FF – After School Part II / Mystery / PG15 / By Ratu Puteri


Sumpah dehh part dua ini maksa bangett.. ya gapapa lah ya. Judulnya juga twoshoot, jadi semua masalah harus diselesaiin disini. Ini mah bener-bener jauh dari serem *bener2 iri deh ama yang bisa bikin cerita horror*
mian kalo ceritanya kepanjangan, soalnya mau diabisin disini, tanggung kalo mau dibikin 3shoot.
Ngomong2 jangan bingung ya sama nama2nya. Aku bikin si Yiyoung manggil trio orange caramel pakai stage name-nya, okehh..
Yasudlah nikmati aja..
Buat yang ngasi komen baik nanti aku hadiahin Trio Orange Caramel lagi cosplay pake baju tante kunti… hahahaha (babo, mana ada yang mau komen kalo gitu) -___-“

PLease buat yang baca baik sengaja atau gak, tolong di RCL. kalo masih ada juga Siders aku mendingan gantung diri aja di pohon toge =__=”

Title : After school
Length : TwoShoot
Author : Ratu Puteri a.k.a BeeDragon
Genre : mystery, horror, tragedy,
Rating / pairing : PG 15 / straight
Cast :
as
E Young After School as Noh Yi Young
UEE After School as UEE / Kim YooJin
Jooyeon After School as Lee Jooyeon
Raina After School as Raina / Oh Hyerin
Nana After School as Nana / Im Jinah
Lizzy After School as Lizzy / Park Sooyoung
Gahee, JungAh, Bekah After School
Noh Minwoo and YoonA
Disclaimer : semua cast disini bukan milik saya. hanya ide cerita dan alur dari FF ini adalah murni hasil karya saya. TAKE OUT WITH FULL CREDIT. No Copy Paste and Don’t Be Silent Reader.

Aku terus memikirkan kejadian di ruang balet itu. Sampai saat ini kalau aku masuk ke ruangan balet aku selalu melihat bayangan Nana berdiri di dekat jendela seolah sedang ikutan berlatih balet. Aku selalu meyakinkan diriku kalau itu hanya bayangan. Betapa sebalnya aku pada Gahee saem, karena selalu memanjangkan kelas sampai lewat jam pulang sekolah.

Aku kembali melihat kejadian yang sama ketika jam menunjukkan pukul 06.15 sore. Karena di jam yang sama, setiap aku melihat ke arah jendela pasti aku melihat hantu Nana sedang didorong oleh sesosok bayangan hitam berambut panjang. Kejadiannya selalu sama, hantu Nana sedang memandang keluar jendela sambil berkata ‘neomu ap’a’, kemudian dia berjalan ke arah pintu, lalu berjalan mundur pelahan menuju jendela. Dan semakin dekat ia dengan jendela semakin jelas kalau ada bayangan hitam yang memojokkan dia dan mendorongnya hingga jatuh.

Lebih aneh lagi kejadian yang di lab kimia. Aku dan Jooyeon terbiasa pulang telat untuk pengujian, dan di setiap jam yang sama yaitu jam 06.30, aku pasti melihat Lizzy yang sudah berlumuran darah karena nadinya diiris oleh bayangan hitam itu. Dan yang melihat ini selalu hanya aku, Jooyeon bahkan sampai memaki aku karena aku terus-terusan berteriak mengganggu konsentrasinya.

Begitu juga dengan kejadian di ruang musik. Aku terus-terusan mendengarkan suara Raina sedang main piano dan kemudian melihat Raina digantung oleh bayangan hitam itu. Dan anehnya, hanya aku yang mendengarkan suara itu. Walaupun aku dan yang lain mencoba untuk memainkan piano tetap piano itu tak mengeluarkan suaranya.

Sebenarnya ada apa ini? Apa hantu-hantu itu sedang memberitahu aku sesuatu atau apa? Mereka terus saja melakukan hal yang sama di hadapanku. Aku bingung dibuatnya. Sekarang karena aku sudah terbiasa aku jadi sudah tidak takut lagi. Bagaimana tidak, sudah sebulan aku disini, hampir setiap harinya aku melihat hantu-hantu itu, siapa yang tak terbiasa?

Apa mungkin mereka ingin memberitahu kalau mereka sebenarnya tidak bunuh diri melainkan dibunuh? Karena sepertinya mereka mengulang kejadian sebelum mereka meninggal. Berarti Nana tidak bunuh diri dengan cara melompat dari ruang balet, lalu Lizzy juga tidak mengiris nadinya sendiri, dan Raina tidak gantung diri. Apa mungkin bayangan hitam itu adalah pembunuhnya. Tapi bagaimana cara membuktikannya?

Aku harus mencari tahu tentang semua ini.

====beedragon====

Aku pergi ke perpustakaan sekolah. Aku membongkar semua koran lama yang ada disana. Sekolah ternyata masih menyimpan koran-koran yang berhubungan dengan kematian ketiga siswi tersebut. Aku meneliti satu persatu Koran –koran ini. kemudian aku menemukan sebuah fakta baru.

‘Di tubuh siswi L ditemukan kandungan obat tidur. Keluarga mengatakan kalau L menderita insomnia, jadi dia selalu membawa obat tidur bersamanya.’

Kalau memang mau bunuh diri kenapa dia meminum obat tidur? Ini aneh. Aku kemudian mencari kembali sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk.

‘Ditemukan dua bekas luka di leher siswi R. Polisi menduga kalau itu adalah karena posisi R ketika menggantung diri, dan membuat bekas luka yang lain di lehernya.’

Ini lebih aneh lagi. Kalau yang ditunjukkan hantu Raina itu padaku adalah dia dijerat oleh sebuah tali yang sangat tipis seperti benang, lalu kemudian Raina di gantung menggunakan gulungan senar. Jadi sebenarnya tali apa yang digunakan untuk mejerat Raina?

Ahh fakta-fakta penting seperti ini kenapa bisa diabaikan oleh polisi. Tapi kalau hanya seperti ini saja aku gak bisa mencari tahu kebenaran yang ada. Seseorang menepuk pundakku dan membuatku tersentak kaget.

“Apa yang kamu lakukan disini, Noh Yiyoung?” tanya wanita cantik bermata tajam ini padaku.

