”

Si lelaki akhirnya mengangkat kepalanya. Ia menghela napas sejenak kemudian menatap si perempuan. “mengenai pembicaraan kita semalam soal…. berpisah. Aku ingin kita memperjelas mengenai hal tersebut.”

Si perempuan kembali menundukkan kepalanya yang tiba-tiba terasa berat. “arrayo. Aku akan mengikuti semua keputusanmu. Walaupun aku menolaknya, pasti kamu akan tetap pada pendirianmu. Dan aku tak kan bisa berbuat apa-apa untuk merubahnya.”

“lihat dirimu ini. bahkan kamu tak bisa melakukan apapun untuk kita. Apa akan seperti ini akhirnya?!” si lelaki terdengar sedikit menaikkan nada suaranya.

“aku bisa apa? Aku juga tak ingin kita berakhir seperti ini. tapi sepertinya dirimu memang sudah tak ingin mempertahankan aku lagi. Lalu aku harus melakukan apa agar kamu kembali seperti dulu? Aku bahkan tak tahu apa yang menyebabkan kamu berubah seperti ini, Oppa.” Si perempuan mencoba menahan dirinya agar suaranya tidak terdengar bergetar.

“Masalahnya bukan ada padamu, tapi padaku. Yasudah, kalau memang seperti ini akhirnya, kita…. berpisah saja.”

Hening. Ekspresi si perempuan terlihat menegang begitu mendengar ucapan si lelaki. Ia akhirnya menenangkan dirinya dengan meminum pearl tea dihadapannya. Setelah berhasil mendapatkan sedikit kekuatan, si perempuan akhirnya kembali angkat bicara.

geurae. Uri geumanhaja.” Lirih si perempuan. “apapun yang aku lakukan benar-benar tak bisa membuatmu kembali padaku. Aku sudah mempersiapkan hati ini untuk menerima semuanya.  Annyeong.”

Oddie?” tanya si lelaki ketika melihat tampaknya si perempuan hendak meninggalkan kursinya.

“Aku tak kuat berlama-lama di hadapanmu. Bisa-bisa semua ketegaran yang sudah kubangun itu runtuh. Tapi aku akan mencoba untuk menerima semuanya. Biarkan aku pergi untuk menenangkan diriku.”

Si lelaki segera mencekal lengan si perempuan menahannya agar tidak pergi meninggalkannya. “Apa kamu sungguh tak tahu alasannya?”

“Aku tak perlu tahu kalau itu justru akan menyakitiku, Oppa.”

“Aku hanya ingin membuktikan kalau aku bisa tanpamu. Aku hanya ingin…”

“seandainya aku bisa memutar waktu. Aku ingin kamu mengingat kalimat yang selalu kamu ucapkan kepadaku. Tentang betapa kamu tak bisa hidup tanpaku. Tentang betapa kita memang ditakdirkan untuk bersama. Kamulah yang mengucapkan itu semua, Oppa. Tapi sepertinya kamu sudah lupa. Annyeong.”

Akhirnya si perempuan meninggalkan si lelaki yang tampaknya mulai menyesali keputusannya.

==00==

Hwang Yongbi membuka matanya perlahan. Ia tidak dapat tidur semalam. walaupun  berkali-kali berusaha memejamkan matanya, tapi tak dapat terlelap atau bahkan tenggelam ke alam mimpi sekalipun.

Ia menatap pigura foto di samping tempat tidurnya. Menatap wajah dirinya yang sedang tersenyum bahagia bersama dengan lelaki yang di cintainya. Dibaliknya pigura foto yang tampak seperti sedang menertawakan keterpurukkannya pagi ini. lalu ia berpaling pada ponsel touchscreen yang sedari tadi tertidur bersamanya. Kembali ia mendapati ekspresi yang sama dengan pigura foto tadi. Dilemparnya sang ponsel secara sembarangan di kasurnya.

 

“kurasa hubungan ini sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Aku tak ingin kita terus saling menyakiti seperti ini. mungkin memang sebaiknya kita berpisah saja.”

Kalimat itu terus terngiang di telinga Yongbi. Percakapan mereka –Yongbi dan Choi Minho,kekasihnya- melalui telepon kemarin sudah sukses membuat Yongbi terjaga sepanjang malam. Yongbi menghela napas berat. Pandangannya kosong, sekosong pikirannya.

