FF – GUARDIAN BEAST / Chapter VI Challenge!! / PG-15 / by Ratu Puteri


 

Title : GUARDIAN BEAST

Rating / Pairing : PG 15 / Straight

Author : Ratu Puteri a.k.a BeeDragon

Cast:
#Lee Soomi = Puteri Soom
# Yong Junhyung = dragon / Guardian Yong
#Shin HanByul = Puteri Byul
#Jang Hyunseung = Pegasus / Guardian Jang
#Ahn Mami = Puteri Maeum
#Lee Gikwang = Kerberos / Guardian Lee
#Han Gain = Puteri Gaseum
#Yang Yoseob = el-lion / Guardian Yang

Length : Multi Chaptered

Genre : Fantasy, Romance, School life, family

Disclaimer : semua ini hanya fiksi belaka. hanya sebatas fantasi seorang Ratu yang gak berhenti berimajinasi. TAKE OUT WITH FULL CREDIT.No Copy Paste and Dont Be Silent Reader

 

Chapter VI
CHALLENGE!!

Soomi sekarang berada di sebuah hamparan taman penuh bunga warna-warni yang begitu indah. Tak jauh darinya terlihat sang naga merah sedang menari bersama beberapa burung dan seekor Pegasus putih.

“Wah tumben mimpiku kali ini indah.” Gumam Soomi sambil tersenyum.

Soomi baru menyadari kalau ada seorang perempuan yang juga berdiri di sebelahnya. Soomi menoleh ke samping kirinya untuk melihat wajah perempuan itu. Siapa tahu saja itu perempuan yang kemarin dulu pernah main ke mimpinya. Karena kalau memang iya, Soomi ingin sekali meninju wajahnya, walau tidak mungkin bisa.

Ternyata yang ada di sebelahnya ini begitu mirip dengan Hanbyul. Sosok Hanbyul itu berdiri sambil terus menatap kearah naga dan Pegasus yang sedang bermain.

“Hanbyul? Tumben main di mimpiku?” tegur Soomi.

“Kenapa kamu yang mendapatkan guardian Yong, puteri Soom? Kenapa bukan aku yang mendapatkannya? Kenapa aku malah mendapatkan Pegasus Jang? Aku sungguh tak menginginkannya,” sahut Hanbyul setelah terdiam beberapa saat.

“Ehh apa maksudmu Hanbyul?” Tanya Soomi tak mengerti.

“Aku menginginkan Yong. Aku tak menyukai Guardian Jang. Dia terlalu lemah untuk menjadi Guardianku. Seharusnya aku memiliki Guardian seperti Yong. Yang gagah dan kuat.”

“Aku sungguh tak mengerti maksudmu Hanbyul.”

“Aku yang seharusnya mendapatkan Guardian Yong. Aku ingin kita bertaruh dan bersaing untuk mengetahui siapa yang pantas dijaga oleh Guardian Yong,” geram Hanbyul dingin.

“Tapi aku gak ngerti maksudnya apa? Guardian Yong, Guardian Jang, aku gak ngerti apa itu. Hanbyul kenapa kamu bersikap seperti ini.”

“Aku menginginkan Yong. Aku, Puteri Byul, tidak akan mau mengalah lagi padamu. Mulai sekarang aku akan berusaha untuk menjadikan Yong milikku.” Tegas Hanbyul.

====beedragon====

@Kirin High School

“Hanbyul, udah lama banget yah aku gak ketemu kamu, padahal kita ini satu sekolahan, tapi kayanya susah banget mau ketemuan. Kamu kemana aja?” tegur Soomi pada Hanbyul yang sedang main ke belakang gedung olahraga.

“Kamu sendiri yang lebih suka menyendiri disini. Jadi kita jarang ketemu,” sahut Hanbyul dingin.

“Kamu kenapa Hanbyul? Sakit?”

“Aniyo, aku hanya sedang mempersiapkan diri.”

“Mempersiapkan diri untuk apa?” Tanya Soomi.

“Untuk melawanmu.”

Soomi bengong menatap Hanbyul. Untuk apa Hanbyul melawan Soomi. “Melawanku dalam rangka apa?”

“Untuk memperebutkan hati Junhyung.” Jawab Hanbyul singkat.

