FF – After School / Mystery / PG15 / By Ratu Puteri


Yuhuuuu saya datang mau menyajikan ff horror perdana saya!!! \(^0^)/
Tadinya mau dipublish tanggal 13 Mei sesuai ceritanya, tapi karena satu dan lain hal jadinya tertunda dehh.. padahal 13 mei kemaren pas banget momentnya, pas lagi Friday 13th gitu.

buat yang nunggui Star (kaya ada yang nungguin kelannjutannya gitu) masih dalam proses, jadi baca ini dulu buat selingan ya^^

Betewe berhubung ini ff horror perdana saya, jadi sepertinya agak kurang serem dehh, soalnya ngetiknya juga pas lagi malem-malem gitu, jadi efek seremnya aku kurangin,cz ngeri aja gitu ngetik cerita horror tengah malem, kayanya semua hantunya ikutan nemenin aku ngetik.. kekeke.
ini ff pertamaku yang castnya cewe semua, ada cowonya sihh, tapi nanti di part2. mudah2an pada ngerti kenapa castnya girlband ini (menyesuaikan judul cerita)

Sekian pengantarnya, jadi kalau ini kurang serem ya, maklumi aja lah yaa.. namanya juga amatiran.
Dan akhirnya saya ucapkan selamat membaca!!!!! please jangan lupa RCL ya *Jeball*

Title : After school
Length : TwoShoot / tapi mungkin three Shoot
Author : Ratu Puteri a.k.a BeeDragon
Genre : mystery, horror, tragedy,
Rating / pairing : PG 15 / straight
Cast :
as
E Young After School as Noh Yi Young
UEE After School as UEE / Kim YooJin
Jooyeon After School as Lee Jooyeon
Raina After School as Raina / Oh Hyerin
Nana After School as Nana / Im Jinah
Lizzy After School as Lizzy / Park Sooyoung
Gahee, JungAh, Bekah After School
Noh Minwoo and YoonA
Disclaimer : semua cast disini bukan milik saya. hanya ide cerita dan alur dari FF ini adalah murni hasil karya saya. TAKE OUT WITH FULL CREDIT. No Copy Paste and Don’t Be Silent Reader.

====beedragon====

14 Mei 1998
TIGA SISWI PLEDIS MELAKUKAN BUNUH DIRI MASAL MENDEKATI UJIAN KELULUSAN – DIDUGA STRES

Tiga siswi berbakat tingkat akhir dari Pledis School for Girls ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di sekolah seni khusus perempuan tersebut. Ketiganya diduga melakukan bunuh diri di hari yang sama.

Adalah siswi berinisial N ditemukan di halaman sekolah dengan keadaan wajah yang sudah hancur karena terjun dari lantai lima. Siswi N diduga terjun dari kelas balletnya di lantai lima, karena ditemukan robekan rok balletnya di jendela lantai kelas ballet tersebut. N dikenal sebagai ballerina yang berbakat, dan digadang-gadang akan menjadi ballerina professional, karena sudah banyak produser luar negeri yang melirik dia untuk membuatkan sebuah pentas khusus untuknya. Park Gahee selaku guru pembimbingnya merasa sangat berduka karena murid kebanggaannya memutuskan untuk bunuh diri disaat masa depannya yang cerah sudah terbentang jelas di hadapannya.

Siswi kedua berinisial R ditemukan gantung diri di kelas musik. Siswi R diduga menggantung dirinya dengan senar yang ada diruangan tersebut. Siswi R merupakan siswi dengan suara emas kebanggaan Pledis School for Girls. R adalah pemenang berbagai lomba nyanyi bahkan suara emasnya sudah didengar sampai ke luar negeri. Selaku pembimbing R, Kim Jungah, merasa sangat kecewa sekaligus sedih karena kematian yang dipilih muridnya tersebut.

Siswi ketiga berinisial L ditemukan meninggal dalam keadaan kehabisan darah karena dia memotong nadinya di Laboratorium Kimia. Siswi L adalah seorang siswi yang telah memenangkan kejuaran olimpiade kimia tingkat internasional selama tiga tahun berturut-turut. L pula telah menemukan sebuah campuran larutan kimia baru yang kabarnya akan berguna bagi masyarakat banyak. Selain itu L juga merupakan rookie yang baru saja memulai debutnya sebagai artis. Adapun Bekah, yang merupakan pengawas Lab. Kimia sekaligus pembimbing L menyayangkan kematian L, karena L bisa saja melanjutkan penelitiannya sekaligus karirnya dengan baik.