“Aniyo Uee Eonnie. Aku hanya membaca koran lama,” sahutku dengan suara bergetar. Ya aku kaget sekali melihat kepala sekolah ada disini.

Uee Eonnie melihat Koran-koran yang kubaca. Terlihat sekali dia tidak suka dengan apa yang kulakukan sekarang.
“Bukankah sudah kubilang untuk jangan memperdulikan gossip-gosip itu? Kenapa kamu tidak mendengar kata-kataku dan malah mencari berita mereka?” tanya Uee Eonnie sambil tersenyum tapi matanya jelas terlihat kalau dia marah.

Aku gemetaran dibuatnya. Aku harus jawab apa? Aku tak mau dihukum olehnya.

Jwoseonghamnida,” aku kemudian membungkukkan badanku. “Aku hanya penasaran kenapa orang-orang hebat seperti mereka bisa bunuh diri.”

Uee Eonnie kemudian memegang pundakku dan tersenyum padaku. Aku tak mau melihat matanya, karena matanya terasa dingin dan menusukku.
“Kalau begitu kamu harus menghilangkan kebiasaan ini. Tidak baik jika kamu terus mengungkit-ungkit orang yang sudah mati. Arraseo?” ucap Uee Eonnie dingin.

“Ayo kita keluar.” Uee Eonnie merangkulku dan meggiringku keluar perpustakaan.

Sebelum keluar perpustakaan aku sempat melihat ke tumpukkan koran yang belum kurapikan. Kagetlah aku karena disana sudah ada ballerina yang menatap kepergianku. Berbeda dengan yang kulihat di ruang ballet, karena sekarang wajahnya sudah hancur setengah.

“Kyaaaaa!!!!!!!”

Kenapa dia muncul dengan wajah seperti itu. Apa sekarang dia mengganti niatnya dan mau menghantuiku saja? Eomma!!

“Yah kenapa kamu berteriak seperti itu,” bentak Uee Eonnie. Dia kemudian melihat ke arah tumpukkan Koran. “Ada apa?”

Ballerina itu menghilang. Jantungku rasanya mau copot. Ini masih sore, dan belum jam pulang sekolah. Kenapa dia muncul dengan keadaan seperti itu. Dan kenapa dia muncul disini, di perpustakaan, bukannya di ruangan ballet? Apa yang ballerina ini mau sekarang?

====beedragon====

“Percaya padaku, Jooyeon-ah,” aku sedang berusaha merayu Jooyeon untuk percaya pada penglihatanku.

Tapi Jooyeon menolak dan malah memarahiku. Dia terus-terusan berkata kalau tidak ada yang namanya hantu.
“Kamu sudah banyak termakan rumor-rumor itu. Berhentilah, Yiyoung. Kenapa kamu terus berkata kalau hantu Sooyoung Eonnie gentayangan disini,” bentak Jooyeon.

Dia kemudian menarik tasnya dan menyebabkan buku catatannya jatuh. Aku pun memungut buku itu. Ada sesuatu yang keluar dari buku itu. Sebuah foto lama. Aku memperhatika foto itu. Ada lima orang yeoja sedang tersenyum bahagia sambil berpelukan. Tiga diantaranya aku tahu, mereka Raina, Nana dan Lizzy. Tapi dua orang ini siapa? Kenapa Jooyeon punya foto seperti ini.

“Berikan padaku,” Jooyeon langsung merebut buku catatannya dan juga foto itu. Dia kemudian menyelipkan kembali foto itu ke halaman belakang buku catatannya.

“Kenapa kamu bisa punya foto itu. Itu tiga siswi yang bunuh diri itu kan? Dua lagi siapa? Apa kamu tahu?” tanyaku penasaran.

Jooyeon kemudian menghela napas panjang. Dia kemudian memberikan buku catatan itu padaku. Buku ini sudah cukup usang. Aku membaca nama yang tertulis di halaman depan buku ini.

‘Catatan milik Park Sooyoung (Lizzy), Pledis Shool for Girl kelas 3-I.’

“Bagaimana kamu bisa memiliki ini?” tanyaku kaget.

“Park Sooyoung itu kakak sepupuku. Dia kakak sepupu kebanggaanku. Jadi kumohon, Yiyoung, berhenti bilang kalau Eonnie-ku masih ada disini. Aku sedih mendengarnya. Biarkan dia hidup tenang di alam sana.” Jooyeon menjelaskan.

“Aku tidak sedang behalusinasi, Jooyeon-ah. Aku memang melihat dia di lab kimia. Dia sepertinya ingin memberitahu sesuatu padaku. Sepertinya dia itu tidak bunuh diri, tapi dibunuh, Jooyeon,” aku kembali mencoba memberi pengertian pada Jooyeon.

“Memangnya kamu ini siapa? Kalau memang dia ingin memberitahu sesuatu seharusnya dia mendatangiku, bukannya kamu. Memangnya kamu ini siapanya Eonnie?”seru Jooyeon.

“Aku juga tak mengerti, tapi mereka terus muncul di hadapanku. Kumohon percaya padaku dan bantu aku mengungkap semua ini.”

Tapi Jooyeon tidak menjawab permintaanku. Dia hanya menangis. Aku juga jadi ingin menangis sekarang. Karena aku juga tak mau mendapat hal seperti ini.

Aku membuka buku catatan milik Lizzy. Catatan terakhirnya adalah tanggal 13 Mei 1998. Aku membaca tulisannya. Hanya rincian penelitian dia, tidak ada yang lain. Tapi sepertinya penelitian ini belum selesai, karena aku tak menemukan hasil atau kesimpulan dari pekerjaannya.

Kalau memang ingin bunuh diri, kenapa sempat-sempatnya dia melakukan penelitian? Dan kalau memang belum selesai, kenapa harus menyerah secepat itu sampai bunuh diri? Ahh aku masih tak bisa menemukan jawaban dari buku ini. aku kembali melihat foto yang tadi.

“Jooyeon-ah. Apa kamu tahu siapa mereka?”

Jooyeon sudah berhenti menangis. “Mereka sahabat Onnie. Aku hanya tau Im JinAh dan Oh Hyerin, kalau dua sisanya aku tak tahu. Tapi kamu lihat kan yang satu ini mirip dengan Nana, jadi aku menduga kalau ini adalah Im Yoonah, saudara kembarnya.”

