FF / Oppa Babo / G / Chap6


Title: Oppa Babo
Author: Ratu Puteri aka BeeDragon
Rating / Pairing: G / STRAIGHT
Main Casts:
JunHyung Beast as Yong Junhyung
SooMi 5Dolls as Lee Soomi
HyunSeung Beast as Jang Hyunseung
Other Cast :
Beast Member
T-ara Member
cameo : JYP aka Park Jinyoung
Genre: Romance
Length : chaptered
Disclaimer: isi dari FF ini adalah murni hasil karya Ratu Puteri selaku Author. TAKE OUT WITH FULL CREDIT. No Copy Paste and Don’t Be Silent Reader.
Summary: Dia pergi. Dia menghilang. kemana aku harus mencarinya. ternyata banyak rahasia yang dia simpan dariku. aku bahkan baru tahu latar belakangnya beberapa minggu yang lalu. ternyata aku sama sekali belum mengenalnya. Kumohon kembalikan dia padaku. aku membutuhkannya

[part VI]

[author POV]

“Masih belum ada kabar?” tanya Doojoon.

“Ini udah sebulan loh,” sahut Yoseob.

Mollayo. Aku juga gak tau harus gimana lagi. Aku cuma bisa berharap dia baik-baik aja,” jawab Hyomin.

Saat ini mereka berempat sedang berada di café dekat asrama Hyomin, berunding tentang kabar Soomi yang sudah sebulan menghilang tanpa kabar. Sebenarnya bukan menghilang tanpa kabar, tapi pergi dan tidak meninggalkan pesan apapun. Soomi tampaknya benar-benar sudah keluar dari Core Media Academy, karena sudah sebulan tak tampak keberadaannya disekolah.

“Kemarin aku sama Jiyeon main ke rumah musim panasnya Soomi yang di Incheon, tapi gak ada siapapun selain asistennya. Mereka juga gak ngasih tau dimana Soomi sekarang. Terus waktu kita main ke rumahnya yang di Gangnam juga gak ada siapa-siapa. Hapenya juga gak aktif,” cerita Hyomin.

“Tunggu dulu, rumah musim panas? Gangnam? Yah, memangnya dia punya rumah berapa?” tanya Doojoon memotong cerita Hyomin, “Apa dia sekaya itu?”

“Ahh, kalian gak tau riwayat hidup Soomi ya? Ahh, Junhyung Oppa bukan tipe yang suka cerita-cerita sih ya,” Hyomin malah balik bertanya, “Aku sih taunya dari Jiyeon. Dia kan udah Kenal Soomi dari SMP,”

“Soomi itu cucu satu-satunya dari pendiri sekolah kita. Kamu tahu Lee Sooman? Dia pendiri Cube dan Core Media Academy, dia itu kakek Soomi. Kepala sekolah kalian itu om-nya Soomi, sementara kepala sekolah kami itu tantenya Soomi. Ayahnya Soomi itu pemilik gedung Opera yang ada di Seoul dan Jepang. Ibunya Soomi pianis terkenal di Jepang. Jadi bisa dibilang Soomi itu cukup kaya atau malah sangat kaya. Berhubung cuma dia satu-satunya penerus dari keluarga Lee jadi wajar kalau Soomi itu paling disayang. Makanya mungkin sekarang Soomi lagi diisolasi dari dunia luar biar keadaannya cepat membaik,” Hyomin melanjutkan ceritanya.

“Wah, aku gak tau kalau kepala sekolah itu oom-nya Soomi. Orang menyeramkan itu bisa punya keponakan yang cantik begitu,” ujar Doojoon.

“Eh, Noona, kalau gitu kita bisa nanya ke kepala sekolah soal Soomi dong?” tanya Yoseob.

“Kamu pikir kita gak melakukan itu. Udah tau, itu adalah hal pertama yang kita lakuin waktu Soomi gak juga ngasih kabar. Tapi kepsek gak pernah bisa buat ditemuin. Selalu gak ada ditempat. Susah buat ketemu sama dia,” keluh Hyomin, “kurasa Soomi memang disembunyikan dari kita.”

“Wah, Soomi ternyata sekaya itu ya? Pantes aja Junhyung gak mau ngelepasin dia,“ kata Doojoon yang tidak memperhatikan obrolan Hyomin dan Yoseob.

