FF – Guardian Beast / Chapter III Fall Each Other / PG-15 / by Ratu Puteri


Title : GUARDIAN BEAST

Rating / Pairing : PG 15 / Straight

Author : Ratu Puteri a.k.a BeeDragon

Cast:
#Lee Soomi = Puteri Soom
# Yong Junhyung = dragon / Guardian Yong
#Shin HanByul = Puteri Byul
#Jang Hyunseung = Pegasus / Guardian Jang
#Ahn Mami = Puteri Maeum
#Lee Gikwang = Kerberos / Guardian Lee
#Han Gain = Puteri Gaseum
#Yang Yoseob = el-lion / Guardian Yang

Length : Multi Chaptered

Genre : Fantasy, Romance, School life, family

Disclaimer : semua ini hanya fiksi belaka. hanya sebatas fantasi seorang Ratu yang gak berhenti berimajinasi. TAKE OUT WITH FULL CREDIT.No Copy Paste and Dont Be Silent Reader

Chapter III
= They Fall Each Other =

“Yah Hyunseung. Aku gak mau ikutan pelajaran olahraga,” seru Soomi.

“Kamu kan ketua kelas. Kalau ketuanya aja gak ikutan olahraga gimana nanti murid-murid yang lain,” sahut Hyunseung.

“Tapi aku gak mau. Aku hanya perlu pintar di pelajaran lain, tapi bukan olahraga. Bilang sama Yoon Seonsaengnim, kalau aku gak ikutan.”

Soomi lalu berbalik arah hendak kembali ke kelasnya, dilihatnya Hanbyul tengah jalan berdua dengan Junhyung. Hanbyul langsung menghampiri Soomi.

“Soomi, kamu ikut olahraga hari ini?” tanya Hanbyul.

Soomi hanya mengangguk lemas. “Aku semalam gak bisa tidur karena mimpi buruk. Dan sekarang aku dipaksa untuk main panas-panasan.”

“Hyunseung-ssi, Soomi gak bisa ikutan olahraga. Lagipula mataharinya sedang terik-teriknya. Soomi gak bisa main panas-panasan. Bisa minta tolong izinkan Soomi biar gak ikutan olahraga? Lihat dia pucat begini,” Hanbyul memohon pada Hyunseung.

Hyunseung akhirnya menghampiri Soomi kemudian memegang keningnya untuk memeriksa suhu tubuh Soomi. Melihat Hyunseung menyentuh kening Soomi, membuat Junhyung berjengit sedikit.

“Wah, kamu memang agak panas. Yasudah, aku akan bilang pada Yoon Seonsaengnim agar kamu boleh ga ikutan olahraga.” Hyunseung lalu berlari ke tengah lapangan dimana para murid sudah berkumpul.

“Kalau begitu aku tinggal ya. Kita mau ke lab biologi soalnya, Annyeong,” pamit Hanbyul pada Soomi.

Tapi Junhyung tak lekas pergi, dia masih ada dihadapan Soomi seolah ingin mengucapkan sesuatu. Tapi karena Hanbyul sudah memanggilnya, akhirnya Junhyung beranjak dari tempatnya.

“Soomi awas bolaaaaa!!!!!” teriak orang dari tengah lapangan.

Pandangan Soomi yang sudah kabur, bahkan tidak bisa melihat kalau ada bola yang melesat cepat ke arahnya. Soomi tidak dapat menghindari bola itu karena semuanya sudah berbayang di penglihatan Soomi.

DASSHHH.

Bola tersebut terpental karena ‘high kick’ yang dilancarkan Junhyung. Bola tersebut ditendang Junhyung tepat didepan wajah Soomi. Soomi yang sudah limbung bahkan tak bisa melancarkan makian terhadap orang yang sudah menendang bola ke arahnya. Karena sekarang semua yang dilihatnya sudah berubah menjadi gelap.

Yang terdengar terakhir kalinya hanya teriakan Hanbyul yang memanggil namanya.