Ia lalu beranjak dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi. Yang harus ia lakukan saat ini adalah bersiap-siap. Karena hari ini adalah hari yang penting baginya. Sangat penting sampai ia bahkan tak ingin hari ini datang. Karena hari ini ia dan kekasihnya akan memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.

Selesai mandi, ia segera merias dirinya. Memakai coat berwarna cokelat pastel yang cukup hangat serta memakai make up tipis. Yongbi menatap refleksi dirinya. Coat yang dipakainya bahkan tak bisa menutupi rasa dingin di yang Yongbi rasakan.

 

“kenapa kamu membelikanku coat? Ini kan musim panas? Kamu mau membuatku mati kepanasan?”

 

“karena aku gak mau melihat badanmu ditatap oleh mata-mata para namja itu. bagaimana bisa aku membiarkan badan yeojachinguku dinikmati oleh mata namja lain.”

 

“kamu aneh Oppa. Kemarin kamu  membelikanku minidress yang cukup terbuka. Sekarang kamu menyuruhku memakai coat ini? di musim sepanas ini? aku bisa mati kegerahan.”

 

“lagipula aku tidak pernah melihatmu memakai dress yang aku berikan itu. selain itu pakailah coat ini ketika sedang jalan denganku. Dengan begitu tidak akan ada namja yang melirikmu lagi.”

 

“kamu mau membuat namja-namja itu tidak melirikku? Eii egois sekali dirimu Oppa. Aku bisa jadi perawan tua kalau tidak ada namja yang suka padaku.”

 

“baguslah. Karena dengan begitu kamu jadi milikku seutuhnya. Kalau tidak ada yang suka padamu, setidaknya Choi Minho ini akan selalu menyukaimu.”

“tapi sekarang kamu sudah tidak menyukaiku lagi oppa. Setelah kamu membuat namja-namja itu tidak mau melirikku sekarang kamu mau meninggalkanku. Jahat sekali dirimu,” lirih Yongbi.

Yongbi meninggalkan cermin yang mulai membuatnya makin merasa miris. Ia beralih ke sepatu mini boot berwarna cokelat tua yang terpajang rapi di lemari sepatunya. Yongbi mengambil sepatu tersebut dan mulai memakainya. Ia mulai menjalin tali-tali bootnya. Tapi sepertinya tali-tali itu tak mau menuruti perintahnya.

 

“sepatu boot? Bi-ya, kamu bahkan gak bisa mengikat tali sepatu dengan benar bagaimana bisa kamu beli sepatu boot dengan tali seperti itu?”

 

“sepatu ini bagus Oppa. Tapi entah kenapa talinya longgar terus ketika aku mengikatnya. Ehh,, apa yang mau kamu lakukan Oppa. Kenapa berlutut seperti ini?”

 

“memangnya menurutmu aku akan melakukan apa?”

 

“ohh kamu mau mengikat tali sepatuku. Kukira apa.”

 

“Bi-ya, menurutmu apa persamaan sepatu dengan lelaki?”

 

“apa?”

 

“mereka sama-sama melindungi langkahmu. Aku akan seperti sepatumu, yang melindungi dirimu dari kerikil-kerikil di jalanan. Aku yang akan memperkuat langkahmu agar jangan sampai kamu terjatuh ketika berlari. Tapi jangan samakan aku seperti sepatumu yang sudah usang ya. Yang begitu sudah tidak bisa dipakai lagi langsung kamu lempar dan ganti dengan yang baru.”

 

“bagaimana bisa kamu menyamakan dirimu dengan sepatu, Oppa? Aku tidak memiliki pandangan seperti itu padamu. Bagiku, kamu itu seperti payung. Dia akan selalu melindungiku dari matahari dan juga hujan. Oppa tahu tentang pepatah sedia payung sebelum hujan? Seperti itulah arti dirimu bagiku. Aku akan selalu membutuhkanmu baik dalam keadaan hujan atau tidak. Karena kamu akan selalu ada di sampingku.”

 

“yah, jangan menggodaku seperti itu. atau kamu akan kuberi hukuman karena membuatku tidak tahan untuk tidak menciummu saat ini.”

“dan apa jadinya diriku ketika aku sudah tidak memiliki dirimu? Aku bahkan tidak bisa mengikat lagi tali sepatu ini. kamu sudah membuatku terlalu bergantung padamu. Ahh eottokke?” Yongbi kemudian melepas satu persatu tali sepatunya. Dibiarkannya begitu saja sepatu tersebut tanpa tali.

