FF / Oppa Babo / G / Chap2


Title: Oppa Babo
Author: Ratu Puteri aka BeeDragon
Rating / Pairing: G / STRAIGHT
Main Casts:
Yong Jun Hyung as Junhyung
yong
Lee Soo Mi as Soomi
mi
Jang Hyun Seung as Hyunseung
seung
Other Cast :
Beast Member
T-ara Member
Genre: Romance
Length : chaptered
Disclaimer: isi dari FF ini adalah murni hasil karya Ratu Puteri selaku Author. TAKE OUT WITH FULL CREDIT. No Copy Paste and Don’t Be Silent Reader.
Summary: Egoiskah aku? Karena aku begitu menginginkannya. tapi aku tak mau dia tahu akan perasaan ini. aku takut dia akan meninggalkanku kalau dia tahu akan isi hati ini.

[part II]

[author POV]

“Oi Junhyung, kau masih berhutang jawaban sama aku,” Doojoon menahan Junhyung.

“Jawaban apa Hyung?”

“Kenapa Soomi bilang seperti itu. Kencan istimewa denganmu besok itu apa maksudnya?” tampaknya Doojoon tidak puas kalau belum dijelaskan secara detail.

“Hyung, aku kan sudah bilang. Aku pernah janji dengannya untuk jalan ke taman ria yang baru itu. Mungkin dia mau kesana besok. Aku tak tahu kalau dia menganggap itu kencan istimewa atau apa. Tapi ini memang hanya janji yang sudah lama kita buat, Hyung. Puas?” Junhyung sudah lelah mengurusi semua pertanyaan Doojoon dan Yoseob.

”Tapi hyung, kencan istimewa?! Itu kan hanya untuk pasangan kekasih. Memangnya hyung dan Soomi itu pacaran? Kemarin setiap kita tanya hyung selalu bilang hanya teman dan hanya teman. Tapi besok kalian mau berkencan. Hyung aku patah hati,” Yoseob menyela.

”aku tidak mempermasalahkan kencanmu Junhyung. Tapi kita kecewa dengan sikapmu. Kamu selalu bilang berteman, berteman, bersahabat. Karena itu aku mau mengejar Soomi. Tapi sekarang seperti ini. Kau tahu rasanya ini seperti ditusuk dari belakang. Kau membiarkan kita berharap pada Soomi, padahal kau memang sudah jadian dengannya,” amarah Doojoon pun meluap.

”Aku tidak peduli kalian mau menganggap apa. Yang harus kubicarakan sudah selesai kubicarakan. Kalau kalian tidak ada pertanyaan lagi, tolong minggir sebentar karena aku mau latihan,” Junhyung pun meninggalkan mereka bertiga masuk ke ruang latihan.

”Woahh.. Lihat anak itu. Sikapnya sungguh tak dapat dipercaya,” protes Doojoon.
”Seobbie, Hyunseung, besok kita ikut mereka ke taman ria. Kita ganggu kencan mereka. Ok?”

Hyunseung lari mengejar Junhyung menuju ruang ganti. ”Hyung, tunggu.”
”Hyung, kamu ini kenapa?”tanya Hyunseung.

”Kenapa apanya?” junhyung balik bertanya

”Kenapa dari tadi marah-marah terus.”

”Aku emang begini. Ga ada yang beda. Kenapa kamu bilang begitu?”

”Sejak tadi kamu marah-marah sama Doojoon Hyung. Apa karena Doojoon Hyung tadi nembak bocah itu? Makanya kamu jadi uring-uringan?”

”Hah?! Gak ada urusannya sama Doojoon ya. Lagian aku gak peduli akan hal itu,” Junhyung mengelak.

”Ohya? Kalau kamu gak suka kenapa gak bilang aja. Bilang sama Doojoon hyung kalau kamu gak suka dia dekat-dekat sama temanmu itu,”

”Kamu?! Kamu kenapa bisa bilang begitu?” Junhyung terlihat bingung karena Hyunseung berhasil menebak perasaannya.
Sejenak Junhyung terdiam. ”Aku gak suka melihat Doojoon hyung merayu Soomi seperti itu. Soomi gak sama dengan perempuan-perempuan yang jadi pacarnya. Soomi itu perempuan baik-baik. Aku gak mau dia sakit hati dan sedih gara-gara Doojoon hyung. Kamu tahu kan kalau Doojoon Hyung itu pacaran sama Sunbae-nya Soomi. Kalau pacarnya tahu Doojoon itu tadi merayu Soomi, bisa-bisa Soomi ditindas di sama dia. Aku gak mau dia mengalami hal seperti itu lagi.”