Padahal beberapa bulan lagi mereka akan lulus, jadi sangat tidak mungkin kalau mereka melakukan bunuh diri masal seperti ini, begitu kata orang terdekat L. Orangtua dari ketiga murid tersebut juga membantah kalau puteri-puteri mereka melakukan bunuh diri, karena sama sekali tak ada tanda-tanda kalau ketiga siswi tersebut depresi atau tertekan. Selain itu ketiganya juga tidak meninggalkan pesan apapun sebelumnya. Orangtua ketiga siswi tersebut meyakini kalau puteri-puteri mereka dibunuh.

Orangtua L meyakini kalau ada yang berniat menghentikan penelitian dan karir puterinya, karenanya puterinya dibunuh. Begitupun orangtua N, mereka merasa tak mungkin puterinya yang begitu ingin menjadi ballerina, memilih bunuh diri dengan pakaian balet kebanggaannya. Orang tua R juga meyakini kalau puterinya dibunuh, karena tidak mungkin kalau R yang begitu mencintai musik memilih bunuh diri dengan menjadikan piano sebagai pijakan untuk gantung diri, sebab piano tersebut adalah hadiah ketika R memenangkan lomba nyanyi di Belanda setahun lalu.

Namun karena tidak ditemukannya sesuatu yang ganjil pada ketiga jenazah tersebut, dan ditambah lagi tidak adanya saksi, maka kematian ketiga siswi tersebut dinyatakan sebagai bunuh diri.Mereka diduga bunuh diri sekitar pukul 06.00 s/d 08.00 pada malam ketiga belas di bulan Mei tahun ini.

Prolog end

===beedragon===

 

Present (2011)

Aku Noh YiYoung. Hari ini aku menjadi siswi di Pledis School for Girls. Ini adalah sekolah incaran semua anak perempuan dan tentunya aku bangga bisa masuk sekolah ini. banyak murid-murid keluaran sekolah ini menjadi orang yang terkenal di bidang mereka masing-masing. Dan kepala sekolahnya adalah seorang artis terkenal UEE. Ah, aku tak sabar menjadi salah satu dari perempuan-perempuan yang membanggakan itu.

Aku sekarang berada di ruang guru, menunggu kepala sekolah untuk memberikan kartu pelajarku. Karena aku masuk lebih telat daripada murid-murid lainnnya. Aku masuk setelah semester awal berjalan selama satu bulan. Jadi bisa dibilang aku terlambat satu bulan dibandingkan yang lainnya. Tapi tak apalah, yang penting sekarang aku bisa masuk disini, sisanya tinggal menyesuaikan saja.

“Aishh!” seru seorang wanita yang baru masuk ruangan guru.

“Ada apa Gahee Saem?” tanya seorang wanita lain berambut pendek.

“Semua murid sekarang jadi semakin takut menjelang perayaan upacara kematian ketiga murid itu. Sekarang mereka mulai mengarang cerita kalau Nana kembali suka menampakkan dirinya di ruang balet. Sekarang tak ada murid yang mau berlatih balet sampai malam. Mereka memilih membolos daripada harus pulang terlambat. Itu karena mereka takut pada arwah Nana. Bagaimana bisa orang yang sudah mati mengganggu kita,” seru Gahee Saem.

“Ne, aku juga kesal dengan semua rumor yang kembali beredar ini. Mereka mengatakan kalau piano di ruang musik suka berbunyi sendiri padahal tidak ada orang di dalam. Selain itu mereka juga bilang kalau suka ada suara nyanyian yang begitu sendu di ruang musik. Aku sampai bingung bagaimana harus meyakinkan para murid kalau itu semua bukan arwah Raina yang sedang bergentayangan,” guru berambut pendek itu menyahut cerita dari Gahee Saem.

“Aku juga bingung bagaimana caranya agar siswi-siswi kita tidak takut lagi, Jungah Saem,” sahut Gahee Saem.

Aku bingung mendengar cerita mereka. upacara kematian? Arwah? Apa maksud ini semua?

“Oh my god!!” seru wanita lain berkacamata yang baru masuk ke ruangan guru. Dia membanting buku-buku yang dibawanya ke meja.

I’m going crazy in here, saemdeul. Ada murid yang iseng memindahkan tengkorak dari lab biologi ke lab kimiaku. Sekarang semua siswi itu ketakutan dan mulai bergosip kalau Lizzy membawa itu untuk temannya di lab kimia. Mereka terus saja menyebarkan rumor kalau Lizzy masih muncul disana untuk melanjutkan penelitiannya yang tertunda. Oh my god, bagaimana bisa mereka menyebarkan berita seperti ini tentang ketiga siswi yang sudah meninggal itu.” Cerocos wanita yang baru masuk itu.