Mendengar Doojoon berkata seperti itu, Yoseob langsung menyikutnya. Membuat Doojoon tersadar dan berpaling melihat kearah Hyunseung yang sudah menatapnya marah.

“Aku sedih ngeliat Junhyung hyung belakangan ini. Dia kayak udah gak punya nyawa,” kata Yoseob mengalihkan pembicaraan.

“Oh iya si Gikwang itu apa kabarnya? Sejak di klinik aku gak pernah denger lagi soal dia,” tanya Hyomin.

“Ahh, dia gak pernah ke asrama lagi,” jawab Yoseob.

“Kaburkah? Atau lagi nyari-nyari Soomi lagikah?”

“Gikwang gak akan berani kembali ke asrama setelah kejadian waktu itu,” jawab Doojoon.

“Tau gak Noona. Malam setelah Soomi pergi, Junhyung Hyung ngamuk di asrama. Apalagi pas ngeliat muka Gikwang, dia beneran ngamuk. Gikwang habis dipukulin sama Hyung. Mana waktu itu Cuma ada aku di asrama. Aku sampe gak berani misahin mereka, takut ikutan ditonjok sama Hyung. Tau sendiri Hyung kalo udah ngamuk kaya gimana,” cerita Yoseob sambil bergidik.

“Yaa, siapa yang gak stress. Baru aja memproklamirkan hubungan mereka, tiba-tiba harus berpisah seperti itu. Wajar aja kalo naga itu ngamuk,” ujar Doojoon sambil menyeruput kopinya.

“Dia sampai dikasih peringatan sama pengawas asrama, gak boleh make ruang latihan selama dua minggu. Tapi belum ada dua minggu Hyung udah berantem lagi. Jadi hukumannya ditambah deh. Kasihan Hyung, padahal ujian kan sebentar lagi,” keluh Yoseob.

Mwo?! Diskors gitu maksudnya? Kok jahat amat? Yah, dia itu harus lulus dengan baik. Kalau dia gak lulus itu sama aja dengan sia-siain kesempatan yang udah dikasih Soomi,” protes Hyomin.

“Kesempatan apa?” Tanya Yoseob.

“Junhyung itu kan bisa masuk Cube Academy karena Soomi yang meminta Om-nya supaya dia bisa masuk sekolah itu. Karena Soomi begitu ingin melihat dia jadi dancer seperti cita-citanya. Kalo dia begitu sama aja dia sia-siain usaha Soomi,” Hyomin menjelaskan.

“Yah, jadi maksud kamu Hyung itu bisa masuk cube karena sogokan bukan karena bakatnya, gitu?!” Hyunseung yang sedari tadi diam tiba-tiba menyela dan terdengar sedikit marah.

“Aku gak bilang gitu. Kamu kan tahu sendiri, Cube dan Core Media itu gak asal nerima muridnya, jadi walaupun Soomi memaksa om dan tantenya pun kalian gak akan bisa diterima di sana,” Hyomin membela diri.

“Tapi dari ceritamu itu seolah-olah Hyung masuk akademi bukan karena bakat. Yah! Hyung itu hebat. Dia itu punya bakat yang luar biasa, kenapa kamu…”

“Udahlah Hyunseung, kita lagi bicarain nasib Soomi dan Junhyung. Kenapa kamu malah marah-marah kaya gini?” Doojoon menghentikan argumentasi Hyunseung.

“Lagian kalian kenapa tiba-tiba ada disini sih, tiba-tiba nimbrung dan ngobrol-ngobrol gak jelas,” Hyunseung mengalihkan pembicaraan.

“Karena meja yang lain penuh, cuma meja kamu aja yang kosong. Jadi gak ada salahnya kalau kita ikutan makan disini. Toh restoran ini bukan punyamu, kenapa kamu protes kita mau duduk dimana,” Doojoon mulai terdengar tidak senang.

“Kamu lagi!” Hyunseung menunjuk Hyomin, “Kenapa kamu tiba-tiba disini! Merusak suasana aja.”

“Yah. Siapa yang merusak suasana. Lagian aku kesini kan buat makan. Apa hakmu ngelarang aku?” protes Hyomin.

“Iya Hyung, kita kan tadi ketemu Noona jadi sekalian aja makan rame-rame disini,” bela Yoseob.