Soomi makin bingung dengan arah pembicaraan Hanbyul.

“Aku ingin kita bertaruh Soomi. Di ujian semester ini, siapa yang berhasil mendapatkan peringkat satu, dia yang boleh mengutarakan perasaannya pada Junhyung. Yang kalah harus memendam perasaannya tak boleh mengutarakannya seumur hidupnya dan juga tak boleh menerima cinta Junhyung. Eottae? Kamu terima tantanganku?” tantang Hanbyul.

“Mwo? Apa hubungannya sama Junhyung. Kenapa kamu tiba-tiba bawa nama dia. Lagipula menang atau kalah, taruhan ini sama sekali gak ada untungnya untukku. Kamu ini kenapa hanbyul??”sahut Soomi.

“Jelas taruhan ini menguntungkan bagi kita berdua. Aku tahu kalau kamu mencintai Junhyung. Begitu juga aku. Karenanya aku ingin kita bersaing secara fair. Walaupun kamu selalu mengalahkanku, tapi kali ini aku tak akan kalah darimu.” Jawab hanbyul.

“Kalau kamu memang menyukainya, silahkan kamu ambil. Aku juga gak peduli. Untuk apa aku ikut taruhan begini, kalau hadiahnya hanya Junhyung. Kalau hadiahnya itu tiket pulang pergi ke bulan baru aku mau.” Tolak Soomi.

“JANGAN MERENDAHKANKU SOOMI!! aku sudah cukup merasa terhina karena selalu menjadi si nomor dua dimata semua orang! Aku yang sudah cukup sedih melihat semua orang lebih memperhatikanmu daripada aku! Aku yang sakit hati karena Junhyung lebih menyukaimu! Dan sekarang ini satu-satunya kesempatanku untuk berada diatasmu, takkan ku sia-siakan begitu saja. Terima tantanganku Soomi!!” seru Hanbyul.

“Kamu udah dibutakan oleh cinta Hanbyul. Hanbyul yang aku kenal tak seperti ini.” Soomi mengutarakan kekagetannya atas perubahan sikap Hanbyul yang cukup ekstrim ini.

“Terima tantanganku Soomi! aku harus membuatmu kalah, hanya itu yang bisa aku lakukan agar bisa mendapatkan Junhyung,” sahut Hanbyul sinis.

Soomi tersenyum melihat kegigihan Hanbyul. Padahal sesungguhnya Hanbyul tahu persis kalau dia tak akan pernah bisa mengalahkan Soomi dalam hal prestasi. Tapi melihat keteguhan Hanbyul ini, mau tak mau Soomi terpancing juga.

“Oke, aku terima tantanganmu. Asal kau tahu saja ya, aku lakukan ini bukan karena ingin menang dan mendapatkan Junhyung. Tapi aku hanya ingin mengingatkanmu kalau kamu akan selamanya selalu menjadi buntutku, menjadi si nomor 2, menjadi bayangan Soomi, dan akan selalu tertinggal karena semuanya akan datang padaku terlebih dahulu daripada kamu.”

Hanbyul mengepalkan tangannya, ia menahan amarahnya karena ucapan Soomi yang cukup tajam barusan. “Johayo. Siapapun yang berhasil mendapatkan posisi pertama berhak mengutarakan perasaannya, dan siapa yang kalah tak boleh mendekatinya lagi ataupun menerima cintanya.”

“Eh, tunggu dulu. Kalian lagi taruhan ya?” tegur seorang dibelakang Soomi.

Junhyung muncul dari balik gedung olahraga. Tampaknya ia baru saja menguping pembicaraan Soomi dan Hanbyul. Ingin sekali Soomi meninju Junhyung, karena menurutnya Junhyunglah sudah membuat Hanbyul yang lembut ini menjadi pemberontak dan melawan Soomi.

“Taruhannya apa tadi? Siapa yang mendapat posisi pertama boleh mengutarakan perasaannya? Aku ikutan juga dong,” ucap Junhyung begitu sudah sampai di dekat mereka.

Aigoo, justru hadiah taruhan ini adalah kamu babo, kalau kamu ikutan terus apa yang jadi taruhannya dong, batin Soomi.