“Berarti yang satu ini kita tak tahu siapa. Bagaimana kalau kita mencari di album kenangan?” aku memberi usul. Mungkin saja orang ini bisa membantu.

“Percuma, album angkatan Eonnie-ku itu sudah tak ada di perpustakaan. Aku sudah mencarinya.”

Aku nelangsa mendengarnya. Bagaimana ini? Aku harus menemukan kebenarannya secepat mungkin. Karena aku tak mau terus-terusan mendapat penglihatan seperti ini.

====beedragon====

Aku naik kembali ke lantai lima, karena ada bukuku yang ketinggalan. Begitu tiba di lantai lima aku mendengar ada percakapan dari dalam ruang ballet. Aku mengintip untuk melihat siapa yang ada didalam ruang ballet. Ternyata ada kepala sekolah dan seorang perempuan yang aku tak tahu siapa -karena mereka membelakangiku.

“Aku tak bisa datang tanggal 13 nanti untuk menghadiri upacara peringatan kematian adikku. Jadi aku datang hari ini,” ucap perempuan yang berdiri disamping Uee Eonnie.

“Aku iri padamu, karena kamu sepertinya masih bisa hidup dengan baik padahal kamu sudah melakukan hal sejahat itu,” lanjut perempuan itu.

“Jadi kamu masih mencurigaiku, Yoona? Kamu masih dengan kepercayaanmu kalau mereka dibunuh bukan bunuh diri?” tanya Uee Eonnie.

Yoona? Jadi ini yang namanya Yoona, aku memang sering melihatnya di TV, tapi tak pernah sedekat ini. Ahh Eomma pasti senang sekali kalau aku bisa dapat tanda tangannya.

Eh, tunggu dulu, tadi apa katanya? Mencurigai Uee Eonnie? Untuk apa?

“Tentu saja, karena yang tinggal terakhir bersama mereka itu kamu. Yang biasa pulang terlambat itu hanya kalian berempat. Dan yang paling punya banyak alasan untuk membunuh JinAh, Hyerin dan Sooyoung hanya kamu. Tentu saja dengan apa yang aku ucapkan terakhir kali ketika aku meninggalkanmu bersama mereka pasti bisa membuatmu gelap mata,” ucap Yoona.

Omo!! Yoona mencurigai Uee Eonnie yang membunuh Nana, Raina dan Lizzy! Bagaimana bisa?

Aku kemudian pindah posisi ke pintu kelas ballet yang satunya, karena kalau mereka tiba-tiba keluar aku bisa ketahuan sedang menguping pembicaraan mereka.

“Kamu lupa, akulah yang terakhir kali meninggalkanmu disini. Aku sempat bicara padamu dan menitipkan ketiganya padamu. Akulah saksi kalau kamu ada di sekolah pada malam itu. Hah, hanya karena kamu anak kepala sekolah, aku jadi takut untuk mengatakan hal itu. Dan karena itu pulalah JinAh selalu mendatangiku untuk meminta tolong padaku,” seru Yoona.

“Aku bilang aku tak membunuh mereka. berhentilah menuduhku. Polisi sendiri sudah membuktikan kalau mereka bunuh diri. Jadi jangan salahkan aku atas kematian mereka,” bantah Uee Eonnie.

“Tentu kamu ingat yang aku ucapkan dulu pada tanggal 13 Mei tiga belas tahun yang lalu. Kalau kamu tetap tidak akan bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan selama kamu masih menjadi bayangan kami. Bagaimana? Setelah kamu membunuh mereka apa kamu berhasil mendapatkan apa yang kamu inginkan? Popularitas, perhatian semua orang? Kalau itu mungkin kamu dapatkan, tapi tidak dari satu orang, apa sekarang kamu sudah mendapatkan perhatian dari Oppa? Sepertinya tidak. Karena sejak sepuluh tahun lalu Oppa pergi meninggalkan Seoul. Karena orang yang dicintainya dibunuh olehmu,” suara Yoona terdengar dingin sedingin es.

“Berhenti memojokkanku, Yoona! Kamu tak tahu apa yang bisa aku lakukan padamu!” bentak Uee Eonnie.

“Kamu mengancamku? Bahkan sudah membunuh tiga orang yang begitu menyayangimu masih belum cukup. Ini sebabnya aku tak pernah setuju melihat kamu selalu mengikuti kami. Kamu hanya memanfaatkan kami agar kamu bisa ikut merasakan popularitas kami.”

“Sombong sekali kamu, Yoona. Aku bisa berhasil seperti ini karena kerja kerasku sendiri, bukan karena siapa-siapa.”

“Sombong adalah nama tengahku. Aku memang punya sesuatu yang bisa aku pamerkan. Kalau kamu?? Kamu hanya bayangan kami yang selalu merusak pemandangan kami, walaupun kamu merubah wajahmu sampai seperti ini, tetap saja tidak bisa menutupi kebobrokan hatimu. Lihat saja suatu saat nanti kebenaran akan terungkap.”

“Yoona!! Apa belum cukup dulu kamu selalu menghina dan memojokkanku, sampai sekarang pun kamu masih melakukannya. Kalau kamu kesini hanya untuk menuduhku lebih baik kamu pergi. Ini adalah sekolahku, kamu tak berhak bicara seperti itu pada pemilik sekolah ini!!”

“Baiklah, kepala sekolah baru, harusnya aku juga bawa bunga untuk jabatanmu yang baru ini. Harusnya aku membawa bunga mawar untukmu, mawar hitam. Karena sesuai sekali dengan karaktermu, yang kelam dan mampu menyakiti orang.”

“Yah!!! Sekali lagi kamu menghinaku seperti ini, aku takkan segan-segan…”

Bagaimana ini?? Mereka bertengkar. Aku harus melerai mereka tapi bagaimana caranya? Aku mencoba mengintip ke dalam ruangan. Aku nyaris teriak ketika mengintip ke dalam ruang ballet. Ketiganya ada disini! Ketiga hantu itu, Nana, Raina dan Lizzy. Mereka berdiri di belakang Uee Eonnie.

Kyaaaaaa!! jeritku dalam hati, mereka mengerikan sekali. Nana dengan kepalanya yang hancur setengah, Lizzy yang pakaiannya penuh dengan darah dan Raina dengan leher yang patah. Aku takut, Eomma. Kenapa mereka muncul dengan wajah yang menyeramkan? Kemarin-kemarin mereka tidak semenyeramkan ini.