Yongbi lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sudah semalaman ia menangis dan sekarang ia kembali menangis. Memikirkan perpisahan mereka yang akan ia hadapi hanya dalam beberapa jam ke depan benar-benar membuat hatinya sakit. Kisah cinta yang sudah mereka bangun selama bertahun-tahun harus kandas begitu saja tanpa ada sebab yang jelas.

“Apa yang membuatmu begitu ingin memutuskanku, Oppa? Aku bisa apa tanpamu? Apa yang harus aku lakukan agar kamu kembali lagi padaku?” isak Yongbi.

Setelah puas menangis ia kembali merapikan make up-nya yang tadi sempat terhapus oleh air matanya. Ia harus tampil cantik hari ini. Agar ketika Minho melihat dirinya hari ini, ia akan merubah keputusannya dan kembali memulai hubungan mereka.

==00==

Minho terbangun dari tidurnya. Ia mengerang sejenak karena kepalanya terasa begitu berat. Masih berusaha beradaptasi dengan sinar matahari yang mulai menyusup ke kamarnya, tangan minho mulai bergerak mencari sesuatu berbentuk persegi panjang kecil. Setelah berhasil membuka matanya dengan sempurna ia menatap ponsel yang berhasil ditemukannya. Minho terlihat kecewa begitu melihat tidak ada satupun message atupun miscall dari seseorang yang biasa membangunkan tidurnya di pagi hari.

“tampaknya kamu sudah benar-benar tidak peduli lagi padaku. Kamu bahkan sudah tidak mau membangunkanku lagi.”

memangnya kamu gak pasang alarm? Kenapa kamu sama sekali tidak bisa bangun pagi,Oppa?”

 

“aku sudah pasang alarm. Tapi mereka tidak berbunyi.”

 

“Mereka bukannya tidak berbunyi. Tapi mereka sudah lelah berteriak membangunkanmu. Untung aku selalu rajin meneleponmu. Coba kalau aku tidak membangunkanmu, ada kebakaran di rumahmu pun kamu tak akan bangun.”

 

“sepertinya aku hanya bisa bangun tidur kalau mendengar suaramu saja.”

 

“Tapi waktu kita pergi ngedate ke chunceon dulu, kamu bisa bangun pagi. Padahal aku gak meneleponmu.”

 

“Ahh, itu karena memang aku tak bisa tidur semalaman memikirkanmu. Jadinya aku bisa bangun pagi dehh.”

 

“kalau aku tidak mau lagi membangunkan mu di pagi hari, apa yang mau kamu lakukan Oppa?”

 

“hmmm, aku akan segera melamarmu. Dengan begitu kamu jadi harus mau membangunkan tidurku di pagi hari.”

Minho kembali menekan kepalanya yang terasa semakin nyeri. Ia lalu melempar bantalnya dengan kesal ke lemari dan menyebabkan beberapa kolase foto yang terpajang disana berhamburan. Minho beranjak memunguti foto-foto tersebut. Matanya menangkap satu foto polaroid, replika dirinya dengan Hwang Yongbi, kekasihnya. Sebuah foto yang diambil sekitar empat bulan yang lalu saat mereka berdua merayakan hari jadi mereka yang ke empat tahun.

“Ahjussi, bisa tolong fotokan kami?”

 

“Ah, ne. ahh nampyeon mendekatlah ke buin-mu. Ah ahni, peluk dia, jangan seperti orang baru kenal begitu… ahh geurae… hana dul set.. kimchi!! Aigoo neomu yeppeuda.”

 

 “Gomawo ahjussi.”

 

“Aigoo, kalian pengantin baru sangat serasi.”

 

“ehh, kami bukan pengantin baru ahjussi. Kami hanya….”

 

“Aein (kekasih).”

 

“Ahh ajik aein? Padahal kalian cocok sekali. Banyak yang bilang kalau wajahmu mirip dengan wajah pasanganmu itu artinya kalian berjodoh. Saya percaya kalian berjodoh, karena kalian terlihat seperti adik-kakak.”

 

“Jinjja?? Wah kalau seperti itu apa sebaiknya aku lamar saja ya yeojachinguku ini ahjussi? Hahaha.”

 

“ne ne. aku mendoakan kalian awet selalu dan bahagia. Annyeong.”