“Ini hanya antara aku dan Soomi, memangnya kenapa kamu mau ikutan?” tanya Hanbyul berusaha menutupi kekagetannya.

“Tentu saja aku mau. Kamu bilang tadi taruhannya yang menang boleh mengutarakan perasaannya kan? Aku juga mau ikutan.” Junhyung kemudian berpaling menatap Soomi. “Kalau aku menang maka kamu gak boleh lagi lari dariku. Dan harus menerimaku. Bagaimana?”

Soomi tersenyum menatap Junhyung lalu ia melirik kearah Hanbyul dan berkata, “Silakan saja kalau mau ikutan. Ini terbuka untuk umum kok. Coba saja mengalahkanku.”

Hanbyul ingin sekali membungkam mulut Soomi. Ia menatap Soomi penuh amarah. Kalau Junhyung tak berdiri menghalanginya, mungkin Hanbyul sudah menyumpal mulut Soomi tersebut.

“Oke. Dan aku tak akan kalah darimu. Karena aku ingin mendapatkan hatimu Soomi,” bisik Junhyung.

Soomi hanya tersenyum sambil terus memperhatikan ekspresi yang dibuat Hanbyul. “Sudah sana pergi. Aku masih ingin bicara berdua dengan Hanbyul.”

Junhyung pun menurut dan pergi meninggalkan dua sahabat itu.

“Ahh iya, Hanbyul aku lupa bilang sesuatu padamu,” ujar Soomi sambil menjentikkan jarinya seolah ia baru ingat sesuatu. Kemudian Soomi mendekatkan wajahnya ke wajah Hanbyul. “walaupun kamu menang dan menjadi nomor satu di ujian semester ini, kamu akan tetap kalah dariku. Kamu melupakan sesuatu yang penting, Hanbyul. Junhyung itu MENYUKAIKU. Dan walaupun kamu menang dan bisa menyatakan perasaanmu padanya, kamu tetap tak bisa mendapatkan hatinya dan tak akan bisa menjadi miliknya.”

Keduanya saling menatap penuh dendam dan kebencian *duh lebay-nya keluar nih author*

“Orang sepertimu itu tak pantas untuk dicintai. Kamu kasar, angkuh, keras kepala, sombong dan tak tahu diri. Aku kasihan pada Junhyung, karena ia menyukai perempuan sepertimu. Kita lihat saja siapa yang menang.” Hanbyul lalu membalikkan badannya dengan kesal dan meninggalkan Soomi.

Soomi menghembuskan napas panjang melihat perubahan sikap Hanbyul. Ia tak menyangka sahabatnya yang paling penurut dan pendiam itu bisa berubah drastis 180⁰ seperti ini. Sesungguhnya Soomi tak ingin melakukan persaingan ini. bukan karena ia tak menginginkan Junhyung, tapi ia merasa tak ingin melawan Hanbyul. Soomi sudah mengenal Hanbyul dengan baik. Hanbyul bisa melakukan apa saja untuk bisa meraih apa yang diinginkannya, termasuk melukai dirinya sendiri. Soomi tak ingin persaingan ini justru melukai Hanbyul lebih jauh.

Soomi kemudian pergi meninggalkan halaman belakang gedung olahraga dengan gontai. Dalam perjalanannya ia terus memikirkan perubahan sikap Hanbyul ini, tiba-tiba saja ia ingat akan mimpinya tadi malam.

“jangan-jangan ini maksud mimpi semalam. aishh,, ada apa dengan diriku belakangan ini. Kenapa selalu mimpi buruk yang datang. Dan sekarang Hanbyul yang bersikap seperti ini padaku.” Rutuk Soomi.

“Soomi,” panggil seorang perempuan mungil yang sudah berdiri di depannya.

“Ga.. Gain?” Soomi tergagap melihat Gain yang sudah tersenyum manis dihadapannya.

“Kebetulan aku sedang mencarimu. Kamu kemana aja. Apa kamu tahu apa yang aku alami belakangan ini. Jahat sekali kamu mengacuhkanku seperti ini,” ujar Gain sambil mengerucutkan bibirnya.