====beedragon====

Soomi membuka matanya. Didapatinya dirinya sudah ada di ruang kesehatan sekolah. Soomi memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut. Terdengar ketukan di pintu ruang kesehatan dan tak lama kemudian kepala Gikwang muncul dibalik tirai.

“Yah, kudengar kamu pingsan,” sapa Gikwang.

“Aish, kamu ngapain kesini. Nanti kalau ada yang lihat gimana?” desis Soomi.

Gikwang kemudian mengintip keadaan di balik tirai. “Gak ada siapa-siapa.”

Gikwang kemudian menghampiri Soomi. Ditatapnya wajah adik tirinya itu. Kemudian ia memegang kening Soomi. “Panas. Udah minum obat belum? Kamu ada-ada aja. Appa sama Eomma lagi pergi ke Taiwan, kamu malah sakit gini. Bisa banget sih nyusahin aku.”

“Yah aku juga gak mau sakit begini. Ini karena mimpi-mimpi menyebalkan itu,” keluh Soomi.

“Yasudah, nanti aku telepon Kim Ahjussi buat jemput kamu. Istirahatlah dulu. Aku balik lagi ke kelas ya.”

“Yah, tunggu dulu,” tahan Soomi. “Aku lapar. Beliin aku roti dua sama susu cokelat.”

Gikwang kemudian menadahkan tangannya dihadapan Soomi. “Uangnya mana?”

“Dompetku ada di kelas. Pake uang kamu dulu aja. Lagian kan kamu di kasih uang lebih sama Appa.”

Gikwang akhirnya pergi meninggalkan Soomi. dan Soomi kembali memikirkan semua mimpinya.

Dalam keadaan pingsannya tadi ia kembali bermimpi. Mimpi yang sama yang mengganggu malam-malamnya. Kali ini ia mimpi diserang sebuah bola api raksasa dan kembali seekor naga melindunginya. Soomi benar-benar sudah tidak bisa tidur nyenyak belakangan ini karena mimpi-mimpi tersebut.

Ruang kesehatan kembali diketuk dan kali ini yang datang adalah Junhyung. Ragu-ragu junhyung mendekati Soomi yang tengah duduk sambil bersandar.

“Kamu sudah siuman?” sapa Junhyung.

“Kelihatannya?” sahut Soomi malas.

“Kelihatannya sudah. Kenapa kamu bisa pingsan, padahal tadi bolanya sama sekali gak menyentuh kamu. Apa kamu terlalu kaget melihat highkick-ku tadi?” Junhyung mencoba untuk bercanda.

“Anemia ku kambuh tau. Gak ada hubungannya sama sekali sama apa yang kamu lakukan tadi,” sinis Soomi.

“Sepertinya kamu baik-baik aja. Karena kamu udah kembali seperti biasanya. Apa kamu gak mau mengucapkan sesuatu padaku? Aku lagi-lagi menolongmu tau.”

Soomi malah buang muka menyahut ucapan Junhyung. Dia tahu persis apa yang junhyung minta. Tapi karena sudah lama dia tak mengenal kata-kata yang harapkan Junhyung, jadi ia sudah tak ingat lagi bagaimana mengucapkannya.

“Aku gak minta untuk kamu tolong. Salah sendiri, kenapa mau merepotkan dirimu seperti itu. Dan sekarang kamu minta imbalan untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku??” sahut Soomi sambil memandang keluar jendela.

Junhyung hanya tersenyum simpul mendengar jawaban Soomi. Dia memang tidak mengharapkan Soomi mengucapkan terimakasih padanya. Tapi Junhyung hanya ingin memastikan kata-kata yang diucapkan Mami beberapa hari yang lalu.

“Padahal gak susah untuk menghargai bantuan orang lain,” ujar Junhyung.

Mereka kemudian terdiam. Mereka saling berkutat dengan pikiran mereka satu sama lain. Soomi sibuk memikirkan mimpi-mimpinya, sementara Junhyung sibuk mengatur kata-kata yang bisa membuat Soomi mau berbicara baik padanya.