“Bekah Saem, itu terjadi di kelasmu? Astaga,” sahut wanita yang kuyakin namanya Jungah.

“Gosip ini semakin merebak seiring dengan peringatan kematian ketiga siswi itu. Kejam sekali yang menyebarkan gossip ini. Bagaimanapun juga aku sebagai orang yang yang pernah dekat dengan mereka merasa ini tak pantas. Seharusnya mereka bisa hidup tenang di alam sana,” ujar Gahee Saem.

I know, Saem. Tapi karena kematian ketiganya yang mendadak itulah yang menyebabkan murid-murid kia terus berpikir kalau arwah ketiganya tidak tenang di alam sana. Aku sendiri tidak mengerti maksudnya apa.” Sahut Bekah Saem.

“Aku juga terus berusaha untuk meredam rumor-rumor ini. Tapi bagaimana mungkin, setiap tahun rumor ini akan selalu muncul. Bagaimana ketiganya bisa tenang kalau anak-anak ini terus bergosip tentang mereka,” Jungah Saem menimpali.

Oh, ok. Sekarang aku mengerti. Ada gosip tentang hantu di sekolah ini, bukan hanya satu tapi tiga. Wah, haruskah aku takut sekarang? Ini hari pertamaku masuk sekolah. Ini adalah sekolah yang begitu kuimpikan. Tapi kalau ada hantu yang berkeliaran disini, apakah itu tidak menyeramkan??

Seonsaengnim-deul!!” bentak seorang wanita cantik yang baru keluar dari ruangan yang ada di dalam ruangan guru ini.

Dia adalah sang hallyu star, UEE, yang juga merupakan kepala sekolah disini. Wah ternyata dilihat dari dekat dia sangat cantik dan terlihat muda.

“Bagaimana bisa kalian bergosip seperti ini. apa kalian tidak lihat kalau ada siswi disini?!” seru kepala sekolah.

Ketiga guru tersebut menoleh ke arahku. Mereka langsung kaget dan merasa bersalah dan akhirnya kembali ke meja masing-masing.

Kepala sekolah kemudian menghampiriku sambil tersenyum. “Jangan dengarkan gosip-gosip tersebut ya. Kamu Noh Yiyoung? Ini kartu pelajarmu kamu akan masuk kelas 1-II.”

Gomapseumnida, Seonsaengnim.” Jawabku sambil menerima kartu yang ia berikan.

“Jangan panggil aku seonsaengnim. Aku bukan guru disini. Lagipula aku tak suka dipanggil seperti itu, jadi terlihat tua tahu. Kamu bisa panggil aku Uee Eonnie.” Ujarnya sambil tersenyum.

Aku tersenyum mendengarnya. Mana ada kepala sekolah yang mau dipanggil Eonnie oleh muridnya? Sepertinya baru disini saja.

“Eomma-ku fans berat anda. Dia sangat senang melihat aku bisa masuk sekolah ini.” kataku.

“Ohya? Kalau begitu, nanti kalau ada pertemuan orangtua murid aku harus datang dan menemui Eomma-mu ya? Salam untuk keluargamu ya.” Kembali Uee Eonnie berkata sambil tersenyum.

“Dan ingatlah. Jangan kamu hiraukan rumor-rumor yang beredar disini. Fokuskan pada pelajaranmu saja, mengerti?” Uee Eonnie berkata sambil tersenyum tapi sorot matanya begitu tajam dan serius sedikit membuatku merinding.

“Ne,” ucapku terpaksa.

Kemudian Uee Eonnie memanggil seorang siswi yang baru saja masuk ke ruang guru. Dan dia meminta siswi itu untuk mengantarku ke kelas. Akhirnya aku pergi dari ruang guru bersama siswi tersebut.

“Aku Jooyeon,Lee Jooyeon. Kita sekelas loh.” Anak yang menemaniku membuka pembicaraan.

“Oh, aku Noh Yiyoung. Bangapseumnida (senang berkenalan denganmu),” Sapaku.

Kami berjalan dalam diam. Aku harus membuka pembicaraan agar kami tidak terlihat kaku seperti ini. tapi apa?

“Apa kamu tahu mengenai rumor kalau sekolah ini berhantu?” tanyaku. Ahh kenapa aku menanyakan hal ini? batinku.

“Kamu juga sudah dengar?” Jooyeon tidak terdengar kaget sama sekali.

“Baru saja. Tadi para guru bergosip tentang ketiga murid yang bernama…” aku berusaha mengingat-ingat nama yang disebut para Saem tadi.

“Raina, Nana, dan Lizzy.” Ucap Jooyeon yang kemudian berhenti berjalan.