Soomi langsung tersenyum melihat ekspresi Gain. Ia lega karena Gain masih seperti Gain yang biasanya, yang manis dan ceria. Soomi sempat khawatir ketika Gikwang bilang kalau ia menolak Gain.

“Kamu mau cerita apa, Gain?” tanya Soomi berusaha terdengar senormal mungkin.

“Aku ditolak oleh Gikwang. Kamun pasti senang mendengarnya.” Ujar Gain datar.

“Ahh, Jjinjja?! Dia berani menolak sahabatku yang manis ini? apa kubilang dia itu bukan namja yang baik kan. Lalu apa kamu baik-baik aja sekarang.” Tanya Soomi terlihat khawatir.

“Gwenchana. Makanya aku mancarimu , hibur aku dong. Aku sedang sedih nih,” rengek Gain manja.

“Kamu mau apa, nae chingu? Aku akan lakukan yang kamu inginkan agar kamu kembali senang.”

“Hmm, sebelumnya aku pinjam dompetmu, boleh,” pinta Gain.

Soomi bingung dengan permintaan Gain, tapi ia tetap mengeluarkan dompetnya. Diberikannya dompet kulit berwarna cokelat tua dengan sebuah gantungan inisial L menghiasinya. Gain menatap dompet itu lekat-lekat.

“Bilang pada Eomma-mu, aku mau minta dibuatkan dompet seperti ini,” ujar Gain sambil mengembalikan dompet Soomi.

“Mwo? Itu tidak bisa Gain. Aku kan udah bilang kalau Eomma membuat ini untuk hadiah ulang tahunku. Dan dompet ini hanya ada dua di dunia ini kau tahu. aku akan minta pada Eomma untuk membuatkanmu dompet dengan model yang lain saja ya,” bujuk Soomi.

“Andwae. Aku mau yang seperti ini. kalau hanya ada dua, ada dimana yang satunya lagi. Aku akan beli berapapun juga. Yang penting aku juga punya dompet seperti ini.” tegas Gain.

“Dompet yang satunya… eungg.. tentu saja ada di Eommaku. Hahaha,” Soomi tertawa hambar. Tak mungkin Soomi bilang kalau dompet yang satunya itu ada pada Gikwang. Nanti yang ada Gain curiga dan menuduhnya yang bukan-bukan.

“Jjinjja?? Kalau begitu pemilik dompet ini sudah mencuri milik Eomma-mu,” Gain mengeluarkan sebuah dompet yang sama persis seperti yang ada ditangan Soomi. Gain membuka dompet tersebut dan mengecek setiap kartu yang ada di dalamnya. “Ini kartu pelajar Lee Gikwang. Ini kartu kredit atas nama Lee Gikwang. Ini ATM atas nama Lee Gikwang. Ini kartu kesehatan atas nama Lee Gikwang. Ini SIM atas nama Lee Gikwang dan ada beberapa kartu keanggotaan atas nama Lee Gikwang. Serta… foto Lee Gikwang dengan seorang yeoja yang sangat aku kenal.” Gain memperlihatkan foto yang ada di dompet tersebut kepada Soomi.

Soomi kehabisan kata-kata untuk menyahuti ucapan Gain. Ia menatap foto yang ada di dompet tersebut. Foto yang diambil eomma-nya seusai upacara kelulusan Soomi. Saat foto berdua dengan Gikwang, Soomi sempat meledek Gikwang dan membuat Gikwang memiting leher Soomi dan Soomi membalas meninju dagunya. Berhubung fotonya pakai kamera polaroid, jadilah terabadikan keakraban ajaib mereka tersebut.

“Gain-ah… itu.. aku bisa jelaskan,” ucap Soomi.

“Jelaskan apa? Kalau kamu sudah berbohong padaku? Aku tak peduli dengan apapun hubungan kalian itu. Tapi kamu sudah membohongiku Soomi. kamu bilang kamu gak kenal. Tapi ini apa? Dan bukan hanya itu, kemarin aku melihatmu di HighLee Departement Store sedang bermesraan dengan Gikwang!! Teganya kamu membohongiku seperti ini!!” bentak Gain.