“Tapi kan kalian bisa makan di deket asrama. Ngapain jauh-jauh kesini?” sekarang Yoseob jadi sasaran omelan Hyunseung.

“Yah, Seungie. Kita mau makan dimana itu terserah kita. Kamu ini kenapa sih, hobi banget marah-marah,” sahut Doojoon.

“Ahh molla!!” Hyunseung beranjak setelah merapikan bukunya yang berserakan di meja.

Melihat Hyunseung akan pergi, Hyomin buru-buru menahannya, “Mau kemana?”

“Bukan urusanmu,” bentak Hyunseung baru saja selangkah dia pergi, Hyunseung langsung berbalik lagi seolah ada yang ketinggalan.
“Kamu,” Hyunseung menunjuk Hyomin. “Berhenti menelponku tiap malam. Arraseo!”

Ketiga orang itu hanya bisa melongo melihat Hyunseung pergi kearah pintu keluar. Seolah mereka baru saja melihat badai tornado lewat.

“Noona kamu sering nelpon Seungie Hyung?” tanya Yoseob takjub, setelah melihat Hyunseung menghilang di pintu keluar.

Begitu melihat anggukan Hyomin, Doojoon pun berkata, “Wah berani sekali kamu nelpon dia. Udah berapa lama? Kamu ngomongin apa aja sampai bisa bertahan buat terus ngejar dia?”

“Bertahan? Tiap aku telpon dia pasti marah-marah, jadi aku lebih sering dengerin omelannya daripada dia mendengarkan aku bicara.”

“Wah, hebaaat,” ucap dua lelaki itu takjub, membuat Hyomin bingung melihatnya.

“Kamu pasti udah bener-bener jatuh cinta sama dia,” tebak Doojoon.

“Ahh, Oppa…” hyomin merasakan wajahnya memanas. Dia mulai memainkan cangkir teh dihadapannya.

“Wah, beneran lohhh,” seru Yoseob.

Hyomin mulai merasa reaksi mereka berlebihan. “Kenapa emangnya.”

“Wah Noona berarti harus siap-siap patah hat…” Doojoon langsung buru-buru membungkam mulut Yoseob dengan roti.

“Patah hati maksudmu? Memangnya dia udah punya pacar gitu?” Hyomin terdengar sedih.

“Maksud Yoseob, Hyunseung itu kan orangnya kelewat dingin dan gak bersahabat. Suka protes sana-sini. Udah gitu galak lagi, kamu liat sendiri kan tadi,” ucap Doojoon. Doojoon langsung memelototi Yoseob saat dia mau menyela lagi.

“Ohh, itu sih aku udah paham. Karena ini cinta pertamaku makanya aku akan berusaha agar dia bisa baik padaku. Kalau seorang Soomi aja bisa bikin Junhyung yang lamban itu menyadari perasaannya, kenapa aku gak bisa,”sahut Hyomin ceria. “Aku mau nyusul dia, annyeong.”

Hyomin meninggalkan dua lelaki yang memandanginya dengan tatapan kasihan.

“Justru itu gak akan mungkin terjadi. Seungi Hyung gak akan mungkin bisa suka sama Noona. Kasihan Noona,” Yoseob terdengar sedih. “Hyung kan gak suka per…”

“Shhh…” potong Doojoon.

“Tapi emang bener kan hyung. Seungi-Hyung itu kan kebalikannya Soomi. Makanya dia masuk asrama laki-laki kan.”

“Tapi jangan bilang begitu ke Hyomin. Nanti dia sedih. Biarkan aja sampai dia menyerah sendiri,” kata Doojoon. “Kajja, kita susul mereka. Nanti Hyomin dimaki-maki lagi oleh Hyunseung.”

====beedragon====

“Hyunseung, tunggu,” Hyomin berlari mengejar Hyunseung.

“Berhentilah,” ucap Hyunseung saat Hyomin sudah menyejajarkan langkah mereka.

“Berhenti apa?” tanya hyomin sambil tersenyum.

“Berhenti mengikutiku, berhenti membuntutiku, berhenti mengejarku,” bentak Hyunseung.

“Siapa yang ngikutin kamu? Asramaku kan memang ke arah sini. Jadi gak apa-apa dong kalau kita barengan,” sahut Hyomin polos.

