FF / Oppa Babo / G / Chap3


Title: Oppa Babo
Author: Ratu Puteri aka BeeDragon
Rating / Pairing: G / STRAIGHT
Main Casts:
Yong Jun Hyung as Junhyung
yong
Lee Soo Mi as Soomi
mi
Jang Hyun Seung as Hyunseung
seung
Other Cast :
Beast Member
T-ara Member
Genre: Romance
Length : chaptered
Disclaimer: isi dari FF ini adalah murni hasil karya Ratu Puteri selaku Author. TAKE OUT WITH FULL CREDIT. No Copy Paste and Don’t Be Silent Reader.
Summary: Apa yang aku lakukan sekarang? kenapa aku malah mengatakan hal itu. Apa ini bisa membuatnya sadar akan perasaannya? Walaupun berat hati akan kulakukan, demi dirimu yang terlihat menyedihkan ini.

[part III]

[Hyunseung POV]

Seharusnya aku memang tidak ikut Doojoon Hyung dan Yoseob kesini. Buang-buang waktu saja. Lebih baik aku pulang dan latihan. Daripada melihat Junhyung hyung dan si mata sedih berdua-duaan.

”OPPA!!!!” kudengar ada teriakan di depan sana. Aku tak asing dengan suaranya. Jadi kuhampiri rombongan laki-laki yang ada didepanku.

Ternyata bocah mata sedih itu. Sedang apa dia disini? Kenapa malah bersama anak-anak ini? Mana Junhyung hyung? Kulihat dia seperti berusaha melepaskan diri dari anak-anak itu. Sepertinya ada yang tidak beres.

”Jebal. Lepas tangan aku. Aku sudah minta maaf tadi. Tolong,” bocah itu mulai berlinang air mata. Tidak tega juga aku melihatnya. Jadi kutahan lengan lelaki yang memegangi tangan si mata sedih. Lelaki itu menatapku. Tampaknya dia kaget karena dia langsung melepaskan tangan si mata sedih.

”Su.. Su.. Sunbae….??”

“Apa yang kalian lakukan disini? Mengganggunya?” tanyaku sambil menunjuk ke arah si mata sedih. Melihatnya yang gemetaran hebat aku jadi tidak tega. Jadi kurangkul pundaknya berusaha menenangkan dia.

“Oppa?” dia menatapku. Matanya memancarkan ketakutan yang amat sangat. Apa yang dilakukan mereka sampai dia gemetaran seperti ini?

“Ja.. jadi ini pacar Sunbae. Maaf sunbae kami tidak tahu. Tadi kami cuma mau…”

“Aku tak ingat punya adik kelas seperti kalian. Kalau kalian sedikit membuka mata, kalian pasti tahu ini siapa,” potongku.

”Ma.. ma.. maaf sunbae,”

”Kuberitahu ya. Ini bukan pacarku. Tapi pacarnya Junhyung Hyung. Kalian mau ku adukan padanya atas apa yang kalian perbuat pada pacarnya?” aku menakuti mereka.

”Pacar Junhyung Sunbae? MAAFKAN KAMI NOONIM, Kami tidak tahu. Mohon maafkan kami. Maafkan kami Sunbae. Tolong jangan adukan kami ke Junhyung Sunbae. Terimakasih,” mereka membungkukkan badan mereka begitu dalam. Lalu berlari ketakutan meninggalkan kami.

”Yah, gwenchana?” tegurku.

Mata sedih masih gemetaran. Matanya benar-benar terlihat shock. Kenapa dia terlihat begitu ketakutan. Padahal mereka tidak melakukan apa-apa. Dia terus menatap tangannya yang gemetar.

”Cuci tangan,” katanya tiba-tiba.

”Mwo?”

”Aku harus cuci tangan. Aku harus cuci tangan. Aku harus cuci tangan,” lalu dia pergi.
Kuikuti dia sampai didepan keran umum. Dia mulai mencuci tangannya. Mengosok-gosok lengannya sampai merah. Kenapa dia ini? Kupegang tangannya berusaha menghentikan.

”Iiiiiiihhhhh, jangan pegang!” dia berteriak seolah jijik sekali.

”Yah. Kalau kau terus menggosok tanganmu seperti ini nanti tanganmu bisa lecet.”
Dia kembali melihatku. Matanya sudah tidak terlihat ketakutan lagi. Dan sekarang dia tersenyum,”Hyunseung Oppa. Apa yang kau lakukan disini?”