Dia menatap dinding di sebelahku. Mataku pun ikut menoleh ke sisi kiriku. Ternyata ada sebuah papan pengumuman yang terbungkus oleh kotak kaca. Ada tiga buah gambar dengan potongan-potongan Koran disana.

“Yang ini adalah Nana,” Jooyeon menunjuk ke gambar yang paling kanan.

Sebuah gambar seorang siswi berambut blonde panjang memakai pakaian balet dan memegang sebuah piagam dengan senyuman bangga mengembang di wajahnya. Aku membaca tulisan berita dibawahnya ‘Nana memenangkan kontes Swan Princess dan akan memulai latihan dengan tim Swan Princess dari Paris’.

“Dia Im JinAh. Memakai stage name Nana untuk debutnya sebagai ballerina. Dia adalah satu-satunya ballerina dari Asia yang dilirik oleh tim produser dari Paris untuk pentas balletnya. Dia satu-satunya kebanggaan dari Gahee Saem. Kamu tahu Gahee Saem, dia pembimbing di kelas dansa, khususnya di kelas ballet. Dia juga merupaka saudara kembar dari artis yang sangat terkenal Im YoonAh. Kau tahu Yoona kan? Itu saingannya Uee Eonnie, drama mereka selalu bersaing di TV,” Cerita Jooyeon.

Aku kaget mendengar ceritanya, bukan karena kehebatan dari seseorang bernama Nana ini, tapi karena dia memanggil kepala sekolah dengan sebutan Eonnie.

“Kalau yang berambut pendek itu namanya Oh Hyerin, dia memakai nama panggung Raina. Dia memenangkan kontes menyanyi di Belanda. Dan kabarnya akan debut internasional. Banyak produser Amerika yang tertarik akan suaranya. Dia murid kebanggaannya JungAh Saem. Lalu yang terakhir yang berambut ikal kemerahan itu namanya Park Sooyoung. Dia itu tadinya debut sebagai artis seperti Uee Eonnie dan Yoona, memakai nama panggung Lizzy. Dia adalah ilmuwan muda yang memenangkan banyak penghargaan di bidang kimia.”

Aku manggut-manggut saja mendengar cerita Jooyeon. Ternyata ketiga orang ini adalah siswi-siswi yang sangat berbakat. Mereka pasti sangat terkenal, tapi aku tak pernah mendengar kabar mengenai mereka? wah aku pasti suatu saat nanti bisa menjadi salah satu seperti mereka.

“Mereka bertiga pada tanggal 13 Mei tiga belas tahun yang lalu ditemukan mati bunuh diri di sekolah ini. Nana mati dengan cara melompat dari lantai lima, Raina mati dengan cara gantung diri di ruang musik, dan Lizzy mati dengan cara memotong nadinya sendiri di lab kimia. Dan karena mereka mati bunuh diri, mereka jadi tidak tenang dan sering muncul di ruangan favorit mereka. begitu kata banyak orang. Tapi tenang saja, itu semua hanya gosip. Aku saja sudah sebulan disini belum melihat hal-hal seperti yang digosipkan,” Jooyeon menutup ceritanya dan kembali berjalan.

Mwo? Mati bunuh diri? Dan arwahnya tidak tenang? Ahh aku takut pada yang namanya hantu. Bagaimana ini?

====beedragon====

Kelasku di lantai lima, satu lantai dengan ruang latihan ballet yang katanya angker itu. Dan sialnya kalau mau ke kelasku aku harus melewati ruang ballet itu. Dan sekarang sudah jam pulang sekolah. Aku masih terjebak di ruang kelasku mencatat semuat tulisan yang ada dipapan. Sementara sebagian besar murid sudah membubarkan diri.

Setelah menyelesaikan catatanku aku langsung berlari keluar. Ada sedikit perasaan aneh saat akan mendekati ruang ballet. Entah kenapa koridor ini terasa begitu dingin secara tiba-tiba. Aku memegangi tengkukku sambil terus berjalan.

Ap’ayo (sakit). Neomu ap’pa (sangat sakit),” terdengar suara berbisik dari dalam ruangan ballet.

Aku melirik ke dalam ruangan. Didekat jendela ada seorang perempuan memakai baju ballet sedang memandang keluar jendela. Aku memperhatikannya, aku menebak kalau dia ini siswi tingkat tiga, terlihat dari rambutnya yang berwarna pirang.

Tiba-tiba saja ada angin kencang berhembus dari jendela. Aku memperhatikan siswi itu rambutnya sama sekali tidak berkibar terkena tiupan angin ini. Angin yang kencang ini membuatku menutup mataku sejenak. Begitu aku membuka mataku tiba-tiba saja siswi itu sudah berdiri dihadapanku. Aku tersentak kaget. Bagaimana bisa dia yang tadinya berdiri di depan jendela yang jaraknya 10 meter dari pintu masuk, hanya sepersekian detik sudah berdiri didepanku.

