FF – GUARDIAN BEAST / Chapter IX They Can(Not) be Together / PG-15 / by Ratu Puteri


 

Title : GUARDIAN BEAST

Rating / Pairing : PG 15 / Straight

Author : Ratu Puteri a.k.a BeeDragon

Cast:
#Lee Soomi = Puteri Soom
# Yong Junhyung = dragon / Guardian Yong
#Shin HanByul = Puteri Byul
#Jang Hyunseung = Pegasus / Guardian Jang
#Ahn Mami = Puteri Maeum
#Lee Gikwang = Kerberos / Guardian Lee
#Han Gain = Puteri Gaseum
#Yang Yoseob = el-lion / Guardian Yang

Length : Multi Chaptered

Genre : Fantasy, Romance, School life, family

Disclaimer : semua ini hanya fiksi belaka. hanya sebatas fantasi seorang Ratu yang gak berhenti berimajinasi. TAKE OUT WITH FULL CREDIT.No Copy Paste and Dont Be Silent Reader

 

Chapter IX
=They can(not) be Together=

Soomi mengetuk-ngetukkan jarinya ke jendela. Ia menatap orang-orang yang mulai berlalu lalang. Ia kemudian melihat jam tangannya, pukul 05.20 pagi. Kemudian Soomi melihat sebuah kertas kecil yang sejak tadi dipegangnya seolah kertas itu sangat berharga sampai-sampai Soomi tak berani untuk menyimpannya di saku bajunya. Pandangannya lalu beralih ke sebuah benda kecil berbentuk cincin dengan sepasang sayap kecil di sisinya. Dirantainya cincin tersebut ke sebuah tali kecil dari kulit lalu dikalungkan ke lehernya.

Soomi mendesah pelan. Ia kembali teringat kejadian kemarin sore. Kejadian saat ia mendapatkan kertas kecil dan juga cincin aneh tersebut.

**flashback**

“Ini yang kamu minta,” Dongwoon menyodorkan dua lembar kertas kecil ke Soomi.

Soomi menerima kertas tersebut. Dua lembar tiket kereta ke Pyeongchang-gun, Gangwon-do. Soomi lalu tersenyum pada Dongwoon.

“Oppa, jeongmal johayo,” ujar Soomi.

“Aigoo anak ini. jadi kamu mengganti kata GOMAWO dengan JOHAYO. Ckckck.” Dongwoon hanya menggelengkan kepalanya karena tingkah Soomi.

Soomi lalu memberikan selembar tiket tersebut kepada pria berambut orange di sebelahnya.

“Yah, buat apa kamu ngasih tiket ini ke aku? Kalo kamu mau ngasih vacation gratis, berikan aku dua tiketnya. Biar aku bisa liburan sama Hanbyul.” Protesnya.

“Aishh, Hyunseung! Bisa tidak kamu tuh gak protes untuk sekali aja. Jadi namja kok hobinya protes,” cibir Soomi. “Berikan tiket itu ke Junhyung. Aku mau melarikan diri sama dia ke Gangwon-do.”

“MWO!!!” pekik Hyunseung.

Soomi dan Dongwoon langsung berebutan menutup mulut Hyunseung karena seisi pengunjung perpustakaan kota mulai melihat mereka dengan pandangan risih.

“Yah! Jangan berisik,” desis Soomi.

“Yah! Neo micheoseo!” seru Hyunseung tertahan. “Kalau Appa mu tau, bukan hanya Junhyung yang digantung tapi aku juga. Yah Soomi jangan lakukan ini. Kamu masih bisa bertahan sebentar lagi. Appamu pasti akan menerima Junhyung. Jangan berpikiran singkat seperti ini.”

“Hyung juga, kenapa malah ngasih tiket ini ke dia?” lanjut Hyunseung kepada Dongwoon.

“Kamu kalau jadi aku pasti juga bakal ngasih tiket itu ke dia,” jawab Dongwoon.

“Yah, pokoknya kamu harus kasih tiket itu ke Junhyung. Apapun yang terjadi nanti aku gak akan libatkan kamu. Ini hanya antara aku dan Junhyung,” desak Soomi.