“Yah. Susu cokleatnya gak ada. Adanya susu…” seru Gikwang yang tiba-tida datang dan langsung menyibak tirai. Gikwang kaget karena ada Junhyung disana. Ia hanya manatap Junhyung dan Soomi bergantian. Gikwang bingung harus melakukan apa sekarang, karena Soomi sudah melancarakan tatapan akan-kubunuh-kau-dirumah-nanti-babo.

“…pisang. Ahh, kupikir masih ada temanku disini. Ternyata dia udah gak ada yahh,” ujar Gikwang sambil tertawa-tawa gak jelas dan menggaruk-garuk kepalanya. “Maaf udah mengganggu waktu istirahat kalian.”

Gikwang akhirnya bebalik hendak meninggalkan mereka, tapi dia menghampiri Soomi terlebih dahulu. “Kamu lagi sakit ya. Ini punya temanku. Makan aja, orang sakit butuh tenaga banyak.”

Gikwang kemudian meletakkan roti dan susu pesanan Soomi di meja kecil yang ada di samping ranjang. Kemudian Gikwang meninggalkan Soomi dan Junhyung.

====beedragon====

“Sepertinya aku menyukai seseorang,” ujar Gain malu-malu.

Pengakuan Gain ini membuat Mami dan Hanbyul yang duduk disampingnya serta Junhyung, Soomi dan Hyunseung yang duduk dihadapannya mengeluarkan ekspresi yang sama, kaget.

“Wahh, uri Maknae, akhirnya kamu bisa juga suka sama namja,” kata Mami.

“Ahh, Gain-ah, siapa namja beruntung yang berhasil meluluhkan hatimu?” tanya Hanbyul.

Gain menundukkan kepalanya karena malu. Dia tidak menyangka reaksi teman-temannya akan seheboh ini.
“Uhmm, seseorang di kelasku,” jawab Gain.

Dua orang di samping Soomi langsung mengeluarkan beragam ekspresi yang membuat Soomi menyikut keduanya.

“Yah. Kenapa kamu menghela napas seperti itu?” tanya Soomi pada Hyunseung.

“Ahh, aku hanya kecewa karena aku gak sekelas dengan Gain. Itu berarti bukan aku yang Gain suka,” sahut Hyunseung asal.

Gain tersipu mendengar ucapan Hyunseung. Walau ia tahu kalau Hyunseung hanya bercanda, tapi Gain tetap merasa tersanjung mendengarnya.

“Kalo kamu kenapa juga ikutan menghela napas lega seperti itu?” Soomi berpaling ke Junhyung.

“Aku hanya lega karena berarti bukan aku yang disukai Gain,” jawab Junhyung sambil memainkan makanannya.

Babo,” sahut Soomi.

“Chagiyaaaaaa….!!” Seru seorang lelaki berambut blonde berlari menghampiri meja tempat Soomi dan kawan-kawan makan siang.

Lelaki itu langsung duduk di samping Mami dan menggamit lengannya kemudian mengeluarkan ekpresi manja. “Chagiya, kenapa kamu tinggalin aku sendirian di kelas sih? Aku kan juga mau makan siang sama kamu.”

“Chagiya??” sahut Soomi dan yang lainnya bingung.

“Siapa chagiya? Apa maksudnya dengan chagiya?” beragam pertanyaan langsung memberondong Mami dan Yoseob si lelaki berambut blonde.

“Chagiya, kamu belum bilang ke mereka kalau kita udah jadian?” tanya Yoseob ke Mami.

Mami menundukkan kepalanya. “Aku belum bilang ke mereka karena aku sendiri masih ragu akan perasaanmu Yoseob.”

“Gak usah ragu akan perasaanku Chagiya. Aku tulus mencintaimu kok. Sungguh. Percayalah padaku,” rayu Yoseob sambil menggenggam erat kedua tangan Mami dan tidak mempedulikan lima anak manusia yang juga ikutan menonton mereka.