WHAT?! Sekarang dia tersenyum dan bertanya apa yang aku lakukan disini? Apa dia lupa ingatan atau apa? Baru sedetik yang lalu dia berteriak seolah jijik sekali sekarang sudah senyam-senyum seperti ini. Anak yang aneh.

”Yah, kau ini menderita semacam lost memori atau apa?” tanyaku.

Mata sedih menyudahi aktivitas cuci tangannya. ”Hmm, gak kok. Cuma sedikit phobia ajah.”

”Phobia? Terus apa yang kau lakukan sama pria-pria tadi? Junhyung hyung mana? Bukannya kau pergi sama dia?”

”Ahhh!! Junhyung oppa pasti sedang khawatir sekarang. Aduh aku harus balik lagi ke tempat tadi. Tapi ini dimana? Aduh, gimana aku bisa ke tempat Junhyung Oppa.” anak itu tidak menjawab pertanyaanku dan malah panik sendirian seperti ini.

”Oppa gimana ini? Kita harus balik ke tempat tadi. Oh iya handphone! Aduh handphone ku mana? Oppa handphone ku hilang! Huwaaaaa… Gimana dong?” lagi-lagi dia panik sendirian.

Kukeluarkan handphone ku dan langsung menelpon Junhyung hyung.

”Oh, Hyung. Ada dimana?”
”Hyunseung, maaf aku sibuk. Soomi hilang, aku lagi nyari dia sekarang.”
”Yang kamu cari ada disini sama aku.”
”Kok bisa?! Kamu dimana? Ketemu dia dimana? Dia gak kenapa-kenapa kan?”
Hyung ini, yang dia tanya langsung tentang si mata sedih. ”Tadi ketemu dia lagi diganggu segerombolan orang. Bukannya lari, dia malah diam ajah. Untung aku liat dia, kalo nggak…”
”MWO!!! Cepat bilang dimana kamu sekarang, Hyunseung!!”
Junhyung hyung langsung menutup teleponnya begitu aku beritahu posisiku.

”Oppa, kenapa kamu bilang ke Junhyung Oppa seperti itu. Dia pasti khawatir sekarang. Kan kasihan Junhyung Oppa,” protes mata sedih.

”Kalau kamu merasa kasihan padanya, bisa kamu mejauhinya? Karena kamu itu cuma penghalang jalannya. Semua tingkahmu hanya membut dia susah. Tak sadarkah kamu?” ucapku.

Mendengar ucapanku si mata sedih hanya terdiam. Apa aku terlalu ’to the point’ ya? Sekarang dia benar-benar terlihat sedih.

“Begitukah?” tanya si mata sedih. “Junhyung Oppa juga berpikir begitu?”

“Tentu saja. Jadi berhentilah menganggunya.”

“Benar begitu?”dia sekarang benar-benar terlihat sedih. “Padahal aku gak bisa kalau bukan dia.”

Aku bingung mendengar kata-katanya. “Kenapa harus dia?”

“Disaat aku sudah tak percaya lagi pada sebuah kesetiaan, Oppa datang menawarkan kepercayaan. Oppa membuat ku percaya kalau aku juga bisa bahagia. Junhyung Oppa itu penting buat aku. Karena dia membuatku melawan rasa takutku, karenanya aku bahkan melawan seluruh dunia agar bisa selalu bersama dia. Hyunseung Oppa, kau tak tahu apa saja yang sudah aku alami. Kalau aku menyerah sekarang, maka seumur hidup aku akan akan berada dalam penyesalan.”

“Kau…..” aku tak mampu berkata-kata mendengar ucapannya. Ternyata perasaannya begitu dalam pada Hyung.

”Soomi-ah,” teriak Junhyung dari kejauhan.

Begitu sampai Junhyung Hyung langsung memeluk Soomi. ”Kupikir kau menghilang kemana. Darimana saja kamu? Kamu membuatku khawatir tahu.”
”Kamu gak apa-apa kan? Tadi kata Hyunseung kamu diganggu orang?” tanya Junhyung Hyung begitu melepas pelukannya.

”Aku gak kenapa-napa kok. Hyunseung Oppa berlebihan, orang aku lagi nanya jalan, eh dia pikir aku lagi diganggu orang. Aku tadi nyasar, untung ketemu Hyunseung Oppa,” ucap mata sedih sambil tersenyum.