Hyunseung menghela napas dengan beratnya. “Tapi Soomi. Kamu gak harus melakukan ini. Kamu masih muda. Masih sekolah. Masa kamu mau kawin lari sama dia. Pikirkan masa depanmu.”

Soomi segera saja memukul kepala Hyunseung dengan kamus besar prancis di hadapannnya. “Siapa yang mau kawin lari sama dia?! Aku Cuma mau liburan bareng aja. Udah lama gak ketemu dia. Trus nanti aku bisa alasan ini itu sama Appa dan bikin Appa jadi mau gak mau harus nerima Junhyung. Wuahh pikiranmu terlalu jauh Hyunseung. Aku gak sefrustasi itu.” kesal Soomi.

Hyunseung hanya mengusap-usap kepalanya yang dirasanya mulai benjol akibat kamus prancis pemberian Soomi. Sambil menggerutu ia pun meninggalkan Soomi menuju Hanbyul yang juga ada di perpustakaan kota.

“Dasar Hyunseung itu. Benar-benar cocok dia sama Hanbyul. Hanbyul pendiam dan dia yang banyak omong,” gerutu Soomi.

Dongwoon hanya tersenyum menyaksikan tingkah mereka. Ia kemudian mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk cincin dengan sepasang sayap di kedua sisinya. Lalu diberikannya cincin tersebut kepada Soomi.

“Apa ini, Oppa?” tanya Soomi bingung.

“Jimat,” singkat Dongwoon.

“Mwo? Buat apa?”

“Hmm buat melindungimu. Itu akan membuat kehadiranmu tak bisa dilihat oleh orang-orang yang berniat jahat padamu. Karena ini adalah harinya, dia pasti akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan mereka kembali. Jadi pakai itu dan jangan pernah lepaskan. Oppa akan bisa tau kamu ada dimana kalau kamu memakai itu. Arra,” jelas Dongwoon.

“Untuk melindungiku dari orang jahat?” gumam Soomi. “Lalu ini cara pakainya gimana? Ini bukan cincin, karena kedua sayap ini akan mengganggu kalau aku pakai di jariku.”

Dongwoon lalu mengeluarkan sebuah tali kecil yang terbuat dari kulit sapi, kemudian dimasukkannya cincin tersebut di tali itu. “Ini bisa jadi kalung, gelang, atau gantungan. Yang penting jangan pernah lepaskan ini darimu. Karena ini bisa melindungimu.”

Dongwoon lalu menggenggam erat kedua tangan Soomi. “Oppa sangat menyayangimu. Kamu sudah seperti dongsaengku bahkan sudah kuanggap seperti anak sendiri. Aku gak akan pernah memaafkan diriku kalau sampai terjadi apa-apa di perjalananmu nanti. Jadi hati-hati dan berbahagialah. Oppa akan selalu mengusahakan kebahagiaan untukmu.”

**Flashback end**

Soomi menghela napas panjang. Diusapnya liontin pemberian Dongwoon. Ia terus berusaha meyakinkan dirinya kalau jalan ia pilih sekarang ini adalah jalan yang benar. Karena kalau mengingat reaksi sahabat-sahabatnya, Soomi jadi sedikit merasa ragu akan keputusan ini.

“Permisi, nona. Sendirian aja? Boleh saya duduk disini? Karena menurut karcis yang saya punya, bangku saya ada di sebelah nona,” tegur seorang pria membuyarkan lamunan Soomi.

Soomi tersenyum melihatnya. Ditatapnya pria itu dari atas sampai bawah seolah sedang meng-scanning pria tersebut.

“Nona? Kalau boleh aku..”

Soomi langsung menarik lengan pria itu dan membuatnya terduduk di samping Soomi. “Tinggal duduk aja kok repot. Gak perlu menggodaku seperti itu Junhyung.”

Junhyung, pria yang selalu menjadi mimpi Soomi belakangan ini, pria yang selalu bisa membuat jantungnya berdebar kencang, pria yang mampu membuatnya menundukkan kepala dan memohon, pria yang sudah membuatnya mengambil keputusan seperti ini sekarang sudah berada di sampingnya.