“Omooo, kalian mesra sekali,” seru Gain sambil menutupi wajahnya dan menyisakan tempat untuk mengintip mereka.

“Wah mereka jadian gak pake bilang-bilang dulu. Kita minta traktirannya nihh,” ujar Hyunseung.

“Ngomong-ngomong yang mana orangnya, Gain? Biar kita tahu siapa namja beruntung itu,” desak Hanbyul pada Gain.

Gain mengedarkan pandangannya ke sekeliling kantin sekolah, berusaha mencari sosok yang sedang mereka bicarakan. Dan ia menemukan sosok Gikwang yang sedang makan sendirian di sudut kantin. Gain pun langsung menunjuk kearah Gikwang dan membuat semua yang duduk bersamanya menoleh.

MWO?!! Andwe!!” tolak Soomi berlebihan.

Semua yang ada disana langsung bingung melihat penolakan Soomi yang berlebihan itu. Soomi pun menyadari reaksinya yang berlebihan tersebut, akhirnya ia mencoba utuk mencairkan suasana.

“Ahh, itu maksudku, uhmm, kamu ingat waktu kita pengumuman penerimaan murid baru kan? Dia dan teman-temannya kan mengganggu kita waktu itu. Dan dia sepertinya bukan anak yang baik. Kamu ingat penampilannnya dan teman-temannya yang seperti preman itu kan? Jadi sebaiknya kamu jangan menyukai dia,” bujuk Soomi.

Soomi tentu tak ingin Gain menyukai Gikwang. Karena Soomi sendiri belum cerita pada teman-temannya kalau Gikwang itu adalah saudara tirinya. Soomi tak ingin ketiga temannya ini menjauhinya karena status Gikwang yang dulu adalah seorang preman.

“Tapi dia baik kok. Lihat aja sekarang pakaiannya aja udah rapi. Dan dia lumayan pintar,” bela Gain.

“Ne, dia kelihatannya baik kok. Buktinya waktu itu dia ngasih susu sama rotinya buat kamu kan,” Junhyung menimpali.

“Ngasih roti sama susu ke Soomi? Dalam rangka apa?” tanya Gain bingung.

“Waktu Soomi pingsan beberapa hari yang lalu. Dia nyari temennya di ruang kesehatan tapi ternyata gak ada. Trus dia ngasih roti dan susu temannya itu ke Soomi,” cerita Junhyung.

Aigoo, eotteokke, bagaimana cara membujuk Gain biar gak suka sama si babo, batin Soomi.

“Eii, yasudahlah. Biarin aja si Gain jatuh cinta, gak baik kalo dilarang-larang. Yang ada perasaannya malah tambah besar nanti,” ujar Hyunseung.

Soomi mendelik kearah Hyunseung. “Ishh, gaya bicaramu seolah kamu bener aja,” sindir Soomi.

“kalian kenapa jadi bertengkar begini? Jangan bertengkar, nanti jadi seperti kita loh,” lerai Mami.

Soomi dan Hyunseung sama-sama mengeluarkan pandangan seperti-apa-maksudnya ke Mami.

“Iya, kita yang tadinya berantem melulu, terus akhirnya jadi saling jatuh cinta dehh,” ujar Mami sambil menggelayut manja pada Yoseob.

“Euuhh,” sahut Soomi sambil mengibaskan tangannya.

“Aku gak mungkin suka sama anak jutek ini. dia sama sekali bukan tipeku.” Hyunseung ikutan mengibaskan tangannya. “Aku tuh sukanya yeoja yang feminim, yang lembut, yang manis, yang sopan.”

“Mwo, tipemu itu Hanbyul banget,” seru Mami menghentikan aktivitas suap-suapannya dengan Yoseob.

“Iyakah? Jadi Hanbyul itu mendekati tipeku?” ujar Hyunseung sambil manggut-manggut.

“Ehh, naega?! eii, itu gak mungkin Mami. Aku gak sesempurna itu,” tolak Hanbyul.

“Eii, kalian ini jadian aja. Biar tinggalin si Soomi sendirian,” Yoseob menimpali.