”Begitukah?” tanya Hyunseung setelah mendengar keluhan Junhyung. ”Begitu sayang ya?”

”Bukan begitu. Tapi karena dia itu teman…”

”Karena dia teman pertamamu dan kamu teman pertamanya kan? Udah bosan dengernya,” potong Hyunseung. ”Padahal sudah tergambar begitu jelas tapi masih gak mau mengakuinya.”

”Apanya?” tanya Junhyung polos.

”Hyung itu di otakmu itu isinya apa sih? Masa hal seperti ini aja gak ngerti. Bikin orang frustasi aja,” protes Hyunseung.

”Hal apa? Apa yang gak kumengerti? Emangnya kamu tahu apa?” Junhyung balik bertanya.
Hyunseung yang kesal akhirnya membanting pintu lokernya. ”Hyung ini, bahkan walaupun ada orang yang selalu setia sama kamu juga gak akan sadar. Jeongmal babo ya.” ucap Hyunseung pada dirinya sendiri.

”Hyunseung kamu ini kenapa? Dari tadi marah-marah melulu kerjaannya?”

”Aku frustasi. Aku kalah. Aku frustasi karena pemenangnya sama sekali gak menyadari kalau dia menang.” Hyunseung lalu pergi meninggalkan Junhyung yang masih tak mengerti ucapannya.

====beedragon====

Taman ria.

Hari ini Soomi berdandan cantik sekali. Mengenakan coat coklat muda dengan legging warna coklat tua. Serasi dengan Junhyung yang mengenakan jaket warna coklat tua dan jeans warna coklat navy. Membuat semua orang menatap mereka iri.

”Ada yang aneh sama baju aku ya??” tanya soomi. Dia tampak tidak pede dengan pakaiannya

”tidak ada yang aneh,”ucap junhyung sambil merapikan syal Soomi,”karena kamu cantik makanya mereka melihatmu seperti itu.”

Kata-kata Junhyung membuat Soomi tersipu-sipu. ”Oppa kita main apa dulu yaa??”

Mereka sekarang ada didepan peta taman ria. Mencari wahana apa yang akan mereka datangi.

”Berhubung masih siang kita naik yang biasa-biasa aja dulu. Gimana kalo rumah hantu?” saran Junhyung.

”Heee?! Aku takut hantu. Kita naik kuda-kudaan aja deh.”
Soomi lalu menarik Junhyung menuju wahana merry-go-round yang ada tepat didepan mereka.

Sementara mereka mengantri, Soomi dan Junhyung tidak menyadari kalau ada tiga pasang mata yang mengikuti mereka sejak dari asrama Soomi.

”Wah mereka naik kuda-kudaan, Hyung,” anak laki-laki dengan topi dan kacamata hitam menunjuk-nunjuk ke arah Soomi dan Junhyung.

”Aishh, diam kau. Jangan berisik. Nanti mereka mendengar kita,” kata laki-laki yang memakai hoodie yang menutupi kepalanya.

”Aku tak percaya, mau-maunya diriku mengikuti kalian kesini,” ujar Hyunseung. Diantara mereka bertiga hanya Hyunseung yang paling wajar. Karena ia hanya memakai kacamata tak berlensa.

”Aiii… sudahlah Hyunseung. Aku juga tau kalau kamu ingin ikut. Kamu pasti ingin tahu apa yang dilakukan Junhyung hari ini kan?” kata doojoon sambil melepas hoodienya.

Hari mulai siang, jam sudah menunjukkan pukul 2pm, Soomi dan Junhyung menyudahi permainan mereka. Mencari tempat untuk mengisi perut mereka yang mulai bernyanyi minta makan. Setelah menemukan bangku taman yang kosong, Soomi mulai membongkar isi tasnya.

”Kamu masak ini semua?” tanya Junhyung ragu.