Junhyung menggenggam jemari Soomi erat. Disandarkannya kepalanya di bahu Soomi. “Apa kita harus melakukan ini?” tanya Junhyung.

Soomi hanya diam. Ia hanya terus memandangi tiket di genggamannya. Ia sesungguhnya tak mau melarikan diri seperti ini. Karena melarikan diri dari masalah sama sekali bukan seperti dirinya.

“Yakinkan aku kalau ini benar,” lirih Soomi.

“Kita hanya pergi liburan. Kita hanya pergi ngedate, jadi gak apa-apa,” sahut Junhyung.

Junhyung kemudian memandangi wajah Soomi. “Matamu ada lingkaran hitamnya. Kamu gak tidur semalam?” tanya Junhyung.

“Siapa yang bisa tidur. Aku memikirkan pelarian ini, bagaimana bisa aku tidur. Kenapa? Apa sekarang aku terlihat jelek?” sahut Soomi.

Aniyo. Yeppeo. Walaupun ada lingkaran hitam di kedua matamu, kamu tetap yeppeo. Tidurlah sekarang. Nanti kalau sudah sampai akan aku bangunkan kamu. Kita mau bersenang-senang disana kan?” ujar Junhyung.

Soom mengangguk mendengar perkataan Junhyung. Tapi ia tak bisa memejamkan matanya. Ia takut ketika ia bangun nanti Junhyung tak ada di sisinya.

“Tidurlah. Aku akan selalu ada disini sampai kamu bangun,” bisik Junhyung. Kemudian ia mengecup kedua mata Soomi. dan akhirnya Soomi pun merasa tenang dan tertidur.

====beedragon====

“Waktunya sudah habis. Dan Puteri Soom masih belum mau mengakui kesalahannya dan melupakan perasaannya. Sekarang sudah tiba saatnya untuk mengambil kembali jiwa para Guardian dan membiarkan para Puteri kembali merasakan arti dari kehilangan.”

====beedragon====

“Soomi sekarang sedang apa ya?” tanya Gain.

“Molla. Pasti dia sedang tertidur di kereta. Karena semalam ia gak bisa tidur dan malah mengganggu tidurku.” Sahut Gikwang.

“Oppa gwenchana? Oppa kan paling sayang sama Soomi. Apa kamu gak khawatir?” tanya Mami sambil menatap Gikwang.

“Mereka hanya pergi ke Gangwon-do untuk ngedate. Ini bukan seperti mereka akan melarikan diri untuk selamanya kan? Lagipula ada Junhyung bersama Soomi. Jadi aku tenang.” Sahut Gikwang. “Nanti suatu saat aku akan ajak kamu ke busan buat kencan. Ottae?” Mami mengangguk setuju kemudian ia menggandeng lengan Gikwang dengan manjanya.

Gain yang melihat kemesraan mereka langsung menatap Yoseob yang ada di sebelahnya. “Kamu mau mengajakku kemana, seobbie?”

Yoseob yang sedang menikmati makanannya pun menoleh ke Gain. “Kemana aja boleh. Kalau kamu mau pergi ke bulan pun akan aku sanggupi.”

“Wuaahh, Yoseob kebiasaan gombalmu itu harus dihilangkan tau,” ledek Mami.

Mereka pun tertawa.

“Ahn Mami!” seru seorang pria yang menghampiri mereka.

Keempat anak manusia itu bersamaan menoleh ke sumber suara. Mereka melihat seorang pria yang tampak seperti preman dengan beberapa orang di belakangnya. Melihat rombongan berandalan itu Mami langsung ketakutan. Ekspresi panik terlihat jelas di wajahnya. Gain yang tahu persis apa penyebab kepanikan mami tersebut hanya bisa ikutan panik.

Eottokke??” gumam Mami.

Nugu~?” Tanya Gikwang yang bingung melihat reaksi Mami.

“Dia mantannya Mami,” bisik Gain.

Gikwang kemudian kembali menoleh kearah berandalan tersebut, meneliti setiap jengkal pria yang dibilang Gain adalah mantan Mami. “Mami, berarti aku ini adalah pasanganmu yang paling tampan ya. Bagaimana bisa kamu pacaran dengan orang jelek seperti itu.”