Soomi menimpuk Yoseob dengan tomat cheri yang entah ia dapat dari mana. Yoseob pun balas menimpuk Soomi dengan daun selada dari salad milik Mami. Tapi Junhyung menangkis serangan Yoseob tersebut.

“kalian kenapa malah maen lempar-lemparan makanan gini sih,” protes Gain.

Tapi Soomi gak mendengar protes Gain tersebut, dia kemudian melempar tomat cheri lagi ke yoseob, tapi malah mengenai Mami.

“Ahh Oppa, Soomi menimpukku,” rengek Mami ke Yoseob.

“Mwo, dasar yeoja ini,” sahut Yoseob berlagak geram sambil menyingsingkan lengan bajunya ia menghampiri Soomi.

“Yah, jangan sakiti Chagiya-ku,” ujar Yoseob sambil mencubit pipi Soomi.

“Aishh, Appo!!” bentak Soomi.

Junhyung dan Hyunseung langsung berebutan melepaskan cubitan Yoseob terhadap Soomi.

“Yah, Seobbie, jangan begitu nanti aku yang kena amuk,” pinta Hyunseung.

Yoseob sudah melepaskan cubitannya. Junhyung memegangi pipi Soomi yang memerah akibat cubitan Yoseob.

“Astaga Seobbi. Apa yang sudah kamu lakukan terhadap Soomi. lihat pipinya jadi merah begini,” ujar Junhyung sambil mengelus-elus pipi Soomi.

Soomi merasakannya detak jantungnya berdetak cepat, seolah ia baru habis lari marathon. Napasnya juga tiba-tiba sesak. Entah kenapa ketika Junhyung menyentuh pipinya, Soomi merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Soomi akhirnya menepis tangan Junhyung. Ia kemudian beranjak dan berlalu meninggalkan teman-temannya.

“Yah, Yoseob. Soominya jadi marah tuh,” ujar Hanbyul.

“Seob. Pokoknya kamu harus tanggung jawab. Nanti aku yang…” Kata-kata Hyunseung berhenti karena Soomi sudah memanggilnya dengan kasar. “tuh kan, apa kubilang. Nanti di kelas bisa-bisa aku yang habis diomeli sama dia,” ujar Hyunseung yang lalu menyusul Soomi yang sudah sampai dipintu kantin.

====beedragon====

Hari ini matahari kalah oleh awan-awan gelap yang menutupi cahaya dirinya. Membuat sore ini menjadi seperti akan menjelang malam karena sama sekali tak ada cahaya matahari yang bisa menembus pekatnya awan hitam yang menggantung di langit.

Soomi sedang menunggu supirnya datang menjemput. Karena ketiga temannya, Mami, Gain, dan Hanbyul sudah pulang duluan. Sementara Gikwang juga sudah pulang duluan. Jadi Soomi berdiri mematung sambil menatap awan-awan hitam yang semakin pekat.

Tiga menit, lima menit, sepuluh menit, lima belas menit sudah berlalu. Akhirnya Soomi memutuskan untuk tidak lagi menunggu supirnya. Ia kemudian melangkahkan kakinya keluar dari halaman Kirin High School. Soomi akhirnya berhenti di halte bus, niatnya untuk mencari taksi disana tapi tak sebuah mobilpun lewat dihadapannya.

“Tumben gak dijemput,” tegur seseorang di belakangnya.

Soomi menoleh, ternyata ada Junhyung sedang duduk di bangku halte. “Sepertinya dia lupa. Mungkin dia minta dipecat,” sahut Soomi sambil terus melihat ke jalan raya.

Junhyung terkekeh mendengar jawaban Soomi. “Kenapa gak pulang sama Hanbyul dan yang lain?”

“Mereka udah pulang duluan.”

“Ohh, mau kuantar pulang?” tanya Junhyung.

Soomi kembali menoleh ke Junhyung. “Tidak perlu. Aku bisa naik taksi.”