Mendengar jawaban Hyomin, Hyunseung hanya bisa memutar bola matanya lalu kembali berjalan dengan cepat. Hyomin pun bergegas menyusul langkahnya. Lagi-lagi baru berapa langkah Hyunseung berjalan dia langsung berhenti, membuat Hyomin menabrak dirinya.

“Kamu ini apa sih yang sebenarnya lagi kamu pikirin? Temen kamu itu lagi hilang. Tapi kamu masih bisa senyam-senyum kaya gini. Bukannya mikirin temen kamu lagi dimana, kamu malah sibuk tebar pesona disana-sini,” Hyunseung mulai memaki hyomin lagi.

“Yah siapa yang tebar pesona?”

“Kalau begitu berhenti menelponku tiap malam. Kamu nelpon Cuma buat nanyain soal Hyung ajah. Kalau emang begitu ingin ngomong sama Hyung, harusnya yang kamu telpon itu Hyung! Bukan aku.” Setelah puas memaki, Hyunseung kembali melangkah pergi.

“Tapi Junhyung kan cuma alasan biar aku bisa dengar suara kamu,” ucap Hyomin pada dirinya sendiri.

Menyadari Hyunseung sudah pergi jauh, Hyomin pun berlari mengejarnya kembali. Dan menabrak Hyunseung lagi karena Hyunseung kembali berhenti tiba-tiba.

“Kamu ini hobi banget berhenti tiba-tiba ya?” ucap Hyomin sambil mengelus-ngelus hidungnya yang sakit akibat menabrak hyuseung.

Melihat orang didepannya ini hanya diam terpaku, Hyomin pun mengintip dari balik badan Hyunseung. Dilihatnya arah pemandangan yang membuat Hyunseung sampai terdiam terpaku seperti itu. Ternyata Junhyunglah yang membuatnya berhenti.

“Aigoo. Orang itu udah berdiri disana selama sebulan penuh,” kata Hyomin.

Junhyung yang sedang berdiri menatap gedung asrama puteri Core Media Academy. Dihadapannya ada Jiyeon dan Eunjung yang terlihat seperti sedang mengkonfrontasi Junhyung. Hyomin bergegas mengampiri mereka.

“Sunbae, geuman haseyo,” Jiyeon memohon pada Junhyung.

“Junhyung, sampai kapan kamu mau mempersulit kami seperti ini, hah? Sudah sebulan kamu berdiri disini tiap jam segini. Pengawas asrama udah mulai ngawasin kamu. Kalau kamu sampai kenapa-kenapa kan kita juga yang repot.” Protes Eunjung.

“Junhyung Oppa, berhentilah menunggu disini. Nanti kalau ada kabar dari Soomi kita pasti kasih tau kamu kok,” bujuk hyomin.

Tapi Junhyung tak bergerak sedikitpun. Menoleh kearah tiga perempuan itu pun tidak. Dia hanya terus menatap tembok merah bata dari gedung asrama.

“Biarkan saja dia,” sela Hyunseung yang sudah tiba dibelakang Hyomin.

“Tapi kita gak bisa biarin dia buang-buang waktu kaya gini,” jawab Hyomin.

“Yah Junhyung. Kalau kamu begitu ingin ketemu sama Soomi, lebih baik kamu langsung pergi kerumahnya! Percuma kamu menunggu dia disini. Dia gak akan datang. Dia udah keluar dari sini. Ngerti gak maksudnya?!” seru Eunjung.

“Aku udah nyari kemana-mana. Kepala sekolah adalah orang yang pertama kali aku datangi. Tapi dia gak mau ngasih tahu keadaan Soomi sekarang. Jadi kalian diamlah. Biarkan aku menunggunya disini.”

“Hyung,” seru Yoseob yang sudah tiba di tengah keributan itu. “Hari ini pun masih juga menunggu disini. Sudahlah Hyung. Bukankah lebih baik kalau kita mencari bukannya menunggu.”

“Jun-ah, lebih baik kamu fokus pada ujianmu. Lebih baik kamu pikirkan dulu masa depanmu baru memikirkan masalah Soomi,” bujuk Doojoon.

Tapi Junhyung hanya melirik Doojoon dengan penuh amarah. Dia menatap satu persatu orang-orang yang ada dihadapannya itu. Lalu berkata dengan kesalnya, “aku bilang biarkan aku menunggu disini! Kalian jangan membuatku kesal. Karena sekarang aku benar-benar ingin memukul seseorang.”

