FF / Oppa Babo / G / Chap5


Title: Oppa Babo
Author: Ratu Puteri aka BeeDragon
Rating / Pairing: G / STRAIGHT
Main Casts:
Yong Jun Hyung as Junhyung
yong
Lee Soo Mi as Soomi
mi
Jang Hyun Seung as Hyunseung
seung
Other Cast :
Beast Member
T-ara Member
Genre: Romance
Length : chaptered
Disclaimer: isi dari FF ini adalah murni hasil karya Ratu Puteri selaku Author. TAKE OUT WITH FULL CREDIT. No Copy Paste and Don’t Be Silent Reader.
Summary: Ternyata dia punya masa lalu yang kelam. Apa yang harus aku lakukan? Aku bahkan tak bisa melindunginya. Apa aku bisa menghapus rasa takutnya?

[part V]

[Author POV]

Music City.

”Sunbae…”

”Soomi-ah, apa kabar kamu? Kamu makin cantik sekarang,” Gikwang membuka pembicaraan.

Dia tersenyum, tampak jelas diwajahnya kalau dia begitu senang bertemu dengan Soomi. Sementara Soomi sudah gemetaran tak karuan melihatnya. Lee Gikwang adalah sunbaenya Soomi waktu di SMP dulu. Masuk ke sekolahnya ditahun terakhir dan begitu menyukai Soomi dari sejak pertama bertemu. Selalu berusaha mengejar Soomi agar mau pacaran dengannya, tapi selalu ditolak.

”Kudengar kamu sekolah di Core Media Akademi ya? Ambil jurusan apa? Berarti kamu sekarang tinggal di asrama Core Media Akademi ya?” Gikwang terus bicara sambil terus memegang tangan Soomi.

”Tolong lepas tanganku, Sunbae,” suara Soomi terdengar lirih.

”Soomi kamu kenapa gemetaran seperti ini? Kamu sakit ya? Ayo kuantar ke klinik? Mukamu pucat sekali,” Gikwang seolah tidak mendengar permintaan Soomi.

”Tolong lepas tanganku, Sunbae,” kali ini Soomi berbicara dengan suara yang lebih kencang.

”Iya tapi kita ke klinik dulu ya. Mukamu itu udah kaya orang mau mati,” Gikwang masih tak melepas tangannya.

”Aku akan baik-baik saja kalau Sunbae mau melepaskan tanganku. Aku pasti baik-baik saja. Aku sudah baik-baik saja, jadi tolong lepas tanganku,” Soomi merasa badannya lemas sekali. Dan akhirnya dia kehilangan keseimbangannya. Gikwang segera menahan badan Soomi.

”Yah Soomi-ah. Sadarlah, kamu sudah tau sakit begini kenapa ada disini. Ayo kita ke klinik,” Gikwang lalu menggendong Soomi.

”Lepas. Jangan pegang aku, jangan sentuh aku. Kumohon lepaskan aku,” Soomi meronta dengan sisa-sisa tenaganya.

”Iya, tapi kita ke klinik dulu,” Gikwang masih berusah menggendong Soomi yang memberontak.

”YAH!!!!!” teriak Jiyeon sambil berlari ke arah Soomi.

Mereka, Hyomin dan Jiyeon langsung menarik Soomi dari pelukan Gikwang. Sementara Hyomin langsung membopong Soomi.

”Ji, apa yang kalian lakukan?” tanya Gikwang dengan wajah tanpa dosa.

”Sunbae sendiri apa yang sedang kau lakukan. Hidup Soomi sudah baik-baik saja ketika gak ketemu Sunbae. Sekarang sunbae mau bawa bencana lagi?!!” teriak Jiyeon membuat beberapa orang jadi memperhatikan mereka.

”Bencana apa? Aku mau bawa dia ke klinik. Apa kamu gak liat mukanya pucat begitu,”

”Dia begini karena bertemu Sunbae. Sadarlah Sunbae, berhentilah mengganggu Soomi,” Jiyeon lalu berpaling ke Hyomin, ”ayo Onnie, kita bawa Soomi pulang.”