Wajahnya hanya berjarak beberapa centi dari wajahku. Aku mengenalinya. Dia yang ada di Koran dinding yang aku lihat beberapa hari yang lalu bersama Jooyeon. Dia ballerina yang bunuh diri itu.

Wajahnya begitu pucat dan matanya menatapku dengan pandangan kosong. Dan suasana ini semakin dingin padahal sekarang sedang musim panas. Apa ini? Apakah ini benar hantu. Ingin teriak rasanya tapi mulutku seolah terkunci.

Aku pun berjongkok untuk menghindari pandangannya sambil menutup kedua mataku. Setelah beberapa detik aku memberanikan diri mengintip. Ternyata dia sudah tidak ada dihadapanku. Aku kembali melirik kedalam ruangan balet. ternyata dia sudah ada di depan jendela lagi sambil menghadap ke arahku.

Sosok yang kuyakini adalah hantu itu berjalan perlahan mundur hingga terpojok di jendela. Aku terus memeperhatikannya, Semakin diperhatikan tenyata ada sosok bayangan hitam berambut panjang yang memojokkannya hingga ke jendela. Kemudian sosok bayangan hitam itu mendorong hantu ballerina itu hingga terjatuh dari jendela.

“Kyaaaaaaaaaa!!!!!!”

.

.

Haksaeng (murid)! Bangun.”

Terengar suara yang tak asing lagi. Akupun membuka mataku. Ternyata Gahee saem ada di hadapanku.

“Apa yang kamu lakukan disini? Ini sudah jam pulang sekolah, siswi dilarang berada disekolah diatas jam enam, tahu? Kenapa kamu malah tertidur di ruangan ballet hah?!” tanya Gahee Saem.

Aku tertidur diruangan ballet? Bagaimana bisa. Tadi aku baru saja melihat hantu dan hantu itu dibunuh oleh hantu yang lain, Kalau aku berkata seperti ini apakah Gahee Saem akan percaya?

Haksaeng? Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali,” suara Gahee Saem membuyarkan lamunanku.

“ah, ne. gwenchanayo Saem, (baik-baik saja). bagaimana Saem bisa ada disini?” tanyaku sambil merapikan seragamku.

“Aku tugas jaga keliling hari ini. Tadi ketika memeriksa lantai empat, aku mendengar suara teriakan dari lantai lima, jadi aku langsung kesini. Dan kutemukan kamu sedang tidur disini,” cerita Gahee Saem.

Aku melihat keadaan sekitarku. Aku baru sadar kalau aku tertidur di bawah jendela tempat hantu itu tadi jatuh. Tapi bagaimana caranya aku bisa ada disini. Kakiku saja tadi sampai tidak bisa bergerak karena terlalu takut. Terakhir yang kuingat adalah aku berteriak karena melihat pembunuhan sesama hantu itu.

Apa yang sebenarnya terjadi disini??

====beedragon====

Saat ini aku dan Jooyeon sedang berada di laboratorium kimia untuk melakukan pengujian. Harusnya kami sudah selelsai sekarang dan ikutan pulang bersama siswi-siswi lainnya. Tapi karena aku memecahkan piret yang berisi larutan yang akan di uji, jadi kami harus tinggal lebih lama untuk membuat ulang larutan tersebut.

Ahh, larutan itu saja harus di buat selama 45 menit. Dan untuk pengujiannnya saja butuh waktu 15 menit, berarti aku harus ada di lab angker ini sampai malam. Aku sudah cukup merinding begitu masuk lab kimia. Bagaimana kalau nanti aku melihat hal seperti yang di ruang balet? oh Tuhan lindungilah aku.

“Nah ini sudah jadi, tinggal mnunggu proses sebentar baru bisa kita bakar,” ucap Jooyeon.

“Bakar? Apa yang mau dibakar?”

“Ya larutannya lah, memangnya kamu mau bakar lab ini? oiya, jangan sentuh tabung-tabung itu. Aku tak mau mereka pecah lagi. Arraseo (mengerti)?” ancam Jooyeon.

“Ne, aku juga tak mau pulang lebih malam lagi,” aku menurut.

Memang sejak aku memecahkan piret larutan itu, Jooyeon jadi mengerjakan semuanya sendirian. Aku hanya menonton dia mencampur semuanya itu. Dia tidak marah padaku, tapi aku jadi merasa tidak enak padanya karena hal ini.