Soomi terkesiap dengan semua teriakan Gain. “Gain itu gak seperti yang kamu lihat. Dengarkan aku dulu, baru kamu boleh…”

“Kamu jahat Soomi. aku gak punya teman seperti kamu. Di depan terlihat manis tapi ternyata kamu menusukku dari belakang seperti ini.” Gain melempar Dompet Gikwang ke muka Soomi.

Soomi kaget dengan sikap Gain ini. akhirnya emosinya naik juga. “Kamu berani melemparku seperti ini. Kamu pikir hanya kamu saja yang benar. Kamu pikir aku juga gak terbebani dengan semua ini!!” bentak Soomi.

“Kamu hebat Soomi. Sudah jelas kalau kamu salah, tapi kamu masih saja gak mau mengaku salah. Masih tak bisa mengucapkan kata MIANHAE, eoh?” sindir Gain.

“Aku tak salah. Aku gak pernah salah. Kamu saja yang babo. Suruh siapa menyukai namja yang kamu bahkan tak tahu asal usulnya. Dan sekarang begitu kamu patah hati kamu mau menyalahkanku?! ” seru Soomi kesal.

Gain mengangkat tangannya di udara hendak menampar Soomi. Tapi dirasakan tangannya tak bisa bergerak. Gain menoleh ke sisi kanannya, dan terdapat Gikwang yang sedang menahan ayunan tangan Gain.

“Apa yang mau kamu lakukan padanya, Gain?” tanya Gikwang.

“Gikwang….” Gain terbata melihat sosok Gikwang itu.

“Kenapa kalian bertengkar begini? Kenapa kamu seperti mau memukulnya, Gain?” tanya Gikwang lagi.

“Jawab aku Gikwang. Kamu bohong padaku ketika kamu bilang kamu gak punya yeojachingu. Tapi pada kenyataannya kamu dan Soomi sebenarnya sepasang kekasih kan? Kenapa kamu gak bilang?” isak Gain.

“Kenapa kamu menuduhku seperti itu. Bodoh sekali kamu punya pikiran seperti itu. Memangnya aku gak punya pikiran sampai aku memilih untuk menjadikan manusia babo ini kekasihku,” sahut Soomi sewot.

neo jeongmal nappeunna, Soomi!! aku benci kamu!! Neomu miwoyo!!” pekik Gain.

“Aku juga benci kamu Gain,” lirih Soomi kemudian berlari meninggalkan Gain dan Gikwang.

Gikwang hendak mengejar Soomi, tapi tak jadi karena Gain sudah bersimpuh dan menangis di hadapannya. Gikwang pun ikutan berjongkok menatap Gain. Ditemukannya dompetnya yang hilang didekat kaki Gain. Gikwang lalu memungut dompet tersebut.

“Kamu tahu…” ujar Gikwang sambil menatap foto di dompetnya. “Aku akan memberitahumu sebuah rahasia yang tidak diketahui siapapun selain kedua orangtuaku serta pegawai kedua orangtuaku. Bahwa aku dan Soomi sebenarnya adalah Oppa-dongsaeng. Aku Oppa Soomi, dan Soomi adalah dongsaengku. Memang bukan kandung, kamu tentu tahu kalau Eomma Soomi sudah menikah lagi. Dan Appa baru Soomi itu adalah Appaku.”

Gain menatap Gikwang nanar. Kenapa pria ini baru mengatakannya sekarang? Setelah ia bertengkar dengan Soomi, setelah ia memaki Soomi, setelah ia menuduh Soomi, ia baru tahu kalau Soomi itu tak bersalah sama sekali.

“Hubungan kami murni adalah oppa-dongsaeng. Dia tak pernah mau mengakuiku sebagai Oppanya karena ia tak suka mendengar ejekan orang-orang ataupun gunjingan orang-orang tentang kami. Dia tak suka mendengar orang membandingkan kami berdua. Karenanya ia tak pernah mau mengumbar hubungan kami.”

“Dan satu hal lagi. Aku sangat menyayanginya. Dia adalah dongsaengku yang paling berharga. Karenanya aku tak suka kalau ada yang menyakitinya apalagi sampai membuatnya menangis. Walaupun aku menyukaimu Gain, tapi aku tak bisa memaafkan sikapmu barusan kepadanya,” ucap Gikwang.