Mami hanya menundukkan kepalanya. Kemudian ia menarik Gikwang agar pergi dari tempat itu. Gain pun melakukan hal yang sama.

“Yah! Ahn Mami! Kamu mau kabur lagi?! Itukah namchin barumu? Hah, ternyata kamu memang tak pandai mencari namjachingu Mami. Bagaimana bisa kamu meninggalkanku dan memilih namja gadungan macam itu,” seru berandalan tersebut.

“Mwo? Namja gadungan?” Gikwang segera bangkit dari bangkunya dan menghampiri berandalan tersebut. “Yah! Siapa yang kau sebut dengan namja gadungan, preman abal-abal!” desis Gikwang seraya menarik kerah baju berandalan tersebut.

“Wuahh, ternyata pimpinan geng serigala ada disini. Yah ternyata kamu itu sukanya sama barang second ya? Bekas aku tapi begitu kamu bela. Tak tahu kah kamu kalau Mami itu….”

Buuggghh.

Sebuah bogem mentah sudah mendarat di mulut berandalan tersebut. Tak terima kekasihnya disebut sebagai barang second, Gikwang langsung melancarkan serangannya terhadap berandalan itu. Hal ini langsung memberi sinyal terhadap anak buah preman tersebut yang memang sedang mengikuti sang ketua. Segera saja Gikwang di keroyok oleh komplotan tersebut.

“Omo Gikwang Oppa!!! Andwae!! Tolong siapa aja tolong!!” pekik Mami.

Yoseob yang menyaksikan pertarungan tak seimbang itu langsung ikutan membantu Gikwang. Tentu saja jumlah mereka tak sebanding. Gerombolan tersebut sekitar 15 sampai 20 orang sementara mereka hanya berdua.

Mami dan Gain yang menyaksikan kekasihnya dikeroyok masal itu langsung mengeluarkan handphone mereka berusaha menelepon polisi, sementara Mami menelepon anak buah Gikwang.

Tapi terlambat. Belum sempat mereka meminta bantuan, kedua kekasih mereka sudah terkapar tak berdaya. Gerombolan itu pun langsung pergi meninggalkan tempat kejadian perkara begitu dilihatnya korban mereka sudah tak bisa lagi melawan.

Mami dan Gain langsung menghambur ke arah Gikwang dan Yoseob. Wajah mereka sudah penuh luka lebam dan juga darah. Dari kepala Yoseob mengalir darah segar, yang pastinya berasal dari pukulan preman tadi yang menggunakan balok kayu entah darimana asalnya. Sementara Gikwang, di perutnya terdapat luka yang cukup lebar dari pisau yang dipakai salah satu preman yang menusuk Gikwang.

“Oppa, bertahanlah,” isak Mami.

“Seobbie, bangunlah.” Tangis Gain pecah saat mengetahui kekasihnya sudah tak bisa lagi menyahuti ucapannya.

====beedragon====

“Hyunseung-ah eoddiya? Katanya mau nemenin aku ke perpustakaan lagi?” ujar Hanbyul pada ponselnya.

Hanbyul menatap ponselnya. Saat ini ia sedang menunggu Hyunseung untuk menjemputnya. Hanbyul duduk di halte bus dekat rumahnya. Sambil menunggu ia membolak-balik halaman bukunya.

Tiin tiin..

Terdengar suara klakson dari seberang jalan. Tak lama handphone hanbyul bunyi pertanda ada sms masuk.

From: ♥star seung♥
My star, aku udah di seberang. Ayo kita jalan ^^

Hanbyul lalu melihat ke seberang jalan. Terlihat Hyunseung sudah bersandar di mobilnya. Hyunseung melambai riang ke arah Hanbyul. Kemudian ia menyebrang jalan untuk menghampiri Hanbyul.