Akhirnya Soomi memutuskan untuk jalan kaki meninggalkan Junhyung di halte. Soomi memilih pindah ke halte berikutnya untuk menunggu taksi. Tapi Junhyung malah mengikutinya. Dia terus membuntut di belakang Soomi sambil sesekali menyuruh Soomi untuk memperlambat langkahnya.

Dan hujan pun akhirnya turun. Soomi dan Junhyung mempercepat langkah mereka ke halte yang sudah ada di depan mereka. sesampainya di halte, Soomi langsung menghela napas kesal. Dia kesal karena supirnya tidak menjemput dia, kemudian taksi yang dicarinya tak kunjung muncul dan sekarang hujan turun begitu derasnya. Belum lagi dengan kehadiran Junhyung yang selalu bisa membuat Soomi merasakan perasaan aneh di badannya.

“Wahh hujannya deras sekali,” ujar Junhyung sambil menadahkan tangannya ke tetesan air hujan.

Tapi Soomi hanya diam saja. Dia benar-benar gak mau menghabiskan tenaganya untuk bertengkar dengan Junhyung. Entah kenapa, hanya sama Junhyung Soomi tak bisa bersikap galak yang berlebihan seperti biasanya. Mungkin karena Soomi merasa Junhyung berjasa besar atas dirinya beberapa hari ini.

Splaaaashh (betewe aku gak tau bunyi cipratan air tuh kaya apa)

Junhyung sudah memeluk Soomi, melindunginya dari cipratan air yang disebabkan oleh mobil yang melaju kencang.
Jantung Soomi berdegup kencang. Dia merasa ada yang berbeda dengan pelukan ini. beda dengan yang biasa Appa-nya lakukan padanya setiap pagi. Beda juga dengan yang ia rasakan ketika berpelukan dengan ketiga sahabatnya. Entah apa yang membuat Soomi sampai tak bisa bernapas. Mungkin karena Junhyung memeluknya erat? Entahlah.

“Yah. Kenapa kamu malah menjadikan dirimu tameng begitu sih. Sekarang kamu jadi basah kuyup kan,” ujar Soomi dengan nada datar.

“Ahh, gwenchana. Yang penting kamu gak apa-apa. Kamu gak kebasahan kan?” Junhyung tersenyum menatap Soomi.

Melihat senyuman Junhyung, kembali Soomi sesak napas. Jantungnya kembali berdetak kencang. “Babo.” Sahut Soomi sambil mengalihkan wajahnya dari Junhyung.

Junhyung kembali memeluk Soomi karena cipratan air dari jalan raya kembali menghujani mereka. Dan sekarang Junhyung sudah basah kuyup dibuatnya.

“Babo. Kita pindah dari sini aja. Kalo begini terus kamu bisa benar-benar basah kuyup,” lirih Soomi di pelukan Junhyung.

Soomi kemudian celingukan mencari tempat yang aman untuk mereka berteduh. Kemudian ia melihat ada sebuah gurita raksasa di Playground di belakang halte. Akhirnya Soomi menarik Junhyung untuk berteduh di permainan anak-anak berbentuk gurita tersebut.

“Nah kalau disini kan kita gak akan kena cipratan air,” ujar Soomi. “Pakai ini da keringkan dirimu.” Soomi menyodorkan sebungkus tissue pada Junhyung.

“Tidak perlu, aku masih punya ini.” Junhyung mengeluarkan saputangan pemberian Soomi ketika pengumuman penerimaan murid baru.

“Kamu masih menyimpannya?” tanya Soomi tak percaya.

“Tentu saja masih.”

Sekarang badan Junhyung sudah menggigil tak karuan. Saputangan Soomi sudah dipakai untuk mengeringkan rambut junhyung, tapi rambutnya masih saja basah kuyup. Sekarang Junhyung sudah memeluk lututnya berusaha mendapatkan sedikit kehangatan disana.

Soomi jadi tak tega melihat Junhyung seperti itu. Ia merasa bersalah karena Junhyung mengigil seperti ini akibat melindungi dirinya. Soomi akhirnya mengulurkan tangannya menyentuh tangan Junhyung.