Gain terhenyak mendengar kata-kata Gikwang. Gikwang menyukainya? Tapi karena Gain membentak Soomi dihadapannya, Gikwang jadi membencinya. Seketika Gain merasa kalau dunianya runtuh.

Gikwang bangkit dan berjalan kearah menghilangnya Soomi, tapi Gain menahan kaki Gikwang.
“Gikwang, mianhae. Aku sudah menuduhmu dan Soomi. Aku hanya terlalu kaget dan emosi. Kumohon maafkan aku,” pinta Gain.

Tapi Gikwang tak bergeming. Dihentakkan kakinya dan membuat cengkraman Gain lepas. “Jangan minta maaf padaku. Karena aku tak membutuhkan maafmu.” Gikwang akhirnya meninggalkan Gain dan mengejar Soomi.

Gain memohon, memanggil nama Gikwang, tapi pria itu sama sekali tak berpaling. Dan Gain kembali menangis.

====beedragon====

Soomi berlari menyusuri halaman belakang sekolah. Ia terus berlari berusaha mencari tempat yang bisa menyembunyikan airmatanya. Karena ia sangat sedih hari ini, dua sahabatnya sekarang membencinya. Airmata sudah memenuhi penglihatannya. Soomi hanya bisa berlari tanpa bisa melihat dengan jelas apa yang ada dihadapannya. Sampai akhirnya ia menabrak sesuatu.

“Soomi?”

Soomi mendongakkan kepalanya, menatap sesosok pria yang ada di hadapannya. Airmatanya hilang seketika. Ada perasaan tenang ketika melihat pria ini. Dan Soomi menundukkan kepalanya.

“Menanglah…” lirih Soomi.

“Mwo? Soomi, kamu kenapa? Kamu sakit? Bilang padaku mana yang sakit.”

“Aku gak sakit. Ahh aniyo, aku sakit. Aku memang sakit. Aku sakit hati. Karenanya menanglah ujian ini. Aku akan mengalah padamu. Jadi menanglah untukku,” ujar Soomi.

“Aku tak pernah memohon pada orang lain sebelumnya. Kumohon menanglah. Dan jadilah namjachinguku. Tunjukkan pada mereka kalau aku juga pantas dicintai. Kalo aku memang pantas untuk mendapatkan kasih sayang. Aku mohon padamu, Junhyung,” isak Soomi.

“Tak perlu memohon padaku. Aku akan melakukannya walaupun kamu tak memintanya. Karena aku ingin bisa ada disisimu untuk melindungimu. aku ingin bisa ada disisimu untuk menjagamu. Jadi kamu tenanglah dan tegakkan lagi kepalamu.” Hibur Junhyung sambil memeluk Soomi.

====beedragon====

Mami berjalan tergesa-gesa menyusul sepasang anak manusia yang sedang berjalan bersama. Mami mengatur napasnya ketika ia sudah sampai di belakang pasangan yang adalah Yoseob dan Gain.

“Gain,” sapa Mami.

“Mami! Kamu kemana aja,” seru Gain riang sambil menggamit lengan Mami.

Mami langsung melepaskan lengan Gain dengan risih. Ia menunjukkan pandangan tak bersahabat pada Gain dan Yoseob.

“Kalian mau pulang bareng?” ujar Mami berusaha terdengar sebiasa mungkin.

“Mami, biar aku antar kamu pulang,” ajak Yoseob.

“Aniyo. Kalian pulanglah. Rumah kalian kan searah. Kalau kamu mengantarku pulang nanti Gain mau pulang sama siapa,” tolak Mami.

Gain menangkap ada gelagat aneh antara Mami dan Yoseob. “Kalian masih bertengkar.”

Mami tersenyum sinis mnanggapi pertanyaan Gain. “Kami gak bertengkar Gain. Berkat seseorang, sekarang kami sudah resmi putus.”

“Mwo? Putus??” Gain langsung menatap Yoseob dengan pandangan menuduh.

“Itu menurut dia, Gain. Bagiku kami belum putus sama sekali.” Sahut Yoseob.

“Terserah kalau kamu mau menganggap seperti itu. Tapi sekarang, aku sudah bukan lagi yeojachingumu. Lagipula aku sudah punya namjachingu baru,” ujar Mami.