“Dengar Bayangan Kelam, aku akan menemukan kebenarannya. Kamu tahu, yang  JinAh inginkan hanya permintaan maafmu bukan yang lain. Kalau kamu mau mengaku dan meminta maaf maka semuanya akan lebih baik,” ujar Yoona.

Neo!!” Uee Eonnie melayangkan tangannya hendak memukul Yoona, tapi hantu Nana menahan tangannya.

Uee Eonnie terlihat bingung karena tangannya tak bisa bergerak sekarang. Kemudian Yoona meninggalkan Uee Eonnie yang masih terpaku disana. Sepeninggalnya Yoona, ketiga hantu itupun ikut menghilang.

Jadi siapa yang membunuh mereka? Uee Onnie atau Yoona? Ayo berikan aku petunjuk lagi. Kalian mau aku menyelesaikan ini kan? Dimana petunjuk yang lain?

====beedragon====

Tok Tok Tok

Seseorang mengetuk pintu kamarku. Tak lama aku melihat ada yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Ternyata seorang pria yang paling aku rindukan selama beberapa tahun belakangan ini.

“Oppa!!!” aku langsung lompat dari tempat tidurku dan memeluk pria itu. Dia adalah kakakku satu-satunya, Noh MinWoo.

“Aigoo, aku datang kesini karena katanya kamu sakit. Tapi melihatmu yang semangat begini, sepertinya Eomma sudah membohongiku lagi,” ujarnya sambil mengacak-acak rambutku.

“Yiyoung, ayo cepat turun dari Oppamu. Kamu sudah seperti koala saja,” ucap Eomma yang sudah masuk ke kamarku.

Aku pun turun dari gendongannya. Tapi tetap tak melepaskan pelukannya. Karena hanya setahun sekali aku bisa melihat Oppaku ini.

“Eomma coba lihat, katanya anak ini sakit. Tapi tenaganya begini kuat. Apa Eomma bohong padaku, agar aku cepat pulang?” canda Minwoo Oppa.

“Adikmu ini sejak masuk Pledis jadi gampang sakit. Sepertinya peraturan sekolah itu begitu ketat, sampai Yiyoung jadi sakit-sakitan begini. Dia juga sering pulang telat.” Eomma mengadu pada Minwoo Oppa.

“Kamu masuk Pledis?” tanya Minwoo Oppa sambil melepaskan pelukanku.

“Ne, aku hebat kan? Suatu saat nanti aku bisa jadi seperti Yoona, si hallyu star itu. Katanya dia alumni Pledis loh.”

“Eomma, kenapa Eomma biarkan Yiyoung masuk kesana?” MInwoo Oppa bertanya ada Eomma.

“Adikmu yang ingin masuk kesana. Eomma tak bisa melarangnya. bukan? Kamu tahu kalau dia sudah punya keinginan kita tak bisa menahannya,” sahut Eomma yang kemudian meninggalkan kamarku.

“Sekarang Oppa akan ada di Seoul berapa lama? Kenapa kembali kesini sendirian?” aku memberondong Minwoo Oppa dengan pertanyaanku.

“Oppa sekarang cuti sebulan, kamu senang?” jawab Oppa sambil mengacak-acak rambutku.

“Aku senang Oppa kembali, tapi mana yeojachingumu? Oppa, kamu itu udah tua, masa belum punya pacar juga. Kamu itu tampan, pintar dan seorang dokter hebat, mana ada perempuan yang akan menolakmu, tapi kenapa kamu belum juga pulang membawa kekasihmu hah? Aku kan ingin melihat Oppa menikah dan punya anak, biar aku ada teman main disini.”

Tapi dia hanya tersenyum mendengar pertanyaanku. Sejak Oppa meninggalkan Korea untuk bekerja sebagai dokter di Afrika sepuluh tahun lalu, aku tak pernah sekalipun melihatnya bersama perempuan. Padahal usianya sudah melewati kepala tiga. Sejak sepuluh tahun yang lalu Oppa benar-benar sudah menutup hatinya.

“Siapa sih perempuan itu?” tanyaku.

“Perempuan mana?” Oppa balik bertanya.

“Perempuan yang membuatmu jadi menutup hatimu seperti ini. Pasti dia menolakmu dan membuat Oppa ku yang malang ini jadi sedih berkepanjangan.”

“Hahaha, kamu bisa saja. Sudah tidur sana, besok kamu sekolah kan?” Oppa langsung menggiringku ke kasur.

“Tapi hari ini Oppa temani aku ya, sampai aku tidur saja. Yayaya, please,” pintaku sambil menahan lengannya.

Oppa pun menurut. Perbedaan umur kami memang jauh, 16 tahun. Karenanya Oppa selalu menuruti permintaanku. Hanya saja keinginanku untuk melihatnya berkeluarga tampaknya masih belum bisa dia kabulkan.

====beedragon====

Dimana ini? Kenapa aku berada di ruang balet? harusnya sekarang aku berada di kamarku dan tidur bersama Minwoo Oppa. Ahh aku pasti bermimpi. Seseorang tolong bangunkan aku!

Mianhaeyo Oppa,” terdengar suara di belakangku. Akupun menoleh ke belakang, ada Nana disana dengan pakaian balletnya sedang melihat keluar jendela sambil berbicara pada teleponnya.

“Aku tak bisa menerimamu. Karena temanku juga suka padamu. Bagiku sahabat lebih penting daripada cintaku. Aku lebih baik mati daripada harus mengkhianati sahabatku…”

“Tapi kalau kamu memilih temanku, maka itu akan lebih baik… jangan aku, Oppa. Aku menyayangimu, aku juga menyayangi temanku… Mianhaeyo Oppa, jeongmal mianhae… Nado saranghaeyo MInwoo Oppa,” Nana kemudian memutuskan hubungan teleponnya.

Minwoo Oppa? Apa MInwoo Oppa yang dimaksud adalah Oppa-ku? Mendengar pembicaraan mereka sepertinya Nana baru saja menolak seseorang yang bernama Minwoo Oppa.

Nana kemudian memegang dada kirinya, memukul-mukul sejenak. Ia menangis sedih. “Ap’ayo. Neomu ap’a.”