 

“kamsahamnida ahjussi. Annyeongi gyeseyo.”

 

“kamu dengar kata ahjussi itu? kita berjodoh. Ahh kita ini memang ditakdirkan untuk bersama ya, Bi? Bagaimana menurutmu?”

 

“hmm, molla. Mungkin ahjussi itu salah lihat. Aku mana mirip denganmu. Lalu kalau aku mirip denganmu memangnya kenapa?”

 

“aku sungguhan akan melamarmu segera. Aku akan mendatangi orangtuamu sebelum ada orang lain yang juga mengaku mirip denganmu datang dan melamarmu.”

“AAAARRGGGHHH!!!” seru Minho. Ia mencoba menghapus semua ingatan-ingatan yang membuat kepalanya kembali terasa sakit. “Bi-ya…. Bi-ya…. Wae uri ga ireokke?? Jeongmal taptaphae.”

Minho akhirnya beranjak dari kamarnya. Waktunya semakin menipis, karena sejam lagi ia harus sudah tiba di café Da Vinchi, tempat ia berjanji bertemu dengan Yongbi hari ini untuk membicarakan masalah mereka.

==00==

Yongbi berjalan tertatih menyusuri komplek perumahannya. Ia menatap pohon-pohon yang daunnya  mulai menguning. Jalanan sekarang penuh dengan daun yang berguguran. Tentu saja karena sekarang adalah musim gugur. Hati Yongbi terasa seperti dedaunan yang mulai berjatuhan dari dahannya itu.

Perlahan ia melangkah, karena ia tak ingin cepat sampai ke tempat tujuan. Karena semakin dekat ia dengan tempat tujuannya, semakin gugur pula ketegaran yang ia rangkai sepanjang malam. Ia begitu takut untuk sampai ke café Da Vinchi, seperti pohon yang takut akan datangnya musim gugur.

Seketika matanya menangkap sebuah sepeda yang teronggok di pinggir jalan. Sebuah sepeda yang sekarang sudah membuatnya kembali masuk ke alam masa lalunya.

 

“Oppa, kenapa kamu bawa sepeda? Motormu kemana?”

 

“aku hari ini ingin naik sepeda berdua denganmu. Bagaimana romantis kan? Banyak yang bilang kalau sepeda itu alat transportasi paling romantis.”

 

“Ahh itu sih kalimat para penjual sepeda Oppa, bagaimana bisa kamu percaya?”

 

“tentu saja. Karena sepeda itu ada filosofinya, Bi-ya.”

 

“filosofi lagi?! Ahh, baiklah apa lagi kali ini?”

 

“di benda seringkih ini aku berusaha mengayuhnya dan menuntunmu. Aku yang akan menggiringmu hingga sampai ke tempat tujuan. Mengayuh sepedanya dengan penuh perjuangan agar kamu merasa nyaman. Jadi jangan pernah mempercayakan tujuanmu kepada orang lain. Karena akulah tujuanmu. Arra.”

 

“ahh menyesal aku mendengarnya. Lagi-lagi filosofi yang aneh. Harusnya kamu bilang seperti ini oppa,, sepeda itu tidak seperti motor karena di sepeda guncangan sekecil apapun akan langsung terasa. Karenanya percayakan jalanmu padaku, karena aku akan berusaha mengayuh sepedaku dengan tidak menemui guncangan-guncangan yang akan mengganggumu. Harusnya kamu mengucapkannya seperti itu, Oppa.”

 

“ahh, lagi-lagi yeoja ini mengajariku. Baiklah. Pegangan yang erat, Bi! Aku akan membawamu menuju kebahagian yang tiada akhir!!”

Yongbi menekan dadanya yang terasa nyeri. Lemas, itulah yang ia rasakan. Ia kemudian berjongkok memeluk lututnya dan kembali menangis. Airmatanya terus berjatuhan bersamaan dengan dedaunan yang berguguran memenuhi jalan.

“oppa, kumohon jangan biarkan aku kehilangan arah seperti ini. kenapa sekarang kamu ingin meninggalkanku setelah kamu bertemu dengan kerikil yang bahkan tidak pernah kamu lalui. Ada apa denganmu sesungguhnya? Apa yang harus aku lakukan tanpamu sekarang? Hiks..”