“Sunbae, aku sudah pernah bilang bukan. Soomi dibawa pulang sama orang tuanya. Dan Sunbae tahu persis dimana dia sekarang. Mengertilah Sunbae. Irreoke andweyo,” Jiyeon masih berusaha membujuknya.

“Tapi aku hanya ingin melihat senyumannya lagi, Ji. Aku ingin dia kembali ceria seperti ketika dulu aku mengenalnya. Aku gak tahu lagi apa yang harus aku lakukan agar bisa melihatnya lagi,” ucapan Junhyung terdengar begitu menderita.

“Sudahlah semuanya bubar saja. Dia sudah bilang biarkan saja dia kan. Jadi percuma kalian membujuknya seperti apapun. Orang ini gak akan mendengarkan kalian,” sela Hyunseung. “Ayo Yoseob kita pulang.”

“Tapi hyung…”

Kajja seobbie!” bentakan Hyunseung membuat Yoseob bergegas mengikuti langkahnya.

“Hyunseung-ssi,” panggil Hyomin. Mendengar panggilan Hyomin, Hyunseung pun berhenti. Tapi dia tak berbalik. Dia juga tidak memulai untuk mengomeli Hyomin lagi. Hanya berdiri saja membelakangi mereka.

“Gikwang…..” ucap Yoseob sambil melirik ke arah Junhyung.

Ternyata yang membuat Hyunseung berhenti adalah karena dia melihat Gikwang yang sedang berjalan tergesa-gesa sambil menarik seorang pria paruh baya. Semua mata langsung tertuju kearah Gikwang, bertanya-tanya apa yang akan dilakukannya kali ini. Sementara Junhyung sudah benar-benar terlihat marah. Hyunseung dan Yoseob bergegas kembali menuju Junhyung untuk menjaga amarah Hyung mereka ini.

“Jiyeon-ah,” seru Gikwang saat dia sudah sampai didepan Jiyeon. Gikwang sempat mundur selangkah saat dia melihat Junhyung yang sudah menatapnya marah. Tapi tampaknya dia benar-benar sudah membulatkan niatnya untuk mengahampiri jiyeon, karena sepertinya dia punya berita yang sangat penting.

“Ji, Soomi mana? Aku pernah bilang aku gak salah kan. Sekarang aku bawa buktinya,” Gikwang terdengar tergesa-gesa.

“Sunbae, sudahlah. Itu sudah tidak penting lagi,” ucap Jiyeon.

“Tapi ini penting buat aku, Ji. Aku gak bisa hidup dalam rasa bersalah seperti ini. Aku mohon Ji panggil Soomi. Biar dia gak terus menatapku dengan pandangan seperti itu,” Gikwang memohon padanya.

“Ahjussi, apa yang kau lakukan,” ucap Gikwang pada pria tua yang bersembunyi dibalik punggungnya. Gikwang pun menarik pria itu ke hadapan Jiyeon. “Cepat Ahjussi bilang kalau bukan aku yang melakukannya. Cepat buat pengakuan Ahjussi.”

Jiyeon menatap pria paruh baya itu. Secepat kilat pria itu berlutut dihadapan Jiyeon. Badannya gemetaran ketakutan. Mungkin karena dia takut akan dihakimi oleh 5 pria muda di hadapannya ini.
“Agasshi. Naega jalmeothaeseo. Tolong ampuni aku.” Pria itu menyembah Jiyeon.

“Park Jinyoung Ahjussi?” Jiyeon ternyata mengenali pria itu. Dia adalah penjaga sekolah mereka waktu di SMP dulu. Ternyata ini yang dibilang saksi mata oleh Gikwang.

“Tolong ampuni aku Agasshi. Saya khilaf. Tolong ampuni aku,”

“Ahjussi, Ahjussi tau persis pada siapa Ahjussi melakukan itu. Bukan Jiyeon orangnya. Ahjussi harus minta maaf pada Soomi. Gara-gara kelakuan Ahjussi, sekarang Soomi jadi ketakutan setengah mati padaku,” ucap Gikwang frustasi sambil mengangkat Ahjussi itu untuk berdiri.