Jelas-jelas dia tadi habis diganggu orang, terus sekarang dia malah bilang seperti itu. Yah, aku malah menyaksikan hal seperti ini. Suasana ini benar-benar memuakkan.

”Ya sudah kita pulang ya. Cukup main-mainnya. Nanti kamu hilang lagi,” bujuk Junhyung.

“Ahh, aku masih mau main. Katanya kita mau ke game booth. Kita main game dulu baru pulang. Ya ya ya,” sekarang gantian si mata sedih merayu hyung.

Tampaknya hyung menyerah, karena dengan muka terpaksa dia bilang ya. Lagi-lagi hyung kalah oleh anak ini.

”Hyunseung oppa, ayo ikut,” ajak si mata sedih.

”Mwo?! Gak ah. Aku mau pulang. Lagian tadi juga niatnya aku mau pulang sebelum ketemu kamu. Udah yaa. Bye,” aku langsung berbalik arah. Yah buat apa aku ikut mereka.

”Ikut aja oppa. Kan udah disini, kalo ga main percuma. Ayo ikut aja. Lagian kalau rame-rame kan pasti seru, ayolah,” bujuknya dengan mata yang berbinar-binar.

”Aku kesini bukan buat main, aku mau pulang aja,”

”Ikut sajalah Hyunseung. Kalau bukan buat main kenapa kamu ada disini. Sudah ikut kita aja,”sekarang Junhyung hyung yang membujukku.

”Aku juga bertanya kenapa aku ada disini,”

”Ihh, Oppa aneh deh. Orang kalau kesini tuh tujuannya cuma satu yaitu main. Udah ikut kita ajah. Ayo kita ke game booth!!” seru si mata sedih sambil menarik lenganku.

====beedragon====

Kami tiba di game booth. Ternyata tempat game ini satu gedung dengan arena ice skating. Si mata sedih begitu melihat ice skating langsung bersemangat ingin main ice skating. Dan akhirnya kami memutuskan untuk bermain ice skating (atas paksaannya).

”Boleh aku tahu apa yang istimewa dari anak itu?” tanyaku saat kami sedang memakai sepatu skate.

”Siapa? Soomi? Kamu masih belum hapal juga namanya?”

”Iya dia. Apa yang istimewa dari dia sampai hyung seperti ini,”

”Seperti apa?” Hyung balik bertanya.

”Ya, selalu menurut apa kata dia, mengalah padanya, dan hal-hal lain semacam itu. Bisa hyung beritahu aku apa alasannya?”

”Tidak ada alasan khusus. Karena dia teman…”

“Jangan bilang karena dia temanmu, Hyung,” potongku. sudah bosan aku mendengar alasan itu. “Hyung itu bukanlah orang yang mau mengalah. Kamu itu begitu keras dan galak tapi kenapa tiap ada bocah itu hyung jadi lembek begini. Pasti ada alasan khusus kan?”

“Tapi memang benar itu aja alasannya. Aku ini memang bukan orang yang mudah bersosialisasi. Kau tahu itu. Dia memang benar teman pertamaku. Dia yang bahkan sudah disakiti oleh orang yang dianggap teman tapi masih bisa tersenyum. Melihatnya akui ingin jadi temannya yang bisa membuat dia tersenyum tanpa harus menyakitinya. Itu saja.” jawab Junhyung setelah berpikir cukup lama.

”Hanya itu saja? Dia tidak ada kelebihan apapun tapi hyung begitu ingin menjaganya. Ada satu jawaban yang lebih baik daripada itu hyung. Bahkan seorang Yoseob pun bisa menjawab lebih baik darimu hyung.”

Baiklah hyung. Karena kau tak cukup cepat tanggap maka akan kubantu, agar aku juga sedikit merasa tenang. “Baiklah hyung, karena dia itu HANYA temanmu. Aku mau bilang sesuatu tentang dia. Tapi jangan kaget.”

”Apa?”

”Ada temanku yang suka sama temanmu itu. Begitu suka padanya, tapi tak berani mengutarakan perasaannya. Jadi aku ingin ijin dulu sama Hyung untuk…” aku merasa ragu untuk mengatakannya, ”mengenalkan dia pada temanmu. aku mau menjodohkan dia sama temanmu.”