==00==

Hongdae siang ini terasa begitu sepi, sesepi hati Minho. Ia berjalan sendirian melewati toko-toko yang tersebar di daerah Hongdae. Siapapun yang pergi ke Hongdae pasti untuk tujuan bersenang-senang, tapi tidak dengan Minho. Dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua, ia benar-benar terlihat seperti pria yang baru saja kehilangan hartanya.

Minho menatap jalanan Hongdae yang bertebaran pasangan-pasangan manusia. Tapi matanya terpaku pada seorang gadis berambut panjang yang tengah berjalan di depannya. Gadis itu berbalik dan menatapnya sambil terus berjalan mundur. Ia tersenyum melihat kekagetan Minho.

 

“oppa, kita mau kemana siang ini? jangan bilang café Da Vinchi lagi, aku bosan kesana. Bagaimana kalau kita karaokean hari ini? hmm ottae?”

 

“ Oppa, kamu mau makan apa hari ini? kamu kan atlet jadi jangan biarkan badanmu memasukkan makanan yang aneh. Hmm bagaimana kalau hari ini aku yang pilih menunya.”

 

“Oppa, kita mampir ke toko itu dulu ya. Ahh lihat baju itu lucu sekali. pasti itu terlihat keren kalau di pakai olehmu. Oppa jangan mentang-mentang kamu itu atlit jadi bajumu kaos semua. Sekali-kali pakai kemeja seperti itu. kajja”

Dengan aegyeo yang terlukis di wajah gadis itu siapapun takkan mampu menolak keinginannya. Tapi Minho masih saja terpaku menatap sosok di depannya itu. akhirnya minho menutup matanya sejenak, tapi bayangan gadis itu masih ada di hadapannya, masih menatapnya sambil tersenyum.

“Ahh jinjja michigetda,” lirih Minho.

Minho akhirnya berlari menembus bayangan gadis itu. Berlari sekencang-kencang seraya berteriak berharap semua ilusi itu menghilang.

“Apa yang sudah kuperbuat? Sudah jelas-jelas aku tak bisa hidup tanpanya dan sekarang apa yang sudah aku lakukan terhadapnya. Bi-ya, jeongmal minahaeyo.…”

==00==

Minho tiba di café Da Vinchi. Disana sudah ada Yongbi yang duduk di dekat jendela. Perlahan Minho menghampirinya. Dilihatnya Yongbi tengah memainkan cincin di jari manisnya, cincin pemberian Minho. Kemudian Yongbi melepaskan cincin tersebut dan menyimpannya di dalam dompet. Melihat hal tersebut Minho pun langsung menegurnya.

“Mian, kamu sudah lama nunggu kah?”

“Aniyo, aku baru saja datang.” Bohong Yongbi.

Tentu saja Minho tahu Yongbi tengah berbohong. Minho sendiri sadar kalau ia terlambat setengah jam dari waktu yang mereka janjikan semalam.

Setelah Minho ikutan memesan minuman, sepasang kekasih itu kemudian saling diam satu sama lain. Mereka terus menatap ke arah cangkir minuman yang sudah terhidang di hadapan mereka. Café Da Vinchi yang cukup popular di kalangan para couple ini menjadi saksi kebisuan mereka.

“jadi….”Yongbi membuka suara. “mau sampai kapan kita diam-diaman seperti ini?”

Minho akhirnya mengangkat kepalanya. Ia menghela napas sejenak kemudian menatap Yongbi. “mengenai pembicaraan kita semalam soal…. berpisah. Aku ingin kita memperjelas mengenai hal tersebut.”

Yongbi kembali menundukkan kepalanya yang tiba-tiba terasa berat. “arrayo. Aku akan mengikuti semua keputusanmu. Walaupun aku menolaknya, pasti kamu akan tetap pada pendirianmu. Dan aku tak kan bisa berbuat apa-apa untuk merubahnya.”

“lihat dirimu ini. bahkan kamu tak bisa melakukan apapun untuk kita. Apa akan seperti ini akhirnya?!” Minho terdengar sedikit menaikkan nada suaranya.

“aku bisa apa? Aku juga tak ingin kita berakhir seperti ini. tapi sepertinya dirimu memang sudah tak ingin mempertahankan aku lagi. Lalu aku harus melakukan apa agar kamu kembali seperti dulu? Aku bahkan tak tahu apa yang menyebabkan kamu berubah seperti ini, Oppa.” Yongbi mencoba menahan dirinya agar suaranya tidak terdengar bergetar.