“Apa ini maksudnya Sunbae? Jinyoung Ahjussi melakukan apa?!” Tanya Jiyeon bingung.

Jebalyo, Agasshi. Ampuni saya. Saya khilaf waktu itu. Tolong ampuni saya. Maafkan saya yang sudah membuat Agasshi jadi sakit sperti itu. Saya khilaf Agasshi. Tolong ampuni saya,” Ahjussi itu kembali memohon pada Jiyeon. Dia terus menundukkan kepalanya, apalagi setelah melihat Junhyung dia langsung gemetar karena ketakutan.

“Hyung!” teriak Yoseob.

BUUKKK. Pukulan yang cukup keras mendarat dengan manis di pipi Ahjussi itu. Ahjussi itu jatuh terjengkang, mencari-cari siapa yang baru saja mengadilinya. Tapi anak muda yang sudah memberikan tinjunya itu terlanjur duduk diatas badannya. Dan kembali meninjunya tiada ampun.

“Jinyoung Ahjussi! Apa yang sudah kau lakukan padanya?! Kenapa kau lakukan itu pada Soomi?! Padahal dia sudah begitu baik padamu, begini caramu membalas kebaikannya?!! Kau tahu betapa aku sangat sayang padanya. Kalau sudah tahu akan hal itu kenapa kau masih melakukannya?!” maki Junhyung sambil terus meninju Ahjussi tua itu.

Ahjussi itu kurang beruntung karena dia datang tepat saat Junhyung bilang dia begitu ingin memukul seseorang. Dan sekarang hampir tidak ada yang bisa menghentikannya. Doojoon dan Hyunseung sempat kewalahan menahan emosi Junhyung. Akhirnya mereka berhasil menahan kedua lengan junhyung yang terus memukul dengan liarnya. Mereka pun mengangkat Junhyung untuk menjauh dari Ahjussi itu. Tapi kakinya yang masih bebas berhasil menendang Ahjussi itu telak tepat di dadanya.

“Kau kan punya anak perempuan yang seumuran Soomi!! Bagaimana kalau apa yang dialami Soomi terjadi pada anakmu!! Apa kau pernah memikirkan hal itu!! Ahjussi kenapa kau melakukan itu pada Soomi-ku!!!!!!!!” amuk Junhyung.

Amukan Junhyung ini membuat ketiga perempuan-Jiyeon-Hyomin-Eunjung- terdiam ketakutan. Bahkan Yoseob tak berani dekat-dekat dan memutuskan untuk membantu Ahjussi yang wajahnya sudah berlumuran darah itu untuk berdiri. Ditemani Eunjung dan Hyomin, mereka membawa Jinyoung Ahjussi menuju pos satpam asrama puteri.

“AAAAAARRRRGGGGHHHHH….!!!!!” Tampaknya Junhyung masih belum puas melampiaskan emosinya. Dia sudah menatap Gikwang dengan liarnya. Tangannya menggapai-gapai hendak menarik Gikwang dalam jangkauannya. Tentu saja Doojoon dan Hyunseung menahannya.

“Jadi…. Jinyoung Ahjussi…pada Soomi… tapi kenapa??” ucap Jiyeon terbata karena bingung sekaligus shock akan pemandangan yang baru saja disaksikannya.

“Tanya padanya, aku gak tahu. Sekarang kamu percaya kan kalau aku gak melakukan itu. Jadi tolong bilang pada Soomi. Jelaskan padanya kalau itu bukan aku. Kuharap dia mau memaafkan kesalahan yang tidak pernah kubuat itu.” Pinta Gikwang.

“Untuk apa kau membawanya hah?! Kau pikir masalah akan selesai dengan kau mebawa Jinyoung Ahjussi!! Kesini kamu!! Biar kusadarkan kamu!!” amuk Junhyung sambil terus menggapai-gapai ke arah Gikwang. Dia benar-benar ingin meninju hoobaenya itu.

“Hyung,” Gikwang menatap Junhyung ketakutan.

“Hyung, kau yang harusnya sadar. Tenang sedikit Hyung,” bujuk Hyunseung.

Tapi tampaknya Junhyung sudah terlihat sedikit tenang. Dia sedang mengatur nafasnya yang tersengal-sengal karena perkelahian sepihak yang baru saja dia lakukan.