Ckiiiiiitttt…. Braaaaakkkk…

Terlihat pemandangan yang membuat tubuh Hanbyul menjadi kaku. Ia melihat tubuh Hyunseung melayang tertabrak oleh bus yang sedang melaju kencang. Tubuh Hyunseung terpental jauh beberapa meter di seberang jalan sana. Seketika jalanan langsung ramai. Orang-orang mulai berkerumun di sekitar tubuh Hyunseung. Hanbyul pun dengan langkah berat langsung mendekati tempat kejadian perkara.

Hanbyul menatap tubuh Hyunseung yang sudah banjir darah. Ia merasa kakinya seketika lemas. Dielusnya wajah Hyunseung yang penuh darah. Hanbyul lalu menangis. Sementara orang-orang di sekitar tempat kecelakaan tersebut hanya bisa memandang mereka iba, bahkan tak ada satupun orang yang berinisiatif untuk memanggilkan ambulance atau polisi.

“Hyunseung-ah. Sadarlah. Bertahanlah. Kita mau pergi jalan kan hari ini? Bangunlah Hyunseung.” Lirih Hanbyul.

Tapi Hyunseung bahkan sudah tak bergerak lagi. Ia bahkan sudah tidak bisa menyahuti ucapan Hanbyul dengan senyumannya lagi. Saat itu Hanbyul sadar kalau Hyunseung sudah tak bisa mendengar tangisannya lagi.

====beedragon====

Soomi dan Junhyung tiba di sebuah air terjun di daerah Pyeongchang-gun. Air terjun yang berundak-undak dan begitu jernih. Sementara di muaranya terdapat begitu banyak batu kali besar sehingga siapapun bisa menyebrangi sungai kecil itu dengan berpijak di bebatuan tersebut.

“Ayo kita main air.” Junhyung mengulurkan tangannya pada Soomi.

Soomi pun membalas uluran tangan Junhyung. Mereka bergandengan –lebih tepatnya Soomi menjadikan Junhyung sebagai tumpuan- hingga ke tengah sungai. Sesampainya di tengah sungai, Junhyung mulai mengayunkan kakinya hingga membuat air sungai terciprat ke arah Soomi.

“Yah, kamu mau mulai perangnya sekarang?” tantang Soomi.

Soomi lalu menundukkan badannya dan mulai menghujani Junhyung dengan cipratan air. Dan mereka pun bermain air dengan riangnya. Tapi karena batu kali itu begitu licin Soomi pun tergelincir dan terjatuh. Untungnya Junhyung sudah menahan punggung dan pinggang Soomi, sehingga Soomi tidak terjantuh dan membentur batu kali.

Soomi langsung salah tingkah karena sekarang wajah Junhyung sudah begitu dekat dengannya. Refleks, Soomi langsung memegangi lehernya untuk mencari kalungnya. Tapi kalung tersebut sudah tak ada di lehernya. Panik, Soomi pun segera mendorong Junhyung.

“Kalungku hilang,” panik Soomi.

“Kalung apa?”

“Kalung pemberian Dongwoon Oppa. Itu kalung berharga, bisa melindungiku dari orang jahat. Cepat bantu cari!” perintah Soomi.

Soomi mulai membungkuk untuk melihat apakah kalung tersebut tercebur ke sungai. Junhyung juga melakukan hal yang sama. Putus asa, Junhyung menghentikan aksi pencariannya dan membiarkan Soomi mencari sendirian kalungnya.

“Chagiya. Sebenarnya kenapa kamu ajak aku kesini? Darimana kamu tau tempat seperti ini?” tanya Junhyung yang akhirnya kembali membantu Soomi mencari kalungnya.

“Hmm. Aku tau dari cerita orang-orang. Katanya air terjun ini adalah tempat mandinya para naga. Dan karena kamu itu suka banget sama naga jadi aku bawa kamu kesini,” sahut Soomi yang masih konsentrasi mencari kalungnya di bebatuan sungai.

“Ohh, jadi kamu mau lihat naga mandi disini. Atau kamu mau lihat naga yang ini mandi?” goda Junhyung yang sudah berdiri di dekat Soomi.

“Apa maksudnya?” Soomi menghentikan pencariannya dan memelototi Junhyung.