“Masalahnya bukan ada padamu, tapi padaku. Yasudah, kalau memang seperti ini akhirnya, kita…. pis….” Minho menggantungkan kalimatnya. Ia tak bisa meneruskan kata-katanya. Ia begitu menyadari betapa ia membutuhkan gadis yang tengah duduk di hadapannya ini. tapi keegoisannya terus menuntutnya untuk mengatakan hal yang sesungguhnya tidak diinginkannya itu.

Hening. Ekspresi Yongbi terlihat menegang begitu mendengar ucapan Minho. Ia akhirnya menenangkan dirinya dengan meminum pearl tea dihadapannya. Setelah berhasil mendapatkan sedikit kekuatan, Yongbi akhirnya kembali angkat bicara.

geurae. Uri geumanhaja.” Lirih Yongbi. “apapun yang aku lakukan benar-benar tak bisa membuatmu kembali padaku. Aku sudah mempersiapkan hati ini untuk menerima semuanya.  Annyeong.”

Rasa sesak itu menyelimuti hati Minho begitu mendengar ucapan Yongbi. Ia tak ingin semuanya berakhir. Bukan seperti ini yang ia inginkan.

Oddie?” tanya Minho ketika melihat tampaknya Yongbi hendak meninggalkan kursinya.

“Aku tak kuat berlama-lama di hadapanmu. Bisa-bisa semua ketegaran yang sudah kubangun itu runtuh. Tapi aku akan mencoba untuk menerima semuanya. Biarkan aku pergi untuk menenangkan diriku.”

Minho segera mencekal lengan Yongbi menahannya agar tidak pergi meninggalkannya. “Apa kamu sungguh tak tahu alasannya? Apa kamu sungguh ingin kita seperti ini?”

“Aku tak perlu tahu kalau itu justru akan menyakitiku, Oppa.”

“Sikapmu yang seperti inilah yang membuatku frustasi. Kamu menerima saja semua perkataanku tanpa memprotesnya satupun. Aku hanya ingin kita…”

“seandainya aku bisa memutar waktu. Aku ingin kamu mengingat kalimat yang selalu kamu ucapkan kepadaku. Tentang betapa kamu tak bisa hidup tanpaku. Tentang betapa kita memang ditakdirkan untuk bersama…..”Yongbi sudah tak bisa lagi menahan airmatanya.

Minho masih menahan lengan Yongbi. Rasanya ia akan hancur saat itu juga jika Yongbi benar-benar berlalu dari hadapannya. Airmatanya bahkan sudah meleleh membasahi pipinya.

“Jeongmal Mianhae Bi-ya. Aku adalah lelaki yang jahat yang dengan bodohnya terus berkata ingin berpisah denganmu padahal jelas-jelas aku tak bisa jauh darimu. Aku sungguh tak ingin berpisah darimu. Jangan tinggalkan aku, kumohon. Aku sungguh tak bisa hidup tanpamu. Kumohon, aku kesini bukan untuk membicarakan perpisahan kita. Tapi aku ingin kita mengulangnya dari awal lagi.”

Minho menarik Yongbi ke dalam pelukannya.Yongbi pun menangis semakin kencang disana.

“Mianhae, seperti katamu, aku ingat akan semua itu. semua kalimat yang kuucapkan dulu, tentang betapa aku tak bisa hidup tanpamu. Tentang betapa kamu hanya diciptakan untukku. Aku takkan menyakitimu lagi seperti ini. aku akan berusaha untuk selalu mempertahankanmu. Dan ingatkanlah aku selalu akan kalimatku ini jika nanti aku lupa.”

Café Da Vinchi kembali menjadi saksi bersatunya sepasang hati yang hampir saja berpisah. Minho sudah memutuskan untuk tidak akan pernah melepaskan Yongbi lagi. Begitu juga dengan Yongbi, dia berjanji akan selalu berada mempertahankan Minho, apapun yang terjadi.

Ketika keegoisan hampir saja membuat seseorang mengambil keputusan yang salah, waktulah yang membuatnya kembali ke jalan yang benar. Kita harus memikirkan kembali semuanya sebelum kita menyesali semua keputusan yang sudah dibuat. Karena kita tak bisa memutar kembali waktu.