“Aku mau ke ruangan peralatan dulu, aku mau ambil spirtus. Ingat jangan disentuh,” ujar Jooyeon. Dia kemudian masuk ke ruangan di belakang meja guru, meninggalkanku sendirian menjaga semua tabung-tabung percobaannya.

Sepeninggalnya Jooyeon, udara di lab kimia seketika menjadi dingin. Aku kembali merinding, karena aku merasakan ada yang lewat di belakangku. Aku pun menoleh kebelakang dan ternyata tak ada apa-apa. Aku kembali memfokuskan diri pada buku catatanku dan kembali mencatat proses-proses dari larutan ini. tapi aku merasa ada seseorang yang duduk di sampingku. Taku-takut aku menoleh ke sisi kiriku.

Di sampingku sudah duduk seorang siswi berambut merah sebahu dan mengenakan jas lab sepertiku sedang menundukkan kepalanya. Dia telihat seperti sedang menulis sesuatu. Tunggu dulu, dia duduk disampingku padahal disana tak ada bangku. Oh Tuhan apa lagi ini?

Siswi berambut merah itu menoleh ke arahku. Aku melihat wajah pucatnya itu, wajah yang sama dengan yang kulihat di Koran dinding. Berarti ini calon ilmuwan muda yang bernama lizzy yang bunuh diri disini. Sekarang dia menampakkan dirinya padaku!

Lizzy menjulurkan tangannya padaku hendak memegang mukaku. Eomma, tolong aku. Aku terlalu takut sampai tak bisa bergerak.

“YiYoung,” panggil Jooyeon.

Akupun langsung menoleh ke Jooyeon. Aku merasa lega karena Jooyeon datang tepat pada waktunya. Aku kembali menoleh ke sisi kiriku. Hantu iitu ternyata sudah tak ada. Thanks God, untung ada Jooyeon, kalau tidak, entah apa yang akan dilakukan hantu itu padaku.

“Kenapa kamu? Astaga wajahmu pucat sekali Yiyoung. Kamu sakit?” Jooyeon memegang keningku.

Aniyo, gwenchanayo. Kapan kita bisa pulang?” tanyaku dengan suara bergetar.

Jooyeon terlihat merasa bersalah dengan keadaanku. ”Sabar sebentar lagi ya, sepuluh menit lagi kerjaan kita selesai. Kamu sudah mencatat semuanya kan? Setelah aku menguji larutan ini, kita bisa pulang. Kamu tahan sebentar ya,”

Aku hanya mengangguk-angguk mendengar kata-katanya. Ketika dia hendak meninggalkanku lagi aku memilih membuntutinya. Aku sekarang tak mau jauh-jauh darinya. Aku tak mau melihat hantu itu lagi kalau aku sendirian.

“Aigoo, Yiyoung-a. bagaimana kerjaan kita bisa selesai kalau kamu mengikuti aku terus. Kamu catat saja dulu semua prosesnya.” keluh Jooyeon saat aku mengikutinya menuju meja guru.

“Tapi kamu mau kemana? Jangan tinggalkan aku sendiri. Aku takut, Jooyeon,” pintaku.

“Aku hanya mau ke meja guru, mau mencatat bahan-bahan apa saja yang udah kita gunakan. Karena aku yang bertanggung jawab atas ruangan ini, jadi aku tak mau di ceramahi Miss Bekah kalau ada bahan-bahan yang kurang atau hilang.” Ujar Jooyeon.

“Lagipula apa yang kamu takutkan. Kamu masih bisa melihatku dari sini kan? Kamu takut hantu?” tanya Jooyeon.

Aku mengangguk pelan menjawab pertanyaannya.

“Dengar Yiyoung. Tak ada hantu di dunia ini. Jadi kamu tak perlu takut. Karenanya selesaikan laporanmu, jadi kita bisa segera pulang, arraseo?” ucap Jooyeon sambil memegang pundakku.

Jooyeon kembali berjalan menuju meja guru, sementara aku kembali ke bangku untuk melanjutkan laporanku.

Baru saja aku duduk, lagi-lagi aku merasakan kalau ada yang duduk di sebelahku. Aku tak mau melihatnya, tapi bagaimana kalau nanti dia melakukan sesuatu padaku? Jooyeon-a, tolong aku. Aku berusaha berteriak, tapi suaraku tak keluar. Badanku juga tak bisa bergerak.

Akhirnya aku melirik ke sisi kiriku. Benar saja hantunya Lizzy sudah ada disana. dia menelungkupkan kepalanya di meja. Aku jadi tak konsentrasi menulis laporanku, bagaimana bisa aku menulis laporanku kalau ada hantu sedang duduk di sebelahku?