Krieett…. Pintu ruang balet terbuka. Seorang perempuan berambut panjang dan mengenakan kacamata seperti yang kulihat di foto milik Jooyeon, muncul dari balik pintu. Ekspresinya datar dan dingin.

“Yoojin-ah, waeyo?” Nana kemudian menghampiri perempuan bernama Yoojin itu.

“Tadi Minwoo Oppa meneleponmu? Kamu bilang apa tadi? ‘Saranghae’?!! Memangnya kamu lupa apa yang aku katakan padamu? Aku juga menyukainya, JinAh. Tapi kenapa kamu merebutnya dariku!!” bentak Yoojin.

Nana kaget dengan bentakan Yoojin. “Aniyo, Yoojin-ah. Aku tak merebutnya. Sungguh. Percaya padaku.”

Yoojin terus melangkah maju dan membuat Nana mundur perlahan mendekati jendela. Ini kejadian persis seperti yang sering aku lihat tiap lewat ruang ballet. Ternyata sosok bayangan hitam itu adalah perempuan yang bernama Yoojin ini.

“Kalau kamu tak ada, Minwoo Oppa pasti memilihku. Kenapa kamu selalu saja merebut semuanya dariku. kamu memonopoli perhatian orangtuaku, para guru, dan bahkan teman-teman! Mereka semua hanya memandang kalian berempat! Tapi tak pernah sekalipun memandangku! Kalau kamu tak ada, kalau saja kamu tak ada JinAh.” Yoojin terus memojokkan Nana sampai ke jendela.

“Yoojin-ah. Kamu kenapa? Sadarlah. Apa yang mau kamu lakukan?”

“Kyaaaaa!!!!!” Nana didorong oleh Yoojin hingga terjatuh dari jendela. Aku lalu melihat keluar jendela, di bawah sana Nana sudah berlumuran darah.

Yoojin terlihat panik ketika melihat tubuh Nana yang sudah tak bernyawa di bawah sana. Dia kemudian berlari keluar ruangan. Dia berhenti di depan Lab kimia. Yoojin masuk dan langsung duduk disamping Lizzy yang sedang mencatat sesuatu ke bukunya.

“Sooyoung-ah,” panggil Yoojin.

Lizzy menoleh dan melepaskan earphone yang dia pakai. “Yoojin-ah, kenapa kamu pucat sekali?” Lizzy kemudian menjulurkan tangannya dan memegang wajah Yoojin.

“Kamu tak mendengarnya?” tanya Yoojin. Tapi Lizzy hanya memberi ekspresi-mendengar-apa?

“Kalau kamu sakit, ini minum obatku. Sebentar lagi kerjaanku selesai. Dan sepertinya sekarang aku berhasil Yoojin, tinggal menunggu hasilnya saja. Habis aku mencatat ini semua baru kita pulang. Kamu panggil JinAh dan Hyerin sana. Mereka pasti sedang asyik latihan.” Lizzy kemudian meninggalkan Yoojin dan masuk keruang peralatan di belakang meja guru.

Yoojin yang masih panik terus bergumam ‘kamu tak boleh pulang’ berkali-kali. Kemudian dia melihat botol obat yang ada di meja.
Aku membaca tulisan di botol itu, sepertinya itu adalah obat tidur. Ah iya, di koran tertulis kalau Lizzy mengidap insomnia, jadi dia pasti membawa obat tidur.

Kulihat Yoojin mengeluarkan beberapa butir obat itu dan memasukkannya ke dalam botol minuman Lizzy. Tak lama Lizzy kembali dan langsung meminum air berisi obat tidur tersebut, selang beberapa menit Lizzy sudah sempoyongan dan akhirnya tertidur.

Mianhae, Sooyoung-ah. Tapi kamu tak boleh keluar dari gedung ini. Kamu tak boleh melihat JinAh di luar sana. Mianhaeyo, jeongmal mianhae.” Yoojin kemudian mengambil pisau kecil yang ada di meja dan kemudian mengiris nadi Lizzy.

Lizzy terlihat meringis sedikit, tapi ia tak mampu menggerakkan badannya. Mungkin karena efek dari obat tidur tersebut. Setelah itu Yoojin pergi dengan membawa pisau tersebut.

Sekarang Yoojin sudah sampai di ruang musik. Aku melihat Raina menoleh ke arah Yoojin kemudian tersenyum.

“Yoojin-ah, kemarilah. Temani aku latihan. Ahh, aku bersemangat sekali sampai tak mau pulang,” seru Raina riang.

Yoojin melihat kesekeliling ruangan. Dia kemudian melihat sebuah gitar usang yang senarnya sudah putus. Yoojin kemudian memutuskan satu senar tersebut dengan menggunakan pisau dari lab kimia tadi.

Dia kemudian berjalan menghampiri Raina yang sedang main piano. Kemudian dia menjerat leher Raina dengan senar tersebut. Hal ini membuat Raina meronta-ronta dan akhirnya lemas karena kehabisan napas.

Mianhaeyo, Hyerin-ah. Jeongmal mianhaeyo. Tapi kamu tak boleh pulang hari ini. Kalau kalian masih ada, Minwoo Oppa pasti akan lebih memilihmu atau Sooyoung. Karenanya kamu harus tetap disini. Dan biarkan aku bahagia untuk sekali saja,” bisik Yoojin.

Yoojin lalu mengambil gulungan senar dan melilitkan senar tersebut dileher Raina. Dia kemudian menggantung Raina di tengah ruangan dengan cara berpijak pada piano. Kemudian potongan senar yang tadi digunakannya untuk menghabisi Raina, disembunyikan di dalam piano. Aku memperhatikannya. Yoojin menyembunyikan senar itu di antara senar-senar yang ada di dalam piano. Ini bisa dijadikan bukti, pikirku. Gitar usang yang tadi juga, karena ada noda darah disana.

Kejam sekali Yoojin ini. Hanya karena dia menyukai seseorang yang bernama Minwoo dia sampai harus membunuh tiga temannya sendiri.

====beedragon====

“Kyaaaa!!” aku terlonjak dari tidurku.

Napasku memburu. Aku baru saja mimpi buruk. Aku melihat kejadian pembunuhan itu. Mungkin karena aku terlalu bersemangat mencari tahu siapa penjahatnya, aku sampai memimpikannya. Tapi mimpi itu terlihat nyata.