==fin==

Thanks to

  1. Aymighty
  2. Karra Glow
  3. SME
serius dehh ini FF adalah FF yg paling gak dapet banget feelnya.. pengen bikin cerita ttg minho,, tapi malah begini hasilnya..ckckckc
FF ini terinspirasi dari MVnya The One ft Taeyeon – Like a Star,, entah udah mirip ato belum ini FF ma tuh MV..hahaha
Buat yang udah RCL aku ucapin Kamsahamnida!!!
Advertisements
FF | Turn Back The Time | by beedragon

13 thoughts on “FF | Turn Back The Time | by beedragon

  1. Storinx miriss
    *meler pake tisu setruk
    itu kenapa sih minho? Sayo agak masih kurang jelas kenapa mereka nyaris putus , gara2 sayo si ade xiumin?? *tumpahin merica dkepala kai*
    *dikejer DO pake sapu*

    hahaha *keselek kancing baju Lay*
    Nice epep

  2. sweetmarshmallowgirl says:

    Unnieeeee tahu Dae to the bak nggak??? Huwaaaaaaaaaaaaaaaa lagi-lagi FFmu makin buat aku gilaaaaaaa!!!! suka banget flash backnya gituuu pokoknya ngena ajaaa huwaaaa keyeen keyeeeen aku suka semua FFmu!!!!!!

  3. baca ini jadi inget Like A Star nya The One ft Taeyeon…
    eh owalah ternyata beneran terinspirasi dari situ…

    ini lagu wajib sebelum tidur (?)

    rada mo mewek, tapi gak nyampe netes 🙂
    klo di MV menurut ku gantung end nya…
    setelah baca ini jadi semangat!! endingnya begini aja dah!!
    bagussssssssssss 😀
    disini cast nya minho, tapi di otakku dari tadi bayanginnya yoo seungho nya, hihihi

    hihihhi…..efek gak bisa tidur, ngubek2 blog orang ==’

    1. iya gara2 liat tuh mv jadi kepikiran buat bikin ceritanya…
      emang mvnya agak2 gantung gitu *ini juga gantung sih hahaha*
      ehh kita sama dong,, ini juga lagu wajib ku sebelum tidur..

  4. numpang baca ahhh
    karena aku lihat para tukang sampah *tunjuk arum sama qiqi* ada komen di sini, aku jadi pengin ikutan nyampah *dibakar author*

    ceritanya mirissss
    itu kenapa sih minho nya? aku masih kurang jelas kenapa mereka putus , mungkinkah gara2 aku?? *tebar garam*

    hahaha

    tapi aku suka flash back nya . ngena gituuu u.u

    salam kenal yaa

  5. iya unn…. dibikin sequelnya…..
    kenapa menong begitu…. terus akhirnya mereka bakalan gimana? tetep jalan sendiri-sendiri ato tetep lanjut?

    aq baru sempet ol di wp. kemaren2 ngalah mulu gara2 kompinya dipake. #curcol

    Pokoknya kalo nulis di blog tuh enak. bisa kasih tulisan warna warni jadi ga ribet kalo mau nulis percakapan. ahahahah

    wah namaku ada di thanks to juga….. gomapseumnida unnie-chan. #plak

    1. sekuel yahh,,, nanti dehh… *terlalu banyak sekuel d otak nihh*
      iya banget dahh,, jadi lebih seneng nulis di blog gitu,, cz banyak kreasinya.. hahaha

      iyalahh,, kalian berdua kan inspirasiku,, hohoho

  6. ratuuu, numpang baca, pumpung lagi buka blogmu hahahaha.. xD
    aku mau tanya dong, itu sebenernya mereka mau pisah kenapa sih? jelas-jelas masih saling suka kaya gitu??
    jangan-jangan si minho cuman pengen ngetes yongbi yaa? atau gimana??
    ahh, si minho nih suka filosofi-filosofi kaya begitu, sampe sepatu aja ada filosofinya hahaha..
    bagus kok ratuuu…
    btw, wew, namaku ada di thanks to! gomawoo *nangis terharu*
    nice FFlah =D

    1. yampyun,, pada rajin2 amat yahh,,
      padahal aku belum ngasih tau kamu soal FF yg ini,, baguslah jadi hemat tenaga(?)

      yaa,, minho emang cuma pengen ngetes doang kok.. apa aku bikin lanjutannya kenapa si menong ampe mau mutusin aku gitu..hmmm

      kamu kan inspirasi aku dalam nulis ff yang ky gni bentuknya *nunjuk tulisan warna-warni*
      hehehe Gomawo ^________________^

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s