”Dijodohin sama Soomi? Siapa? Siapa temanmu itu? Anak mana? Apa orang yang kukenal?” Hyung terdengar panik.

”Dia anak yang baik. Cuma agak lamban, makanya sampai sekarang dia gak bisa mendapatkan orang yang dia suka. Kamu kenal kok sama dia. Satu asrama sama kita.”

” Satu asrama? Siapa? Doojoon hyung? Yoseobbie? Gikwang? Siapa?” sekarang hyung benar-benar panik.
Melihat reaksinya ini rasanya aku ingin tertawa. Sudah jelas terpampang diwajahnya tapi dia masih gak bisa melihat hatinya. Walau dalam hati aku merasa sedih melihatnya, tapi mau gimana lagi. Dia lebih memilih si mata sedih. Hatinya hanya ada untuk si mata sedih.

”Bukan mereka. Kamu lebih mengenal dia lebih dari siapapun, hyung. Kalau sudah seperti ini apa yang akan kau lakukan hyung?”

Sadarlah Hyung. Aku hanya membantumu sampai disini. Aku merelakanmu karena aku memang tidak akan menang melawan si mata sedih untuk mendapatkan hatimu. Jadi memang lebih baik aku berhenti melawannya dan memberikanmu padanya. Kalau kau masih juga tak tergerak hatinya, maka aku akan benar-benar menyerah.

Aku menunggu jawabannya. ”Bagaimana hyung? Jika kau membiarkan sebuah hati digantung untuk waktu yang lama bisa-bisa dia pergi atau malah mengeras dan membusuk. Jadi apa yang akan kau lakukan? Beritahu aku kalau kau sudah dapat jawabannya,” aku beranjak dari bangku, ”aku turun duluan ya.”

“Yah Hyunseung. jangan bilang kalau kau….”

====beedragon====

[Junhyung POV]

Aku berpaling melihat Soomi. Dia masih sibuk mengikat tali sepatunya. Kuperhatikan dia, ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku selalu ingin melihatnya. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku ingin selalu didekatnya. Ketika pertama bertemu pun itu bukanlah saat yang istimewa. Dia sedang menangis dan aku menghiburnya padahal aku tidak tahu siapa dia. Tidak ada yang istimewa dari peristiwa itu. Sejak itu aku jadi selalu ingin tahu tentang dia.

Apa ini yang dimaksud dengan perasaan ingin memiliki? Aku gak bisa melihat Soomi dekat dengan pria lain, dan sekarang Hyunseung bilang kalau dia mau menjodohkan Soomi sama temannya. Aku gak akan rela. Ahh, kenapa aku egois begini. Bukan, ini bukan egois. Tapi aku cuma gak yakin kalau ada orang lain yang bisa menjaga dia seperti aku.

Kuhampiri Soomi lalu berlutut dihadapannya untuk mengikat tali sepatunya.

”Aku dari tadi berusaha mengikatnya, tapi terus longgar. Hahaha, mungkin karena aku ini memang gak punya tenaga.” ucapnya.

Apa harus kukatakan sekarang. Tapi kira-kira apa jawabannya? Apakah dia akan menerimaku? Atau malah merasa sedih karena keinginanku ini. Apa yang harus aku lakukan?

”Tidak bisa Soomi,” ucapku sambil menatap matanya. ”Kita tak bisa berteman lagi. Karena aku tidak punya perasaan seperti itu lagi.”

”Mwo?! Apa maksudnya??” suaranya terdengar bergetar, aku yakin dia pasti shock sekarang.

”Iya. Aku tidak bisa melanjutkan pertemanan ini. Karena aku tidak bisa menganggapmu sebagai teman. Karena ini sama saja dengan mengkhianatimu, Soomi,” aku berputar dalam kata-kata. Mencari apa yang harus aku katakan selanjutnya. Dia menatapku tak percaya. Aku harus segera memberikan penjelasan yang baik padanya. Tapi bagaimana caranya, aku tidak punya pengalaman sedikitpun tentang hal seperti ini.

”Apa yang Oppa maksud? Oppa tidak ingin berteman denganku lagi. Aku salah apa? Maafkan aku kalau aku selalu membuatmu repot dan selalu membuatmu susah. Kumohon jangan seperti ini. Aku…..” Soomi berbicara dengan airmata yang menggenangi matanya.