Siapa Yoojin dan siapa Minwoo yang disebut didalam mimpiku.

“Yiyoung-a, gwenchana?” tanya Minwoo Oppa yang sudah terbangun.

Aku langsung memeluk Oppaku dan menangis sejadi-jadinya. Aku takut. Mimpi itu terlalu nyata. Bagaimana aku bisa mencari orang yang bernama Yoojin. Bagaimana aku bisa membuatnya mengaku kalau dia yang sudah membunuh Nana, Raina dan Lizzy? Ini semua terlalu berat untukku.

“Aigoo, uri Yiyoung sepertinya habis mimpi buruk. Tenanglah, ada Oppa disini. Jadi lupakan mimpimu ya.”

Aku menangis di pelukan Minwoo Oppa sampai membuat bajunya basah semua.

“Oppa, mau kemana? Jangan tinggalkan aku sendirian.” Aku menahannya saat ia mencoba meninggalkanku untuk kembali ke kamarnya.

“Oppa mau ganti baju. Tak mungkin oppa tidur dengan baju basah begini kan?”

Akhirnya aku ikut Minwoo Oppa ke kamarnya untuk mengganti pakaianya. Kamar yang sudah lama tidak aku masuki. Aku memperhatikan salah satu sisi pintu lemari kamar Oppa yang penuh dengan foto-fotonya. Kuteliti satu persatu foto-foto tersebut. Hampir sebagian besar adalah foto-fotonya di Afrika sana.

Ada satu foto yang menarik perhatianku. Foto Minwoo Oppa bersama lima orang perempuan memakai seragam sekolah seperti milikku. Lima orang siswi seperti yang ada di foto milik Jooyeon. Mereka Raina, Nana, Lizzy, Yoona dan perempuan yang bernama Yoojin. Jadi Oppa kenal dengan mereka berlima? Bagaimana bisa? Berarti Minwoo yang disebut itu adalah benar Oppaku??

“Oppa, kenapa kamu bisa berfoto dengan mereka? Memangnya kamu kenal mereka?”

MInwoo Oppa terlihat kaget saat aku menunjukkan foto tersebut. Dia kemudian tersenyum dan menarikku untuk duduk di kasurnya.

“Mereka teman terbaik Oppa. Mulai dari kanan adalah YoonAh dan kembarannya JinAh, dibelakang Oppa adalah Hyerin dan di sisi kiri adalah Sooyoung dan Yoojin.”

“Tapi mereka kan sekolah disekolah perempuan. Bagaimana bisa kamu kenal mereka Oppa?” selidikku. Siapa tahu Oppa bisa membantu.

“Kamu tahu kan kalau dulu ketika masih jadi mahasiswa kedokteran, Oppa bekerja sambilan di berbagai tempat. Oppa mengenal mereka di tempat kerja Oppa. Oppa bertemu dengan JinAh dan YoonAh di café. Lalu bisa kenal dengan Hyerin karena dia sering berkunjung ke toko musik Oppa. Kalau dengan Sooyoung karena dia sering belanja di toko Kimia tempat Oppa kerja. Karena kami sering bertemu akhirnya kami jadi teman, dan kami bisa dibilang sangat dekat,” Oppa bercerita.

“Berarti perempuan yang menolak Oppa dan membuat Oppa tak mau mencari pacar itu adalah dia,” aku menunjuk gambar Nana yang dirangkul oleh Oppa.

Tapi Minwoo Oppa hanya diam. Kemudian dia tersenyum. “Kenapa kamu bisa menebaknya?”

“Dia lebih memilih mati daripada menerima cintaku. Kupikir dia hanya bercanda. Tapi dia benar-benar melakukannya. Harusnya aku tak memaksakan kehendakku seperti itu. Karena kalau begitu JinAh mungkin masih hidup sampai sekarang,” Minwoo Oppa terdengar sedih menceritakan kisah cintanya.

Oppaku yang malang. Betapa jahatnya orang yang sudah menghancurkan kebahagiaan Oppaku. Aku tak akan pernah memaafkannya.

“Lalu Oppa ketemu dia dimana?” aku menunjuk gambar Yoojin.

“Ahh, anak ini memang selalu mengikuti keempat temannya. Walaupun Oppa lebih sering ketemu dia tapi Oppa tak dekat dengannya. Karena dia terlalu pendiam. Kamu tahu kan Oppa tak bisa berdekatan dengan orang yang pendiam.”

“Lalu apa Oppa masih suka bertemu dengannya?” aku terus berusaha mengorek info tentang Yoojin.

“Tidak. Sejak kematian ketiga temannya, Yoojin jadi semakin tertutup. Oppa tak tahu banyak tentang dia. Karena YoonAh selalu bertengkar dengannya. Oppa ingat sekali julukan Yoojin yang diberikan Yoona, ‘bayangan kelam’, itu karena Yoojin selalu mengikuti mereka. Yang Oppa tahu, dia itu anak kepala sekolah Pledis.”

Anak kepala sekolah pledis, selalu bertengkar dengan Yoona dan dipanggil ‘Bayangan Kelam’? aku ingat percakapan Yoona dengan kepala sekolah kemarin, Yoona juga memanggil kepala sekolah dengan sebutan Bayangan Kelam. Apa ini berarti…

Uee Eonnie pelakunya?!! Tapi bagaimana mungkin?? Yoojin ini terlihat seperti kutu buku yang kelam, wajahnya pun tak cantik. Sementara Uee itu sangat berkarisma dan cantik.

“Walaupun kamu merubah wajahmu sampai seperti ini, tetap saja tidak bisa menutupi kebobrokan hatimu.” Aku ingat kata-kata Yoona ini.

Jadi….

====beedragon====

[13 Mei 2011]

“Aku sudah menemukan pelaku sekaligus barang buktinya, Jooyeon.”

“Mwo?! Bagaimana bisa? Jadi benar Sooyoung Eonnie dibunuh?! Siapa pelakunya, YiYoung-ah? Bilang padaku siapa pelakunya?!” seru Jooyeon.

Aku langsung membekap mulut Jooyeon. Bagaimanapun juga sekolah sedang ramai hari ini karena ada upacara peringatan kematian Nana, Raina dan Lizzy. Aku tak mau kalau sampai ada yang mendengar percakapan kami.
“Shhhh. Nanti ada yang dengar. Kita harus menjebak tersangka agar dia mengaku. Aku akan memancingnya, dan sepulang sekolah nanti kita bisa menjebak dia,” bisikku pada Jooyeon.