Aku terus memperhatikan sosok hantu ini. Apa dia sedang tidur? Kenapa dia menelungkupkan kepalanya seperti ini? Tak lama kepala dari hantu itu bergerak seolah ada yang menyentuhnya.

Aku langsung menutup mataku, aku takut melihat wajahnya lagi. Dengan perasaan takut, kembali melirik ke sisi kiriku. Kembali aku lihat bayangan yang sama, yang kulihat di ruang balet, sosok hitam berambut panjang. Bayangan hitam itu ternyata yang menyentuh hantu Lizzy, kemudian sosok hitam itu mengeluarkan pisau dan mulai mengiris nadi hantu lizzy.kemudian darah keluar dari pergelangan tangan hantu Lizzy. Terus mengalir hingga darah itu membanjiri meja dan jas lab hantu Lizzy.

Apa ini? apa sosok bayangan hitam ini baru saja menolongku? Kemarin dia mendorong hantu Nana, sekarang dia membunuh hantu lizzy. Aku ngeri sekali melihat hantu Lizzy yang sudah banjir darah ini.

Seseorang menepuk pundakku dan membuatku terlonjak kaget. “Kyaaaaa!!”

“Yiyoung-ah, kamu kenapa? Astaga, kamu benar-benar pucat sekali,” tanya Jooyeon sambil memegangi wajahku menghapus peluh yang mengalir deras di pelipisku.

Aku langsung memeluknya, aku menangis sejadi-jadinya. Belum ada seminggu aku sekolah disini, aku sudah melihat 2 hantu, ahh aniyo ada tiga hantu termasuk bayangan hitam itu.

Bagaimana ini? Ini baru dua ruangan dari tiga ruangan yang kabarnya berhantu itu. Dan ruangan terakhir adalah ruangan favoritku, ruang musik. Apakah nanti kalau aku kesana aku juga akan melihat hal seperti ini lagi.

Eotteokke??

====beedragon====

Haksaeng, bisa bantu aku sebentar?” tegur JungAh Saem.

Aku menurut dan mengikutinya ke ruang guru. Ternyata dia memintaku untuk memindahkan semua buku tugas para murid yang ada di meja guru ke ruang musik. Bagaimana ini, aku tak bisa menolak, tapi aku tak mau ikut JungAh Saem ke ruang musik, karena katanya ada hantunya Raina disana. aku tak mau melihat hantu lagi, sudah cukup dua hantu yang kulihat, aku tak mau merasakan pengalaman itu lagi.

“Sebentar aja, kita hanya menaruh ini di ruanganku habis itu kita bisa pulang. Nanti aku traktir kamu makan mie kecap? Eottae (bagaimana)?” pinta JungAh Saem.

Yah, bagaimana bisa aku menolak. Bagaimanapun juga aku harus bisa mengambil hati Saem yang satu ini kalau mau mendapat nilai bagus di kelas musik. Selain itu aku juga mau menunjukkan keahlianku dalam bermain musik.

Akhirnya aku menemani JungAh Sam ke ruang musikk, sepanjang perjalanan kami mengobrol tentang banyak hal. Seperti misalnya alat musik apa yang aku bisa, atau apakah aku bisa menyanyi. Ah memang menyenangkan kalau bisa ngobrol dengan orang yang juga musik

Kami tiba di ruangan musik, begitu masuk ada wangi yang begitu menyengat menyeruak. Mencium wangi ini membuat bulu kudukku merinding.

“Bau apa ini sam?”

“Ini pewangi ruangan YiYoung-ah. Wangi bunga sedap malam. Enak kan wanginya? Ini adalah wangi favoritku dan murid kesayanganku. Memakai wangi ini membuatku merasakan semangatnya. Aku bawa ini ke dalam dulu ya, kamu bisa main gitar atau drum disana,” ujar JungAh Saem dan kemudian merapikan semua buku dan masuk ke dalam ruangannya yang ada di dalam ruang musik ini.

Aku pun berkeliling ruangan dan menemukan sebuah gitar listrik. Tadinya aku akan memainkannya, tapi aku lebih tertarik pada piano besar yang ada di tengah ruangan. Aku akhirnya memilih mendekati piano ini. aku duduk dan membuka kap penutup tuts piano.

“Wah, ini jelas sekali piano tua, tapi apakah suaranya masih bagus?”

Aku menempelkan jemariku pada piano ini. Belum sempat aku menekan tuts-tuts piano ini terdengar suara permainan piano yang mengalun begitu sendu.

Piano ini bermain sendiri, atau begitulah setidaknya sebelum aku melihat kalau ada siswi berambut pendek yang tengah duduk di sampingku dan memainkan piano ini.