“Mwo?! Ahn Mami. Kamu menuduhku selingkuh, padahal kenyataannya kamu sendiri kan yang selingkuh. Makanya kamu cari-cari alasan biar bisa memutuskanku. Iya kan?!” Yoseob menuntut jawaban Mami.

“Ani. Anggap saja ini balasan. Kalau kamu bisa menyelingkuhiku dengan orang terdekatku, kenapa aku tidak bisa.” Sahut Mami enteng.

“Tunggu dulu, Yoseob selingkuh? Bagaimana bisa kamu menuduhnya selingkuh? Memangnya dengan siapa dia selingkuh?” tanya Gain.

“Kamu akan tahu nanti setelah melihat siapa namjachingu baruku,” sahut Mami dingin.

Sebuah motor sport merah berhenti di depan mereka bertiga membuat ketiga anak itu menghentikan perdebatannya. Si pengendara motor menyodorkan helm kearah mereka sambil membuka tutup helm yang dia pakai.

“Gikwang…” tegur Gain saat melihat wujud asli si pengendara motor.

“Ayo cepat ambil helmnya dan kita pulang. Nanti jalanan keburu macet,” kata Gikwang.

Ada secercah kebahagiaan di wajah Gain. Padahal tadi siang Gikwang memarahinya dan berkata tak bisa memaafkannya karena sudah membentak Soomi, tapi sekarang Gikwang muncul dihadapannya dan (menurutnya) mengajak Gain pulang. Gain pun menjulurkan tangannya hendak mengambil helm tersebut.

Tapi Mami lebih dulu merebut helm itu dan langsung berdiri dihadapan Gikwang sambil berkata dengan manja, “Oppa, ini bagaimana cara pasangnya? Aku gak ngerti.”

Gikwang kemudian memasang pengaman helm Mami. “Cepat naiklah. Aku gak mau berlama-lama disini.”

“Nee,” sahut Mami riang dan lalu berpegangan pada pundak Gikwang sebagai tumpuan agar ia bisa naik ke boncengan motornya.

Yoseob menarik lengan Mami dan membuat Mami hampir terjatuh karenanya.

“Ini namjachingu barumu? Bagaimana bisa kamu jadian dengannya Mami? Kapan kalian jadian? Jelaskan padaku Mami!!” seru Yoseob.

“Hei, kau menyakitinya,” seru Gikwang yang lalu melepaskan cengkeraman Yoseob. “gwenchana? Ayo cepat kita pulang. Udara disini makin panas. Gak baik buat kamu.” Gikwang kemudian menaikkan(?) Mami ke motornya.

“Mami jelaskan dulu padaku! Kenapa kamu malah pacaran sama begundal ini?” Yoseob masih ngotot menuntut jawaban Mami.

“Sudah jelas bukan?” sahut Mami sambil melirik kearah Gain yang masih terpaku. “Kamu bisa menyelingkuhiku maka aku pun juga bisa menyelingkuhi kamu. Kalau kau masih bertanya kenapa, Tanya pada anak itu. Dia pasti sudah tahu alasanku,” tutur Mami sambil menatap Gain penuh dendam.

Mami kemudian memeluk pinggang Gikwang dengan mesranya. Dan motor sport Gikwang pun melaju meninggalkan Yoseob dan Gain.

“Yah,bagaimana bisa Mami melakukan ini padaku? Kenapa dia malah pacaran dengan Gikwang. Bukankah dia harusnya sudah tahu kalau Gain suka Gikwang. Tapi kenapa malah…” Yoseob berbicara pada dirinya sendiri.

“Gain-ah. Gwenchana?” tegur Yoseob.

“Dia menuduhku…” lirih Gain yang sudah berlinang airmata.

Yoseob jadi khawatir melihat Gain. Yoseob tahu, ini pasti pukulan berat untuk Gain menyaksikan sahabatnya berpacaran dengan orang yang disukainya.

“Dia menuduhku selingkuh denganmu. Karena itu dia berpacaran dengan Gikwang. Aku.. aku..” Gain sudah terisak tak mampu meneruskan kata-katanya lagi.

“Apa kau bilang?”