”Aku tidak ingin melihatmu dekat dengan pria lain, apalagi sampai pacaran dengan pria lain, karena aku ingin memilikimu. Karena hanya dengan memilikimu maka aku bisa sepenuhnya menjagamu dan terus bersamamu. Tidak sebagai teman, melainkan seperti seorang lelaki terhadap perempuan.”

Sepertinya Soomi bingung dengan kata-kataku. Bagaimana lagi aku harus menjelaskannya. Apa aku harus kalau aku menyukainya, begitu? Sama sekali bukan tipeku untuk berbicara seperti itu.

“Berjanjilah padaku kau tidak akan menerima tawaran pria yang mau mengajakmu kencan. Aku gak akan rela melihatmu dengan pria lain. Karena aku ingin menjadikanmu wanitaku, apa seperti itu boleh?” tanyaku.

Selesai. Sudah kukatakan semuanya. dengan begini Hyunseung akan menyerah untuk mengenalkan temannya itu pada Soomi. Jantungku berdebar tak karuan. Tanpa kusadari wajahnya sudah begitu dekat dengan wajahku. Tak tahan rasanya, aku jadi ingin menciumnya sekarang. Mungkin tak perlu menunggu jawabannya, mungkin aku hanya perlu langsung menciumnya saja. Pikir apa aku ini?

”HYUNG!!!!!” teriakan Hyunseung membuat kami berdua terlonjak kaget.
”Apa yang kau lakukan?! Aku menunggu kalian. Kalau kalian memang hanya ingin berduaan saja harusnya tak usah ajak-ajak aku segala!”

Soomi langsung beranjak dari bangku dan meninggalkanku yang masih menunggu jawabannya.

”Mianhae oppa. Tali sepatunya susah diikat. Ayo kita main.” Soomi hampir saja terjatuh ketika dia buru-buru menghampiri Hyunseung.

Anak ini, dia bahkan belum menjawab pertanyaanku. Apakah ini artinya dia menolakku?

====beedragon====

[Soomi POV]

”MWO???” teriak Jiyeon, Hyomin onnie dan Eunjung onnie, teman-teman sekamarku. Mereka semua mengeluarkan reaksi yang sama ketika aku selesai bercerita tentang kejadian di taman ria hari ini.

”Junhyung Oppa bilang begitu??!” seru Jiyeon.

”Ingin memilikimu?” sahut Hyomin Onnie.

”Aiissh, cowok itu. Apa dia gak punya kata-kata yang lebih baik, memilikimu hah? Itu udah ketinggalan jaman,” kata Eunjung onnie sinis.

”Onnie!!” protes Jiyeon dan Hyomin.

”Onnie, kamu gak kenal Junhyung Oppa. Aku udah kenal dia dari jaman masih di SMP dulu. Jadi aku tau Junhyung oppa tuh seperti apa. Dia bisa mengucapkan hal-hal seperti itu aja udah ajaib, Onnie,” kata Jiyeon.

”Iya onnie. Junhyung oppa bukan orang yang bisa mengutarakan isi hatinya seperti tadi. Aku aja cukup kaget pas dia bilang kalau dia ingin menjadikanku wanitanya. Aku terharu mendengarnya kata-katanya.” ucapku.

”Iya iya maaf kalau onnie-mu ini sedikit kejam kata-katanya. Terus kamu jawab apa? Kamu terima kan ajakan dia?” tanya Eunjung Onnie.

”Pastilah onnie. Soomi pasti langsung bilang ’ne oppa, aku mau jadi milikmu’, kyaaaa,” Hyomin Onnie mulai heboh sendiri.

”Aku belum bilang apa-apa, habisnya belum sempat aku jawab tiba-tiba Hyunseung Oppa datang. Jadi sampai pulang tadi aku belum bilang apa-apa padanya.”

”MWO???” teriak mereka bersamaan lagi.

”Soomi-ah, bagaimana bisa kamu belum menjawab pertanyaannya?” seru Hyomin onnie.

”Soomi-ah, padahal itu kesempatan kamu buat bilang perasaan kamu. Kenapa malah gak langsung aja sih kamu jawab,” kata Jiyeon.