“Aku.. tetap.. gak akan.. maafin kamu Gikwang. Satu-satunya hal yang bisa membuat kamu mengangkat kepalamu lagi adalah dengan membawa kembali senyuman Soomi. Kembalikan keceriaannya. Kembalikan kebahagiannya. Maka dengan begitu kamu bisa melupakan semua ini.” Ucap Junhyung sambil mengatur nafasnya.

Junhyung menepis pegangan Hyunseung dan Doojoon. Berjalan kearah Gikwang, dan hal ini membuat Gikwang langsung melindungi wajahnya dengan salah satu tangannya. Karena dia masih ingat persis seperti apa rasa tinju dari Hyung-nya yang satu ini.

“Membawa Jinyoung Ahjussi adalah suatu kesalahan, Gikwang. Karena itu membuatku sama sekali tidak simpatik padamu. Pergi dari hadapanku mungkin adalah cara terbaik agar wajahmu itu tidak mengalami hal yang sama seperti yang dialami Jinyoung Ahjussi,” ucap Junhyung yang lalu berjalan pergi meninggalkan tempat kejadian perkara.

“Ahh, Jiyeon,” tegur Junhyung sambil membelakangi mereka. “Aku akan terus datang kesini dan menunggu. Jadi kamu gak usah merasa khawatir atau bingung. Jadi besok-besok jangan ganggu aku.”

Dan Junhyung pun benar-benar pergi dengan berjalan terhuyung-huyung meninggalkan mereka.

====beedragon====

Tiga tahun kemudian

Kilatan-kilatan cahaya blitz kamera menghujani Jiyeon. Jiyeon duduk dihadapan banyak orang yang meneriaki namanya, dibelakangnya terlihat poster dirinya memakai seragam sekolah berlumuran darah dengan judul bertuliskan “Death Bell 2; Bloody Camp”. Terlihat dari beberapa orang yang mengantri dihadapannya dengan membawa poster dan CD, sudah jelas bahwa saat ini sedang ada semacam acara fansigning. Jiyeon saat ini sedang mengadakan fansigning untuk film terbarunya yang baru saja dirilis dalam bentuk DVD.

Jiyeon terlihat begitu berkonsentrasi menandatangani poster-poster dan DVD-DVD yang dibawa oleh para fansnya. Ya, Jiyeon adalah pemeran utama di film yang sudah menjadi box office itu. Jiyeon merupakan ikon remaja muda yang menjadi panutan oleh banyak anak-anak muda.

“Jiyeon-ssi. I’m your overseas fan,” tegur salah satu anak perempuan yang sudah mendapatkan gilirannya untuk bisa mendapatkan tanda tangan Jiyeon.

“Oh, thank you,” ucap Jiyeon yang lalu kembali menunduk tanpa sempat melihat wajah anak tersebut.

“Namamu siapa?” Tanya Jiyeon yang sudah siap untuk menulis diatas poster yang diberikan anak tadi.

“Soomi. Nae irreumi Lee Soomi imnida.”

Sontak Jiyeon langsung mengangkat kepalanya. Dilihatnya anak perempuan dihadapannya itu. Dia memamerkan senyumannya dan berkata, “Annyeong, Ji. Nan wasseo.

====beedragon====

[TBC]

bee

next are the last chapter

bee akan memproteksi chapter akhir..
password hanya akan diberikan oleh mereka yang meninggalkan email serta judul fiksi yang ingin dibaca ke halaman proteksi.. *dimohonkan untuk membaca dengan jelas peraturan disana.. karena password bisa kalian dapatkan sendiri tanpa harus bertanya pada bee*
Passwordnya HANYA akan diberikan pada mereka yang sudah jadi penghuni planet ini.. karena itu DAFTARKAN diri kalian dengan buat perkenalan di halaman residence *jika kalian mampir kehalaman ini maka kalian akan bisa tahu passwordnya 😀 *
thanks for your attention!! annyeong!!

beedragon_art all right reserved

Advertisements
FF / Oppa Babo / G / Chap6

5 thoughts on “FF / Oppa Babo / G / Chap6

  1. eunhae says:

    yampun tiba tiba 3 tahun kemudian. nyesek banget rasanya bayangin 3 tahun itu junghyung ngapain aja coba… bisa gila mikirib soomi teruss. hohooo semoga happy end

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s