“Kenapa harus menjebaknya, harusnya kita lapor polisi saja.” Jooyeon jadi ikut-ikutan berbisik padaku.

“Iya, nanti kamu lapor polisi, pokoknya sepulang sekolah nanti kita harus menjebaknya. Karena kalau tidak, dia bisa menghindar dan tak mau mengakui kesalahannya. Aku tak mau itu terjadi. Aku mau dia mengakui kesalahannya dan meminta maaf pada Nana, Raina dan Lizzy,” bisikku lagi.

Acara hari ini hanyalah peringatan kematian tiga siswi berbakat Pledis. Acara hanya berlangsung sampai tengah hari. Dan begitu semua murid pulang aku langsung menghampiri kepala sekolah.
“Uee Eonnie, sepertinya aku mengetahui kalau tiga siswi ini tidak bunuh diri. Karena ku sudah menemukan barang buktinya. Tinggal mencari pelakunya saja, maukah kamu membantuku.”

“Apa maksudmu, Yiyoung? Kamu menemukan barang bukti?” Uee Eonnie terdengar kaget sekali.

“Ne, ada di ruang musik. Aku akan menyerahkan itu pada polisi.”

“Yiyoung, bisa tunjukkan padaku, biar aku yang menyerahkan pada polisi.” Pinta Uee Onnie.

Aku menyetujuinya dan langsung mengajak Uee Eonnie ke ruang musik. Akan kubuat dia mengaku disana. Akan kubuat dia meminta maaf atas semua kejahatannya. Dan dengan begitu arwah ketiga siswi itu bisa beristirahat dengan tenang. Kami tiba di ruang musik, dan Uee Eonnie mulai memaksaku untuk menunjukkan dimana barang bukti tersebut.

“Kenapa malah bertanya padaku. Bukannya Eonnie yang paling tahu dimana Eonnie menyimpan semua barang bukti itu,” tembakku.

“Apa maksudmu?”

“Aku baru tahu sekarang kenapa Nana, Raina dan Lizzy menampakkan diri mereka padaku. Mereka begitu ingin aku mengungkap semua kebenaran ini. Mereka menunjukkan padaku apa saja yang telah kamu lakukan padanya. Bagaimana kamu bisa membunuh orang-orang yag tak bersalah seperti mereka hanya karena kamu menyukai Oppaku.”

“Aku tak mengerti apa maksudmu, Yiyoung,” suara Uee Eonnie terdengar bergetar.

“Minwoo Oppa adalah Oppaku. Dia adalah penyebab kamu mendorong Nana jatuh dari lantai lima. Karena kamu cemburu pada Nana. Setelah kamu membunuh mereka apa kamu berhasil mendapatkan apa yang kamu inginkan? Kamu berhasil mendapatkan Oppaku? Sepertinya tidak.” Sindirku.

“Darimana kamu tahu soal Minwoo dan JinAh?”

“Aku bilang tadi, Minwoo Oppa adalah kakakku. Dan hantu Nana yang datang padaku menceritakan sendiri apa yang sudah kamu lakukan padanya.”

“Hahahaha, kamu mau aku percaya Khayalan anak kecil sepertimu?!!! Bukankah aku sudah bilang, YiYoung, jangan pedulikan semua rumor itu. Lihat dirimu sekarang jadi tak bisa membedakan mana kenyataan mana halusinasi.” Tawa Uee Eonnie membahana ke seluruh ruangan.

“Masih tak mau mengakuinya?? Padahal yang mereka inginkan hanyalah permintaan maafmu. Kenapa kamu tak mau melakukannya. Minta maaflah sebelum mereka menjadi marah.”

“Kalaupun memang aku yang melakukannya, memangnya kamu mau melakukan apa? Kamu tak bisa melakukan apa-apa. Kamu hanya anak kecil yang tidak mengerti apapun. Kalau memang aku yang membunuh mereka lalu kamu akan melakukan apa hah?!!” bentak Uee Eonnie.

“Berarti memang kamu yang membunuh mereka. Tapi kenapa?”

“Karena mereka sudah mengambil semua milikku!! JinAh mengambil Minwoo Oppaku, Sooyoung merebut semua perhatian para guru, dan Hyerin begitu disayang oleh orangtuaku! Aku benci mereka. mereka selalu menganggapku ini bayangan! Mereka selalu menghinaku! Mereka dengan kesombongan mereka yang menyebalkan itu. Harusnya Yoona juga ada di malam itu. Karena aku juga ingin sekali membunuhnya! Dan kamu sudah mengetahui semua ini, maka kamu juga harus MATI!!”

Uee Eonnie mengejarku, aku pun langsung lari keluar. Sialnya pintu keluar dikunci. Aku terus berusaha melarikan diri dari kejaran Uee Onnie. Akhirnya aku lari ke lantai lima, aku sendiri juga tak mengerti kenapa aku malah lari kesini. Aku berusaha mengeluarkan handphoneku dan mencoba menelepon Jooyeon. Harusnya polisi sudah datang sekarang, tapi sama sekali tak ada tanda-tanda keberadaan polisi. Jooyeon juga tak bisa dihubungi. Bagaimana ini??

“YiYoung-ah…” Suara Uee bergema diseluruh koridor.

Eomma, aku takut. Bagaimana kalau dia membunuhku juga. Hei Nana, Raina dan Lizzy apa kalian mendengarku. Aku sudah menemukan pelakunya, jadi kumohon lindungi aku. Oppa, tolong aku.
Ahh Oppa!! aku langsung menelepon Oppa, tapi belum sempat telepon tersambung dengan Oppa, ada yang menarik tanganku.

“Disini kamu rupanya,” ucap Uee Eonnie sambil tersenyum puas.

Uee melemparku hingga aku terjatuh dan membuat handphoneku terlepas dari genggamanku. Ia kemudian mendendang perutku keras sekali.

“Uhukk, Eomma….” Rintihku.

“Kemarin aku berkata apa, Yiyoung? Jangan-pedulikan-berita-berita-itu. Kenapa kamu ini nakal sekali sih?!” Uee menarik rambutku. “Kamu anak kecil tak tahu apa saja yang sudah aku alami agar bisa sampai ke tahap seperti ini. Takkan kubiarkan kamu mengacaukan jalanku.”