”Soomi-ah, kamu bikin aku frustasi. Sudah cukup kita aja yang frustasi mikirin kamu tapi jangan sampai cowok itu berpikiran sama. Entah apa yang diharapkan dari makhluk lambat seperti kamu,” lagi-lagi Eunjung Onnie menyindirku.

”Tapi Soomi-ah. Tadi kamu bilang kalau dia hampir menciummu kan? Trus ada kelanjutannya kah? Kamu pasti langsung cium dia kan. Kyaaaa” sela hyomin.

Aku hanya menggelengkan kepala. Tadi kalau aku tidak salah sepertinya memang Oppa mau menciumku. Tapi tidak jadi karena interupsi Hyunseung oppa. Lalu setelah kejadian itu Junhyung oppa seperti menjaga jarak dariku. Dia membiarkanku main skate dengan Hyunseung oppa sementara dia duduk di kafetaria. Apa dia marah padaku? Bahkan ketika pulang pun dia tidak banyak berbicara.

”Soomi-ah. Kok bengong?” Jiyeon membuyarkan lamunanku. ”tapi Soomi, kamu gak takut kan waktu dia mau menciummu?”

”Ah iya. Jangan-jangan kamu teriak-teriak ketakutan. Eh tapi kamu udah sembuh kan? Udah gak takut laki-laki lagi kan? Buktinya kamu bisa pegangan tangan sama dia,” sela Hyomin Onnie.

“Dia itu udah tiap weekend main di asrama laki-laki. Kalau dia masih trauma itu kebangetan. Udah bisa pegang-pegangan terus peluk-pelukan berarti dia udah sembuh total,” kata Eunjung Onnie.

”Aku udah gak takut dengan laki-laki yang ku kenal. Sekedar pegang tangan aku masih bisa tahan, tapi kalau sampai cium aku gak tahu ya. Mungkin aku bisa pingsan. Kemarin aja waktu Doojoon Oppa tiba-tiba peluk aku rasanya seperti mau pingsan.”

”Wah kalau seperti ini sihh kamu masih jauh dari sukses,” ujar Hyomin Onnie.

“Tapi aku udah sembuh Onnie. Main ke asrama Oppa tiap weekend itu juga jadi terapi aku biar aku gak histeris. Lagian kan aku ingin selalu didekat Junhyung Oppa, jadi aku harus sembuh dari phobia ini,” aku membela diri.

“Kamu bener baik-baik aja kan Soomi?” tanya Jiyeon. “Aku tahu kamu udah sembuh, tapi apa gak sebaiknya Junhyung Sunbae tahu soal phobia kamu? Cuma biar dia tahu aja, dengan begitu kamu gak usah main ke asramanya lagi.”

“Kamu tenang aja, Ji. Aku baik-baik aja. Jadi jangan cerita-cerita soal trauma aku. Aku gak mau dia khawatir. Aku udah terlalu sering bikin dia khawatir. Makanya aku bingung harus bilang apa padanya nanti soal perasaanku.”

”Aigoo. Jeongmal taptaphae. Sebagai sunbaemu aku kasi saran ya. Besok langsung kamu temui Oppa kesayanganmu itu. Dan bilang kalau kamu juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Membuat pria menunggu terlalu lama itu tidak baik. Nanti dia bisa lepas dari kamu. Itu adalah hal pertama yang bisa kamu lakukan. Untuk selanjutnya dipikir nanti aja, sekarang kita semua tidur,” kata Eunjung onnie.

“Nee.. Annyeongi jumuseyo, onnie,” sahut kami bertiga.

====beedragon====

[TBC]

Advertisements
FF / Oppa Babo / G / Chap3

6 thoughts on “FF / Oppa Babo / G / Chap3

    1. hahahaha… gapapa dear…
      ini ff aku jaman jebot lagian.. jaman alay2nya baru bisa bikin ff,, dan aku malas edit ulang,n biar tau betapa anehnya tulisanku jaman dulu

  1. eunhae says:

    sumpah! gregetan banget. ihhhh sumpah ya… jadi emosi sendiri nih saya.. huh heungseung tuh suka sama junghyung kah? dia gay? kok kayaknha gitu banget… hoho

    1. Apink itu, girlband baru keluaran Cube ent. satu manajemen sama Beast, 4minute, Gna. membernya 7orang gitu.. *mian gak tau mau bales dimana, disini aja ya ^^*
      makasih loh udah ngikutin ff-ku

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s