”Hei, tunggu dulu. Aku belum selesai bicara dengannya.” Gikwang lalu menarik Soomi lagi.

Soomi yang sudah setengah sadar kembali histeris. Terus meronta berusaha melepaskan tangan Gikwang.”Gyaaaa… Lepas!! Tolong aku!! Lepasin aku!! Kyaaaa….!!”

Melihat soomi yang histeris Gikwang pun melepaskan tangannya. Gikwang bingung melihat reaksi Soomi barusan. Sementara Soomi berjalan oleng meninggalkan Gikwang, disusul dengan Jiyeon dan Hyomin dibelakangnya.

”Soomi-ah, gwenchana?” Hyomin berusaha membantu Soomi tapi tangannya langsung ditepis, begitu pula dengan Jiyeon. Jadi mereka berdua hanya bisa menjaga dibelakangnya agar jangan sampai Soomi terjatuh.

”Yah, bisa kalian jelaskan kenapa dia?”tanya Gikwang setelah menyusul Jiyeon.

”Tidak jelaskah sunbae. Kehadiranmu membuat Soomi jadi begini. Sunbae kumohon jauhi Soomi. Apa sunbae masih punya muka bertemu dengan Soomi setelah apa yang sunbae lakukan dulu padanya!” protes Jiyeon frustasi.

“Apa yang pernah kulakukan padanya?” tanya Gikwang bingung.

”Soomi!!!” teriak Hyomin. Ternyata Soomi sudah jatuh tak sadarkan diri.

====beedragon====

Klinik hari ini terasa begitu ramai, mungkin karena ada kerumunan anak muda di salah satu kamar pasien.
Jiyeon berdiri disebelah tempat tidur pasien, menatapi Soomi yang sedang terbaring disana. Di depannya ada Junhyung yang terus memegangi tangan Soomi berharap agar dia sadarkan diri. Sementara di dekat pintu masuk berdiri Hyomin, Hyunseung dan Gikwang, menunggu dengan ekspresi khawatir di wajah mereka.

Mereka bertemu di Music City ketika Gikwang menggendong Soomi yang sedang tak sadarkan diri. Begitu melihat keadaan Soomi, Junhyung langsung merebut Soomi dari Gikwang dan dengan panik berlari membawa Soomi ke klinik terdekat. Jadilah mereka sejak dari Music city sampai di klinik tidak ada yang bicara sepatah katapun.

”Sebaiknya kalian tunggu diluar saja. Berikan pasien ruang untuk beristirahat,” kata perawat.

”Dia kapan bangunnya suster?” tanya Junhyung.

”Sebentar lagi juga akan sadar. Jadi lebih baik kalian tunggu diluar. Nanti kalau pasien sudah sadar saya beritahu,”
Mereka pun akhirnya menurut dan menunggu di ruang tunggu. Ekspresi wajah mereka masih sama, khawatir dan bingung.

”Ada yang bisa jelaskan, ada apa dengan Soomi? Kenapa dia sampai seperti ini?” tanya Junhyung,”Jiyeon?”

Jiyeon terdiam. Matanya terus menatap Gikwang tajam. Begitu juga dengan Hyomin, terus melihat ke arah Gikwang. Menyadari kedua perempuan itu tidak ada yang menjawab pertanyaannya dan malah menatap Gikwang, Junhyung pun mengganti pertanyaannya,”Kamu sendiri, apa yang kamu lakukan disini, Gikwang?”

Gikwang hanya diam, tidak tahu harus menjawab apa. Karena dia sendiri tidak tahu mengapa Soomi bisa histeris begitu melihatnya.

”APA KALIAN GAK PUNYA MULUT!! AKU TANYA ADA APA DENGAN SOOMI?! APA KALIAN GAK BISA JAWAB!!” bentak Junhyung dan sukses membuat Jiyeon menangis.

”Sunbae mianhae. Ini salah aku. Harusnya aku bisa mencegah Soomi ketemu dengan Gikwang sunbae. Tapi gara-gara aku, Soomi jadi begini,” ucap Jiyeon terbata-bata.

”Kenapa kamu harus mencegah Soomi bertemu dengan Gikwang?” tanya Hyunseung,”Ada apa dengannya?”