“Tanganmu dingin sekali. jeongmal baboya. Untuk apa melindungiku kalau kamu malah jadi seperti ini.”

Junhyung terkekeh mendengar kekhawatiran Soomi. karena Soomi menyampaikannya dengan nada yang aneh. “Gak perlu merasa bersalah dan gak perlu minta maaf. Aku ikhlas kok.”

“Siapa yang mau…” minta maaf padamu, Soomi ingin mengatakan hal itu. Tapi lidahnya terlalu kelu hanya untuk mengucapkan kata maaf. “…mengatakan hal itu. Pede sekali kamu.”

Junhyung akhirnya menggenggam tangan Soomi. Ditatapnya dalam-dalam mata Soomi. Dan Soomi kembali merasakan sesak napas. Jantungnya kembali memompa dengan cepat. Aliran darahnya mengalir deras ketika Junhyung menatapnya. Dan Ia merasa suhu tubuhnya tiba-tiba menjadi naik. Padahal cuaca sedang dingin-dinginnya. Soomi kembali merasakan perasaan aneh pada tubuhnya.

“Apa kamu merasa semua ini hanya kebetulan saja?” tanya Junhyung.

“Apanya?” sahut Soomi dengan suara bergetar. Ia tak berani lagi menatap mata Junhyung.

“Pertemuan kita. Kenapa selalu aku menyelamatkanmu ketika kamu sedang dalam musibah. Kenapa kamu selalu terjatuh di hadapanku. Kenapa aku selalu menolongmu. Apa kamu merasa semua ini hanya kebetulan?”

“Aku gak mengerti. Mungkin ini hanya kebetulan saja.”

“Kurasa bukan. Sepertinya para dewa mengirimkanku untuk melindungimu. Karenanya kita bertemu dengan cara seperti ini,” ujar Junhyung.

Soomi mengangkat kepalanya dan kembali menatap Junhyung. “Kamu percaya pada dewa?”

Junhyung mengangguk. “Kupikir, dewa ingin agar aku ada disampingmu untuk melindungimu yang ceroboh ini. bagaimana menurutmu?”

“A.. a.. ku tak tahu,” Soomi tergagap menjawab Junhyung.

Tanpa ia sadari wajah mereka sudah begitu dekat. Soomi merasakan wajahnya sudah memanas melihat Junhyung sedekat ini.

“Yah,” seseorang mengagetkan mereka berdua.

Soomi dan Junhyung langsung menoleh ke sumber suara. Seseorang dengan payung besar sudah berdiri di depan gurita.

Si babo ini, kenapa dia tiba-tiba ada disini? Kutuk Soomi dalam hati.

Gikwang sudah tidak mempedulikan tatapan membunuh yang dilancarkan Soomi. ia kemudian menyodorkan tangannya mengajak Soomi keluar dari gurita tersebut.

Karena sudah terlanjur ketahuan seperti ini, mau tak mau Soomi menyambut tangan Gikwang. Lagipula ia tak bisa terus berlama-lama bersama dengan Junhyung. Karena tak ingin lagi merasakan perasaan aneh itu.

“Aku duluan,” pamit Soomi pada Junhyung.

Junhyung yang bahkan tak sempat berkata apa-apa. Ia hanya bingung melihat Soomi yang kemarin begitu menolak Gikwang sekarang menyambut Gikwang dan pergi bersamanya.

Gikwang merangkul Soomi dan memastikan kalau Soomi terlindung dari tetes air hujan seutuhnya. Junhyung merasa ada yang aneh melihat kedekatan Soomi dan Gikwang ini. Tiba-tiba Junhyung jadi tidak simpati melihat Gikwang.

====beedragon====

[TBC]

last updated : 160712

Advertisements
FF – Guardian Beast / Chapter III Fall Each Other / PG-15 / by Ratu Puteri

19 thoughts on “FF – Guardian Beast / Chapter III Fall Each Other / PG-15 / by Ratu Puteri

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s