”Inginnya begitu. Tapi aku gak sempat ke pasar buat beli bahan-bahannya, jadi aku cuma bawa makanan dari dapur asrama aja deh. Kamar aku kan gak kaya kamar Oppa yang ada dapurnya,” keluh Soomi

”Ohh… Padahal aku bawa makanan juga,” Junhyung menurunkan ranselnya. Dia mengeluarkan 2 kotak makanan. Yang satu berisi nasi goreng yang penuh dengan sayuran yang menghiasi sekeliling kotak sementara kotak yang satunya lagi berisi lauk-pauk mulai dari telur sampai ayam goreng. Soomi langsung membandingkan dengan makanan yang ia bawa.

”Jangan cuma dilihat. Nih makan,” Junhyung langsung menyendokkan nasi gorenganya ke mulut Soomi.

”Waaahhh. Ini Oppa yang buat? Enak sekali. Kalau tahu begini aku gak akan ngambil makanan dari dapur asrama,” ucap Soomi dengan mulut penuh.

”Kalau sedang makan gak boleh berbicara. Habiskan dulu yang dimulutmu itu, baru bicara,” Junhyung pun menyendokkan nasi goreng ke mulutnya.

Sementara itu ditempat yang tak jauh dari mereka, Doojoon sedang mengamuk ditahan oleh Yoseob dan Hyunseung.
”Yah! Lepasin. Junhyung itu benar-benar licik. Barusan itu dia ciuman gak langsung dengan Soomi,” amuk Doojoon.

”Hyung, kamu gak punya hak buat marah. Soomi itu bukan pacarmu, hyung. Ingat itu,” ucap Hyunseung sambil menahan Doojoon.

Mendengar kata-kata Hyunseung, Doojoon langsung tenang. ”Aku emang bukan pacarnya. Tapi aku kesal melihatnya.”

”Kalau memang sakit untuk dilihat, kenapa memaksakan diri untuk mengikuti mereka. Sudahlah hyung, kita pulang,” bujuk Hyunseung.

“Iya Hyung, kita pulang aja. Tapi kita naik kuda-kudaan yang tadi aku juga pingin naik itu,” kata Yoseob
Tapi Doojoon tetap diam tak bergeming.

====beedragon====

[Soomi POV]

Hari ini benar-benar menyenangkan. Pergi ke taman ria berdua dengan Junhyung Oppa, makan masakan buatan Junhyung Oppa, semua terasa begitu menyenangkan. Apa Oppa juga merasa begitu? Apakah dia juga merasa senang pergi berdua denganku atau malah merasa terpaksa jalan denganku. Kupandangi wajahnya, mencari-cari apa yang dia rasakan saat ini.

”Oppa, nasi goreng ini betul buatan kamu?” kutanya dia dengan mulutku yang penuh dengan makanan.

”Kenapa? Gak percaya? Semua anak di kamarku itu makan masakan buatanku tau,”
Oppa kalau lagi menyombongkan diri terlihat lucu sekali.

”Kalau begitu aku mau kursus masak sama Oppa. Jadi nanti biar aku yang masak makanan buat kamu,”
Dia kembali menyendokkan nasi ke mulutku, tapi berhubung kurasa perutku penuh jadi kutolak,”Hmm, kenyang.”

”Kamu harus makan banyak. Lihat badan kamu yang kecil begini. Bagaimana bisa melawan laki-laki jahat dengan tangan kamu yang kecil begini. Satu suap lagi,” Junhyung Oppa memaksaku. Dan aku pun menyerah.

Kuhabiskan makananku sambil memandangi wajahnya. Betapa bahagianya perempuan yang bisa memilikimu. Aku tak tahu kan jadi apa diriku kalau tak ada Oppa. Aku pasti takkan rela kalau kau sampai punya kekasih lain. Andai kau tahu perasaanku ini. Aku menghela napas panjang.

”Kenapa? Sesak ya? Sudah begitu penuh ya perutmu?”Junhyung Oppa terlihat khawatir.

“Aniyo oppa. Aku cuma berpikir, kalau Oppa nanti punya…” aku ragu-ragu mengatakannya. Bagaimana aku menanyakan, kalau nanti kamu punya pacar apakah kita masih bisa seperti ini. Aku takut dia malah akan marah padaku karena pertanyaanku ini.

”Kalau aku punya apa?”