Eomma, benar kan dugaanku. Aku melihat hantu lagi. Aku pun menyingkir hingga aku terjatuh. Sialnya karena aku terjatuh, hantu itu jadi menoleh kearahku. Eomma, ini siswi yang ada di Koran sekolah, dia yang namanya Raina itu kan. Eomma tolong aku. Dia melihatku. Aku tak mau dibunuh sama dia, Eomma.

“YiYoung-ah, kamu tunggu sebentar lagi ya,” panggil JungAh Saem yang menyembulkan kepalanya dari balik ruangannya.

“Saem, tolong aku,” bisikku. Tapi Saem tak mendengar permintaanku karena dia sudah kembali masuk ke dalam ruangannya.

Sosok Raina masih ada disana, masih memainkan pianonya dengan begitu sedih. Dia sudah tidak melihat ke arahku lagi. Dan lagi-lagi aku melihat bayangan hitam itu lagi sedang berdiri di belakang hantu Raina. Dia melakukan sesuatu pada hantu Raina, yang membuat Raina menggelepar seperti sedang kehabisan nafas. Setelah tubuh hantu itu mengejang tak jelas akhirnya hantu raina lemas tak berdaya.

Aku terus saja memperhatikannya, dia kemudian menggantung raina dengan cara berpijak pada piano. Dan yang terjadi berikutnya adalah, sosok raina yang tergantung di tengah ruangan. Sungguh ini adalah pemandangan mengerikan.

Apa lagi ini?? Apa sekarang sosok hitam itu benar – benar menolongku? Karena sosok hitam itu sudah membunuh tiga hantu. Haruskah aku berterimakasih pada bayangan hitam itu? Entah kenapa aku sekarang jadi takut pada sosok bayangan hitam itu.

“YiYoung, kenapa kamu duduk di lantai?” tegur JungAh sambil menutup kap tuts piano.

Saem apa kau tak melihat kalau ada hantu yang sedang tergantung di atas kepalamu? Aku ingin sekali mengatakan hal ini karena hantu Raina masih menggantung disana dan wajahnya begitu mengerikan. Tapi aku akan dikira gila kalau mengatakan hal ini.

“Ahh, tadi aku jatuh. Ngomong-ngomong suara piano itu bagus ya sam,” aku mengalihkan pembicaraan.

“Suara piano? Piano ini sudah lama bisu sayang. Sejak pemiliknya meninggalkan dia, dia jadi tak mau bersuara lagi. Ayo kita pulang,” ajak JungAh Saem.

Bisu? Tapi tadi jelas sekali kalau piano itu berbunyi. Eomma, ada apa sebenarnya ini? Apa aku sekarang jadi punya kemampuan melihat hantu atau apa? Kalau memang iya, bagaimana cara untuk menghilangkannya? Aku tak ma terus-terusan diganggu seperti ini. rasanya seperti aku mau gila dibuatnya.

Kenapa kalian bertiga menampakkan diri kalian padaku? Apa yang mau kalian lakukan padaku? Aku salah apa pada kalian sampai kalian menunjukkan diri kalian seperti ini padaku?

[TBC]

bee

next are the last chapter

bee akan memproteksi chapter akhir..
password hanya akan diberikan oleh mereka yang meninggalkan email serta judul fiksi yang ingin dibaca ke halaman proteksi.. *dimohonkan untuk membaca dengan jelas peraturan disana.. karena password bisa kalian dapatkan sendiri tanpa harus bertanya pada bee*
Passwordnya HANYA akan diberikan pada mereka yang sudah jadi penghuni planet ini.. karena itu DAFTARKAN diri kalian dengan buat perkenalan di halaman residence *jika kalian mampir kehalaman ini maka kalian akan bisa tahu passwordnya 😀 *
thanks for your attention!! annyeong!!

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF – After School / Mystery / PG15 / By Ratu Puteri

18 thoughts on “FF – After School / Mystery / PG15 / By Ratu Puteri

  1. sepertinya hantu2 itu mau kasih tau sesuatu…ini ceritanya hampir sama kaya novel ku suddenly supernatural. Tpi keren kok kak…gk ada maksud nyama2 in cuman kasusnya hampir sama ama novel itu. Tapi pastinya jalan ceritanya beda 100% kok ^_^

  2. Whoaa.. Kek nya 3 hantu itu sengaja menampakkan diri dan kasi tau penyebab kematiannya masing” ya. Jadi 3 hantu itu dibunuh.. Bukan bunuh diri. Itu yg aku dapet Bee 🙂 bener ga? Haha (:

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s