”Karena….” Jiyeon melirik ke arah Gikwang. Dia tidak bisa meneruskan kata-katanya. Dia merasa tidak baik jika bilang ke Junhyung kalau Gikwang itu yang sudah membuat Soomi jadi trauma sama lelaki. Apalagi melihat Gikwang yang sepertinya tidak tahu-menahu soal kondisi Soomi. Jiyeon teringat permintaan Soomi, agar jangan sampai Junhyung tahu kalu dia pernah mengalami trauma seperti itu.

”KYAAA!!!!” terdengar teriakan dari dalam kamar Soomi.

Semuanya langsung menerobos masuk untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata Soomi sudah sadar. Dia sekarang meringkuk di pojok ruangan. Sementara Dokter sedang membujuknya untuk kembali ke tempat tidur.

”Jangan mendekat!! Kumohon jangan mendekat!!” teriak Soomi.

Tapi dokter dan suster terus mendekatinya dan berusaha untuk menarik Soomi kembali ke tempat tidur. Sementara Junhyung dan Hyunseung ikut mendekat ke Soomi berusaha membujuknya.

”Kyaaaaa!! Lepasin tanganku!! Kumohon lepasin aku!! Tolong!! Jangan dekati aku!!” teriak Soomi ketika tangannya dipegang oleh Junhyung dan Hyunseung. Akhirnya Jiyeon mendekat, melepaskan tangan Junhyung dan Hyunseung dari Soomi. Lalu memeluk Soomi, berusaha menenangkannya.

”Soomi-ah, gwenchana. Mereka gak akan menyakitimu. Mereka orang baik. Kamu jangan mempersulit dokter yang mau ngobatin kamu,” ucap Jiyeon sambil menangis.

”Dia pegang-pegang aku, Ji. Tolong aku, mereka pegang-pegang aku,” ucap Soomi disela-sela tangisannnya.

Sementara Jiyeon mengalihkan pandangan Soomi, Dokter langsung menyuntikkan obat penenang untuk Soomi. Seketika Soomi langsung tenang dan tertidur.

”Dokter, sebenarnya dia kenapa?” Junhyung terdengar putus asa. Bagaimana tidak, perempuan yang dicintainya tiba-tiba histeris seperti itu setelah melihat dia.

” Dia mengalami shock yang cukup berat. Untuk lebih jelasnya nanti akan saya bicarakan dengan walinya. Sekarang siapa diantara kalian yang punya nomer telepon walinya?”

”Telepon ke asrama aja dok. Biar asrama yang hubungi orang tuanya,” jawab Hyomin. Lalu Hyomin keluar mengikuti Dokter.

“Sekarang bisa kamu cerita, Jiyeon? Apa yang aku gak tahu?” tuntut Junhyung.

====beedragon====

Jiyeon masih merasa enggan berbicara. Tapi melihat Junhyung begitu sedih karena keadaan Soomi akhirnya Jiyeon memberanikan diri berbicara. ”Soomi… Sebenarnya Soomi phobia. Dia takut sama laki-laki. Soomi trauma sama laki-laki.”

”Hah?!” ketiga laki-laki itu kaget.

”Kamu yang bener aja Ji. Soomi baik-baik aja sama aku. Dia kan sering main ke asramaku. Gimana bisa dia takut laki-laki kalau dia berani main ke asrama yang isinya laki-laki semua?” tanya Junhyung.

”Harusnya dia udah sembuh. Bahkan sebelum kita masuk ke Core dia udah baik-baik aja. Dia bisa main ke asrama Sunbae juga karena dia ingin melawan rasa takutnya itu. Dia berusaha untuk sembuh agar bisa bersama Junhyung Sunbae,” kata Jiyeon.

”Dulu dia gak begitu. Kamu tahu kan, Ji. Betapa dekatnya aku sama dia. Dia baik-baik aja. Kenapa sekarang…?”

”Sejak Sunbae lulus, Soomi merasa sangat kehilangan. Soomi jadi sering sakit. Pernah akhirnya dia pingsan waktu pelajaran olahraga. Sejak saat itu, Soomi jadi histeris kalau lihat laki-laki,” Jiyeon kembali menjelaskan.