”Ngg… Kalau Oppa punya restoran pasti akan rame. Karena makanan buatanmu sangat, sangat, sangat enak,” akhirnya aku tak berani menanyakannya.

”Itu…” Junhyung Oppa menegurku.

”Apa?”

”Disitu,” dia menunjuk mukaku.

“Apa?” tanyaku mulai bingung.

Junhyung oppa mengulurkan tangannya ke wajahku. Dan akhirnya mengusap bibirku. “Sudah sebesar ini saja makannya masih berantakan begini.”

Deg! Jantungku berdegup kencang. Bukan karena aku takut bukan pula malu karena kata-katanya. Perasaan apa ini? Aku takut kencangnya degup jantungku ini bisa terdengar olehnya. Badanku terasa panas, apa karena cuaca? Oh, Tuhan perasaan apa ini.

”Udah selesai makannya? Kemarikan tanganmu,”
Aku pun menurut, menyodorkan kedua tanganku padanya. Ternyata dia membersihkan tanganku yang kotor berminyak karena makanan dengan tissu basah.

”Wah, bahkan oppa bawa tissue basah. Oppa memang daebak. Pacarmu nanti pasti senang sekali diperlakukan seperti ini.”

Sepertinya kata-kataku ada yang salah. Karena dia berhenti tiba-tiba. Apa dia marah? Aduh, padahal tadi tidak mau kusinggung masalah ini. Tapi kenapa akhirnya aku… Ahhhhh, babo Soomi, aku mengutuk kebodohanku.

“Memangnya kau mau melihat aku punya pacar?” Oppa balik bertanya.

Aduh, bagaimana ini. Aku harus jawab apa. Gak mungkin aku bilang kalau aku gak mau dia punya pacar. Aku harus cari alasan. “Aduh Oppa. Aku pengen ke WC. Aduh gak tahan. Oppa tunggu disini ya.”

Aku langsung berlari meninggalkannya. Aku tak mau dia melihatku yang egois seperti ini. Oppa maafkan aku, aku tak ingin kau punya kekasih. Aku ingin kau selamanya bersamaku. Aku tahu ini egois tapi itu adalah keinginanku, tujuan hidupku selama ini. Bagaimana kalau oppa tahu akan hal ini. Dia pasti gak mau lagi berteman denganku. Babo Soomi, jeongmal babo ya, aku lagi-lagi mengutuk diriku.

Bruk! Aku menabrak sesuatu, orang lebih tepatnya. Bukan hanya satu tapi tiga orang laki-laki.

”Aduh, Non. Hati-hati kalau jalan. Ntar nabrak orang loh,” ujar pria yang kutabrak.

Aku membungkukkan badanku, ”Maaf, aku gak sengaja. Aku buru-buru jadi gak ngeliat jalan. Maafkan aku.”

Tapi sepertinya mereka tidak menerima permintaan maafku. Mereka malah menarik tanganku. Apa yang mau mereka lakukan?!!

”berhubung kamu menabrak kami,jadi kita mau minta ganti rugi nih, lihat minumanku tumpah. Gimana kalau kita pergi ke cafe disana untuk beli minuman,” kata pria yang menarik tanganku.

”Nggak. Aku ganti pakai uang aja yah. Aku lagi buru-buru. Tolong tanganku lepas, tolong lepasin,”aku berusaha menarik tanganku, tapi pegangan pria ini cukup kencang.

”Kok, menolak sih. Lagian kan kita sekalian bisa ngobrol-ngobrol trus kenalan, ngomong-ngomong kau cantik juga. Dari sekolah mana? Ke sini sama siapa?” tanya temannya.

”Tolong lepas tanganku. Maafkan aku, aku gak bisa ikut kalian. Tolong,” aku berusaha memohon pada mereka.
Tapi pria itu terus menarik tanganku, sementara aku berusaha melepaskan diri tapi tak mampu. Bagaimana ini? Aku mulai gemetaran. Rasa panik mulai mendatangiku. Badanku pun mulai panas dingin. Tidak mungkin aku pingsan disini kan?

Seseorang tolong aku, aku takut sekali. Oppa tolong aku!!

”OPPA!!!!”

====beedragon====

[TBC]

Advertisements
FF / Oppa Babo / G / Chap2

4 thoughts on “FF / Oppa Babo / G / Chap2

Say Something About This..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s