Uee kemudian mencekikku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri darinya. Tapi apa daya, aku hanya anak kecil. Aku sudah mulai kehabisan napas. Eomma, kalau aku mati sekarang, kuharap Eomma tidak sedih.

“Aku sudah bilang padamu untuk menjadi siswi yang baik. Apa kamu tahu hukumannya bagi siswi yang membangkang. MATI!! Uhukk… aaakkhhhhh!!” Uee terlihat kesakitan dan mulai melonggarkan cekikannya.

Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk menjauh darinya. Kulihat Uee yang seperti kehabisan napas. Ternyata ada Raina yang sudah menjerat leher Uee dengan sebuah senar gitar. Uee menggelepar berusaha melepaskan jeratan dilehernya, tapi nihil.

Kemudian mucul sayatan-sayatan kecil ditangan dan wajah Uee. Uee berteriak kesakitan. Sayatan-sayatan itu berasal dari pisau kecil yang melayang-layang di udara. Ahh bukan melayang-layang, tapi ada Lizzy yang memegang pisau itu dan menyayat-nyayat Uee. Aku hanya bisa termangu melihat ini.

“Hentikan. Kalian tak harus melakukan ini. Jangan siksa dia seperti ini. Maafkanlah dia.” Aku mencoba berkomunikasi dengan Raina dan Lizzy, tapi mereka tak mau mendengarkanku.

Bagaimana ini kalau begini terus Uee Eonnie bisa mati. “Eonnie, minta maaflah. Mereka hanya ingin permintaan maaf darimu. Cepat katakan itu. Cepat minta maaf!” aku memohon pada Uee Eonnie.

Shireo!” seru Uee di sisa-sisa nafasnya. “Aku.. tak… salah…”

Eotteokhe?? Ku berusaha mendekat ke arah Uee tapi kakiku tak bisa bergerak. Badanku tak bisa bergerak! Bagaimana ini?!

“Eonnie kumohon, mengakulah pada mereka. Mereka akan berhenti melakukan itu kalau Eonnie mau meminta maaf.” Aku mulai menangis melihat Uee Eonnie yang sudah berlumuran darah.

Raina terus menjeratnya dan menarik Uee Eonnie hingga ke jendela. Di jendela sudah ada Nana yang menunggunya.

Andwe!! Bukan begini caranya. Kenapa kalian malah menyiksanya. Kumohon maafkanlah dia.” Aku memohon pada Nana.

Tapi Nana hanya tersenyum padaku kemudian ia memeluk Uee Eonnie dari belakang. Sementara Raina dan LIzzy memegang erat lengan Uee Eonnie. Dan mereka menariknya keluar jendela.

Andweeeeeeeeeeeeeee!!!!!”

Gelap. Semuanya gelap. Ada yang menutup mataku. Si pemilik tangan ini kemudian memelukku. Aku mengenali wanginya, dia Oppaku. Aku menangis sejadi-jadinya.

“Jangan dilihat. Lupakan semua ini, Yiyoung-ah. Jangan kamu lihat semua ini.” Oppa berusah menenangkanku.

Bagaimana bisa aku tenang, kalau aku baru saja melihat seseorang dibunuh oleh hantu.

“Sekarang kalian bisa tenang? Kalau begitu istirahatlah dengan tenang. Kalian sudah mengalami masa yang sulit.” kumendengar Oppa berbicara pada seseorang.

Akupun kembali menoleh ke arah jendela. Disana sudah ada Nana, Raina dan Lizzy dengan wajah yang begitu cerah. Mereka tersenyum pada kami, kemudian mereka menghilang.

====beedragon====

Kasus kematian tiga siswi itu akhirnya terungkap. Barang bukti seperti piano, gitar dan pisau yang ditemukan di ruang musik disita oleh polisi. Uee ditetapkan sebagai tersangka. Tapi dia tak dapat menikmati kehidupan di penjara. Karena Uee akan menjalani hukumannya di neraka sana.

Sekarang posisi kepala sekolah dipegang oleh Gahee Saem. Yah sejak dia jadi kepala sekolah dia memperpanjang kelas balet sampai lewat jam pulang sekolah. Cukup menyebalkan memang. Tapi aku menikmatinya.

Jooyeon berhasil menyelesaikan formula milik Lizzy yang belum selesai. Ternyata Lizzy membuat obat untuk para penderita insomnia agar tidak terus ketergantungan obat tidur. Dan Jooyeon menamakan obat penemuannya ini dengan nama Lizzysomnia.

Hari-hariku sekarang sudah tenang dan menyenangkan. Aku akan mengikuti kontes musik yang akan diadakan di Jepang. Semakin mendekati audisinya aku jadi semakin sibuk latihan disekolah. Biasanya aku berlatih sampai lewat jam pulang sekolah.

Aku berjalan di koridor lantai lima, bel pulang sekolah sudah berbunyi satu jam yang lalu tapi aku masih berada di sekolah. Ketika melewati ruang ballet ada rasa dingin yang mencekam. Kupikir ini karena hari sudah malam. Tapi aura dingin ini begitu berbeda.

“Yiyoung-ah,” panggil seseorang dari dalam kelas ballet.

Ragu-ragu akhirnya aku mengintip ke ruang ballet. aku tersentak kaget melihat siapa yang ada di dalam sana.

Seorang wanita berambut panjang dengan wajah yang penuh sayatan dan badan yang penuh luka. Tempurung kepalanya terbuka, memperlihatkan isi kepalanya yang penuh darah. Dan dilehernya terikat sebuah tali tipis seperti senar.

“Bukankah aku sudah bilang untuk tidak mempedulikan rumor itu. Kenapa kamu tak mau mendengarkanku,” bisiknya.
Sosok itu mendekat ke arahku sambil menjulurkan tangannya.

“Hukuman bagi anak yang membangkang adalah.. MATI.”

“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!”

====beedragon====

End

Kyahahahaha sumpah gaje abis ini cerita… baiklahh silakan komen, kira-kira udah cukup menyeramkan belum..

Advertisements
FF – After School Part II / Mystery / PG15 / By Ratu Puteri

24 thoughts on “FF – After School Part II / Mystery / PG15 / By Ratu Puteri

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s