”Begitukah? Apa dia begitu menderita karena gak ada aku? Aku bahkan gak tahu hal itu. Aku bahkan gak bisa menjaganya. Sekarang dia jadi seperti ini,” Junhyung menyesali dirinya.

”Hyung, sabarlah. Bukan salahmu juga,” Hyunseung berusaha menenangkan Junhyung.

”Iya, Sunbae. Ini bukan salahmu. Tapi gara-gara Gikwang Sunbae, Soomi jadi begini,” kata Jiyeon menyalahkan Gikwang.

”Mwo?! Naega?! Jiyeon-ah, kamu jangan main tuduh aja. Jangan karena dia ketemu aku terus sakit begini jadi kamu mau nyalahin aku,” Gikwang membela diri.

”Sunbae gak ingat sama kejadian diruang kesehatan waktu Soomi pingsan. Aku juga bertanya-tanya apa Sunbae lakukan disana waktu itu. Karena sejak saat itu Soomi jadi selalu ketakutan kalau lihat laki-laki. Bahkan dia takut sama ayahnya sendiri,” tuding Jiyeon.

Kata-kata Jiyeon membuat ketiga lelaki itu bingung. Gikwang sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud Jiyeon. ”Memangnya apa yang kulakukan?”

”Waktu Soomi pingsan, dalam keadaan setengah sadar dia merasa ada orang yang pegang-pegang dia. Aku gak tahu bahasa baiknya apa, grepe-grepe? Meraba-raba? Gerayangin? Semacam itulah. Dan ketika dia sadar dia melihat Gikwang Sunbae disana. Jadi dia berpikir kalau kamu udah berlaku tidak senonoh padanya. Soomi sendiri yang bilang begitu ke aku,” Jiyeon berpaling ke Gikwang. ”Karenanya dia takut melihatmu.”

”MWO?!!” Junhyung terlihat sangat marah. Dia langsung beranjak dari bangkunya dan langsung menarik kerah baju Gikwang. ”Apa yang kamu lakukan, hah?! Dia selalu menganggap dunia ini baik-baik padanya. Teganya kamu melakukan itu. Apa salah dia padamu, HAH?!!”

Hyunseung langsung menahan Junhyung yang sudah akan meninju Gikwang, begitu juga dengan Jiyeon.
”Hyung, tenanglah. Kita gak mau dia bangun dan histeris lagi kan. Jadi tenanglah, Hyung,” Hyunseung berusaha menenangkan Junhyung dan akhirnya dia melepaskan Gikwang.

”Hyung, aku dulu memang pernah suka sama Soomi. Tapi aku gak mungkin melakukan hal seperti itu padanya. Hyung, kumohon dengar dulu penjelasanku,” Gikwang berusaha membela diri lalu berpaling ke Jiyeon. ”Jiyeon-ah, kenapa kamu bisa bilang begitu. Aku ada disana karena kudengar Soomi pingsan. Dan aku ke ruang kesehatan untuk menjenguknya, bukan seperti yang kamu bilang tadi. Aku gak mungkin melakukan hal itu padanya.”

”Aku gak mungkin bilang begini kalau bukan Soomi yang cerita sendiri. Lagipula aku juga lihat kok. Pas aku datang ke ruang kesehatan, Soomi udah histeris melihatmu. Tadinya kupikir kau orang baik, tapi kenapa kau sampai tega seperti itu?” Jiyeon sudah berlinang airmata.

”Yah, Jiyeon-ah. Ketika aku datang itu dia sudah bangun. Ada saksinya kok. Kamu tahu kan penjaga sekolah kita. Dia ada disana waktu aku datang. Dan aku gak melakukan apa-ap….” Gikwang berhenti bicara. Dia teringat sesuatu.

”Aku akan buktikan kalau aku gak salah. Mungkin dengan begini Soomi tidak akan takut lagi kalau melihatku. Kalian tunggu aja,” Gikwang lalu pergi meninggalkan mereka.