====beedragon====

@kerajaan langit

Dewi Yeoshin tersenyum menatap Kolam Takdirnya. Ia terlihat begitu bahagia menyaksikan pertengkaran keempat puteri yang sedang terjadi di bumi.

“Begitulah. Teruslah seperti itu. Teruslah mengejar dan menyakiti satu sama lain. Kalian tak akan pernah bisa bersatu dengan Guardian kalian. Kalian haru merasakan betapa menderitanya dipertemukan tapi tak tak bisa dipersatukan,” Gumam Dewi Yeoshin.

“Apa yang membuatmu tersenyum begitu bahagia, Dewi?” tegur seorang Dewa tampan yang baru saja datang ke kediaman Dewi Yeoshin.

“de..dewa..” Dewo Yeoshin seketika berubah gugup melihat sesosok dewa dihadapannya ini. “Apa yang membuat Dewa dari langit ketujuh mampir ke kediamanku?”

“Aku hanya ingin tahu, apa kesibukanmu belakangan ini sampai-sampai kau jarang terlihat di altar istana.” Tanya sang dewa.

Dewi yeoshin hanya terdiam menjawab pertanyaan sang Dewa. Dewa dihadapannya ini adalah dewa dari langit ketujuh yang kedudukannya bahkan lebih tinggi dari Dewi Yeoshin. Dan tentu saja tanpa perlu dijawab, sang Dewa pasti sudah tahu apa yang membuat Dewi Yeoshin sering absen datang ke altar istana.

“Masih disibukkan dengan mengurus para Puteri?” Tanya sang dewa sambil menatap Kolam Takdir.

Dewi hanya mengangguk sebagai jawaban. Dan ia mengangkat tongkat keemasannya untuk menghapus cerminan para Puteri yang ada di Kolam Takdirnya.

“Baiklah, tampaknya kamu sibuk sekali sampai tak mau menjawab pertanyaanku. Kalau begitu aku pergi dulu. Sering-seringlah berkunjung ke altar istana. Istana membutuhkan Dewi sepertimu. Jangan terlalu sibuk mengurus para Puteri,” ujar sang Dewa.

Dewa kemudian beranjak pergi. Tapi sebelum ia keluar gerbang ia sempat berpesan pada Dewi. “Jangan lampiaskan dendammu pada para Puteri. Atau kau mau membuat mereka bernasib sama sepertimu? Mengalahlah pada mereka. Tak selamanya apa yang kau anggap benar itu adalah baik untuk mereka.”

Dewi Yeoshin menatap kepergian sang dewa. Dewa langit ketujuh datang mengunjunginya hanya untuk menasihatinya. Tapi kekerasan hati Dewi yeoshin tak akan luluh semudah itu, walaupun yang membujuknya adalah dewa tertinggi sekalipun.

“Justru aku lakukan ini agar mereka tak bernasib sama sepertiku.” Lirih Dewi yeoshin.

====beedragon====

[TBC]

Last Updated : 180712

Sungguh aku gak ada nyawa banget waktu nulis ini… penyebabnya adalah postingan sebelum ini.. suamiku tercinta sekarang udah punya pacar.. gara-gara itu tiap nulis nama Joker rasanya nelangsa banget.. Mian banget kalo misalnya part ini berantakan dan gak ada feelnya,, author hanya manusia biasa yang emosinya masih gampang goyah.. *hadeehhh udah banjir airmata nih*

Annyeong T____T

Advertisements
FF – GUARDIAN BEAST / Chapter VI Challenge!! / PG-15 / by Ratu Puteri

19 thoughts on “FF – GUARDIAN BEAST / Chapter VI Challenge!! / PG-15 / by Ratu Puteri

  1. B2UTY is Indah says:

    Mianhae eon baru ninggalin jejak di part ini. Aku reader baru eon, salam kenal. Pertama kali baca prolognyab aku udah jatuh cinta. Dan keasikan baca sampe lupa ninggalin jejak. Ceritanya seru banget dan bikin penasaran. Ddaebbak eon >.<

  2. Dessy Diana says:

    eonni, kok ceritanya makin seru sih ??
    kasihan banget soomi y harus mempertaruhkan cinta dengan sahabatnya sendiri …
    huwaaaa makin penasaran q …

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s