“Ahh bilang aja begitu. Ini adalah tempat terpencil, Chagi. Aku yakin orang-orang jarang ada yang kesini. Sepanjang perjalanan tadi saja aku gak nemu tempat peristirahatan. Terus kamu bilang kalau ini tempat mandinya naga. Bilang aja kalau kamu memang ingin lihat aku mandi disini,” Junhyung melingkarkan lengannya di pinggang Soomi.

Wajah Soomi otomatis memerah panas mendengar gurauan Junhyung. Ia lalu mendorong Junhyung hingga Junhyung tercebur ke dalam sungai.

“Yah, kalau kamu emang mau mandi disini, ya silakan. Menyebalkan! Bisa-bisanya menggoda aku seperti ini.” gerutu Soomi kemudian berbalik berjalan ketepian sungai.

“Aku membawamu kesini karena aku memang ingin berdua denganmu, tapi bukan untuk melakukan hal yang aneh-aneh. Lama-lama kamu ini mirip sama Hyunseung dan Yoseob. Wuahh kalian itu cocok sekali jadi sahabat. Pikirannya sama semua,” Soomi masih ngedumel(?).

Soomi lalu membalikkan badannya karena ia merasa bersalah sudah membuat Junhyung tercebur. Tapi ia tak melihat Junhyung di tengah sungai itu. Soomi lalu melihat ke sekelilingnya, tapi kembali ia tak menemukan Junhyung. Soomi pun mulai panik. Ia kembali ke tengah sungai dimana ia mendorong Junhyung hingga terjatuh. Di celupkannya kakinya ke tempat terjatuhnya Junhyung, takut-takut kalau ternyata di bagian situ adalah bagian yang dalam. Ternyata tidak, bahkan tinggi air sungai itu tak sampai dengkul Soomi. lalu kemana Junhyung?

“Junhyung-ah… Oppa!!! Eoddiya?!! Jangan bercanda seperti ini aku gak suka!” pekik Soomi. Suaranya menggema di sekitar air terjun tersebut. Tapi tak terdengar sahutan dari Junhyung.

“Puteri Soom, Apa kabar?” tegur seorang wanita yang secara tiba-tiba sudah berdiri di batu kali besar dekat air terjun.

Soomi menoleh kearah wanita tersebut. Segera saja telunjuknya menunjuk ke wanita tersebut. “Neo?!! Kenapa kamu bisa ada disini? Kamu kan yeoja yang suka mengganggu mimpiku. Aku sedang mimpikah?”

“Tentu saja tidak Puteri. Kamu ada disini karena aku. Kamu bisa bertemu dengan dia juga karena aku,” wanita tersebut menoleh ke air terjun.

Soomi pun mengikuti arah pandang wanita tersebut. Kagetlah ia, karena tubuh Junhyung sudah tergantung di tengah air terjun itu.

Soomi menutup mulutnya tak percaya. Ia menatap tubuh kekasihnya yang tak berdaya. “yah! Apa yag kau lakukan pada Junhyungku?!!”

“Karena waktunya sudah habis, Puteri. Dan kamu masih belum mau mengakui kesalahanmu dan melupakan perasaanmu padanya. Sekarang sudah tiba saatnya untuk mengambil kembali jiwa mereka dan membiarkan kalian kembali merasakan arti dari kehilangan,” ujar wanita tersebut.

“Sebenarnya apa maumu? Aku bahkan gak mengenalmu. Memangnya apa salahku? Kenapa kamu menggangguku seperti ini?” seru Soomi.

“Ternyata memang kamu sudah hidup di bumi ini terlalu lama puteri. Sehingga kamu lupa akan identitasmu sebelumnya. Kuingatkan kamu, hanya cukup satu kata darimu. Aku hanya meminta permintaan maafmu. Kalau kamu mau mengaku salah, maka aku akan mengampuni kalian para Puteri dan para Guardian. Dan kalian bisa kembali ke istana langit.”

Puteri? Guardian? Istana langit? Soomi bingung dengan perkataan wanita tersebut. Belum lagi wanita itu membawa sebuah tongkat keemasan yang ujungnya mirip dengan bentuk kalung Soomi yang hilang.