====beedragon====

[Hyunseung POV]

”Hyung, jalannya pelan sedikit,” aku berusaha mengejar Junhyung Hyung.
Kita sedang menuju asrama si mata sedih, karena tadi pagi ketika datang ke klinik ternyata mata sedih sudah dibawa pulang. Hyung terlihat lelah sekali. Kemarin malam dia bahkan tidak tidur. Sekalinya tidur dia mengigau manggil-manggil nama si mata sedih. Hyung, aku sedih melihatmu seperti ini. Mata sedih yang sakit tapi kamu yang menderita. Beri aku sedikit penderitaanmu, agar sedikit berkurang kesedihanmu, hyung.

Kita tiba di Asrama Core Media. Tapi hyung tidak langsung masuk, dia malah berdiri di depan gerbangnya dan menunggu.
“Hyung, jangan bilang kalau kau menunggu sampai ada orang yang keluar,” tanyaku.

Tapi Junhyung tidak menjawab. Dia hanya berdiri menatap gedung asrama ini. Akhirnya ku keluarkan handphoneku. Kebetulan kemarin temannya si mata sedih yang bernama Hyomin itu minta nomer handphone-ku. Katanya sih untuk tahu perkembangan Junhyung hyung, tapi kenapa minta nomerku bukannya nomer Junhyung. Perempuan yang aneh.

”Yoboseyo. Hyomin?” tanyaku setelah telepon tersambung.
”Ahh, hyunseung-ssi. Ada apa menelponku?”
”Tadi kami habis dari klinik, tapi dia gak ada. Katanya udah dibawa pulang. Apa dia ada didalam? Bisa kita jenguk? Hyung ingin lihat dia.”
“Tunggu sebentar. Biar aku turun, gak enak bicara lewat telepon.”
Dan Hyomin memutuskan pembicaraan. Tak lama dia muncul dari pintu masuk bersama Jiyeon. Anak ini bodoh apa gak ngerti sih? Yang ingin Hyung lihat itu si mata sedih bukan Jiyeon.

”Sunbae,” tegur Jiyeon.

”Jiyeon-ah. Soomi baik-baik aja kah? Tadi kita ke klinik tapi ternyata dia udah dibawa pulang. Dia ada di dalam?” hyung terdengar begitu khawatir.

”Soomi semalam dijemput sama orangtuanya. Dibawa pulang ke rumahnya,” jawab Jiyeon murung.

“Ohh, dia udah dibawa pulang ya. Baguslah. Sekarang dia udah bersama orangtuanya. Aku bisa tenang sekarang. Gomawo Jiyeon-ah,” Hyung lalu pergi meninggalkan kita bertiga.

“Gotjimal, walaupun kamu bilang begitu, aku tahu kalau kamu pasti sedih,” kata Jiyeon.

“Ya, dia pikir kita gak tahu. Padahal semua jelas terlihat di mukanya,” jawabku, “yasudah yah, annyeong.”
Aku beranjak pergi menyusul hyung yang sudah jauh. Tapi perempuan yang namanya Hyomin menahanku. “Apa lagi?”

“Aku cuma mau bilang sesuatu sama kamu. Ini penting,” katanya.

“Soomi udah dibawa pulang sama orang tuanya. Dan tadi aku lihat kalau nama Soomi udah dicoret dari kamar kita. Itu artinya Soomi udah gak lagi tinggal di asrama iini. Aku belum tahu pasti, tapi tadi Jiyeon bilang Soomi gak masuk sekolah. Kayanya besar kemungkinan kalau dia keluar dari akademi ini,” Hyomin menjelaskan panjang lebar.

“Trus apa hubungannya sama aku?” tanyaku.

“Aku cuma mau bilang ke kamu aja. Kenapa? Gak boleh? Aku gak enak kalau mau ngomong langsung ke Junhyung Oppa tadi. Keliatannya dia terpukul sekali,”

“Yah, mudah-mudahan saja ini hanya berlangsung sebentar saja. kasihan aku melihatnya.”

====beedragon====

[TBC]

Advertisements
FF / Oppa Babo / G / Chap5

3 thoughts on “FF / Oppa Babo / G / Chap5

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s