“Kamu pernah melihat bentuk ini sebelumnya? Ini adalah lambang para dewa langit,” ujar wanita tersebut seraya mengangkat tongkatnya. “Ahh pantas saja aku tak bisa melihatmu belakangan ini. Rupanya ada yang melindungimu.”

Melindungi? Soomi kembali berpikir. Kepala tongkat itu sama persis dengan liontin yang diberikan Dongwoon padanya. Tapi kata wanita itu apa? Itu adalah lambang dewa dan dewi?

“Tunggu sebentar!” seru Soomi. Ia mulai mendapat kesimpulan dari pembicaraan yang memusingkan ini. “Puteri? Guardian? Dewa? Istana langit? Apa kamu berarti seorang dewi?” tanya Soomi.

“Ah, akhirnya kamu mengingatnya Puteri Soom. Tapi sayang waktumu sudah habis. Jadi selamat menikmati kesendirianmu,” wanita itu tersenyum licik kearah Soomi.

Wanita itu mengayunkan tongkatnya kearah Junhyung. Terdengar jeritan yang menyakitkan dari mulut Junhyung. Badan Junhyung sudah menggeliat tak jelas seolah seluruh kulitnya sedang rontok. Teriakan Junhyung itu membuat Soomi tak kuasa menahan airmata.

“Hentikan!! Jangan siksa dia. Apa salah kami sampai kamu terus mengganggu kami. Kalau kamu memang seorang Dewi kenapa kamu menyiksa Junhyung seperti ini. lebih baik bunuh saja aku asal kamu mau melepaskan Junhyung.” Isak Soomi.

“Baiklah kalau itu keinginanmu,” jawab wanita itu.

Ia kemudian kembali mengayunkan tongkatnya di udara. Hal ini membuat Soomi menutup matanya, karena ia takut akan menerima kesakitan seperti yang dialami Junhyung barusan.

“Hentikan Yeoshin,” tiba-tiba terdengar suara pria.

Perlahan Soomi membuka matanya. Ia melihat kearah wanita bertongkat keemasan tadi. Wanita itu masih berdiri di atas batu, tapi tak sendirian. Ada seorang pria yang memakai baju putih panjang berkibar(?) sudah berdiri di hadapannya seraya menahan lengan wanita itu di udara. Pria tersebut mengenakan benda mirip mahkota di kepalanya. Soomi memperhatikan dengan seksama mahkota itu, ada sesuatu yang membuat ia merasa familiar dengan benda di atas kepala pria tersebut. Sebuah benda yang sama persis dengan yang pernah diberikan Dongwoon kepadanya, benda berbentuk lingkaran dengan sepasang sayap di kedua sisinya.

“Dongwoon oppa,” panggil Soomi. Karena pria yang ada di hadapan wanita itu sangat mirip dengan Dongwoon.

Tapi yang dipanggil tidak menoleh sama sekali. Ia tetap menahan lengan wanita tersebut.

“Hentikan semua ini Dewi. Aku menugaskanmu untuk mengurus para Puteri bukan menyakitinya seperti ini. Aku sengaja menyerahkan tugas ini padamu, karena aku yakin kamu akan mampu mendidik Puteriku. Tapi apa yang terjadi, Kamu bahkan membuatnya tak mengenal ayahnya sendiri dan juga membuatnya menjadi Puteri yang tak tahu berterimakasih dan angkuh. dan bukanlah tugasmu untuk mereinkarnasi jiwa para Guardian untuk menjadi manusia dan turun ke bumi. Sebenarnya ada apa denganmu Dewi,” ucap pria yang mirip Dongwoon tersebut.

“De..de..dewa Son?” kaget sang dewi.

“Apa yang kau inginkan? Kamu ingin dewa Heenim diangkat lagi ke istana langit? Akan aku lakukan. Kamu ingin status dewa Heenim dikembalikan? Akan aku lakukan. Kamu ingin hidup bersama dengannya juga akan kulakukan. Tapi satu hal Dewi, Dewa Heenim terjun ke bumi bukan karena patah hati olehmu. Ia memilih melarikan diri karena ia merasa tak pantas bersanding denganmu. Karenanya jangan lampiaskan kekesalanmu kepada para Puteri dan Guardiannya.”

Soomi hanya mendengarkan cerita mereka dengan seksama. Entah kenapa ia merasa familiar dengan kisah ini. dan akhirnya ia mengingatnya, ini adalah kisah yang pernah diceritakan Dongwoon kepadanya.

Dewi Yeoshin lemas seketika mendengar perkataan Dewa Son, sehingga tongkat yang sedari tadi digenggamnya terjatuh. Begitu juga dengan Junhyung, tubuhnya terjatuh seiring dengan melemahnya sang Dewi. Soomi bergegas menghampiri tubuh Junhyung. Di belainya wajah kekasihnya itu.

Dan semua kilasan-kilasan ingatannya kembali berkelebat di otaknya. Ia ingat pernah bertemu dengan sang Dewi –dan bukan dalam mimpi. Ia juga ingat hal-hal indah yang pernah ia lalui bersama dengan naganya. Dan ia ingat kalau ia ada di bumi ini karena sang Dewi menghukumnya. Dan ia ingat pula akan kalimat terakhir yang belum sempat ia ucapkan ketika Dewi memutuskan untuk membuang dirinya dan ketiga puteri serta para Guardian ke bumi.

Soomi pun bangkit dari duduknya. Membiarkan tubuh Junhyung terbaring di atas bebatuan. “Aku ingat semuanya sekarang, Dewi. Aku adalah Puteri Soom. Dan kamu menghukumku karena kamu ingin agar aku meminta maaf padamu dan melupakan perasaanku terhadap Guardianku. Kalau begitu maafkan aku…”

Soomi mengangkat tangannya di udara dan seketika angin kencang berhembus. “Maafkan aku karena aku gak akan melakukan itu. Guardianku sebenarnya adalah seorang Dewa. Dengan begitu aku tak perlu mencari Dewa lain untuk meminangku. Aku tinggal menunggu hingga masa hukuman Guardianku selesai. Dengan begitu aku sudah menemukan Dewa untuk menjadi pendampingku. Jadi kamu tak bisa menentangku,” ucapan Soomi terdengar tajam.

“Kamu tahu akan hal itu?” tanya Dewi Yeoshin.

“Tentu saja tahu. Ketika aku bilang pada Guardian Yong kalau aku mencintainya, pada saat itu juga dia bilang kalau dia sebenarnya adalah Dewa. Aku tidak sebodoh dirimu Dewi, aku bisa mempertahankan apa yang aku inginkan. Sedangkan kamu, kamu memilih melampiaskan rasa sedihmu kepada kami. Kurasa Dewa Son harus mengecek ulang kelayakanmu menjadi seorang Dewi,” pungkas Soomi.

Angin kencang itu kembali mereda seiring dengan emosi Soomi yang juga sudah mereda.

Dewa Son hanya bisa memandangi Soomi sambil tersenyum kemudian ia menghilang bersama dengan Dewi yeoshin.

====beedragon====

Lanjut ke Epilog yahh *ehh epilog apa after story yahh?? Bingung aku*

Advertisements
FF – GUARDIAN BEAST / Chapter IX They Can(Not) be Together / PG-15 / by Ratu Puteri

10 thoughts on “FF – GUARDIAN BEAST / Chapter IX They Can(Not) be Together / PG-15 / by Ratu Puteri

  1. Eheeemmm….ga bisa bayangin deh kl DongWoon jadi penguasa langit,hehehehe

    Ahh..akhirnya semua jelas sudah..ckckckckck…
    Aigoo dewi Yeoshin…harusnya lbh bijaksana atuh

    1. yang pastinya penguasa langit nya ganteng badaii dong… hahahaha
      dewi yeoshin masih kebawa dendam karena ga bisa bersatu ama heenim tuhh.. 🙂

  2. omo………………………omo

    ending nya knapa jdi begini?? T___________T…….

    Yoseob sama Gain? oh noooooooooooooooooo………. harusnya tuh Yoseob ama aku *plak*….

    eummmmmmmmmmmm kerend FF nya aku suka… FF favoriteku neh….

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s